Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

07 May 2008

Usaha Atau Anugerah

Ada seorang anak manusia yang sedang bergumul dengan Sang Penciptanya.

"Tuhan", seru anak manusia itu. "Mengapa Engkau begitu jauh? Mengapa aku Kau buang di bumi ini?"

Tidak ada jawaban.

"Aku ingin bertemu denganMu, ya Allahku." kata anak manusia itu.

Aku tahu dari nenek moyangku, bahwa Engkau bertahta di atas langit".

"Aku akan berusaha melintasi langit itu, agar aku bisa bertemu denganMu!" Lalu ia membuat sepasang sayap besar yang terbuat dari kerangka kayu, dilapisi oleh bulu-bulu burung elang yang besar, diikat secara tersusun rapi, layaknya sayap seekor burung.

Setelah beberapa bulan mengerjakan sayap ini, dan selesai, ia membawa sayap buatannya ke puncak tebing yang paling tinggi, memasang sayap tersebut ke tubuhnya, dan mengepak-ngepakan sayapnya, layaknya seekor burung.

Ia melompat dan berhasil terbang di udara! Ia berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku akan kembali ke rumahMu."

Setelah beberapa jam anak manusia itu mengepakkan sayap buatannya, ia menjadi lelah.

Angin berhembus lebih kencang dan merusakkan sayap buatannya. Ia jatuh dari langit, tanpa daya.

Sebelum ia terhempas ke bumi, ia sempat berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku sudah berusaha dengan sekuat tenagaku. Namun aku gagal. Aku tak bisa bertemu denganMu. Maafkan aku yang sombong ini, Ya Tuhanku."

Tiba-tiba dalam hatinya ada suara, "AnakKu, Kuterima permohonan maafmu. sekarang engkau tahu bahwa semua usahamu sia-sia.

Aku mau supaya engkau percaya sepenuhnya padaKu."

Ia menjawab, "Ya Tuhan, sekarang aku percayakan hidupku.

Aku berserah penuh kepadaMu." Lalu terdengar suara seperti benda jatuh dari langit.

Sang anak manusia telah mati.

Tubuhnya memang mati, tetapi jiwa dan rohnya tidak.

Ia segera keluar dari tubuhnya yang sudah menjadi mayat, dan melayang ke udara, kembali ke pangkuan Bapa di Sorga.

Saudara-saudariku yang kukasihi dalam Tuhan Yesus, banyak orang mengira bahwa kita dapat kembali ke sorga dengan kekuatan dan usaha kita sendiri. Kita harus mencari pahala sebanyak-banyaknya, dengan tujuan bahwa Allah akan melupakan dosa kita yang besar itu, dan melihat 'jasa' yang kita lakukan. Ketahuilah, bahwa usaha manusia itu sia-sia, dan hanya Allah saja yang dapat menyelamatkan kita. Dan Ia telah menyelamatkan kita dengan menebus kita dari dosa-dosa dan pelanggaran kita, Ia cuma minta supaya kita percaya kepadaNya.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu:

Jangan ada orang yang memegahkan diri. (Efesus 1:8-9)

Tuhan Yesus memberkati

Kalau Terpaksa, Aku Mati

Hari pertama setiap bulan adalah hari yang ditetapkan oleh Jepang, penjajah kami, sebagai hari pemujaan dewa matahari. Seluruh rakyat diperintahkan untuk beramai-ramai pergi ke kuil. Di sekolah putri Kristen, tempat aku mengajar musik, semua murid dipanggil untuk berkumpul di halaman. Kepala sekolah menyuruh para guru berkeliling ke kelas-kelas dan kamar-kamar kecil, mencari kalau-kalau ada murid yang bersembunyi untuk menghindari perintah memuja dewa. Ingin menangis rasanya aku memandang keributan di halaman itu. Aku berlutut dengan hati hancur, berdoa kepada Yesus. Tiba-tiba terdengar langkah sepatu mendekati pintu, lalu suara yang keras dan kukenal.

"Nona Ahn! Engkau di situ?" Itu kepala sekolah. Ia khusus datang untuk mencariku. Dengan tenang aku berdiri lalu membuka pintu. Ia memandangku dengan tajam, penuh kemarahan.

"Hari ini adalah hari pertama bulan ini."

Seperti aku tak tahu saja.

"Kita harus membawa murid-murid ke kuil di atas bukit. Ingat?"

Mata kami bertemu dan berperang diam-diam.

"Engkau bukan satu-satunya orang percaya," lanjutnya dengan suara tegang.

"Sekolah ini sekolah Kristen. Sebagian besar murid adalah anak Kristen. Semua guru adalah Kristen. Bahkan saya sendiri juga Kristen!"

Aku tetap diam.

"Pikirlah, nona Ahn. Adakah orang Kristen yang ingin menyembah berhala dan dewa-dewa? Kita semua membenci hal itu. Tetapi kita akan dianiaya bila melawan. Jika kita menolak perintah mereka, sekolah ini akan ditutup!"

Aku tahu. Hal itu sangat mengganggu pikiranku. Jepang yang menjajah Korea, melawan Allah dan menghina Yesus. Setiap orang yang menolak untuk menyembah dewa mereka, entah dia seorang penginjil, pendeta atau diaken, akan disiksa. Aku mengerti, bahwa kepala sekolah ingin bertanggung jawab atas keselamatan para guru dan murid. Tetapi apakah ia lupa sabda Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup?"

Aniaya itu bukannya baru mulai. Di Korea, sudah sejak lama banyak orang Kristen dibunuh karena mempertahankan kemurnian iman mereka. Aku mengerti mengapa kepala sekolah memaksa kami pergi ke kuil, tetapi aku tidak dapat mengerti bagaimana ia dapat sampai kepada keputusan seperti itu, melawan Allah dan bersekutu dengan berhala.

"Engkau tahu kesusahan apa yang akan dialami sekolah ini jika engkau menolak," ia berkata dengan nada benci.

"Tetapi engkau egois, hanya memikirkan dirimu sendiri."

"Jika anda menghendaki aku pergi ke bukit itu, baiklah," kataku sambil melangkah keluar ruang musikku yang tenang, menuruni tangga didepan dia.

"Dan ingat, engkau harus menyembah disitu, nona Ahn," serunya. Aku tidak menjawab. Anak-anak memandangi aku dengan bingung dan cemas. Rupanya mereka tidak mengharap aku mengalah terhadap perintah kepala sekolah. kami lalu berbaris menuju bukit. Bisik-bisik terdengar di belakangku.

"Bila nona Ahn juga pergi, pasti Tuhan akan melindungi kita!"

"Kepala sekolah kita sungguh berkuasa! Ia berhasil menyuruh nona Ahn pergi ke bukit!"

"Pasti nona Ahn takut kepada polisi."

Aku memandang ke langit, pikiranku melayang kepada Daniel. Keadaan kami di Korea mirip dengan keadaan Daniel, dipaksa menyembah patung. Jepang membangun kuil-kuil di semua kota dan desa, bahkan memaksa penduduk menaruh kuil kecil di rumah mereka, di sekolah-sekolah, juga di kantor-kantor. Yang terburuk adalah, didalam Gereja pun harus ditaruh kuil kecil.

Sebelum kebaktian dimulai, setiap orang yang hadir harus membungkuk di depan kuil kecil itu. Polisi selalu mengawasi setiap kebaktian. Para pendeta menjadi sasaran khusus. Jika mereka menentang peraturan itu, mereka akan diseret ke kantor polisi dan disiksa. Tidak sampai disitu saja. Jatah makanan untuk keluarga mereka pun dikurangi, sehingga keluarga mereka kelaparan. Karena itu tidak heran kalau orang Korea umumnya membenci Jepang dan menyebut mereka setan.

Mungkin aku lebih mengenal orang Jepang daripada kebanyakan orang Korea yang lain. Ibuku seorang Kristen yang saleh dan ia ingin aku masuk sekolah misi. Tetapi ayahku yang belum Kristen, menyekolahkan aku di sekolah negeri dan disitulah aku memperoleh pendidikan Jepang. Ayah juga menolak ketika ibu mengusulkan agar setelah lulus dari sekolah menengah, aku masuk sekolah Kristen di Amerika.

"Ia tak akan berhasil dalam hidup bila tidak belajar secara Jepang," kata Ayah.

"Ia harus melanjutkan sekolah di Jepang."

Begitulah, setelah lulus di Jepang, aku kembali ke Korea. Hidup kelihatannya memang lebih mudah. Segera aku mendapatkan pekerjaan, mengajar di suatu sekolah negeri untuk wanita. Tetapi kepala sekolahnya sombong dan angkuh, sebab itu aku mengajar di sekolah misi.

Kemudian Jepang mulai memaksakan penyembahan dewa-dewa. Mula-mula aku berhasil menolak dengan berbagai alasan, tetapi aku sadar bahwa keadaan ini tidak dapat kupertahankan terus. Perang antara Tiongkok dan Jepang berkobar hebat, dan suatu semangat keagamaan yang baru berkobar di antara para pemimpin Jepang. Mereka telah bertekad untuk memaksa semua orang Korea, terutama yang Kristen, bersujud di depan dewa-dewa mereka.

Dalam perjalanan ke bukit itu aku mengingat kembali kata-kata Sadrakh, Mesakh dan Abednego kepada Nebukatnezar, raja Babilonia. "Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:18).

Mereka memutuskan untuk lebih baik mati dalam nyala api daripada melawan Allah. Aku juga demikian. Dengan pertolongan Tuhan aku tidak akan pernah membungkuk di depan berhala Jepang, sekalipun Tuhan tidak melepaskan aku dari cengkeramannya. Aku telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Aku hanya dapat bersujud kepada Allah, Tuhan dan Juruselamatku.

Sambil berjalan aku berdoa.

"Hari ini, di atas bukit ini, di tengah kerumunan banyak orang, aku akan menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Ini akan kulakukan demi kekudusan namaMu."

Hatiku diliputi kedamaian. Ingin sekali aku menyanyi. Hatiku lapang, seluas samudera. Awan yang berarak seakan-akan bersahabat denganku. Kehidupan masa mudaku tidak akan kujalani untuk kepentinganku sendiri. Aku akan mempersembahkannya kepada Tuhan dan memberi kesaksian tentang dia.

"Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu," kuulangi pasal 10 dari Injil Yohanes dengan bersuara, "dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. Bapaku, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa." (ayat 27-29)

Telah banyak orang berkumpul di depan kuil, sebelum kami sampai disitu. Belasan sekolah dengan murid-murid yang berbaris rapi, tegak seperti patung, tak berani bergerak ataupun berbisik. Kami datang paling akhir.

Semua menengok kearah kami, terutama polisi-polisi Jepang yang tak ramah itu. Aku seperti anak kecil disitu, takut bersuara, takut kepada polisi-polisi itu. Hatiku berat, aku mencoba berdoa, tetapi doaku lemah sekali. Kupejamkan mataku sambil mengumamkan doa Bapa Kami tiga kali. Kurasakan keberanian dan kekuatanku mulai timbul.

"Bapa," doaku. "Aku sangat lemah! Tetapi aku ini dombaMu, aku akan taat mengikuti Engkau. Bapa, peliharalah aku."

"Perhatian!" Sebuah suara keras mengatasi gumam orang-orang yang berhimpun di situ. segera semua berdiri tegak baris demi baris. Kami sudah terbiasa patuh kepada aba-aba seperti itu, sebab lebih dari 37 tahun lamanya kami telah dijajah oleh Jepang.

"Hormat kepada Amaterasu Omikami (Dewa Matahari)!"

Lalu kami harus membungkukkan badan dalam-dalam ke arah matahari. Ya, semua membungkuk. Hanya aku yang tetap tegak memandang ke langit. Menit-menit sebelumnya, hatiku terasa berat dan penuh ketakutan, tetapi kini semua itu lenyap. Aku sangat tenang. Hati nuraniku berbisik, "Engkau telah memenuhi kewajibanmu."

Ketika kemudian aku berjalan pulang di belakang barisan murid-murid, sekali lagi aku berbicara kepada Yesus. "Semua sudah selesai, Tuhan. Aku telah melakukan apa yang harus aku lakukan. Selanjutnya segala sesuatu kuserahkan kepadaMu. Satu-satunya jalan yang dapat kutempuh sekarang ialah mendengarkan dan mengikuti perintahMu."

Pikiranku seperti seorang Jendral yang baru saja mengumumkan perang. Tetapi ketika tiba kembali ke sekolah, hatiku diliputi awan gelap. Aku tidak takut mati, tetapi aku ngeri membayangkan siksaan. Akan tahankah aku? Bagaimana seandainya aku, karena disiksa, tak tahan, lalu berbalik menyangkal Tuhan?

Memikirkan semua ini membuat aku lemas.

Tetapi tidak, aku tak boleh mundur. Aku telah maju dan meniup terompet perang. Aku seorang berdosa dan sangat lemah, tetapi aku harus berjuang.

"Jangan gelisah hatimu," kata Yesus kepadaku.

"Percayalah kepada Allah, percayalah kepadaKu. Aku tidak akan meninggalkanmu sebagai yatim piatu. Damai sejahtera Kutinggalkan kepadamu. Dama sejahteraKu Kuberikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Yohanes 14:1,18,27)

Seberkas cahaya menguak kegelapan hatiku. Awan biru tersenyum manis, menggemakan nyanyian:

Dengan tenaga yang fana
Niscaya kita kalah.
Pahlawan kita Dialah
Yang diurapi Allah.


Siapa NamaNya?
Sang Kristus mulia.
Tuhanmu yang Esa,
Panglima semesta...
Niscaya Ia jaya!


Martin Luther
(Terjemahan Yamuger)

Martin Luther. Terbayang dibenakku hebatnya perjuangan yang ia lakukan bagi Tuhan dan kebenaranNya. Ia seorang sarjana yang berwibawa. Tetapi aku?

Aku hanyalah wanita muda yang tak dikenal, lemah, tanpa kekuasaan. Lalu aku ingat rasul Paulus.

Pasti ia pun mengalami saat-saat pergumulan seperti aku kini. Aku menimba kekuatan dari apa yang ditulisnya: "Karena jika aku lemah, maka aku kuat." (2 Korintus 12:10)

"O, Bapa," aku berdoa, "kuatkanlah aku!"

He Places the Solitary in Families

Today's Scripture

“He places the solitary in families” (Psalm 68:6).

Today's Word from Joel and Victoria

Most everyone goes through times in life when they feel a little lonely or wonder where they belong. God designed family to always be a place of love and acceptance. Maybe you didn’t come from an environment like that, or maybe you’ve been away from your family. Maybe they are no longer around. God still desires to meet that need for family. The Bible says that He is the Father to the fatherless, and He places the solitary in families. God wants to give you a circle of people you can trust who will embrace and accept you. If you need family today, ask God to meet that need and show you where you belong. Or maybe you are the one who can open your home and heart to someone who is alone. The point is God loves family. He designed family for a purpose. Jesus said in Matthew 12 that those who do God’s will are His family. When you are part of the family of God, you are never alone! He promises to never leave you or forsake you. He promises to fill you with His peace and joy so that you can live as an overcomer all the days of your life!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for showing me Your design for family. Thank You for accepting and embracing me always. Show me how I can reach out and be an example of family in someone else’s life. In Jesus’ Name. Amen.


Source : Joel Osteen Ministries

Menguasai Diri

Bacaan : 1Korintus 9:24-27

Para prajurit yang tidak ingin menjadi jenderal, bukan prajurit yang baik. Atlet yang tidak ingin menjadi juara adalah atlet yang buruk," demikianlah bunyi salah satu tulisan penyemangat yang digantung di sebuah ruang pelatihan olahraga di Beijing, Cina. Untuk menyiapkan diri menghadapi pesta olahraga Olimpiade 2008 ini, para atlet Cina telah menjalani latihan keras sejak 6 tahun yang lalu. Selain itu, mereka punya sebuah lagu penyemangat yang berbunyi, "Laki-laki (berhati) baja tidak menangis. Kami mau menjadi pahlawan. Menjadi pemenang. Meraih emas!"

Bacaan kita hari ini juga berbicara tentang pertandingan. Paulus menulis bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya ada satu yang mendapat hadiah. Jadi, Paulus menasihati kita agar menguasai diri dalam segala hal, bukan untuk mengejar hadiah yang sementara, melainkan mahkota yang abadi (ayat 25). Setiap anak Tuhan yang mau menjadi pemenang, tidak boleh berlari tanpa tujuan, tidak boleh menjadi petinju yang sembarangan memukul (ayat 26). Ini berarti, anak Tuhan jangan sampai hidup sembarangan, tanpa perencanaan, tanpa tujuan.

Apakah cita-cita Anda? Jawabannya bisa apa saja, terserah Anda. Namun, yang penting adalah merencanakan dan menyiapkan diri untuk meraih cita-cita Anda mulai dari sekarang. Nasihat Paulus di atas patut kita terapkan mulai hari ini, melalui beberapa langkah. Langkah pertama : kenalilah diri Anda. Langkah kedua : latihlah. Langkah selanjutnya : kuasailah! Mulailah melangkah dari langkah pertama! -CHA

BERMAINLAH SEBAIK-BAIKNYA
MAKA GOL AKAN TERCIPTA SENDIRI-PELE

SABDA.org

Death Of Jesus