Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

09 August 2008

Humor : Roti Dan Air

Seorang pembalap sepeda motor sedang melaju kencang di jalan raya. Tiba-tiba ia menabrak seekor burung pipit yang langsung jatuh tak sadarkan diri. Dia segera memutar sepeda motornya dan mengambil burung malang yang tak sadarkan diri itu untuk dibawanya pulang.

Ketika sampai di rumah, dia menaruh burung itu dalam sangkar. Sebelum pembalap itu pergi, tidak lupa dia meninggalkan roti dan air dalam sangkar tersebut.

Beberapa saat ketika pembalap itu sudah pergi, burung pipit itupun akhirnya siuman dan langsung memandang ke sekelilingnya sambil berkata, "Terali besi ..., roti ..., air .... Ya Tuhan!!! Aku sudah membunuh pembalap itu!!!"

Weekend Scripture - Roma 12:2

"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2)

I Love You More

Aku: Tuhan.. aku butuh bantuan…

Tuhan: Katakanlah anak-Ku, Aku mendengarkanmu.

Aku: Tuhan, aku tidak punya uang, aku bingung harus bagaimana.

Tuhan: Tenanglah anak-Ku, Aku….

Aku: Tuhan, ada lagi…

Tuhan: Oh, masih adakah? Baiklah, katakan anak-Ku, Aku mendengarkanmu.

Aku: Aku tidak bisa berpikir Tuhan, seolah-olah semuanya sulit dilakukan.

Tuhan: Tenanglah anak-Ku, Aku…

Aku: Tunggu Tuhan! Masih ada lagi..

Tuhan: Oh baiklah anak-Ku sayang, katakanlah.

Aku: Tuhan, aku mulai mengalami kemunduran. Segala sesuatunya semakin memburuk. Aku merasa terpuruk Tuhan.

Tuhan: Apanya yang memburuk?

Aku: studiku, kondisi ekonomiku, semuanya Tuhan… semua…

Tuhan: Anak-Ku, tenanglah..

Aku: Aku harus bagaimana Tuhan?

Tuhan: Anak-Ku, dengarkanlah Aku.

Aku: Aku sudah mencoba berbagai cara, Tuhan katakanlah, aku harus bagaimana.

Tuhan: Aku mengerti anak-Ku, dengarkanlah Aku.

Aku: Sebentar Tuhan, aku konsultasi dulu pada temanku, siapa tahu dia bisa membantu.

Tuhan: Baiklah anak-Ku, pergilah. Aku menunggumu.

******************************

Aku: Tuhan, aku kembali.

Tuhan: Bagaimana anak-Ku?

Aku: Temanku mengatakan agar aku bertanya pada-Mu.

Tuhan: Baiklah…

Aku: Bagaimana Tuhan? Aku harus bagaimana?

Tuhan: Dengarkan Aku, anak-Ku kekasih.

Aku: Oh Tuhan, sebentar, aku harus makan siang, perutku sudah lapar.

Tuhan: Baiklah anak-Ku, makanlah terlebih dulu.

*******************************

Aku: Tuhan, aku datang. Bagaimana Tuhan?

Tuhan: Apakah makanannya enak?

Aku: Tentu saja, mama yang membuatnya.

Tuhan: Apakah kamu menyukai masakannya?

Aku: Tentu saja Tuhan, aku menyukainya

Tuhan: Apakah kamu kenyang?

Aku: Yup! Aku sangat kenyang. Bagaimana Tuhan? Masalahku yang tadi itu?

Tuhan: Oh ya, masalah yang tadi ya? Baiklah anak-Ku..

Aku: Beritahukan padaku Tuhan, apa yang harus aku lakukan.

Tuhan: Baiklah nak, dengarkanlah Aku.

Aku: Tuhan, aku bingung karena aku sekarang tidak memiliki uang sama sekali.

Tuhan: Iya anak-Ku, Aku tahu. Begini….

Aku: Aku bingung Tuhan, kalau aku tidak memiliki uang seperti ini, aku bingung, mau beli makanan susah, mau beli buku susah, mau beli bensin susah. Harga bensin naik lo Tuhan. Tuhan tahu kan? Aku harus pergi ke sana ke mari. Bagaimana Tuhan?

Tuhan: Iya anak-Ku. Berikan Aku kesempatan untuk berkata-kata.

Aku: Oh maaf Tuhan, baiklah, katakan sesuatu.

Tuhan: Terima kasih. Begini nak, tentang masalah yang kamu khawatirkan itu…

Aku: Ah Tuhan! Aku tahu! Ada sebuah buku yang membahas masalah kekhawatiran. Sebentar Tuhan, aku baca buku dulu yah, nanti kita sambung lagi.

Tuhan: Ya, baiklah.

****************************************

Aku: Hai Tuhan, It’s me again. Aku sudah membacanya Tuhan. Aku tidak boleh khawatir, karena aku memiliki-Mu. Betul kan Tuhan?

Tuhan: I..

Aku: Dan Tuhan selalu tahu apa yang aku perlukan sehingga aku tidak perlu bingung akan apa yang aku makan dan apa yang aku pakai. Betul kan Tuhan?

Tuhan: Iy…

Aku: Selain itu, Tuhan juga begitu mengasihiku sehingga Tuhan pasti akan menyediakan dan mencukupi segala kebutuhanku kan Tuhan?

Tuhan: Iya anak-Ku. Itu benar.

Aku: Jadi aku harus bagaimana Tuhan? Apakah aku harus berdiam diri?

Tuhan: Dengarkanlah Aku anak-Ku.

Aku: Apakah aku harus bertanya pada Tuhan?

Tuhan: Maka dari itu, dengarkanlah Aku.

Aku: Apakah aku mengambil pelayanan di gereja saja ya Tuhan? Apa yang Tuhan inginkan? Katakan padaku, Tuhan.

Tuhan: Baiklah anak-Ku. Dengarkanlah ini.

Aku: *hoahm…* Tuhan, aku terlalu lelah hari ini. Kita sambung besok saja ya Tuhan. Good night. I love You.

Tuhan: ………………. I love you more.

" Berapa banyak waktu yang kita sediakan untuk Tuhan berbicara kepada kita hari ini ? "

Menerima Nasehat

Nats : Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya (Keluaran 18:24)

Bacaan : Keluaran 18:13-27

Musa memang hebat. Bukan saja karena hal-hal besar yang ia lakukan, tetapi juga karena sebagai tokoh besar dan pemimpin, ia tetap mau terbuka menerima masukan. Memerhatikan, mengasah, dan mengolah usulan yang datang kepadanya, menjadikan Musa pemimpin yang patut ditiru.

Ketika Yitro, mertuanya, melihat bagaimana Musa menangani sendiri semua hal tentang pengelolaan masalah bangsa Israel, ia mengingatkan bahwa itu "tidak baik" (ayat 17). Yitro lalu mengusulkan agar dalam menjalankan tugasnya ini, Musa memakai strategi yang lebih tepat, termasuk bahwa ia dapat melibatkan orang-orang yang cakap sebagai mitra pelayanan. Musa mendengarkan usulan ini dan sungguh-sungguh melakukannya. Setelah beres, barulah Musa melepas mertuanya pergi (ayat 27). Artinya sang mertua masih bisa melihat bagaimana Musa memperbaiki sistem pelayanannya. Betapa indahnya bila seseorang mendengarkan dan menerima nasihat baik dari orang lain, demi pelayanan yang lebih baik dalam pekerjaan Tuhan!

Mari renungkan bagaimana hal ini dapat diterapkan juga dalam kita berkeluarga, melayani Tuhan, bekerja, dan bersaksi. Sudahkah kita menjadi orang yang terbuka memerhatikan usulan orang lain dan mau mengkajinya dengan rendah hati? Atau, kita sering merasa terganggu dengan nasihat orang, sehingga nasihat yang tepat pun kita abaikan demi gengsi? Jangan buru-buru menolak saran yang datang. Nasihat yang baik bisa muncul dari siapa saja. Bila hati kita terbuka, kita dapat melihat pertolongan bisa datang dari mana saja. -DKL

NASIHAT TAK MEMBUAT ORANG JADI KECIL
ITU SEBABNYA ORANG BESAR PUN TAK TAKUT MENERIMA NASIHAT

SABDA.org

Tetesan Setelah Tetesan Terakhir

Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat. Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini.

Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping. Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir. 'Hingga tetes terakhir', pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton : "Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!"

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk, tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata, "Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?"

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung. Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?"

"Begini," jawab wanita itu, "Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku. Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku".

Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku.

"Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya", demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut. (Bits & Pieces, The Economics Press)