Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

11 January 2012

Kisah Pengalaman Mati Suri (II)

Aku tak segan-segan mengatakan berulang-ulang betapa hal ini mengubah pendapatku tentang manusia secara sesaat. Aku berkata/berpikir/merasa, “Oh, Tuhan, aku tak pernah menyadari.” Aku dibuat tercengang bahwa ternyata tidak ada kejahatan dalam setiap jiwa. Manusia mungkin saja berbuat hal-hal yang buruk karena ketidak tahuan, namun tidak ada jiwa yang jahat. “Apa yang dicari oleh setiap insan – apa yang membuat mereka bertahan – adalah kasih”, Terang itu berkata kepadaku, “Apa yang merubah manusia menjadi buruk adalah tidak adanya kasih.”

Pengungkapan-pengungkapan terus berlanjut, “Apakah ini berarti bahwa manusia akan diselamatkan?” Laksana tiupan dari sebuah terompet disertai hujan terang yang luar biasa, maka Terang itu berkata kepadaku, “Kamu selamat, menebus dan menyelamatkan dirimu sendiri. Kamu selama ini telah melakukannya dan akan selalu melakukannya. Kamu telah diciptakan dengan kuasa untuk berbuat demikian sebelum dunia ini diciptakan.” Pada saat itu, aku menyadari bahwa aku telah diselamatkan.

Aku bersyukur akan Terang Tuhan dengan segenap hatiku. Cara satu-satunya yang aku dapat ungkapkan adalah: “Oh Tuhan yang amat baik, Alam Semesta yang ajaib, aku mengasihi hidupku.” Terang itu agaknya menghembuskan aku bahkan pergi ke suatu tempat yang menarik dan lebih dalam lagi.
Aku telah memasuki sebuah dunia yang berbeda, lebih jelas daripada yang sebelumnya, dan menjadi sadar akan kehadiran adanya seberkas Terang yang luar biasa, besar sekali, penuh dan dalam. Aku bertanya apakah itu? Terang itu menjawab, “Itulah Sungai Kehidupan. Minumlah dari manna air itu sepuas hatimu.”
Maka aku meminumnya dengan sepuas-puasnya, dalam keadaan di luar kemampuanku untuk mengerti.

Kekosongan dari Kehampaan

Tiba-tiba aku agaknya melaju dengan cepat sekali dari planet Sungai Kehidupan itu. Aku melihat bumi lewat dan menghilang. Sistem solar berdesing lewat dan menghilang. Aku terbang di tengah-tengah galaksi serta menyerap lebih banyak pengetahuan-pengetahuan dalam perjalananku. Akubelajar, bahwa galaksi ini – dan seluruh Alam Semesta – telah dipadati oleh bermacam-macam kehidupan. Aku melihat banyak dunia. Kita tidak sendirian di dalam alam semesta ini. Kelihatannya bahwa semua ciptaan dalam alam semesta ini sedang melewati aku dan menghilang dalam sebuah titik terang.

Kemudian Terang yang kedua muncul. Ketika aku melewati Terang yang kedua itu, aku merasa seolah-olah dalam keadaan melampaui sesuatu tanpa batas. Aku berada di alam kekosongan, jaman pra-kreasi, atau awal dari segala sesuatu, Sabda yang mula-mula atau Getaran Dunia. Aku berada di tengah-tengah mata ciptaan Allah dan seolah-olah aku menyentuh wajah Allah. Hal itu bukanlah suatu perasaan spiritual. Aku sekedar menjadi satu dengan Kehidupan dan Kesadaran yang tertinggi.

Aku ikut mengalir dan tiba di tengah-tengah Terang. Aku merasa dipeluk oleh Terang itu. Dan kebenaran memang menjadi nyata, bahwa tidak ada kematian; bahwa tidak ada kelahiran dan kematian di sana; bahwa kita adalah makhluk yang abadi, bagian dari suatu sistem kehidupan alami yang secara abadi seakan mendaur ulang sendiri.

Diperlukan bertahun-tahun untuk memahami dan mengerti pengalaman kekosongan ini. Hal ini menjadi sesuatu yang amat tak berarti, namun lebih besar dari segala sesuatu. Penciptaan merupakan Allah yang sedang mengungkapkan dan menemukan Diri-Nya sendiri dengan segala cara yang kita dapat bayangkan. Melalui setiap helai rambut di atas kepalamu, melalui setiap daun di pepohonan, melalui setiap atom. Allah sedang mengungkapkan Diri-Nya. Aku melihat segala sesuatu seperti ada pada Diri-Nya. Allah ada di sini. Dan itulah yang paling penting. Segala sesuatu diciptakan dari Terang, segala sesuatu hidup.

• Sumber Tulisan: www.weboflove.org/neardeathexperience

Bersambung…

Marah Pada Tuhan

Bacaan Setahun : Ayub 29-31
Nats : Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?...apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? (Ratapan 5:20,22)

Bacaan : Ratapan 5:1-22

Melihat kondisi bangsa dan negara yang kita cintai, pernahkah Anda marah, jengkel, mengeluh pada Tuhan? Menuduh-Nya tidak peduli? Perasaan yang sama pernah dialami oleh nabi Yeremia ketika ia melihat keadaan kota Yerusalem dan bangsanya yang hancur. Alkitab tidak menutupi kebobrokan umat Tuhan. Dalam doa Yeremia, kita diberitahu seperti apa kondisi yang ia tangisi saat itu (bandingkan dengan negara kita). Bangsanya terhina oleh bangsa lain dan asetnya dikuasai orang asing (ayat 1-2). Ada banyak anak yatim dan janda. Terjadi kekurangan air dan bahan bakar (ayat 3-4). Mereka harus bekerja lebih keras dan terpaksa minta bantuan negara asing (ayat 5-6). Rakyat menjadi korban kesalahan para pendahulu dan diperintah pejabat yang tidak bermutu (ayat 7-8). Banyak pembunuhan, kelaparan dan perkosaan (ayat 9-11), dan seterusnya. Mengapa Tuhan membiarkan semua ini? Yeremia mengeluh dengan satu kesadaran yang kuat: inilah murka Tuhan akibat dosa (ayat 16, 22). Tuhan sudah sangat bersabar dengan Israel, tetapi mereka tidak bertobat. Yeremia datang sebagai bagian dari bangsanya itu. Di tengah perasaan yang campur aduk, ia mengakui dosa bangsanya dan memohon belas kasihan Tuhan (ayat 21).

Melihat berita di koran atau televisi hari ini, biarlah tidak hanya rasa marah, jengkel, dan keluhan yang menguasai kita, tetapi juga kengerian akan akibat dosa! Sadarilah betapa murkanya Tuhan terhadap dosa. Umat pilihan pun dihukum-Nya! Ketika berdosa atau melihat dosa di sekitar kita, datanglah pada Tuhan, memohon pengampunan dan belas kasihan-Nya --ACH

APA TANGGAPAN YANG TEPAT SAAT DOSA MEREBAK DALAM MASYARAKAT? MARAH PADA TUHAN ATAU MEMOHON BELAS KASIHAN-NYA?

Sabda.org