10:21:00 AM
Peak
Pak Panurata agak was-was saat mengamati pertumbuhan anak gadisnya yang punya selera makan luar biasa.
Setiap saat badannya bertambah tambun saja. Oleh karenanya, suatu hari pak Panurata menasihati sang anak.
"Begini, Nak. Bapak anjurkan agar setiap pagi kamu sarapan bubur saja."
"Baik, Pak. Sarapan buburnya sebelum atau sesudah makan pagi?"
10:05:00 AM
Peak
JESUS was born,
that I might be born twice.
HE became poor,
that I might possess wealth.
HE became homeless,
that I might have mansions.
HE was stripped,
that I always should have clothes.
HE was forsaken,
that I always should have friends.
HE was bound,
that I might have perfect liberty.
HE was sad,
that I might have full joy.
HE descended,
that I should be lifted up.
HE became a servant,
that I might be a son forever.
HE was hungry,
that I should always have food.
HE was made sin,
that I should share HIS righteousness.
HE died,
that I should never taste Eternal death.
HE will come down,
that I might go up.
All of this -- that HE might display in me the riches of HIS grace and be the companion of God in the heavenlies.
9:57:00 AM
Peak
Aku hanyalah seekor keledai yang sudah cukup tua. Tubuhku tidak lagi sekuat dahulu ketika aku masih muda. Dan kini orang-orang menyebutku "si buruk rupa." Aku punya begitu banyak pengalaman sewaktu masih muda. Aku pernah berjalan berkilo-kilo meter sambil membawa beban yang berat di punggungku. Aku bahkan pernah diajak masuk ke dalam perahu yang sangat besar, menyeberangi lautan sembari menanggung beban berat. Bagiku semua itu pengalaman yang membanggakan. Namun aku tak akan pernah lupa satu peristiwa yang membuatku bergetar jika mengingatnya. Waktu itu majikanku adalah seorang pria muda. Ia hendak bepergian jauh dengan istrinya yang sedang hamil tua. Pria itu bernama Yusuf, dan istrinya Maria. Sepanjang perjalanan Maria duduk di atas punggungku. Perjalanan itu memakan waktu berhari-hari. Dan aku tahu ia pasti sangat lelah.
Hingga sampailah kami malam itu di Bethlehem, kota kecil di tanah Yudea. Malam itu agaknya sudah tiba waktunya bagi Maria untuk bersalin. Yusuf, sang suami yang setia, mencoba mencari tempat yang layak untuk kelahiran putranya. Hmm, tentunya kelahiran putra pertama itu suatu pengalaman yang menggetarkan hati. Kami berjalan dari rumah peristirahatan yang satu ke tempat yang lain. Namun, tak satu pun tempat yang kosong untuk menampung mereka. Sungguh kasihan.
Akhirnya tibalah kami di suatu tempat, di situ terdapat sebuah kandang domba. Maria melahirkan di kandang domba itu. Bayinya ia letakkan di atas palungan dan dibungkus kain lampin. Mereka menamai bayi itu Yesus.
Aku sangat terharu atas peristiwa itu. Tak pernah terbanyangkan sebelumnya ada manusia yang dilahirkan di sebuah kandang dan diletakkan di atas palungan.
Namun tiba-tiba aku terkejut melihat pemandangan di langit. Kulihat sebuah bintang yang sangat terang tepat di atas kandang tempat Yesus lahir. Para malaikat pun melagukan pujian bagi Yesus. Dan para gembala beserta orang-orang majus datang menyembah Yesus.
Wah ... wah ... pastilah Yesus ini seorang Raja. Hanya Raja yang patut disembah, kan? Dan ya, aku yakin Yesus seorang Raja. Saat itu pula aku merasakan kedamaian yang begitu besar. Ada kebanggaan tersendiri saat aku sadar bahwa ternyata aku dapat menyaksikan kelahiran Yesus, sang Juruselamat itu.
Sekarang, meski aku aku sudah tua, peristiwa itu begitu lekat dalam benakku. Aku tak pernah lupa, bahwa Tuhan yang agung sudi hadir di tengah-tengah manusia. Bahkan aku, si buruk rupa ini, dipilih untuk mengantar-Nya. Ah, kebaikan Tuhan memang tak ada habisnya dan aku yakin ada ribuan rencana Tuhan yang indah, ... meski sederhana.
9:37:00 AM
Peak
Suatu ketika saat seorang pendeta sedang mengajar anak-anak kecil, ada seorang anak kecil bertanya kepada Pendeta, "Pendeta, sedemikian berharganya kah kita sehingga Tuhan Yesus mau berkorban demi kita?"
Pendeta itu heran namun akhirnya tersenyum dengan pertanyaan polos dari anak tersebut. Anak itu benar, seberharga apakah kita ini, manusia, sehingga Tuhan Yesus mau datang ke bumi, menderita dan wafat di salib demi kita semua?
Pendeta itu lalu mengeluarkan selembar uang sebesar Rp 50.000,00 lalu memperlihatkannya di depan anak-anak tersebut. Pendeta itu bertanya, "Siapakah di antara kalian yang menginginkan uang ini?"
Spontan semua anak mengangkat tangannya sambil berteriak, "Saya! Saya!"
Tentu saja, siapa yang tidak mau diberikan uang 50 ribu rupiah gratis? Berapa banyak permen dan snack yang bisa dibeli dengan uang sebesar itu?
Pendeta itu lalu meremas uang itu keras-keras, lalu kembali memperlihatkan uang itu pada anak-anak. "Siapakah di antara kalian yang masih menginginkan uang ini?" tanya pendeta itu kembali.
"Saya! Saya!" kata anak-anak itu, biar pun penampilannya jelek, uang kan tetap uang. Dirapikan sedikit nanti bagus lagi kok.
Uang itu tidak diberikan kepada siapa pun, sebaliknya, uang itu dilemparkan ke tanah, diinjak-injak hingga bercampur dengan debu dan tanah. Uang itu sekarang benar-benar kusam dan kotor.
Sekali lagi pendeta itu mengangkat uang itu dan bertanya, "Siapakah di antara kalian yang masih menginginkan uang yang kumel ini?"
Pendirian anak-anak itu tidak berubah, biar pun jelek, kotor, toh itu tetaplah uang sebesar 50 ribu rupiah!
"Demikianlah nilai kita di mata Tuhan. Sejelek apapun, sebodoh apapun, sekotor apapun, semiskin apapun, betapapun berdosanya kita, Tuhan tidak menganggap kita berbeda. Nilai kita di mata Tuhan begitu besar, bahkan dosa-dosa kita sekalipun tidak menutupi nilai kita di mata Tuhan. Tuhan berusaha agar kita tidak hancur, agar kita tidak lenyap. Karena itu Ia mengutus anak-Nya, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kehancuran."
Karena itu percayalah, sehina apapun kamu di dunia ini, tangan Tuhan tetap terbuka untukmu."
9:21:00 AM
Peak
Nats : TUHAN, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa besar kegirangannya karena kemenangan yang dari pada-Mu! (Mazmur 21:2)
Bacaan : Mazmur 21
Semua orang ingin sukses. Ironisnya, banyak orang tidak bahagia justru setelah mereka meraih sukses. Sebut saja Kurt Cobain, penyanyi dari grup Nirvana yang bunuh diri ketika sedang tenar-tenarnya di tahun 1990-an. Atau, para rohaniwan yang citranya runtuh karena keblinger oleh kesuksesan mereka. Belum lagi para pengusaha yang setelah sukses, justru keluarganya berantakan. Dan, masih banyak kisah tragis lain tentang kesuksesan. Ini menunjukkan pentingnya menjaga sikap hati saat meraih kesuksesan.
Bacaan hari ini berbicara tentang kemenangan Raja Daud. Berbagai kejayaan dan kesuksesan ia peroleh, sehingga ia menjadi raja yang besar dalam sejarah bangsa Israel. Namun, ia sangat sadar bahwa kemenangannya datang dari Tuhan (ayat 2). Oleh karena itu, ia mengembalikan semua kemuliaan hanya bagi Tuhan. Hasilnya, ia bersukacita. Bukan karena kemenangannya, melainkan karena kesadaran yang ia miliki tentang siapa yang memberi kesuksesan tersebut, yakni Tuhan.
Dari mazmur ini kita belajar tentang cara menyikapi kesuksesan. Pertama, kita harus selalu menyadari bahwa kita sukses bukan melulu karena kita hebat, tetapi lebih utama karena anugerah Tuhan. Dalam rencana-Nya, Allah memercayakan berkat yang lebih kepada kita. Karena itu kita tidak boleh menjadi sombong. Kedua, kesuksesan bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk disalurkan kepada sesama. Sama seperti segala berkat yang lain, Tuhan ingin kesuksesan kita dipakai untuk memberkati orang lain dan memuliakan nama-Nya. Dengan demikian, kita akan menjadi orang sukses yang bahagia —ALS
KITA SUKSES KARENA ALLAH MEMERCAYAKAN
BERKAT YANG LEBIH KEPADA KITA
SABDA.org
8:54:00 AM
Peak
Syaloom ...
Puji syukur saya memiliki Allah yang hidup dan berkuasa juga sangat baik. Kesaksian saya sebagai berikut:
Saya berhasil menyelesaikan studi S1 saya di Makassar pada bulan September 2000. Itu semua tak lain dan tak bukan semata-mata karena kemurahan Tuhan Yesus. Sebelumnya saya telah bergumul dan berserah dan meminta kepada Tuhan Yesus bahwa apabila saya dapat menyelesaikan kuliah saya, maka saya yakin saya akan diberikan juga pekerjaan.
Pada akhir bulan November, karena dorongan Roh Kudus, saya berkeinginan untuk berangkat ke Jakarta. Di sana saya ikut dengan kakak sepupu dan itu pengalaman pertama saya tinggal di Jakarta.Saya tiba di Jakarta dan tinggal dengan keluarga saya yang menjadi hamba Tuhan.
Saya memasukkan sekitar 16 surat lamaran pada esok harinya. Saya yakin Tuhan Yesus menyediakan banyak pekerjaan di sini karena Dia telah mengirim saya ke sini. Pada hari ketiga saya di Jakarta, saya langsung mendapatkan panggilan Test. Dan saya diterima untuk bekerja. Hanya saja, saya mulai bekerja pada awal Januari karena pada bulan Desember pekerjaan tidak terlalu padat, lagi pula banyak liburnya. Hal ini membuat saya merasa terharu akan kebaikan Tuhan Yesus yang tidak membiarkan saya menunggu terlalu lama. Saya merasa bahwa semua ini telah diatur oleh Tuhan.
Waktu pertama kali tiba di Jakarta, saya sempat berpikir bagaimana saya dapat memasukkan lamaran saya ke perusahaan yang ada di sini. Namun, ternyata di tempat saya tinggal (pastori) sudah tersedia harian KOMPAS. Lalu pada waktu saya menuju ke tempat test, semua kendaraan yang saya tumpangi seolah-olah sudah tersedia dan tepat waktunya. Waktu itu saya bertanya-tanya, bagaimana saya akan menemukan alamat perusahaan yang memanggil saya untuk test, sedangkan saya baru 3 hari di Jakarta belum tahu jalan.Tetapi semuanya itu berkat kemurahan Tuhan Yesus.
Hampir setiap saat jika ada waktu luang saya selalu berdoa bersekutu dengan Tuhan, menyanyikan pujian mengagungkan nama Tuhan Yesus Kristus.
Saat ini saya telah bekerja dan Tuhan Yesus memberikan pekerjaan yang baru. Sekarang saya tinggal di Cilegon. Di tempat pekerjaan saya yang baru, segala kebutuhan, baik itu makan, cucian,dll, disediakan oleh perusahan. Sungguh Tuhan Yesus yang saya sembah adalah Tuhan yang amat baik.
Satu pesan saya bagi saudara-saudara adalah jangan lupa berbakti dan beribadah kepada Tuhan, terutama hari Minggu. Jangan pernah tinggalkan hari Tuhan itu. Serta biarkanlah Roh Kudus beracara dalam hidup kita sehari-hari. Hiduplah kudus dan suci di hadapan Tuhan. Serta bertobat mohon ampun pada Tuhan jika hari ini kamu berbuat dosa. Jangan menoleh kebelakang mengingat dosa yang pernah dibuat, lupakan itu. Jangan biarkan dosa itu menjadi batu sandungan kita. Dan jangan jenuh berbuat baik.
Kiranya kesaksian saya ini dapat menguatkan iman saudara. Amin.
Tuhan memberkati.
Oleh: Pefri Pasande (Cilegon) - 19 November 2001