Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian. Show all posts

17 January 2012

Aku Memalingkan Diriku dari Allah

Ketika aku berumur empat belas tahun, aku memalingkan diriku dari Tuhan. Aku tidak pernah memikirkan tentang iman, kecuali ketika aku sedang mencemoohkan seseorang yang menganggap dirinya seorang percaya. Aku berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan rasionalisme, kemanusiaan dan filosofi adalah lebih baik. Selama bertahun-tahun aku mempunyai keyakinan yang demikian itu. Kini aku ingin semua itu aku tarik kembali, namun aku tidak dapat.

Setelah menyelesaikan pendidikanku di perguruan tinggi, aku masuk ke dalam angkatan laut dan mulai melihat dunia di luar Amerika Serikat. Terdapat begitu banyak kekerasan, begitu banyak kemiskinan, hal-hal yang membuat orang putus asa dan penderitaan. Aku mulai bertemu dengan orang-orang yang percaya bahwa iman merupakan sesuatu bagian yang amat penting dalam hidup mereka. Aku mulai berfikir dalam diriku sendiri, “Alangkah indahnya, bila seandainya bisa percaya akan sesuatu yang melebihi dari dirinya sendiri, bahkan melebihi dari dunia.

Betapa besar kekuatan mereka yang percaya terhadap “Tuhan”.

Tentu,… aku terlalu intelektual dan terlalu terpelajar serta berpendidikan untuk dapat percaya tentang semua yang serba bodoh itu.

Aku sedang rindu tentang sesuatu yang aku tak dapat menemukan kata-kata untuk memintanya.

Aku adalah seorang peminum berat. Aku rindu akan keluargaku. Aku telah patah hati. Adik tiriku perempuan telah meninggal. Aku telah mengunjungi Yerusalem dan laut Galilea, namun aku tak banyak mengerti apa yang didapatkan oleh para peziarah dan apa yang mereka alami. Aku sebenarnya iri hati, walaupun aku tidak tahu terhadap siapa dan tentang apa. Hal yang paling aku ingat adalah betapa aku merasa seorang diri, berlayar di tengah lautan di atas sebuah kapal perang. Kita pernah berada di Teluk Persia, kemudian di lautan Adriatik selama perang di Yugoslavia. Saya masih ingat pembunuhan-pembunuhan yang mengerikan. Kita mengangkat begitu banyak mayat-mayat dari lautan Adriatik. Lalu kejadian di Rwanda. Rabin telah dibunuh ketika aku berada di Hiafa. Semua biarawan telah di bunuh di Aljazair. Agaknya maut sedang mengelilingi aku. Aku tidak tahu harus berbuat bagaimana. Aku merasa tersesat.

Kemudian, pada suatu senja, aku sedang mengamati tenggelamnya surya di ufuk dari geladak kapal di mana aku bekerja. Aku menemukan diriku sedang merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang besar dalam hidupku. Kemanakah aku sedang berjalan? Mengapa hal-hal itu terjadi dalam dunia ini maupun dalam hidupku? Apa yang aku inginkan dari hidupku? Apa yang aku inginkan dari diriku? Bagaimana aku dapat beriman bila aku tidak percaya segala sesuatu di luar akal sehatku?

Aku merasakan seakan-akan aku melalui dan keluar dari api dan yang tersisa yang hanya segenggam abu.

Aku bertanya kepada Tuhan bahwa aku tidak percaya bahwa Tuhan dapat menolong aku…dan Ia menjawab. Aku tidak mau mengatakan lebih lanjut tentang hal ini, namun dalam kurun waktu sesaat, hidupku telah berubah untuk selamanya.

Kejadian itu sepuluh tahun yang lalu. Perjalanan imanku telah mengalami banyak belokan dan tikungan, namun aku tetap di atas jalan yang benar. Aku telah menemukan begitu banyak hikmah dan perdamaian dalam kisah dan pelajaran dari Yesus, dan aku tahu bahwa Tuhan besertaku, menolongku, memegang tanganku, membimbing aku ketika aku bertumbuh dan berubah.

Tetapi yang paling indah adalah bahwa aku kini mempunyai seorang puteri berumur enam bulan, dan aku tidak dapat menunggu untuk mengajarnya tentang keajaiban dan keindahan Allah. Tuhan telah mengubah hidupku. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang lebih terkejut dari pada aku sendiri yang telah menemukan iman. Ia pun dapat merubah anda!!

Michael J.C., Massachusetts

12 January 2012

Kisah Pengalaman Mati Suri (III)

Terang dari Kasih

Aku diberitahu bahwa aku harus kembali. Aku hanya tahu bahwa aku akan melakukan hal itu. Hal itu memang wajar, dari apa yang telah aku lihat dan alami. Ketika aku mulai dengan perjalananku kembali ke siklus kehidupan, aku tidak pernah sadar atau tak pernah diberi tahu bahwa aku akan kembali ke dalam tubuh yang sama. Dalam hal ini aku tidak peduli. Aku percaya sekali kepada Terang dan proses Kehidupan.

Ketika siklus itu telah menjadi satu dengan Terang yang besar, aku berharap agar aku tak pernah lupa akan pengungkapan-pengungkapan dan perasaan-perasaan dari apa yang aku telah pelajari di seberang sana. Aku membayangkan menjadi sesosok manusia lagi dan hal itu mebuat aku merasa senang.
Dari apa yang telah aku lihat, aku akan mersa senang untuk menjadi atom di dalam Semesta Alam. Menjadi bagian yang manusiawi dari Allah… ini adalah berkat yang sungguh luar biasa. Ini merupakan berkat yang melampaui semua imajinasi yang sangat besar.

Bagi setiap orang, bagian dari pengalaman iman ini adalah sesuatu yang sungguh menakjubkan. Setiap dari kita, terlepas di mana kita berada, kita orang aneh atau tidak, merupakan berkat bagi planet ini. Demikianlah aku kembali ke tubuhku. Aku begitu terperanjat ketika aku membuka mataku dan merasakan bahwa aku telah kembali ke dalam tubuhku, kembali ke kamarku dengan seseorang yang sedang memandangku sambil menangis. Ia ternyata adalah Anne, pengasuhku. Ia telah menemukan bahwa aku mati tiga puluh menit sebelumnya.Aku tidak mengetahui berapa lama aku telah mati, hanya aku telah menemukan aku tiga puluh menit sebelumnya. Ia telah mematuhi perintahku agar tubuhku yang mati tidak diapa-apakan. Dengan demikian, ia dapat membenarkan bahwa aku sesungguhnya dan benar-benar telah mati.

Menurutku, hal ini bukanlah suatu pengalaman mati suri. Aku percaya bahwa aku memang benar mati, setidak-tidaknya selama satu setengah jam. Ketika aku bangun kembali, aku melihat terang dari luar. Disertai kebingungan, aku berusaha untuk berdiri dan menuju ke jendela, namun aku terjatuh kembali di atas tempat tidur. Anne mendengar sebuah suara “gedebuk” kemudian mendapatkan aku di atas lantai. Ketika aku sudah pulih kembali, aku merasa heran dan terpesona akan apa yang telah terjadi… Pada mulanya, aku tidak ingat akan pengalaman itu. Aku terus bertanya, “Apakah aku hidup?”
Dunia agaknya terlihat seperti sebuah impian.

Dalam waktu tiga hari, aku sudah normal kembali, namun berbeda dari pada aku sebelumnya. Ingatanku tentang perjalananku kembali menyusul. Namun sejak aku menemukan bahwa tidak ada sesuatu yang salah dengan manusia yang pernah kujumpai. Sebelum kematianku, aku suka menghakimi orang lain, yakin bahwa manusia itu aneh dan sinting. Detiap orang, terkecuali aku sendiri.

Kira-kira tiga bulan kemudian, seorang kawan mengatakan bahwa sebaiknya aku perlu untuk diperiksa penyakit kankerku.
Demikian aku sekali lagi menjalani berupa pemeriksaan, seperti CTscan dan seterusnya. Aku sendiri merasa sehat. Aku masih ingat akan dokter yang mempelajari pelbagai hasil scan “sebelum” dan “sesudah”. Ia mengatakan, “Aku sekarang tak dapat menemukan tanda-tanda kanker.” “Sebuah mujizat?”, tanyaku. “Tidak”, jawab dia. “Hal-hal seperti itu biasa terjadi…” Ia kelihatannya tidak heran. Namun aku merasa heran. Aku tahu bahwa inilah suatu mujizat.

Pelajaran yang kuperoleh

Aku bertanya kepada Allah, “Agama apakah yang paling bagus dan baik? Manakah yang paling benar?” Allah mengatakan dengan penuh kasih, “Itu tidak penting.” Betapa luar biasanya kasih karunia-Nya. Tidaklah penting kita ikut agama apa. Agama-agama datang dan pergi. Mereka berubah. Agama Budha tidak selalu ada di sini. Demikian pula, agama KAtolik tidak selalu ada. Dan semuanya itu menjadi lebih jelas dan terang. Terang yang lebih besar akan menerangi semua itu. Banyak yang menentang dan melawan, agama yang satu terhadap agama yang lain disertai keyakinan bahwa merekalah yang paling benar.

Ketika Allah berkata, “Itu tidak penting”, aku mengerti bahwa tergantung kepada kita sendiri untuk menjalaninya. Sumber tidak peduli apakah anda seorang Protestan, Budhis atau Yahudi. Setiap dari mereka, merupakan suatu refleksi, sebuah faset dari sesuatu yang lebih besar dan utuh. Pengharapanku adalah, kiranya kita menyadarinya dan berlaku toleran terhadap satu dan yang lain. Itu bukanlah akhir dari agama-agama yang terpisah, melainkan biarlah kita hidup dan membiarkan orang lain juga hidup. Setiap dari kita memiliki pandangan yang berbeda, dan semuanya jika digabung, akan menjadi sebuah gambar yang besar dan utuh.

Aku telah pergi ke seberang sana disertai banyak sekali kekuatiran tentang sampah yang beracun, nuklir, ledakan penduduk dan hutan tropis yang sedang punah.
Kini aku kembali dan menyayangi setiap masalah. Aku sayang kepada sampah nuklir. Aku sayang kepada awan jamur; ini adalah mandala yang paling suci yang kita wujudkan sampai detik ini, sebagai pola dasar. Lebih dari pada agama apapun, atau filosofi yang bagaimanapun, awan jamur yang amat mengerikan itu dengan tiba-tiba telah membawa kita menjadi satu dan mencapai suatu taraf baru akan kesadaran kita.

Dengan pengetahuan bahwa kita dapat menghancurkan planet ini 50 atau 500 kali, pada akhirnya kita menyadari bahwa kita bersama berada di tempat ini. Untuk suatu waktu tertentu, mereka bisa saja meledakkan lebih banyak bom lagi untuk membunuh. Namun kemudian, kita mulai berkata, “Kita tidak memerlukan hal itu lagi.” Sebenarnya kita berada di dunia yang lebih aman dari pada sebelumnya dan kita akan makin lebih aman lagi.

Dengan demikian, aku kembali untuk menyayangi sampah nuklir, karena hal itu membawa kita menjadi satu. Pembalakan hutan tropis akan lebih kurang, dan setelah 50 tahun akan terdapat lebih banyak lagi di planet ini dari pada sebelumnya.
Bila Anda ada di dalam ekologi, berjalanlah terus; anda merupakan bagian dari sistem itu. Lakukanlah tugasmu dengan segala kekuatanmu, namun janganlah menjadi sedih atau putus asa. Bumi sedang di dalam proses untuk menjadi lebih baik dan kita merupakan sel-sel dari bumi itu.

Misteri terbesar dari kehidupan tidak ada hubungannya dengan pikiran. Alam Semesta bukanlah suatu proses intelektual. Memang pikiran bisa membantu, namun hati kita adalah bagian yang lebih bijak dari diri kita. Sejak kembaliku, aku mengalami Terang dengan cara spontan. Aku telah belajar untuk pergi ke sana setiap saat dalam meditasi. Andapun dapat melakukannya. Tubuh adalah Terang yang paling cemerlang. Tubuh adalah alam semesta dari Terang yang luar biasa itu. Kita tidak perlu berhubungan mesra dengan Allah. Allah sebelumnya sudah berhungan mesra dengan kita pada setiap saat.

Selesai

11 January 2012

Kisah Pengalaman Mati Suri (II)

Aku tak segan-segan mengatakan berulang-ulang betapa hal ini mengubah pendapatku tentang manusia secara sesaat. Aku berkata/berpikir/merasa, “Oh, Tuhan, aku tak pernah menyadari.” Aku dibuat tercengang bahwa ternyata tidak ada kejahatan dalam setiap jiwa. Manusia mungkin saja berbuat hal-hal yang buruk karena ketidak tahuan, namun tidak ada jiwa yang jahat. “Apa yang dicari oleh setiap insan – apa yang membuat mereka bertahan – adalah kasih”, Terang itu berkata kepadaku, “Apa yang merubah manusia menjadi buruk adalah tidak adanya kasih.”

Pengungkapan-pengungkapan terus berlanjut, “Apakah ini berarti bahwa manusia akan diselamatkan?” Laksana tiupan dari sebuah terompet disertai hujan terang yang luar biasa, maka Terang itu berkata kepadaku, “Kamu selamat, menebus dan menyelamatkan dirimu sendiri. Kamu selama ini telah melakukannya dan akan selalu melakukannya. Kamu telah diciptakan dengan kuasa untuk berbuat demikian sebelum dunia ini diciptakan.” Pada saat itu, aku menyadari bahwa aku telah diselamatkan.

Aku bersyukur akan Terang Tuhan dengan segenap hatiku. Cara satu-satunya yang aku dapat ungkapkan adalah: “Oh Tuhan yang amat baik, Alam Semesta yang ajaib, aku mengasihi hidupku.” Terang itu agaknya menghembuskan aku bahkan pergi ke suatu tempat yang menarik dan lebih dalam lagi.
Aku telah memasuki sebuah dunia yang berbeda, lebih jelas daripada yang sebelumnya, dan menjadi sadar akan kehadiran adanya seberkas Terang yang luar biasa, besar sekali, penuh dan dalam. Aku bertanya apakah itu? Terang itu menjawab, “Itulah Sungai Kehidupan. Minumlah dari manna air itu sepuas hatimu.”
Maka aku meminumnya dengan sepuas-puasnya, dalam keadaan di luar kemampuanku untuk mengerti.

Kekosongan dari Kehampaan

Tiba-tiba aku agaknya melaju dengan cepat sekali dari planet Sungai Kehidupan itu. Aku melihat bumi lewat dan menghilang. Sistem solar berdesing lewat dan menghilang. Aku terbang di tengah-tengah galaksi serta menyerap lebih banyak pengetahuan-pengetahuan dalam perjalananku. Akubelajar, bahwa galaksi ini – dan seluruh Alam Semesta – telah dipadati oleh bermacam-macam kehidupan. Aku melihat banyak dunia. Kita tidak sendirian di dalam alam semesta ini. Kelihatannya bahwa semua ciptaan dalam alam semesta ini sedang melewati aku dan menghilang dalam sebuah titik terang.

Kemudian Terang yang kedua muncul. Ketika aku melewati Terang yang kedua itu, aku merasa seolah-olah dalam keadaan melampaui sesuatu tanpa batas. Aku berada di alam kekosongan, jaman pra-kreasi, atau awal dari segala sesuatu, Sabda yang mula-mula atau Getaran Dunia. Aku berada di tengah-tengah mata ciptaan Allah dan seolah-olah aku menyentuh wajah Allah. Hal itu bukanlah suatu perasaan spiritual. Aku sekedar menjadi satu dengan Kehidupan dan Kesadaran yang tertinggi.

Aku ikut mengalir dan tiba di tengah-tengah Terang. Aku merasa dipeluk oleh Terang itu. Dan kebenaran memang menjadi nyata, bahwa tidak ada kematian; bahwa tidak ada kelahiran dan kematian di sana; bahwa kita adalah makhluk yang abadi, bagian dari suatu sistem kehidupan alami yang secara abadi seakan mendaur ulang sendiri.

Diperlukan bertahun-tahun untuk memahami dan mengerti pengalaman kekosongan ini. Hal ini menjadi sesuatu yang amat tak berarti, namun lebih besar dari segala sesuatu. Penciptaan merupakan Allah yang sedang mengungkapkan dan menemukan Diri-Nya sendiri dengan segala cara yang kita dapat bayangkan. Melalui setiap helai rambut di atas kepalamu, melalui setiap daun di pepohonan, melalui setiap atom. Allah sedang mengungkapkan Diri-Nya. Aku melihat segala sesuatu seperti ada pada Diri-Nya. Allah ada di sini. Dan itulah yang paling penting. Segala sesuatu diciptakan dari Terang, segala sesuatu hidup.

• Sumber Tulisan: www.weboflove.org/neardeathexperience

Bersambung…

10 January 2012

Kisah Pengalaman Mati Suri (I)

Mellen – Thomas Benedict, seorang artis, telah selamat dari suatu kondisi mati suri di tahun 1982. Ia telah mengalami kematian selama satu setengah jam. Selama waktu itu, rohnya keluar dari tubuhnya dan pergi ke dalam Terang. Karena ingin tahu tentang semesta alam, ia telah dibawa jauh sampai ke kedalaman eksistensi, bahkan melampauinya ke dalam kekosongan energi dari kehampaan, di balik Big Bang. Seorang ahli terkenal yang menyelidiki tentang pengalaman kondisi mati suri, Dr. Kenneth Ring, telah berkata, “Kisah pengalamannya merupakan salah satu yang amat luar biasa yang pernah saya dapati dalam penelitian saya yang luas dalam bidang pengalaman kondisi mati suri.”

Kisah Kondisi Mati Suri Mellen-Thomas Benedict

Dalam tahun 1982, aku mati akibat penyakit kanker stadium terminal. Keadaanku sudah tak dapat dioperasi. Aku tidak mau dikemoterapi. Karenanya, aku diberi waktu enam sampai delapan bulan untuk hidup. Sebelum saat itu, aku dibuat makin sedih tentang berita-berita krisis nuklir, krisis lingkungan hidup dan seterusnya. Aku menjadi yakin bahwa semesta alam telah membuat kesalahan – yaitu bahwa sebenarnya kita ini merupakan organisme yang mengandung kanker di atas planet ini. Dan inilah yang pada akhirnya membunuhku.

Sebelum aku mengalami kondisi mati suri, aku telah mencoba bermacam-macam cara dengan penyembuhan alternatif. Tidak ada satupun yang menolong. Dengan demikian, aku mengambil kesimpulan bahwa ada suatu misteri antara Tuhan dan aku. Aku sebenarnya tidak pernah memikirkan tentang Tuhan. Demikian pula aku tidak terlibat di suatu kegiatan spiritualitas tertentu. Namun, kematianku yang makin dekat, memaksa aku untuk mencari tahu akan informasi tentang spiritualitas dan penyembuhan alternatif. Aku telah membaca tentang pelbagai agama dan filosofi. Semuanya memberikan pengharapan bahwa ada sesuatu di seberang sana.

Aku tidak memiliki suatu asuransi medis, sehingga tabungan untuk hidup tuaku mengalami krisis. Karena aku tidak mau membawa keluargaku masuk ke dalam persoalanku ini, aku bertekad untuk menanggulanginya sendiri.

Akhirnya aku ada di sebuah panti dan aku diberkati dengan adanya seorang “malaikat” sebagai pengasuhku, yang akan kunamakan “Anne”. Ia tetap mendampingiku sepanjang pengalamanku berikut ini.

Masuk ke dalam Terang

Aku bangun kira-kira pukul 04.30 pagi dan aku menjadi sadar bahwa aku akan segera mati. Aku menelpon beberapa kawan dan berpamitan dengan mereka. Kemudian aku membangunkan Anne dan meminta dia berjanji agar tubuhku yang mati hendaknya jangan diapa-apakan selama 6 jam, karena aku telah membaca bahwa bisa terjadi bermacam-macam hal bila kita mati. Kemudian aku tidur lagi. Selanjutnya hal yang aku ingat bahwa aku sadar dan berdiri. Namun aku melihat bahwa tubuhku tetap terbaring di atas tempat tidur. Agaknya aku dikelilingi oleh kegelapan, namun aku dapat melihat setiap kamar di dalam rumah itu, atapnya, bahkan yang berada di bawah rumah.

Kemudian ada sebuah cahaya mengeluarkan sinarnya. Aku berpaling ke arahnya dan menjadi sadar akan pengalaman yang serupa dari orang lain yang pernah mengalami mati suri. Sungguh luar biasa, nyata dan memikat. Aku ingin maju ke arah Terang itu seperti aku ingin masuk ke dalam pelukan ayah atau ibuku. Ketika aku bergerak menuju Terang itu, aku menjadi sadar bahwa bila aku masuk ke dalam Terang itu, aku akan mati. Oleh karena itu aku mengatakan dalam pikiranku, “Tolong, tunggu dahulu, aku ingin bercakap-cakap denganmu sebelum aku masuk.”

Seluruh pengalaman terhenti. Aku menemukan bahwa aku sedang menguasai pengalaman itu.Permintaanku ternyata disetujui. Aku sedang berkomunikasi dengan Terang itu. Cara inilah satu-satunya untuk dapat menjelaskan semuanya. Kemudian aku bertanya kepada Terang itu, “Apa yang sedang terjadi di sini?”

Aku menjadi sadar akan suatu matrix yang lebih tinggi dari pada diri kita, suatu saluran yang menuju ke Sumbernya.Kita semua memiliki suatu Diri yang lebih Tinggi, atau suatu bagian dari jiwa yang lebih tinggi dari pada eksistensi kita, suatu conduit (seperti suatu saluran). Semua All Higher Selves saling berhubungan dan menjadi satu. Semua manusia berhubungan menjadi satu.

Ini merupakan sesuatu yang amat indah yang aku pernah lihat. Seperti anda memperoleh semua kasih yang anda rindukan dan macam kasihnya adalah yang menyembuhkan, memperbaiki dan memperbarui. Pada saat itu, aku sudah bersiap untuk berangkat dan masuk. Aku mengatakan, “Aku sudah siap. Bawalah aku.” Kemudian Terang berubah menjadi sesuatu yang begitu indah yang aku tak pernah melihat sebelumnya: suatu mandala** dari jiwa-jiwa manusia di planet ini. Aku melihat bahwa kita ini adalah ciptaan yang paling indah, elok, bagus, eksotis…semuanya.

Catatan:

*Mati suri: fase antara mati klinis dan mati biologis.

**Mandala: lingkungan (daerah), lingkaran.

• Tulisan ini telah diedit kembali oleh Redaksi

• Sumber Tulisan: www.weboflove.org/neardeathexperience

Bersambung…

22 December 2011

Mami Pulang Dibulan Natal

Aku sudah merasa bahwa hari-hari hidup Mami bakal tidak lama lagi. Sejak memasuki tahun 2006 rasanya Mami mulai kelihatan mundur kesehatannya. Tidak seperti biasanya yang selalu bergairah. Kebiasaan yang dilakukan setiap pagi setelah mandi ialah duduk di kursi meja makan lalu membaca Alkitab dan berdoa. Di dalam Buku Renungannya selalu ada catatan hari ulang tahun anak-anak, menantu-menantu dan cucu-cucunya pada lembar tepat pada hari renungan itu dibaca. Aku bersyukur bahwa aku mempunyai Mami yang setiap hari berdoa untuk keluarga besar kami.

Kerinduannya untuk ke gereja tetap ada, namun karena kondisi tubuhnya yang semakin lemah maka Mami terpaksa di rumah saja. Satu bulan sebelum Mami dipanggil pulang Tuhan, ia berkata ingin pergi ke Rumah Tuhan. Aku dan saudara-saudaraku bingung menerjemahkan arti Rumah Tuhan itu. Apakah itu berarti Mami ingin ke gereja atau suatu tanda bahwa sebentar lagi Mami mau meninggalkan kami semua. Dan lagi setiap kali selalu menyebut angka 3 (tiga) berulang-ulang: ” tiga…….tiga….tiga…..” Apa arti kata tiga itu ,ketika aku bertanya, Mami hanya tertawa kecil.

Mami selalu hadir dalam Persekutuan Lansia (Lanjut Usia) ketika masih sehat. Mendengar bahwa mami ingin ke Rumah Tuhan, maka kami, anak-anak meminta diadakan Natal di rumah Mami oleh teman-teman dari Persekutuan Lansia. Dan telah dilakukan pertengahan bulan Desember. Mami mendengar Firman Tuhan namun tidak seperti biasanya penuh dengan sukacita. Wajahnya seperti memendam sesuatu yang kami tidak tahu apakah Mami merasakan sakit tuanya atau Mami memang sedih.

Ibadah Natal dan Perayaan Natal di Gereja-gereja telah berlalu, hari itu aku diberitahu bahwa mami dibawa ke Rumah Sakit karena kondisinya buruk dan mulai tidak sadar. Tepat pada tanggal 28 Desember 2006, mami benar-benar telah menghadap Tuhan dengan damai sejahtera Kristus. Hanya semalam mami berada di Rumah sakit.

Kesaksian ini aku tulis untuk mengenang Mami dan kebaikan Tuhan yang luar biasa. Bahwa Tuhan Yesus memanggil Mami masih dalam suasana Natal dan kami – sebagian besar anak-anak, menantu dan cucu-cucunya – yang terlibat dalam kegiatan Natal di gereja masing-masing sudah selesai tugas-tugas kami. Puji Tuhan! Hari-hari perkabungan itu kami bersyukur kepada Tuhan karena hampir sebagian besar anak-anak, menantu dan cucu-cucu bisa berkumpul semuanya. Mami pulang ke Rumah Tuhan seperti Simeon yang berkata: ”Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Lukas 2:29-30)

Aku baru sadar bahwa yang dimaksud Mami dengan berkali-kali mengatakan angka tiga mungkin adalah tiga hari sebelum tahun itu berakhir , yaitu tanggal 28 Desember. Melalui kesaksian ini ada hal-hal yang indah ingin saya bagikan kepada pembaca.

Mendampingi orang lanjut usia apalagi orangtua sendiri dalam kondisi sakit, benar-benar dibutuhkan kesabaran tinggi. Jangan melayani dengan amarah atau ketidak senangan hati karena perasaan atau kondisi orang yang mendekati dipanggil pulang Tuhan adakalanya penuh dengan teka-teki, tetapi juga rewel dan ada semacam ketakutan untuk menghadapi semuanya itu.

Sebagai orang lanjut usia yang cinta Tuhan, aku banyak belajar bahwa di hari tua, kalau kita makin dekat dengan Tuhan, aku mengamati seakan-akan Mami tahu kapan waktunya Tuhan Yesus datang menjemput dirinya. Aku belajar juga bahwa tidak terlihat sedikitpun Mami berontak atau menyangkal Tuhan meskipun kondisi kesehatannya makin menurun. Juga kehadiran para hamba Tuhan dan teman-teman gereja yang menengoknya selalu disambut dengan baik. Berkali-kali meskipun sudah sulit bicara, bila ada orang datang menjenguk, Mami selalu memberi isyarat menyatukan tangan yang artinya minta untuk didoakan. Saat-saat terakhir aku mendengar dari saudara-saudaraku bagaimana Mami menyambut “kedatangan Tuhan Yesus” itu dengan pasrah persis seperti anak yang lari kepangkuan bapanya untuk mendapat belaian dan kasih sayang.

Kita semua akan menjadi tua. Dulu waktu aku masih bayi, orangtuaku merawat aku tanpa merasa lelah. Kalau aku sakit, rasanya orangtua juga ikut merasakan sakitku. Setelah orangtua menjadi sepuh, maka sekarang tiba gilirannya akulah yang merawatnya. Aku tidak merasa berbeban berat merawat orangtuaku sendiri. Setiap kali Mami rewel atau tidak senang hati karena permintaannya tidak kuturuti demi kesehatannya, dalam hati aku berkata: ”Mami, dulu Mami juga melarang aku, demi kebaikanku, sekarang aku juga melarang Mami demi kebaikan Mami, maafkan aku.” Setelah itu aku pun menangis sendiri karena ada suatu pertentangan batin di antara ingin memberi dan tidak memberi apa yang diinginkannya demi kebaikan.

Sampai hari ini aku tidak bisa melupakan ketekunan, kesetiaan dan kedisiplinan Mami yang setiap pagi setelah mandi selalu duduk menghadapi Kitab Suci untuk bersaat teduh dan berdoa. Baru setelah itu Mami mulai membaca surat kabar agar tidak ketinggalan informasi. Di hari Natal ini, aku mengenang dan makin menyadari bahwa umurku juga semakin tua. Natal bukan saja peringatan menyambut Kedatangan Tuhan Yesus. Natal juga mengingatkan bahwa Tuhan akan datang kembali untuk memanggil setiap orang secara pribadi atau Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya, yang kita semua tidak tahu kapan waktunya terjadi.

Semoga kesaksian ini memberkati semua orang yang membacanya.. Amin

Di kisahkan kembali oleh : Magdalena

29 November 2011

Sebuah Perjalanan Spiritual yang Indah

Aku ingin membagikan pengalamanku kepada Anda tentang perjalanan hidup rohani kami (isteriku dan aku) saat berjalan bersama Tuhan. Bagaimana Tuhan kita adalah Tuhan yang Luar Biasa.

Dimulai pada bulan Februari tahun 2008, putri tertua kami yang berumur 8 tahun (bernama Angela) diketahui menderita penyakit kanker ganas (MPNST). Lalu kami pergi ke dokter, dan dokter mengatakan bahwa harus dilakukan pembedahan untuk mengangkat kanker dari perut puteri kami. Akhirnya pada bulan Maret dilakukanlah pembedahan itu, namun dokter tidak dapat mengangkat kanker itu karena kanker itu telah menyebar ke lever, pankreas, ginjal, limpa, dan aorta.

Singkatnya, selama hampir 9 bulan, dia telah menghabiskan waktunya berada di rumah sakit dan tidak pernah mengeluh kesakitan sedikitpun terhadap penyakitnya. Bahkan Prof. Dr. Sumantri, yang merawat Angela mengatakan, “Dengan jenis penyakit kanker seperti ini, dia seharusnya merasa kesakitan, namun dia sama sekali tidak merasakan itu, jadi ini merupakan sebuah keajaiban.”

Sedikit mengingat pada bulan Mei 2008, dalam perjalanan dari rumah sakit ke rumah kami, Angela mengatakan bahwa suatu hari saat dia meninggal, dia ingin dikuburkan disamping makam kakeknya (ayahku). Dan pada tanggal 6 September, Angela menulis untuk ibunya seperti ini: “Kepada mama tercinta, terima kasih banyak untuk kasih, kebaikan, sehingga aku dapat menikmati hidupku. Jangan bersedih jika aku meninggal, Ma, karena aku meninggal untuk pergi ke surga.”

Pada tanggal 15 Oktober, di rumah sakit, Angela berkata kepadaku, “Pa, aku lelah sekali, aku ingin pulang dan berjumpa dengan Tuhan Yesus di surga.” Saat aku mendengar hal itu air mataku mengalir di pipiku. Pada tanggal 17 Oktober, pukul 04.30 saat berdoa bersama, Angela berdoa: “Tuhan Yesus, aku menyerahkan hidupku pada-Mu dan aku telah siap untuk berjumpa dengan-Mu.”

Tanggal 17 Oktober, sekitar pukul 16.25, Angela berkata kepada ketiga orang perawat yang merawatnya, “Suster, Tuhan Yesus menunjukkan kepadaku tiga ruangan”, dan kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Ya, Angela, minta pada Yesus ruangan yang terbaik untukmu.” dan Angela menjawab, “Ya, Tuhan Yesus memberiku kamar terbaik buatku yaitu kamar ke-3.” (Pada saat itu isteriku dan aku sedang berdoa dan memuji Tuhan di samping tempat tidur Angela) Setelah itu Angela memanggil pamannya yang baru saja tiba, “Om Totok..”, dan kemudian, Totok duduk di sebelah kiri tempat tidurnya dan memegang tangan Angela, dan berkata pada Angela, “Ya, Angela”. Tiba-tiba Angela menjawab kepada Paman Totok, “Ini waktunya, Om”. “Waktu apa, Angela?”, kata Totok kepada Angela. Angela berkata kepada Totok lagi, “Sekarang waktunya untuk pergi ke surga, Om.” Saat aku mendengar Angela berkata seperti itu pada pamannya, aku meminta kepada semua orang yang berada di ruangan itu untuk berlutut berdoa dan aku memimpin doa itu. Pada pukul 16.30 tepat Angela telah berpulang kepada Bapa di surga. Dan betapa Tuhan begitu baiknya.

Waktu yang terberat bagi kami adalah saat 1,5 bulan sebelum Angela meninggal. Saudara dan saudari, dari perjalanan rohani kami berjalan bersama Tuhan melalui berkat khusus yang kami terima (isteriku dan aku), kami belajar banyak hal dari Tuhan.

Aku berharap bahwa pengalaman pribadiku berjalan bersama Tuhan dapat membawa berkat bagi Anda semua. Doaku, semoga Tuhan memberkati dan melindungi Anda sekalian.

Terima kasih.

salam dalam Kasih Tuhan,
Zefanya Adi Walujo
Sri Edy Hernani

24 November 2011

Pengemis Suruhan Tuhan

James Glaymor, seorang misionaris di Mongolia, pada satu saat diminta untuk menangani beberapa prajurit yang terluka. Meskipun ia bukan seorang dokter, ia memiliki cukup pengetahuan medis dasar, sehingga ia tidak dapat menolak permohonan itu. Ia membalut luka-luka dari dua orang, namun orang yang ketika menderita patah tulang pinggul yang parah, Misionaris itu tidak tahu apa yang ia harus lakukan terhadap luka yang demikian itu.

Dengan berlutut di samping orang itu, ia berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan. Ia tidak tahu, bagaimana Tuhan akan menjawab doanya itu, namun ia yakin bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhannya. Ia tidak bisa menemukan buku-buku tentang phisiologi di rumah sakit yang sahaja itu dan tidak ada seorang dokter yang datang untuk membantunya. Keadaannya lebih parah lagi dengan kehadiran serombongan pengemis yang tiba untuk meminta sedekah. Ia sangat prihatin terhadap pasien itu, sedangkan hatinya pun disentuh oleh kehadiran orang-orang itu. Dengan terburu-buru ia memberikan kepada mereka hadiah-hadiah kecil ditambah dengan beberapa ucapan ramah untuk menghibur mereka.

Sesaat kemudian dengan rasa tak percaya ia memandang kepada seorang pengemis yang agak ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Orang sial itu yang sedang kelaparan tidak lebih dari pada sebuah kerangka hidup dibungkus kulit.

Misionaris itu sesaat sadar, bahwa Tuhan telah mengirim kepadanya sebuah pelajaran anatomi hidup! Ia bertanya kepada orang tua itu apakah ia diperkenankan untuk memeriksanya. Setelah ia dengan hati-hati mengikuti bentuk tulang paha dengan jari-jarinya untuk belajar bagaimana menangani patah tulang itu.

Beberapa tahun kemudian, Gilmour seringkali mengisahkan bagaimana Tuhan telah menjawab yang aneh namun sunguh efisien dan praktis doa-doanya yang tulus itu.
Bila kita mengajukan permohonan kita, kitapun mendapat kepastian bahwa Tuhan akan menolong kita – sekalipun jawaban-Nya kadang-kadang melalui mereka yang “tidak punya kekuatan”

“Our Daily Bread”

23 November 2011

Kasih Karunia yang Menakjubkan

Pada masa tuanya, JOHN NEWTON seringkali menyebutkan dirinya sebagai “Orang Afrika penghujat Tuhan” dan memang itulah dia sebenarnya.

Ibunya adalah seorang Kristen yang saleh yang berusaha untuk membesarkan anaknya sesuai dengan Alkitab pada abad ke 18 di Inggris. Namun wanita itu meninggal pada saat John baru berusia 7 tahun. Dengan demikian, pendidikannya menjadi tanggung jawab ayahnya yang sering melakukan perjalanan di laut dan ibu tirinya ternyata tak dapat meneruskan pendidikan spiritualnya. Di dalam mengadakan perjalanan laut dengan ayahnya membuatnya jatuh hati terhadap laut, sehingga ia pada akhirnya menjadi seorang kapten kapal. Namun justru kehidupan di luar tugasnya sehari-hari itulah yang membuat kekaguman sejarah.

Ia gemar sekali melibatkan diri dalam pesta-pesta yang berkelebihan dan kotor serta suka sekali ikut menghujat dan mengutuk Tuhan yang memang merupakan kebiasaan dari kehidupan di kapal dan dermaga. Dan ia senang sekali mengejek mereka yang ingin hidup beda, serta berusaha keras menyeret mereka kepada jalan yang sedang ia tempuh.

Memang kadang kala ia rindu untuk kembali kepada pendidikan Ibunya pada masa kecilnya dan berusaha mengubah sifatnya yang buruk itu. Namun setiap kali ia gagal dan ia kembali pada kehidupannya yang tak bernilai dan tanpa tujuan itu.

Bagian “Afrika”nya dari kehidupan John yang penuh dengan hujatan Tuhan adalah waktu ia menemukan dirinya terlibat di dalam perdagangan budak ketika ia masih muda.

Dalam perjalanan laut dari Afrika ke Inggris kapalnya hampir tenggelam karena diserang sebuah badai yang dahsyat. Ia menjadi begitu takut sehingga ia memohon kepada Tuhan agar ia diselamatkan, sambil membolak-balikan ayat-ayat Alkitab ketika kapalnya diombang-ambingkan dengan hebat di lautan Atlantik Utara.

Sebagai hasil dari pengalaman ini, John di kemudian hari menganggap kejadian itu sebagai titik konversinya dari hidup spiritualnya. Seluruh kehidupannya berubah. Ia meninggalkan hidupnya yang penuh dengan hujatan dan kecerobohan walaupun ia masih tetap terlibat dalam perdagangan budak sampai beberapa tahun kemudian. Pada perjalanan laut ke Afrika kemudian, ia terpaksa mengakui kehidupan spiritualnya yang serba dangkal dan sekali lagi berseru kepada Tuhan untuk pengampunan demi kasih setia-Nya. Setelah kembali ke Inggris, John Newton mulai dipengaruhi oleh khotbah-khotbah dari hamba-hamba Tuhan seperti George Whitefield dan Charles Westley. Tak lama kemudian ia sama sekali meninggalkan perdagangan budak dan kehidupan lautnya.

Seandainya kita dapat mewawancarai John Newton pada suatu masa dari hidupnya ketika ia masih berumur belasan tahun – misalnya ketika ia dipukuli dan diperlakukan seperti seekor anjing, dipaksa harus makan dari lantai oleh isteri seorang pedagang budak di Afrika yang kejam dan membeli John sebagai budaknya – kemudian bertanya kepadanya, “John, apakah tujuan hidupmu?”, kukira ia tak mudah untuk menjawabnya dengan positif karena hidupnya yang penuh dengan hujatan Tuhannya dan hidup moralnya yang bobrok dan kosong.

Namun, bila kita menemuinya pada kemudian hari, yaitu di pertengahan dari abad ke-18, kita akan menemui seorang John Newton yang hidupnya dipenuhi dengan tujuan yang positif. Ia belajar sendiri bahasa Ibrani, Yunani, Syria dan teologia dalam waktunya yang senggang. Kemudian ia ditahbiskan, setelah menjadi murid dan mempraktekkan berkhotbah, sebagai seorang hamba Tuhan di Gereja Anglikan. Khotbah-khotbah dan nasihat-nasihatnya demikian berharganya, sehingga banyak hamba-hamba Tuhan datang dari tempat-tempat yang jauh untuk mendengar John Newton berkhotbah atau meminta nasihatnya. Nasihatnya kepada William Willberfordlah, seorang anggota Parlemen, agar ia tetap berada di dalam Parlemen untuk memperjuangkan menghapuskan perbudakan sehingga akhirnya berhasil.

Dengan William Cowper, seorang penyair, Newton menerbitkan Olney Hymns pada tahun 1770, sejilid buku yang membuat banyak puji-pujian yang amat terkenal dalam sejarah Gereja. Lagu ciptaan John Newton “Amazing Grace” mungkin merupakan pujian yang paling terkenal dan disenangi oleh para orang percaya dan bukan orang percaya.

Adakah orang yang dapat menyangkal, bahwa hidup John Newton mempunyai tujuan yang mulia sejak ia meninggalkan keterlibatannya dalam perdagangan budak kemudian menyerahkan diri secara mutlak ke dalam Kristus dan menjadi hamba Tuhan? Juga pengarang puji-pujian, seorang penasihat untuk para pemimpin negara dan seorang teolog? Di manakah John Newton melintasi garis dari kehidupan yang tanpa tujuan dan kosong dan kemudian mempunyai kehidupan penuh dengan tujuan yang mulia? Dan di manakah Tuhan dalam proses ini? Apakah Tuhan mempunyai maksud bagi John Newton setelah ia meninggalkan kehidupannya di laut dan memilih kehidupan sebagai seorang hamba Tuhan? Ataukah Tuhan sudah terlibat di dalam kehidupannya sebagai seorang Afrika penghujat Tuhan sejak dari mula?

Suatu cara yang baik untuk mempertimbangkan pertanyaan ini adalah dengan menggunakan John Newton sebagai contoh untuk direnungkan: Bagaimana John Newton, sebagai pengarang lagu ini dapat menulis:

Amazing grace! How sweet the sound,That saved a wretch like me!

I once was lost but now am found,

Was blind but now I see.

(Kasih karunia yang menakjubkan, betapa manis suaranya,

Telah menyelamatkan seorang celaka dan malang seperti diriku

Aku pernah hilang, namun kini aku diselamatkan

Pernah buta, namun kini aku bisa melihat)

Padahal sebelumnya, ia adalah penghujat Allah dan seorang pedagang budak?

Kemampuannya untuk menyelam dalam-dalam di lautan kasih karunia yang menakjubkan dari Tuhan, hal itu hanya dapat dilakukan karena sebelumnya ia telah menyelam di kedalaman dari dosa dan kehinaan.

Dr. Robert A. Schuller

14 November 2011

Kisah Dari Negeri Bangladesh

securedownload

Sekelompok kecil orang percaya berjalan menuju bagian dalam hutan-hutan Bangladesh mencari tempat berteduh, beristirahat. Beberapa dari mereka berdarah-darah, lebam dan kelaparan. Banyak dari mereka diserang dan diusir keluarga dari desa-desa mereka. Mereka telah kehilangan segalanya, walaupun demikian mereka menemukan lebih banyak sukacita dan hidup kekal dalam kristus.

Ketika orang-orang percaya yang berani ini melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan diri, suatu jaringan orang-orang Kristen Bangladesh secara diam-diam mencari mereka dan membawa mereka ke  tempat pengungsian yang aman dimana mereka ke tempat pengungsian yang aman dimana mereka mendapatkan pengobatan, istirahat, kelas Alkitab dan mungkin pelatihan-pelatihan. Setelah beberapa bulan, orang-orang percaya ini akan kembali ke daerah-daerah yang menentang Kekristenan, disegarkan dan siap untuk menjangkau yang terhilang bagi Yesus.

KDP pergi mengunjungi orang-orang Kristen seperti mereka dalam persembunyiannya, untuk menguatkan dan mencari cara baru untuk menolong mereka. Kami mendengar saat mereka menceritakan kisah mereka dan kami dikuatkan saat salah seorang dari mereka mengatakan kepada kami, “Allah membuat kami berani.” Sekarang kami membagikan kisah mereka dengan Anda.

Di Dalam Dekapan Yesus

Kami duduk bersama “Aban” dan “Momina” di kursi plastik putih, sebuah kipas menghembuskan angin di dalam ruangan yang panas mencekik. Anak-anak mereka menunggu dekat mereka, memerhatikan kami dengan mata mereka yang lebar kecoklatan. Aban berbicara dengan suara yang pelan, menceritakan bagaimana ia menemukan Yesus.

Aban mengalami kekosongan yang lama di dalam iman “Agama lainnya”, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengisi kekosongan itu sampai suatu hari ketika seorang pemberita kabar sukacita memberikan kepadanya sebuah buku yang berjudul “Domba Yang Hilang.” Buku itu bercerita mengenai bagaimana Allah sang Bapa mencari dombaNya yang hilang, orang-orang “Agama lain”. Gambaran Allah sang Gembala berjalan melalui tempat-tempat yang sepi dan mencari seekor domba yang hilang, terngiang dalam pikiran Aban. Ia dengan sepenuh hati mempersembahkan hidupnya kepada Kristus.

Keluarga besar Aban menghina imannya dan mencapnya “kambing hitam,” yang telah mengotori keputihan atau kesucian dedikasi keluarga pada “Agama lain”. Ketika ditanya mengapa seorang “Agama lain” sebaiknya menjadi Kristen, Aban menjawab, “Sebagai orang Kristen kamu mungkin mengalami kesulitan-kesulitan, tetapi itu sebanding dengan keselamatan jiwamu.” Selama ia berkhotbah, banyak orang-orang menerima Kristus. Walaupun demikian tidak semua mau mendengarkan Injil – Aban telah diusir keluar dari desa-desa sebanyak 22 kali di waktu yang berbeda.

Walaupun istri Aban yang “Agama lain” untuk sementara menerima iman barunya, tetapi akhirnya istrinya menyerah karena tekanan dari teman-teman dan keluarga untuk kembali kepada “Agama lain” dan menceraikan Aban. Aban tetap setia kepada panggilannya, mengunjungi dari satu desa ke desa yang lain. Ia selalu bertanya kepada setiap orang yang ia temui, “Pernahkah kamu mendengar mengenai Yesus … Seorang yang berkuasa? Kita dapat menemukanNya di dalam kitab suci kita. Jika kamu bersedia, aku akan meneruskan dan menceritakan lebih lagi tentang Dia.” Ia menceritakan pengalaman pribadinya bersama Kristus dan membagikan buku-buku, traktat-traktat dan Alkitab.

Seorang yang menerima buku dari Aban adalah Momina. Sekarang, Momina adalah istri Aban, ia menceritakan kepada kami bagaimana sebagai seorang gadis muda, ia telah memperoleh semua hal yang ia butuhkan: seorang suami, keluarga yang indah dan pekerjaan yang menjanjikan. Aban bertemu dengannya tepat setelah kehidupan bahagianya berantakan.

Aban melihat Momina, sedang menangis di rumah. Sambil meneteskan air mata, Momina berkata kepadanya, “Ayahku sedang sakit dan suamiku menceraikan aku. Bagaimana aku dapat bertahan?” Aban menawarkan kepadanya sebuah Alkitab.

Momina dengan segera menerima Alkitab tersebut, dan akhirnya ia memutuskan untuk mengikut Kristus. Beberapa anggota keluarga dan teman marah. Mereka mulai menanyakan mengapa keluarganya masih terus memberi “orang murtad ini” tempat untuk tinggal.

Suatu hari ketika Momina bermain-main dengan anak perempuannya yang berumur 8 tahun di teras rumah, saudara laki-lakinya menghampirinya dalam keadaan naik pitam, menyerangnya berkali-kali dengan tongkat bambu yang tebal, mematahkan tulang rusuknya. Anak perempuannya terlempar dari pelukannya saat ia jatuh pingsan. Momina tersentak bangun oleh dinginnya siraman air di wajahnya dan lebih banyak pukulan. Sepupunya memukulinya dengan sebuah tongkat. “Kami mendidikmu,” katanya. “Kamu punya otak dan pikiran. Lalu mengapa kamu pergi dan menjadi orang Kristen? Kamu perempuan jalang.”

Selama satu bulan kemudian saat Momina terbaring memulihkan kondisinya, polisi desa mengunjungi kedua orang tuanya. “Kamu harus melakukan sesuatu mengenai anak perempuan Kristenmu,” kata mereka. “Jika kamu tidak bertindak, kami akan memenjarakanmu dan menyiksamu.” Para tetangga menyarankan kedua orang tuanya untuk meracuni Momina hingga mati.

Menghadapi tekanan dari semua pihak, kedua orang tuanya mengusirnya keluar dari rumah, bersama dengan anak perempuannya dan anak perempuan adobsinya yang berumur 3 tahun. Ketika ia pergi, saudara-saudara  laki-lakinya memperingatkan dia, “Kami tidak mengijinkan kamu kembali lagi ke sini. Jika kamu masih tertahan, kami akan menyerangmu, dan meracunimu dan kamu akan mati.”

Dengan tidak ada seorangpun yang dapat menjadi tempat curahan hatinya, ia meminta Aban jika Aban mau menikahinya dan menjaganya dan kedua anak perempuannya. Aban setuju dan mereka menjadi sebuah keluarga. Allah mulai menganyam dua individu yang terbuang ini menjadi satu permadani yang indah dipandang.

Karena banyak orang tahu bahwa Aban adalah seorang penginjil, mereka terus berpindah dari satu desa ke desa lainnya karena kemarahan orang-orang. Di suatu tempat dimana mereka tinggal, sang tuan tanah mengacungkan golok dan berkata kepada Momina, “Jika kamu tidak pergi, aku akan mencincang tubuhmu dan membuangnya ke selokan.” Kemudian, ketika Momina mengunjungi kedua orang tuanya, orang-orang desa yang marah membakar rumah mereka.

Sekarang Aban, sang gembala sedang mencari domba yang hilang, bepergian ke berbagai desa membagikan Firman Tuhan. Ketika kedua anak perempuan Momina merindukan ayah mereka, Momina menghibur mereka, dengan berkata, “Kita mengasihi Yesus, oleh karena itu ayah kalian pergi memberitakan kepada orang lain untuk mengasihi Yesus.“ Kadang-kadang, Momina berpegian bersama Aban, membawa anak-anak perempuannya. Ketika Aban bersaksi dengan yang pria, Momina bersaksi kepada yang wanita.

securedownload (1) Ketika kami sedang berbicara dengan Aban dan Momina, Momina duduk tidak tenang di kursinya. Ia masih merasakan sakit pada  tulang rusuknya yang retak, yang mana tidak ana pernah pulih setelah penyerangan yang dia alami empat tahun yang lalu. Kami berdoa bersama dengannya, dan ia dalam perawatan seorang dokter Kristen. Kami juga sedang membantu Aban dan Momina membeli sepetak tanah yang mana diatasnya akan didirikan sebuah rumah sederhana. Kedua roang ini, yang sangat menderita karena mengikut Kristus, mempunyai kasih yang tulus bagi mereka yang menyakiti mereka dan hasrat yang membara untuk mempersaksikan injil pada orang-orang di negara mereka. Ketika Momina berkata kepada kami, “Allah membuat kami berani. Yesus telah banyak menderita, maka aku juga perlu menderita di dalam hidup ini.”

Source:
The Voice Of The Martyrs
Kasih Dalam Perbuatan Edisi Maret – April 2008

10 November 2011

Apa yang tidak kamu pikirkan, itulah yang Tuhan berikan

Menjadi guru bukanlah cita-cita saya sejak kecil. Tidak! Bahkan saya tidak punya cita-cita apapun. Hanya ibulah yang mendorong kami anak-anaknya yang berjumlah 6 orang kelak harus dapat bekerja mencari nafkah sendiri, tidak bergantung pada suami. Ibuku seorang janda yang tidak mempunyai keahlian apapun, bahkan bekerja di sawah peninggalan ayah.

Kami hidup bergantung pada pensiun ayah yang kecil dan hasil sawah serta pekarangan. Itulah sebabnya Ibu menyuruh saya melanjutkan sekolah di SGA setelah saya selesai SMP karena biayanya lebih murah dari pada sekolah SAA dimana kakak saya bersekolah dan saya juga sudah diterima di sana.

Belajar 3 tahun di SGA saya jalani dengan hati yang senang dan nilai-nilai saya juga baik, tetapi saya tidak membayangkan akan menjadi guru. Pokoknya saya hanya senang bersekolah. sampai akhirnya saya lulus dan mendaftarkan ke perguruan tinggi di IKIP dan mengambil jurusan sejarah antropologi (SA) karena saya senang pelajaran sejarah. Masih teringat saat mendaftaran, ada mahasiswa petugas pendaftaran bertanya-tanya, ”Mbak, kok tidak masuk jurusan bahasa Inggris?”. Saya jawab, ”Tidak, saya tidak senang”. Padahal nilai bahasa Inggris saya 8, sedangkan nilai sejarah hanya 7.

Sampai akhirnya saya lulus tes dan diterima. Lalu masalahnya timbul, yaitu untuk bisa masuk harus membayar saat itu (tahun 1964) Rp 15.000,00. Itu jumlah yang banyak. Untuk biaya sekolah kakak, kami sudah menjual rumah, untuk biaya sekolah adik kami sudah menjual sebidang sawah dan untuk membelikan tanah yang ditempati kakak satunya lagi ayah sudah menjual sebidang sawah juga. Saya tidak tega bila keluarga mau menjual sawah lagi, di tambah dengan ingatan biaya hidup dan kuliah di kota, akhirnya saya memutuskan tidak melanjutkan studi di IKIP sejarah tersebut. Sungguh itu berat sekali rasanya. bertahun –tahun saya merasa sedih akan hal itu.lalu saya mendapat alternatif untuk melanjutkan sekolah di PGSLP dan mendapat ikatan dinas. Jadi biayanya ringan, bahkan saya dapat membantu meringankan beban ibu yang masih harus menghidupi 4 orang adik-adik saya.

Pertama-tama saya memilih jurusan bahasa Indonesia, karena saya suka sekali membaca buku-buku sastra. Waktu masih di SD dan SMP, waktu libur saya habiskan untuk mencari pinjaman buku-buku bacaan. Setelah 1 minggu di jurusan B Indonesia, saya merasa tidak betah suasananya. Kebetulan ada mahasiswa jurusan B Inggris yang juga tidak cocok di sana, jadilah kami bertukar jurusan. Walhasil, saya masuk jurusan B. Inggris dan belajar selama 2 tahun. Padahal dulu saya tidak mau masuk jurusan B. Inggris karena tidak senang. Tahun 1966 saya lulus dengan nilai yang baik dan kemudian diterima mengajar di sebuah SLTP negeri sebagai tenaga honorer. Saat itu transportasi belum semudah sekarang, saya harus naik kereta api atau bersepeda sejauh kurang lebih 20 km, lalu saya merasa capek dan kebetulan ada teman yang mengajar di sebuah SLTP Yayasan Kristen yang membutuhkan guru B. Inggris. Jadilah saya tinggalkan SLTP Negeri tadi yang sudah menyuruh saya mengumpulkan berkas – berkas pengangkatan pegawai negeri itu dan memulai mengajar di SLTP Yayasan Kristen di sebuah kota kecamatan sebagai guru tetap yayasan.

Bulan-bulan pertama mengajar, saya merasa sulit menyesuaikan diri dan keadaan keluarga kami yang tidak harmonis serta beban ekonomi yang berat membuat saya mengalami depresi dan tidak mempunyai keinginan apapun. Saya bahkan tidak masuk mengajar selama 3 bulan. Tetapi herannya, pimpinan sekolah dan pengurus yayasan tidak mengeluarkan saya, bahkan waktu saya masuk kembali gaji saya masih tetap diberikan. Saya berterima kasih sekali akan hal itu. Tetapi lagi-lagi saya mengalami depresi di tahun berikutnya. Kemudian setelah sembuh saya mengikuti katekisasi dan dibaptis pada 24 Desember 1968; itu terjadi 40 tahun yang lalu.

Kemudian kehidupan menjadi menyenangkan dan saya mengalami hari-hari mengajar di SLTP Kristen dengan penuh semangat. Sekolah mengalami kemajuan pesat dan menjadi sekolah favorit di kota kecamatan tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, pemerintah mendirikan sekolah-sekolah negeri sehingga sekolah-sekolah swasta mengalami kemunduran. Disamping itu di dalam intern sekolah sendiri banyak terjadi intrik-intrik sehingga suasana belajar mengajar menjadi tidak menyenangkan. Suasana kekristenan tidak dapat dirasakan di sekolah. Dan saya berusaha mencari tempat bekerja yang lain. Tetapi semuanya sia-sia saja.

Saya sudah putus asa dan tidak mempunyai bayangan pindah kemana bila sekolah tutup. Tetapi lagi-lagi saya merasakan Tuhan bekerja untuk saya. SLTP Negeri di dekat meminta saya mengajar di sana dan itu adalah hal yang tidak menjadi aangan-angan saya karena SLTP tersebut menjadi saingan SLTP Kristen tempat saya mengajar. Jadilah saya pindah ke SLTP Negeri itu karena SLPT Kristen sudah tidak dapat dipertahankan lagi. “Apa yang tidak terpikirkan oleh saya, itulah yang Tuhan berikan”. Bertahun-tahun saya mencari tempat pindah mengajar tidak berhasil, tetapi Tuhan menyediakannya buat saya. Dan demikianlah saya menghabiskan hari-hari mengajar saya di SLTP Negeri tersebut dengan senang dan saya satu-satunya pengajar yang beragama Kristen di sekolah tersebut sehingga saya berpikir memang Tuhan menempatkan saya di sekolah tersebut dengan tujuan tertentu.

Kini saya sudah pensiun tetapi saya boleh merasa bersyukur karena banyak anak-anak SMP maupun SMA yang datang untuk les B. Inggris di rumah. Tuhan sendiri yang memilihkan apa yang harus saya pelajari sehingga semuanya itu berguna bagi kehidupan saya. Saya tidak perlu khawatir akan kehidupan saya, karena saya tahu Tuhan merencanakan yang terbaik untuk hidup saya.

Sukartinah Joko Susmono Hadi
GKJ Palihan
Kragon II, Palihan, Temon, Kulon Progo, Yogyakarta, 55654

09 November 2011

Kentucky Fried Chicken

Harlan dilahirkan pada tanggal 9 September 1890 dalam keadaan yang susah di suatu tempat yang sederhana di Henryville, Indiana. Ayahnya bekerja di tambang batu bara Kentucky untuk dapat menghidupi sebuah keluarga yang terdiri dari tujuh jiwa. Ketika Harlan berusia enam tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan pakaian. Dengan demikian Harlan yang adalah anak tertua mendapat tugas mengawasi adik-adiknya yang berjumlah lima orang dan memasakkan mereka.

Ketika ibunya menikah lagi Harlan ternyata tidak cocok dengan ayah tririnya sehingga ia memutuskan untuk keluar dari rumah pada usia dua belas tahun. Selama dua puluh lima tahun setelah itu ia hidup dengan mencari pekerjaan lepas pekerjaan tanpa kenal lelah, juga pernah gagal berulang kali. Dengan bimbingan dan pendidikan yang sangat terbatas ia berusaha menghidupi dirinya sedapat mungkin. Ia pernah bekerja sebagai seorang pembantu petani, juga sebagai konduktor trem kota, pernah masuk dinas militer Amerika di Kuba. Ia pernah bekerja sebagai murid seorang pandai besi, seorang penjaja keliling barang-barang, seorang kapten di sebuah kapal tambang. Seorang agen asuransi dan pernah menjadi manajer dari perusahaan Standard Oil. Selain itu ia juga belajar ilmu hukum melalui korespondensi. Ditengah-tengah keberhasilannya mencari nafkah, ia menikah pada usia delapan belas tahun dan dikaruniai seorang anak perempuan.

Kemudian ia menemukan sesuatu yang sesuai dengan bakatnya. Pada tahun 1930 ditengah zaman krisis ia bekerja sebagai manajer di sebuah bengkel di Kentucky. Sebagai sambilannya ia buka warung makan. Ia jual bensin tetapi juga jual masakan dan sekaligus menjalankan kas register. Dan itu semua menjadi keberhasilannya. Mungkin inilah hasil dari pelatihannya di dapur ketika masih kanak-kanak saat ia harus mengawasi adik-adiknya dan memasakkan mereka. Apapun alasannya semua pelanggan di warung makannya menyukai ayam goreng buatan Harlan.

Kolonel Sanders mulai keliling Negara Amerika untuk mendemontrasikan kepada para pemilik restoran masakan ayam goreng dengan cara yang khas dan dengan citarasa yang agak pedas. Dengan harga lima sen untuk satu ekor ayam yang digorengnya, ia mengajarkan resep itu kepada setiap orang yang mau belajar dari dia. Dengan demikian konsep waralaba telah lahir sejak itu. Pada tahun 1952 waralaba yang pertama diberikan pertama kali kepada sebuah restoran di Utah. Ada seorang yang cerdik memberi gagasan agar masakan ayam goreng Sanders di beri nama “Kentucky Fried Chicken“ dengan logo seorang kolonel dengan seragam serba putih.

Ketika tahun 1955 di mana segala sesuatu kelihatannya berjalan lancar tiba-tiba ada pembangunan sebuah jalan raya antar Negara bagian yang melewati Kentucky bagian Timur sampai ke kota kecil Corbin. Sejak itu motel dan restoran milik kolonel Sanders terpaksa tutup untuk beberapa lama. Setelah peresmian jalan tersebut, ia menjual semua asetnya untuk melunasi hutang-hutangnya. Kolonel Sanders pada usia enam puluh dua tahun justru jatuh miskin akibat dari tergusurnya tempat restorannya.

Pada saat ia menerima cek dari Social Security untuk pertama kalinya sebesar $ 105, ia merasa terhina karena terdaftar sebagai orang miskin. Sejak itu ia bersumpah untuk tidak mau menyerah kalah. Ditemani oleh istri keduanya ia mengolah pelbagai macam bumbu untuk masakan ayam goreng lalu memasukkan dalam kantong-kantong untuk dijual. Ia berkeliling ke semua negeri dengan alat pressure-cooker-nya. Dalam waktu lima tahun sudah ada empat ratus rumah makan yang menjual ayam goreng dengan bumbu yang dibuatnya. Pada tahun 1964 sudah bertambah menjadi enam ratus gerai.

Pada tahun itu sang Kolonel berumur tujuh puluh lima tahun. Ada sekelompok investor menawar Kentucky sebesar dua juta US dolar untuk waralaba. Sang Kolonel setuju lalu menjualnya dengan catatan logo tetap dipertahankan. Perusahaan itu berganti tangan beberapa kali sejak 1964, namun sampai hari ini lebih dari satu milyar masakan KFC telah terjual di delapan puluh Negara setiap tahun
Sanders adalah orang yang telah menghabiskan sebagian hidupnya yang terbaik dengan tanpa kenal lelah menghadapi tantangan dan halangan. Ia berhasil mengatasinya dan mencapai sukses pada usianya yang ke enam puluh lima tahun.

Ada beberapa alasan mengapa kisah Harlan Sanders ini layak di hargai dan diceriterakan. Memang ini bukan kisah rohani di mana ada seorang yang bertobat lalu diselamatkan dalam usia lanjut.
Pertama, kisah ini mengingatkan kita bahwa hidup ini memang berat, kejam dan sukar. Kita mungkin lupa akan kisah di Taman Eden, dimana Allah mengutuk bumi ini karena dosa Adam dan Hawa : “….. dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri…. akan menjadi makananmu, sampai engkau kembali menjadi tanah….. (Kej 3:17-19)

Kedua, hidup ini penuh dengan rintangan. Ini sedikit berbeda dengan “Keras”. Keras berarti sukar untuk dimulai; susah untuk mencari jalan yang benar. Harlan mengalami dalam hidupnya. Rintangan berarti setelah kita menemukan jalan akan ada lubang-lubang dan kesukaran-kesukaran yang tersembunyi, bahaya-bahaya yang mengancam di sepanjang perjalanan hidup kita. Bila kekerasan hidup mengakibatkan kelelahan, maka “rintangan“ mengakibatkan hilangnya harapan, bahkan putus asa.

Ketiga, yaitu tidak pernah terlambat. Harlan Sanders menemukan sukses ketika sudah berusia lanjut. Dengan demikian benarlah apa yang di katakan dalam Alkitab : ”Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal 6 : 7)

“Walking in Your own shoes”
Dr Robert A.Schuller.

07 November 2011

Tuhan Menenun Kembali Kakiku Yang Hancur

Milka adalah seorang janda beranak tiga yang sehari-harinya berjualan minuman dan makanan sederhana di sebuah kantin sekolah. Sampai pada suatu hari, sebuah kejadian yang sangat mengenaskan menimpanya. Ia terlindas oleh sebuah bis hingga kedua kakinya hancur. Rusuknya pun patah sehingga menusuk paru-paru dan hatinya.

Kejadian itu seperti tidak terduga karena tiba-tiba sudah ada sebuah bis yang langsung melintas di depan matanya dan menabrak Milka sekelebat saja. Milka terpental dan saat itu dia tidak menyadari kalau sebenarnya tulang rusuknya menikam levernya, sehingga bagian dalam tubuhnya rusak. Milka terpental menyerempet ke arah tembok dan terpental masuk ke dalam kolong bis. Milka terseret dan terlempar sekitar 30 m ke depan.

"Kejadian itu hari Selasa, tanggal 6 Juni tahun 2006. Saat itu saya mau pergi doa ke gereja. Saat itu saya mau masuk ke terminal, saya jalan seperti biasa. Ketika itu sebenarnya perkiraan saya bis itu masih jauh, tapi tiba-tiba bis itu sudah di depan badan saya dan menyerempet saya. Di belakang saya ada pagar tembok, saya menempel di tembok, dan bus itu menyambar begitu kuat ke badan saya. Saya terjatuh di bawah kolong bus, dan saya terseret samp ai ke depan sekitar 30 m. Saya sempat bilang "Yesus!!", dan sekelebat kepala saya terhindar dari hantaman bis. Saya kira kalau tidak ditolong Tuhan pastilah kepala saya yang tersambar bis, mungkin sudah gegar otak dan bisa saja kepala saya hancur. Ternyata tulang belikat saya sudah putus namun saya tidak menyadarinya sama sekali. Saya masuk ke bawah kolong bis, terseret beberapa meter dan kaki saya tergilas oleh bis itu. Saat itu saya antara sadar dan tidak sadar, ya itu namanya kekuatan Tuhan. Saat itu saya masih bisa berbicara, saya masih bisa melihat keadaan kaki saya. Kondisi kaki yang tergilas itu sudah copot, hancur, daging terbelah dua, jadi dagingnya sudah lepas, jadi seperti terbuka kayak sandal, dan cuma menempel pada ujung jari," kisah Milka mengenai kejadian tragis yang dialaminya.

Kejadian itu spontan membuat semua orang yang melihat kejadian tersebut menjerit histeris. Mereka sudah mengira pastilah orang yang tertabrak itu meninggal. Ketika mereka melihat Milka yang terseret, mereka lebih shock karena daging kaki Milka sudah terlepas dan mengeluarkan banyak darah, ibaratnya tinggal menggantung di satu bagian sisi jarinya. Sungguh pemandangan yang mengenaskan.

Puji Tuhan ada orang yang iba dan membantu Milka dan segera membawanya ke rumah sakit. Milka langsung mendapat pertolongan di ruang UGD, dan saat itu dokter mengatakan harus diamputasi. Tapi Milka menolak hal itu dan percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan dia.

Pupung, adik Milka yang menerima kabar kecelakaan itu tidak dapat mempercayai nya. Pupung hanya berpikir, orang kecelakaan kok masih bisa menelepon? Melalui telepon itu Milka hanya mengatakan kalau dirinya sudah ditabrak bis dan diseret. Dengan menaiki ojek, Pupung pun segera pergi ke rumah sakit Pertamina, karena Pupung harus segera menandatangani surat ijin pengoperasian kaki Milka. Sesampainya di rumah sakit, Pupung hanya mendapati Milka yang sudah terbaring bersimbah darah di rumah sakit. Pupung benar-benar tidak habis pikir, bagaimana dengan kondisinya yang seperti itu, Milka masih bisa menelepon mengabari keadaannya kepada Pupung dan seorang kakaknya yang lain.

Waktu semakin mendesak dan Milka pun dipersiapkan untuk dioperasi. Namun sebelum itu, Milka sempat diperiksa sekali lagi oleh tim dokter yang menanganinya. Ternyata dari hasil pemeriksaan tersebut, Milka mengalami luka trauma lain yang tidak hanya membahayakan kakinya tapi juga nyawanya. Karena dokter curiga dengan pendarahan hebat yang dialaminya, ada kemungkinan rongga perut atau abdomen Milka juga mengalami luka yang cukup serius.

Kalau membayangkan kondisi Milka saat itu, kakinya bagaikan kaki monster. Benar-benar menyeramkan, sudah tidak ada kulitnya dan yang tampak hanya gumpalan-gumpalan daging merah saja.

"Secara teoritis, pilihan terapi terbaik adalah amputasi. Bu Milka ini menurut kita pasien yang sangat kooperatif, sangat baik, sangat pasrah menyerahkan hidupnya ke dokter dan juga ke Tuhan," ujar salah seorang tim dokter yang menangani Milka.

Melihat keadaan Milka, Pupung sangat sedih. Karena secara manusia, kondisi Milka sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Dokter sendiri hanya bisa menyarankan Pupung untuk mendoakan Milka. Karena hanya doa yang bisa menyelamatkan, karena dengan kondisi seperti ini, Milka seharusnya sudah meninggal dunia.

Operasi penyelamatan berhasil. Milka telah berhasil melewati masa krisisnya. Saat menjaga sang kakak, Pupung teringat akan mimpinya. Beberapa malam sebelumnya Pupung bermimpi ia sedang membasuh kaki seseorang sampai bersih, tapi Pupung tidak tahu kaki siapakah itu. Namun saat di ruang UGD,  Pupung yang sedang teringat mimpinya sadar bahwa di dalam mimpinya ia sedang membasuh kaki kakaknya sendiri.

Saat mengevaluasi kaki Milka, dokter menemukan sesuatu yang luar biasa. Ujung-ujung jari kaki Milka memerah. Tim dokterpun semakin optimis kalau memang kaki Milka masih bisa diselamatkan. Dan tuntunan Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Saat tagihan rumah sakit selama Milka dirawat di rumah sakit hampir mencap ai 120 juta, Pupung bingung darimana mereka bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Namun Tuhan sudah mengatur semuanya. Ada sumbangan dari gereja 70 juta, dan keluarga juga menjual rumah sampai akhirnya seluruh biaya yang dibutuhkan dapat terlunasi. Pupung benar-benar tidak menyangka bagaimana uang sebanyak itu bisa Tuhan sediakan tepat pada waktunya. Pupung pun dikuatkan dan ia percaya apapun yang ia doakan mulai saat itu pasti akan terjadi sepanjang ia selalu dekat dengan Tuhan.

Iman Milka terbukti karena selama ini dia tetap mengucap syukur dalam segala kesakitan yang dia alami. Milka melewati 4 kali operasi, paru-parunya harus dilubangi karena terendam darah dan juga pemasangan pen.

"Tuhan yang saya rasakan itu memang luar biasa. Setiap hari jam 6 sore, dengan memak ai walkman, saya selau bernyanyi 'Semua Baik'. Samp ai kadang-kadang sakit di kaki yang menurut dokter bisa tak tertahankan, namun tidak saya rasakan," kisah Milka mengenang kejadian kecelakaan yang dialaminya.

Dari mukjizat yang terjadi, 2 tahun berlalu semenjak kecelakaan itu terjadi, Milka telah banyak mengalami kebaikan Tuhan. Terlebih lagi di saat ia dapat berjalan kembali dengan normal.

"Menurut kami berdasarkan pengalaman kedokteran kami selama 6 tahun di sini, kasus ibu Milka merupakan suatu hal yang fantastik. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana mekanismenya sampai bisa selamat seperti ini," ujar dokter yang menangani Milka.

"Itu suatu mukjizat. Karena kaki yang seharusnya dibuang, tetap dipertahankan. Jadi mukjizatnya ada dua, yang seharusnya mati tapi hidup dan hidupnya masih dengan kaki yang lengkap," ungkap dokter Nia yang juga menangani Milka.

Semua operasi yang dijalani Milka berhasil dan Milka benar-benar menyadari bahwa semua karena kebaikan dan campur tangan Tuhan dalam setiap kehidupannya. Milka tahu bahwa tanpa Tuhan tidak mungkin dia bisa kembali pulih melihat keadaan yang dideritanya akibat kecelakaan itu demikian parah. Sekarang Milka hanya bisa mengucap syukur terharu dan semakin bertekad untuk setia dalam mengikuti Tuhan karena kebaikan Tuhan sungguh nyata dalam hidupnya.

"Dia sangat luar biasa karena Dia sangat baik. Sampai saya bisa pulih lagi, saya bisa berjalan lagi. Dokter berkata kalau saya akan cacat, tapi Tuhan berkata tidak," ujar Milka haru penuh ucapan syukur. (Kisah ini sudah ditayangkan 31 Maret 2008 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Kesaksian : Lani Milka

Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Ikuti doa di bawah ini :

Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebag ai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!

03 November 2011

Materi Melimpah Belum Tentu Menjamin Kebahagiaan

Satu kesaksian menarik kami sajikan kepada pembaca tentang BAGAIMANA MENYIKAPI KRISIS EKONOMI seperti yang dialami oleh mantan orang terkaya Rusia, GERMAN STERLIGOV yang dikisahkan dalam harian JAWA POS ,Selasa,6 Januari 2009.
Benarlah apa yang tertulis dalam Alkitab :

-Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. (Amsal 15: 16.)
-Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan,sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaan itu. (Lukas 12: 15.)

Selamat membaca semoga menjadi berkat dalam menghadapi masa yang sukar ini.

Gelimang harta dan nama besar tak mampu mengantarkan German Sterligov menjangkau kebahagiaan. Pria 42 tahun yang pernah menjadi salah satu orang superkaya di Rusia itu kini malah hidup di pinggir hutan bersama keluarganya.

“Saya sekarang jauh dari krisis financial global seperti melanda para superkaya lain,” ujar Sterligov pada Daily Mail. Dia mengaku tak sepeser pun uangnya raib ditelan bumi.

Mantan penantang Vladimir Putin untuk berebut Kremlin I itu lantas bercerita tentang kabar temannya yang teler akibat diterpa krisis. Salah satunya bos klub sepak bola Inggris Chelsea, Roman Abramovich, yang dikabarkan rugi besar GBP 3 miliar. Kolega miliarder Rusia lain, Oleg Deripaska diperkirakan rugi sekitar GBP 10 miliar. Sementara itu orang kaya lain , Alisher usmanov, salah seorang petinggi klub sepak bola Inggris, Arsenal disebut-sebut kehilangan duit sebesar GBP 7,6 miliar.

Sterligov tak pusing akibat krisis berkat keputusan ekstrim yang diambilnya empat tahun lalu, yang sempat membuat dia dituding gila oleh teman-temannya. Kala itu, Sterligov dan isterinya, Alyona Sterligova, 41, menjual mansion tingkat empat dengan 20 kamar di Rublyovka, Moskow. Dia juga melego sebuah penthaouse mewah yang menghadap langsung ke patung Liberty di New York, berikut dua kantor di London dan pustnya di Moskow. Juga, melelang semua properti kekayaan, saham-saham dan surat berharga lainnya.

28 September 2011

Kesaksian Mr Welyar Kauntu

Good Morning,
Kesaksian Mr Welyar Kauntu
(composer ‘Walau Seribu Rebah’, and many more)

Beliau bercerita dalam satu kunjungan ke panti asuhan, saat pujian penyembahan dinaikkan, beliau memainkan gitar dan menaikkan satu pujian bersama-sama anak panti asuhan tsb. Siapa dong yang tidak kenal the golden voice nya beliau.

Tapi Tuhan menyuruh beliau untuk memperhatikan seorang anak di pojokan yang sedang berusaha ikut menyembah Tuhan. Anak ini gagu, bicaranya tidak jelas, mungkin penderita bisu tuli. Kalimatnya hanya terdengar seperti kumpulan huruf vokal saja tanpa konsonan

“aaa…uuua …iiiiaaa…aauu.” dengan nada yg fals habis.

Tapi dia menyanyi dengan segenap hati, bahkan airmata pun menetes membasahi wajahnya. Saat itu Tuhan berbicara kepada Mr Welyar Kauntu, “Di telingaKu apa yang anak ini nyanyikan sangat merdu sekali, jauh lebih merdu dari apa yang engkau nyanyikan”.

Bagi manusia, perkataan anak itu tidak dapat dimengerti. Tapi Tuhan sangat mengerti every single word. Di telinga manusia anak ini jelek sekali menyanyinya dan tidak ada merdu-merdunya sama sekali. Di telinga Tuhan suara anak ini merdu sekali. Karena ia menyanyi dengan hatinya.

Mungkin kalau ada kontes “Heaven Idol” dan Tuhan menjadi jurinya, anak ini akan menjadi pemenangnya. For the Lord sees not as man sees…

Mari kita belajar memandang seperti Tuhan memandang. Bagi Tuhan, 'hati' itu adalah segalanya. Bukan kemasannya. Jadi, pastikan hati kita beres di mata Tuhan dan sesama saat kita menyembah dan melayani Dia. Oleh sebab itu mari kita menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23).

Have a Peacefully day.
G0D Blessed you Abundantly

Kiriman : Simon Rivian

Gembala Yang Baik

Tak seoranpun yang pernah punya cita-cita terlahir dari rahim seorang wanita panggilan! Tapi itulah yang Umi harus dihadapi sebagai realita hidup. Dengan bantuan dukun kampung, proses kelahiranpun dilakukan, saat itu ibunya masih belum mampu membayar uang kontrakan, maka Umi terpaksa lahir di rumah bordil. Ibunya hanya gadis desa yang tertipu oleh bujuk rayu seorang pemuda, dan saat tahu wanita desa itu hamil, lelaki itu pergi begitu saja.

Umi bertemu Tuhan Yesus secara pribadi, di saat Umi nekat bunuh diri karena tidak mampu lagi menahan hinaan dari teman-teman sekolah dan para tetangganya. Predikat sebagai anak seorang pelacur, membuatnya sulit diterima di masyarakat, bahkan ketika dia pergi ke gerejapun orang memandang dengan rasa jijik. Ada keinginan Umi untuk lari, tapi ke mana? Dia tidak punya saudara dan belum mempunyai ijasah yang cukup untuk bekerja. Kalau dia pergi, artinya dia harus berhenti sekolah, padahal tiga bulan lagi dia akan mengikuti ujian akhir SMU. Dan, jika pergi, bagaimana dengan Ibunya? Dulu sebelum kenal Tuhan Yesus, Umi tidak tahu kemana harus mengadu! Tapi kini Umi tahu, meskipun tak ada orang yang peduli padanya tapi dia punya Yesus. Dia mencoba bertahan, dan berharap suatu saat ibunya siap untuk meninggalkan pekerjaannya serta memulai hidup yang baru. Umi tahu, Tuhan Yesus tidak akan mengecewakan kerinduannya itu… Tuhan ijinkan kita hidup di antara serigala yang jahat dan kelaparan. Bagaimana mungkin seekor domba mampu melawan serigala, jika hanya bermodalkan kekuatannya sendiri? Di saat dalam bahaya, siap diterkam serigala jahat, maka yang dilakukan oleh domba adalah “mengembek”, dengan harapan suaranya terdengar oleh sang Gembala; atau jika masih ada kesempatan untuk menyelamatkan diri, maka si domba akan berlari sekencang-kencangnya! Tapi INGAT! Domba tidak akan pernah berlari menuju orang yang BUKAN GEMBALA-nya, berlari ke seseorang yang tidak dia kenal. Domba mengenal suara Gembalanya. Saat melihat dombanya dalam bahaya, maka si Gembala akan turun tangan untuk menyelematkan si domba dan mengusir serigala yang jahat itu. Sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemiik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai beraikan domba-domba itu.(Yoh 10:12). Kitalah domba itu, dan Yesus adalah Gembalanya. Tuhan Yesus mengijinkan kita berada dalam pergumulan, dalam kesesakan untuk membuat kita berharap domba yang mengembek saat serigala datang, dan berlari mencari Gembalanya. Nasib kita mungkin lebih baik dari Umi, mempunyai keluarga, punya pendidikan yang baik, punya pekerjaan yang baik, bahkan punya kehidupan materi dan sosial yang lebih dari cukup. Tapi hidup kita seperti domba di tengah-tengah serigala.Kita menjadi domba yang tidak mengenal siapa Gembalanya. Kita mengembek ke sana-kemari, kita berlari ke sana kemari, TABRAK SANA-TABRAK SINI, dan karena lelah dan PUTUS ASA, kita STOP pada Gembala yang salah. Sahabat, mari kita sama-sama belajar untuk mengenal Gembala kita yang Agung! Jangan sampai, ketika masalah datang, kita lari ke Gembala yang salah, yang membawa kita semakin jatuh dalam jurang yang dalam. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku (Yoh 10:14). Akulah gembala yang baik, Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. (Yoh 10:11)

Kau bukan Tuhan, yang melihat rupa. Kau bukan Tuhan, yang memandang harta. Hati hamba yang slalu Kau cari, biar Kau temukan di dalamku. Slama kuhidup, kumau menyembah-Mu. Sbab Engkau sangat berarti bagiku. Yang terbaik, yang ada padaku, kupersembahkan kepada-Mu…Yesusku.

21 August 2011

The Passion Of Jim Caviezel

clip_image002

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Ini Kesaksiannya,…

JIM CAVIEZEL adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film-film yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimilikinya (sebelum The Passion) adalah sebuah film perang yang berjudul “The Thin Red Line”. Itupun hanya salah satu peran dari begitu banyak aktor besar yang berperan dalam film kolosal itu.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

clip_image002[6]“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.”

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

23 February 2010

Ia Menjawab Doa, Bahkan Sebelum (sempat) Berdoa

Percayakah Anda dengan pernyataan saya di atas? Jika tidak, izinkan saya berbagi mengenai dua moment terakhir yang terjadi dalam hidup saya.

Senja itu hujan rintik-rintik membuat jalanan licin. Ayah saya berusia limapuluh sembilan tahun namun masih kuat mengendarai motornya, dan senja itu ia membonceng saya. Rumah saya terletak di pinggiran Bandung dengan jalanan sulit meliputi dua tanjakan curam, yang selama sepuluh tahun terakhir ini tidak menawarkan masalah apa-apa pada ayah saya, sampai senja itu.

Entah karena ban motornya yang gundul, entah karena jalan licin yang baru terguyur hujan, yang pasti di tikungan kedua, ayah saya kehilangan kendali akan motornya, dan motor itu jatuh ke arah kanan.

Saya bukan perempuan yang bisa bereaksi cepat jika ada sesuatu yang terjadi. Pada saat kedua anjing saya berkelahi dan yang satu mencakar bola mata yang lain (sampai tergantung keluar seperti film kartun), saya cuma bisa menangis melihatnya sementara suami saya langsung menelepon dokter hewan kami. Saya juga tidak pernah berlatih karate, dan terus terang bukan penggemar olahraga, sehingga sampai saat ini saya masih terheran-heran apa yang menyebabkan saya bisa bereaksi begitu cepat, tangkas, dan tepat.

Pada saat motor ayah saya oleng ke kanan (saya menggunakan rok sehingga posisi duduk saya miring), ayah saya terkena akibat terlempar ke kiri, tapi dengan posisi seperti harimau mengaum dengan kedua tangannya terangkat ke atas. Ia tidak bisa menahan gravitasi bumi yang menariknya dan didepannya adalah pohon tinggi serta benteng rumah orang. Tidak ada alternatif yang lain. Entah keningnya akan menghantam pohon, atau dinding. Tinggal pilih saja.

Ayah saya punya sejarah stroke dua kali. Jika kepalanya terbentur keras seperti itu saya bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Dan kejadian itu berjalan sangat cepat dalam hitungan tiga sampai lima detik.

Anehnya, bahkan sampai saat ini, saya masih bisa melihat kejadian itu di depan mata saya, karena saya menyaksikannya dalam adegan slow motion, benar, seperti ada remote kehidupan yang tombol slow motion nya ditekan. Saya masih bisa mengingat gerakan ayah saya yang seperti harimau mengaum siap menerkam pohon atau benteng rumah orang di depannya.

Dan saya, perempuan yang tidak pernah bereaksi cepat kecuali jika adegan hidup adalah rutinitas yang selalu berulang setiap hari, melompat turun dari motor yang oleng ke kanan, dan dengan gagah berani (sambil menyandang tas berat di bahu kanan), mencengkeram jaket ayah saya yang tebal, dan entah kenapa, punya kekuatan untuk menarik ayah saya sehingga tidak jadi menerkam pohon di depannya.

Cuma tiga sampai lima detik.

Tak ada waktu untuk berpikir. Tak ada waktu untuk berdoa. Tak ada waktu bahkan untuk memanggil nama Tuhan sekalipun. Secepat kedipan mata, bahkan saya pun tidak terpikir untuk melakukan hal itu. Tubuh saya yang melakukannya. Reflek saya yang melakukannya. Reflek? Yang benar saja. Handphone yang meluncur jatuh dari genggaman tangan saya saja, saya tidak mampu menangkapnya. Dalam keadaan nyaman di depan televisi menggenggam cangkir kopi panas saja, kopi saya tumpah tanpa ada yang menyenggolnya. Reflek?

Senja itu saya belajar bahwa Tuhan, penguasa semesta alam dengan galaksi besar tidak terhitung banyaknya, masih bisa memperhatikan seseorang (dua orang) yang berada di galaksi bima sakti, di planet bumi, di benua Asia, di negara Indonesia, di kota Bandung, di pinggiran jalan basah setengah kilometer dari rumah saya. Ia masih sempat menolong dengan menggerakkan tangan saya untuk menarik kembali ayah saya yang sedang terjun bebas ke sebuah batang pohon. Padahal, benar, saya bahkan tidak sempat memanggil nama Nya, apalagi berdoa melipat tangan.

Moment yang kedua, adalah pada saat adik saya terkena usus buntu. Ia sudah merasakan itu sejak dua minggu sebelumnya, namun tidak pernah mengeluhkan tentang itu. Hingga pada hari minggu ia menderita kesakitan, dan didiagnosa penyakit maag nya kambuh kembali. Senin esoknya penyakitnya makin parah, dan kami memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit saja.

A atau R? Saya memikirkan dua alternatif itu. R lebih dekat ke rumah tapi A memiliki reputasi yang lebih bagus. Saya tidak bisa memilih dan manusia lama saya masih berpikir untuk mengandalkan logika, sampai untunglah saya teringat untuk meminta petunjuk pada Tuhan. Saya tidak masuk ke dalam kamar menutup pintu dan berlutut berdoa, karena itu belum jadi kebiasaan saya, namun saya mengucapkannya dalam hati sambil beraktivitas.. (Tuhan, bantu saya memilih rumah sakit A atau R?)

Saya bahkan tidak punya gambaran bagaimana Tuhan akan menjawabnya. Yang pasti saya yakin bukanlah berupa suara mengguruh disertai halilintar menyambar.. AAA!!!! Atau e-mail yang tiba-tiba muncul, atau sms nyasar..

Namun jawaban Nya ternyata cepat, bahkan tidak sampai dalam satu jam. Bagaimana? Bagaimana Ia menjawab? Saya yakin Anda sangat ingin sekali tahu. Ya, beginilah Ia menjawab, ia menanamkan keyakinan pada hati saya untuk memilih rumah sakit R.

Anda kecewa? Ya, saya bisa melihatnya. Kenapa bukan berupa sesuatu yang ajaib? Kenapa bukan berupa sesuatu yang menakjubkan?

Tapi memang begitulah terkadang Tuhan berbicara, manusiawi dan lembut. Mari kita belajar untuk mendengar suara Nya. Sore itu saya belajar mendengar Nya. Pilihan yang semula 50% - 50% menjadi 80% - 20%, namun itu sudah cukup untuk saya. Kami pun menunggu suami saya pulang yang akan mengantarkan kami ke rumah sakit R.

Setengah delapan, setengah sembilan.. kenapa suami saya belum datang juga? Jam enam sore tadi, saat kami berbicara melalui telepon, ia mengatakan sedang dalam perjalanan menuju rumah dosennya. Saya memperkirakan ia tiba di rumah jam tujuh. Tapi sekarang sudah hampir setengah sembilan. Suami saya sudah di akhir skripsi, dan itu berarti pertemuan dengan dosennya tidak mungkin selama itu. Ketika akhirnya ia tiba juga jam setengah sembilan lebih, ia bercerita ada dua mahasiswa yang mengambil kelas malam juga, tengah berkonsultasi dengan dosen tersebut, dan mereka kemudian mengobrol tentang hal-hal biasa lama sekali! Saat giliran suami saya, dosen tersebut cuma memerlukan waktu sepuluh menit untuk melakukan acc dan pertemuan itu berakhir. Tapi suami saya menunggu lebih dari dua jam, yang berarti kepergian kami ke rumah sakit juga tertunda lebih dari dua jam!

Percayakah Anda bahwa Ia mengatur segala sesuatu indah pada waktu Nya?

Sepertinya tidak. Adik saya sudah sangat kesakitan di rumah. Bergerak sedikit saja ia mengerang dan merintih. Entah kenapa sama sekali tidak terlintas di pikiran saya untuk memanggil taksi, atau meminta bantuan tetangga, atau saudara. Adik saya mengatakan ia takut usus buntunya sudah pecah, kalau memang itu usus buntu. Saya mengatakan padanya berdoa saja.

Kami pun tiba di UGD rumah sakit jam setengah sepuluh malam. Dan seperti dugaan saya sebelumnya memang penyakit yang diderita adik saya adalah usus buntu. “Dan ini harus segera ditangani, ada dokter yang sedang mengoperasi pasien usus buntu juga di atas, Anda mau langsung dioperasi malam ini?”

Tentu saja, adik saya sudah sangat kesakitan seperti itu. Ibu dan ayah saya mengurus pengambilan sample darah untuk memastikan diagnosa dokter UGD itu, suami saya menelepon perusahaan asuransi, sementara saya menunggu adik saya di ruang darurat UGD yang dibatasi tirai-tirai. “Kita berdoa yuk..” aku mengajak.

Doa yang jauh dari sempurna, kami panjatkan malam itu. Agar Tuhan memilihkan dokter untuk kami, agar Tuhan ikut campur tangan dalam operasi itu.

Operasi pun dilakukan. Jam satu malam, dokter keluar dari ruang operasi untuk memperlihatkan usus buntu yang berhasil ia potong. “Kenapa baru sekarang datang?” dokter itu sedikit marah. “Usus buntunya sudah lama pecah, dan sudah bernanah ke mana-mana, sampai-sampai yang baru kami ambil saja sudah 50 cc!”

Kami terbengong dan ternganga.

Ketika operasi selesai dan dokter itu keluar dengan pakaian biasa, ia berkata adik saya masuk ICU. Meremang rasanya tubuh ini. Saya mengira ini cuma operasi usus buntu biasa, tapi nyatanya adik saya sekarang di ICU dengan tiga selang dipasang dalam perutnya.

Kami menunggu mondar-mandir di ICU tengah malam itu, memperhatikan foto-foto para dokter yang ada di rumah sakit itu. Dan menemukan suatu kenyataan. Dokter yang melakukan operasi tadi, yang memarahi kami tadi, adalah direktur rumah sakit ini! Ia punya deretan gelar yang banyak sekali di belakang namanya. Ia orang yang pintar sekali yang bahkan pernah melakukan operasi dengan dokter asing di luar negeri. Dan kami bahkan sebelumnya tidak tahu namanya, kami bahkan tidak pernah meminta ingin dioperasi oleh dokter itu.

“Oh ya, ia dokter terkenal..” tante saya mengatakannya pada saat ia tahu siapa yang melakukan operasi itu.

“Oh ya, ia biasanya praktek setelah jam sembilan malam..” om saya mengatakannya pada saat ia tahu siapa yang melakukan operasi itu.

Apakah Anda merinding? Saya juga. Tuhan telah menjawab doa bahkan jauh sebelum doa itu diucapkan naik ke hadirat Nya. Ia sudah menyediakan jauh sebelum segala peristiwa terjadi. Percakapan dua mahasiswa kelas malam itu dengan dosen, yang cuma berbicara tentang basa-basi. Apakah itu ada tujuan Nya? Oh ya. Menurut Anda, kalau suami saya tiba jam tujuh dan kami sampai rumah sakit lebih awal, apakah mungkin dokter yang melakukan operasi adalah dokter lain, yang mungkin saja terkejut dengan kondisi adik saya yang usus buntunya sudah pecah dan nanah mengalir ke mana-mana? Adik saya bisa saja meninggal.

Anda tahu ucapan direktur rumah sakit itu pada siang hari setelah adik saya sadar di ICU? Ia bilang, “..kamu ini paling menyusahkan operasi!” Seorang direktur rumah sakit besar dengan deretan gelar di belakangnya, dan pernah melakukan operasi dengan dokter asing di luar negeri mengatakan itu operasi yang sulit!

Bukankah Tuhan kita Tuhan yang luar biasa?

Pada saat saya bertanya pada Nya, rumah sakit A atau R, ya Tuhan? Ia menjawab, R saja, Aku memilihkan yang terbaik untukmu. Kusediakan ia di sana, sedang melakukan operasi usus buntu juga, karena cuma ia yang bisa melakukan operasi yang sulit ini. Tapi jangan datang terlalu cepat, nanti kau diberikan pada dokter lain. Datanglah tepat pada waktu Ku. Segala sesuatu indah pada waktu Ku.

Dan malam itu di UGD, saya berdoa dengan adik saya, pilihkan dokter untuk kami, Tuhan, campur tangan dalam operasi ini, ya Tuhan.

Anda tahu, saya membayangkan saat itu Tuhan tersenyum. Anakku, Aku sudah memilihkan dokter untukmu jauh sebelum kau meminta padaKu, Aku sudah turut campur dalam segala sesuatunya untuk mengantarmu tepat pada waktu Ku.

Ya. Ia menjawab doa, bahkan sebelum kita (sempat) berdoa.

***

.. karena Bapa mu mengetahui apa yang kamu perlukan,

sebelum kamu minta kepada Nya (Matius 6:8)

 

Oleh : Jelitta Swetta

03 February 2010

Harapan Seorang Pemabuk

Berikut ini adalah kesaksian dari salah seorang misionaris (pendeta dari Korea) yang melakukan pelayanannya di Afrika Selatan :

Ladang misiku adalah suatu wilayah di Naral, yang ada di bagian timur Afrika Selatan. Saat ini, aku bekerja di dua tempat yaitu di suatu daerah perkotaan bernama Kwamashu dan daerah pertanian bernama Ruganda. Sehubungan dengan kebijaksanaan apartheid yang diberlakukan di Afrika Selatan, banyak daerah perkotaan -- terdiri atas kota- kota mono-ethnis yang didiami orang-orang "campuran" (keturunan dari pasangan yang berbeda ras), orang-orang Indian dan orang-orang berkulit hitam -- berkembang pesat di daerah-daerah pinggiran kota- kota, tempat di mana penduduk asli Afrika (keturunan Eropa) tinggal.

Kota Kwamashu terkenal dengan tindak-tindak kekerasan yang terjadi hampir setiap hari sebelum dilangsungkannya pemilihan bersejarah di negara Afrika yang melibatkan setiap ras yang ada di negara tersebut, tepatnya pada tanggal 28 April 1994.

Menyadari resiko yang harus dihadapi karena situasi kekerasan yang ada di Kwamashu, beberapa peristiwa tertentu terus menguatkanku untuk meneruskan pelayanan misi di kota tersebut. Salah satu dari peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika aku sedang melakukan penginjilan dari rumah ke rumah di sebuah desa di Kwamashu.

Pada sebuah rumah yang aku kunjungi, aku menjumpai dua orang pria sedang minum bersama. Kami mulai berbincang-bincang dan aku memperkenalkan diri kepada mereka sebagai pendeta Korea.

Nampaknya mereka tertarik dengan pembicaraan tentang gereja dan mereka mulai melontarkan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan. Untuk menanggapi rasa ingin tahu mereka, aku mulai mensharingkan Injil -- berita keselamatan yang diberikan kepada mereka melalui pengorbanan Yesus Kristus.

Selain itu aku juga mensharingkan tentang pentingnya berpartisipasi dalam kehidupan bergereja untuk menguatkan dan menumbuhkan ke kedewasaan mereka dalam iman. Meskipun kedua pria tersebut dalam keadaan benar-benar mabuk, mereka mengundangku untuk datang lagi, sebagai ungkapan kerinduan mereka untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Injil.

Setelah menyelesaikan kunjungan di desa tersebut, aku kembali ke gereja untuk mengadakan PA bersama-sama anggota-anggota gereja lainnya. Begitu aku bersiap-siap hendak pulang setelah PA, salah satu dari dua orang pria peminum yang aku kunjungi tadi datang menghampiriku.

"Misionaris Kim," katanya memanggilku, "Apakah anda memiliki waktu luang malam ini?" "Saya ingin anda menceritakan lebih banyak lagi tentang Injil kepada saya dan tunangan saya," lanjutnya menjelaskan.

Salah satu anggota gereja yang kebetulan ikut mendengarnya sangat terkejut. Demikian pula aku yang merasa ragu karena Kwamashu bukanlah kota yang aman. Namun demikian, aku terima juga undangan tersebut.

Matahari telah terbenam dan hembusan angin mengantarkan kami memasuki Wilayah "J" di kota Kwamashu -- wilayah yang paling berbahaya di kota Kwamashu. Setelah kami tiba di rumah pria pemabuk itu, dia mulai memperkenalkan anggota keluarganya yaitu ibu, adik, kakak, dan juga tunangannya.

"Ini tunangan saya," katanya kepada saya, "Dulu ia biasa pergi ke gereja yang dipimpin oleh misionaris dari Barat. Bahkan waktu dia kecil, dia juga pernah mengikuti Sekolah Minggu. Tetapi sekarang ia tidak mau melakukannya lagi. Tolong sharingkan Injil kepadanya dan bantulah dia untuk memulai kehidupan kristennya lagi."

Begitu mendengar permintaan tersebut, sebuah doa terucap dalam hatiku, "Oh Tuhan, Engkau sungguh Allah yang Mahakuasa."

Aku benar-benar heran saat melihat bagaimana Allah membuat diriku memiliki keberanian untuk memasuki daerah berbahaya tersebut, sehingga seorang pemabuk dan tunangannya dapat mendengar berita Injil. Aku berdoa memuji Tuhan yang telah mengatur dunia dengan kuasa-Nya.

~ Bahan diambil dan diterjemahkan dari:  Judul Majalah: Living Life, Volume 3, Number 12 Judul Artikel: The Drunkard's Wish  Penerbit : Tyrannus International Ministry, 1994 Halaman : 110

24 January 2010

Menjadi Jembatan

Saya mengenal Tuhan Yesus sejak usia kanak-kanak, waktu itu sekolah minggu sudah bukan hal yang asing bagiku, bahkan masa remajaku pun saya isi dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan. Namun semua itu rupanya belum cukup menjadikan filter dalam kehidupan saya, terbukti sewaktu diperhadapkan kepada satu pilihan iman saya goyah. Saat menentukan pilihan pasangan hidup iman saya berpaling pada suami.

Semenjak menikah saya putus hubungan dengan Tuhan, tidak bersentuhan lagi dengan yang namanya pelayanan, tidak lagi mengenal doa dan tidak peka lagi terhadap suara Tuhan, hidup saya benar-benar menjauh dari Tuhan. Puluhan tahun saya “terlena” dengan kehidupan dunia yang kelihatan “nikmat” untuk saya jalani.

Tiga tahun yang lalu keluarga kami kembali ke daerah asal saya yang termasuk di wilayah Purwodadi dengan keadaan “yang kurang harmonis” karena sikap suami yang mulai berubah, suami seakan sudah tidak peduli kepada keluarga kami. 3 anak buah cinta kami ternyata belum meluluhkan hati suami untuk tetap menjaga keutuhan keluarga. Hari demi hari kami isi dengan pertentangan, percekcokan dan saling menyalahkan tanpa menghiraukan dan menghargai anak-anak yang sudah mulai menginjak remaja.

Dalam keremangan hidup kami tidak menentu, karena suami sering pergi dan jarang memberi nafkah, saya berusaha untuk tetap menjaga kelangsungan laju kehidupan keluarga maka saya bekerja seadanya demi menghidupi anak-anak kami.

Satu hal yang sangat-sangat membuat saya bersyukur karena ditengah-tengah keputus-asaan saya, ada secercah harapan yang selalu memberi semangat dan dorongan untuk berharap pada satu sumber yang sangat-sangat agung. Suara itu seakan mengingatkan kehidupan rohani saya dimasa lalu, belasan tahun kebelakang. Ya, suara-suara khotbah yang diperdengarkan di Radio Rhema melalui mezbah firman dan acara-acara yang dikumandangkan melalui radio rhema sedikit demi sedikit iman saya mulai bangun… bangun dan bangun… !

Sekarang saya mulai terpanggil untuk ke gereja lagi… Dengan hati yang remuk redam diiringi linangan air mata saya beranikan diri untuk menghadap Tuhan. “Tuhan ini aku anak-Mu, aku kembali datang kepadamu Tuhan.”

Saya boleh bersyukur karena Radio Rhema bisa menjadikan jembatan antara saya dan Tuhan Yesus, bukan hanya itu saja, sekarang satu dari tiga anak saya sudah ikut Tuhan Yesus juga dan sekarang rajin ke sekolah minggu.

Oleh : Ibu Lestantuning Ati

30 November 2009

Saya Bisa Lakukan Tanpa Pria

Karena  saya  adalah  anak sulung dalam keluarga yang semua adalah  perempuan,  saya  tumbuh  menjadi  sosok pribadi yang mandiri. Saya tidak pernah membiarkan diri saya bergantung dengan yang namanya pria. Saya merasa  tanpa pria sekalipun saya tetap bisa menjalankan kehidupan saya apa adanya.

Dalam lubuk jiwa Windy tertanam konsep yang salah. Mungkin  karena  latar  belakang  keluarga  yang  lebih  suka  dengan  anak laki-laki,  sehingga  saya merasa seandainya saya menjadi seorang laki-laki maka saya akan lebih berharga bagi keluarga.

Windy  kemudian  tumbuh  menjadi  pribadi  yang  lebih  suka  memimpin  dan mendominasi  orang, termasuk para pria di sekitarnya. Tanpa disadari, sikap ini  ia  bawa  masuk  dalam  bahtera  pernikahannya.  Namun keburukan mulai terjadi  ketika  segala  sesuatunya  haruslah  Windy yang memegang kendali.

Menjadi  wanita  yang  terbiasa  mendominasi  membuat  Windy sulit menerima kelemahan  dan  kekurangan  suaminya. Bagi Windy, Hendrik Hidayat, suaminya harus menjadi suami yang sempurna dan harus mengerti semua keinginannya.

Saya  rindu  sekali  untuk  mendapat kejutan, entah itu di hari ulang tahun saya  atau  di hari ulang tahun pernikahan saya, atau saya bisa mendapatkan setangkai  bunga  mawar  atau  bunga  yang  lain.  Yang membuat saya merasa berarti  sebenarnya  bukan  bunganya, tapi yang membuat saya berarti adalah usaha yang dilakukannya, usaha yang dilakukan oleh dia untuk membayar harga pergi  ke  mall  untuk  membeli  bunga  yang bagus dan membawanya pulang ke rumah.  Tapi  hal  itu  yang saya tidak pernah dapatkan dari Hendrik, suami saya.

Selama  ulang  tahun pertama hingga keenam pernikahan kita yang jatuhnya di bulan  September  yang  bertepatan dengan ulang tahun saya, tidak ada tahun yang  kami  lewati  tanpa konflik yang besar. Selalu kami mengalami konflik dan  yang  menjadi  masalah  adalah hadiah kejutan seperti ini. Kejutan itu tidak pernah saya dapatkan.

Perlakuan  dan sikap Windy yang selalu menuntut membuat Hendrik hidup dalam tekanan.  Dengan  alasan  menghindari  konflik  Hendrik  cenderung bersikap pasrah dan menerima semua keputusan yang dibuat istrinya.

Selama   enam   tahun  itu  saya  tidak  pernah  mengambil  keputusan  yang benar-benar  mutlak.  Contohnya  waktu  anak  saya menanyakan kepada saya :

'Papi bolehkah saya makan es krim?'.

Sebenarnya  sebagai  kepala  keluarga  saya  bisa  mengatakan  'boleh' atau 'tidak'. Tapi yang saya lakukan adalah : 'Nak, coba tanya mami'.

Kenapa  saya  mengatakan seperti ini?, sebab ketika saya mengatakan 'boleh' dan istri saya bilang 'tidak boleh' maka kami akan mengalami konflik.

Ada juga beberapa kejadian lain seperti untuk menentukan warna dari pakaian saja saya tidak berani. Ketika saya mau membeli sesuatu, contohnya pakaian, ketika  saya  sudah  pilih  dan akan membelinya, istri saya akan mengatakan bahwa  pilihan  saya  tidak  bagus. Kalau saya tanyakan dia : 'Kenapa tidak bagus?',  istri  saya hanya mengatakan : 'Kalau saya bilang tidak bagus, ya tidak bagus'. Kalau saya teruskan hal ini maka akan terjadi konflik.

Sampai  suatu  ketika  Windy  mengikuti program pelatihan wanita bijak yang membahas  tentang  fungsi dan peranan wanita dalam sebuah keluarga. Melalui program ini Windy baru menyadari bahwa ia harus menerima keberadaan dirinya sebagai  wanita  dan  harus  belajar  untuk  lebih menghargai suami sebagai pemimpin dalam suatu keluarga. Tuhan berkata-kata dalam hati Windy.

Saya  ingat  sekali  hari  itu  Tuhan  bilang  pada saya : 'Apakah saya mau melepaskan apa yang menjadi kerinduan saya selama ini yang akhirnya menjadi ganjalan  dalam  kehidupan  rumah  tangga saya, walaupun mungkin bagi orang lain  hal  seperti itu adalah kecil?. Apakah saya mau serahkan semuanya itu kepada Tuhan'. Waktu itu saya bilang pada Tuhan bahwa saya 'mau'.

Saat  itu  juga  saya  bilang pada Tuhan : 'Ok Tuhan, saya janji. Saya janji bukan  pada  diri  saya  tapi kepada Tuhan. Ok, Tuhan saya janji tidak akan tanyakan  lagi  mengenai  bunga,  saya  tidak  akan  menanyai  lagi tentang kejutan. Saya akan belajar untuk menerima Hendrik itu apa adanya.'

Ketika  Windy  memutuskan  untuk tidak lagi menyatakan keinginannya tentang kejutan yang tidak pernah didapatkannya, tanpa sepengetahuan Windy, Hendrik dan   anak-anaknya  membawakan  bunga  Rose  Belanda  kesukaan  Windy  saat menjemput  Windy  setelah mengikuti program wanita bijak. Momen inilah yang menjadi momen awal pemulihan keluarga. Windy merasakan kesegaran baru dalam hidupnya.

Seperti  ada  air  yang  mengalir di hati saya. Dan itu saya rasakan hingga detik ini. Saya amat hargai apa yang sudah dia lakukan buat saya.

Kini Hendrik Hidayat telah menjadi kepala keluarga sejati. Ketika  istri  saya  dipulihkan,  otoritas  yang  sebelumnya  tidak  pernah dilakukan, menjadi imam dalam keluarga yang tidak pernah saya jalankan, itu dikembalikan dan dipulihkan oleh Tuhan.

Achen, teman Windy menyaksikan perubahan sahabatnya.

Windy  yang  saya  kenal dulunya adalah orang yang sulit sekali tunduk pada suaminya.  Dia  merasa  bahwa dia adalah orang yang paling benar. Saya juga sering melihat Windy marah pada suaminya, Hendrik dan mengelurkan kata-kata yang  menurut  saya  tajam  dan  juga  menyakitkan.  Tetapi  setelah  Windy mengetahui  kebenaran akan Firman Tuhan, saya melihat perubahan yang nyata.

Windy yang sekarang menjadi lebih lembut

Windy menjadi manusia yang baru sama sekali.

Saya sekarang telah jauh lebih mampu menghargai Hendrik sebagai suami saya, sebagai  imam dan kepala dalam rumah tangga saya. Bahwa dia adalah pemimpin dalam  keluarga  saya.  Bahwa  saya  sebagai  istrinya,  tugas  saya adalah mendampingi  dan  menolong  dia  pada  saat dia membutuhkan pertolongan dan dukungan dari seorang istri.

Sumber kesaksian : Windy Hidayat