Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

15 February 2008

Persahabatan

Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.

Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.

Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata, ”Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar".

Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.

Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu.

Tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa kau menyukai mereka. Kirim surat ini kepada mereka yang kau anggap teman, walaupun berarti kau mengembalikannya kepada yang mengirimnya kepadamu. Bila pesan ini kembali padamu, itu berarti bahwa kau mempunyai lingkaran teman.

Untuk mengakhiri: ”Keindahan persahabatan adalah bahwa kamu tahu kepada siapa kamu dapat mempercayakan rahasia.” (Alessandro Manzoni)

Renungan :
Jika kau menerima pesan ini, ketahuilah bahwa ada orang yang bermaksud baik padamu dan bahwa dari dirimu ada juga orang yang kau kasihi. Jika kau terlalu sibuk untuk menyisihkan beberapa menit untuk meneruskan ini kepada orang lain dan berpikir, ”Saya akan melakukannya beberapa hari yang akan datang", lupakan saja, karena mungkin kau tidak akan pernah melakukannya.

Berilah kepada orang lebih dari yang mereka harapkan, dan lakukan secara bijaksana.

Yakinlah pada dirimu ketika berkata: ”Aku mencintaimu."

Jika kau berkata: “Aku menyesal,”
tataplah mata lawan bicaramu.

Jangan permainkan harapan orang lain. Mungkin kau bisa tersinggung, tetapi itulah satu-satunya cara untuk menjalani hidupmu.

Jangan adili orang lain, tetapi adili dirimu secara kritis.

Bicaralah pelan, tetapi cepat dalam berpikir. Jika kau ditanya sesuatu yang tak ingin kau jawab, senyumlah, dan tanya: ”Mengapa kamu mau tahu?"

Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar mengandung banyak risiko.

Jika kau kalah, jangan lupakan pelajaran dibalik kekalahan itu.

Hargai dirimu.

Hargai orang lain.

Bertanggung jawablah atas tindakanmu. Jangan biarkan selisih paham merusak indahnya persahabatan. Tersenyumlah ketika menjawab tilpon, orang yang menilponmu akan mendengarnya dari suaramu. Baca yang tersirat. Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu.

Hallo, Tuhan!

Seperti biasa, sebelum tidur malam, aku selalu mengontak Tuhan dengan telepon sambungan khusus yang bisa bercakap-cakap dengan Tuhan secara langsung. Seperti malam ini juga, aku yang telah bersiap-siap untuk pergi tidur, tidak lupa terlebih dahulu memencet nomor telepon yang telah kuhafal.

Kring….. kring …….

Tuhan : Hallo?
Aku : Hallo, Tuhan!
Tuhan : Oh , hallo, anak-Ku. Ada kabar apakah hari ini?
Aku : Tuhan, tadi aku ikut ayah ke acara malam amal guna menghimpun dana bagi pembangunan gereja. Banyak sekali yang datang. Sepertinya mereka bukan orang biasa-biasa saja, Tuhan. Dan ternyata memang benar, Tuhan. Itu kuketahui saat acara penyerahan sumbangan. Mereka beramai-ramai menuliskan sejumlah uang dan maju untuk diserahkan. Dimulai oleh Pengusaha E dari PT. Maju Mundur menyumbang 35 juta. Manager B dari PT. Angin Ribut sebesar 50 juta. Bapak K dari Pabrik Suka Ramai memberikan 72 juta. Lalu Bapak C, Dirut PT. Kocok-Kocok menyerahkan 90 juta. Yang paling menghebohkan adalah ketika Mr. Y dari Inggris memberikan sumbangan sebesar $ US 25.000,- atau senilai 250 juta rupiah! Wah, tepuk tangan sontak membahana dalam ruangan itu, Tuhan. Dan sebagai rasa terima kasih, Mr. Y-lah yang diberi penghormatan untuk meletakkan batu pertama pembangunan gereja itu
Tuhan : Berarti cukup banyak juga dana yang terkumpul?
Aku : Iya, Tuhan.
Tuhan : Lalu bagaimana?
Aku : Ya setelah tepuk tangan itu berhenti, tiba-tiba ada seorang bapak tua yang maju. Pakaiannya biasa-biasa saja dan tampak lusuh. Banyak orang berbisik-bisik dan saling pandang kira-kira berapa yang akan diserahkannya. Apakah bisa melampaui yang diserahkan oleh Mr. Y.
Tuhan : Berapa yang dia berikan?
Aku : Ternyata bapak itu hanya memberi sumbangan sebesar 1 juta, Tuhan.
Tuhan : Lalu?
Aku : Ya… bisa ditebak Tuhan, seluruh ruangan terdiam bahkan pembawa acaranya pun seolah kehilangan kata-kata dan tertegun selama beberapa saat hingga akhirnya dia tersadar setelah bapak itu berbalik kembali ke kursinya. Kemudian pembawa acara itu mengucapkan terima kasih serta memohon hadirin untuk memberi tepuk tangan. Tapi sungguh ironis, Tuhan, sambutan mereka tidak sehebat saat Mr. Y. yang maju. Bahkan terkesan mengejek. Orang-orang di sebelahku pun saling berbisik, kalau hanya segitu saja aku juga bisa.
Tuhan : Tapi apakah mereka juga berani maju seperti bapak itu
Aku : Kelihatannya tidak, Tuhan. Bahkan sampai akhir acara mereka tidak terlihat berdiri dari tempat duduknya.
Tuhan : Lalu apa yang bisa kau petik dari kejadian itu, anak-Ku?
Aku : Ternyata untuk membangun rumah-Mu pun sekarang sudah dibisniskan, ya Tuhan, bahkan mereka berlomba-lomba untuk mencari nama dengan jor-joran menyumbang. Mereka sepertinya meminta pamrih atas apa yang telah dikeluarkannya, padahal belum tentu itu dari uang mereka sendiri, bisa jadi dari uang perusahaan. Bahkan ukuran yang mereka pakai sekarang adalah uang, Tuhan. Nyatanya saat bapak tua itu yang maju, mereka mencemoohnya.
Tuhan : Engkau benar, anak-Ku. Padahal dari semua yang telah mereka berikan, sesungguhnya persembahan bapak itulah yang paling berkenan kepada-Ku. Jika yang lain memberi dari kelebihan mereka, bapak ini memberi dari kesederhanaannya. Andai kau tahu, anak-Ku bapak itu adalah seorang pedagang sayur keliling yang telah menyisihkan sebagian labanya yang tidak seberapa itu selama bertahun-tahun untuk diserahkannya bagi pembangunan rumah-Ku. Aku lebih menyayangi dan memberkatinya sehingga walaupun hidupnya dalam kesederhanaan namun dia selalu bersukacita.
Aku : Lalu apa upah bagi mereka yang lain, Tuhan?
Tuhan : Sesungguhnya mereka telah mendapatkan upah sesuai perbuatan mereka. Namun tidak ada damai sejahtera bagi mereka karena lebih menyayangi harta duniawi dan tidak mencari harta surgawi. Nah, anak-Ku, kau telah belajar banyak hari ini. Dan kini kau tahu apa yang lebih menyenangkan hati-Ku. Berlakulah seperti yang telah Kukatakan. Aku akan selalu menyertaimu. Selamat malam dan selamat tidur.
Aku : Selamat malam, Tuhan.

Ceklek!!! Telepon ditutup.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Markus 12: 43-44)


From : Indah Susanti, Semarang

Sebuah DOA!

Aku meminta Allah mengangkat kesombonganku. Dan Allah menjawab, "Tidak".
Ia berkata bukan bagian-Nya mengangkat hal itu, tetapi bagianku untuk menyerahkannya.

Aku meminta agar Allah menyembuhkan anakku yang cacat, tetapi Ia berkata, "Tidak".
Ia berkata rohnya utuh dan sempurna, tubuh hanya sementara.

Aku meminta Allah untuk memberikanku kesabaran, dan Allah berkata, "Tidak".
Ia berkata kesabaran adalah hasil dari tantangan dan pencobaan. Hal itu tidak diberikan, tetapi diperoleh dengan usaha.

Aku meminta Allah untuk memberikanku kebahagiaan, dan Allah berkata, "Tidak".
Ia katakan Ia memberikan berkat, tetapi kebahagiaan tergantung pada diriku sendiri.


Aku meminta agar Allah menghindarkan aku dari kepedihan dan Allah berkata ”Tidak.”
Ia katakan, penderitaan menjauhkanku dari kesenangan dunia
dan mendekatkanku pada-Nya

Aku meminta pada Allah untuk menumbuhkan rohku
dan Allah berkata ”Tidak.”
Ia katakan, aku harus belajar bertumbuh sendiri
, tetapi Ia akan membersihkan rantingku dan membuatku berbuah.

Aku bertanya pada Allah apakah Ia mengasihiku dan Allah berkata “Ya.”
Ia berikan Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagiku
dan aku akan berada di surga suatu hari nanti.

Karena... aku percaya Aku meminta agar Allah menolongku mengasihi orang lain Seperti Ia mengasihiku
Dan Allah berkata, ”Ah, akhirnya engkau mengerti..."

Tuhan Yesus Memberkatimu... Sekarang dan senantiansa AMIN

Give Thought to Your Ways

Today's Scripture

“A simple man believes anything, but a prudent man gives thought to his steps” (Proverbs 14:15).

Today's Word from Joel and Victoria

Do you consider yourself to be prudent or wise? The Bible says that one of the characteristics of a prudent person is to give thought to their ways. So many people today just act, or re-act, based on their emotions or circumstances. They let the world around them determine how they should feel or what they should do. They believe everything they hear in the news. When the economy is up, they are up. When the economy is down, they are down. Don’t let that be you today! Give thought to your ways. Submit every decision to the Lord in prayer and allow Him to direct you from inside your heart. Don’t believe everything you hear. Let the Lord guide your steps. As you take time to meditate before the Lord and submit your plans to Him, Proverbs says that your ways will be established. You will find supernatural peace that passes understanding, and you will live in success all the days of your life!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for Your faithfulness to me. Thank You for guiding and directing my steps. Help me each day to give thought to my ways and follow the good plan You have for me. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries