Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

10 September 2008

Jangan Menangis Mama

Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluar dari kamar operasi. ia bertanya dengan penuh harapan, "Bagaimana anakku?  Apakah dia dapat disembuhkan? Kapan saya boleh menemuinya?"

Dokter bedah menjawab, "Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi sayangnya anak ibu tidak tertolong".

Bu Sally bertanya dengan hati remuk, "Mengapa anakku yang tidak berdosa  bisa terkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi?  Di mana Engkau Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkan-Mu?"

Dokter bedah bertanya, “Apa Ibu ingin bersama dengan anak  ibu selama beberapa waktu? Perawat akan keluar untuk beberapa menit sebelum jenazahnya dibawa ke universitas. "

Bu Sally meminta perawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan selamat jalan kepada anak lelakinya. Dengan penuh kasih dia mengusap rambut anaknya yang hitam itu.

“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagai kenangan?", perawat itu bertanya. Bu Sally mengangguk. Perawat memotong sedikit rambut dan menaruhnya di dalam kantung plastik untuk disimpan.

Ibu Sally berkata, "Jimmy, anakku ingin mendonorkan tubuhnya untuk diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia dapat menolong orang lain yang memerlukan. Awalnya saya tidak membolehkan tapi Jimmy menjawab, 'Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubuhku dapat membantu anak lain untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya."

Bu Sally terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas. Jimmy selalu memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia bisa melakukannya."

Bu Sally meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama enam bulan di sana untuk merawat Jimmy. Dia membawa kantung yang berisi barang-barang anaknya. Perjalanan pulang sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki rumah yang terasa kosong. Barang-barang Jimmy ditaruhnya bersama kantung plastik yang berisi segenggam rambut itu di dalam kamar anak lelakinya. Dia meletakkan mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Jimmy, anaknya,  di tempat Jimmy biasa menyimpan barang-barang itu.

Kemudian dibaringkan dirinya di tempat tidur. Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis hingga tertidur. Di sekitar tengah malam, bu Sally terjaga. Di samping bantalnya terdapat sehelai surat yang terlipat. Surat itu berbunyi :

“Mama tercinta,

Saya tahu mama akan kehilangan saya; tetapi saya akan selalu mengingatmu ma dan tidak akan berhenti mencintaimu walaupun saya sudah tidak bisa mengatakan ‘Aku sayang mama’.

Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin sayang padamu ma. Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi. Sebelum saat itu tiba, jika mama mau mengadopsi anak lelaki agar tidak kesepian, bagiku tidak apa-apa ma. Dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku. Tetapi jika mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak lelaki.

Mama harus membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak perempuan. Jangan sedih karena memikirkan aku ma. Tempat aku berada sekarang begitu indah. Kakek dan nenek sudah menemuiku begitu aku sampai di sana dan mereka menunjukkan tempat-tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk melihat segalanya di sana.

Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin. Tapi saya senang melihatnya terbang. Dan apa mama tahu apa yang kulihat? Yesus tidak terlihat seperti gambar-gambar yang dilukis manusia. Tapi, ketika aku melihat-Nya, aku yakin Dia adalah Yesus. Yesus sendiri mengajakku menemui Allah Bapa! Tebak ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di pangkuan Bapa dan berbicara dengan-Nya seolah-olah aku ini orang yang sangat penting.

Aku menceritakan kepada Bapa bahwa aku ingin menulis surat kepada mama untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain. Namun aku sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkan-Nya. Tapi mama tahu, Allah sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis surat ini kepada mama.

Saya pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini kepadamu ma. Allah mengatakan akan menjawab pertanyaan mama ketika mama bertanya ‘Di mana Allah pada saat aku membutuhkan-Nya?’  Allah mengatakan Dia berada bersama diriku seperti halnya ketika putera-Nya Yesus disalib.

Dia ada di sana ma, dan dia selalu berada bersama semua anak. Ngomong-ngomong, tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis selain mama sendiri. Bagi orang lain, surat ini hanya merupakan sehelai kertas kosong. Luar biasa kan ma? Sekarang saya harus mengembalikan pensil Bapa yang aku pinjam.

Bapa memerlukan pensil ini untuk menuliskan nama-nama dalam Buku Kehidupan. Malam ini aku akan makan bersama dengan Yesus dalam perjamuan-Nya. Aku yakin makanannya akan lezat sekali. Oh, aku hampir lupa memberitahukanmu ma. Aku sudah tidak kesakitan lagi. Penyakit kanker itu sudah hilang. Aku senang karena aku tidak tahan merasakan sakit itu dan Bapa juga tidak tahan melihat aku kesakitan.

Itulah sebabnya mengapa Dia mengirim Malaikat Pembebas untuk menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman istimewa! Bagaimana ma?

Salam kasih dari Allah Bapa, Yesus & aku.

Humor : Janji

Seorang suami tengah menunggui istrinya yang sedang sakit keras, yang sepertinya tidak akan mampu mempertahankan hidupnya beberapa saat lagi. Mereka terlibat percakapan yang mengharukan karena sesekali istrinya tampak tersenggal-senggal saat mengucapkan kalimatnya,

Istri : "Kamu harus berjanji, akan selalu menjaga anak kita jika aku telah tiada kelak?"

Suami : "Aku berjanji." (dengan muka tampak lelah)

Istri : "Kamu harus berjanji, bahwa semua akan selalu berjalan baik-baik saja meski aku telah tiada."

Suami : "Aku berjanji."

Istri : "Kamu harus berjanji tidak akan mencari penggantiku sebelum tanah kuburanku mengering."

Suami : (terdiam sejenak) "Aku berjanji."

Istri : "Dan kamu juga harus berjanji bahwa kamu akan menyirami kuburanku setiap hari...."

:)

Awali dengan Berdoa

"Tuhan, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu" - Mazmur 5:4

George Muller melakukan suatu pelayanan yang cukup berat, yaitu mendirikan pati asuhan untuk anak-anak yatim piatu di Inggris. Ia memutuskan untuk tidak mengadakan malam dana. Ia juga meminta panitia agar tidka berhutang dalam membeli keperluan pembangunan gedung. Muller menghimbau mereka untuk membangun pati asuhan tersebut murni dengan pertolongan Tuhan. Ia berkomitmen untuk memperbanyak waktu doa dan hal-hal yang ajaib pun mulai terjadi, para penyumbang datang memberi bantuan tanpa diminta. Selama Muller hidup ada 121.000 anak yang diasuhnya dan mereka tidak pernah kekurangan karena Tuhan menyertai pelayanannya dengan tanda-tanda ajaib.

Muller telah membuktikan kuasa doa. Bagaimana dengan kita? Banyak orang yang sudah terbiasa dengan rutinitas pekerjaan setiap hari sehingga sebelum pagi hari tiba pun, kita sudah tidak sabar untuk cepat bangun dan menyelesaikan lagi pekerjaan kita. Tugas-tugas yang menggunung, tidak jarang mencuri waktu kita untuk datang kepada Tuhan. Kita seringkali berpikir bahwa cara terbaik memulai sebuah hari adalan dengan bangun pagi-pagi dan cepat-cepat bekerja agar semuanya cepat selesai dan beres. Tetapi kita lupa bahwa kunci utama untuk kita bisa menjalani hari ini dengan maksimal adalah dengan berdoa.

Ada kata bijak "Seven days without prayer, makes one week." Saya setuju karena doa memang merupakan kekuatan yang membuat kita dapat bertahan, bahkan menang atas segala kesulitan. Awal yang baik akan menentukan akhir dari semuanya. So, awasilah hari kita dengan berdoa! (is)

HARI YANG DILIPAT DALAM DOA AKAN SULIT UNTUK DIKOYAKKAN

Renungan Pagi