Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 January 2009

Gunakan Dengan Bijak

Mazmur 90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 17; Matius 17; Kejadian 33-34

Seorang guru sekolah menengah di Los Angeles mempunyai cara yang unik ketika ia mengajar para siswanya. Cara itu ia terapkan untuk merangsang para siswanya agar dapat berpikir dengan tepat. Dari waktu ke waktu, ia selalu menulis pesan-pesan singkat di papan tulis yang sebenarnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan pelajaran-pelajaran yang sedang diajarkannya pada saat itu.

Suatu pagi, para siswa melihat angka 25.550 tertera di papan tulis yang ada di kelas mereka. Melihat tulisan itu, seorang siswa lalu mengangkat tangannya dan bertanya mengapa gurunya menuliskan angka tersebut. Lalu ia menjelaskan bahwa 25.550 merupakan jumlah hari dalam kehidupan seseorang yang hidup hingga usia 70 tahun. Guru tersebut berusaha menekankan tentang singkatnya kehidupan dan nilai dari tiap-tiap hari.

Ketika saya masih remaja dan mencoba untuk memandang hari esok, rasanya waktu bergerak begitu lambat. Sulit untuk membayangkan apa yang sering dikatakan oleh orang-orang tua bahwa waktu berlalu begitu cepat sampai-sampai mereka dibuat terheran-heran kemana perginya waktu tersebut. Namun setelah saya semakin bertambah dewasa, ternyata tahun-tahun yang berjalan memang tampak begitu pendek dan cepat berlalu, terutama bila dikaitkan dengan kekekalan.

Mari kita semua mengingat apa yang dikatakan oleh Rasul Yakobus tentang kehidupan: "Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap" (Yakobus 4:14). Oleh sebab itu, kita harus menggunakan setiap kesempatan dalam hidup ini untuk menghormati Allah, melayani sesama dan memberitakan tentang Kristus. Mintalah agar Allah mengajar kita untuk menghitung hari (Mazmur 90:12) agar kita beroleh hati yang bijaksana!

Jangan habiskan waktu dengan sia-sia. Investasikanlah waktu dengan bijak.

DOA :
Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!

Jawaban.com

Weekly Scripture – Amsal 14:23

"Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja" - Amsal 14:23

Cecep

Cecep yang berusia 12 tahun tinggal bersama ayahnya di sebuah desa. Ibunya meninggal sejak ia masih kecil. Selama ini ayahnya yang bekerja untuk menghidupi keluarga. Suatu saat mereka memutuskan untuk migrasi ke desa lain, untuk mencari peruntungan. Mereka memiliki seekor keledai yang sudah sangat kurus karena kehidupan mereka yang kekurangan.

Pada hari mereka akan meninggalkan desa itu, mereka membawa sedikit barang yang mereka miliki dan meletakkannya di atas punggung keledai itu. Lalu mereka berangkat dengan menunggangi keledai mereka. Saat melewati sekumpulan ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian, mereka mendengar ibu-ibu itu berkata, “Keledai sudah kurus seperti itu masih ditunggangi oleh dua orang dengan barang-barang, sungguh tidak punya perasaan.” Kemudian ayah Cecep turun dan membiarkan anaknya yang duduk di atas keledai.

Ayahnya ingin mengucapkan salam perpisahan kepada teman-temannya yang sedang bekerja di sawah, tetapi beberapa dari mereka ada yang mencibir, “Anak tidak tahu diri, membiarkan ayahnya yang sudah tua berjalan kaki.” Kemudian Cecep turun dari keledai dan membiarkan ayahnya yang menunggangi keledai itu.

Saat Cecep ingin mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya di sekolah, beberapa dari teman-temannya berkata, “Punya bapak tapi tidak punya belas kasih, tega membiarkan anaknya yang berjalan, sendirinya enak-enakan duduk di keledai.” Kemudian mereka berdua pun turun dan menggiring keledai mereka berjalan.

Ketika mereka sudah hampir tiba di perbatasan desa, mereka bertemu dengan seorang tua yang sedang duduk, lagi-lagi mencibir mereka, “Dasar bodoh, buat apa punya keledai tapi tidak ditunggangi.”

Renungan :
Kita tidak bisa melarang orang-orang disekeliling kita, bahkan teman-teman kita untuk berhenti membicarakan tentang kita. Hal yang baik maupun yang buruk. Kamu pasti lelah seperti Cecep dan bapaknya. Tetapi kita cukup punya Tuhan yang memberikan kita hikmat unutk menuntun kita dalam keadaan apapun. Dia yang meluruskan jalanmu.