Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 September 2009

Doa Yang Membangkitkan

"Tante.. pegangin minuman Axel ya, soalnya Axel mau berdoa untuk mama supaya mama cepat sembuh dan boleh pulang sama Axel", begitulah tutur seorang anak laki-laki sederhana yang berumur 4-5 tahun. Setelah dirawat satu malam di rumah sakit Husada di Jakarta karena pendarahan yang dialami mamanya Axel yang sedang mengandung 5 bulan, diperbolehkan untuk beristirahat di rumah.

Beberapa hari kemudian, mama Axel merasa sakit di perutnya, seketika itu juga dilarikan ke rumah sakit tempat dia dirawat kemarin. Beberapa kali terjadi kontraksi dan sesaat kemudian lahirlah seorang bayi berumur lima bulan dalam kandungan yang sangat mungil sebesar botol Aqua ukuran sedang pada tanggal 7 Juli 2004.

"Pak, 99,9 persen tidak ada harapan lagi, bagaimana nih? Apa masih mau diteruskan?", kata salah satu suster yang menangani.

"Biar hanya tinggal 1 persen sekalipun, anak saya harus terus hidup", jawab papanya Axel.

Cukup menggemparkan memang berita ini sehingga kerabat dari papa dan mamanya Axel langsung datang menjenguk. Banyak air mata yang mengalir pada setiap orang yang datang menjenguk, terlihat hati yang hancur, kesedihan yang terlalu dalam dan perasaan pasrah pada Tuhan dikedua raut muka orangtua Axel.

"Mama.. Axel udah lihat dede, kok dia kecil sekali ya ma? Tapi Axel sayang dede. Mama.. kita pulang bawa dede yuk", ajak si Axel.

Mama Axel menatap sedih dengan linangan air mata dan mencoba menjelaskan keadaan, "Axel.. dede Axel masih lemah, dia terlalu lembut untuk digendong pulang dan dia harus tetap dirawat di sini, Axel berdoa saja ya sama Tuhan Yesus, minta Tuhan Yesus beri kekuatan untuk dede, supaya dede bisa pulang ke rumah."

Keesokan harinya, Axel yang di rumah minta omanya ajak dia ke rumah sakit untuk menengok dede barunya. Sesampainya dia di ruang incubator yang terpisahkan oleh kaca yang lebar, di situ dia berdoa, "Tuhan Yesus yang baik, terima kasih sekarang Axel udah punya dede baru, Tuhan lihatkan, tangannya terlalu kecil gak seperti tangan Axel, kepalanya juga dan kata mama dede sangat lemah, Axel percaya sama kekuatan Tuhan, Tuhan maukan pegang tangan dede supaya dede bisa menjadi besar kayak Axel, Amin."

Setelah berdoa, Axel masih mau lihat dedenya sebentar lagi, sambil digendong omanya, Axel menyanyikan lagu Ku mau cinta Yesus selamanya. Setelah berulang-ulang menyanyikan lagu itu, lalu dia berkata, "Dede udah denger kan kokoh Axel nyanyi untuk dede? Besok kokoh Axel nyanyi lagi untuk dede ya.."

Oma Axel menangis terharu melihat apa yang dilakukan cucunya. Kami semua kerabat papa mamanya Axel berdoa untuk mereka khususnya untuk bayi mereka. Sekarang dede Axel sudah bisa bernafas secara teratur, semuanya berjalan lancar dan hari makin hari dia beroleh kekuatan untuk berkembang. Semuanya karena nyanyian dan doa dari seorang anak laki-laki sederhana yang berumur 4-5 tahun yang mengatakan betapa dia menyayangi dedenya.

Pelajaran yang bisa dipetik dalam cerita ini adalah dimanapun kita, seberat apapun pergumulan masalah kita sehingga terlintas di benak bahwa tidak ada lagi harapan, Tuhan Yesus bekerja pada saat itu, Dia yang tidak pernah meninggalkan kita akan selalu menolong kita, asalkan kita datang merendahkan diri kepadanya sama seperti doa polos Axel kepada Tuhan Yesus dan mengandalkan kekuatanNya.

Lelah Melayani

Yesaya 40 : 29 - “Dia memberi kekuatan kepada yang ellah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”

Pernahkah kamu merasa lelah di gerejamu? Lelah di dalam pelayanan? Sepertinya apa yang kamu lakukan selalu salah. Pemimpinmu tidak menghargaimu. Orang-orang disekitarmu tidak merasakan dampak pelayananmu. Orang tuamu sering komplain karena kamu pulang malam dan tidak cukup istirahat.

Berbagai hal sudah kamu usahakan, kamu sudah merenungkan dan mencari hal-hal yang sepertinya menjadi ganjalannya. Tetapi sepertinya tidak ada dosa. Tidak ada sesuatu yang salah dalam melakukan pelayanan ini. Tetapi mengapa buahnya tidak bisa menjadi berkat, walaupun dari luar tampak sepertinya buahnya banyak dan enak. Maksudnya ada buah-buah seperti penambahan kelompok sel, pertambahan jiwa baru, yang muncul dari hasil kerja kerasmu.

Sebentar. Sepertinya ada yang terlewat. Apakah tulisan yang barusan terbaca seperti, “… hasil kerja kerasmu?”

Apakah selama ini kamu melakukannya dengan usaha kerasmu? Jika ya, maka kamu akan mempersoalkan jika pemimpinmu tidak menghargaimu. Kamu akan selalu merasa benar dan berusaha memperlihatkan sesuatu kepada pemimpinmu. Apa saja yang kamu lakukan akan selalu berpusat pada dirimu sendiri, karena kamu ingin membuktikan kepada pemimpinmu bahwa kamu yang berada di lapangan lebih tahu segala hal daripada pemimpinmu, yang menurutmu hanya bisa memerintah saja tanpa melakukan tindakan apa-apa.

Apakah selama ini kamu melakukannya dengan usaha kerasmu? Jika ya, maka kamu akan berusaha terlihat baik diantara orang-orang di sekelilingmu. Kamu akan mulai menyalahkan mereka jika ada hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginanmu. Apapun yang mereka buat selalu saja kamu bisa menemukan kesalahannya dan tentu saja, kamu akan mempersoalkannya sehingga mereka merasa bahwa kamu selalu benar.

Selama ini kita melakukannya dengan kekuatan sendiri, maka ada orang-orang di sekitar kita yang akan dilukai, pemimpin kita yang selalu menjadi bahan omongan dan kelelahan demi kelelahan dalam pelayanan kita.

Berhentilah jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Jika selama ini kamu melakukan pelayanan dengan kekuatanmu sendiri, kali ini lakukanlah dengan rohmu. Libatkan Tuhan dalam setiap langkahmu. Melayani sebagai seorang hamba.