Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

25 June 2008

Bukan Pemerintahanmu

Nats : Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga (Matius 6:10)

Bacaan : Matius 6:5-14

Tony Blair memenangkan pemilu dengan keunggulan suara yang amat besar. Menjelang pengangkatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, ia menghadap Ratu Elizabeth. Film The Queen menggambarkan bagaimana ia dengan penuh percaya diri berkata, "Yang Mulia, partai saya telah memenangkan pemilu dan karena itu sekarang saya menghadap dan memohon perkenan Yang Mulia untuk membentuk suatu pemerintahan."

Sayangnya, ternyata sikap Blair itu menyalahi adat. Semestinya raja atau ratulah yang meminta kesediaan calon perdana menteri untuk menjalankan tugas. Namun, dengan lembut Ratu Elizabeth mengoreksinya. "Tugas telah ditetapkan atasku, sebagai ratu atasmu, untuk mengundang engkau menjadi Perdana Menteri dan membentuk pemerintahan di dalam namaku."

Sistem pemerintahan monarki menyediakan ilustrasi menarik bagi dinamika kehidupan dalam Kerajaan Allah. Tak jarang, kita juga tergelincir bersikap seperti Tony Blair. Dengan penuh percaya diri kita merasa berhak "membentuk pemerintahan" sendiri, hidup secara egois menurut kemauan pribadi. Ini seperti sikap pemain orkestra yang mau menonjolkan kecakapannya sendiri, sehingga menyimpang dari aransemen, dan justru merusak harmoni.

Doa Bapa Kami menjungkirbalikkan ilusi tersebut. Yesus mengajarkan fokus hidup yang benar: kekudusan nama Allah, kerajaan-Nya, dan kehendak-Nya. Dia seperti dirigen yang menyodorkan notasi musik, mahakarya Sang Maestro, dan meminta kita memainkan bagian kita, mengikuti aransemen-Nya, guna mengumandangkan harmoni bagi Sang Raja, Allah Bapa kita —ARS

HIDUP BERPUSAT PADA DIRI SENDIRI MENDATANGKAN KEKACAUAN
HIDUP BERPUSAT PADA ALLAH MEMBUAHKAN KEHARMONISAN

SABDA.org

Feeling More Thankful

A man lay in a hospital bed worried about whether he would live or die. He called his pastor to come pray for him. He told her that if he got well, he'd donate $20,000 to the church. The pastor prayed and the man eventually DID get well and returned home. But no check came to the church. So the pastor paid him a visit.

"I see you're doing quite well now," she observed.

"I was just wondering about the promise you made."

"What promise?" he asked.

"You said you'd give $20,000 to the church if you recovered."

"I did?" he exclaimed.

"That goes to show you just how sick I really was!"

It is easy to give thanks -- or to show it -- when we feel grateful. But gratitude is not a feeling we can manufacture. Nor are we born feeling grateful. Children are not thankful by nature. We teach them to say thanks and, in time, they develop stronger feelings of gratitude.

My children could talk before they were weaned from diapers, but one thing they never said was, "Thank your for changing my dirty diapers. Dad, I know that is a messy job. I appreciate all you are doing for me." Too bad. Sometimes I deserved a BIG thank you. When they were sick, they never thanked us for sitting up with them at night. And when they became car sick at the beginning of a road trip, they never said thanks for cleaning it up. Even though their mother and I spent almost a half hour scrubbing the carpet in a convenience store parking lot at seven degrees below zero (our metric system readers will recognize that as -22 degrees Celsius), they never did said, "Gosh, guys, you're the greatest parents ever! We are SO lucky to be part of this family."

Naturally, we wouldn't expect small children to thank their parents for being parents. And for most people, feelings of gratitude come with empathy as we mature. But can we learn to feel more thankful? Here are three simple steps to help anybody live more thankfully and to respond more authentically.

First, recognize WHEN a thankful response is appropriate. We take for granted too many of the things that we should be giving thanks for.

Second, spend a moment reflecting on how another's thoughtfulness makes you feel. Be intentional about this.

Then third, from a sincere feeling of gratitude, give thanks. When you do, you will also discover that you are becoming a happier person.

-- Steve Goodier

Humor : Uang

Pada suatu hari disebuah Sekolah Dasar waktu itu jam istirahat dan terlihat di halaman sekolah tersebut seorang anak kecil menangis dengan kerasnya, lalu bertanyalah salah seorang gurunya....

Guru : Nak...kenapa nangis?

Anak : "Uang saya hilang seratus perak bu", jawabnya sambil nangis

Guru : Ya udah sekarang diem ya...nih ibu kasi seratus.

Tapi anak kecil tersebut malah nangis makin kenceng..gurunya pun bertanya.

Guru : Lho...kok nangisnya makin kenceng, kan udah ibu ganti seratus

Anak : Iya bu...tapi kalau tadi uangnya ga hilang, kan sekarang uang saya ada dua ratus

Guru : ............ .?

Cemburu = Tanda Cinta?

Bacaan : 1Korintus 13:4-7

Nats: Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu (1Korintus 13:4)

Cemburu adalah perasaan marah atau pahit yang muncul ketika ada orang yang kita anggap akan merebut kekasih kita. Banyak orang mengatakan, cemburu adalah tanda cinta. Bukankah orang menjadi cemburu karena merasa sangat memiliki dan tidak rela kehilangan kekasihnya?

Sebenarnya cemburu tidak selalu identik dengan tanda cinta. Alkitab menyatakan "kasih ... tidak cemburu" (1Korintus 13:4). Kadang kala sikap cemburu justru menunjukkan kurangnya kasih sejati. Mengapa demikian? Sebab rasa cemburu bisa muncul dari sikap egois. Kita memperlakukan kekasih seperti barang milik kita. Tanpa sadar, kita berusaha "mencetaknya" menjadi seperti yang kita inginkan. Ia tidak diberi ruang untuk bebas bergerak. Kita mencurigai segala hubungannya dengan orang lain. Kita tidak suka melihatnya bercanda dan tertawa
bersama orang lain. Kita merampas sukacita hidupnya!

Rasa cemburu kerap kali muncul dalam relasi suami istri, mertua menantu, pemuda pemudi yang sedang berpacaran, bahkan dalam persahabatan. Tidak jarang, hal ini bukannya membuat hubungan semakin harmonis, malah merusak dan menjauhkan kita dari sang kekasih. Bagaimana cara menghilangkan rasa cemburu? Surat 1Korintus 13:7 mengatakan, "Kasih ... percaya segala sesuatu." Kasih percaya akan kesetiaan orang lain. Kasih belajar melihat apa yang terbaik dalam diri sang kekasih, sehingga kita pun berhenti berprasangka buruk. Jika kita memiliki kasih yang percaya, kecemburuan akan lenyap! --JTI

KASIH TAK MENJADI LEBIH KUAT KARENA CEMBURU
KASIH DIPERKUAT OLEH SIKAP LEBIH PERCAYA


Yayasan Gloria