Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

02 May 2008

Orang Kong Hu Cu Yang Bertobat

Kejadian ini terjadi pada mama saya kurang lebih 10 tahun yang lalu. Sebelumnya, kami sekeluarga bukan pengikut Kristus, mengikuti kepercayaan leluhur yaitu Konghucu. Mama saya sering dirasuki oleh roh (iblis) yang mengaku sebagai kakaknya (bibi saya) yang meninggal karena gagal melahirkan, dan sekeluarga kami percaya bahwa itu adalah bibi saya dan kami takut sekali.

Karena kepercayaan kami dulu itu, kami menghormati dan memenuhi segala permintaannya. Tetapi mama saya tetap tidak sembuh malah makin gawat. Semakin dituruti semakin banyak permintaannya, dan setannya makin galak, marah-marah kalau datang, sesajennya kurang, dan mama selalu pesan pada kami bahwa kami harus menghormatinya, dan berpesan bahwa dia tidak sendirian datangnya alias bawa teman antara lain kakek, dan saudara-saudara lain yang sudah pada meninggal.

Kami selalu pakai tepekong dan mama dikasih minuman bercampur PHU (kertas berwarna yang ditulis - sejenis jimat). Setannya sih pergi tetapi tidak lama balik lagi dan seterusnya begitu terus.

Sampai suatu saat, ada saudara yang memberi tahu pada mama agar didoakan saja, dan tanpa sepengetahuan kami, mama pergi diam-diam dan didoakan karena dia sendiri tidak tahan disiksa.

Melalui doa pengusiran berkali-kali, setiap mama dirasuki kami selalu memanggil pendeta untuk melakukan pengusiran dan kadangkala kami praktekkan sendiri pengusirannya. Mulanya kami ragu apa kami mampu, tetapi janji Tuhan ya dan Amin dan kami mampu. Saya yakin itu bukan kemampuan saya melainkan Tuhan Yesus (Puji nama Tuhan, Halleluya).

Kami sekeluarga sudah percaya dan dibaptis.


Oleh: Liu Lina (Chung Li, Taiwan) - 21 Desember 2001

Christian Ways To Reduce Stress

An Angel says, "Never borrow from the future. If you worry about what may happen tomorrow and it doesn't happen, you have worried in vain. Even if it does happen, you have to worry twice."

  1. Pray

  2. Go to bed on time.

  3. Get up on time so you can start the day unrushed.

  4. Say No to projects that won't fit into your time schedule, or that will compromise your mental health.

  5. Delegate tasks to capable others.

  6. Simplify and unclutter your life.

  7. Less is more. (Although one is often not enough, two are often too many.)

  8. Allow extra time to do things and to get to places.

  9. Pace yourself. Spread out big changes and difficult projects over time; don't lump the hard things all together.

  10. Take one day at a time.

  11. Separate worries from concerns. If a situation is a concern, find out what God would have you do and let go of the anxiety. If you can't do anything about a situation, forget it.

  12. Live within your budget; don't use credit cards for ordinary purchases.

  13. Have backups; an extra car key in your wallet, an extra house key buried in the garden, extra stamps, etc.

  14. K.M.S. (Keep Mouth Shut). This single piece of advice can prevent an enormous amount of trouble.

  15. Do something for the Kid in You everyday.

  16. Carry a Bible with you to read while waiting in line.

  17. Get enough rest.

  18. Eat right.

  19. Get organized so everything has its place.

  20. Listen to a tape while driving that can help improve your quality of life.

  21. Write down thoughts and inspirations.

  22. Every day, find time to be alone.

  23. Having problems? Talk to God on the spot. Try to nip small problems in the bud. Don't wait until it's time to go to bed to try and pray.

  24. Make friends with Godly people.

  25. Keep a folder of favorite scriptures on hand.

  26. Remember that the shortest bridge between despair and hope is often a good "Thank you , Jesus."

  27. Laugh.

  28. Laugh some more!

  29. Take your work seriously, but not yourself at all.

  30. Develop a forgiving attitude (most people are doing the best they can).

  31. Be kind to unkind people (they probably need it the most )

  32. Sit on your ego.

  33. Talk less; listen more.

  34. Slow down.

  35. Remind yourself that you are not the general manager of the universe.

  36. Every night before bed, think of one thing you're grateful for that you've never been grateful for before. GOD HAS A WAYOF TURNING THINGS AROUND FOR YOU. "If God is for us, who can be against us?" (Romans 8:31)

Mukjizat Natal

Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia pertama tahun 1914, tepatnya di front perang dunia bagian barat, di Eropa. Pada saat itu tentara Prancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak satu dengan yang lain.

Di malam Natal yang dingin dan gelap begini hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang apalagi telah berbulan-bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari isteri, anak maupun orangtuanya.

Pada malam Natal biasanya mereka selalu berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarganya masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi bersama di bawah pohon terang di hadapan tungku api yang hangat.

Berbeda dengan malam Natal yang sekarang ini, di mana cuaca di luar sangat dingin sekali dan salju pun turun dengan lebatnya, mereka bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, melainkan berada di hadapan musuh perang mereka yang setiap saat bersedia untuk menembak mati siapa saja yang bergerak.

Tiada hadiah yang menunggu selain peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makananpun sudah berkurang sehingga hari inipun hampir seharian penuh mereka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena turunnya salju.

Biasanya mereka berada di lingkungan suasana yang hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berada di dalam lubang parit seperti layaknya seekor tikus, masih lumayan bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana mereka berada sekarang inipun basah, becek penuh dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar pada saat ini selain rasa damai untuk bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Seorang tentara sedang merintih kesakitan karena baru saja terkena tembakan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan, bahkan pimpinan mereka yang biasanya keras, tegas entah kenapa pada malam ini kelihatannya sangat sedih sekali, terlihat air matanya turun berlinang, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam bulan. Kapankah perang ini akan berakhir? Kapankah mereka akan bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing? Kapankah mereka bisa memeluk lagi orang-orang yang mereka kasihi?

Dan masih merupakan satu pertanyaan besar pula, apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan istri dan anak-anaknya? Entahlah...

Tidak sepatah katapun terdengar. Suasana malam yang gelap dan dingin terasa hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan keluarganya sendiri. Selama berjam-jam mereka duduk membisu sedemikian rupa

Tiba-tiba dari arah depan di front Jerman, ada cahaya kecil yang timbul dan bergoyang, cahaya tersebut kelihatan semakin nyata. Rupanya ada seorang prajurit Jerman yang telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke atas dari parit tempat persembunyian mereka, sehingga nampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.

Pada saat yang bersamaan terdengar alunan lembut suara lagu “Stille Nacht, heilige Nacht” (Malam Kudus), yang pada awalnya hanya sayup-sayup kedengarannya, tetapi semakin lama lagu yang dinyanyikan tersebut semakin jelas dan semakin keras terdengar, sehingga membuat para pendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarga mereka yang berada jauh dari medan perang ini.

Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, bersih, dan merdu. Prajurit Sprink tersebut sebelumnya dikirim ke medan perang adalah seorang penyanyi tenor opera yang terkenal. Rupanya suasana keheningan dan gelapnya malam Natal tersebut telah mendorong dia untuk melepaskan emosinya dengan menyanyikan lagu tersebut, walaupun ia mengetahui dengan menyanyikan lagu tersebut, prajurit bisa mengetahui tempat di mana mereka berada.

Ia bukan hanya sekadar menyanyi dalam tempat persembunyiannya saja, ia berdiri tegak, tidak membungkuk lagi, bahkan ia naik ke atas sehingga dapat terlihat dengan nyata oleh semua musuh-musuhnya. Melalui nyanyian tersebut ia ingin membawakan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna dari Natal ini, ialah untuk berbagi rasa damai dan kasih. Untuk ini ia bersedia mengorbankan jiwanya, ia bersedia mati ditembak oleh musuhnya. Tetapi apakah ia ditembak mati?

Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mukjizat yang terjadi sebab pada saat yang bersamaan semua prajurit yang ada di situ turut keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing dan mereka mulai menyanyikannya bersama. Bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua peniup bagpipes (alat musik Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Mereka menyanyikan lagu Malam Kudus ini dengan rasa pilu dan air mata yang turun berlinang.

Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan, sambil saling berpelukan mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dalam bahasanya masing-masing, di sinilah rasa damai dan sukacita benar-benar terjadi. Setelah itu, mereka meneruskan menyanyi bersama dengan lagu Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhanpun hilang dengan sendirinya.

Mereka berhimpun bersama dengan musuh mereka yang seharusnya saling menembak, membunuh satu dengan yang lain, tetapi entah kenapa dalam suasana Natal tersebut mereka ternyata bisa berkumpul dan menyembah bersama kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat. Rupanya inilah mukjizat Natal yang benar-benar bisa membawa suasana damai di malam yang suci.

Saya berharap melalui tulisan ini dapat membagikan rasa kasih dan damai kepada rekan-rekan dan para pembaca budiman serta mengajak kita semua untuk merenungkan kembali makna Natal yang sebenarnya.

Apabila ternyata masih ada luka batin yang belum sembuh, marilah kita mengambil kesempatan di hari Natal ini untuk saling memaafkan dan mendoakan satu dengan yang lain biarlah damai dari Kristus bertahta di hati kita.

Matius 5:9 : Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Ya Tuhan, Engkau menyinari malam paling suci ini dengan Cahaya Damai-Mu. Ajarilah kami untuk melihat kedamaian yang seharusnya kami cari, kedamaian yang seharusnya kami jaga, dan kedamaian yang harus kami bagi. Semangat hari ini dan setiap hari, menjadi seperti hari Natal, seperti Engkau mengilhami diri kami untuk membawa damai dan pengampunan bagi sesama orang yang kami jumpai. Terima kasih untuk kelahiran-Mu di dunia ini Tuhan Yesus, kelahiran-Mu membawa keajaiban bagi dunia ini dan bagi hidup kami. Segala pujian, hormat dan syukur kami naikkan bagi-Mu Yesus Kristus, Sang Raja. Amin

Ask For Wisdom

Today's Scripture

“If any of you lacks wisdom, he should ask God, who gives generously to all without finding fault, and it will be given to him” (James 1:5).

Today's Word from Joel and Victoria

Do you need wisdom for something today? Ask God. He loves it when you call upon Him, and He longs to give generously to you. Do you need wisdom to lead your family? Do you need wisdom on your job? Do you need wisdom for a decision you have to make in life? Ask God! The next verse goes on to say that when you ask, you must ask in faith without wavering. That means you have to be absolutely determined to get your answer from Him. You can’t just ask and then decide to do things your own way, or doubt that He will give you the answer. That’s being double-minded. When you’re double-minded, the Bible says you won’t be able to receive anything from the Lord. Don’t let that be you! Have a one-track mind that’s focused on God and His promises. Believe that He is going to generously bless you with His wisdom. As you keep an attitude of faith and expectancy, He’ll cause you to rise higher and higher, and you’ll live the abundant life He has in store for you!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for being a good and generous God. Thank You for pouring out Your abundant blessing in my life. Keep my heart and mind focused on You always. In Jesus’ Name. Amen.

From : Joel Osteen Ministries

Mampukan Kita Mencintai Tanpa Syarat?

Based on True Story :

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun dan dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.


Rutinitas ini dilakukan pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.


Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata, "Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu".

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya, "Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".


Pak suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak2 mereka, "Anak2ku, jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian (sejenak kerongkongannya tersekat), kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."


Sejenak meledaklah tangis anak2 pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh di pelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu. Sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa2. Di saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru di situlah pak Suyatno bercerita.


"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu2. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit".