Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

06 December 2008

Kini Kutahu

Kini kutahu, mustahil buat seseorang mencintai kita, yang dapat ialah membuat diri kita layak dicintai, selebihnya terserah mereka.

Kini kutahu, betapapun aku telah peduli, ada saja orang yang tak peduli balik.

Kini kutahu, bisa bertahun-tahun membangun kepercayaan, dan sedetik merusakkannya.

Kini kutahu, yang penting bukan memiliki apa dalam hidup ini, namun siapa.

Kini kutahu, paling lima belas menit berlagak ramah, sesudahnya, hal lain saja.

Kini kutahu, bukan soal bagaimana berbuat yang terbaik dicapai orang, namun apa yang paling dapat kita kerjakan.

Kini kutahu, yang penting bukan apa yang terjadi pada orang, namun apa kemudian yang dilakukannya.

Kini kutahu, apa yang dapat kita lakukan dalam sedetik, dapat membawa nestapa petaka seumur hidup

Kini kutahu, betapapun tipis kita mengiris, selalu ada dua muka terhasil.

Kini kutahu, betapa lamanya untuk menjadi seseorang yang kuidamkan.

Kini kutahu, betapa jauh lebih mudah asal menanggapi, daripada berpikir jernih jitu.

Kini kutahu, harus selalu ucapkan kata kasih sebelum berpisah, karena mungkin itu terakhir jumpa dengannya.

Kini kutahu, betapa lamanya kita dapat tahan sesuatu, yang semula kita pikir tak mampu.

Kini kutahu, kita harus pertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, betapapun yang kita rasakan

Kini kutahu, kita mengendalikan sikap tindak, atau sikap tindak itu mengendalikan kita

Kini kutahu, betapa semula hubungan panas keras, dapat saja berubah menjadi teduh lunak, dan buah-buahnya jauh lebih baik

Kini kutahu, pahlawan itu orang yang mengerjakan sesuatu yang harus dilakukan, tak peduli apapun konsekuensinya saat itu

Kini kutahu, belajar memberi sesuatu itu, menuntut latihan disiplin diri

Kini kutahu, betapa ada saja orang yang sangat mengasihi kita, tetapi tak tahu cara menunjukkannya

Kini kutahu, uang itu selalu menipu dan gagal, untuk menjaga martabat sejati

Kini kutahu, dengan sahabatlah kita, sanggup mengerjakan segala sesuatu atau tak sesuatupun,
dan merupakan saat yang indah

kini kutahu, orang yang mungkin kita anggap akan menendang kita saat kita jatuh, justru yang dapat membantu kita bertegak

kini kutahu, saat kita marah, kita merasa berhak marah, tetapi bukan hak untuk menjadi jahat

kini kutahu, persahabatan dapat terus bertumbuh makin dalam, sebagaimana juga kasih sejati

kini kutahu, seseorang yang tak mencintai kita seperti kita harap, bukan berarti tak menyayangi dengan segala yang dia miliki

kini kutahu, kedewasaan dan kebijakan itu gayut pengalaman dan pelajaran yang terpetik, daripada sekadar berapa kali sudah berulangtahun

kini kutahu, jangan mencela dan remehkan mimpi dan angan anak-anak, bila mereka percayai kata-kata kita, dapat nantinya menjadi bencana

kini kutahu, keluarga itu tak selalu disamping kita, bahkan yang bukan keluarga justru memelihara, mengasihi dan mengajar menghadapi dunia luas, keluarga itu bukan semata biologis

kini kutahu, betapa baikpun kawan, suatu ketika akan menyakiti, maka harus selalu siap memberi maaf kepadanya dan siapapun

kini kutahu, tidak cukup hanya dimaafkan oleh orang lain, diri kita sendiripun terkadang perlu dapat memaafkan kita

kini kutahu, betapa parah pun luka dan patah hati kita, dunia akan terus berputar tanpa mesti melirikmu

kini kutahu, latarbelakang dan lingkungan dapat mempengaruhi diri, namun kita sendiri bertanggungjawab akan menjadi bagaimana

kini kutahu, kala sesama kawan bertarung, kita harus ada di satu pihak, betapapun kita merasa tidak enak melakukannya

kini kutahu, orang bertengkar tak mesti karena saling benci, dan tiada pertengkaran bukan berarti ada kasih

kini kutahu, terkadang kita perlu mengedepankan orangnya terlebih dulu, daripada menyimaki kelakuannya

kini kutahu, kita tak harus berganti kawan, walau kita tahu kawan itu dapat berubah

kini kutahu, tak harus kita mati-matian mengejar suatu rahasia, bila hal itu dapat mengubah dan merusak kehidupan selamanya

kini kutahu, dua orang dapat melihat dua hal yang tepat sama, namun dengan pengertian yang sangat berlawanan

kini kutahu, betapapun kita menjaga anak-anak agar tak terluka, tetap saja mereka terluka, dan kita dapat ikut terluka

kini kutahu, ada begitu banyak jalaran jatuh dan terperangkap cinta

kini kutahu, betapapun akibatnya, orang yang jujur dengan dirinya, akan melangkah dan memperoleh lebih dalam hidup ini

kini kutahu, berapa banyak pun teman kaumiliki, betapa kau adalah tiang pancang mereka, kau akan tetap merasa sepi dan hilang, saat kau paling sangat perlukan mereka

kini kutahu, hidup kita dapat diubahkan dalam hitungan jam, oleh orang yang bahkan tak mengenal kita

kini kutahu, biarpun kaupikir tiada lagi dapat kaubantukan pada kawan yang memerlukan, kau pasti masih punya kekuatan untuk menolong

kini kutahu, membaca dan menulis, sebagaimana bicara, dapat mengurangi sesaknya rasa hati

kini kutahu, paradigma hidup kita, bukan satu-satunya pembatas anugerah yang kita terima

kini kutahu, bahwa pengakuan dan ungkapan hati saja, bukan sesuatu yang merendahkan harkat manusia

kini kutahu, bahwa orang yang paling kita kasihi, justru diambil dari kita terlampau cepat

kini kutahu, dalam makna apapun kata “cinta” itu, akan lenyap maknanya bila dipakai berlebihan

kini kutahu, betapa sukarnya menarik pemisah, antara sikap ramah dan tak menyakiti hati orang, dengan tampil menyatakan pemikiran serta keyakinan

Hati Yang Terpaut

"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku" - Matius 19:21

Bacaan : Matius 19:16-22

Apabila kita membaca kisah orang muda dalam Matius 19:16-22, kita harus angkat topi untuknya. Mengapa? Karena saat usianya masih muda, ia sudah menjadi orang yang kaya. Tidak hanya itu, ia pun gemar membaca perintah Allah dan menurutinya dalam kehidupan sehari-hari. Andaikata orang muda ini hidup pada zaman sekarang, tentu ia akan menjadi seorang pria ideal dan menjadi idaman banyak orang.

Namun sayang, segala hal yang telah ia capai dalam hidupnya tidak membuat Yesus terkesan. Sebab Yesus hendak menguji hingga kedalaman hati, yakni apakah hatinya berpaut kepada Allah. Orang muda ini memang berperilaku baik dan selalu menuruti perintah Allah, tetapi ia tidak memiliki hubungan yang akrab dengan Allah, Sang Empunya perintah. Apa buktinya? Ketika Yesus memintanya menjual seluruh harta miliknya, memberikannya kepada orang-orang miskin supaya memperoleh harta di surga, dan kemudian mengikut Tuhan, ia malah merasa sedih. Alkitab mencatat bahwa hal itu terjadi karena hartanya begitu banyak. Saking banyaknya sehingga hati orang muda ini terpaut kepadanya.

Berdasarkan kisah ini kita belajar bahwa Allah ingin kita tidak sekadar hidup baik dan melakukan semua perintah Allah. Saya dapat meminta anak orang lain untuk turun dari pagar rumah dan anak tersebut benar-benar menurut. Namun, ketaatan si anak tidak menjadi bukti bahwa ia anak kandung saya, karena hatinya dan hati saya tidak terpaut. Yang Tuhan rindukan adalah kita hidup dalam kehausan dan kerinduan untuk selalu berpaut dengan hati-Nya. Itulah yang membedakan antara anak Allah dan bukan anak Allah -RY

TAAT BELUM TENTU BERARTI ADA HATI YANG TERPAUT
TETAPI HATI YANG TERPAUT BISA MEMBUAT KITA TAAT

Yayasan Gloria

Arsip Weekend Scripture - Amsal 19:2

"Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah." - Amsal 19:2

Humor : Lingkungan Baru

Sebuah keluarga, baru sehari tinggal di kota. Sebelumnya, mereka tinggal di desa.

Pagi-pagi benar, anak mereka yang berusia tiga tahun lari ke kamar orang tuanya dan membangunkan mereka.

Si ibu memakaikannya baju dan menyuruhnya main di halaman.

Dua puluh menit kemudian, ia pulang ke rumah.

"Bu, Bu," teriaknya, "semua rumah di sini punya bel pintu -- dan semua bel itu bunyi!"

Why?

US: "God, why did you do that to me? Why did you take the one I most love? Why did you permit such illness to conquer my life? Why am I sterile while others have children? Why? Why?"

STEVEN: Before blaming God, let me tell you my story. Many years ago, I thought richness to meant the ownership of the most precious diamond. So, I kept petitioning God to make me rich by granting me this diamond. One day, God let me stumble upon a very precious diamond on my way to work. Delighted, I scooped it up and swiftly tried to hide it in my suit. At that moment, an angel blocked my way, fiercely took the diamond and threw it far away. Shocked, I kept yelling and screaming at God, "Why did you do that to me? Why? Why?" A few minutes later, I found the King's soldiers approaching me. They started searching me thoroughly. When they finished, I angrily asked reason for their act. To my astonishment, they told me that the King has lost his dearest diamond and ordered them to search for it and instantly kill whomever they found with it. Alleluia. God did that to save my life and help me enlarge my vision scope to other means of richness like good health and happy family.

GOD: my dearest son and daughter, I'd love you all to be always satisfied. But, I select the kind of satisfaction I see suiting my purpose in each one of you. I grant some good health, others wealth, others children. I sometimes permit the loss of beloved ones or certain illnesses to enrich your souls and draw you closer to my heart. My dear children, your "whys" are bitter to my soul. They reflect your lack of love, trust and submission to me. Why do not you just lean your heads on my shoulder and trust my love and care for you? Remember, it was written, "For he maketh sore, and bindeth up: he woundeth, and his hands make whole." (Job 5:18). "Yet I will not forget thee. Behold, I have graven thee upon the palms of my hands." (Isaiah 49:15-16).

US: Dear God, I am sorry for any complaint we have raised against you. Let it be Your Will in my life. Please help me feel your healing hands during my toughest times. Thank you. Amen.

Contributed by Maria Hanna