Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 December 2009

Ekspresi

Filipi 2:30 - "Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 5; Wahyu 11; Nehemia 1-3

Manusia diciptakan Allah mempunyai ekspresi. Sedih, senang, setiap kondisi yang kita rasakan selagi masih ada di dunia ini selalu terungkap dari sikap yang kita tunjukkan di luar. Bahkan orang introvert sekalipun pasti berekspresi.

Ada beberapa cara orang mengungkapkan perasaan atau gagasannya. Dan untuk itu biasanya terkait dengan seni, maka ada orang yang dapat mengekspresikan perasaannya, namun ada yang mengalami kesulitan. Pada umumnya orang yang memiliki jiwa seni akan lebih mudah mengekspresikan perasaan atau gagasannya.

Edward Shank, seorang pemahat terkenal di Pennsylvania, Amerika Serikat telah menggunakan 360 kilogram mentega merk Land O'Lakes untuk membuat patung berbentuk polisi pemadam kebakaran dan seorang prajurit yang memegang bendera Amerika. Patung itu dipersembahkan dalam rangka mengekspresikan rasa belasungkawanya kepada para korban saat peristiwa tragedi 11 September 2001 yang menghancurkan dua gedung WTC akibat serangan teroris. Edward memahat patung mentega itu di dalam ruangan yang sangat dingin agar mentega itu tidak mencair. Ada-ada saja cara orang mengungkapkan perasaannya, bukan?

Kemampuan seni apa pun dapat menjadi media untuk mengungkapkan perasaan. Lalu perasaan itu akan mendorong untuk mengeluarkan gagasan-gagasan. Kadangkala ada gagasan yang biasa saja, namun ada juga yang spektakuler. Namun, yang jelas pernahkah Anda mencoba untuk mengungkapkan perasaan atau gagasan Anda lewat kemampuan seni yang Anda miliki?

Dalam menjalin hubungan antara kita dengan Allah, berekspresi adalah sebuah hal yang mutlak. Allah ingin melihat wajah kita bersukacita ketika menaikkan ucapan syukur karena kebaikan-kebaikan dan pertolongan yang telah Dia lakukan dalam hidup kita, atau pun menangis ketika kita membutuhkan pertolongan-Nya. Pertanyaannya, sudahkah Anda melakukannya? Buktikan dengan ekspresi Anda saat mengatakan Anda mengasihi dan menghormati Allah karena dengan itulah Dia mengetahui ketulusan cinta Anda kepada-Nya.

Apapun yang Anda rasakan dan alami, berekspresilah karena itu adalah anugerah Allah yang diberikan bagi setiap manusia.

Sumber: Untaian kata-kata bijak; Yayasan Komunikasi Bersama

Jawaban.com

Pagi Hari Saat Natal

Seorang pastor paroki. Di akhir tahun ia merasa capai setelah melewati setahun yang keras dan sulit dengan sejuta problema. Hari ini adalah hari Natal. Walau kepalanya agak pening ia memaksa diri bangun dari tidur. Kepalanya hampa. Ketika membaca bacaan Injil di pagi Natal ini, segalanya tak membantu. Tak ada inspirasi yang meneguhkan hidup. Kisah tentang tiga raja dari Timur, tentang Maria, tentang Betlehem, tentang bayi Yesus dalam palungan, tentang para gembala dan malaikat?

"Huh...sudah bertahun-tahun saya mendengar semuanya ini. Tak ada yang baru. Setiap tahun saya telah banyak berkotbah tentang ini. Sekarang lagi-lagi harus berbicara tentang kisah yang sama." Dengan tenaga lesu si pastor paroki bangun dan dengan sedikit malas menyiapkan diri untuk perayaan kebaktian Natal.

“Natal?? Huh...”, si pastor paroki sekali lagi menghembuskan napas keluhannya. Apa arti sebuah Natal yang sudah diwarnai bisnis duniawi? Di mana-mana lagu natal diputar, di jalan raya penuh terpasang iklan dengan lukisan Santa Klaus. Sudah berapa kali saya berbicara tentang makna sebuah natal? Dan apakah saya masih harus berteriak lagi tentang makna natal padahal tak seorang pun rela menggubris kata-kataku? Bukankah saya telah gila? Saya berbicara tentang cinta, tentang perdamaian, tapi lihat… Kebencian dan permusuhan tetap saja menjadi santapan sedap berita koran dan televisi.

Sebelum si pastor paroki itu selesai membenah diri, sepasang muda-mudi berdiri dan mengetuk pintu pastoran. "Aku Joseph. Dan ini Maria." Kata lelaki yang berdiri di depan pintu itu sambil melirik ke arah wanita yang sudah hamil tua dan siap melahirkan yang berdiri di sampingnya. Wanita itu begitu kurus, keringat mengucur walau di luar udara terasa amat dingin. Pastor paroki memperhatikan mereka satu-persatu, lalu menggumam, "Engkau Joseph, dan itu Maria. Dan siapakah saya ini? Apakah kamu berpikir bahwa aku ini keledai untuk ditunggang Maria???"

Oh...pasangan yang malang. Keduanya kini harus menerima luapan amarah yang terpendam lama di bathin si pastor itu. Bom yang dijaga baik itu kini meledak juga. Sayangnya...ia meledak justru di pagi hari Natal.

Namun ketika melihat si gadis yang gemetar seluruh tubuh sambil tangannya memeluk kuat bantal yang dibawanya, sang pastorpun tergerak hatinya. Kemarahannya mereda, dan dengan cepat ia menghantar gadis itu ke rumah sakit. Dan di pagi natal yang dingin. Sang pastor melihat seorang bayi dilahirkan. Iapun melihat seorang ibu yang kesakitan. Suatu kehidupan baru yang menuntut pengorbanan.

Dalam kotbahnya sang pastor berkata, "Hari ini saya melihat seorang bayi dilahirkan. Dan saya memahami apa arti sebuah Natal. Aku melihat kepedihan dan ketakutan sang ibu. Dan aku melihat betapa sang ibu amat mencintai bayi yang baru dilahirkan itu. Kini aku mengerti cinta yang diberikan Tuhan kepada kita manusia, cinta yang terukir oleh darah, oleh keringat, oleh air mata. Inilah sebuah Natal. Tuhan datang dalam dingin, dalam bentuk seorang bayi lemah, hanya untuk mengatakan bahwa Ia adalah Emmanuel, bahwa Ia mencintai kita selamanya." Kata sang pastor seakan mengulangi lagi apa yang biasa dikotbahkannya pada pagi hari Natal. Bedanya, kali ini ia lebih berbicara kepada dirinya sendiri.

Christmas Ice Breaking Party Games

Ice breaking party games are a brilliant way for a group of people to get to know each other, get over shyness, and generally 'break the ice' and therefore make way for festive fun. Icebreaker games are designed so that there are no winners or losers. The main aim of the game is to have fun as a group, so that there are no isolate persons. It also encourages the group to communicate and overcome shyness.

Here are three ice breaker games you could try at your children's Christmas party...

Christmas Tree
The group sits in a ring with the host or play leader in the centre.

The host labels the children with one of the following (making sure there is a minimum of 2 of each) Star, Bauble, Tinsel, Angel, Snowflake

The host now calls out one object. For example - Snowflake. All the snowflakes must now jump up and exchange positions with other snowflakes, the game continues in this way with the host calling out different objects and the children exchanging places with objects of the same kind.

If 'Christmas Tree' is called out, all of the children must jump up and exchange places with other objects.

This game is fast and furious and energetic and usually very well received by older and younger children alike. It breaks the ice by mixing the children up and sitting them next to new people.

Christmas Theme Chinese Whispers
An old game that can be given a Christmas twist, simply divide the children into two teams and arrange them to sit in two lines.

Have ready some (previously made) cards with festive sentences written on them, but make sure that the sentences are out of the ordinary.

For Example - Rudolf likes Christmas pudding on Mondays, but Prancer likes plum pudding on Mondays and Christmas pudding on Wednesdays.

To begin the game, give the two children at the front of the lines the festive sentence to read.

The children then have to whisper the sentence to one another until it has passed up the line. Remember: Each child my only whisper the sentence once, they may not repeat it.

Finally, when the message gets to the last child in the line, this child has to say the message out aloud for everyone to hear.

There aren't any winners or losers, its just lots of fun listening to garbled messages. If you have only a few children don't divide them into teams.

Christmas Pictionary
Preparing the game - Have 20 cards with a Christmas item written on each. For example: Christmas Fairy, Roast Turkey, Holly and Ivy, Santa's Sleigh, Christmas Trimmings, Christmas present label...

How to play
Divide the children in to two teams. Each team takes it in turns to play rounds. To play a round, one child in the team must be chosen to be the drawer for that round (The drawer changes for each round played) The drawer takes a card from the top of the pile and reads it without speaking.

The drawer then has tree minutes to draw what was written on the card. However, the drawer must write letters or words and they must not speak.

The rest of the drawer�s team must try to guess what was written on the card from the drawings, all within the tree minutes. A point is awarded each time a team guesses correctly (word for word) what was written on the card.

The first team to collect 4 points is the winning team.

This game can be difficult for younger children.

Ice breaker games help to introduce the children at the party to one another. Once everyone has had a chance to speak to a few new people, it paves the way for more party fun and everyone will have a great time.