Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

20 August 2009

Haruskah Aku Mencintaimu

Saudaraku,
Saat-saat ini aku masih berpikir dan menimbang-nimbang, apakah aku harus mencintaimu setulus hatiku? Apa pentingnya mencintaimu? Toh sudah banyak yang memperhatikan dan melayanimu!! Siapakah aku ini sehingga aku tergerak untuk memperhatikanmu juga? Namun, apa yang bisa kuandalkan dalam diriku untuk mencintaimu? Aku tidak memiliki apapun untuk diberikan padamu! Bagaimana aku bisa mencintaimu tapi aku tidak memberi apapun padamu?

Sahabatku,
Sebelum kujawab pertanyaanmu, aku ingin memanggilmu bukan Saudaraku tapi Sahabatku. Aku ingin mengatakan padamu, "Mengapa engkau masih berpikiran, bahwa cinta itu harus memberi apa yang dimilikinya? " Cinta itu bukanlah memberi apa yang engkau miliki secara fisik saja! Cobalah perhatikan, janin dalam kandungan ibunya, anak-anak kecil, sampai remaja, yang masih tergantung kebutuhan hidup pada orang tuanya, bahkan anak anak cacat pun mampu mencintai orang tua dan saudara-saudaranya. Seorang anak dalam rahim ibu mencintai dengan kondisinya yang terbatas, ia mempercayakan pertumbuhan dan berkembangnya tubuh pada keputusan dan tindakan ibu dan ayahnya. Anak itu tidak memiliki "daya untuk membela diri": dia pasrah untuk dirawat dan dibesarkan orang tuanya. Anak yang cacat dan memiliki kebutuhan "khusus" selalu menawarkan kesempatan untuk diperhatikan, disayang, dilayani dan diistimewakan. Hidupnya yang terbatas menciptakan "kesempatan terindah dalam sejarahnya", yakni kesempatan bagi orang lain untuk terlibat dalam kesulitan hidupnya. Tanpa disadari, mereka pun mendewasakan orang yang normal fisik dan jiwanya...untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mampu mencintai.

Saudaraku,
Setelah mendengarkan penjelasanmu, rasanya "dalam kesempatan" itu tersembunyi "kehendak bebas". Anak-anak yang kecil, remaja, bahkan mereka yang cacat selalu menawarkan kesempatan untuk diperhatikan dan dilayani. "Kesempatan" itu sebuah "ruang" yang membuat orang mampu untuk ambil keputusan. Masalahnya bagaimanakah kita menemukan "kesempatan- kesempatan" itu kalau kita masih takut mengalami kesepian, takut ditinggalkan, masih kuatir dengan masa depan, takut tidak ada sahabat yang menyapa lagi, takut masalah tidak selesai, kuatir tidak lagi punya rejeki dst. Dalam kekuatiran dan bahkan ketakutan, menghambat kita untuk melihat "dunia di luar sekitar kita". Ada banyak orang: anak anak, remaja, orang kecil, orang lemah, orang putus asa, orang lapar, orang tahanan, ...mereka jelaslah menawarkan "kesempatan untuk dilayani". Kesempatan itu akan kita kenal, kalau kita mulai belajar percaya, bahwa hidup ini milik Tuhan. Hidup anak-anak dalam kandungan ibunya, anak balita, remaja, dan anak anak cacat, adalah milik Tuhan. Merekapun secara pribadi , sungguh istimewa dalam hidup Tuhan. Mereka juga adalah citra Allah, tanda kehadiran Tuhan.

Sahabatku,
Kata-katamu meneguhkan aku! Justru karena manusia itu citra Allah, milik Tuhan, dan hidup kita semua milik-Nya, itulah yang menantang dan menggerakkan kehendak bebas kita untuk saling mengasihi, bukan untuk saling menindas.

Saudaraku,
Tanpa disadari, pertanyaanku akhirnya terjawab ya! Tidak ada keharusan untuk mencintai, tetapi yang ada adalah pilihan untuk "ambil keputusan mencintai dengan kehendak yang sungguh sungguh bebas, bukan terpaksa mencintai".

Warm regards!

Bicaralah Seperti Tuhan Yesus

Markus 11:23 : "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 51; Markus 1; Yesaya 55-56

Hidup dalam iman tidaklah semudah dikatakan, tetapi bukan berarti juga tidak menerapkannya. Ayat diatas menjelaskan mengenai bagaimana agar iman seseorang dapat menjadi kenyataan di dalam dunia ini.

Yesus tidak pernah pernah berkata kepada murid-muridnya, "Barangsiapa berkata kepada Tuhan tentang gunung ini." Dia berkata bahwa mereka harus memperkatakan langsung kepada gunung itu hasil yang diinginkan.

Mungkin hal ini bila dilihat dari sudut pandang duniawi terdengar bodoh. Namun, Tuhan bekerja melalui hal-hal tersebut. Dia bahkan memakai orang-orang bodoh di dunia ini untuk mempermalukan yang berhikmat. Bodoh disini bukan berarti kita tidak perlu belajar, tetapi lebih kepada penundukkan akal pikiran kita kepada kemahakuasaan dan kebesaran Tuhan.

Saat kita mulai menundukkan ke-ego-an diri maka sebenarnya Tuhan sedang bekerja. Bahkan iman Anda pun akan bekerja seketika itu juga ketika Anda menggunakannya. Mengapa hal itu bisa terjadi? karena iman selalu selaras dengan firman Tuhan.

Apabila iman yang sesuai dengan firman Tuhan itu Anda perkatakan maka sesuatu luar biasa pasti terjadi. Kuasa perkataan Anda akan sama seperti Yesus ketika berada di dunia ini. Yesus tidak pernah sekalipun ragu akan setiap ucapan yang dikeluarkan-Nya. Ketika Yesus berkata pada pohon Ara dalam Markus 11:14, Dia tidak kembali untuk memeriksa apakah sesuatu telah terjadi kepadanya. Tidak, sekali Dia telah mengatakannya, Dia menganggap hal itu telah terjadi.

Ikutilah teladan-Nya. Biarlah iman Anda berbicara. Bersepakatlah dengan firman Tuhan.

Yesus adalah guru terbaik di dalam hidup ini

Jawaban.com