Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

25 January 2012

Tumbuh Lewat Persekutuan

Bacaan Setahun : Kejadian 38-40
Nats : "...Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran" (Kolose 3:12)

Bacaan : Kolose 3:5-17

Setelah dibaptis, Pakhomius seriusingin bertumbuh. "Bertapalah. Itucara terampuh, " nasihat seorang biarawan. Di tahun 315 M, tradisi bertapa memang marak. Orang memisahkan diri dari masyarakat yang korup. Menyendiri di gurun. Berdoa dan puasa. Setelah mencoba, Pakhomius merasa itu tidak tepat. "Bagaimana bisa belajar rendah hati, jika hidup sendiri? Bagaimana belajar bersabar, tanpa menjumpai sesama?" Ia pun berhenti bertapa dan mengembangkan spiritualitas persekutuan. Menurutnya, orang bertumbuh dalam pergaulan, bukan kesendirian.

Paulus memotret sifat-sifat manusia baru, antara lain: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (ayat 12). Ini buah kehidupan bersama. Belas kasihan dan kemurahan muncul saat melihat kebutuhan sesama. Kerendahan hati terbentuk saat menjumpai kelebihan orang lain. Kelemahlembutan dan kesabaran teruji saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan. Jemaat Kolose terdiri dari berbagai macam orang yang disatukan dalam kasih Kristus (ayat 11). Orang-orang "sulit" jelas ada (ayat 13). Namun, mereka diminta tetap bersatu (ayat 14). Tidak meninggalkan persekutuan. Di situlah terjadi proses pembentukan. Lewat konflik, orang saling menegur dan bertumbuh (ayat15-16).

Adakah orang yang kerap menjengkelkan Anda? Atau, Anda kecewa dengan perilaku orang-orang sulit di gereja? Ingatlah bahwa melalui mereka, sifat-sifat Anda kian diasah dan dibentuk Tuhan sebagai orang-orang pilihan-Nya. Jadi, bertahanlah! Sambut pembentukan Tuhan melalui persekutuan dengan hati bersyukur! --JTI

TANPA BELAJAR HIDUP SEHATI
TIADA PERTUMBUHAN IMAN SEJATI

Sabda.org

20 January 2012

Panggilan

Pada abad ke-11, Raja Henry III dari Bavaria, merasa bosan dengan kehidupan istana dan tekanan-tekanan hidup sebagai seorang raja. Ia mengajukan permohonan kepada kepala biara Richard dari sebuah biara lokal untuk dapat diterima sebagai seorang pertapa untuk selanjutnya menghabiskan sisa hidupnya dalam biara itu.

“Baginda”, kata kepala biara itu, “apakah baginda mengerti bahwa ikrar para biarawan di sini adalah mengenai ketaatan? Dan akan menjadi amat berat bagi baginda untuk mematuhinya karena baginda pernah menjadi seorang penguasa tertinggi.”

“Aku sangat paham”, kata Henry. “Selama sisa hidupku aku akan selalu patuh kepadamu, karen Kristus memimpinmu.”

“Kalau begitu, aku akan memberitahukan apa yang baginda harus lakukan”, kata kepala biara itu. “Kembalilah ke singgasanamu dan layanilah dengan setia di tempat Tuhan telah menunjukmu.”

Ketika raja Henry wafat, terdapat suatu pernyataan yang mengatakan, “Raja telah belajar untuk memerintah dengan taat.”

Bila kita merasa capai akan tugas-tugas dan tanggung jawab kita, ingatlah bahwa Tuhan telah menempatkan kita di satu tempat tertentu dan memerintahkan kepada kita untuk menjadi seorang akuntan, seorang guru dan seorang ibu atau ayah yang baik. Kristus mengharapkan diri kita bahwa kita harus setia di tempat Kristus telah menentukan untuk kita dan bila Ia kembali, kita akan memerintah bersama dengan-Nya.

Steve Brown

Membalas Kejahatan

Bacaan Setahun : Kejadian 25-26
Nats : Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang (Roma 12:17)

Bacaan : Roma 12:17-21

Toni jengkel. Sejak berdiri, pabriknya sering ditimpuki anak jalanan. Puluhan kali alarm pencuri berbunyi. Suatu hari dipergokinya 3 anak mencuri mangga di halaman. Mereka terpojok ketakutan. Toni naik darah, tetapi tiba-tiba teringat firman Tuhan: "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan." Diberinya tiap anak satu mangga sambil dinasihati: "Lain kali minta saja, jangan mencuri." Dua hari kemudian, 5 anak datang minta mangga! Toni sabar melayani. Rela diganggu. Lama-lama, mereka datang tiap sore. Bukan lagi untuk minta mangga, melainkan untuk berteman. Mereka diajari baca tulis. Pabriknya jadi aman. Lebih lagi, anak-anak jalanan bisa belajar mengenal kasih Tuhan.

Saat orang berbuat jahat, biasanya kita ingin membalas. Mengapa? Sebab kita merasa terganggu. Terluka. Jika membalas, ada rasa puas. Namun, pembalasan membuahkan pembalasan;melahirkan lingkaran dendam tak berkesudahan. Rasul Paulus memberi saran radikal: berbuat baiklah pada musuhmu! (ayat 17, 20). Tindakan kasih tanpa pamrih berkuasa menghancurkan hati lawan, mengubah dendam menjadi pengampunan (ayat 21). Kita bertanya, "Lantas bagaimana dengan kejahatan mereka? Tidakkah mereka harus menerima hukuman setimpal?" Soal pembalasan, kata Paulus, serahkan saja pada Tuhan (ayat 19). Bagian kita adalah menunjukkan kebaikan.

Untuk bisa berbuat baik saat disakiti, kita harus bersabar menghadapi orang-orang yang sulit dan berhati bengkok. Untuk itu dibutuhkan penyangkalan diri. Ingat janji firman Tuhan. Memang tak mudah, namun hasilnya indah. Cobalah! --JTI

HANYA ORANG YANG RELA DIGANGGU
DAPAT TUHAN PAKAI MENYENTUH HIDUP SESAMA

Sabda.org

19 January 2012

Antara Karsa Dan Karya

Bacaan Setahun : Kejadian 22-24
Nats : Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu keh (Galatia 5:17)

Bacaan : Galatia 5:16-26

Menteri Rekonstruksi Jepang, Ryu Matsumoto, mengundurkan diri karena telah bersikap kasar ketika berkunjung ke tempat korban tsunami beberapa waktu yang lalu. Menarik untuk menyimak apa yang ia jelaskan mengenai perilakunya: "Golongan darah saya B. Artinya saya bisa meledak sewaktu-waktu dan maksud saya tidak selalu sama dengan tindakan saya, " ujarnya. Apakah pernyataannya itu mengandung kebenaran atau hanya untuk membela diri?

Sebenarnya, masalah ketidakserasian antara "keinginan melakukan" (karsa) dengan "apa yang dilakukan" (karya) adalah masalah klasik sejak dulu. Paulus menjelaskan penyebabnya: "keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki." Kita bisa mengetahui karsa mana yang lebih kuat dalam diri seseorang dengan melihat karyanya. Perbuatan daging adalah segala tindakan dosa (19-21) sedangkan buah Roh adalah kasih, damai sejahtera dan segala hal baik lainnya (22-23). Sebagai milik Kristus, seharusnya karsa Roh Kudus menguasai hidup kita dan mengendalikan setiap karya kita (24-25).

Tidak mudah memang membuat serasi antara karsa dan karya sebagai seorang anak Tuhan. Itu sebabnya kita tidak dapat melakukannya sendiri. Kita perlu bergantung pada Roh Kudus untuk menolong kita. Mari terus memberi diri dan mohon kepekaan mengikuti pimpinan-Nya. Tindakan kita tidak tergantung pada golongan darah kita, tetapi tergantung siapa yang memimpinnya. Apakah kita dipimpin oleh Roh atau dikendalikan oleh kedagingan kita. Selamat dipimpin Roh! --ENO

BERILAH DIRI DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS
ATAU KEDAGINGAN YANG AKAN MENGENDALIKAN KITA TERUS

Sabda.org

18 January 2012

Hidup Dan “Kata Orang”

Suatu hari, seorang bapak dan seorang anaknya sedang berjalan dari desa mereka mau ke pasar. Mereka berdua berjalan menuntun seekor keledai. Di tengah perjalanan, mereka berjumpa salah seorang teman mereka.

“Mau kemana kalian?” kata si teman.

“Oh, kita mau ke pasar,” jawab si ayah.

“Ooo..mau ke pasar ya… tapi kok keledainya gak ditunggangin saja, kan pasar masih jauh, kok bodoh keledai ada tapi gak ditunggangin,” kata si teman.

si Ayah mendengar ucapan tadi, lantas berpikir.. iya yah, kenapa kita gak tunggangin saja keledainya, apa gunanya keledai kalo cuma dituntun saja.  akhirnya si ayah berkata pada anaknya.

“Anakku, kamu saja yang tunggangin keledainya, biar ayah yang jalan, keledainya sepertinya cuma bisa ditunggangin satu orang,”kata si ayah.

Si anak pun akhirnya menunggangi keledai, sedangkan si ayah menuntun sambil jalan. Mereka berdua berjalan terus, namun tak lama kemudian, mereka berjumpa salah satu tetangga mereka.

“Loh, kok kamu tega-teganya membiarkan bapakmu yang menuntun keledai, kamu malah asyik-asyik nunggang keledai, sementara ayahmu berjalan kaki,”kata tetangga mereka pada si anak.

“Iya yah, “gumam si anak. kok saya teganya membiarkan ayah saya berjalan, sementara saya enak-enak duduk di atas keledai. Akhirnya si anak turun dan meminta ayahnya saja yang naik ke atas punggung keledai. Dan mereka pun jalan lagi. Tak lama mereka berjalan, mereka menjumpai salah seorang teman si ayah mereka.

“Loh loh… gimana kamu ini? kok anakmu dibiarin berjalan kaki, sementara kamu duduk-duduk enak di atas keledai, apa kamu gak sayang sama anakmu? kan keledai itu sepertinya bisa ditunggangin dua orang,” ungkap si teman pada si ayah.

Si ayah yang mendengar ucapan tadi, akhirnya menarik anaknya naik juga di atas keledai. Mereka berdua pun berjalan lega, tanpa cape karena menunggangi keledai, namun memang keledai mereka berjalan lebih lamban dari semula karena sekarang ditunggangi dua orang.

“Waduh, waduh…. kalian ini keterlaluan sekali,” tiba-tiba terdengar ucapan seseorang.

Si ayah dan anak menoleh ke arah sumber suara. Ternyata sumber suara itu berasal dari dua orang yang mereka tidak kenal.

“Kasihan sekali keledai ini, ditunggangin dua orang, padahal dari jalannya saja keledai ini kelihatannya letih sekali. Pasti keledai ini sudah menempuh perjalanan jauh, dan memikul beban yang berat karena ditunggangin dua orang yang tidak kasihan terhadap keledai mereka. Betul-betul tidak berperikemanusiaan (red: berperikehewanan :) ) ,” ucap dua orang ini.

Si ayah dan anak melihat keledai mereka. Dan mereka memang melihat keledai ini bernafas kecapean, nampak lelah sekali. Betul juga yah omongan orang tadi, keledai kita sepertinya kecapean, kok kita tega membiarkan keledai yang sudah lama jadi peliharaan kita ini kecapean seperti ini. Akhirnya si ayah dan anak mengambil keputusan. Mereka tetap jalan ke pasar.

Sesampai mereka berdua di pasar, semua orang memandang kepada pasangan ayah dan anak ini. Semua orang tersenyum, bahkan malah ada yang tertawa.

“Hahaha…ini pasangan ayah dan anak yang lucu sekali… Baru kali ini saya melihat dua orang ayah dan anak menggendong keledai… hahaha… Keledai kok digendong, bukannya ditunggangin…” ucap beberapa orang di pasar.

Nah, dari cerita ini, pertama kali saya dapat dari kenalan saya seorang pengusaha. Beliau bercerita banyak bahwa terkadang orang hidup berdasarkan perkataan orang lain. Dia menjalankan suatu bisnis, namun mendapat cemoohan, ejekan, perkataan yang tidak enak dari teman-teman, saudara, yang perkataan tadi kurang atau tidak mendukung bisnis yang dia lakukan. Sehingga akhirnya orang ini berhenti menjalankan bisnisnya karena banyak mendengarkan perkataan orang-orang laen. Padahal di saat dia susah, orang-orang yang mencemooh tadi belum tentu juga membantu, malah terkadang kadang masih juga mencemooh.

Nah, sama seperti ketika seseorang mengadakan resepsi pernikahan. Kalo mau mengadakan resepsi pernikahan yang kecil-kecilan saja karena masalah biaya, ada orang-orang yang berkomentar,” masak pernikahan dirayakan segini aja, gak ada pesta besarnya, pernikahan itu kan sekali seumur hidup, kok tidak dirayakan.” Namun ketika mengadakan resepsi pernikahan secara besar-besaran pun, ada juga orang yang akan berkomentar,”Wah, zaman lagi susah cari duit, kok boros-borosnya ngadain pesta besar seperti ini. Padahal keuangan lagi susah, apa gak mikir.”

Jadi buat anda yang sedang menjalani suatu kehidupan, suatu bisnis, suatu pekerjaan, dan anda menemui orang-orang yang kurang atau tidak setuju dengan apa yang anda lakukan, padahal anda tau bahwa bisnis atau pekerjaan yang sedang anda jalankan akan membawa suatu perubahan/kemajuan dalam hidup, mudah-mudahan cerita di atas bisa membantu anda untuk mengambil suatu keteguhan hati dalam menjalankan bisnis anda. Saya pernah membaca sebuah buku yang mengatakan seperti ini : Apapun yang kita lakukan, selalu ada 1/3 bagian orang yang menolak apa yang kita lakukan/katakan, 1/3 bagian orang yang mendukung dan 1/3 bagian lagi yang pada posisi netral. Ini sudah hukum alamnya. Begitu kata buku itu. Bagi anda yang sudah mengalami banyak penolakan, banyak ejekan, banyak cemoohan, banyak yang tidak mendukung apa yang anda lakukan, bisnis anda, padahal anda merasakan bisnis itu bagus sekali buat anda, anda tidak perlu merasakan kecewa, karena anda juga mempunyai 1/3 bagian yang akan mendukung usaha anda, dan 1/3 bagian lagi yang pada posisi netral pada awalnya, namun kalau anda terus berjuang, 1/3 bagian netral ini bisa jadi akan mendukung anda. Tinggal masalah waktu dan konsistensi anda untuk menyampaikan informasi yang benar tentang usaha anda, pekerjaan anda pada mereka. Terus bertindak, berusaha, membuktikan bahwa anda bisa!!

Pesan Terakhir

Bacaan Setahun : Kejadian 19-21
Nats : Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh anugerah (Efesus 4:29)

Bacaan : Efesus 4:17-32

"Saya hanya ingin kamu tahu saya benar-benar mencintaimu. Saya ingin kamu berbuat baik, berbahagialah.... " Itulah potongan pesan terakhir yang sempat ditinggalkan Brian Sweeney dimesin penjawab telepon isterinya, sebelum pesawat yang ia tumpangi ditabrakkan pembajak ke gedung WTC, 9 September 2001. Pesan yang singkat, mengharukan, sekaligus menghangatkan hati yang mendengarnya.

Perkataan yang baik, yang menguatkan, yang membangun orang lain, adalah salah satu hal yang didorong Rasul Paulus untuk dilakukan semua orang percaya, bukan saja menjelang akhir hidup, melainkan sejak menerima hidup baru di dalam Kristus (ayat 20-24). Hidup baru perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata setiap hari, termasuk melalui setiap perkataan yang keluar dari mulut kita. Yang dimaksud perkataan baik tidak berarti kata-kata yang romantis belaka, tetapi apa yang meneguhkan, menguatkan, ramah, penuh kasih dan pengampunan (ayat 29,32). Berbanding terbalik dengan kata-kata kotor yang merusak (ayat 31).

Mana yang lebih banyak keluar dari mulut kita setiap hari? Perkataan yang baik atau justru yang merusak? Ucapan yang membawa orang mengagumi Tuhan, atau malah yang membuat mereka kehilangan rasa hormat dan kasih pada-Nya? Sobat, jangan tunggu detik-detik terakhir untuk mengucapkan tutur kata yang baik. Kita tidak tahu kapan saat itu tiba. Hidupilah setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhir kita. Mohon Roh Kudus memberi hikmat agar setiap orang yang mendengar perkataan kita dapat beroleh kasih karunia Tuhan-SST

PAKAILAH SETIAP KESEMPATAN YANG ADA
MEMBAWA ORANG SELANGKAH LEBIH DEKAT KEPADA KRISTUS

Sabda.org

17 January 2012

Aku Memalingkan Diriku dari Allah

Ketika aku berumur empat belas tahun, aku memalingkan diriku dari Tuhan. Aku tidak pernah memikirkan tentang iman, kecuali ketika aku sedang mencemoohkan seseorang yang menganggap dirinya seorang percaya. Aku berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan rasionalisme, kemanusiaan dan filosofi adalah lebih baik. Selama bertahun-tahun aku mempunyai keyakinan yang demikian itu. Kini aku ingin semua itu aku tarik kembali, namun aku tidak dapat.

Setelah menyelesaikan pendidikanku di perguruan tinggi, aku masuk ke dalam angkatan laut dan mulai melihat dunia di luar Amerika Serikat. Terdapat begitu banyak kekerasan, begitu banyak kemiskinan, hal-hal yang membuat orang putus asa dan penderitaan. Aku mulai bertemu dengan orang-orang yang percaya bahwa iman merupakan sesuatu bagian yang amat penting dalam hidup mereka. Aku mulai berfikir dalam diriku sendiri, “Alangkah indahnya, bila seandainya bisa percaya akan sesuatu yang melebihi dari dirinya sendiri, bahkan melebihi dari dunia.

Betapa besar kekuatan mereka yang percaya terhadap “Tuhan”.

Tentu,… aku terlalu intelektual dan terlalu terpelajar serta berpendidikan untuk dapat percaya tentang semua yang serba bodoh itu.

Aku sedang rindu tentang sesuatu yang aku tak dapat menemukan kata-kata untuk memintanya.

Aku adalah seorang peminum berat. Aku rindu akan keluargaku. Aku telah patah hati. Adik tiriku perempuan telah meninggal. Aku telah mengunjungi Yerusalem dan laut Galilea, namun aku tak banyak mengerti apa yang didapatkan oleh para peziarah dan apa yang mereka alami. Aku sebenarnya iri hati, walaupun aku tidak tahu terhadap siapa dan tentang apa. Hal yang paling aku ingat adalah betapa aku merasa seorang diri, berlayar di tengah lautan di atas sebuah kapal perang. Kita pernah berada di Teluk Persia, kemudian di lautan Adriatik selama perang di Yugoslavia. Saya masih ingat pembunuhan-pembunuhan yang mengerikan. Kita mengangkat begitu banyak mayat-mayat dari lautan Adriatik. Lalu kejadian di Rwanda. Rabin telah dibunuh ketika aku berada di Hiafa. Semua biarawan telah di bunuh di Aljazair. Agaknya maut sedang mengelilingi aku. Aku tidak tahu harus berbuat bagaimana. Aku merasa tersesat.

Kemudian, pada suatu senja, aku sedang mengamati tenggelamnya surya di ufuk dari geladak kapal di mana aku bekerja. Aku menemukan diriku sedang merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang besar dalam hidupku. Kemanakah aku sedang berjalan? Mengapa hal-hal itu terjadi dalam dunia ini maupun dalam hidupku? Apa yang aku inginkan dari hidupku? Apa yang aku inginkan dari diriku? Bagaimana aku dapat beriman bila aku tidak percaya segala sesuatu di luar akal sehatku?

Aku merasakan seakan-akan aku melalui dan keluar dari api dan yang tersisa yang hanya segenggam abu.

Aku bertanya kepada Tuhan bahwa aku tidak percaya bahwa Tuhan dapat menolong aku…dan Ia menjawab. Aku tidak mau mengatakan lebih lanjut tentang hal ini, namun dalam kurun waktu sesaat, hidupku telah berubah untuk selamanya.

Kejadian itu sepuluh tahun yang lalu. Perjalanan imanku telah mengalami banyak belokan dan tikungan, namun aku tetap di atas jalan yang benar. Aku telah menemukan begitu banyak hikmah dan perdamaian dalam kisah dan pelajaran dari Yesus, dan aku tahu bahwa Tuhan besertaku, menolongku, memegang tanganku, membimbing aku ketika aku bertumbuh dan berubah.

Tetapi yang paling indah adalah bahwa aku kini mempunyai seorang puteri berumur enam bulan, dan aku tidak dapat menunggu untuk mengajarnya tentang keajaiban dan keindahan Allah. Tuhan telah mengubah hidupku. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang lebih terkejut dari pada aku sendiri yang telah menemukan iman. Ia pun dapat merubah anda!!

Michael J.C., Massachusetts

Hanya Satu Jalan?

Bacaan Setahun : Kejadian 16-18
Nats : Tidak ada keselamatan di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lainyang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah Para Rasul 4:12)

Bacaan : Kisah Para Rasul 4:1-13

Apakah Yesus satu-satunya jalan bagi keselamatan manusia? Menjawab pertanyaan ini, Robertson McQuilkin memberi suatu analogi. Bayangkan Anda adalah satpam rumah sakit yang bertugas di lantai 10. Anda tahu lokasi tangga darurat yang denahnya sudah ditandai dengan jelas. Ketika terjadi kebakaran besar, tepatkah jika Anda mendiskusikan kemungkinan adanya jalan aman selain melalui tangga darurat tersebut atau kemungkinan selamat jika terjun dari lantai 10? Tanggapan paling tepat adalah membawa semua pasien secepat mungkin menuju tangga darurat.

Petrus dan Yohanes ditangkap, ditahan, dan disidang. Mereka diancam dan dilarang keras untuk berbicara tentang Yesus. Namun, mereka tidak dapat dihentikan. Alasannya lugas dan logis: Jika keselamatan bagi manusia di seluruh dunia hanya ada di dalam iman kepada karya Yesus (ayat 12), bagaimana mungkin tidak menyebarluaskan pengalaman dan kabar baik ini kepada semua orang (ayat 20)? Tidak mungkin. Yesus sendiri pernah mengajar mereka, "Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6).

Pertanyaan besarnya bukanlah mengapa jalan keselamatan hanya satu atau bagaimana nasib kekal dari orang-orang yang terhilang. Misteri besarnya ialah mengapa kita sibuk melakukan banyak hal yang baik, tetapi tak sempat mengusahakan agar semua orang mendengar Firman kehidupan dalam Kristus yang memerdekakan.

Daripada mencari alasan pemaaf bagi kita untuk tidak membagikan kabar kelepasan ini, mari kita mencari cara kreatif untuk menyampaikannya kepada sebanyak mungkin orang --JOO

PAKAILAH SETIAP KESEMPATAN YANG ADA
MEMBAWA ORANG SELANGKAH LEBIH DEKAT KEPADA KRISTUS

Sabda.org

16 January 2012

Takhayul Rohani

Bacaan Setahun : Kejadian 12-15
Nats : Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: "Mengapa Tuhan membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini?Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian (1 Samuel 4:3)

Bacaan : 1 Samuel 4:1B-11

Kita mungkin pernah menyaksikandalam film-film horor, bagaimana kitab suci atau simbol-simbol agama. Digunakan untuk membuat setan takut dan tak berdaya. Entah dipengaruhi film semacam itu atau tradisi keluarga, ada orang kristiani yang melakukan hal serupa. Mereka memasang salib di rumahnya dengan harapan rumah tersebut akan terlindung dari gangguan setan. Beberapa orang akan merasa sangat

tenang ketika tidur didampingi Alkitab.

Dalam bacaan hari ini, tua-tua Israel mempertanyakan mengapa Tuhan tidak menyertai mereka dalam peperangan. Sebenarnya mereka telah mengarahkan pikiran kepada Pribadi yang tepat. Sayangnya, mereka lalu mengambil kesimpulan yang salah. Dengan cepat mereka mencari "sesuatu" untuk membuat mereka tenang. Mereka mendatangkan "benda suci", yakni Tabut Perjanjian, diiringi oleh "orang-orang suci" yakni para imam, Hofni dan Pinehas. Pikir mereka, benda-benda itu dapat membuat Tuhan datang dan melepaskan mereka. Mereka termakan dengan takhayul rohani sama seperti musuh mereka yang juga sangat takut dengan tabut tersebut. Hasilnya? Kekalahan mereka justru makin parah. Ternyata, orang-orang suci dan benda suci tidak dapat menolong mereka.

Tak jarang kita pun menghadapi kesulitan hidup bak peperangan setiap hari. Kala mencari perasaan tenang dan kemenangan, kepada apa atau siapa kita menaruh harap? Adakah benda atau pribadi tertentu-yang justru bukan Tuhan-menjadi tempat kita bertumpu? Hati-hati dengan takhayul rohani yang membuat kita meng-ilahkan sesuatu dan menyakiti hati Tuhan --PBS

KALA KITA PERLU RASA AMAN DAN TENANG
KEPADA TUHAN SAJA SEPATUTNYA KITA DATANG

Sabda.org

12 January 2012

Kisah Pengalaman Mati Suri (III)

Terang dari Kasih

Aku diberitahu bahwa aku harus kembali. Aku hanya tahu bahwa aku akan melakukan hal itu. Hal itu memang wajar, dari apa yang telah aku lihat dan alami. Ketika aku mulai dengan perjalananku kembali ke siklus kehidupan, aku tidak pernah sadar atau tak pernah diberi tahu bahwa aku akan kembali ke dalam tubuh yang sama. Dalam hal ini aku tidak peduli. Aku percaya sekali kepada Terang dan proses Kehidupan.

Ketika siklus itu telah menjadi satu dengan Terang yang besar, aku berharap agar aku tak pernah lupa akan pengungkapan-pengungkapan dan perasaan-perasaan dari apa yang aku telah pelajari di seberang sana. Aku membayangkan menjadi sesosok manusia lagi dan hal itu mebuat aku merasa senang.
Dari apa yang telah aku lihat, aku akan mersa senang untuk menjadi atom di dalam Semesta Alam. Menjadi bagian yang manusiawi dari Allah… ini adalah berkat yang sungguh luar biasa. Ini merupakan berkat yang melampaui semua imajinasi yang sangat besar.

Bagi setiap orang, bagian dari pengalaman iman ini adalah sesuatu yang sungguh menakjubkan. Setiap dari kita, terlepas di mana kita berada, kita orang aneh atau tidak, merupakan berkat bagi planet ini. Demikianlah aku kembali ke tubuhku. Aku begitu terperanjat ketika aku membuka mataku dan merasakan bahwa aku telah kembali ke dalam tubuhku, kembali ke kamarku dengan seseorang yang sedang memandangku sambil menangis. Ia ternyata adalah Anne, pengasuhku. Ia telah menemukan bahwa aku mati tiga puluh menit sebelumnya.Aku tidak mengetahui berapa lama aku telah mati, hanya aku telah menemukan aku tiga puluh menit sebelumnya. Ia telah mematuhi perintahku agar tubuhku yang mati tidak diapa-apakan. Dengan demikian, ia dapat membenarkan bahwa aku sesungguhnya dan benar-benar telah mati.

Menurutku, hal ini bukanlah suatu pengalaman mati suri. Aku percaya bahwa aku memang benar mati, setidak-tidaknya selama satu setengah jam. Ketika aku bangun kembali, aku melihat terang dari luar. Disertai kebingungan, aku berusaha untuk berdiri dan menuju ke jendela, namun aku terjatuh kembali di atas tempat tidur. Anne mendengar sebuah suara “gedebuk” kemudian mendapatkan aku di atas lantai. Ketika aku sudah pulih kembali, aku merasa heran dan terpesona akan apa yang telah terjadi… Pada mulanya, aku tidak ingat akan pengalaman itu. Aku terus bertanya, “Apakah aku hidup?”
Dunia agaknya terlihat seperti sebuah impian.

Dalam waktu tiga hari, aku sudah normal kembali, namun berbeda dari pada aku sebelumnya. Ingatanku tentang perjalananku kembali menyusul. Namun sejak aku menemukan bahwa tidak ada sesuatu yang salah dengan manusia yang pernah kujumpai. Sebelum kematianku, aku suka menghakimi orang lain, yakin bahwa manusia itu aneh dan sinting. Detiap orang, terkecuali aku sendiri.

Kira-kira tiga bulan kemudian, seorang kawan mengatakan bahwa sebaiknya aku perlu untuk diperiksa penyakit kankerku.
Demikian aku sekali lagi menjalani berupa pemeriksaan, seperti CTscan dan seterusnya. Aku sendiri merasa sehat. Aku masih ingat akan dokter yang mempelajari pelbagai hasil scan “sebelum” dan “sesudah”. Ia mengatakan, “Aku sekarang tak dapat menemukan tanda-tanda kanker.” “Sebuah mujizat?”, tanyaku. “Tidak”, jawab dia. “Hal-hal seperti itu biasa terjadi…” Ia kelihatannya tidak heran. Namun aku merasa heran. Aku tahu bahwa inilah suatu mujizat.

Pelajaran yang kuperoleh

Aku bertanya kepada Allah, “Agama apakah yang paling bagus dan baik? Manakah yang paling benar?” Allah mengatakan dengan penuh kasih, “Itu tidak penting.” Betapa luar biasanya kasih karunia-Nya. Tidaklah penting kita ikut agama apa. Agama-agama datang dan pergi. Mereka berubah. Agama Budha tidak selalu ada di sini. Demikian pula, agama KAtolik tidak selalu ada. Dan semuanya itu menjadi lebih jelas dan terang. Terang yang lebih besar akan menerangi semua itu. Banyak yang menentang dan melawan, agama yang satu terhadap agama yang lain disertai keyakinan bahwa merekalah yang paling benar.

Ketika Allah berkata, “Itu tidak penting”, aku mengerti bahwa tergantung kepada kita sendiri untuk menjalaninya. Sumber tidak peduli apakah anda seorang Protestan, Budhis atau Yahudi. Setiap dari mereka, merupakan suatu refleksi, sebuah faset dari sesuatu yang lebih besar dan utuh. Pengharapanku adalah, kiranya kita menyadarinya dan berlaku toleran terhadap satu dan yang lain. Itu bukanlah akhir dari agama-agama yang terpisah, melainkan biarlah kita hidup dan membiarkan orang lain juga hidup. Setiap dari kita memiliki pandangan yang berbeda, dan semuanya jika digabung, akan menjadi sebuah gambar yang besar dan utuh.

Aku telah pergi ke seberang sana disertai banyak sekali kekuatiran tentang sampah yang beracun, nuklir, ledakan penduduk dan hutan tropis yang sedang punah.
Kini aku kembali dan menyayangi setiap masalah. Aku sayang kepada sampah nuklir. Aku sayang kepada awan jamur; ini adalah mandala yang paling suci yang kita wujudkan sampai detik ini, sebagai pola dasar. Lebih dari pada agama apapun, atau filosofi yang bagaimanapun, awan jamur yang amat mengerikan itu dengan tiba-tiba telah membawa kita menjadi satu dan mencapai suatu taraf baru akan kesadaran kita.

Dengan pengetahuan bahwa kita dapat menghancurkan planet ini 50 atau 500 kali, pada akhirnya kita menyadari bahwa kita bersama berada di tempat ini. Untuk suatu waktu tertentu, mereka bisa saja meledakkan lebih banyak bom lagi untuk membunuh. Namun kemudian, kita mulai berkata, “Kita tidak memerlukan hal itu lagi.” Sebenarnya kita berada di dunia yang lebih aman dari pada sebelumnya dan kita akan makin lebih aman lagi.

Dengan demikian, aku kembali untuk menyayangi sampah nuklir, karena hal itu membawa kita menjadi satu. Pembalakan hutan tropis akan lebih kurang, dan setelah 50 tahun akan terdapat lebih banyak lagi di planet ini dari pada sebelumnya.
Bila Anda ada di dalam ekologi, berjalanlah terus; anda merupakan bagian dari sistem itu. Lakukanlah tugasmu dengan segala kekuatanmu, namun janganlah menjadi sedih atau putus asa. Bumi sedang di dalam proses untuk menjadi lebih baik dan kita merupakan sel-sel dari bumi itu.

Misteri terbesar dari kehidupan tidak ada hubungannya dengan pikiran. Alam Semesta bukanlah suatu proses intelektual. Memang pikiran bisa membantu, namun hati kita adalah bagian yang lebih bijak dari diri kita. Sejak kembaliku, aku mengalami Terang dengan cara spontan. Aku telah belajar untuk pergi ke sana setiap saat dalam meditasi. Andapun dapat melakukannya. Tubuh adalah Terang yang paling cemerlang. Tubuh adalah alam semesta dari Terang yang luar biasa itu. Kita tidak perlu berhubungan mesra dengan Allah. Allah sebelumnya sudah berhungan mesra dengan kita pada setiap saat.

Selesai

11 January 2012

Kisah Pengalaman Mati Suri (II)

Aku tak segan-segan mengatakan berulang-ulang betapa hal ini mengubah pendapatku tentang manusia secara sesaat. Aku berkata/berpikir/merasa, “Oh, Tuhan, aku tak pernah menyadari.” Aku dibuat tercengang bahwa ternyata tidak ada kejahatan dalam setiap jiwa. Manusia mungkin saja berbuat hal-hal yang buruk karena ketidak tahuan, namun tidak ada jiwa yang jahat. “Apa yang dicari oleh setiap insan – apa yang membuat mereka bertahan – adalah kasih”, Terang itu berkata kepadaku, “Apa yang merubah manusia menjadi buruk adalah tidak adanya kasih.”

Pengungkapan-pengungkapan terus berlanjut, “Apakah ini berarti bahwa manusia akan diselamatkan?” Laksana tiupan dari sebuah terompet disertai hujan terang yang luar biasa, maka Terang itu berkata kepadaku, “Kamu selamat, menebus dan menyelamatkan dirimu sendiri. Kamu selama ini telah melakukannya dan akan selalu melakukannya. Kamu telah diciptakan dengan kuasa untuk berbuat demikian sebelum dunia ini diciptakan.” Pada saat itu, aku menyadari bahwa aku telah diselamatkan.

Aku bersyukur akan Terang Tuhan dengan segenap hatiku. Cara satu-satunya yang aku dapat ungkapkan adalah: “Oh Tuhan yang amat baik, Alam Semesta yang ajaib, aku mengasihi hidupku.” Terang itu agaknya menghembuskan aku bahkan pergi ke suatu tempat yang menarik dan lebih dalam lagi.
Aku telah memasuki sebuah dunia yang berbeda, lebih jelas daripada yang sebelumnya, dan menjadi sadar akan kehadiran adanya seberkas Terang yang luar biasa, besar sekali, penuh dan dalam. Aku bertanya apakah itu? Terang itu menjawab, “Itulah Sungai Kehidupan. Minumlah dari manna air itu sepuas hatimu.”
Maka aku meminumnya dengan sepuas-puasnya, dalam keadaan di luar kemampuanku untuk mengerti.

Kekosongan dari Kehampaan

Tiba-tiba aku agaknya melaju dengan cepat sekali dari planet Sungai Kehidupan itu. Aku melihat bumi lewat dan menghilang. Sistem solar berdesing lewat dan menghilang. Aku terbang di tengah-tengah galaksi serta menyerap lebih banyak pengetahuan-pengetahuan dalam perjalananku. Akubelajar, bahwa galaksi ini – dan seluruh Alam Semesta – telah dipadati oleh bermacam-macam kehidupan. Aku melihat banyak dunia. Kita tidak sendirian di dalam alam semesta ini. Kelihatannya bahwa semua ciptaan dalam alam semesta ini sedang melewati aku dan menghilang dalam sebuah titik terang.

Kemudian Terang yang kedua muncul. Ketika aku melewati Terang yang kedua itu, aku merasa seolah-olah dalam keadaan melampaui sesuatu tanpa batas. Aku berada di alam kekosongan, jaman pra-kreasi, atau awal dari segala sesuatu, Sabda yang mula-mula atau Getaran Dunia. Aku berada di tengah-tengah mata ciptaan Allah dan seolah-olah aku menyentuh wajah Allah. Hal itu bukanlah suatu perasaan spiritual. Aku sekedar menjadi satu dengan Kehidupan dan Kesadaran yang tertinggi.

Aku ikut mengalir dan tiba di tengah-tengah Terang. Aku merasa dipeluk oleh Terang itu. Dan kebenaran memang menjadi nyata, bahwa tidak ada kematian; bahwa tidak ada kelahiran dan kematian di sana; bahwa kita adalah makhluk yang abadi, bagian dari suatu sistem kehidupan alami yang secara abadi seakan mendaur ulang sendiri.

Diperlukan bertahun-tahun untuk memahami dan mengerti pengalaman kekosongan ini. Hal ini menjadi sesuatu yang amat tak berarti, namun lebih besar dari segala sesuatu. Penciptaan merupakan Allah yang sedang mengungkapkan dan menemukan Diri-Nya sendiri dengan segala cara yang kita dapat bayangkan. Melalui setiap helai rambut di atas kepalamu, melalui setiap daun di pepohonan, melalui setiap atom. Allah sedang mengungkapkan Diri-Nya. Aku melihat segala sesuatu seperti ada pada Diri-Nya. Allah ada di sini. Dan itulah yang paling penting. Segala sesuatu diciptakan dari Terang, segala sesuatu hidup.

• Sumber Tulisan: www.weboflove.org/neardeathexperience

Bersambung…

Marah Pada Tuhan

Bacaan Setahun : Ayub 29-31
Nats : Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?...apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? (Ratapan 5:20,22)

Bacaan : Ratapan 5:1-22

Melihat kondisi bangsa dan negara yang kita cintai, pernahkah Anda marah, jengkel, mengeluh pada Tuhan? Menuduh-Nya tidak peduli? Perasaan yang sama pernah dialami oleh nabi Yeremia ketika ia melihat keadaan kota Yerusalem dan bangsanya yang hancur. Alkitab tidak menutupi kebobrokan umat Tuhan. Dalam doa Yeremia, kita diberitahu seperti apa kondisi yang ia tangisi saat itu (bandingkan dengan negara kita). Bangsanya terhina oleh bangsa lain dan asetnya dikuasai orang asing (ayat 1-2). Ada banyak anak yatim dan janda. Terjadi kekurangan air dan bahan bakar (ayat 3-4). Mereka harus bekerja lebih keras dan terpaksa minta bantuan negara asing (ayat 5-6). Rakyat menjadi korban kesalahan para pendahulu dan diperintah pejabat yang tidak bermutu (ayat 7-8). Banyak pembunuhan, kelaparan dan perkosaan (ayat 9-11), dan seterusnya. Mengapa Tuhan membiarkan semua ini? Yeremia mengeluh dengan satu kesadaran yang kuat: inilah murka Tuhan akibat dosa (ayat 16, 22). Tuhan sudah sangat bersabar dengan Israel, tetapi mereka tidak bertobat. Yeremia datang sebagai bagian dari bangsanya itu. Di tengah perasaan yang campur aduk, ia mengakui dosa bangsanya dan memohon belas kasihan Tuhan (ayat 21).

Melihat berita di koran atau televisi hari ini, biarlah tidak hanya rasa marah, jengkel, dan keluhan yang menguasai kita, tetapi juga kengerian akan akibat dosa! Sadarilah betapa murkanya Tuhan terhadap dosa. Umat pilihan pun dihukum-Nya! Ketika berdosa atau melihat dosa di sekitar kita, datanglah pada Tuhan, memohon pengampunan dan belas kasihan-Nya --ACH

APA TANGGAPAN YANG TEPAT SAAT DOSA MEREBAK DALAM MASYARAKAT? MARAH PADA TUHAN ATAU MEMOHON BELAS KASIHAN-NYA?

Sabda.org

10 January 2012

Kisah Pengalaman Mati Suri (I)

Mellen – Thomas Benedict, seorang artis, telah selamat dari suatu kondisi mati suri di tahun 1982. Ia telah mengalami kematian selama satu setengah jam. Selama waktu itu, rohnya keluar dari tubuhnya dan pergi ke dalam Terang. Karena ingin tahu tentang semesta alam, ia telah dibawa jauh sampai ke kedalaman eksistensi, bahkan melampauinya ke dalam kekosongan energi dari kehampaan, di balik Big Bang. Seorang ahli terkenal yang menyelidiki tentang pengalaman kondisi mati suri, Dr. Kenneth Ring, telah berkata, “Kisah pengalamannya merupakan salah satu yang amat luar biasa yang pernah saya dapati dalam penelitian saya yang luas dalam bidang pengalaman kondisi mati suri.”

Kisah Kondisi Mati Suri Mellen-Thomas Benedict

Dalam tahun 1982, aku mati akibat penyakit kanker stadium terminal. Keadaanku sudah tak dapat dioperasi. Aku tidak mau dikemoterapi. Karenanya, aku diberi waktu enam sampai delapan bulan untuk hidup. Sebelum saat itu, aku dibuat makin sedih tentang berita-berita krisis nuklir, krisis lingkungan hidup dan seterusnya. Aku menjadi yakin bahwa semesta alam telah membuat kesalahan – yaitu bahwa sebenarnya kita ini merupakan organisme yang mengandung kanker di atas planet ini. Dan inilah yang pada akhirnya membunuhku.

Sebelum aku mengalami kondisi mati suri, aku telah mencoba bermacam-macam cara dengan penyembuhan alternatif. Tidak ada satupun yang menolong. Dengan demikian, aku mengambil kesimpulan bahwa ada suatu misteri antara Tuhan dan aku. Aku sebenarnya tidak pernah memikirkan tentang Tuhan. Demikian pula aku tidak terlibat di suatu kegiatan spiritualitas tertentu. Namun, kematianku yang makin dekat, memaksa aku untuk mencari tahu akan informasi tentang spiritualitas dan penyembuhan alternatif. Aku telah membaca tentang pelbagai agama dan filosofi. Semuanya memberikan pengharapan bahwa ada sesuatu di seberang sana.

Aku tidak memiliki suatu asuransi medis, sehingga tabungan untuk hidup tuaku mengalami krisis. Karena aku tidak mau membawa keluargaku masuk ke dalam persoalanku ini, aku bertekad untuk menanggulanginya sendiri.

Akhirnya aku ada di sebuah panti dan aku diberkati dengan adanya seorang “malaikat” sebagai pengasuhku, yang akan kunamakan “Anne”. Ia tetap mendampingiku sepanjang pengalamanku berikut ini.

Masuk ke dalam Terang

Aku bangun kira-kira pukul 04.30 pagi dan aku menjadi sadar bahwa aku akan segera mati. Aku menelpon beberapa kawan dan berpamitan dengan mereka. Kemudian aku membangunkan Anne dan meminta dia berjanji agar tubuhku yang mati hendaknya jangan diapa-apakan selama 6 jam, karena aku telah membaca bahwa bisa terjadi bermacam-macam hal bila kita mati. Kemudian aku tidur lagi. Selanjutnya hal yang aku ingat bahwa aku sadar dan berdiri. Namun aku melihat bahwa tubuhku tetap terbaring di atas tempat tidur. Agaknya aku dikelilingi oleh kegelapan, namun aku dapat melihat setiap kamar di dalam rumah itu, atapnya, bahkan yang berada di bawah rumah.

Kemudian ada sebuah cahaya mengeluarkan sinarnya. Aku berpaling ke arahnya dan menjadi sadar akan pengalaman yang serupa dari orang lain yang pernah mengalami mati suri. Sungguh luar biasa, nyata dan memikat. Aku ingin maju ke arah Terang itu seperti aku ingin masuk ke dalam pelukan ayah atau ibuku. Ketika aku bergerak menuju Terang itu, aku menjadi sadar bahwa bila aku masuk ke dalam Terang itu, aku akan mati. Oleh karena itu aku mengatakan dalam pikiranku, “Tolong, tunggu dahulu, aku ingin bercakap-cakap denganmu sebelum aku masuk.”

Seluruh pengalaman terhenti. Aku menemukan bahwa aku sedang menguasai pengalaman itu.Permintaanku ternyata disetujui. Aku sedang berkomunikasi dengan Terang itu. Cara inilah satu-satunya untuk dapat menjelaskan semuanya. Kemudian aku bertanya kepada Terang itu, “Apa yang sedang terjadi di sini?”

Aku menjadi sadar akan suatu matrix yang lebih tinggi dari pada diri kita, suatu saluran yang menuju ke Sumbernya.Kita semua memiliki suatu Diri yang lebih Tinggi, atau suatu bagian dari jiwa yang lebih tinggi dari pada eksistensi kita, suatu conduit (seperti suatu saluran). Semua All Higher Selves saling berhubungan dan menjadi satu. Semua manusia berhubungan menjadi satu.

Ini merupakan sesuatu yang amat indah yang aku pernah lihat. Seperti anda memperoleh semua kasih yang anda rindukan dan macam kasihnya adalah yang menyembuhkan, memperbaiki dan memperbarui. Pada saat itu, aku sudah bersiap untuk berangkat dan masuk. Aku mengatakan, “Aku sudah siap. Bawalah aku.” Kemudian Terang berubah menjadi sesuatu yang begitu indah yang aku tak pernah melihat sebelumnya: suatu mandala** dari jiwa-jiwa manusia di planet ini. Aku melihat bahwa kita ini adalah ciptaan yang paling indah, elok, bagus, eksotis…semuanya.

Catatan:

*Mati suri: fase antara mati klinis dan mati biologis.

**Mandala: lingkungan (daerah), lingkaran.

• Tulisan ini telah diedit kembali oleh Redaksi

• Sumber Tulisan: www.weboflove.org/neardeathexperience

Bersambung…

Mana Bisa Sembunyi?

Bacaan Setahun : Ayub 24-28
Nats : Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (Mazmur 139:7)

Bacaan : Mazmur 139:1-12

Jenny tergesa-gesa mencuci tangannya. Segera setelah itu, ia berlari ke kelas meninggalkan teman-temannya. Bocah berusia empat tahun ini membenamkan kepalanya ke dalam tas ransel besarnya. Tak lama kemudian, suaranya yang lantang membuat saya, yang saat itu berjalan melewati kelasnya yang terbuka, tercengang melihat ulahnya. "Ibu guru, aku sedang sembunyi!" Jenny berpikir jika kepalanya tidak terlihat, maka seluruh tubuhnya pun tidak akan terlihat!

Apa yang Jenny lakukan mengingatkan saya tentang Tuhan Yang Mahatahu. Tuhan mengenal dan menyelidiki kita (ayat 1). Dia tahu apa yang kita lakukan, yang juga dapat diketahui orang lain. Dia tahu keseharian hidup kita: duduk, berdiri, berjalan, berbaring (ayat 2-3). Ia bahkan tahu apa yang orang lain tidak tahu: sesuatu yang tersimpan dalam pikiran kita (ayat 2) serta perkataan yang belum keluar dari mulut kita (ayat 4). Benarlah apa yang pemazmur katakan bahwa kita tidak mungkin dapat bersembunyi dari hadapan-Nya.

Disadari atau tidak, mungkin adakalanya Anda dan saya bertingkah seperti Jenny. Kita berusaha menyembunyikan rapat-rapat kesalahan kita dari hadapan Tuhan. Kita berlari menjauh dari-Nya, berpikir bahwa kita dapat hidup tanpa berurusan dengan Tuhan. Betapa sia-sia hidup seperti itu! Pemahaman bahwa Tuhan Mahatahu seharusnya membuat kita tidak lagi berlari dan bersembunyi dari Tuhan, tetapi justru membawa diri kita untuk senantiasa dikenal dan diselidiki oleh Tuhan. Membuka diri untuk ditegur, diperbaiki, dan dibentuk semakin serupa dengan Kristus --SWS

SELIDIKILAH AKU, YA ALLAH DAN PERIKSALAH HATIKU
UJILAH AKU DAN TUNTUNLAH AKU DI JALAN YANG KEKAL!

Sabda.org

09 January 2012

Dua Soal Sekolah

Ada tiga anak sekolah: A, B dan C. Suatu hari ibu guru memberikan dua soal yang harus dikerjakan dalam waktu 1 1/2 jam.

Soal 1: Tuliskan segala sesuatu yang kamu ketahui tentang Tuhan Yesus!
Soal 2: Tuliskan segala sesuatu yang kamu ketahui tentang Iblis!

Maka si A menulis segala sesuatu yang ia ketahui. Seperti Tuhan Yesus itu baik, Dia adalah gembalaku, Dia adalah Juruselamat, dll. Ia pun melakukan hal serupa untuk soal no2, iblis itu jahat, licik, dll.

Si B pun melakukan hal yang sama, bahkan jawaban soal no 2 begitupanjang. Iblis itu penghancur keluargaku, iblis itu yang membuat orang tuaku ribut, iblis itu penghancur masa depanku, dll.

Si C, ia menghabiskan waktu 1 1/2 jam hanya untuk menulis segala sesuatu yang ia tahu tentang Tuhan Yesus. Pada saat waktunya habis, temannya bertanya kepada C, mengapa ia tidak mengerjakan soal no2, maka si C dengan terburu-buru segera menulis sebuah kalimat untuk menjawab soal no 2.

Satu kalimat yang membuat ia terpilih menjadi murid terbaik untuk tugas tersebut, satu kalimat yang membuat kita belajar banyak hal dan satu hal yang membuat mata kita terbuka. Dan kita harus belajar dari dia.

Satu kalimat yang dia tulis untuk soal no 2 sebelum ia mengumpulkantugasnya adalah.. "Saya tidak punya waktu untuk iblis"

Tuhan Memberkati

Dukacita di Mata Yesus

Bacaan Setahun : Ayub 21-23
Nats : Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur (Matius 5:4)

Bacaan : Matius 5:1-12

Kahlil Gibran menulis, "Hal yang membuatmu tertawa suatu saat akan membuatmu menangis, dan apa yang kini membuatmu menangis adalah hal yang akan membuatmu tertawa." Menurut pengalaman saya, Gibran membidik dengan tepat kehidupan manusia. Tertawa dan menangis adalah hal yang sehat dan normal dalam hidup manusia. Ada memang beberapa orang yang saking sering mengalami kegetiran hidup berkata bahwa "air mata mereka sudah kering". Namun, ini justru menunjukkan kondisi jiwa yang tidak sehat. Biasanya orang-orang semacam itu menyangkali perasaan mereka sendiri dan berusaha untuk tegar tanpa bantuan orang lain. Termasuk Tuhan.

Menarik bahwa dalam khotbah-Nya, Yesus menyebutkan dukacita sebagai salah satu ciri orang yang disebut berbahagia. Dukacita disebut pentheo dalam bahasa Yunani, yang berarti "bersedih" atau "meratap". Objek kesedihan dan ratapan bisa beragam. Dalam konteks pendengar saat itu, sangat mungkin kesedihan dan ratapan mereka berkaitan dengan status sebagai rakyat kecil yang tak punya banyak akses ke arah kekuatan dan ketahanan sosial-material, kondisi sakit dan terpinggirkan. Yesus memberi pengharapan bahwa mereka sedang berjalan ke arah pintu penghiburan. Justru siapa yang tak pernah mengalami kesedihan, tak akan pernah dapat mengalami hangatnya penghiburan.

Kapan kali terakhir Anda membawa dukacita ke hadapan Tuhan? Ataukah Anda merasa itu tak ada gunanya sebab Tuhan tak peduli? Saat Anda jujur dan hancur hati di hadapan-Nya, ingat janji Yesus: Anda akan beroleh penghiburan-Nya. Jadi, berbahagialah! --DKL

DALAM DUKACITA YANG TUHAN BERIKAN
TERSEDIA PENGHIBURAN-NYA YANG MENEGUHKAN

Sabda.org

06 January 2012

Kasih Terjadi dalam Sekejab Mata

Walaupun hari masih pagi, segala sesuatu kelihatannya sudah serba salah.

Keadaannya semakin lama semakin parah ketika aku menjatuhkan sepotong jeruk di atas lantai. Gelas dan air jeruknya yang lengket tumpah sampai ke sudut terjauh dari dapur, mengotori almari-almari dan isinya.

Dengan hati yang masgul, aku memandang segala sesuatu yang serba berantakan itu dan akhirnya aku melemparkan diri di atas kursi sambil menangis karena perasaan kesal bahwa “hari ini benar-benar bukanlah hariku”.

Namun, terlepas hari baik atau tidak, aku harus pergi belanja. Dengan dihinggapi rasa khawatir dan perasaan mental negative, aku masuk mobil untuk pergi ke pusat kota. Dalam waktu beberapa menit yang kuperlukan untuk ke bank, aku telah mengambil suatu keputusan. Aku tidak mau agar orang lain menjadi korban dari hariku yang buruk ini. Sebaliknya aku ingin tetap sopan dan ramah. Dan akupun tidak mau MEMBALAS DENDAM ketika pengemudi yang ceroboh itu yang berada di depanku yang tiba-tiba berhenti sehingga menyebabkan aku harus menginjak rem mobilku dengan mendadak sehingga isi dari botol minumku tumpah mengotori mobilku.

Selagi aku antri menanti giliranku untuk dilayani, aku sedang berbicara dengan diriku sendiri. Sebenarnya, aku sedang menyalahkan diriku sendiri. Semua kejadian di pagi hari ini yang serba salah dan berakumulasi menjadi hari yang buruk bagiku, adalah hal-hal yang kecil, tidak penting dan sepele. Aku bertindak berlebihan. Aku menuruti perasaanku dan kasihan terhadap diri sendiri. Aku ingat akan ratusan, bahkan ribuan jiwa yang telah menjadi korban dari kekejaman para teroris, perang di Irak dan tsunami.

Untuk kedua kalinya di hari itu aku mengeluarkan air mata ketika aku merasa betapa aku sebenarnya merasa terputus hubungannya dengan mereka yang berusaha untuk mengatasi akan penderitaan mereka dalam hidup ini. Mereka rasanya berada begitu jauh dan tak dikenal, sehingga aku menjadi lebih sadar dan yakin bahwa aku sedang menjadi seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri dan orang yang egois.

Aku menjadi sadar bahwa kerinduanku dan usahaku menjadi seseorang yang peduli dan sayang terhadap mereka yang membutuhkannya merupakan sesuatu yang kosong dan sia-sia.

Suatu suara mengejutkan aku dari hasil perenungan mentalku. Entah bagaimana, aku berhasil menyelesaikan transaksi perbankanku untuk kemudian menjadi sadar bahwa pegawai bank itu berusaha untuk mendapat perhatianku.

“Nyonya”, katanya, “Nyonya!”

Kemudian ia melakukan sesuatu yang luar biasa. Kedua tanganku berada di atas counter. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di atas tanganku. Sentuhan terjadi cepat namun dirasakan seakan-akan seperti aliran listrik. Dan dalam sekejap mata itulah, duniaku bergeser.

Pada saat tangannya menyentuh aku, maka pikiranku yang penuh dengan kepentingan diri sendiri sirna. Aku telah menemukan pengertian dan dukungan. Aku tahu bahwa kasih disalurkan dari hati wanita yang hangat itu dan masuk ke dalam hatiku. Aku telah diberi suntikan infus dengan keyakinan yang kuat – bahwa aku telah mendapat kasih sayang. Aku tak dapat berbicara. Aku hanya tersenyum, dan inilah senyumku yang pertama di hari itu. Namun itu bukanlah senyumku yang terakhir, karena dari saat itu seluruh hariku mengalami perubahan.

Annie

Andalkan Yesus!

Bacaan Setahun : Ayub 10-13
Nats : Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali (Matius 8:23-27)

Bacaan : Matius 8:23-27

Anak saya, Sam, tidak dapat memejamkan matanya. Suara tikus yang berlari di langit-langit kamar membuatnya takut. Saya mengingatkannya tentang cerita Yesus meredakan angin ribut. Segera setelah itu Sam berteriak sambil mengangkat tangannya, "Yesus tolong. Tikus pergi!" Sam memandang saya, sambil tersenyum ia berkata, "Ma, Yesus pintar. Tikusnya pergi!" Hanya dengan mengingat satu cerita itu, Sam yakin bahwa Yesus juga berkuasa mengatasi tikus-tikus yang mengganggunya.

Banyak orang menuntut bukti untuk dapat memercayai Tuhan. Namun, jika kita mau jujur, melimpahnya bukti tidak menjadi jaminan bahwa seseorang akan lebih percaya kepada Tuhan. Ini masalah hati. Murid-murid Yesus, misalnya. Mereka bu-kan hanya mendengar satu cerita, tetapi menyaksikan langsung berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus (lihat ayat 1-17). Toh, begitu angin ribut mengamuk dan gelombang menerpa, mereka dilanda ketakutan yang sangat. Ketika mereka datang minta tolong, Yesus menegur mereka (ayat 25-26). Yesus tahu bahwa hati murid-murid lebih dikuasai ketakutan daripada keyakinan akan kuasa-Nya.

Alam semesta dan Alkitab dipenuhi berbagai kesaksian akan keajaiban karya Tuhan. Demikian pula kehidupan orang-orang per-caya, termasuk Anda tentunya. Seberapa banyak kita menyimak-nya? Tuhan tidak berubah. Dia memegang kendali atas kehidupan, dulu, sekarang, dan selamanya. Masalah apa yang membuat Anda terombang-ambing dalam ketakutan hari ini? Ingatlah siapa Tuhan dan serahkanlah masalah Anda kepada-Nya. Anda dapat mengandalkan-Nya --SWS

KUASA YESUS TIDAK PERLU DIRAGUKAN
APAKAH ANDA MEMERCAYAI-NYA

Sabda.org

03 January 2012

Tak Perlu Dipikir?

Bacaan Setahun : Kejadian 8-11
Nats : ...sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, ... sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombangambingkan oleh berbagai angina pengajaran, oleh pe (Efesus 4:13,14)

Bacaan : Efesus 4:11-16

Pernah lihat kaki seribu? Bayang-kan kalau hewan berkaki banyak ini berjalan sambil sibuk mengamati kakinya satu demi satu, berusaha mempelajari mekanisme langkahnya. Jalannya bakal kacau. Daripada kacau, bukankah sebaiknya ia tak usah berpikir? Serupa dengan itu, banyak orang merasa iman tak perlu banyak dipikir. Makin sederhana, makin baik. Mempelajari teologi mengancam kesederhanaan iman. Bukankah kita dinasihatkan untuk menjadi seperti anak-anak (childlike)? Pemahaman pengajaran adalah bagian para "hamba Tuhan" dan "teolog". Jemaat "awam" cukup belajar mengenai kerohanian yang praktis.

Kontras dengan itu, Alkitab menggambarkan bahwa pertumbuhan menuju kedewasaan yang menyeluruh (ayat 15) juga meliputi menjadi dewasa dalam "iman dan pengetahuan yang benar" akan Tuhan. Artinya, kita justru harus dengan sengaja memikirkan dan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan (ayat 13, lihat juga 2 Petrus 3:18). Inilah sebenarnya arti kata teologi (teos=Tuhan+logos=pengetahuan, pemahaman). Orang dengan pemahaman yang benar akan Tuhan tidak akan mudah "diombang-ambingkan" (ayat 14). Menjadi seperti anak-anak dalam iman bukan berarti menjadi childish atau kekanak-kanakan (1 Korintus 14:20).

Seberapa banyak aspek pertumbuhan ini kita perhatikan? Kita tak mungkin mencintai, melayani, dan menyembah Pribadi yang tak kita kenal atau yang kita kenal secara samar. Di tahun yang baru ini, mari cari dan gunakan tiap sarana pertumbuhan yang ada untuk menolong kita makin dewasa dalam pengenalan akan Tuhan --JOO

KASIHILAH TUHAN DENGAN SEGENAP AKAL BUDIMU

Sabda.org

02 January 2012

Sepiring Nasi, Air Dingin dan Sebuah Pelukan yang Hangat

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukan untuk Aku” (Mat 25:40)

Selama tiga minggu terakhir ini aku menghabiskan waktuku dengan bekerja secara sukarela di kantor gereja kami yang telah diubah menjadi Pusat Pertolongan Bencana. Selama beberapa hari setelah dibuka, terjadi kekacauan berhubung anak buah kita masih harus belajar untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Setelah aku belajar untuk menggunakan sitem multi-telepon kita, kini aku menghabiskan waktuku dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan serta menerima panggilan telepon dan menghubungkannya dengan orang yang dipanggil.

Disela-sela panggilan telepon, akupun menelepon sukarelawan kita yang amat banyak dan baru saja menyelesaikan latihan pekerjaan Palang Merah mereka beberapa hari yang lalu.

Keluargaku, gereja yang kami kunjungi dan ribuan penduduk dari kota kecil telah diubah menjadi suatu pusat relawan untuk menolong para penduduk yang telah menjadi korban dari topan Katarina yang dahsyat itu. Kami memberikan kepada mereka tiga kali makan sehari dan menawarkan kepada mereka segala sesuatu agar mereka merasa nyaman.

Komite Transportasi berjam-jam lamanya mengantar mereka ke dokter-dokter dan klinik, bank, kantor pos dan tempat lain untuk keperluan mereka. Sebuah tim yang terdiri dari para juru rawat dan para dokter selama 24 jam tetap berada di tempat kerja untuk memenuhi kebutuhan medis untuk para pengungsi. Untuk keamanan, polisi lokal bekerja dalam 8 regu selama 24 jam.

Kami semua bertekad untuk menunjukkan kasih Tuhan melalui perbuatan-perbuatan yang sederahana penuh keramahan yang diberikan kepada para pengungsi itu secara cuma-cuma.

Pada suatu sore sebuah panggilan telepon tiba dari sepasang suami isteri yang menawarkan diri untuk membantu melayani pemberian makan malam. Namun karena sesuatu keperluan yang tak terduga, mereka tidak dapat datang untuk melayani. Suamiku kebetulan berada di luar kota dan malam itu aku tidak perlu menyiapkan makan malam di rumah. Dengan demikian aku dengan sukarela dapat membantu di dapur umum setelah aku pulang dari pekerjaanku.

Berhubung dengan tulang punggung yang bermasalah, aku tidak dapat bertahan lama berdiri. Namun ketik aku membantu mempersiapkan makan malam, seorang wanita yang manis datang di meja dimana aku sedang bekerja.

“Apakah aku bisa meminta sepotong roti?”, tanyanya.

Sambil aku melayaninya, aku mengetahui ia tidak berada di tempat ketika waktu makan siang, sehingga kini ia merasa lapar. Dengan penuh suka cita aku membuka lemari pendingin dan mengeluarkan daging kalkun dan keju untuk dapat dimakan dengan sepotong roti dan memberikannya kepada wanita itu. Aku sama sekali tidak mengira bahwa tindakan sepele akan keramahan mempunyai dampak atas diriku beberapa jam kemudian.

Esok harinya aku membuka surat kabar lokal pagi dan di halaman yang pertama aku menemukan sebuah foto dan kisah dari wanita manis yang kemarin telah aku beri sepotong roti itu. Wanita itu menceritakan betapa ngeri pengalamannya ketika ia lolos dari badai topan yang dahsyat beberapa yang lalu. Kedua pekerjaan yang ia miliki telah hancur berkeping-keping oleh dahsyatnya badai topan itu dan kini ia telah kehilangan segala sesuatu. Ia tidak memiliki rumah lagi dan sama sekali tak berdaya sehingga secara total bergantung kepada belas kasihan dari orang lain yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari di pusat pelayanan kita.

Sambil termenung setelah membaca kisah tragisnya, aku mendengar sesuatu yang jelas dan terang dari lubuk hatiku, Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Betapa hebat ungkapan ini. Apa yang aku lakukan hanya memberikan sepotong roti yang disumbangkan dan disiapkan oleh banyak relawan, namun Tuhan berbicara langsung kepadaku ketika aku menatap wajah di depanku itu.

Aku tahu bahwa ada sukacita di surga ketika Tuhan memandang ke bawah dimana ribuan relawan di seluruh negeri sedang memberi makan, uang, pakaian dan keramahan kepada mereka yang menjadi korban dari badai Katrina itu. Tindakan-tindakan penuh dengan empati itu tidak bergantung pada kekayaan, kemampuan ataupun kepandaian.

Melvia Cooper

REFLEKSI:

Ketika aku mempersiapkan artikel ini, aku ingat akan tragedi Situ Gintung yang tidak kalah dahsyatnya dari pada topan Katarina. Lewat mass media dan TV kita menyaksikan betapa sengsaranya mereka yang menjadi korban tragedi itu dimana dilaporkan ratusan jiwa yang meninggal atau hilang dan meninggalakan mereka yang mengasihi mereka dalam keputus asaan yang tak terlukiskan.

Rindu Yang Seharusnya

Bacaan Setahun : Kejadian 4-7
Nats : ... Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup (Mazmur 84:3)

Bacaan : Mazmur 84:1-13

Doug Banister dalam bukunya, Sacred Quest, bertanya: Beranikah saya berharap bahwa saya memiliki hubungan yang demikian dekatnya dengan Tuhan sehingga hati saya diisi dengan visi baru, dan keagamaan kering saya menjadi sebuah pencarian dengan hasrat yang kuat, serta penyembahan kepada Kristus yang hidup? Dapatkah saya benar- benar bertemu Kristus dengan keakraban yang membuat saya tidak lagi menelusuri tempat-tempat kecanduan saya? Dapatkah Yesus benar-benar menyentuh kesepian hati saya? Apakah ini sesuatu yang terlalu besar untuk diharapkan?

Mazmur ini menjawab: Tidak, justru itu yang seharusnya diharapkan tiap orang percaya! Seperti kerinduan pemazmur yang menggelegak, mengisi daging, jiwa, dan hatinya untuk berada dekat dengan Tuhan (ayat 2-5). Kemungkinan besar mazmur ini dinyanyikan dalam perjalanan ziarah orang Israel ke Bait Allah di Yerusalem. Hasrat akan keintiman dengan Tuhan mendorong mereka memulai perjalanan panjang tersebut (ayat 6-7). Makin lama, makin dekat dan kuat (ayat 8). Perjumpaan dengan Tuhan jauh lebih berharga dibanding hal-hal lainnya (ayat 11).

Bukankah hidup kita di dunia juga adalah sebuah perjalanan ziarah untuk mencari dan menemukan sukacita terbesar di dalam Tuhan? Adakah perjumpaan dengan Tuhan menjadi harapan yang menggelorakan hati kita? Mari bangkit dari kedangkalan rohani menuju persekutuan yang sejati dan penuh dengan Tuhan. Bawalah tiap pembaruan yang Anda rindukan terjadi dalam hubungan pribadi dengan Tuhan di tahun yang baru ini kepada-Nya --JOO

BANYAK HAL YANG BISA MENCOBA MENGISI KEKOSONGAN HATI INI
NAMUN, APA YANG DAPAT MEMUASKANNYA SELAIN HADIR-MU, TUHAN?

Sabda.org