Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

Showing posts with label Persahabatan. Show all posts
Showing posts with label Persahabatan. Show all posts

07 October 2011

Kisah Dua Kuda

Ada sebuah padang, dengan dua ekor kuda di dalamnya. Dari kejauhan, dua kuda itu seperti kuda pada lazimnya. Tetapi jika Anda menghentikan mobil dan berjalan mendekat, Anda akan menemukan satu hal yang mengagumkan. Saat memperhatikan mata salah satu kuda, akan terlihat bahwa kuda itu buta.

Pemiliknya telah memutuskan untuk tidak membuangnya, tetapi justru membuatkan sebuah rumah yang nyaman untuknya.

Hal berikut ini juga luar biasa

Jika Anda berdiri di dekatnya dan memperhatikan, akan terdengar bunyi suara lonceng. Saat mencari sumber suara itu, Anda akan melihat bahwa itu berasal dari kuda yang lebih kecil di padang rumput itu.

Di lehernya dikalungkan sebuah lonceng kecil. Suaranya akan memberi tanda kepada kuda yang buta arah kuda kecil berada, sehingga bisa mengikutinya. Ketika Anda berdiri dan memperhatikan kedua kuda itu, Anda akan melihat bahwa kuda yang memiliki lonceng selalu menoleh memperhatikan kuda yang buta, dan kuda yang buta akan mendengar suara lonceng dan kemudian berjalan perlahan ke arahnya; percaya bahwa dia tidak akan tersesat.

Saat kuda dengan lonceng kembali ke kandang pada sore hari, dia setiap kali akan selalu berhenti dan menoleh, memastikan bahwa temannya yang buta tidak berjalan terlalu jauh untuk bisa mendengar bunyi loncengnya.

Seperti pemilik dari kedua kuda ini, Tuhan tidak pernah membiarkan kita terbuang hanya karena kita tidak sempurna atau kita sedang menghadapi masalah atau tantangan.

Dia mengawasi kita dan bahkan membawa orang lain ke dalam hidup kita untuk menolong kita saat kita membutuhkannya.

Kadang-kadang kita adalah kuda buta yang dituntun oleh bunyi pelan lonceng dari orang-orang yang ditempatkan Tuhan dalam kehidupan kita.

Teman baik selalu seperti itu ... Anda tidak pernah selalu melihat mereka, tapi Anda tahu bahwa mereka selalu ada di sana.

Dengarkanlah lonceng saya dan saya akan mendengarkan lonceng Anda. Dan ingat ... bersikaplah ramah lebih dari biasanya - siapa saja yang Anda temui adalah ibarat pergumulan dalam suatu pertempuran.

God Bless You…

30 July 2011

Seorang Teman Baik

Sewaktu kita duduk di taman kanak-kanak, kita berpikir kalau seorang teman yang baik adalah teman yang meminjamkan krayon warna merah ketika yang ada hanyalah krayon warna hitam.

Di sekolah dasar, kita lalu menemukan bahwa seorang teman yang baik adalah teman yang mau menemani kita ke toilet, menggandeng tangan kita sepanjang koridor menuju kelas, membagi makan siangnya dengan kita ketika kita lupa membawanya.

Di sekolah lanjutan pertama, kita punya ide kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mau menyontekkan PR-nya pada kita, pergi bersama ke pesta dan menemani kita makan siang.

Di SMA, kita merasa kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mengajak kita mengendarai mobil barunya, meyakinkan orang tua kita kalau kita boleh pulang malam sedikit, mau mendengar kisah sedih saat kita putus dari pacar.

Di masa berikutnya, kita melihat kalau seorang teman yang baik adalah teman yang selalu ada terutama di saat-saat sulit kita, membuat kita merasa aman melalui masa-masa seperti apapun, meyakinkan kita kalau kita akan lulus dalam ujian sidang sarjana kita.

Dan seiring berjalannya waktu kehidupan, kita menemukan kalau seorang teman yang baik adalah teman yang selalu memberi kita dua pilihan yang baik, merangkul kita ketika kita menghadapi masalah yang menakutkan, membantu kita bertahan menghadapi orang-orang yang hanya mau mengambil keuntungan dari kita, menegur ketika kita melalaikan sesuatu, mengingatkan ketika kita lupa, membantu meningkatkan percaya diri kita, menolong kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik, dan terlebih lagi... menerima diri kita apa adanya...

Thanks for being my friend...

19 May 2010

Seorang Teman Baik

Sewaktu kita duduk di taman kanak-kanak, kita berpikir kalau seorang teman yang baik adalah teman yang meminjamkan krayon warna merah ketika yang ada hanyalah krayon warna hitam.

Di sekolah dasar, kita lalu menemukan bahwa seorang teman yang baik adalah teman yang mau menemani kita ke toilet, menggandeng tangan kita sepanjang koridor menuju kelas, membagi makan siangnya dengan kita ketika kita lupa membawanya.

Di sekolah lanjutan pertama, kita punya ide kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mau menyontekkan PR-nya pada kita, pergi bersama ke pesta dan menemani kita makan siang.

Di SMA, kita merasa kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mengajak kita mengendarai mobil barunya, meyakinkan orang tua kita kalau kita boleh pulang malam sedikit, mau mendengar kisah sedih saat kita putus dari pacar.

Di masa berikutnya, kita melihat kalau seorang teman yang baik adalah  teman yang selalu ada terutama di saat-saat sulit  kita, membuat kita merasa aman melalui masa-masa seperti apapun, meyakinkan kita kalau kita akan lulus dalam ujian sidang sarjana kita.

Dan seiring berjalannya waktu kehidupan, kita menemukan kalau seorang teman yang baik adalah teman yang selalu memberi  kita dua pilihan yang baik, merangkul kita ketika kita menghadapi masalah yang menakutkan, membantu kita bertahan menghadapi orang-orang yang hanya mau mengambil keuntungan dari kita, menegur ketika kita melalaikan sesuatu, mengingatkan ketika kita lupa, membantu meningkatkan percaya diri kita, menolong kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik, dan terlebih lagi... menerima diri kita apa adanya...

Thanks for being my friend...

24 December 2009

Teman Adalah Cara Tuhan Menjaga Kita

Ini ditulis oleh seorang dokter dari rumah sakit Metro Denver:

Saya dalam perjalanan pulang ke rumah dari sebuah pertemuan sore ini sekitar pk 5:00, terjebak dalam kemacetan di jalan  di Colorado Blvd., dan tiba-tiba mobil saya mulai tersendat-sendat dan akhirnya mati. Dengan susah payah saya bisa mendekati sebuah pompa bensin, lega karena saya tidak menghalangi jalan dan mencari tempat hangat untuk menunggu mobil derek. Tapi tidak ada yang mau berhenti. Sebelum saya mulai menelpon, saya melihat seorang wanita berjalan keluar dari sebuah minimart, dan ia terpeleset di jalan es dan jatuh di dekat pompa bensin, saya bergegas ke ibu ini untuk melihat apakah ia baik-baik saja.

Ketika saya tiba disana, terlihat bahwa ia sedang tersedu-sedu lebih karena sedihnya, dan bukan karena jatuhnya; ia adalah seorang gadis muda yang kelihatan begitu awut-awutan dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Ia menjatuhkan sesuatu ketika saya membantu ia bangun, dan saya ambil untuk diberikan ke dia. Ternyata uang logam satu nikel.

Saat itu, saya jadi menyimpulkan: wanita menangis, Suburban tua yang dipenuhi dengan barang-barang dan 3 anak di belakang (1 di tempat duduk depan) , dan meteran pompa menunjukkan $4.95.

Saya bertanya apakah semuanya baik-baik saja dan apakah ia membutuhkan bantuan, dan ia lalu berkata, “Saya tidak ingin anak saya melihat saya menangis!”. Jadi kami berdiri menjauh dari mobilnya ke balik pompa. Ia bercerita bahwa ia sedang menuju ke California dan situasinya sangat sulit buat dia saat ini. Saya bertanya, “Apakah anda berdoa?” Ia mundur sedikit, tapi saya yakinkan bahwa saya bukan orang gila dan berkata, “IA mendengar kamu, dan IA mengirim saya.”

Saya mengambil kartu kredit saya dan menggesek di card reader dari pompa tersebut sehingga mobil wanita itu bisa terisi penuh, sementara bensinnya diisi, saya berjalan ke McDonald di sebelah dan membeli 2 kantung besar makanan, beberapa voucher untuk dipakai nanti, dan segelas besar kopi.

Ia memberikan makanan itu kepada anaknya, yang langsung menyambar seperti serigala kelaparan, dan kami berdiri di sebelah pompa sambil memakan kentang dan berbicara sedikit.

Ia memberitahu namanya, menceritakan bahwa ia tinggal di kota Kansas. Teman laki-lakinya meninggalkannya 2 bulan yang lalu sehingga ia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan bisa membayar sewa rumah bulan January nanti. Dan dalam keadan putus asa ia menelpon orang tuanya yang tidak pernah dihubunginya selama 5 tahun. Mereka tinggal di California dan akhirnya setuju untuk dia tinggal dengan mereka sampai ia bisa mencari uang disana.

Jadi  ia mengemas semua barangnya ke dalam mobil milik satu-satunya. Ia memberitahu anak-anaknya bahwa mereka akan ke California untuk merayakan Natal, tetapi tidak memberitahu bahwa mereka akan tinggal disana.

Saya berikan sarung tangan saya, memberikan pelukan kecil dan membacakan sebuah doa cepat bersama dia agar ia selamat dalam perjalanannya. Ketika saya berjalan menuju mobil saya, ia bertanya, “Apakah, Anda malaikat atau apa?”

Ini yang membuat saya terharu. Saya berkata, “Ibu, saat ini malaikat sangat sibuk, sehingga kadang-kadang TUHAN memakai orang biasa.”

Adalah sangat mengharukan untuk menjadi bagian dari keajaiban seseorang. Dan ternyata, Anda sudah bisa menebak, ketika saya menuju ke mobil, ternyata mobil saya bisa langsung distarter dan pulang ke rumah tanpa masalah. Saya akan ke bengkel besok untuk memeriksakan,  tapi saya kira teknisi tidak akan mendapatkan sesuatu yang salah.

Kadang-kadang Malaikat terbang sangat dekat dengan Anda sehingga Anda bisa mendengar getaran sayapnya...

Mazmur 55:23 - “Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka IA akan memelihara engkau. Tidak akan selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.”

Permintaan saya adalah pilihlah orang yang Anda mau TUHAN berkati, terutama pada bulan-bulan terakhir di 2009, dan saya memilih Anda. Tolong berikan cerita ini ke orang lainnya agar mereka diberkati. Ini doanya:

“Bapa, saya memohon Bapa untuk memberkati anakku, cucuku, teman2ku, keluargaku dan orang yang membaca artikel ini sekarang. Tunjukkan kepada mereka pernyataan cinta dan kasihMU. Roh Kudus, Saya memohon Engkau untuk membimbing jiwa mereka saat ini. Dimana ada luka, sembuhkan dan berikanlah mereka pengampunan dan kedamaianMU. Dimana ada kebingungan, lepaskanlah keyakinan yang baru melalui berkatMU, dalam nama Yesus. Amin.”

Ketika Setan datang mengetuk pintu anda, katakan, “Tuhan Jesus, tolong enyahkan dia dari saya.”

10 December 2009

Kasih Pasti Lemah Lembut

Sebentar lagi, Panurata mau ulang tahun. Jerawati bingung mau memberi hadiah istimewa untuk Panurata.

“Duh duh, siang-siang begini kok sudah melamun, Neng!”, tanya Panurata memecah kesunyian siang itu, lewat depan rumahnya. Jerawati sedang duduk di teras sambil memegang buku. “Yeee...ngapain usil banget sih, aku mau melamun atau tidak, emang penting buatmu?”, sahut Jerawati dengan bibirnya yang merah plus manyun.

“Kesempatan nih”, batin Panurata, "Yeee… dikomentari begitu sudah marah nih yeee… Omong-omong nih, aku duduk sini ya, boleh kan?”, rayu Panurata.

Jerawati cuma menjawab, “Ehmmm… emang aku buka kantor perizinan duduk apa, kok tanya boleh apa nggak! Kamu mau duduk di kursi ya silakan, mau berdiri juga terserah, mau melantai, terima kasih, aku jadi nggak susah ngepel lagi!”

Panurata langsung tertawa ngikik."Ha ha ha ha ha......ternyata ternyata...dirimu juthek begitu masih sempet melawak ya....Thanks ya...aku duduk di lantai aja deh...!!"

Kata Jerawati, "Bagus gitu dong, sekali kali gitu, pria duduk di bawah, perempuan duduk di atas!!"

Panurata menimpali, "Itu namanya balas dendam, iya kan..emang penting ya duduk di atas atau di lantai?"

Jerawati mulai esmosi, "Yeee...ya pentinglah.. .biar jelas identitasnya. ..duduk di atas itu orang terhormat, duduk di lantai itu orang terhormat juga...tapi. ..!!"

Panurata dengan tenangnya menyahut, "Yeee...ikut ikutan nih buat kalimat nggak selesai...! Tapi apa coba....Duduk di lantai itu terhormat..tapi lebih terhormat orang yang duduk di atas gitu kan maksudnya... ?"

Sambil tersenyum Jerawati mengiyakan, "Nah tuh dah tahu.....tanya lagi...! Huuu...jadi sadar diri dong, kalau dirimu itu lebih rendah daripada diriku!"

Panurata lalu kelihatan cemberut, "Jeng, tega nian....dirimu bilang begitu? Apakah kata kata itu keluar dari hatimu sejujurnya?"

Jerawati terdiam mendengarkan pertanyaan gugatan Panurata, batinnya, "Aku sebenarnya tidak mau mengatakan begitu, tapi rasanya kalau nggak mengatakan diriku lebih tinggi statusku, dia kurang ajar!"

Panurata lalu melanjutkan, "Jeng, kalau memang kata kata itu benar dari hati kecilmu, aku hanya bisa bilang, terima kasih atas kejujuranmu!"

Jerawati hanya terdiam mendengarkan kata kata Panurata. Jerawati mulai gelisah, "Aku tidak sebenarnya tidak berniat untuk sekejam itu merendahkan Panurata, tapi kenapa aku tidak bisa mengatasi ini!"

Panurata terdiam, merasa diri tidak berharga lagi di depan Jerawati. Panurata lalu pamit pulang.. "Jeng, aku pulang ya...!" Jerawati berdiri tanpa kata, hanya menganggukkan kepala, saat Panurata pulang, dan membiarkan Panurata pulang tanpa di antar sampai pintu gerbang. Saat itu jam sudah menunjukkan jam 20.00.

Sekitar jam 22.00, Judesanti menelpon Jerawati, "Jeng, apa kabar?" Jerawati kaget setengah mati, dikira Panurata yang telp. "Tumben, telp aku! katanya!" Judesanti pun menyahut, "Aku pingin nge-check nih, ringtoneku sudah bisa online apa belum. Coba ya kamu telp ke HPku, nanti dengerin ya ringtonenya. .bagus lho..Jerawati penuh semangat check ringtone HP Judesanti. Jerawati semangat karena dia selalu bersaing dengan Judesanti soal ringtone itu. Jari jempol kanan Jerawati langsung pencet "keypad" HP Nokianya. Tidak lama kemudian terdengarlah ringtone, "Kasih pasti lemah lembut Kasih pasti memaafkan, Kasih pasti murah hati, Kasih-Mu, kasih-Mu Tuhan"

Tidak lama kemudian, Jerawati kaget namun juga terharu, "Dhuuuh....nyesel aku...sudah melukai hati sahabatku, Panurata!"

Tanpa terasa air matanya pun mengalir di pipinya. Judesanti telp lagi, "Gimana, bagus kan?"

Jerawati menjawab sambil terbata bata, "Iya bagus, Neng! Makasih banyak ya...!"

Judesanti heran, "Lhoh kok, jadi menangis, kenapa?"

Jawab Jerawati, "Iya aku terharu, ringtonemu pas banget mengingatkan aku! Aku lagi ada masalah! Mungkin ringtone ini bisa jadi jawabannya!"

Judesanti lalu menggoda, "Ehemmm, habis bertengkar ya?”

Sahut Jerawati, "Iya sih, makasih ya, aku mau minta maaf ama seseorang!"

Judesanti malah penasaran, "Aduh seseorang, someone special ya?"

Jerawati lalu mulai senyum, "Iya"

Judesanti lalu menimpali, "Uhuy, boleh dong, tapi martabak special, pakai telur n daging cincang atau?"

Jerawati, "Ah ada ada saja, someone special kok disamakan martabak special, ehmm… Thanks ya, San!"

Judesanti pun memaklumi, "Iya deh, selamat ya!"

Jerawati pun pamitan, "Iya sama sama, San, bye!!"

Esok pagi pagi, menjelang hari Rabu, tidak biasanya Jerawati pergi ke toko, sekitar jam 8 mampir sebentar di rumah Panurata. "Thok thok thok...!!"

Jerawati mengetuk pintu. "Iya, sebentar.." teriak Panurata dari dalam rumah. Jerawati langsung menyapa saat pintu dibuka, "Mas, sehat kan?" Panurata masih terkejut, "Iya ya aku sehat, kenapa kok tumben, Jeng. Ada apa? Bukankah aku ini orang rendahan, Jeng kan orang yang tinggi statusnya, nggak pantes kan ke sini. Akang yang mestinya ke rumah Jeng!"

Jerawati tersenyum, "Iya, aku mau mencabut kata kata itu kemarin, aku salah, sudah melukai hatimu dan merendahkan dirimu. Aku mau minta maaf pagi ini. Boleh kan?"

Panurata masih terperangah, "Iya Jeng, Akang memaafkan. Makasih banyak ya!"

Jerawati lalu menyahut, "Iya mulai sekarang, aku tidak akan lagi menganggapmu rendah, Akang tetap sama sederajat denganku! Semalam aku dengar ringtone bagus, seperti ini, (sambil Jerawati menyanyi), " Kasih pasti lemah lembut Kasih pasti memaafkan, Kasih pasti murah hati, Kasih-Mu, kasih-Mu Tuhan"

Panurata tak kuasa menahan rasa harunya juga, "Iya Jeng, makasih ya, suaramu bagus!"

Jerawati menimpali, "Hari ini, hari ulang tahunmu kan?" Panurata menganggukkan kepala, "Iya, dan kehadiranmu menjadi hadiah yang terindah dan mengejutkan buatku di pagi ini!"

Jerawati tersipu malu malu, sambil menepuk bahu dan menyalami tangan Panurata, Jerawati berucap, "Selamat ulang tahun ya Mas! Syukurlah kehadiranku menjadi hadiah untukmu."

Panurata lalu membalas, "Iya makasih ya Jeng, makasih banyak, hatiku jadi tenang, karena apa adanya diriku akhirnya kamu mau menerima"

Jerawatipun berujar, "Iya Mas, sama sama! Aku tidak akan mengulangi lagi kok, juga pada orang lain!"

Panurata lalu menyahut lagi, "Jeng, tapi boleh nggak aku minta satu lagi hadiah?"

Dengan senyum, Jerawati menyahut, "Iya boleh, pastinya gitu! Mau minta hadiah apa lagii?"

Dengan gaya tenang, dan sok bijak, menawar, "Boleh nggak kalau dirimu penting buatku?"

Jerawati lalu membalas, "Iya boleh, dong, kamu penting buatku, tapi kalau suatu saat aku tidak penting buatmu, jangan memaksakan dirimu ya!”

Panurata berujar, "Aku tetap memperlakukan dirimu penting buatku, biar aku bisa tetap minta dimasakin rujak cingur he he he!"

Jerawati mengiyakan, "Ehmm begitu, boleh boleh, aku siap deh masakin buat tetangga istimewa tapi jangan lupa ya honornya…!"

Panurata pun tersenyum, "Iya boleh, honor gratis apa honor uang neh?"

Sahut Jerawati, "Maksud loe???"

Jam sudah menunjukkan jam 9.30 pagi. Jerawati lalu pamit untuk pergi ke toko, "Okey deh, aku pulang dulu ya, makasih banyak!"

Panurata pun menyahut, "Sama sama Jeng, jangan kapok ya main lagi"

Jerawati diantar Panurata ke depan pintu gerbang halaman rumahnya! Panurata pun tersenyum lega, batinnya "Untung ada Judesanti dan ada ringtone Kasih itu Judesanti itu galak tapi ternyata malah tanpa disengaja bisa mencairkan kebekuanku dengan Jerawati. Coba kalau nggak ada Judesanti ya”

Panurata lalu pergi beres-beres rumah, karena hari ini ada banyak teman temannya mau datang untuk merayakan ulang tahunnya.

31 August 2009

Greatest Love

Suatu pagi yang sunyi di Korea, di suatu desa kecil, ada sebuah bangunan kayu mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-seng. Itu adalah rumah yatim piatu di mana banyak anak tinggal akibat orang tua mereka meninggal dalam perang.

Tiba-tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh di atas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka. Ada seorang gadis kecil yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring di atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera dilakukan dan seseorang dikirim dengan segera ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.

Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada orang yang memiliki golongan darah yang sama.

Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu. Kemudian beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada grup itu dan perawat menerjemahkan, Apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk gadis kecil ini?"

Anak-anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, "Tolong, apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk teman kalian, karena jika tidak ia akan meninggal!"

Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah. Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah.

"Tenang saja," kata perawat itu, "Tidak akan sakit kok."

Lalu dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis.

"Apakah sakit?" tanya dokter itu..

Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. "Aku telah menyakiti bocah ini!" kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya. Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu.

"Apakah sakit?"

Bocah itu menjawab, "Tidak, tidak sakit."

"Lalu kenapa kamu menangis?",tanya dokter itu.

"Karena aku sangat takut untuk meninggal" jawab bocah itu.

Dokter itu tercengang!

"Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?"

Dengan air mata di pipinya, bocah itu menjawab, "Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus menyerahkan seluruh darahku!"

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya, "Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu? "

Sambil menangis ia berkata, "Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya"

Written by Elia Stories

Greater Love Has No One Than This, Than To Lay Down One's Life For His Friend

GBU aLL ^^

03 August 2009

Jungkat Jungkit

Waktu kecil aku suka sekali bermain di taman. Biasanya permainan yang disediakan di taman umumnya selalu ada permainan seperti ayunan, putar-putar, perosotan dan jungkat jungkit. Nah, di antara semuanya itu aku paling suka main jungkat jungkit, mainan yang biasanya terbuat dari sebalok besi atau kayu, yang di kedua sisinya bisa di duduki.

Sebaliknya jungkat-jungkit dimainkan oleh orang yang berat badannya seimbang, kalau tidak maka permainannya kurang seru. Naik turun karena seorang yang lain kadang berada di atas, kadang di bawah, karena ada penumpang di tengahnya. Yang serunya adalah ketika kita berada di atas. Banyak hal yang kita lihat ketika berada di atas. Pandangan yang lebih luas. Tetapi untuk berada di atas lagi, kita harus kembali berada di bawah dulu. Kita tidak bisa ingin di atas terus dan kita tidak bisa bermain sendirian. Harus ada orang lain sebagai penyeimbang untuk bisa menopang berat badan kita sehingga kita bisa terus bermain.

Begitulah persahabatan, keduanya saling menyeimbangi. Tidak ada yang lebih dari keduanya. Ketika yang satu ada diatas, dia akan mengangkat yang di bawah. Ketika yang satu ada di bawah, dia akan diangkat ke atas. Untuk itulah seorang sahabat ada, agar kita terus bisa berjalan bersama.

Semakin lama jalinan persahabatan, semakin dapat kita ketahui apakah dia ataupun diri kita adalah seorang sahabat sejati. Sahabat adalah seseorang yang bukan hanya menegur tapi juga mau ditegur, seseorang yang bukan hanya mengajar tapi juga mau diajar, seseorang yang bukan hanya ingin dimengerti tapi juga mengerti, seseorang yang mau menerima masukkan, saran, kritik, walaupun mungkin itu hal yang menyakitkan.

Seorang sahabat tidak berpura-pura baik, berpura-pura senang, atau berpura-pura mendukung jika tahu sahabatnya salah. Tetapi sahabat tidak akan meninggalkan ketika ia tahu temannya salah. Ia akan terus mendukung dan menopang dalam keadaan yang sulit. Karena itulah saat ketika yang diatas menjadi penyeimbang yang di bawah.

31 July 2009

Rantai Kebaikan

Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya.

Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan.

Kata pria itu, “Saya di sini untuk menolong Anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson.”

Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya. Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, “Dan ingatlah kepada saya.” Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya. Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya

Kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan. Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu :

“Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan : “Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.””

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $100 lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, “Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!”

Ada pepatah lama yang berkata, “Berilah maka engkau diberi.” Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan k ita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan saja!

Kirimkan kepada teman-teman anda!

* Teman baik itu seperti bintang-bintang dilangit. Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun anda tahu mereka selalu ada. *

15 July 2009

Aku Sakit 27 Tahun Yang Lalu

Dua puluh tujuh tahun yang lalu aku sakit. Alasan mengapa aku begitu ingat peristiwa itu adalah saat sakit itu telah menyebabkan aku untuk memilih calon istriku. Sebelumnya ia hanya seorang teman yang baik, tetapi karena ia datang ke apartemenku, membawakan obat-obatan dan membuatkan sarapan untuk aku, untuk pertama kalinya aku berpikir, “Suatu hari nanti ia akan menjadi seorang istri yang hebat buat seseorang.”

Aku mengajaknya pergi makan di Nashville, Tennessee untuk membantuku sembuh dari flu. Setelah itu kami menjadi teman yang lebih dekat dari sebelumnya, tetapi belum terpikirkan olehku tentang pernikahan. Beberapa bulan kemudian sewaktu aku akan mengambil pekerjaan baru di Atlanta, Cathy, nama wanita itu, membantuku mengemasi barang-barang dan siap untuk berangkat. Kami melewati hari yang menyenangkan dan makan siang bersama-sama. Menjelang hari akhir itu, aku melihat tetesan air mata mengalir dari mata Cathy, membuatku bertanya apa yang terjadi.

Ia berkata, “Aku tak tahu apakah aku bisa hidup tanpamu, kamu adalah sahabatku.” Aku menjawabnya, “Aku tahu, akupun memikirkan hal yang sama.” Hari itu juga kami memutuskan untuk menikah. Kami masih melewati banyak masa sulit, tapi kami masih tetap bersahabat!

Ketika aku mengajar di kelas kesehatan keluarga dan membicarakan mengenai pernikahan, aku selalu menceritakan ini. Murid-muridku tampaknya menyukainya karena mereka belajar untuk pertama kalinya bahwa memberi, berbagi, dan saling memperhatikan satu sama lain adalah hal yang sangat penting di dalam kehidupan, sedangkan seks, penampilan, materi, dan hal-hal lainnya hanya bersifat sekunder.

Oh ya, Cathy dua belas tahun lebih muda dariuk, dan dia sangat cantik. Dia adalah anugrah terbesar kedua setelah keselamatan. Dan aku bersyukur, karena aku sakit 27 tahun yang lalu. Ada hal-hal yang tampaknya buruk menimpa kita, tetapi Tuhan memiliki agenda-Nya sendiri dalam hidup kita. Ia bisa membuat sungai di pada belantara.

23 April 2009

Jika Tidak Ada Hari Esok

Pada suatu daerah hiduplah seorang anak, dia hidup dalam keluarga bahagia dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu menganggap itu sesuatu yang wajar saja.

Dia terus bermain, mengganggu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa".

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia, tetapi dia anggap itu wajar-wajar saja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya.

Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk meminta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa".

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu tapi itu bukanlah masalah karena dia masih punya banyak teman baik yang lainnya. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-teman yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia bertemu dengan seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan pekerjaannya karena dia ingin di promosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mingkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku menghubungi mereka". Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi waktupun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelpon teman-temannya.

Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dapat membahagiakan keluarganya, Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya ataupun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya karena istrinya selalu mengerti dia dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya". Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya tapi dia tidak tahu ini akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal dan dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut, dia belum sempat berkata, "Aku cinta kamu", istrinya telah meninggal dunia.

Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya tapi dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya.

Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktu untuk mereka.

Saat mulai renta, dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60 dan 70.

Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand dan negara-negara lainnya bersama istrinya tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah ompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya.

Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Saar dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu......" Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, dia meninggal dunia dengan air mata dipipinya.

Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh. Jika anda pernah bertengkar, segera berbaikanlah dan jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir... tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa masih ada hari esok untuk memberitahu akan tetapi hari tersebut tidak akan datang. Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah  meninggalkanmu.

22 April 2009

Jose Rivera

Seorang bandit bernama Jose Rivera yang tidak disukai di beberapa kota di Texas karena merampok bank dan bisnis mereka. Akhirnya penduduk kota yang kuatir dengan kekacauan ini membayar seorang ranger untuk menangkap Jose Rivera di tempat persembunyiannya di Mexico dan mengembalikan uang mereka.

Akhirnya ranger itu mendatangi sebuah bar yang terpencil. Disana ia melihat seorang anak muda sedang meramu minuman. Di salah satu meja, seorang pria sedang tertidur dengan muka ditutupi oleh topinya. Dengan berani, ranger itu mendekati anak muda di bar dan memperkenalkan diri dan maksud kedatangannya untuk membawa Jose Rivera, hidup atau mati. “Bisakah kamu menolongku menemukannya?” Anak muda itu tersenyum, sambil menunjuk ke arah sebuah meja, ia berkata, “Itu Jose Rivera.”

Ranger itu berbalikke arah bandit yang sedang tidur itu dan menepuk bahunya. “Apakah kamu Jose Rivera?”, tanyanya. Orang itu menjawab, “no speak English”. Ranger itu menoleh ke belakang dan memanggil anak muda itu untuk membantunya berkomunikasi.

Pembicaraan selanjutnya menjadi sedikit membosankan. Pertama ranger itu berbicara dalam bahasa Inggris, lalu anak muda itu menerjemahkannya ke dalam bahasa Spanyol. Jose Rivera akan menjawab dalam bahasa Spanyol dan anak muda itu mengulangi jawabannya ke dalam bahasa Inggris kepada ranger itu.

Akhirnya ranger itu memberikan dua pilihan untuk Jose Rivera. Pertama, memberitahukan tempat dimana ia menyembunyikan harta yang telah ia curi, maka ia akan dibebaskan. Yang kedua, jika ia tak mau memberitahukannya, ia akan ditembak di tempat. Lalu anak muda itu menerjemahkan peringatan itu.

Jose Rivera berpikir sejenak lalu berkata kepada anak muda itu, “Katakan padanya untuk keluar dari bak, belok ke kanan. Satu mil dari sini ada sebuah sumur. Di dekat sumur itu ada sebuah pohon besar. Di bawahnya terdapat sebuah kotak dimana kusembunyikan semua perhiasan dan uang yang kurampok”.

Anak muda itu menoleh ke ranger itu, membuka mulutnya, lalu menelan ludah, berhenti sebentar, lalu mengatakan, “Jose Rivera bilang, Em, dia bilang coba tembak aku!” Mungkinkah kamu akan melakukan hal yang sama seperti anak muda itu kepada temanmu? Mungkin tidak. Tetapi bagaimana kalau temanmu yang melakukan hal itu kepadamu?

09 March 2009

Pencuri

Seorang wanita sudah menunggu di bandara semalaman. Dengan sisa beberapa jam yang cukup lama sebelum keberangkatannya, dia membeli sebuah buku, sekantong biskuit, lalu mencari tempat untuk menghabiskan waktunya. Dia begitu sibuk membaca, sampai suatu hal terjadi. Pria yang duduk di sebelahnya, sepertinya sangat sopan. Ia mengambil satu atau dua biskuit dari bungkusnya.

Dia mencoba untuk mengacuhkannya, sambil menghindari untuk memandangnya. Ia membaca, mengunyah biskuit dan melihat jam. Tapi “pencuri biskuit” yang berani itu mulai menghabiskan persediaan biskuitnya. Dan setelah beberapa menit berlalu, dia mulai merasa terganggu sambil berpikir, “Kalau dia tidak begitu ramah, pasti sudah kutonjok matanya!”

Lalu setiap potong biskuit yang diambil oleh wanita itu, pria itu pun mengambil sepotong. Dan ketika tinggal tersisa sepotong, dia membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu. Dengan sebuah senyuman di wajahnya dan sebuah tawa yang agak ragu, laki-laki itu mengambil potongan biskuit terakhir dan membaginya menjadi dua potong. Sambil memakan setengah dari biskuit itu, laki-laki itu menawarkan setengahnya lagi. Dia pun segera mengambil separuhnya dan berpikir, “Ya ampun, laki-laki ini memang berani dan juga kasar, mengapa dia tidak menunjukkan rasa berterima kasih sedikitpun!”

Wanita itu begitu marah dan dengan mengeluh dia mengumpulkan barang-barangnya dan pergi ke pintu gerbang. Ia menolak untuk melihat kembali kepada wajah pencuri itu. Ia segera naik ke pesawat dan duduk di kursinya. Kemudian dia mengambil kembali buku yang hampir selesai dibacanya. Dan ketika meraih kopernya, dia terkejut sekali. Ia melihat kantong biskuit di depan matanya!

“Jika punyaku ada disini, jadi yang tadi itu adalah miliknya dan dia mencoba untuk berbagi.”

Dia pun mengeluh lemas. Sudah terlambat untuk meminta maaf, dia pun menyadari dengan perasaan bersalah.

Kita seringkali salah menilai kesalahan orang, yang padahal sesungguhnya adalah kesalahan kita. Jangan menghakimi, karena itu adalah bagian Tuhan. Jangan menuduh, karena itu adalah pekerjaan iblis.

25 January 2009

Encim Tung Khe & Si Pao-Pao

Semua orang memanggil nenek tua itu Encim Tung Khe.  Padahal nama aslinya adalah Oei Lie Cen dan Tung Khe sendiri adalah nama almarhum suaminya, Enchek Tung Khe. ‘Cim Tung Khe masih keliatan sangat sehat di usianya yang ke 74tahun. Padahal dia sudah punya 5orang cucu hasil pernikahan kedua orang anak laki-lakinya yang masing-masihg tinggal bersama keluarganya di luar negri. Ingatannya masih terbilang sangat bagus dan bahkan tak pikun sama sekali. Hanya saja pendengarannya sedikit agak terganggu. Maka dari itu anak sulungnya memberikan dia alat bantu pendengaran yang setiap saat selalu menempel di telinganya.

Seingat saya, waktu saya masih kecil tiap lewat di depan rumahnya, saya pasti menyapa dia (meskipun hanya sekedar basa-basi saja..) dan dia pasti akan selalu memanggil dan memberikan kue-kue jajan pasar, ataupun uang 100-500perak. Dia adalah nenek yang paling ramah dan paling disegani disekitaran tempat tinggal saya. Hampir setiap perayaan Idul Fitri dan Imlek dia selalu membagi-bagikan kain baju ataupun dodol ke tetangga-tetangga yang dianggapnya perlu tuk diberi.

Suaminya meninggal tahun 1996 karena sakit diabetes yang sudah menahun menjangkiti tubuhnya. Akhirnya ‘cim Tung Khe memutuskan tuk tinggal sendiri tanpa mau ikut dengan anak-anaknya yang sudah menikah. “..embung ngaganggu rumah tangga barudak…(Enggak mau menggaggu rumah tangga anak-anak)” itu katanya.

Cim Tung Khe selalu mengisi hari-harinya dengan beribadah di gereja. Memang daridulu keluarganya adalah keluarga yang taat beragama. Dirumahnya ia hanya tinggal dengan 2 orang pembantu perempuan dan seekor anjing betina bernama Pao-Pao.

Pao-Pao adalah seekor anjing blasteran Pomerian dan anjing kampung, namun rupa dan bentuknya lebih banyak ke anjing pom. Pao-Pao inilah teman satu-satunya tempat dimana biasanya dia berkeluh kesah dan berbagi cerita hari tuanya.

Setiap pagi ‘cim Tung Khe selalu berjalan keliling dengan Pao-pao sambil menyapa para tentangga yang dia temui. Jalannya tidak jauh, hanya satu atau dua blok saja. Lumayanlah tuk perempuan seumuran dia. Kira-kira jam 6.30an dia selalu menyapu halaman rumahnya ditemani oleh si Pao-Pao yang dengan setia duduk di teras rumah menunggu teman tuanya selesai menyapu. Setelah selesai, biasanya cim Tung Khe selalu terlihat bermain-main sambil menyisir dan merapikan bulu si Pao-Pao sambil sesekali “mengobrol” dengannya. Kadang terdengar alunan lagu-lagu gospel dari dalam rumahnya. Jika sore menjelang, cim Tung Khe selalu terlihat di depan teras rumahnya duduk di kursi goyang sambil ditemani Pao-Pao yang kadang-kadang suka terlihat duduk di pangkuannya cim Tung Khe.

Ada kalanya cim Tung Khe jalan kaki pergi ke gereja yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumahnya dan si Pao-Pao ini ditinggalkan sendirian dirumah, ditemani kedua orang pembantu rumah tangga si encim. Dan kalau hari itu tiba biasanya si Pao-Pao enggak mau masuk rumah dan selalu terlihat diam di teras rumah menunggu si encim pulang. Kalau sudah begini, biasanya anak-anak sekitar yang liat si Pao-Pao lagi diam sendirian pasti langsung menyoraki,”Yee Pao-Pao ceurik….puas-puas…si encim mah keur ulin ka Cina ‘da (Yee Pao-Pao nangis…puas-puas…si encim tuh lagi liburan ke Cina)”. Dan akhirnya memang meneteslah air matanya si Pao-Pao itu. Tapi ketika si ‘cim Tung Khe pulang, Pao-Pao biasanya langsung bergegas menghampiri sahabat tuanya itu sambil melompat-lompat dan mengibaskan ekornya kesana kemari. ‘Cim Tung Khe biasanya tahu kalau sahabatnya itu baru selesai mengangis. Biasanya dia langsung mengelus-ngelus dan menciumi Pao-Pao sampai tenang kembali.

Pada suatu hari, tidak biasanya si encim tak tampak jalan pagi ataupun menyapu halaman rumahnya. Pao-Pao pun tak tampak keluar dari pintu rumah si encim. Tetangga terdekat sebelah rumahnya pun akhirnya bertanya pada salah seorang pembantunya. Pembantunya bilang kalau ‘cim Tung Khe sedang sakit. Akhirnya berita tersebar di sekitar lingkungan tetangga dan hal ini menyebabkan simpati warga yang mengenalnya secara dekat. Maklumlah, nenek tua ini memang sangat akrab sekali dengan pada tetangganya. Saya dan keluarga pun akhirnya menjenguk ‘cim Tung Khe ini.

Ketika saya masuk ke dalam kamarnya, rupanya cim Tung Khe sedang terbaring lemah tak berdaya dan ditemani oleh si kecil Pao-Pao yang menunggu si encim sampai-sampai tidak mau makan ataupun minum sama sekali. Begitulah kata dua orang pembantunya. Suhu badan cim Tung Khe tinggi sekali dan itu membuat kami khawatir. Salah seorang tetangga kami akhirnya menghubungi salah seorang anggota keluarganya. Kami tidak bisa menghubungi anak-anaknya Karena mereka berdua tinggal diluar negri dan kami memang tidak tau alamat ataupun contact number nya.

‘Cim Tung Khe pun akhirnya dibawa ke salah satu rumah sakit dan harus segera masuk ke ruangan ICU tuk mendapatkan perawatan intensif.

Malang bagi si kecil Pao-Pao.. jangan kan tuk menemani sahabat tuanya. Bahkan untuk menginjakkan kaki di rumah sakit saja dia tidak diperbolehkan. Selama cim Tung Khe dirumah sakit, Pao-Pao diurus oleh kedua pembantu si encim. Mereka pun tidak bisa selamanya menemani Pao-Pao karena mereka harus bergantian ke rumah sakit menjaga majikannya. Pao-Pao terlihat sangat lesu dan tak bergairah. Setiap hari dia hanya diam termenung didepan rumah si encim, menunggu si encim pulang.

Saya pun tersentuh melihat si Pao-pao ini. Saya akhirnya mencoba tuk membawa dia ke rumah dan diurus semampunya. Badannya sangat kurus dan lemah tak selincah biasanya. Ketika saya tanyakan ke pembantu si encim, rupanya Pao-Pao sudah 2 hari tidak mau makan. Dia hanya mau minum susu sapi saja. Kontan saat itu saya langsung memberinya NUTRI PLUS GEL dan coba merangsangnya dengan dogfood kering yang dibasahkan air rebusan daging babi dicampur dengan nasi putih sedikit. Pao-Pao pun mau makan meskipun porsinya masih sedikit. Tapi setelah selesai makan, dia langsung berlari ke gerbang rumah dan minta tuk dibukakan pintu. Kami tentu saja tidak mengijinkan, karena kami pikir dia akan kabur dari rumah.

Kami tidak memperhatikan dia sampai kira-kira jam 18, rupanya Pao-Pao masih saja duduk didepan pintu minta dibukakan pintu gerbang. Tentu saja kami sekeluarga jadi kaget dibuatnya dan bertanya-tanya, kira-kira apa yang diinginkan si Pao-Pao ini. Akhirnya ayah saya memutuskan tuk membawa dia keluar sambil memasangkan tali di leher Pao-Pao dan mengikuti kemana si Pao-Pao akan menuju. Saya pun mengikutinya berdua bersama Bulldog kesayangan saya.

Pao-Pao rupanya menyeret kami ke rumah si encim. Ketika tali lehernya dibuka dia segera duduk di tempat dia biasa mengunggu si encim pulang. Saat itu saya dan ayah saya sampai terharu melihat kesetiaan seekor anjing kecil yang mungkin bagi sebagian orang dia hanyalah binatang yang tanpa arti.

Keesokan harinya, pagi-pagi pukul 7 saya mengangkat Pao-Pao kembali kerumah tuk disuapi makanan dan memberinya susu khusus tuk Puppies. Setelah itu dia segera pulang dengan sendirinya ke tempat biasa dia duduk menunggu sahabatnya pulang. Dan begitu juga dengan sore hari kira-kira pukul 15. Begitulah setiap harinya selama 4hari dia bolak-balik diangkat kerumah saya dan pulang sendiri kerumahnya.

Di hari keempat si encim dirumah sakit, tiba-tiba saya ditelepon tuk segera membawa Pao-Pao kerumah sakit tempat si encim dirawat. Saya berdua bersama ayah saya segera membawa Pao-Pao ke ruang LIONS CLUBS rumah sakit Imanuel Bandung. Ketika tiba di depan rumah sakit, satpam melarang kami masuk membawa Pao-Pao. Saya pun segera menghubungi teman saya, yang kebetulan menjadi dokter disana. Setelah saya menjelaskan duduk perkaranya, kamipun diijinkan masuk dengan syarat “tidak boleh terlihat” oleh siapapun.

Singkat cerita kami berhasil masuk ke kamar 94, menemui cim Tung Khe. Dia terlihat sangat lesu dan menyedihkan sekali. Tampak pula kedua anak dan kedua menantunya yang menjaga bergiliran.

Pao-Pao terlihat senang sekali bisa menemui sahabat tuanya itu. Ekornya dikibaskan kesana kemari dan dia menjilati wajah si encim ketika saya mengangkatnya ke pangkuan si encim. Begitu pula dengan si encim. Senyum kecil terlihat di wajah lemas cim Tung Khe ini.

Sampai kira-kira 1 jam Pao-Pao menjenguk sahabat nya itu, dia tetap menolak tuk digendong. Tangan saya sempat nyaris jadi sabetan giginya. Padahal sebelumnya Pao-Pao tidak pernah menggigit orang sama sekali. Si encim pun bilang ke sahabatnya itu dengan bahasa mandarin. Kira-kira beginilah artinya, ”..Pao-Pao cepat pulang! Sebentar lagi saya juga akan pulang!”.

Pao-Pao pun mau saya angkat pulang kerumah saya. Dan ketika tiba dirumah, dia segera berlari ke rumah si encim yang jaraknya kira-kira 50 meter dari rumah saya, lalu seperti biasanya dia menunggu si encim di pojok biasa sampai pagi menjelang.

Malamnya, dihari yang sama waktu Pao-Pao menjenguk sahabat tuanya, saya mendapat kabar dari tetangga kalau cim Tung Khe telah benar-benar “pulang”. Kami sekeluarga sebenarnya tidak begitu kaget dengan kejadian ini karena kami memang sudah punya firasat tak enak.

Keesokan paginya saya seperti biasanya menjemput Pao-Pao kecil tuk diberi makan. Kata tetangga sebelah rumahnya si encim, Pao-Pao sepanjang malam melolong tanpa henti. Suaranya seperti tangisan yang menyayat hati. Begitulah kata tetangga sebelah rumahnya. Seperti biasanya saya segera membawa Pao-Pao kerumah tuk disuapi. Namun seperti biasanya pula, setiap selesai makan dan minum, dia langsung pulang menunggu si encim di pojok rumahnya.

Kini telah 2 bulan setelah hari pemakaman ‘cim Tung Khe. Saya dan keluarga masih mengurus Pao-Pao. Namun rupanya Pao-Pao ini tidak pernah menganggap rumah kami ini adalah rumahnya juga. Sampai sekarang dia masih saja selalu diam menunggu di depan rumah ‘cim Tung Khe. Padahal rumah itu telah kosong tak berpenghuni dan telah tertempel papan bertuliskan “DIJUAL”.

Teman-teman, ini adalah benar-benar kisah nyata yang terjadi di kehidupan kita. Pao-Pao telah saya adopsi dan saya paksa tuk tinggal disini berteman dengan bulldog-bulldog dan Collie supaya dia bisa belajar melupakan sahabatnya, meski saya tahu bahwa hal itu sangatlah mustahil. Soalnya sampai sekarang dia masih suka kabur ke rumah lamanya….

DOGs ARE ABSOLUTELY A TRUE FRIEND…..

16 December 2008

Aku Tahu Kamu Akan Datang

Dalam perang dunia yang kedua, terdapat dua orang pemuda yang merupakan sahabat karib satu dengan yang lain. Setelah mengalami pertempuran yang amat dahsyat hari itu, salah seorang pemuda itu baru mengetahui bahwa kawan akrabnya belum kembali dari medan pertempuran hari itu. Ia tahu bahwa kawannya itu pasti masih tertinggal terluka di daerah tak bertuan. Ia kemudian minta ijin kepada komandannya agar ia boleh mencari kawannya di daerah itu.

Komandannya menjawab tidak ada gunanya untuk mencari kawannya, karena boleh dipastikan bahwa ia sudah mati setelah terluka dan harus berada di tengah-tengah pertempuran yang sengit selama satu hari lamanya. Tetapi pemuda itu terus mendesak dan akhirnya komandannya memberikan ijin kepadanya.

Setelah beberapa waktu kemudian, pemuda itu kembali dengan menggendong sesosok tubuh yang sudah tak bernyawa di atas pundaknya. Komandan mengatakan, “Aku kan sudah mengatakan bahwa tidak ada gunanya untuk mencari kawanmu itu?”

Pemuda itu menjawab dengan mata yang bersinar-sinar “Ada gunanya, pak. Aku tiba di sisinya untuk mendengar ia berbisik, “Aku tahu kamu akan datang.”

Refleksi :
Mengasihi bukan cuma menjadi dekat, tetapi menjadi sahabat yang mau mendengar keluhan sesamanya.

21 October 2008

Marketing Fitnes

Ada teknik marketing model baru dari sebuah klub fitnes. Mereka melakukan pendekatan kepada konsumennya, bak seorang teman yang sedang mengajak kita untuk bergabung supaya bisa hidup sehat. Para sales laki-laki itu terlihat bertubuh atletis dan yang perempuan terlihat langsing dan menarik.

Seperti layaknya seorang teman, mereka terlihat begitu peduli dengan kesehatan kita. Menanyakan harapan-harapan kita tentang bentuk tubuh. Mendengarkan keluhan-keluhan dan memberikan masukan yang berhubungan dengan kebugaran dengan berolah raga. Ketika tour keliling fasilitas, mereka begitu antusias menjelaskan kegunaan alat-alat, bahkan berjanji akan menemani kita ketika latihan.

Mencatat nomor telepon dan alamat, itu adalah hal yang mereka lakukan sebelum berpisah. Mereka akan menelepon seperti seorang sahabat yang sudah kangen dan ingin ketemu lagi. Sungguh-sungguh seperti seorang teman yang baik, yang begitu peduli kepada kita.

Namun kebanyakan dari semua yang mereka lakukan itu hanya sekedar lip service. Mereka tidak benar-benar ingin mengenalmu. Mereka tidak benar-benar ingin mengenalmu. Mereka tidak benar-benar peduli dengan kesehatanmu. Mereka hanya ingin kamu masuk dalam daftar konsumen yang melakukan kunjungan lalu bergabung dengan klub itu supaya mereka mendapatkan bonus bulanan. Apa yang mereka lakukan itu hanya demi uang!

Bayangkan jika kamu memiliki seorang teman yang berusaha baik kepadamu hanya demi mendapatkan keuntungan darimu. Minta ditraktir, minta dibelikan barang, minta diantar pulang, pinjam uang lalu bilang tidak ada uang untuk mengembalikan. Namun ketika kamu sedang mengalami kesulitan keuangan, temanmu itu tidak pernah muncul untuk menolongmu.

Tentu saja sales klub itu tidak akan menelepon kamu dan menanyakan kabarmu lagi ketika kamu bilang tidak jadi bergabung. Bahkan beberapa dari mereka dengan ketus buru-buru mematikan telepon karena kesal. Mereka tidak pernah melihatmu dengan label seorang teman, tetapi uang. Seorang teman yang sejati bukan orang yang sedang mengambil keuntungan dari sahabatnya.

20 October 2008

Lukisan

Vincent dan Alfredo baru saja berkenalan di sebuah kontes melukis. Mereka berdua sangat berbakat dan mempunyai karakteristik masing-masing dalam lukisan mereka. Tetapi pemenang kontes ini adalah Alfredo dan hasil lukisan para pemenang dipajang di sebuah pameran.

Salah seorang pengunjung pameran lukisan itu adalah seorang direktur sebuah perusahaan bergengsi, ia sedang merenovasi sebuah gedung kantornya dan berencana untuk membeli sebuah lukisan untuk dipasang di ruang kantornya yang baru. Ia terkesan dengan lukisan Alfredo dan membayarnya untuk membuat lukisan yang akan dipasang di ruang kantornya.

Alfredo begitu senang ketika mendapat kesempatan baik itu. Ia mencurahkan seluruh ide dan hatinya buat lukisannya. Ketika lukisan itu telah selesai dibuat, ia meminta ijin kepada pengelola gedung untuk mencoba memasangnya di gedung kantor yang sudah dijanjikan. Ia mengajak Vincent untuk memberikan pendapatnya. Ternyata gedung kantor itu belum selesai dibangun. Masih banyak tukang bangunan yang sedang bekerja, membangun tembok, mengecat dan sebagainya. Alfredo dan Vincent naik ke lantai 12 gedung itu dan langsung ke tempat bakal ruang kantor direktur. Mereka mencoba berbagai kemungkinan posisi lukisan itu, mencoba mencari letak yang paling tepat dan pas untuk dipasang supaya bisa dipertimbangkan desaini interiornya.

Sesaat ketika Alfredo melihat-lihat ke arah lukisannya, ia ingin mencoba melihatnya dari jarak yang lebih jauh. Perlahan-lahan ia berjalan mundur. Tiba-tiba Alfredo terbelalak melihat Vincent yang dengan cepat mencoreng lukisan Alfredo dengan cat milik tukang yang sedang berada disebelahnya. Alfredo marah bukan kepalang, ia segera berlari ke depan lalu menanyakan kenapa Vincent tega melakukan hal itu.

Sambil menunduk Vincent berkata, "Kamu hampir saja jatuh ke belakang. Kalau tadi aku berteriak mengingatkanmu, pasti kamu terkejut dan sangat mungkin untuk jatuh. Maafkan aku". Jadi yang Vincent lakukan adalah untuk menarik perhatian Alfredo supaya segera berjalan maju menjauhi pinggiran gedung yang belum jadi itu.

Terkadang hal yang baik yang Tuhan coba lakukan, menurut pandangan manusia adalah jahat. Padahal Tuhan sedang menolong hidup kita dari kejatuhan yang jauh lebih fatal akibatnya.

08 September 2008

Thanksgiving Day

Hari Thanksgiving sudah dekat. Ibu guru kelas 1 SD memberikan sebuah tugas yang mengasyikkan yaitu untuk menggambar sesuatu yang sangat mereka syukuri. Kebanyakan anak-anak di kelas itu bukanlah dari kalangan berada, tetapi mereka semua merayakan hari libur itu dengan kalkun panggang dan benda-benda tradisi hari Thanksgiving. Benda-benda inilah yang menurut pikiran ibu guru itu, akan menjadi subyek gambar murid-muridnya. Dan ternyata benar, kebanyakan dari mereka menggambar benda-benda itu.

Tetapi Douglas membuat gambar yang berbeda. Douglas adalah anak yang baik. Dia adalah anak kesayangan ibu gutu itu. Saat anak-anak lainnya bermain di jam istirahat, Douglas lebih suka berada di dekat ibu guru. Orang hanya bisa menduga kalau Douglas punya kesedihan yang mendalam.

Ya, gambarnya berbeda. Ketika diminta untuk menggambar sesuatu yang membuatnya bersyukur, Douglas menggamar sebuah yangan. Tidak ada yang lain. Hanya sebuah yang kosong.

Gambarnya yang abstrak itu menjadi perhatian teman-temannya. Tangan siapa itu? Seorang anak menebak, itu adalah tangan seorang petani, karena petani yang berternak kalkun. Yang lain menebaknya tangan seorang polisi, karena polisi melindungi dan peduli kepada masyarakat. Ada juga yang menebaknya tangan Tuhan, karena Tuhan yang menciptakan hari Thanksgiving. Perdebatan itu berlanjut sampai ibu guru hampir melupakan pelukis yang menggambarnya.

Ketika anak-anak lain telah pergi, ibu guru itu berhenti di meja Douglas, membungkuk dan bertanya kepadanya, "Tanga siapa itu?". Anak kecil itu mendongak ke wajah ibu guru dan menjawab, "Itu adalah tanganmu, ibu guru.". Ibu guru teringat saat-saat dimana ia memegang tangan Douglas dan berjalan bersamanya. Seberapa sering ia berkata, "Pegang tanganku Douglas, kita berjalan keluar." Atau, "Perhatikan ibu guru ya." Atau, "Mari kita lakukan bersama." Douglas sangat bersyukur karena tangan ibu guru. Sambil mengusap air matanya, ibu guru memeluk Douglas, "Terima kasih".

Bersyukurlah karena ada orang-orang disekitarmu, yang memegang tanganmu ketika kamu tertinggal. Mereka yang berkata, "Mari kita lakukan bersama-sama". Yang selalu bilang, "Jangan ungkit masa lalu lagi, kamu sudah dimaafkan." Bersyukur karena di antara orang-orang yang meninggalkanmu, masih ada mereka yang selalu mendukungmu.

06 September 2008

Selembar Kertas Putih

Deni adalah anak yang suka mencari-cari kesalahan. Dengan cepat, ia bisa menunjukkan kesalahan temen-temannya, juga Vina, pacarnya. Bahkan kalau ada sesuatu yang terjadi pada dirinya, Deni selalu saja menyalahkan orang lain.

"Aku jatuh karena Jacky buang sampah sembarangan", kata Deni waktu ia terjatuh di kamar mandi sekolah. "Nilaiku jelek karena Joe selalu menyontekku." "Aku kemaren terlambat ke sekolah karena Teddy nebeng." Pokoknya semua selalu karena kesalahan orang lain.

Vina adalah orang yang paling sering menjadi sasaran kekesalan Deni. "Gara-gara kamu aku jatuh, gara-gara kamu aku sakit, gara-gara kamu aku ketinggalan buku, gara-gara kamu pulsaku habis, gara-gara kamu.. gara-gara kamu..."

Suatu saat, Deni sedang berjalan-jalan di taman bersama Vina. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya. Timbul keisengannya untuk menganggu lebah-lebah itu. Vina sudah melarangnya, tapi ia tidak peduli. Ia pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Ratusan lebah merasa terusik dan menyerang Deni. Melihat binarang kecil yang begitu banyak, Deni lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu.. dua.. tiga.. lebah-lebah itu menghajar dengan sengatan. "Aduh... tolong...!"

Byur!! Deni menceburkan dirinya ke sungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkannya yang sedang kesakitan. "Mengapa Vina tidak menolongku? Jika Vina sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Vina!"

Ketika sampai di rumah, Deni kembali menyalahkan Vina seperti biasa. Vina diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih.

"Den, apa yang kamu lihat dari kertas ini?"

"Itu cuma kertas putih, tidak ada gambarnya," jawab Deni. Kemudian Vina mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam.

"Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini?"

"Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!"

"Den, kenapa kamu cuma lihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Gampang sekali kamu melihat kesalahanku! Padahal masih banyak hal baik yang telah kulakukan padamu."

Vina berjalan pergi meninggalkan Deni yang duduk termenung. Apa kamu seperti Deni?

11 July 2008

The Most Powerful Words

The following three-word phrases can enrich every relationship. These are just three little BUT VERY POWERFUL words !!! Try them

I’ll Be There
If you have ever had to call a friend in the middle of the night, to take a sick child to hospital, or when your car has broken down some miles from home, you will know how good it feels to hear the phrase “I’ll be there.” Being there for another person is the greatest gift we can give. When we’re truly present for other people, important things happen to them & us. We are renewed in love and friendship.We are restored emotionally and spiritually. Being there is at the very core of civility.

I Miss You
Perhaps more marriages could be saved & strengthened if couples simply & sincerely say to each other “I miss you.” This powerful affirmation tells partners they are wanted, needed, desired & loved. Consider how ecstatic you would feel, if you received an unexpected phone call from your spouse in the middle of your workday, just to say “I miss you.”

I Respect You / I Trust You
Respect and trust is another way of showing love. Its conveys the feeling that another person is a true equal. If you talk to your children as if they were adults you will strengthen the bonds & become close friends. This applies to all interpersonal relationships

Maybe You’re Right
This phrase is highly effective in diffusing an argument and restoring frayed emotions. The flip side to “maybe you’re right” is the humility of admitting maybe “I’m wrong”. Let’s face it. When you have a heated argument with someone, all you do is cement the other person’s point of view. They, or you, will not change their stance and you run the risk of seriously damaging the relationship between you.Saying “maybe you’re right” can open the door to further explore the subject, in which you may then have the opportunity to get your view across in a more rational manner.

Please Forgive Me
Many broken relationships could be restored and healed if people would admit their mistakes and ask for forgiveness. All of us are vulnerable to faults and failures. A man should never be ashamed to own up that he has been in the wrong, which is saying, in other words, that he is wiser today than he was yesterday.

I Thank You
Gratitude is an exquisite form of courtesy. People who enjoy the companionship of good, close friends are those who don’t take daily courtesies for granted. They are quick to thank their friends for their many expressions of kindness. On the other hand, people whose circle of friends is severely constricted often do not have the attitude of gratitude.

Count On Me
A friend is one who walks in when others walk out. Loyalty is an essential ingredient for true friendship; it is the emotional glue that bonds people. Those that are rich in their relationships tend to be steady and true friends. When troubles come, a good friend is there indicating “you can count on me.”

Let Me Help
The best of friends see a need and try to fill it. When they spot a hurt they do what they can to heal it. Without being asked, they pitch in and help.

I Understand You
People become closer and enjoy each other more if they feel the other person accepts and understands them. Letting your spouse know in so many little ways that you understand them, is one of the most powerful tools for healing relationship. This applies to any relationship.

Go For It
We are all unique individuals. Don’t try to get your friends to conform to your ideals. Support them in pursuing their interests, no matter how weird they seem to you. Everyone has dreams, dreams that are unique to that person only. Support and encourage your friends to follow their dreams. Tell them to “go for it.”

I Love You
Perhaps the most important three words that you can say. Telling someone that you truly love them satisfies a person’s deepest emotional needs. The need to belong, to feel appreciated and to be wanted.Your spouse, your children, your friends and you, all need to hear those three little words “I love you.”

====================================================

Never regret a day in your life.
Good days give you happiness;
Bad days give you experiences;
Both are essential to life

19 April 2008

Pasir & Batu

Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang dua orang sahabat karib yang berjalan melintasi padang pasir.

Pada suatu saat, mereka sedang berargumentasi satu dengan yang lain. Akibatnya, salah seorang menampar wajah kawan akrabnya. Kawan yang ditampar itu merasa kesakitan, namun tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia menulis di atas pasir, “HARI INI, KAWANKU YANG PALING AKRAB MENAMPAR MUKAKU.”

Mereka melanjutkan perjalanan sehingga menemukan sebuah oasis. Di tengah oasis itu terdapat sebuah kolam dengan airnya yang jernih. Mereka berhenti di tempat itu untuk mandi. Kawan yang ditampar sampai kesakitan tadi, mulai tenggelam. Untunglah kawan akrabnya berhasil menolongnya. Setelah ia tenang lagi dari ketakutannya, ia menulis di atas batu, “HARI INI KAWANKU YANG PALING AKRAB MENYELAMATKAN JIWAKU”

Kawan akrabnya yang telah menolong dan menamparnya, bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menulis di pasir setelah aku menamparmu, untuk kemudian kamu menulis di batu setelah aku menyelamatkanmu?”

Kawannya tersenyum dan berkata, “Bila seorang kawan menyakitimu, maka hendaknya kamu menulis di atas pasir. Hembusan angin pengampunan akan menghapusnya lenyap. Dan bila kawanmu berbuat sesuatu yang besar, hendaknya kamu mengukirnya di atas batu sebagai suatu kenangan hatimu. Tidak pernah ada hembusan angin yang dapat menghapusnya.”