Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

16 September 2009

CIBFest 2009

Shalom…

Selamat pagi semua..

Tinggal sebentar lagi puncak acara CIBFest 2009 yang diadakan oleh Jawaban.com. Dan saya, sebagai admin dari RumahRenungan.com ini berterima kasih telah mendukung blog ini hingga sekarang, hingga masuk dalam posisi 50 besar blog terfavorit di CIBFest.

Dan sekarang blog ini menduduki posisi 23 dalam 25 besar blog terfavorit. Saya berharap blog ini bisa menjadi terfaovrit di acara CIBFest 2009 nanti, tapi saya serahkan kepada Tuhan, jika memang Dia yang berkehendak pasti semuanya terjadi.

Jika kalian ingin kami menjadi blog terfavorit, dukung kami, pilih kamu menjadi blog favorit kalian, klik disini atau klik logo CIBFest 2009.

Saya membuat blog ini bukan semata-mata ingin terkenal atau ingin dipandang, tetapi blog ini merupakan salah satu pelayanan saya kepada Tuhan Yesus yang bisa saya lakukan. Saya hanya ingin membuat semakin banyak orang menjadi mengenal Tuhan…

Terima kasih… Tuhan Yesus Memberkati kita semua…

Kaca Cermin

II Korintus 3:18 "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 78; Ibrani 12; Yeremia 5-6

Beberapa tahun yang lalu, Walter A. Maier, seorang pengkhotbah radio yang terkenal, bercerita tentang seorang kepala suku di pedalaman Afrika yang diberi sebuah kaca cermin oleh salah seorang tamunya. Kemudian kepala suku itu menatap kaca mata itu dengan rasa ingin tahu yang amat dalam, setelah itu ia lalu berkomentar tentang betapa jeleknya orang yang ia lihat dalam kaca cermin itu.

Sang tamu kemudian menjelaskan bahwa orang jelek yang dilihat dalam kaca cermin itu tak lain adalah kepala suku itu sendiri. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun menjadi sangat marah dan melemparkan kaca cermin tersebut pada sebuah batu, sehingga pecah berkeping-keping.

Yakobus menggambarkan Firman Allah sebagai kaca cermin tempat kita melihat diri sendiri (1:23-24). Cermin itu menunjukkan bahwa meskipun kita telah diciptakan untuk merefleksikan karakter Allah dalam kehidupan kita, namun kondisi kita yang telah jatuh dalam dosa ini justru mencerminkan bahwa kita buruk secara rohani dan tercemar oleh dosa.

Akan tetapi bila kita beriman di dalam Yesus Kristus, kita akan dilahirkan kembali secara rohani (Yohanes 3:3-8). Kemudian saat kita mencermati Firman Allah, kita melihat diri kita sama seperti Allah melihat kita, keburukan kita telah diubah menjadi kecantikan yang serupa dengan Kristus. Dan mulai saat itu kita bertumbuh dalam keserupaan dengan-Nya.

Apa yang Anda lihat saat memandang ke cermin Kitab Suci? Apakah Anda ragu membacanya karena itu menunjukkan keburukan dari ketidakpercayaan Anda? Ataukah, apakah Anda membacanya dengan ucapan syukur, melihat diri Anda seperti Allah dan Bapa di surga melihat Anda sebagai anak-Nya yang lahir baru secara rohani, dan semakin serupa dengan anak-Nya yang terkasih? (II Korintus 3:18). Ketahuilah akan hal ini, ketika Anda memiliki Yesus Kristus dalam kehidupan Anda maka Dia yang ada di dalam diri Anda akan mengubahkan kehidupan Anda.

Firman Allah adalah satu-satunya cermin yang dapat mengubah penampilan Anda.

Jawaban.com

Titipan Tuhan

07parented Di Indonesia, kita memperingati tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak. Kita tidak hanya dingatkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesehatan, pendidikan, serta perlakuan yang layak (hak asasi anak). Sebagai orang percaya, hendaknya kita menyadari bahwa anak-anak kita hanya titipan Tuhan. Anak bukan milik orangtua, melainkan milik Tuhan. Tugas kita sebagai orangtua adalah merawat dan mendampingi anak tersebut bertumbuh sesuai dengan rencana-Nya, bukan rencana kita sebagai manusia.

Kita tidak bisa memilih talenta dan karunia yang Tuhan taruh dalam diri anak kita. Meski demikian, kita bisa mebantu anak untuk mengembangkan berbagai kemampuan dan keterampilan di dalam hidupnya. Kita juga tidak bisa menentukan panggilan hidup seperti apa yang akan dimiliki oleh anak kita, sebab itu adalah urusan Tuhan secara pribadi dengan anak yang bersangkutan. Namun, sebagai orangtua, kita bisa mengajarkan kepada anak-anak kita untuk hidup taat di dalam jalan Tuhan.

Sayangnya, di tengah pergumulan kehidupan dan kebingungan kita menghadapi masa depan, terutama saat kita berupaya menyediakan yang terbaik bagi masa depan mereka, kita sebagai orangtua justru lupa untuk BERTANYA kepada Sang Pencipta : Apa yang sebenarnya Tuhan ingin lakukan bagi anak0anak yang Dia titipkan kepada kita?

Sejak kecil kita sudah menusunskenario agar si anakbisa menjadi seorang dokter. Padahal, Tuhan menitipkan benih musik di dalam dirinya. Saat si anak bertumbuh dewasa dan berani berpendapat untuk memilih sekolah musik daripada sekolah kedokteran, kita menguliahinya panjang lebar, bahwa seni tidak bisa menghasilkan uang untuk hidup layak.

Sejak kecil anak kita terlihat aktif secara fisik dan menyukai olah raga melebihi segala kegiatan lainnya. Namun, sebagai orangtua, kita lebih tertarik untuk melihat prestasi anak kita dalam bidang matematika dan bahasa inggris.

Akhirnya, anak-anak kita tidak bertumbuh dan berkembang seperti yang Tuhan kehendaki, tetapi seperti yang orangtua kehendaki. Tentu semua orangtua menginginkan YANG TERBAIK bagi anak-anaknya. Tetapi pertanyaan penting yang harus kita jawab terlebih dahulu adalah, “Sudahkah kita BERTANYA kepada Tuhan sebelum kita menasehati anak-anak kita tentang pilihan hidupnya pada masa depan?”. Adakah rancangan kita sebagai orangtua LEBIH BAIK daripada rancangan TUHAN?

Yeremia 29:11 - “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apap yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan-rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Tuhan menitipkan talenta dan karunia di dalam diri anak-anak kita bukan untuk “diseleksi” oleh orangtua. Mana yang kita anggap cocok kita kembangkan, sedangkan kelebihan anak kita yang menurut ukuran kita “bakal tidak menghasilkan apa-apa” dalam hidupnya, sebaiknya diabaikan saja. Pernahkah Tuhan salah mengombinasikan bakat/kemampuan dalam diri anak-anak kita?

Billy Frank, putra seorang petani penjual susu, lebih suka membaca buku Tarzan dan Marcopolo dibanding membantu ayahnya memerah susu dan mengurus pertanian. Ia adalah seorang anak yang aktif dan energik, selalu berlari, menyelidiki, dan sepertinya tidak pernah merasa lelah. Kisah-kisah petualangan dan perjalanan para misionaris sangat memikat hatinya. Bahkan masa-masa kuliahnya ia lewat sembari menawarkan diri menjadi “penolong” (pembantu) bagi para penginjil yang bisa ditemuinya. Dalam suratnya kepada ibunya, “Aku ingin seperti orang ini.”

Tentu saat ini tidak ada orang kristiani yang belum pernah mendengar nama Billy (Frank) GRAHAM, bukan? Ya, kisah diatas adalah cuplikan kisah masa kecil seorang penginjil yang sangat terkenal di seluruh dunia. Lihatlah bahwa Tuhan tidak pernah salah menitiipkan talenta maupun karunia di dalam diri seorang anak. Bahwa setiap keunikannya, setiap pembawaannya, setiap minat dan hobinya, itu semua merupakan potensi yang jika ditumbuhkembangkan, akan membuat anak tersebut betul-betul menjadi seperti yang Tuhan inginkan.

Diperlukan IMAN untuk bisa menerima seorang anak apa adanya. Dan, IMAN untuk yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah mengombinasikan segala potensi yang ada dalam diri anak-anak-Nya. Bahwa itu semua sudah Dia rancang untuk membawa maksud yang baik. Baik untuk anak tersebut, maupun baik untuk menggenapi pekerjaan Tuhan.

Efesus 2:10 : Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

John C. Maxwell mendefinisikan SUKSES sebagai berikut.
1. Mengetahui maksud Anda dalam kehidupan
2. Bertumbuh untuk mencapai potensi maksimal Anda
3. Menaburkan benih yang menguntungkan bagi sesama.

Sudahkan kita bertanya dan berserah kepada Tuhan demi panggilan hidup anak-anak kita? Bertanyalah, karena Tuhan akan menjawab. Serahkanlah, karena hanya di dalam Tuhan ada jaminan masa depan yang pasti bagi anak-anak kita.

Oleh : Meilania
Guru Sekolah Minggu, pembicara seminar dan pelatihan guru Sekolah Minggu, moderator milis diskusi e-BinaGuru

Sumber : Renungan Harian Edisi Juli 2009