Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 July 2008

Temukan "Sweet Spot" Anda!

"Sweet Spot" (titik tertentu dalam diri kita yang membuat kita merasa senang melakukan sesuatu). Hidup di sweet spot bergulir seperti kalau ada kita bersepeda menuruni sisi bukit dan di dorong oleh angin. Hidup menjadi manis rasanya apabila anda menemukan sweet spot anda itu. Namun, bagaimana anda melakukannya? Yang diperlukan hanyalah menggali keunikkan anda.

Periksalah kemampuan Anda dan temukanlah apa yang Tuhan tetapkan bagi anda. "Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus" (1 Petrus 4:11). Apabila Allah memberi tugas, dia juga memberi keahlian. Pelajarilah keahlian-keahlian anda untuk menyingkapkan tugas anda.

Anda mempunyai sebuah panggilan luar biasa untuk suatu kehidupan yang luar biasa. "Roh Kudus telah mengaruniakan kepada masing-masing kita jalan istimewa untuk melayani orang lain (1 Korintus 12:7). Betapa kelirunya dalih "saya tidak punya apa-apa untuk diberikan".

Jangan khawatir akan keahlian-keahlian yang tidak anda miliki. Anda hanya perlu mengembangkan keunikan anda. Dan lakukanlah itu untuk membuat perkara besar dari Allah.

"Segala sesuatu berasal dari Allah. Segala sesuatu hidup oleh kuasa-Nya dan segala sesuatu itu untuk kemuliaan-Nya" (Roma 11:36). Kita hadir untuk memperlihatkan Allah, untuk mempertunjukkan kemuliaan-Nya.

Nyatakanlah Dia. Wartakanlah Dia. "Allah telah memberikan berbagai karunia kepada kamu masing-masing dari beraneka ragam kasih karunia-Nya. Kelolalah karunia itu dengan baik ... Maka Allah akan dimuliakan" (1 Petrus 4:10-11)

Perlihatkanlah Allah dengan keunikan Anda. Ketika peran serta anda meningkatkan keharuman nama Allah, hari-hari anda tiba-tiba menjadi manis. Dan agar bisa benar-benar mempermanis dunia anda, pakailah keunikan anda untuk memuliakan Allah ... dalam hidup anda sehari-hari.

Yahweh bekerja pada enam hari pertama penciptaan. Yesus berkata, "Bapa-Ku tidak pernah berhenti bekerja, maka Aku tetap bekerja juga" (Yohanes 5:17). Karier anda menghabiskan setengah dari waktu hidup anda. Apakah empat puluh sampai enam puluh jam seminggu itu tidak menjadi milik-Nya juga?

Dikutip dari : Temukan "Sweet Spot" Anda!, Max Lucado, Gloria Graffa, 2008

Humor : Penjaga Toko

Penjaga toko sangat marah karena di sebelahnya dibuka toko yang mirip dengan tokonya, dan memasang papan pengumuman besar: "Harga Terjangkau".

Kemudian di sebelah kanan tokonya, dibuka juga toko lain yang memasang papan pengumuman yang lebih besar: "Harga Termurah".

Si penjaga toko panik, sampai akhirnya dia dapat ide. Ia memasang papan pengumuman paling besar di tokonya sendiri dengan tulisan

"Pintu Masuk Utama".

Rancanganmu Bukan Rancangan-NYA

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa Suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawanya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Allah, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Allah dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Allah yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Allah. Ia tahu bahwa Allah ada, namun tidak mempercayai-Nya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Allah yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru. Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.

Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Allah mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, "Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan." Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis. Lalu Tuhan berkata, "Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju." Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah. Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Allah telah memakainya sebagai alat-Nya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu.

(Diambil dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)
------------ ---------
Untuk dapat melihat kehendak Allah digenapkan di dalam hidup anda, anda harus mengikuti Allah dan bukan mengharapkan Allah yang mengikuti anda. (Dave Meyer, Life In The Word, Juni 1997)
------------ ---------
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.... " (Pengkotbah 3:11)
------------ ---------
Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti, Satu hal tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan beri. Tuhan-mu, tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti, Cobaan yang engkau alami takkan melebihi kekuatanmu.

Avoid Strife

Today's Scripture

“ It is an honor for a man to cease from strife ” (Proverbs 20:3)

Today's Word from Joel and Victoria

Strife is a very destructive force. It can creep into relationships by starting small, maybe through a comment or a wrong look from someone, and can then escalate into something much bigger. But when you choose to cease from strife and overlook an offense, you are acting honorably, and you are honoring God. How do you avoid strife? The Bible tells us that love covers over many offenses. It means that you give people the benefit of the doubt. You consider what they may be going through over how they reacted to you. Maybe someone was short with you at the office, but they may have a loved one in the hospital, or they may have some other concern. Instead of getting upset, walk in love—be patient, be kind to them. Choose to avoid strife. Look for ways to walk in unity with the people in your life. The Bible says that He has commanded the blessing when we walk and live in unity. Choose unity today and watch the hand of the Lord move mightily on your behalf!

A Prayer for Today

Father God, today I choose Your ways. I invite Your plan to unfold in my life. Help me to avoid strife so I can walk in peace and unity and honor you all the days of my life. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

27 July 2008

Mati Setiap Hari

Nats : Dalam segala hal kami ditindas .... Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami (2 Korintus 4:8,10)

Bacaan : 2 Korintus 4:7-12

Apakah Anda berada dalam situasi di mana Anda sering disalahpahami karena iman Anda di dalam Kristus? Apakah Anda dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki jiwa suka mencela dan mengkritik? Apakah pekerjaan yang Anda lakukan di gereja Anda atau untuk keluarga Anda kurang atau sama sekali tidak dihargai?

Reaksi yang tepat untuk itu adalah bersedia memiliki roh yang rendah hati dan penyerahan diri -- untuk mati seperti yang Yesus lakukan di sepanjang hidup-Nya. Ya, Tuhan kita mati satu kali di atas kayu salib; tetapi dalam pengertian lain, Dia pun mati setiap hari. Salib menjadi puncak dari seluruh kematian seumur hidup. Dia bersedia disalahpahami dan difitnah, mengorbankan tempat tinggal dan kenyamanan, untuk mengambil peran sebagai seorang hamba. Itu adalah “kematian” yang harus dialami-Nya. Kita harus bersedia untuk mati seperti itu juga.

Ketika kita mati bersama-Nya, karunia Allah kepada kita adalah “kehidupan Yesus” (2 Korintus 4:10), hidup paling menarik yang pernah ada. Keindahannya perlahan-lahan akan tumbuh dalam diri kita dan menjadi keindahan kita juga.

Ingatlah peribahasa ini: “Sebuah gambar bernilai seribu kata”. Kerendahan hati dan ketenangan yang melukiskan tentang Yesus dalam menghadapi kesalahpahaman yang menyedihkan nilainya sebanding dengan ribuan kata-kata. Sebagian orang boleh melihat hidup Yesus yang terungkap dalam diri Anda dan rindu untuk masuk ke dalam hidup itu. Begitulah, mati setiap hari dapat membantu membawa hidup kepada orang lain —David Roper

AGAR DAPAT HIDUP SETIAP HARI UNTUK KRISTUS
KITA HARUS MEMATIKAN DIRI SENDIRI SETIAP HARI

SABDA.org

Kasih Seorang Ibu

"Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali"

Sepenggal syair lagu itu benar-benar mengena pada sosok ibu asal AS ini. Wanita berusia 80 tahun itu selama berpuluh-puluh tahun merawat putrinya yang mengalami koma. Sampai akhirnya ibu penuh kasih itu meninggal, mendahului putrinya yang hingga saat ini masih terbaring dalam koma berkepanjangan.

Kaye O'Bara menutup mata untuk selamanya di rumahnya di Miami Gardens, Florida. Kamar yang selama ini ditempatinya bersama putrinya, Edwarda sejak 1970 silam. Kaye meninggal dalam tidurnya. Dia telah bertahun-tahun menderita penyakit jantung.

Semasa hidupnya Kaye pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan Edwarda yang ketika itu masih remaja. Janji itu dimulai sejak Edwarda jatuh koma akibat penyakit diabetesnya 38 tahun yang lampau.

"Kami kira dia akan hidup melampaui kami semua. Wanita itu begitu kuat," kata keponakan Kaye, Pamela Burdgick seperti dilansir harian News.com.au, Sabtu (8/3/2008).

Selama kurun waktu 38 tahun, kisah pengabdian Kaye kepada putrinya, Edwarda menarik simpati banyak orang. Para pengunjung yang jumlahnya tak terhitung lagi mendatangi rumah Kaye. Bahkan ada pula sebagian orang yang datang dari Jepang untuk ikut merayakan ulang tahun Edwarda.

Kisah Kaye telah dituangkan dalam buku laris karya Dr. Wayne Dyer yang berjudul A Promise Is A Promise: An Almost Unbelievable Story of a Mother's Unconditional Love and What It Can Teach Us. Edwarda, penderita diabetes, mengalami flu sebelum Natal 1969. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk dan orangtuanya, Kaye dan suaminya, Joe, membawanya ke rumah sakit. Beberapa saat sebelum Edwarda kehilangan kesadarannya, remaja putri itu sempat bertanya kepada ibunya: "Janji ibu tidak akan meninggalkan saya, janji ya?"

Kaye pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak perempuannya itu. Itulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kaye sebelum anaknya koma berkepanjangan. Dan Kaye menepati janjinya. Kaye dengan teratur membalik tubuh putrinya tiap dua jam supaya tidak mengalami nyeri akibat berbaring terlalu lama. Kaye memberinya makan berupa campuran makanan bayi dan susu bubuk melalui tube, menyuntikkan insulin, memutar alunan musik, membacakan buku untuk Edwarda dan tak lelah berdoa di samping tempat tidur Edwarda supaya suatu hari nanti putrinya itu akan sadar kembali.

Bagi Kaye, mengurus putrinya itu bukanlah beban, melainkan berkat. Kaye sangat yakin, Edwarda akan terbangun. "Bagi saya, dia hampir sadar. Kadang-kadang saya merasa mendengar dia bicara: Ibu, saya baik-baik saja," kata Kaye kepada media AS, Miami Herald beberapa waktu lalu. Namun kini Kaye telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan Edwarda yang masih terbaring koma entah sampai kapan. Adik Edwarda, Colleen O'Bara mengatakan, keluarga akan terus merawat Edwarda di rumah mereka. Sama seperti Kaye, Colleen juga yakin kakaknya itu akan sadar suatu hari nanti. Suami Kaye, Joe mengalami serangan jantung pada tahun 1972 dan meninggal dunia empat tahun kemudian. Sejak itu, Kaye mengurus Edwarda dengan menggunakan tunjangan sosial dari pemerintah dan dana pensiun suaminya, ditambah lagi dengan sumbangan dari orang-orang.

The Power of Peace

Today's Scripture

“Peace I leave with you; My peace I give you. I do not give to you as the world gives. Do not let your hearts be troubled and do not be afraid” (John 14:27).

Today's Word from Joel and Victoria

No matter what may be going on all around you today, you can still live in peace. The scripture encourages us to not let our hearts be troubled. In other words, don’t meditate on all the negative things in this world to the point that it steals your peace. If you have fear, worry or anxiety about anything, recognize that those feelings aren’t from God because He has promised to give you a spirit of power, love and a sound mind. There is tremendous power in peace. When you are at peace internally, you can think more clearly. You can hear the voice of God more easily. You’ll make better decisions. Even your physical body responds to peace. The enemy knows this, and his goal is to steal your peace. He tries to set you up to get upset. But when you choose to receive God’s peace, then no weapon formed against you shall prosper. You can live in peace, you can live in joy, and you can live the abundant life God has for you.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for Your gift of peace in my life. I choose to receive Your peace in my heart and hold it close to me always. I receive Your Word as truth and life to my soul. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

26 July 2008

Bagaimana Seandainya

Bagaimana seandainya Tuhan tidak mempunyai waktu untuk memberkati kita hari ini karena kita kemarin tidak ada waktu untuk mengucap syukur kepada-Nya…

Bagaimana seandainya Tuhan tidak lagi membimbing kita esok hari, karena kita tidak mengikuti-Nya hari ini…

Bagaimana seandainya Tuhan tidak berjalan lagi dengan kita hari ini karena kita gagal untuk mengenali hari ini sebagai hari-Nya…

Bagaimana seandainya bila kita tidak akan pernah mengamati mekarnya sekuntum bunga karena kita menggerutu ketika Tuhan mengirim hujan…

Bagaimana seandainya Tuhan tidak lagi mengasihi dan peduli kepada kita …

Bagaimana seandainya Tuhan mengambil Alkitab kita esok hari karena kita tak membacanya hari ini…

Bagaimana seandainya Tuhan tidak lagi mau memberi pesan-Nya kepada kita karena kita tidak mau mendengar kepada orang yang membawa berita-Nya…

Bagaimana seandainya Tuhan tidak mengutus AnakNya yang tunggal karena Ia ingin agar kita mempersiapkan sendiri untuk membayar harga dari dosa-dosa kita…

Bagaimana seandainya pintu Gereja tertutup bagi kita karena kita tidak mau membuka hati kita…

Bagaimana seandainya Tuhan menjawab doa-doa kita dengan cara seperti kita menjawab panggilan Tuhan untuk melayaniNya…

Weekend Scripture - 1 Korintus 12:6

"Allah bekerja melalui berbagai orang dengan berbagai cara, tetapi Allah yang sama itulah yang mencapai tujuanNya melalui mereka semua" (1 Korintus 12:6)

Humor : Baptisan

Seorang pemabuk tanpa disengaja berada di sebuah kebaktian pembaptisan di tepi sebuah sungai. Ia berjalan terus sampai berada di dalam sungai dan berdiri di sebelah pendetanya.

Si pendeta menoleh kepadanya dan bertanya, “Sobat, apakah Anda telah siap untuk bertemu dengan Yesus?”

Si pemabuk memandang pendetanya dengan agak ling-lung dan menjawab, “Ya, pak pendeta, … akkkuu sudah siiiaapp.”

Pendetanya menyelupkan orang itu di bawah permukaan air dan kemudian menegakkan kepalanya kembali. “Apakah Anda bertemu dengan Tuhan Yesus?”

“Tidddak, belum!!” jawab si pemabuk.

Pendeta menyelupkan orang itu agak lebih lama lagi ke dalam air, menegakkan kepalanya kembali dan bertanya, “Apakah Anda sekarang telah bertemu dengan Tuhan Yesus?”

“Belummm juga, …pppak!”

Si Pendeta agak menjadi bingung, dan kemudian menekan kepala orang itu lebih lama lagi ke dalam air untuk kemudian menarik kepalanya keluar dan bertanya lagi, “Saudara yang kekasih, apakah Anda sudah bertemu dengan Yesus?”

Orangtua itu mengusap-usap matanya dan dengan ragu-ragu ia bertanya, “Appaaakah bappa-ak bisa pastikan bahwa Yesus telah jjatu-uh di tempat ini?”

Petunjuk Dari Atas

Nats : Percayalah kepada Tuhan . Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Amsal 3:5,6)

Bacaan : Amsal 3:1-6

Ketika berkunjung ke Chicago, saya menginap di lantai 25 sebuah hotel. Tatkala memandang keluar jendela, saya takjub melihat empat barisan mobil yang berseliweran dengan arah yang saling berlawanan memadati jalanan kota Chicago yang tak pernah sepi.

Salah seorang pengendara mobil rupanya menghadapi kesulitan. Mobilnya mengalami kerusakan mesin sehingga mogok di tengah jalan yang padat itu. Dari kamar saya yang berada di lantai 25, saya dapat melihat sampai di kejauhan. Tanpa sadar beberapa pengemudi di jalur lain yang tidak sabar mengantri, melintas dan masuk ke jalur tempat mobil mogok tadi berada. Dengan melakukan itu mereka berharap dapat lebih menghemat waktu dan lebih cepat sampai ke tujuan, namun sesungguhnya mereka justru memasuki jalur yang akan menghambat mereka lebih lama.

Sementara menjalani kehidupan ini, kita sering kali bersikap seperti para pengemudi malang di atas. Dengan jangkauan pandangan yang terbatas, kita hanya memilih jalur yang tampak paling baik. Namun terkadang di ujungnya kita malah menjumpai banyak hambatan dan hal-hal yang menyakitkan hati. Sebab itu, betapa menguntungkan bila kita dapat memandang kepada Dia yang ada di atas segalanya, yang tahu segala sesuatu dari awal sampai akhir! Itu sebabnya penulis kitab Amsal berkata, "Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu" (Amsal 3:6). Ketika Tuhan memberi petunjuk "stop" atau "pindah jalur" atau "tunggu," kita tinggal menaatinya.

Ya, carilah petunjuk yang dari atas!

CARA TERBAIK UNTUK MENGETAHUI KEHENDAK ALLAH
ADALAH DENGAN BERKATA "SAYA TAAT" KEPADA ALLAH

SABDA.org