Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

11 October 2008

Tidak Adil

"Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil" - Ulangan 32:4

Bacaan : Mazmur 19:8-15

Ketika menjadi pelatih basket siswi kelas satu SAM di musim gugur 2005, saya heran betapa seringnya saya mendengar ucapan, "Itu tidak adil!"

Motivasi para siswi itu tampaknya tergantung pada anggapan mereka tentang adil atau tidaknya perintah saya kepada mereka. Apabila saya meminta beberapa siswi untuk berlatih bertahan, sementara yang lain berlatih lemparan bebas, saya akan mendengar suara, "Tidak adil!" Jika saya mengizinkan satu tim menyerang lebih lama daripada tim lainnya, saya akan mendengar, "Tidak adil!"

Begitu banyak situasi hidup yang meneriakkan, "Tidak adil!" SAya melihat banyak pasangan kristiani yang bergumul untuk memiliki anak, sementara yang lain diberkati dengan memiliki anak-anak tetapi lalu melecehkan mereka. Saya melihat banyak keluarga yang semua anaknya hidup dan sehat, sementara saya tidak memiliki satu anak pun. Saya melihat teman-teman yang rindu untuk melayani Allah, tetapi terhalang oleh masalah kesehatan.

Sebab itu, saya harus kembali pada kebenaran yang mendasar. Kita ini bukan hakim yang menentukan keadilan. Allah sendirilah yang menjadi hakim, dan Dia jauh lebih mengerti daripada kita mengenai berbagai rencana dan tujuan-Nya. Ini bukan masalah keadilan. Pada akhirnya, ini mengenai kepercayaan kepada Allah yang setia, yang benar-benar tahu apa yang sedang dilakukan-Nya. "Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil" - Ulangan 32:4

Hidup tidak pernah tampak adil. Namun, jika kita mempercayai Allah, kita selalu tahu bahwa Dia setia.

Renungan Harian edisi Desember 2006

0 comments:

Post a Comment