Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 January 2008

My Best Friend

Bila Dia memanggilmu lebih dahulu,
Mohonlah pada-Nya apakah dapat membawa seorang sahabat.

Bila usiamu sampai seratus tahun,
Aku ingin hidup seratus tahun kurang 1 hari,
Jadi aku tak akan merasa hidup tanpamu disisiku.

Persahabatan sejati layaknya arti kesehatan,
Nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.

Sahabat sejati akan tetap bersama kita,
ketika kita merasa seisi dunia meninggalkan kita.

Ayahku selalu berkata,
Bila kamu memiliki banyak sahabat sejati,
maka kamu akan memiliki kehidupan yang indah.

Jika seluruh sahabatku melompat ke suatu jurang,
Aku tak akan mengikuti mereka,
Aku akan berada di dasar jurang untuk menangkap mereka.

Aku akan membimbingmu
Dan kau akan membimbingku
Begitu sebaliknya

Persahabatan adalah satu jiwa
Dalam dua raga.

Jangan kamu berjalan di depanku,
Aku tak dapat mengikutimu.
Jangan kamu berada di belakangku,
aku tak bisa memimpinmu.
Berjalanlah disampingku,
jadilah temanku.

Teman mendengarkan apa yang aku katakan,
Sahabat sejati akan mendengar apa yang tidak kamu katakan.

Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu dalam hatimu,
dan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.

Kita semua memiliki peran yang berbeda dalam hidup ini,
Tapi tak menjadi soal dimana posisi kita akan memiliki arti,
sekecil apapun peran itu.

Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga kita.

Orang asing adalah teman yang menunggu apa yang akan terjadi,
Sahabat sejati seperti penganan dalam mangkuk kehidupan.

Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.2

(Kisah nyata campur tangan Tuhan Yesus terhadap sepasang calon mempelai) - Bagian II

Setelah gempa bumi terjadi di Jogja dan sekitarnya, seluruh jaringan komunikasi mati total. Handphone tidak berfungsi sama sekali. Aku yang baru saja sembuh tidak dapat menghubungi Event Organizer (EO)ku. Kami tidak tahu apakah besok pesta pernikahan yang “once in a life time” dapat tetap berlangsung atau tidak, atau menjadi seperti apa.

Sabtu siang, beberapa saudara ada yang berhasil menelpon, itupun hanya menanyakan : apakah pemberkatan dan resepsi pernikahan kami akan tetap berjalan. Kami hanya bisa berucap, “Ya, ya!” dengan iman.

Sabtu malam itu tanggal 27 Mei 2006, sesuai jadwal Pak Jeffry S. Tjandra datang dari Jakarta untuk mengisi acara dan sekaligus menjadi MC di acara pernikahan kami. Ternyata bandara Adi Sucipto, Jogja, ditutup. Semua penerbangan ke Jogja dibatalkan, karena bandaranya terkena gempa, tidak dapat dipakai untuk mendarat ataupun lepas landas. Sebagai gantinya, semua penerbangan ke Jogja dialihkan ke Solo dan Semarang. Sebagian tamu-tamu luar kota yang akan datang dan sudah membeli tiket terpaksa dibatalkan.

Namun Pak Jeffry S. Tjandra tetap konsisten. Beliau tetap datang walaupun harus lewat Semarang dan kemudian naik bis ke Jogja. Pada Sabtu malam itu kota Jogja gelap gulita karena semua jaringan listrik dipadamkan PLN.

Ya, Tuhan! Malam itu aku dan (calon) suamiku hanya berlutut, menangis dan berdoa. Kami hanya pasrah. Tuhan, kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kami hanya mau ikut jalan Tuhan. Bila Tuhan tidak mengizinkan kami menikah besok, Minggu 28 Mei 2006, kami hanya bisa pasrah dan ikut semua rencana-Nya. Tetapi kami percaya Tuhan pasti memberi yang terindah untuk anak-anak yang mengasihi-Nya.

Sabtu malam jam 11 akhirnya kami mengadakan meeting dengan EO untuk membahas dan merevisi ulang semua rencana pernikahan kami untuk keesokannya. Ketika meeting itu saya hanya bisa menangis dan menangis. Entahlah apa yang akan terjadi esok hari.

Meeting selesai pada pukul 3 dini hari, karena begitu banyak hal yang harus kami bicarakan. Jam 4 subuh aku sudah harus pergi ke Salon. Bisa dikatakan beberapa minggu ini kami kurang tidur terus karena harus mengurus pernikahan. Padahal kalau mengingat kondisiku yang baru sembuh dari sakit, seharusnya aku harus banyak istirahat. Tapi kenyataannya kondisinya tidak memungkinkan, mau bagaimana lagi?

Jam 4.30 subuh aku datang ke Salon dengan mata sembab. Pada saat di-make-up pun aku tak kuasa menahan air mataku yang jatuh terus menerus mengalir membasahi pipiku. Dalam hati aku hanya berharap satu hal: jika pemberkatan di gereja dan Catatan Sipil bisa berjalan lancar saja, aku sudah sangat senang karena aku pikir, itulah moment sakralku saat aku diberkati oleh Tuhan dalam pernikahan kudus ini.

Puji Tuhan, semua pendukung acara pernikahanku bisa melaksanakan kewajibannya dan akhirnya kami bisa melewati pemberkatan di Gereja dan acara di Catatan Sipil. Oh, saat itu aku sudah sangat lega dan bersyukur kepada Tuhan. Kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada saat resepsi sore harinya karena Jogjakarta masih dalam kondisi pasca gempa yang mencekam, dimana aliran listrik dan air masih belum berfungsi.

Pada saat acara “Pai Ciu”(salah satu rangkaian acara dalam adat Tionghoa), kami sangat bergembira karena pada saat dikumpulkan ternyata cukup banyak saudara-saudara kami yang datang meskipun di tengah-tengan suasana gempa. Kami sangat bersyukur karena mereka masih tetap mau datang. Setelah Pai Ciu selesai, mereka diarahkan masuk ke dalam Ballroom sambil menunggu acara dimulai. Saat itu kami bertanya kepada EO, kira-kira berapa meja yang telah terisi? Oh, Tuhan! Ternyata baru 10 % dari total meja undangan.

Oh, Tuhan! Di dalam pikiran kami sudah terbayang meja-meja bakal kosong. Tetapi kami sangat memahami mereka yang tak dapat datang, karena mereka mungkin masih trauma akibat gempa kemarin. Mungkin diantara mereka ada yang sudah pergi mengungsi keluar dari Jogja.

Kami kembali pasrah. Namun di dalam hati ini kami sudah sangat sangat bersyukur: di tengah bencana melanda Jogja sekalipun acara pemberkatan pernikahan kami di Gereja dan di Catatan Sipil boleh berjalan dengan lancar.

Satu jam kemudian kami ditelpon oleh pihak Event Organizer (EO) agar mempelai siap-siap untuk turun dari kamar hotel dan memasuki Ballroom. Dengan perasaan berdebar-debar kami bertanya kepada EO berapa jumlah meja undangan yang sudah terisi? Oh, puji Tuhan, 90% terisi, suatu jumlah yang sangat tidak kami bayangkan sebelumnya.

Bahkan Tuhan masih menyatakan mukjizat-Nya. Sepuluh menit setelah mempelai memasuki Ballroom, pihak Hotel harus menyediakan dua meja tambahan. Jumlah undangan yang fantastis dan benar-benar di luar perkiraan kami! Jika kita mau berserah, berharap dan percaya kepada-Nya, mukjizat itu nyata!

Keesokan hari setelah acara pernikahan, kami dikabari bahwa visa tour ke Eropa sudah keluar, padahal sebelumnya tour ini sempat di-cancel karena jumlah peserta kurang. Kami harus berangkat besok lusa. Di saat itu kami berdoa, ”Tuhan kalau memang kami boleh berangkat bulan madu, biarlah aku diberi kesehatan selama tour ini.”

Kami menikmati perjalanan bulan madu ke Eropa dan kami pulang dari Eropa dengan selamat. Bahkan Tuhan menyatakan mukjizat-Nya sekali lagi. Setelah pulang dari Eropa aku baru menyadari bahwa aku telat mens. Ya, ternyata aku positif hamil. Oh, betapa bahagianya!

Terima kasih, Tuhan! Terima kasih untuk semua hal yang boleh kami jalani bersama Engkau! Kami percaya kesaksian ini dapat menguatkan semua orang yang membacanya, untuk kemuliaan Tuhan. (Selesai)

* Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.1

Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.1

(Kisah nyata campur tangan Tuhan Yesus terhadap sepasang calon mempelai) - Bagian I

“Kami menikah sehari sebelum gempa menimpa Jogja tetapi Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita yang sungguh-sungguh mengasihi Dia. Tuhan Menunjukkan Kemurahan Hati-Nya lewat peristiwa yang tidak akan pernah kami lupakan sepanjang sejarah kehidupan kami”

Namaku Silvia dan suamiku Andri. Kami baru saja menikah, 28 Mei 2006 yang lalu. Tapi sebelum menikah, kami melalui banyak ujian yang datang. Semoga kesaksian ini, bisa menguatkan banyak orang dan mendatangkan kebaikan bagi Pembaca.

Ujian aku alami, datang pertama kali pada saat 2 minggu sebelum pernikahan. Adik kandungku masuk Rumah Sakit, ya adikku menderita demam berdarah (DB) pada saat 2 minggu menjelang pernikahanku. O, Tuhan betapa shocknya aku saat itu, karena selain memikirkan kondisi adikku, aku juga memikirkan kondisi kesehatan kedua orangtuaku tentunya. Karena menjelang pernikahan putrinya, tentu orangtuaku termasuk orang yang sangat sibuk mengurusi persiapan pernikahanku, ternyata kesibukan orang tua masih harus ditambah dengan masuknya adikku ke rumah sakit, yang tentunya membuat beban pikiran mereka semakin bertambah. Aku sangat mengkuatirkan kondisi orang tuaku, terutama papaku, karena beliau pernah operasi jantung koroner. Tentunya bagi penderita penyakit jantung, beliau tidak boleh dibebani pikiran yang terlalu berat, juga kondisi fisiknya harus tetap dijaga.

O, Tuhan saat itu aku hanya bisa terus berharap agar adik bisa secepatnya sembuh. Tapi ternyata yang terjadi kondisi adikku semakin parah, trombositnya drop terus sampai tinggal 7 ribu, padahal untuk jumlah trombosit orang normal berkisar antara 150-200 ribu. Walaupun sudah diobati dengan obat paling canggih dan paling mahal sekalipun tidak bisa menahan dropnya trombosit adikku. Sampai-sampai dokter yang menangani adikku berkata, kalau kondisinya nge-drop terus, dan kondisi fisik pasien tidak kuat, maka darah akan keluar dari hidung, telinga, dan mulut karena semua pembuluh darahnya bisa pecah dan kalau hal itu sampai terjadi dokter akan angkat tangan karena tidak mampu membantu lagi. O, Tuhan sekali lagi hati kecilku menjerit, tapi satu hal yang pasti, aku percaya kalau mukjizat Tuhan masih terjadi hingga saat ini. Dan aku percaya pertolongan Tuhan pasti akan terjadi tepat pada waktu-Nya.

Akhirnya benar, waktu yang ditunggu-tunggu tiba, beberapa hari kemudian kondisi semakin membaik, adikku berangsur-angsur sembuh, dan lima hari menjelang pernikahanku, adikku bahkan sudah boleh pulang dari Rumah Sakit. Ya, aku sangat bersyukur sekali, walaupun adikku pulang lima hari sebelum aku menikah. Waktu yang sangat mepet tentunya bagi aku sekeluarga untuk kembali mempersiapkan hal-hal yang belum sempat kami urus berkaitan dengan pernikahanku.

Pagi harinya, saat adikku pulang dari rumah sakit, kami sangat senang, oh betapa leganya kita saat itu… Tetapi ternyata itu masih belum cukup Tuhan masih ingin menguji imanku, malam harinya, gantian aku yang menderita sakit, bayangkan, aku yang akan menikah lima hari lagi menderita sakit dengan gejala yang sama seperti adikku, yaitu demam berdarah. O, Tuhan begitu beratnya ujianku saat itu, rasanya aku udah dipangkas habis, aku ingin menjerit, aku sampai tidak punya daya upaya untuk melakukan apapun lagi.

Semua saudara-saudaraku yang mengetahui keadaanku saat itu juga mengatakan hal yang sama, bahwa aku bisa terkena DB atau typus. Pada saat aku cek ke dokter, dokter juga belum bisa memastikan penyebab demam yang mencapai 40° Celcius. Dokter hanya menyarankan aku untuk cek darah lagi 7-10 hari setelah demamku. O, Tuhan, padahal lima hari lagi besok Minggu adalah peristiwa penting dalam kehidupanku, hari yang kutunggu-tunggu dalam sejarah kehidupan, AKU AKAN MENIKAH!!!!

Aku dan calon suamiku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa, kita hanya yakin satu hal, bahwa mukjizat pasti akan terjadi hingga hari ini!! Kami sangat yakin dan mengimani hal itu!!

Ternyata demamku masih belum juga turun, padahal sudah begitu banyak obat dari dokter ataupun obat chinese yang kuminum. Tuhan, aku percaya, aku hanya mengandalkan Engkau dalam setiap perkara yang terjadi. Pada saat seperti ini aku teringat perkataan Jeffry S. Tjandra waktu aku dan calon suamiku menghadiri KKR-nya, dia berkata : “Dalam segala perkara yang terjadi dalam kehidupan kita, Tuhan pasti punya rencana yang terindah jika kita mau berserah kepada kehendak-Nya dan percaya kepada-Nya, karena sehelai rambutpun jatuh atas seijin rencana-Nya.” Kita juga percaya bahwa ujian yang boleh terjadi atas kehidupan kita tidak akan melebihi kekuatan kita.

Keesokan harinya, Kamis, demamku masih belum juga sembuh, begitu pula dengan keesokan harinya lagi, tapi satu hal dalam hatiku muncul keyakinan bahwa apapun penyakitku ini Tuhan pasti berikan mukjizat untukku, aku dan (calon) suamiku punya iman kalau nanti pada hari Sabtu aku PASTI SUDAH SEMBUH, dan hari Minggunya pernikahanku pasti akan tetap berlangsung dan berjalan dengan lancar.

Benar, Tuhan menunjukkan MUKJIZATNYA kembali, pada hari Sabtu dini hari tgl. 27 Mei itu aku merasa kondisi tubuhku membaik, bahkan demamku sudah berangsur-angsur hilang. Oh, Praise The Lord, Thanks God ucapku, namun … ternyata Tuhan punya rencana lain yang tidak pernah kami pikirkan akan terjadi. Sabtu pagi itu, pada tanggal 27 Mei 2006, di Jogjakarta terjadi gempa dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan skala 6,2 Richter, yang menewaskan sekian puluh ribu jiwa, meluluh-lantakkan banyak bangunan, gedung dan sebagainya. Membuat hatiku benar-benar shock, Tuhan, apa salahku, dari kecil aku dan calon suamiku bukan orang nakal, bukan orang jahat. Kami juga dari keluarga baik-baik, tapi kenapa kami harus melalui semuanya ini disaat menanti detik-detik menjelang pernikahan… Oh, Tuhan, hatiku hancur saat itu, dan berteriak,”Kenapa Tuhan …. Kenapa …!!??” Kamarku rusak cukup parah, tapi aku masih bisa bersyukur karena aku tidak terluka sedikitpun, padahal aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat tidurku saat gempa terjadi, karena aku sudah sangat-sangat pasrah atas semua yang terjadi, sampai-sampai aku berkata kepada Tuhan jika Tuhan mau ambil aku sekarang, aku siap dan aku tidak akan pernah menyalahkan Tuhan.

Pada saat itu keadaan di Jogja, semua orang panik, takut, ditambah dengan isu tsunami, semua orang tumplek-blek di jalan, yang Utara mau ke Selatan, yang Selatan mau ke Utara, jalan raya macet, di mana-mana terjadi kecelakaan, orang-orang berhamburan di jalan tanpa tahu harus ke mana, semua rumah sakit penuh, begitu penuhnya sampai begitu banyak pasien hanya tergeletak di aspal, karena kurangnya tenaga medis dibandingkan dengan begitu banyaknya korban saat itu

Tuhan kenapa semua ini harus terjadi pada saat satu hari menjelang pernikahanku, bayangkan hanya tinggal satu hari, tinggal besoknya kami menikah.

(bersambung)

* Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.2

Kristen Garam & Kristen Semut

Bagi orang Kristen, lambang identitas imannya yang paling utama, tak pelak lagi, adalah salib. Memang ada juga sih lambang-lambang kekristenan yang lain, tapi dibandingkan dengan salib, oh jauh! Sebut saja misalnya ikan dan roti. Atau dua huruf Yunani: Alpha dan Omega, serta Chi dan Rho.

Toh menurut Yesus, lambang orang Kristen yang paling sentral mestinya adalah garam. “Kamu adalah garam dunia,” begitu Ia bersabda.

Inilah raison d’etre atau alasan pokok keberadaan orang Kristen di dunia ini. Seperti alasan pokok adanya sebuah rumah sakit adalah untuk melayani pasien, dan alasan pokok adanya sebuah sekolah adalah untuk belajar-mengajar, alasan pokok keberadaan orang Kristen di dunia ini adalah untuk menjadi “garam dunia”.

Anda gagal menjadi “garam dunia”, otomatis gagal pula Anda sebagai pengikut Kristus. Lebih mengerikan lagi, kata Yesus, akhir nasib Anda tidak akan lebih baik dari pada seonggok sampah!. “Jika garam itu menjadi tawar,” kata-Nya, “dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya, selain dibuang dan diinjak orang!”

“Kamu adalah garam dunia.” Mendengar ini, saya maklum, bila Anda merasa sedikit kecewa. Paling sedikit, tidak berbunga-bunga. Sebuah lambang seharusnya diharapkan mampu membangkitkan rasa bangga pada yang memakainya, dan sekaligus perasaan respek pada yang melihatnya.

Oleh alasan ini, selalu dipilih kiasan-kiasan yang memberi kesan megah, gagah, agung, dan wah. Misalnya: garuda, rajawali, singa, bunga, beruang, naga. Tidak heran, di Bekasi baru-baru ini terjadi kontroversi hebat, ketika ada gagasan menjadikan ikan lele sebagai lambang kota. Lebih tak terbayangkan lagi, bila yang diusulkan adalah lipan, cacing atau kecoa. Atau, garam!

Garam tidak memenuhi kriteria yang lazim itu, apalagi bagi benak orang-orang moderen.
Apanya dari garam yang megah, yang gagah, yang indah, dan mulia? Di pedalaman Papua, konon, garam memang aduhai berharganya. Tapi di Jakarta?

Jadi, mengapa Yesus memilihnya? Mengapa Yesus memilih sebuah kiasan yang tidak membanggakan (garam), untuk melukiskan sesuatu yang amat membanggakan (menjadi pengikut Kristus)?

Jawabnya adalah karena Ia hendak dengan menekankan betapa kebanggaan seorang pengikut Kristus itu tidak terletak pada hal-hal yang eksternal. Tidak terutama ditentukan oleh hal-hal yang kasat mata. Kebanggaan duniawi memang bertumpu pada faktor-faktor eksternal. Memiliki menara yang “tertinggi”, atau umat yang “terbanyak”, serta “ter-ter” lain, sejenis yang tercatat di museum rekornya Jaya Suprana. Kemegahan eksternal memang mempesona, namun juga sering memperdaya.

Kiasan “garam” diharapkan mampu memelihara “kesadaran fungsional”, sekali pun mungkin tidak bisa memberikan “kebanggaan eksternal”. Di mana bedanya?

Kebanggaan karena berhasil membuat lumpia Semarang yang terpanjang, atau mpek-mpek Palembang yang terbesar di dunia, adalah kebanggaan eksternal. Sementara itu, kebanggaan karena berhasil membuat kue singkong yang termurah, tersehat, dan terlezat sedunia , adalah kebanggaan fungsional.

Kebanggaan karena berhasil meng”kristen”kan sebanyak mungkin orang adalah kebanggaan eksternal. Akan tetapi, kebanggaan karena berhasil membuat orang banyak se”kristen” mungkin adalah kebanggaan fungsional.

“Kebanggaan garam” adalah kebanggaan fungsional. Parameternya adalah apakah produk akhirnya berfungsi maksimal bagi sebanyak mungkin orang? Atau cuma hebat dan cocok untuk pamer serta “jago-jagoan” doang? Jelas sekali yang Yesus kehendaki ialah, agar kita menjadi “Kristen kualitas” – bukan “kuantitas”.

Untuk menjadi “Kristen kuantitas”, jalannya relatif lebih mudah. Anda cukup membangun gedung atau mengumpulkan massa. Anda tetapkan sendiri. Namun, untuk menjadi “Kristen kualitas”, sungguh berbeda.

Di sini, seperti kata Petrus, kemurnian Anda hanya bisa diperoleh dan mesti “diuji melalui api”. Lagi pula yang menentukan kualitas Anda adalah orang lain, dunia ini. Dan berdasarkan kriteria mereka. Artinya, menurut mereka, cukup “asin”kah Anda?

Sebab itu, bila orang kristen mencari kebanggaan pada yang kuantitatif dan fisikal semata, ia sungguh salah alamat! Anda bisa menjadi “garam dunia”, tanpa semua yang gemerlapan. Ibu Teresa, misalnya. Sebaliknya, Anda bisa mempunyai semua yang gemerlapan, tanpa pernah menjadi “garam dunia.” Paus-Paus abad pertengahan, misalnya.

Bahkan menjadi “garam” pun belum jaminan. Sebab bukan “garam “-nya yang penting, tapi “asin”nya! Buat apa jadi garam kalau tidak asin? Apa gunanya jadi “patung garam” seperti istri Lot? Atau jadi “garam salon” yang tersimpan rapi di almari? Kata Yesus, “Tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang.”

Siapakah yang dimaksud oleh Yesus “garam yang tidak asin” itu? Tidak lain adalah orang Kristen yang cuma ada –mungkin besar, mungkin berkembang pesat- tapi tidak fungsional. Maksud saya, dunia tidak merasakan dampak dan makna positif apa-apa dari kehadirannya. Karena itu juga tidak akan berduka, sekiranya gereja tiba-tiba tiada. Ada atau tidak ada gereja, tidak berarti apa-apa.

Ingatlah bahwa Yesus tidak cuma mengatakan, “Kamu adalah garam”, tapi “Kamu adalah garam dunia.” Garam bagi dunia! Gereja yang hidup cuma buat dirinya sendiri, barangkali memang “garam”. Tapi garam yang tawar. Tidak berguna.

“Kamu adalah garam dunia.” Kiasan ini tidak terlalu ber “gengsi.” Tidak salah, namun tidak pula benar seluruhnya. Sebab pada waktu Yesus mengatakannya, Ia justru bermaksud mengangkat hati murid-murid-Nya. Yesus bermaksud meyakinkan mereka, betapa di balik kesederhanaan mereka, mereka tidak perlu merasa rendah diri. Pakaian mereka sederhana. Status sosial mereka sederhana. Latar belakang pendidikan mereka sederhana. Tapi mereka adalah “garam dunia”!

Artinya, betapa dunia membutuhkan mereka! Betapa hidup tidak lengkap, bahkan tak terbayangkan, tanpa kehadiran mereka! Bagaikan soto membutuhkan garam! Tambahan pula, pada zaman Yesus, “garam” punya nilai simbolis yang tinggi sekali di pandangan masyarakat!. Sampai-sampai orang Yunani menyebutnya “theion,” atau “yang ilahi”. Karena berasal dari air laut dan sinar matahari –dua benda yang dipercaya sebagai benda-benda yang paling murni di alam ini- garam juga dihubungkan dengan kemurnian. Garam melambangkan sesuatu yang tidak tercampur maupun tercemar.

Orang Kristen hidup di tengah-tengah dunia yang standar kualitasnya terus menurun dengan ajeg. Fasilitas membaik, tapi kualitas menurun. Ini berlaku untuk semua bidang kehidupan. Tapi Yesus mengamanatkan, orang Kristen mesti mempertahankan standar kemurniannya! Jangan ikut-ikutan merosot atau melorot! Jadilah bak oasis di padang gurun! Jadilah “komunitas percontohan,” di tengah-tengah dunia yang dahaga akan keteladanan! Jangan tercampur dan tercemar!

Lebih dari sekadar mempertahankan kemurnian, orang Kristen juga harus berfungsi sebagai pencegah kebusukan. Proses pembusukan dunia ini memang tak terhindarkan. Jalannya sudah harus begitu. Bahwa segala sesuatu akan berujung pada katastrofi total. Namun, prosesnya dapat diperlambat agar pintu tobat lebih lama terbuka.

Salah satu fungsi “garam” yang terpenting, di samping menjadi penyedap, adalah menjadi pengawet. Sebab itu, tidak ada ironi yang lebih besar daripada ketika orang-orang Kristen juga ikut-ikutan membusuk, bahkan ikut-ikutan membusukkan!

Apakah Anda mencium bau busuk itu? Saya tidak cuma menciumnya, tapi juga melihatnya dengan jelas. Di dalam maupun di luar gereja! Ini harus diamputasi cepat-cepat, agar pembusukan tidak menjalar ke seluruh tubuh.

“Kamu adalah garam dunia.” Bagi Yesus, status yang tinggi tidak ditentukan oleh penampakannya, melainkan oleh kemanfaatannya. Ini dilukiskan dengan indah sekali oleh “garam”, Untuk mengasinkan sesuatu, tidak diperlukan garam yang besar dan banyak. Sebab itu, kecil atau sedikitnya kita tidak dapat dijadikan dalih untuk ketidakmampuan kita berfungsi. Lihatlah garam!

Namun, ada persoalan serius, yaitu bahwa untuk mengasihi, garam yang sedikit itu harus melarut. Padahal, kecenderungan insaniah kita sebaliknya. Kita berambisi semakin lama semakin besar. Apakah ada jalan tengah? Sayang sekali, tidak.

Anda tahu apa bedanya “Kristen semut” dan “Kristen garam”? Semut senang berkerumun di tempat yang nyaman. Di mana ada gula, di situ ada semut. Garam? O, garam mesti siap diterjunkan di mana saja ia diperlukan. Biasanya di tempat-tempat yang tidak manis. Di situ, ia diminta rela memberikan semuanya, termasuk memberikan dirinya – melarut.

Menjadi “Kristen semut” tentu jauh lebih nikmat. Tentu! Tapi sayang sekali, Yesus tidak mengatakan bahwa kita adalah “semut”. Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia.”


Dikutip dari : MlMm-13

Chosen to Be Holy

Today's Scripture

“For He chose us in Him before the creation of the world to be holy and blameless in His sight” (Ephesians 1:4).

Today's Word from Joel and Victoria

Did you know that God had a plan for you before the foundation of the earth? He created you to be holy and blameless in His sight. Why did He do that? He chose you to be His ambassador, or representative, on the earth. God created you to reflect His glory. He created you to reflect His character, His righteousness, His holiness. Think about that for a moment. Part of your purpose on this earth is to be a representative for the King of kings and the Lord of lords. Let that sink in deeply on the inside of you. Knowing that should make you want to walk a little differently. It should make you want to talk differently. That should make you think a little more carefully about where you go and what you choose to do with your time. Are you representing God’s holiness today? Remember, what God’s called you to do, He’s equipped you to do. If there are things in your life that aren’t holy, God wants to empower you to overcome those things. Receive His strength and might today so that you can walk in holiness and live the abundant life He has for you.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for choosing me today. I ask You to search my heart and remove anything that is displeasing in Your sight. I accept Your holiness today. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

30 January 2008

Humor: Sepuluh Ribu atau Dua Puluh Ribu

Rumah Tomi dipenuhi oleh kerabatnya yang datang untuk makan malam merayakan Natal. Kakek memanggil Tomi yang berusia enam tahun dan mulai bertanya tentang sekolah, cewek, dan apa pun yang terpikir olehnya. Setelah beberapa saat, si kakek melihat bahwa Tomi sudah mulai bosan. Jadi, ia mengeluarkan dua lembar uang kertas untuk membuat Tomi tertarik -- lembaran sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan. Ia menunjukkan dua lembar uang itu dan menyuruh Tomi memilih salah satunya. Tomi pun memilih yang sepuluh ribu.

Si kakek agak terkejut dan kecewa dengan keputusan Tomi tersebut. Ia kemudian mengeluarkan uang sepuluh ribuan lagi dan menyuruh Tomi untuk memilih lagi. Dan Tomi pun kembali memilih yang sepuluh ribu. Si kakek sekali lagi terkejut dan kecewa.

Ia membawa Tomi kepada salah satu pamannya dan menunjukkan betapa bodohnya Tomi -- memilih sepuluh ribu daripada dua puluh ribu. Demikian terus dilakukan si kakek. Ia menunjukkan kebodohan Tomi itu kepada sejumlah kerabat. Jika ditotal, si kakek telah menyuruh Tomi untuk memilih sepuluh ribu atau dua puluh ribu itu sebanyak lima belas kali.

Beberapa jam kemudian, setelah seluruh kerabat pulang, sang ayah yang mengetahui kebodohan Tomi itu menghampiri Tomi dan menanyakan mengapa ia memilih sepuluh ribu daripada dua puluh ribu.

Dengan tersenyum lebar, Tomi menjawab, "Jika aku memilih dua puluh ribu dari sejak awal, aku tidak akan mendapatkan 150 ribu!"

Waktuku Adalah Hari Ini

Waktuku adalah hari ini. Aku akan memulainya dengan ucapan syukur dan senyuman bukan kritik. Akan kuhargai setiap detik, menit, dan jam, karena tak sedetik pun dapat ditarik kembali.

Hari ini tidak akan kusia-siakan, seperti waktu lalu yang terbuang percuma.

Hari ini takkan kuisi dengan kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok. Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan terjadi.

Hari ini aku belajar lagi untuk mengubah diri sendiri.

Hari ini akan kuisi dengan karya. Kutinggalkan angan-angan yang selalu menyatakan: “Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah.” Jikalau keadaan tetap sama, dengan kemurahan-Nya aku tetap akan sukses dengan apa yang ada padaku.

Hari ini aku akan berhenti berkata: “Aku tidak punya waktu”. Karena aku tahu, aku tidak pernah mempunyai waktu untuk apapun. Jika aku ingin memiliki waktu, aku harus meluangkannya.

Hari ini akan kulalui seolah hari akhirku akan tiba. Akan kulakukan yang terbaik dan tidak akan ditunda sampai besok karena esok belum tentu ada.

Tuhan memberkati kita hari ini. Pergunakan waktu yang ada untuk memuliakan Dia.


Dikutip dari :
50 Cerita Bijak Tentang Makna Kehidupan
oleh Yustinus Sumantri Hp., SJ.

Obrolan Iblis

DI SEBUAH PUB

Di pojok sebuah pub, remang-remang, musik dengan ritme yang monoton membuat jantung ikut berdegup kencang, terlihat lima sekawan iblis sedang duduk ngobrol. Rupanya mereka baru saja membujuk seorang anak muda yang masih ingusan untuk pertama kalinya masuk sebuah pub.

"Hehe, hik!" si Iblis Teler yang sedang mabuk mulai membuka perbincangan seru, "..aku, hik!, ..pengen tahu .. hik.. apa saja yang kalian lakukan untuk menjerat manu..hik..sia agar jauh dari TUHAN, hik!"

"Idih, gampang aja deng.." jawab si Iblis Bencong, sambil mengelus-elus tanduknya yang baru saja dikeriting di salon, "..langsung aja gua suruh doi buat bikin dosa!"

"Caranya?" si Iblis Bloon penasaran.

"Ya, langsung aja aku bujuk biar ngebo'ong, nyuri,
bahkan ngebunuh, wei ce!"

"Hehe.. zaman sekarang manusia emang gampang dibo'ongin", sahut Iblis Gembrot dengan suaranya yang berat, sekitar 130 kilo beratnya, "Kalo cara saya ialah gua bikin hati manusia penuh kekecewaan, kepahitan, benci sama temannya, ortunya atau saudaranya, itu dosanya sama dengan membunuh! Coba aja baca di 1 Yohanes 3:15".

"Ah elo, kayak yang suka baca alkitab aja!
Glek-glek- glek" timpal si Iblis Teler sembari terus nenggak alkohol 100%.

"Euh.. ketinggalan lu! Kita harus hapal itu isi
alkitab, nyong! Kita kan bisa puter balikin ayat-ayat alkitab itu buat nipu manusia, biar mereka ragu kalo alkitab itu firman TUHAN atau bahwa YESUS itu TUHAN"

"HEI! JANGAN SEBUT-SEBUT NAMA ITU!, saya jadi gemeter,
nih!

"Ups… sori!"


Sementara itu si anak ingusan tadi kelihatan sedang didekati oleh seorang wanita yang menawarinya sebuah pil. Apa daya, anak itu pun memakannya. Gedek deh!

"Hehehe.. betul juga cara elo, kalo manusia udah kena kekecewaan, udah gampang deh kita tunggangin, dia bisa marah, dia bisa males doa, males baca alkitab, dia bisa gampang kita arahin. kayak anak ingusan yang tadi kita bawa ke sini" Ujar si Iblis Bawel yang dari tadi belum kelihatan bawelnya, "Tapi kalo gua lebih suka cara mutakhir.."

"Gimana tuh?" si Iblis Bloon penasaran lagi.


"Ya gua buat manusia nggak percaya adanya iblis,
mereka bilang iblis itu cuman dongeng buat nakut-nakutin anak kecil, dan pada akhirnya mereka juga bakalan bilang kalo TUHAN itu nggak ada. HAHAHA!"

Si Iblis Bencong mengernyitkan dahinya yang penuh bisul, lalu katanya sambil menepuk kening si Iblis Bawel "Hei, tapi caraku lebih jitu… aku buat manusia percaya kalo iblis itu ada yang baik, kayak aku deng!, hehe.. caraku berhasil kan, makanya keluar tuh Si Manis Jembatan Ancol, Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul, Jinny Oh Jinny, Casper, Aladin dan Jin Lampu, penyihir-penyihir bahenol di pilem Charmed, Spawn, The Crow, dll-dsb hehehe, padahal mana ada iblis itu baik, kita-kita kan jahat-jahat, bo!"

Si Iblis Bawel berusaha kembali berdiri gara-gara tadi jatuh ditepuk oleh si Iblis Bencong, katanya: "Oke deh.. gak ada cara yang paling jitu… semua bisa kita pake buat jerat manusia. Apa sih manusia.. TUHAN ciptain mereka itu kemampuannya lebih rendah dari kita-kita ini, mereka punya banyak kelemahan, kita bisa lihat mereka tapi mereka gak bisa lihat kita, dan kita bisa 24 jam mengintai mereka. Kalau mereka lagi lengah atawa buka celah, abis dah mereka. Tapi kadang gua suka pengen ketawa, banyak manusia merasa bisa mengalahkan kita, HUA HA HA HA ..MANA MUNGKIN!!!"

"KECUALI…" teriak si Iblis Bloon berbisik.

"KECUALI APA?" bentak si Iblis Bawel sambil melotot, towew.. matanya keluar, plung. Si Iblis Teler yang sedang ketiduran gara-gara mabuk sampai kaget dan terlempar ke langit-langit.

"Kecuali mereka mengandalkan TUHAN buat melawan kita. Kalian tau kalo mereka sudah tunduk kepada TUHAN dan lalu mereka melawan kita, kita bisa K.O.! itu ada ayatnya di Yakobus 4:7"

"Betul.. aku paling benci-benci- benci deh kalo itu terjadi, roh mereka yang kecil itu tiba-tiba jadi gede kalo udah sama TUHAN, aku jadi gak ku-ku deket-deket sama mereka!", timpal si Iblis Bencong memoleskan lipstik di hidungnya.

Si Iblis Gembrot rada-rada ngerenung, "itulah masalah saya, saya lagi ngintai satu anak, tapi ia selalu ada dalam hadirat TUHAN, saya gak bisa masuk. Bahkan deket aja susah. Ada si malaikat-malaikat ngelilingin dia, terus dia selalu jaga hidupnya dan pergaulannya, yang parah ialah dia ada kontak terus ama TUHAN, 24 jam.. nek! Saya jadi stress berat!"

"Wah-wah-wah… kalo gitu kamu harus kerja ekstra keras tuh, intai terus sampe dia lengah, kalo buka celah, kita bawa temen-temen kita buat nyerbu!" seru si Iblis Bencong.

"Susah! Dia udah jadi menara doa, kemanapun dia pergi
hadirat Tuhan menyertainya. Udah gitu punya buanyak backing, dia bentuk kelompok-kelompok kecil yang saling mendukung dan mendoakan, saling menasehati dan menolong. Kelabakan deh kita!"

"Hei.. kita udah cerita cara-cara kita ngejerat manusia, bahkan kalo aku mau cerita cara-cara lainnya bisa-bisa blog ini gak muat bo! Nah sekarang kamu gimana.. dari tadi belum cerita caranya kamu!" Tanya si Iblis Teler yang masih nempel di langit-langit kepada si Iblis Bloon.

"Aku mah sederhana saja, aku biarin manusia tiap
minggu ke gereja bahkan aku biarin mereka ikutan melayani pekerjaan Tuhan"

"LHO KOK?" si Iblis Bencong, Iblis Bawel dan Iblis
Gembrot kaget sampai-ampai ikutan menempel di langit-langit bertemu si Iblis Teler, "Halo.. apa kabar?" kata si Iblis Teler basa-basi.

Si Iblis Bloon dengan tenang mengambil minumannya dan meminumnya sampai habis, tapi lewat telinga, maklum bloon. "Ya, aku buat mereka cukup puas dengan cuman datang ke gereja tanpa rindu melayani TUHAN, mereka akan mudah berkompromi sama dosa, tidak mengikuti pesan-pesan TUHAN yang disampaikan hamba-hambaNYA bahkan mencemoohkannya. Boleh dia masuk hadirat Tuhan sewaktu-waktu, tapi jangan sampe terus dia ada di "tempat tinggi".

"BRAK!" langit-langit pub itu rupanya gak kuat menahan para iblis, terutama si Iblis Gembrot. "Lalu bagaimana dengan orang yang kau biarkan melayani TUHAN? … ngek!", tanya si Iblis Teler yang kegencet sama si Iblis Gembrot.

"Aku biarkan dia melayani karena rutinitas, biar dia
cukup puas sudah melayani, bahkan aku buat sibuk tanpa tuntunan dari TUHAN, aku buat saat teduhnya ancur, roh doanya melempem, aku buat dia selalu berbuat dosa dengan mengatakan gak bakalan apa-apa karena dia bisa terus minta ampun sama TUHAN, dan aku buat dia cuman sibuk dengan program organisasi tanpa ada belas kasihan sama jiwa-jiwa yang sudah kita "menangkan" hehehehe…!

"OKE BANGET!" teriak semua iblis disitu, "ternyata lo emang pinter, On!"

So, hati2 sama semua tipu muslihat iblis...

= God Bless you =


by: Ferry GFresh

You And Me

Ada seorang teman mengatakan, kalau kedua orang tuanya memiliki hubungan yang bagus, dimana mereka sama sekali tak pernah bertengkar sepanjang pernikahan. Mungkin, ini merupakan definisi sebuah hubungan yang baik, yang telah diyakini banyak orang selam bertahun-tahun, namun kini banyak orang yang menginginkan lebih. Seperti apa sih sebenarnya sebuah hubungan yang baik dan sehat itu? Menurut Margaret Paul, Ph.D, penulis Do I Have To Give Up Me To Be Loved By You? dan Healing Your Aloneness, ada beberapa hal sebagai tanda sebuah hubungan yang sehat seperti kami sampaikan berikut ini.

Kebaikan

Apakah kebaikan bersama lebih penting bagi Anda masing-masing dari pada menempuh jalan masing-masing, terkontrol, atau jadi pihak yang benar? Apa Anda berdua mendapatkan kesenangan saat memberikan kesenangan antara satu dengan lainnya? Berbagi kesenangan merupakan esensi dari hubungan yang sehat dari pada bersikap saling mengontrol.

Bersikap Spontan

Apa Anda dan pasangan saling memberi kehangatan dan memenuhi hati masing-masing serta bebas mengekspresikan kasih sayang? Apa Anda menangkap dari luar hingga menemukan sisi unik dari dalam diri masing-masing? Apakah Anda berdua menikmati berbagi kasih sayang? Kehangatan dan kasih sayang merupakan hal vital dalam sebuah hubungan yang sehat.

Tertawa Dan Bersenang-Senang

Dapatkah kalian berbagi tawa dan bermain bersama? Apakah Anda menghargai dan menikmati selera humor masing-masing? Di tengah masa sulit, dapatkan Anda saling membantu untuk mencerahkan hari dengan humor? Apakah Anda dapat berbagi kesenangan dengan permainan berdua, bersenang-senang seperti layaknya anak kecil? Kegembiraaan dan bermain bersama memiliki peran besar dalam sebuah hubungan yang sehat.

Menikmati Kebersamaan Dan Saat Berjauhan

Apakah Anda masing-masing adalah teman favorit untuk melewatkan waktu? Apakah Anda termotivasi untuk meluangkan waktu hanya agar bisa berduaan? Apakah Anda berdua punya teman dan menikmati bersama mereka? Dan apakah Anda berdua baik-baik saja saat terpisah?

Beberapa pasangan melewatkan banyak waktu berduaan karena mereka benar-benar menikmatinya, sementara yang lain melewatkan banyak waktu berdua hanya karena takut sendirian. Sangat penting dalam sebuah hubungan yang sehat bagi masing-masing memiliki teman dan kesenangan, sehingga mereka tak saling tergantung satu dengan lainnya. Ketergantungan bukanlah indikasi hubungan yang sehat, terutama ketergantungan emosional.

Metode Untuk Mengatasi Konflik

Semua hubungan pasti mengalami masalah. Bukan konflik itu sendiri masalahnya, tapi bagaimana mengatasinya. Apakah Anda memiliki sebuah metode untuk memecahkan masalah, atau apakah masalah itu dikesampingkan begitu saja? Jika bertengkar merupakan salah satu cara yang Anda pakai untuk mengatasi konflik, apakah Anda bertengkar dengan fair? Atau apakah pertengkaran itu melukai perasaan Anda?

Lepasakan Kemarahan

Jika salah satu atau kalian berdua marah, apakah Anda menggantungkan itu, menghukum pasangan Anda, atau dapatkah Anda melepaskannya dengan mudah? Dalam sebuah hubungan yang sehat, kedua belah pihak akan segera melupakan kemarahan, dan kembali pada kebaikan dan kasih sayang.

Saling Percaya

Apakah Anda berdua saling percaya kalau cinta kalian solid, bahkan saat sedang melalui masa-masa sulit? Apakah Anda berdua mengetahui Anda dapat jadi kacaua, gagal, mengecewakan masing-masing, saling menyakiti secara emosional - tetapi cinta kalian tak tergoyahkan? Apakah Anda berdua menyadari bahwa cinta itu tentang siapa diri Anda, bukan apa yang Anda lakukan? Level kepercayaan semacam ini merupakan esensi dari sebuah hubungan yang sehat.

Mendengarkan, Memahami, Menerima Dan Belajar

Apakah Anda berdua merasa didengarkan, dipahami dan diterima? Apakah Anda dapat berbagi rahasia dengan pasangan tanpa merasa takut diadili? Apakah Anda lebih tertarik untuk belajar tentang diri sendiri dan pasangan dari pada saling mengontrol? Apakah mendengarkan masing-masing dengan hati terbuka dan keinginan untuk memahami lebih penting daripada saling menghakimi atau membela diri sendiri?

Seksualitas

Apakah hubungan seksual Anda hangat dan didasarkan kepedulian? Apa Anda dapat bersikap seksual secara spontan? Apakah Anda dapat memperbincangkan apa yang membawa kesenangan pada diri masing-masing?

Bebas Menjadi Diri Sendiri

Apakah Anda berdua merasa bebas untuk jadi diri sendiri? Apa Anda masing-masing merasa mendapat dukungan untuk mengejar apa yang membuat Anda bahagia? Apa pasangan Anda merasa gembira dengan apapun yang membuat Anda gembira?

Sementara beberapa orang mungkin bersikap terbuka, baik, menyayangi, menerima dan bertanggungjawab secara emosional terhadap diri masing-masing, kebanyakan orang butuh menyembuhkan rasa takut dan keyakinan yang salah yang mereka pelajari dalam keluarga. Sebuah hubungan yang sehat melibatkan masing-masing pribadi dan kemampuan untuk saling mencintai.

He Directs Your Steps

Today's Scripture

“The mind of man plans his way, but the LORD directs his steps” (Proverbs 16:9).

Today's Word from Joel and Victoria

What are you doing to bring your dreams to pass? Are you getting prepared? Do you have clear direction? Are you taking steps of faith? Success is intentional. You may not know what steps to take right now, but God has a good plan for your life. If you’ll do your part to seek Him and begin to make plans to succeed, God will guide you. He will direct your steps. You don’t have to vaguely go through life. God wants to show you His plan. He wants to pour out His blessing on you and see you living a life of victory. Decide today to make plans to succeed. Write down your goals. Make time to evaluate where you are in life. Evaluate your finances, your career, your relationships. Don’t go another week without having a plan for your future. Evaluate how you're spending your time and money. If you’ll go beyond dreaming and start making plans to succeed, God promises He’s going to direct your steps. He will lead you down the path of His favor. He’ll lead you into increase. He’ll lead you into promotion, and you’re going to see your dreams come to pass and walk in success in every area of your life!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for guiding and directing my steps. Help me to see clearly the plan You have for me today and every day. I submit every area of my life to You and trust that You are working behind the scenes for my good. I bless Your name today. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

29 January 2008

Kebahagiaan

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi,percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini.

Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, Dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.

Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya. Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.

Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut.

Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab. Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur.

Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan. Hanya untuk kali ini dalam hidupku. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank.
Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan. Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita.

Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku.

Aku sedang menyimpannya.

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia

1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expectless)

Forget What Lies Behind

Today's Scripture

“This one thing I do: forgetting what lies behind I press forward to what lies ahead” (Philippians 3:13).

Today's Word from Joel and Victoria

Are you determined to forget what lies behind? I know many people don’t fully understand what it means to forget the past. They wonder, “How can I forget something that’s happened to me?” But one definition of the word forget means to disregard intentionally, or to overlook. You have to intentionally disregard your past so that it doesn’t keep you from moving forward. That means the good and the bad. Sometimes our past victories keep us from rising higher as much as past failures. If we don’t let go of the old, we’ll never be able to embrace the new. It doesn’t matter what’s happened in your history, it’s time to forget what lies behind. Make the choice today to press forward. Trust that God has a better future in store for you. Trust that He’s working behind the scenes on your behalf. As you forget what lies behind and press forward, you will see the abundant life the Lord has in store for you!

A Prayer for Today

Father in Heaven, I choose to forget the past today. I don’t want anything to hold me back from the future You have prepared for me. I choose forgiveness and ask that You help me, by Your Spirit, to press forward in every area of my life. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Tidak Ada Waktu

Aku bertelut dan berdoa. Tetapi tidak lama. Pasalnya, aku begitu sibuk. Aku bangun dan bekerja untuk mengurusi tagihan-tagihan yang sudah waktunya untuk dilunasi. Oleh karena itulah, aku bertelut dan mengucapkan beberapa kata sebagai doa untuk kemudian meloncat bangun dan pergi. Setidak-tidaknya, aku telah memenuhi kewajibanku sebagai seorang Kristen. Jiwaku kini dapat ketenangan untuk sementara.

Sepanjang hari aku tidak mempunyai waktu untuk memberi kesaksian akan sukacitaku. Tidak ada waktu untuk bersaksi tentang Kristus terhadap sesamaku. Pasalnya, aku khawatir, bahwa mereka akan menertawakanku.

Betul, aku tidak mempunyai waktu. Aku begitu sibuk. Demikianlah seruku. Tidak ada waktu untuk menolong orang yang berada di dalam kebutuhan. Dan akhirnya, waktu untuk meninggalkan dunia telah tiba.

Aku menghadap Tuhan dan berdiri di-depanNya dengan mata tertunduk. Tuhan memegang sebuah Kitab. Itulah Kitab Kehidupan. Tuhan memeriksa Kitab itu dan berkata, “Aku tak dapat menemukan namamu. Memang, Aku pernah hendak menulis namamu ke dalam Kitab itu, namun Aku tak pernah menemukan waktu!”


Jerry Sanger

28 January 2008

Los Felidas

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota. Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorang pun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya.

Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu,mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun.

Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh. Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: “Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini.”

Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.

Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja. Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. “Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita”.

Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit. Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya.

Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota. Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota. Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun. Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa.

Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.

Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figure gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo. Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu.

Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi.

Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni. Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, dimana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang.

Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan - pertanyaannya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. Matanya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: “Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?” Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna.

Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.

Pagi, siang dan sore ia berdoa: “Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya”. Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.

Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. “Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi.” Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil , kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan.

Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. “Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang”. Ia mulai berdoa “Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja”. Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: “Tuhan beri saya sebulan saja”. Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: “Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan”.

Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing - puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak. Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi tempat itu. “Belum bergerak dari tadi.” Lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. “Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu.”

Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat. “Tuhan”, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, “beri kami sehari, Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Jadi mama tidak menyia-nyiakan saya”. Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda. “Mama….”, ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak - kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam.

Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya. “Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu… Mama…”

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: “Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan….. satu jam saja…. …satu jam saja…..” Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia

Surga Itu Nyata

Apakah anda benar2 percaya surga dan neraka itu nyata ??? Jika saudara masih di ambang2 keraguan berikut ulasan yg kiranya dapat membantu Saudara menemukan jawaban itu.Tulisan di bawah ini dibuat hanya dibuat untuk tujuan memuliakan Tuhan di akhir zaman bukan bermaksud mempublikasikannya.

Surga itu nyata (Heaven is so real) by Choo Thomas (penulis) adalah sebuah buku
kesaksian fenomenal seseorang yang telah 17 kali dibawa ke surga, 2 kali ke neraka, berjalan dan bertemu dengan Tuhan Yesus secara pribadi.

KerajaanNya telah siap
Surga adalah suatu tempat yang jauh lebih baik dari Bumi, kehidupan di sana mirip dengan di Bumi hanya saja di sana manusia yang diselamatkan tidak akan merasakan kekhawatiran, kegelisahan, kesusahan dan penyakit. Digambarkan bahwa Surga sangat indah sekali dimana terdapat jalan, kota,dan rumah-rumah berhiaskan emas, permata,zamrud dan batu2 indah yg belum pernah dilihat di bumi. Keserasian, kasih, kebahagiaan, ketentraman dan keharmonisan yang tidak pernah ditemukan di bumi, dimana terdapat sungai, danau, rumput, bunga-bunga berwarna-warni, pohon kehidupan, ikan dan hewan2 lain, manusia bersukacita dan bersorak-sorai, mereka dapat melakukan aktivitas mereka ketika mereka masih di bumi, sebab malam hari tidak ada di sana.Sungguh kesukaan di Surga seribu kali lebih daripada yang didapat di Bumi. Setiap orang percaya yang diselamatkan mendapat rumah masing2 di dalam KerajaanNya.

Pada suatu terdapat istana putih, semuanya warna-warni dan bercahaya. Ruangan besar itu dipenuhi oleh orang-orang yang memakai pakaian-pakaian yang indah, dan setiap orang sedang memakai sebuah mahkota yang bertahtakan bermacam-macam permata, mereka memuji dan menyembah Tuhan dengan tarian dan lagu pujian. Penulis merasa seakan-akan dia ada di dalam dunia cerita dongeng seperti yang dilukiskan dalam buku-buku gambar yang diberikan pada anaknya - kecuali yang ini bukanlah khayalan.

Di suatu ruangan yang sangat besar sekali, seperti sebuah gudang dan tidak
menarik atau bagus. Ruangan ini dipenuhi oleh bayi-bayi yang telanjang dan berbaring dekat satu sama lainnya, di sini terdapat bayi-bayi dari ibu-ibu yang tidak menghendaki mereka. Tuhan akan memelihara bayi-bayi itu. Jikalau ibu-ibu mereka diselamatkan, mereka dapat memilikinya kembali sebaliknya jika mereka tidak diselamatkan maka ibu-ibu yang lain akan memiliki mereka ketika semua anak-anakNya datang dalam kerajaan.

Lalu tampak pada suatu tepian lautan dimana ombak berbuih merah tua memecah
seakan-akan darah itu kotor. Ini adalah darah Tuhan yang menyucikan semua dosa-dosa anak-anakNya. Ia telah menumpahkan darahNya untuk anak-anakNya. Ia yang tak mengenal dosa telah menjadi dosa supaya anak-anakNya berpakaian kebenaran Tuhan.

Dalam pesannya Tuhan Yesus berkata, "KerajaanKu telah siap bagi anak-anakKu. Barangsiapa telah siap dan ingin datang akan diijinkan untuk kemari". Tuhan mengulangi undangan yang disampaikan kepada semua orang yang ingin mengikuti Dia dan mendapat rumah yang abadi bersama Dia di Surga, "Mereka yang dapat kemari adalah mereka yang hatinya telah dimurnikan semurni air".

Suatu tempat yang dinamakan Neraka
Pada suatu tempat tampak gunung-gunung di dekat laut ini sedang menyala dengan
nyala merah terang. Terangnya nyala segera diganti oleh kabut asap yang tebal yang menutupi seluruh pemandangan. Manusia melarikan diri dari tempat yang tak diketahui dan menuju ke arah pantai. Beberapa diantara mereka telanjang, seolah-olah mereka telah meninggalkan tempat tidur mereka begitu tergesa-gesanya sehingga tidak punya waktu berganti baju. Rasa ketakutan nampak pada wajah-wajah mereka, dan mereka sedang lari secepat mungkin. Beberapa diantara mereka tersandung dan gerombolan orang-orang yang berlarian melanggar dan menginjak mereka. Mereka seakan-akan sedang melarikan diri dari mahluk yang sangat mengerikan. Api yang menyebabkan mereka melarikan diri sekarang telah memenuhi daerah sekitarnya. Yang paling mengejutkan adalah nyala api itu mulai menyala dari lautan darah seolah-olah dunia sedang kiamat.

Dari puncak gunung itu, dapat terlihat uap dan asap yang hitam keluar dari
sebuah lubang yang dalam. Bentuknya seperti kawah sebuah gunung berapi, dan didalamnya terlihat nyala api sedang membakar banyak orang yang menjerit-jerit dan menangis seperti dalam kesakitan yang amat sangat. Hanya yang merasakan terbakar hangus sendiri dapat mengeluarkan jeritan dan tangisan seperti itu.

Orang-orang itu telanjang, tanpa rambut, dan berdiri berdekatan satu sama lainnya, bergeliat-geliat seperti cacing, sementara nyala api sedang membakar tubuh mereka. Tidak ada jalan keluar bagi mereka yang terperangkap di dalam lubang itu - dinding-dindingnya terlalu tinggi untuk dipanjat, dan bara api yang panas mengelilingi tepinya. Mereka adalah korban dosa yang tidak mengenal Tuhan Yesus. Ia tidak boleh memaksakan nasib orang-orang yang dengan sengaja memilih untuk menolak Dia.

Pada bagian lain di sebuah lembah berwarna coklat dan mati. Semuanya serba
coklat. Seluruh kawasan seolah-olah dipenuhi oleh rumput mati. Terlihat banyak orang yang memakai jubah berwarna pasir berjalan-jalan tak tentu arah dekat dengan lubang neraka yang menganga. Kepala mereka tertunduk, dan mereka keliatan sedih dan tiada pengharapan. Tuhan berkata, "Mereka adalah orang-orang Kristen yang tidak taat. Mereka yang akan masuk KerajaanKu adalah yang murni hati - anak-anakKu yang taat". Ia terus menerangkan: "Banyak yang menamakan diri mereka 'Kristen' tidak hidup menurut firmanKu, dan beberapa diantaranya mengira bahwa pergi ke gereja seminggu sekali sudah cukup. Mereka tidak pernah membaca FirmanKu, dan mereka mengejar hal-hal duniawi. Beberapa yang meskipun tahu FirmanKu hati mereka tidak pernah bersamaKu."

Hari-hari akhir sungguh sedang berlaku dalam hidup kita sekarang. Kesabaran Tuhan tiada taranya sampai sekarang, tetapi Ia sudah siap untuk datang lagi bagi menerima anak-anakNya bagi Dia. Tuhan tidak ingin satupun dari anak-anakNya pergi ke Neraka. Ia terus memperingatkan tentang pentingnya ketaatan serta kekudusan.

Ia terus mengingatkan penulis, "Aku memberitahumu semua ini dan menunjukkan
kepadamu hal-hal ini supaya engkau dapat memberitahu dunia. Aku telah menyiapkan segalanya untuk anak-anakKu. Aku mempercepat semuanya sebab KerajaanKu telah lama sekali siap, tetapi banyak sekali anak-anakKu belum siap untukKu, karena mereka terlalu mencintai dunia."

Kemudian Ia mengulangi pentingnya semua pengalaman-pengalaman ini dengan
berkata," Aku tahu, bahwa banyak anak-anakKu yang tidak mengira Aku akan kembali untuk mereka dengan segera. Malahan ada beberapa yang berpikir Aku tidak pernah akan kembali untuk mereka, tetapi Aku mau engkau katakan kepada mereka bahwa kerajaanKu telah siap untuk mereka yang telah bersedia dan menantiKu , Aku akan datang dengan segera."

Untuk keselamatan (pesan penulis)
Saya telah mendengar banyak orang berkata bahwa mereka percaya Tuhan tetapi tidak percaya Yesus. Saya mohon Saudara percaya apa yang saya katakan. Meskipun jikalau Saudara percaya Tuhan, tetapi Saudara tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tidak ada keselamatan. Keselamatan datang hanya melalui Yesus. Yesus mati untuk kita semua sebab Ia sangat mengasihi kita sekali. Ia berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6)

Yesus adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan Saudara dan mengampuni semua dosa-dosa Saudara sehingga Saudara mendapat kehidupan kekal bersama Dia. Kerjakanlah keselamatan Saudara, bacalah Alkitab, tekun berdoa dan pergilah ke gereja untuk mendengarkan Firman Tuhan dan bergaul dengan umat Tuhan.

Kehidupan Saudara akan menjadi berbeda; Saudara akan memperoleh hidup yang
sangat bahagia di bumi ini dan hidup selama-lamanya dengan Yesus di Surga.

Tuhan memberkati Saudara.


Tentang Penulis
.
Choo Thomas membagikan kesaksiannya yang luar biasa tentang
pertemuan-pertemuannya dengan Tuhan Yesus Kristus, di mana ia banyak kali mengunjungi surga dan melihat neraka dua kali. Buku Heaven is so Real adalah lebih daripada sebuah bacaan - buku ini adalah pesan kasih Kristus kepada angkatan yang sebagian besarnya lupa, salah mengerti, atau acuh-tak-acuh mengenai Dia. Ini buku akhir zaman Tuhan kita. Ia menghendaki semua orang percaya dan tidak percaya untuk membacanya dan bersiap untuk kedatangan-Nya.

Segala hormat, puji dan kemuliaan bagi Nama-Mu yang Kudus !!!