Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

27 February 2012

Mudaku Kini, Tuaku Nanti

Dua minggu yang lalu setelah pulang dari perjalanan singkat ke luar kota, saya kehabisan tenaga untuk mencuci tumpukan baju kotor, lalu memutuskan untuk menggunakan jasa laundry kiloan saja. Ketika tiba hari yang dijanjikan, saya pun pergi mengambil pakaian-pakaian yang sudah selesai dilaundry. Siang itu hari minggu yang cerah, dan saya baru saja selesai menghadiri acara mingguan dengan penampilan yang cantik nan anggun (ehem..).

Saat saya sudah bersiap menuju ke mobil, si tante pemilik memulai pembicaraan ringan dengan saya, "Kamu tinggal di mana?" Pertanyaan 'basa-basi' itu berujung pada obrolan yang berlangsung sekitar 20 menit lamanya. Si tante tidak henti-hentinya mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada saya, dan saya juga merasa sungkan untuk menyudahi pembicaraan kami. Beliau juga menceritakan berbagai hal tentang dirinya dan keluarganya dengan ceria dan penuh semangat. Di bawah teriknya matahari saya berdiri dengan kostum bak ingin ke pesta sambil memeluk pakaian hasil laundry seberat 5 kg.

Ada hal yang begitu menarik simpati saya. Si tante yang sudah berumur 65 tahun tapi kelihatan masih sangat sehat dan muda itu mengatakan pada saya, "Minggu depan kamu datang lagi ya, galaundry juga ga apa-apa, datang aja." Kalimat itu diulang-ulang hingga beberapa kali sampai akhir obrolan kami. Saya tidak menanyakan maksud perkataannya itu, tapi saya berasumsi dalam hati, maksudnya adalah, minggu depan datang lagi temani saya ngobrol ya. Entah kenapa saya dapat merasakan kesepian yang dirasakan beliau.

Dalam perjalanan pulang saya terus teringat akan si tante dan pembicaraan kami. Banyak hal yang terlintas di pikiran saya. Proses dari muda menjadi tua itu adalah suatu hal yang sudah pasti terjadi. Saat kita masih anak-anak, kita 'bergantung' pada orang tua yang membesarkan kita. Di saat muda, perbedaan pola pikir yang berujung pada perbedaan pendapat tidak jarang menimbulkan perselisihan dan membuat jarak di antara kita dan orang tua. Ketika kita masuk ke tahap hidup yang selanjutnya (menikah), mungkin kita akan 'minta tolong' menitipkan anak kita pada orang tua. Pada masa ini, ada dua kemungkinan, orang tua terhibur dan senang mengurus cucu; atau sebaliknya, mereka merasa sudah terlalu tua dan lemah untuk menjaga cucu.

Lepas dari hal menjaga atau mengurusi cucu, orang tua yang sudah lanjut usia secara fisik maupun psikologis sudah tentu berbeda dengan orang muda. Terkadang mereka perlu dibantu dalam mengerjakan sesuatu, bahkan untuk hal kecil seperti mengangkat barang (yang sedikit berat) sekalipun. Dan mereka juga menjadi sangat sensitif secara emosional.

Pada masa pensiun, mereka mungkin hanya mengharapkan perhatian dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat. Tapi kita (sebagai anak) belum tentu bisa memenuhi keinginan mereka. Kita juga punya 'kehidupan sendiri', bersosialisasi, mengejar karier, mengurusi rumah tangga, dll, dsb. Dan seiring waktu berjalan, kita pun menjadi tua, menempati posisi mereka (orang tua kita) dan akhirnya bisa merasakan perasaan mereka yang mungkin tidak dapat kita pahami saat kita masih muda seperti sekarang. Istilah "Don't judge a book by it's cover" bagi saya memiliki arti tersendiri. Kita tidak bisa menilai orang pada suatu keadaan sesuai pemikiran kita saja, karena kita tidak mengalami sendiri. Mungkin kita baru dapat memahami jika kita berada di posisi mereka?

Kemarin saya menonton film serial dan mendapatkan suatu pepatah Cina mengatakan, "Orang tua merawat kita selama lebih dari 10 tahun, tetapi kita belum tentu punya kesempatan merawat mereka selama 10 tahun." Apa yang terbaik yang sanggup kita lakukan untuk orang tua kita, lakukanlah. Walaupun terkadang kita tidak memahami, tidak bisa menerima sikap dan kelakuan mereka, suatu saat ketika kita menjadi tua nanti, kita pasti akan mengerti :)

29 December 2011

Suatu Pelajaran Kasih

Aku mengamati dengan teliti, ketika adik lelakiku yang bernama John tertangkap basah karena perbuatannya. Ia sedang duduk di sebuah sudut ruang keluarga dengan sebuah pena di tangan satunya dan buku puji-pujian milik Ayah yang baru sama sekali di tangan yang lain.

Ketika Ayah memasuki ruangan, adikku agak ketakutan; ia merasa bahwa ia telah membuat suatu kesalahan. Dari kejauhan aku bisa melihat bahwa ia telah membuka buku puji-pujian yang baru itu serta mencorat-coret selebar serta sepanjang lembar pertama dari buku itu dengan penanya. Sekarang, ia sedang menatap Ayah dengan rasa ketakutan sambil dia dan aku bersama menunggu apa yang Ayah akan perbuat. Dan ketika kami menunggu hukuman apa yang Ayah akan kenakan kepada adik, kami tidak menerka sedikitpun bahwa Ayah akan mengajarkan kepada kami suatu pelajaran yang mendalam dan tak terlupakan tentang kehidupan dan kekeluargaan. Ajaran-ajarannya itu semakin menjadi lebih dimengerti dengan lewatnya tahun lepas tahun.

Ayah memungut buku puji-pujiannya yang amat ia sayangi itu, mengamatinya dengan teliti, kemudian duduk tanpa mengatakan apapun.

Semua buku merupakan sesuatu yang amat berharga bagi dia; ia adalah seorang hamba Tuhan dan pemegang beberapa gelar akademis. Bagi dia, buku-buku merupakan pengetahuan, namun ia pun menyayangi anak-anaknya. Apa yang ia lakukan kemudian sungguh luar biasa.

Ia tidak menghukum adikku, ia pun tidak memaki atau berteriak-teriak secara emosional, melainkan ia duduk, mengambil pennya dari tangan adik dan kemudian menulis di buku pujian itu di samping corat-coret yang telah dibuat oleh adik. Tulisannya berbunyi: Karya John, 1959, umur 2 tahun. Betapa seringnya aku memandang wajahmu yang tampan dan kepada matamu yang hangat dan cerah yang sedang memandangku. Akupun bersyukur kepada Tuhan untuk dia yang kini mencorat-coret di dalam buku pujianku yang baru.

“Aduh!”, aku pikir. “Hukuman apa ini?”

Tahun lepas tahun serta buku-buku datang dan pergi. Keluarga kita mengalami hal-hal yang juga dialami oleh keluarga lain, mungkin lebih banyak sedikit: suka cita dan kesusahan, kejayaan dan kehilangan, tawa dan air mata. Kami memperoleh cucu-cucu dan kehilangan seorang anak laki-laki. Kami selalu tahu bahwa orang tua kami mengasihi kami. Dan salah satu bukti dari kasih itu adalah buku nyanyian di dekat piano itu. Kadang-kadang, kami membukanya, memandang kepada corat-coret itu, membaca ekspresi dari Ayah dan merasakan syukur yang amat dalam.

Sekarang aku baru mengerti bahwa melalui perbuatan Ayah yang sederhana itu, beliau mengajar kami bahwa setiap kejadian di dalam hidup ini mempunyai segi yang positif – bila kita bersedia untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda – dan betapa besar nilainya bila hidup kita disentuh oleh tangan-tangan kecil. Namun ia pun mengajar kepada kami, apa sebenarnya yang penting dalam hidup ini: manusia bukan barang; toleransi bukan penghukuman; kasih bukan kemarahan.

Kini, akupun menjadi seorang ayah. Dan seperti Ayahku, seorang hamba Tuhan dan pemegang beberapa gelar akademis. Namun, tidak seperti Ayah, aku tidak menunggu sampai putri-putriku dengan diam-diam mengambil buku nyanyianku dari rak buku dan mencorat-coret di dalamnya.

Kadang-kadang, aku mengambil sejilid – bukan sejilid buku murahan, melainkan sebuah buku yang aku akan memilikinya bertahun-tahun, dan memberikan kepada salah seorang putriku untuk menulis namanya di dalam buku itu.

Dan bila aku memandang hasil tulisannya, aku ingat akan Ayahku, pelajaran-pelajaran yang ia ajarkan kepadaku, kasihnya terhadap kami, anak-anaknya – kasih yang demikian besarnya terhadap keluarganya.

Aku mengenang akan hal itu dan tersenyum, “Terima kasih, Pap!”

Arthur Bowler

01 December 2011

Rajawali Anak Ayam

Intrapersonal intelejen penting dalam keberhasilan. Bagian dari intrapersonal inteligence adalah self image atau citra diri. Mengapa citra diri penting dan berpengaruh dalam keberhasilan? Karena citra diri mempengaruhi seseorang membawakan dirinya, mempengaruhi bagaimana dia berhubungan dengan orang lain. Dan tentunya mempengaruhi batas tertinggi yang bisa diraih.

Saya berikan kisah ilustrasi. Suatu ketika ada seekor ayam, dia berjalan-jalan di kaki bukit dan menemukan telor. Dia berfikir, wah ada telor ayam tercecer, dia ambil telor itu dan dia erami bersama telornya yang lain. Singkat cerita menetaslah si telor-telor ini termasuk telor yang ia temukan. Dan rupanya telor yang ia temukan itu menetas dan tumbuh menjadi anak yang berbeda, karena sebenarnya telor itu telor rajawali yang jatuh menggelinding dari bukit dan dierami sama si ayam. Walaupun dierami sama si ayam tentu ia tetap menetas sebagai rajawali. Tapi sirajawali ini hidup bersama-sama ayam. Ia punya kakak ayam, cici ayam, punya koko ayam, hidup bersama-sama ayam, makan bersama ayam, punya mama ayam, punya tetangga ayam.

Sirajawali ini tidak merasa bahwa dirinya rajawali. Ia merasa dirinya ayam, karena berbicara bahasa ayam, makan bersama ayam. Tapi ia merasakan hidupnya aneh, kenapa kaki saya, kukunya melengkung tidak seperti ayam yang menapak, ia berlaripun susah sering terpeleset. Lalu ia mulai frustrasi dengan dirinya sendiri kenapa saya begini, ia mulai bertanya pada ibunya ”Mama, mama, saya ini ayam atau bukan? Kok saya kakinya beda.”

Ibunya berkata ”Nak. Aku yang melahirkan kamu, aku yang mengerami kamu, jadi kamu ayam juga. bersyukurlah dengan dirimu, nak. Kamu itu ayam. Maka si rajawali ini melanjutkan hidupnya, dia juga makan dengan susah karena paruhnya bengkok tidak seperti ayam yang lain yang paruhnya runcing. Jalan susah, makan susah, dia frustrasi dengan dirinya, dia bertanya pada ibunya lagi ”Mama saya ini ayam atau bukan sih ma? Kenapa saya ini tidak seperti yang lain.

Ibunya berkata,”Nak kamu memang beda dengan yang lain, tapi aku mencintai kamu apa adanya. Mama mau bilang ya nak, kamu adalah ayam.”

Sirajawali yang hidup bersama ayam ini melanjutkan hidupnya dan ketika dia berlari sayapnya lebih panjang dari yang lain, nabrak-nabrak pagar, ketika yang lain masuk celah yang sempit dengan mudah, dia cukup kesulitan.

Singkat cerita, ibunya sudah tua, hampir mati, maka si rajawali mendatangi si induk ayam ini. Bertanya lagi, ”Ma, mumpung mama masih hidup, mama sudah sakit keras, saya mau nanya, Ma. Katakan sebenarnya jangan ada rahasia di antara kita, saya ini ayam atau bukan sih, Ma?”

Mamanya ambil nafas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya lalu dia berkata, ”Nak, Mama jadi ingat, dulu mama menemukan telur, lalu mama erami kamu, jadi kamu ini adalah a..a..a..a petok!” lalu matilah si induk ayam.

Wah, ibunya belum selesai bicara sudah mati. Si anak ini bingung, nemu telor, lalu dierami, kamu ini a..a..a. apa ya? Ayamlah masa anjing..yah sudahlah memang saya ayam. Maka si rajawali ini hidup sebagai ayam, menilai dirinya ayam, hidup susah bersama ayam. Lalu singkat cerita rajawali itu mati, di kuburannya dipasang ada nisan “Telah mati seekor ayam”.

Betapa banyak orang sebenarnya punya kemampuan lebih, tapi hidup susah, cari makan susah, frustrasi dengan dirinya sendiri karena tidak mengenal jati dirinya sendiri. Dia tidak mengenal hidupnya sendiri, jati dirinya, kemampuan dirinya. Kenapa? karena lingkungan. Rajawali yang hidup bersama ayam, dia menjadi hidup seperti ayam. Orang belajar jati diri sering kadang-kadang mengadopsi dari orang lain. Orang menyerap self image atau gambar diri dari orangtua, dari teman, karena itu orang sering mengatakan bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik.
Orang lain mengatakan, bila ingin tahu siapa dia? Lihat empat orang terdekatnya, maka itulah dia. Orang bergaul dengan maling jadi maling, orang bergaul dengan pemalas, jadi pemalas. Orang bergaul dengan orang optimis jadi optomis, orang bergaul dengan yang rajin jadi rajin. Karena dalam hal membangun gambar diri sesorang memang tidak bisa dihindari orang menyerap gambar-gambar diri yang ada dilingkungannya. Bapaknya memukul ibunya, maka si anak akan memukul adiknya, dia akan memukul istrinya nanti kalau dia nanti menikah. Lingkungannya kasar dia akan menyerap nilai-nilai kasar, dan gambar diri kasar. Karena itu penting sekali kita membangun keluarga dengan nilai-nilai, value-value yang baik, karena itu akan menjadi nilai-nilai dan value-value pada anak kita.

Kita punya keyakinan yang bagus, optimis, hidup benar, maka anak-anak kita juga akan seperti itu. Oleh sebab itu, sudah saatnya kita membangun sebuah generasi baru dengan nilai-nilai yang baik. Inilah saatnya kita juga menentukan dan mengawasi lingkungan anak-anak kita, sampai dia besar dan dewasa dan bisa mengambil keputusan untuk menentukan lingkungannya sendiri. Tapi tetap orang tua boleh mengarahkan anak-anaknya untuk mengambil lingkungan yang positif. Karena lingkungan akan mempengaruhi seseorang menentukan, menilai dan membangun gambar dirinya.

Salam Sukses

25 November 2011

Bagaimana Kita Menemukan Kebahagiaan

Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil ketiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan di tempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan itu disia-siakan. Tetapi jangan pula terlalu sukar sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih.”

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi di mana meletakkannya? Malaikat pertama mengusulkan, “Letakkan di puncak gunung yang tinggi” Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, “Letakkan di dasar samudera.” Usul itu pun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.

Kita ingin merasa bahagia. Tetapi di mana mencarinya? Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari ke pantai, ada yang mencari di temat yang sunyi, ada yang mencari di tempat yang ramai. Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, di tempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor dan lainnya.
Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebalikkanya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dan lain-lain.
Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan.

Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan.
Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.

Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalau aku punya ini atau itu, pikir kita.

Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan. Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi.
Dimana mereka meletakkannya?
Bukan di puncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan di dasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.

Dimanakah tempatnya???

Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.

Begitu juga hidup ini. Kita harus rendah hati. Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita. Seringkali kita berkata, “akh... gue mah belum jadi orang. Tinggal aja masih ama ortu, ngontrak, TMI deelel.”
Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan. Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita.

Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.

Menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapai semuanya itu?
Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke 7 faktor tersebut menjadi seimbang?

Yang penting di sini adalah hikmat.
Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini.

Oh ya..., dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?

DI HATI YANG BERSIH......?

18 October 2011

Cinta Perkawinan

Di kota kecil Siroki Brijeg daerah Herzegovina, kurang lebih 20 mil dari Medjugorje, dikisahkan bahwa dalam catatan paroki sekitar 13 ribu umat tidak ada perceraian. Sepanjang ingatan orang, di sana tidak ada keluarga yang berantakan. Apakah orang-orang di sini mendapat siraman rahmat istimewa atau
previlese khusus dari surga untuk mengalami perkawinan yg kokoh kuat seperti ini? Padahal orang-orang ini selama berabad-abad menderita penindasan dan penganiayaan karena iman yang teguh ada Tuhan Yesus Kristus yang wafat dan
bangkit untuk menyelamatkan umat manusia. Dari pengalaman mereka sangat yakin bahwa sumber keselamatan satu-satunya datang dari Salib Kristus.

Orang-orang Kroasi mempunyai suatu tradisi perkawinan yang indah, yang menjadi inspirasi bagi peziarah dari manca negara. Bila pasangan muda-mudi akan menikah, orang-orang tidak akan menyatakan bahwa mereka telah menemukan pasangan ideal yang mereka impikan, melainkan imam akan mengatakan kepada mereka, "Kamu telah menemukan salibmu! Istri adalah salib untuk suami dan suami adalah salib untuk istri. Dan sebuah salib harus dicintai dan untuk dipanggul. Sebuah salib tidak untuk dibuang melainkan untuk disandang (panggul) dan disayangi."

Selanjutnya pada waktu pemberkatan pernikahan, pengantin wanita meletakkan tangan kanannya di atas salib dan mempelai pria menumpangkan tangannya di atasnya, dengan demikian kedua tangan mereka terikat bersama-sama satu di atas yang lain di atas salib Kristus. Kemudian imam menumpangkan stola ke atas tangan-tangan mereka. Pasangan itu lalu mengucapkan janji setianya, berdasarkan rumusan Liturgis Gereja. Setelah janji setia diucapkan keduanya tidak saling berciuman melainkan mencium salib! Mereka sadar bahwa yang mereka cium itu adalah sumber kasih! Pasangan itu dan semua orang yang menyaksikan peristiwa itu tahu bahwa bila sang suami melepaskan istrinya, berarti ia melepaskan salib demikian juga jika sang istri melepaskan suaminya maka ia pun melepaskan salib! Dengan begitu mereka kehilangan segala-galanya karena mereka melepaskan Kristus. Buah dari cinta kasih mereka, adalah buah dari salib mereka yaitu anak. Berbicara mengenai kesatuan keluarga berarti berbicara mengenai kesatuan suami-istri- anak. Perekatnya adalah salib.

Hampir setiap hari di seluruh dunia, media massa tidak pernah sepi menyajikan berita menyedihkan mengenai perceraian, kekerasan dalam keluarga, aborsi, penjualan anak, dan lain-lain. Dalam situasi seperti ini yang paling menderita akibatnya adalah anak-anak, makhluk yang tidak berdaya. Kisah hidup keluarga seperti itu di kota kecil Siroki Brijeg, Herzegovina di atas hendaknya membawa kesejukan dan inspirasi di tengah gemuruh badai berita mengenai perpecahan dan kehancuran ikatan keluarga / rumah tangga.

14 July 2011

Tiga Karung Beras

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.

Dan kemudian berkata kepada ibunya: ” Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah”. Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata, “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu,  pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana”.

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.

Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata, ”Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya”.

Sang ibu sedikit takut dan berkata, “Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana?”

Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata, “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam-macam jenis beras”.

Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata, “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”.

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: “Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”. Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.”

Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi ke kampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: “Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.”

Sang ibu buru- buru menolak dan berkata, “Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.”

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah. Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : “Inilah sang ibu dalam cerita tadi.”

Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh Mamaku………………”

Inti dari Cerita ini adalah:

Pepatah mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan” Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat, ”Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu… selamanya”.

02 July 2010

Senangkan Ortu Semasa Hidup

Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

"Nggak usah. lain kali saja!", jawab ayah.

Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya.

"Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka.

"Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja”, katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali pulang naik bus sendirian.

"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!" balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. "Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah," katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun. Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.

Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun. Saya lalu segera pulang.

Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. "Ayah sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa, bang?"

Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata, "Ayah sudah tiada!!"

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi. Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka. Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.

28 January 2010

Mandikan Aku Mama

Aku punya sahabat, sebut saja namanya Pita. Ketika masih kuliah, aku mengenalnya sebagai seorang yang berotak cemerlang. Universitas mengirimnya ke negeri bunga Tulip untuk mempelajari hukum internasional di Universitas Utrecht, sedangkan aku memilih menyelesaikan pendidikanku di bidang kedokteran. Pita terus mengejar impiannya hingga suatu saat ia mendapatkan seorang suami yang sama-sama berprestasi. Bertepatan dengan diangkatnya Pita menjadi staf diplomat dan selesainya suaminya meraih gelar doktor, lahirlah seorang anak laki-laki buah cinta mereka, Eka namanya. Pita semakin sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Eka baru berumur 6 bulan. Pita sangat sering meninggalkan Eka pergi dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu negara ke negara lain. Aku pernah bertanya kepadanya, "Bukankah Eka masih terlalu kecil untuk ditinggalkan ?"

"Tidak, aku sudah mempersiapkan segalanya dan semua pasti berjalan baik", jawab Pita.

Di bawah perawatan baby-sitter dan pengawasan kakek-neneknya, Eka tumbuh menjadi anak yang cerdas dan lincah. Kakek neneknya tidak pernah lupa menceritakan kepada Eka akan kehebatan kedua orang tuanya yang telah menjadi kebanggaan mereka semua. Meskipun kedua orang tuanya begitu sibuk, namun Eka bisa memahami kesibukan mereka.

Suatu hari, Eka pernah meminta seorang adik kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya menjelaskan tentang kesibukan mereka yang belum memungkinkan untuk memberikan Eka seorang adik. Kali ini, Eka lagi-lagi mengerti kondisi orang tuanya. Karena sikap Eka yang begitu pengertian dan dewasa, Pita menyebutnya "malaikat kecil". Meskipun kedua orang tuanya sering pulang larut malam, namun Eka tetap bersikap manis dan tidak ngambek. Karena kemanisan sikap Eka, aku pernah mengimpikan seorang anak sepertinya.

Pagi yang cerah di hari itu, entah kenapa Eka tidak mau dimandikan oleh baby sitternya. "Eka ingin mama yang memandikan", katanya.

Pita yang setiap hari berpacu dengan waktu tentu saja menjadi gusar. Eka mengajukan permohonan yang sama selama kurang lebih seminggu, tetapi Pita dan suaminya tidak begitu peduli. "Mungkin ia sedang dalam masa peralihan sehingga ia minta perhatian yang lebih", pikir mereka.

Sampai suatu sore, aku dikejutkan oleh telepon Ida, sang baby sitter. Ada kepanikan di dalam suaranya, "Bu dokter, Eka sakit demam dan kejang-kejang. Sekarang ia di UGD".

Tanpa pikir panjang aku langsung menuju UGD, tetapi semua sudah terlambat. Tuhan telah memanggil Eka, malaikat kecil yang lincah, pintar dan pengertian. Saat kejadian, mamanya sedang meresmikan kantor barunya.

Dalam keadaan terpukul, Pita pulang ke rumah dan satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah memandikan malaikat kecilnya Eka. Keinginan untuk memandikan Eka memang tercapai, walau dalam keadaan tubuh yang terbujur kaku. Ia memandikan Eka diiringi deraian air mata dan rintihan pedih, "Ini mama sayang ... mama yang memandikan Eka".

Tubuh kecil Eka telah tertimbun tanah, tetapi kami masih berdiri membisu disana. Aku membiarkan Pita mengucapkan kata-kata yang bisa menghibur dirinya sendiri atas kepergian Eka-nya. Hening sejenak, sebelum Pita akhirnya tertunduk, "Bangun Eka, mama mau mandikan Eka, berikan mama kesempatan sekali lagi, Ka ..."

Rintihan itu begitu menyayat kalbu, tapi semua sudah terlanjur. Penyesalan selalu datang terlambat dan kesempatan yang sama tidak akan pernah terulang.

Nyatakanlah perhatian dan kasih kepada orang-orang yang kita kasihi, selama masih ada kesempatan. Kita bisa mencari waktu lain untuk berkarier dan berusaha, tetapi orang-orang yang kita kasihi tidak selamanya bisa bersama kita. Siapa yang tahu berapa lama seseorang hidup di dunia ini ? Itu adalah misteri ilahi. Berbuat baik dan nyatakanlah kasih selama masih ada kesempatan, itulah perintah Tuhan.

29 December 2009

Komunikasi Suami Istri

Jika kita suami istri mulai belajar berkomunikasi dengan baik, maka rumah tangga pasti akan mengalami perubahan dan pemulihan. Untuk itu kita perlu jujur pada diri sendiri bagian mana yang perlu kita ubah.

Prinsip komunikasi yg sehat :
1. Jadilah pendengar yang baik (Ams 18:13)
2. Berpikir sebelum berbicara (Ams 15:23,28, Yak 1:19)
3. Berbicara dengan kasih (Efe 4:15,25)
4. Jangan menghukum pasangan dengan puasa bicara
5. Jauhi berdebat (Ams 17:9)
6. Kendalikan amarah waktu berbicara (Ams 14:29)
7. Mintalah maaf bila bersalah (Yak 5:16)
8. Jangan merengek (Ams 10:19)
9. Berhentilah mengkritik, membangunlah (Roma 14:13)
10. Hargailah pendapat orang lain (Fil 2:1-4, Efe 4:2)

Hal yg perlu diperhatikan saat berbicara :
1. Volume - jangan terlalu keras
2. Pitch - Nada suara jangan tinggi/membentak
3. Moment - cari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah.

Sembilan puluh persen gesekan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari disebabkan oleh nada bicara yang kurang baik.

Amsal 15:23 - Seseorang bersuka cita karena jawaban yang diberikannya dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!

Teman, ketika kemarahan memuncak, pikirkanlah akibat-akibatnya. ...

11 December 2009

Duta Allah Bagi Anak

“Kapan kita harus memperkenalkan Allah kepada anak?”

Kerapkali kita menganggap anak masih terlalu kecil, sehingga belum perlu diajar tentang Allah. Alkitab tidak memberitahu secara detil, tetapi Alkitab berkali-kali mengingatkan orangtua untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak. Lalu, bagaimana memperkenalkan Allah kepada anak? Mari pelajari cara Tuhan memperkenalkan diri kepada umat Israel.

1. Tuhan memeakai peraturan untuk memperkenalkan kekudusan-Nya
Dari banyak pohon yang boleh dimakan buahnya di Eden, ada satu pohon yang tidak boleh dimakan buahnya. Mengapa? Karena peraturan mengenai pohon itu membuat manusia mengenal arti ketaatan dan kekudusan Allah.

Tuhan banyak memberi peraturan kepada manusia, supaya manusia mengenal sifat Allah yang kudus. Kita pun perlu memperkenalkan peraturan kepada anak. Misalnya, sejak kecil mereka diberi peraturan keluarga; boleh menonton televisi pada waktu tertentu dengan siaran tertentu, sehabis bermain harus merapikan mainan, hari Minggu harus ke gereja, dan lain-lain. Selain membentuk pola berkeluarga yang baik, peraturan diberi untuk memperkenalkan kekudusan dan otoritas Allah.

Suatu hari saya mengajarkan suatu semboyan kepada anak saya : “Taat Itu Indah”. Ketika itu saya menyuruhnya tidur siang. Setelah dibujuk akhirnya ia taat. Atas ketaatannya, saya ijinkan ia tidur lebih malam. Kebetulan ayahnya baru pulang dari jauh dan membawa mainan. Jadi, ia punya sedikit waktu untuk bermain dengan mainan barunya. Maka, saya mengingatkannya pada semboyan “Taat Itu Indah”. Kalau saja ia tidak taat, tentu ia tidak menikmati waktu bermain dengan ayahnya. Dan ia belajar konsep “persekutuan dalam ketaatan” dan “perseteruan dalam ketidaktaatan atau dosa”. Ini merupakan konsep dasar kekudusan Allah.

2. Tuhan memakai alat peraga untuk memperkenalkan kasih dan rencana-Nya
Tuhan memberi Adam dan Hawa baju dari kulit binatang untuk mengganti baji dari dedaunan. Alat peraga “kulit binatang” lebih mudah diingat dan dimengerti sebagai ungkapan kasih Allah yang melukiskan pengorbanan Yesus sebagai Anak Domba Allah.

Suatu kali, hujan begitu deras. Anak saya menangis ketakutan karena takut hujan deras itu akan menjadi banjir seperti di zaman Nuh. Saya bersyukur Tuhan memberi pelangi sebagai alat peraga untuk Nuh, juga untuk anak saya. Saya pun menenangkannya, “Tim, kamu ingat pelangi yang Tuhan berikan pada Nuh? Disitu Tuhan berjanji tidak akan memberi banjir sehebat itu lagi. Percayalah, hujan ini pasti reda dan akan ada pelangi.” Dari situ, anak saya belajar tentang janji dan kasih Tuhan.

3. Tuhan memperkenalkan diri melalui sejarah.
Untuk memperkenalkan diri, Tuhan memakai banyak peristiwa dalam sejarah bangsa Israel. Tuhan memilih Abraham dan membawanya ke Kanaan. Memakai Yusuf untuk membawa keluarganya ke Mesir. Memilih Musa untuk membawa orang Israel kembali ke Kanaan. Memilih Daud dan menyampaikan janji tentang Mesias. Dan seterusnya. Tuhan menunjukkan bahwa Dia Allah yang tidak berubah dalam sejarah. Ulangan 6:6-9 adalah amanat agung bagi semua orangtua untuk mempercakapkan berulang-ulang karya keselamatan Allah, sejak dunia dicipta hingga kini.

Kita pun dapat memakai sejarah keluarga kita untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak. Bukankah Tuhan juga banyak menyatakan diri dalam keluarga kita? Dengan mencatat peristiwa penting dalam keluarga, menyusun foto, membuat catatan harian, kita menolong anak belajar tentang kasih Tuhan. Saya punya jurnal khusus tengtang anak-anak saya. Sejak dalam harapan, menjadi janin, lahir, dan bertumbuh, semua saya catat. Saat besar nanti, ia akan melihat besarnya perbuatan Tuhan baginya.

Juga dengan menceritakan perjalanan iman keluarga kita. Bagaimana kita bertobat, bagaimana Tuhan menolong dan menjawab doa-doa kita,

4. Tuhan memperkenalkan diri melalui narasi
Tuhan juga mengajarkan kebenaran melalui perumpamaan. Seorang anak membutuhkan cerita-cerita yang kontekstual dengan hidupnya untuk mengerti prinsip kebenaran dengan lebih mudah. Kepada murid-murid-Nya, Tuhan memberi banyak cerita meski mereka belum mengerti sepenuhnya arti cerita tersebut, sampai pencurahan Roh Kudus.

Anak-anakk belum dapat memahami banyak hal tentang Tuhan. Namun, mereka dapat menyimpan kebenaran mengenai Allah, melalui cerita Alkitab yang kita sampaikan secara rutin setiap hari. Cerita punya kekuatan besar. Pada waktunya, cerita-cerita itu terhubung dengan segala konsep yang tertanam oleh pertolongan Roh Kudus. Maka, anak akan memahami cerita itu dan relevansinya dengan hidup mereka.

Ketika menceritakan kitab Raja-raja kepada anak saya, saya pikir ia akan bosan. Kisah-kisahnya hampir sama. Raja yang menyembah berhala, dihukum Tuhan. Raja yang menhingkirkan berhala, menyenangkan Tuhan. Ternyata itu melekat di pikiran mereka. Ketika saya menjelaskan tentang film serta mainan yang “tidak sehat”, ia lebih mudah menangkap karena sudah tahu konsep “mendukakan dan menyukakan Tuhan”.

Kisah perjalanan bangsa Israel dipada gurun adalah kisah yang sangat kuat. Melalui kisah-kisah itu, anak-anak belajar mengenal atribut Allah Yang Mahakudus, Mahategas, tetapi juga Mahamurah dan penuh kasih karunia kepada umat pilihan-Nya. Selain itu, anak-anak belajar tidak mengeluh dan menuntut, melainkan TAAT dan PERCAYA. Kisah ini bukan hanya saya sampaikan ketika saat teduh, melainkan juga dalam aktivitas sehari-hari, sebelum tidur, saat makan, dalam setiap kesempatan.

5. Tuhan memperkenalkan diri melalui Amsal dan Mazmur
Tuhan adalah pakar pendidikan yang hebat. Dia tahu metode terbaik untuk melekatkan kebenaran dalam pikiran. Amsal dan Mazmur adalah metode paling jitu dalam memorisasi. Anak-anak juga membutuhkan Amsal dan Mazmur. Banyak kebenaran penting dapat diingat melalui sajak dan lagu rohani. Jadi, sangat perlu kita mengajarkannya. Memperkenalkan musik dan pujian adalah cari paling murah untuk memperkenalkan Allah kepada anak segala usia, termasuk janin dalam kandungan. Tuhan mencipta manusia sebagai makhluk musikal, sehingga bayi pun dapat bereaksi terhadap musik.

Nama anak kedua saya adalah Tadeus (dari kata Thaddaeus : penuh pujian bagi Allah). Ketika baru lahir, ia selalu menangis menjelang senja. Tak ada yang dapat menenangkannya selain musik. Demikian juga saat ia marah, gelisah, atau sakit. Rumah saya pun “penuh musik”. Dan heran, seorang bayi bisa serius memperhatikan setiap nada yang ia dengar, kemudian tertidur tenang. Dalam buku Teach the Child to Read dikatakan bahwa seorang bayi yang selalu dibacakan cerita oleh ibunya, akan selalu berharap dibacakan buku. Bukan karena ceritanya, tetapi karena ia senang mendengar nada suara ibunya. Jadi, membacakan Mazmur kepada bayi juga merupakan kebiasaan yang baik. Sekarang, saat sudah berusia 9 tahun, Tadeus tetap suka dibacakan buku bahkan Alkitab bahasa Yunani (walau tidak mengerti). Ia pun mulai mengarang lagu pujian kepada Allah. Ia bertumbuh menjadi anak yang sangat mudah memuji Tuhan.

6. Tuhan memperkenalkan diri melalui manusia
Tuhan mengenal kebutuhan manusia akan hal konkret. Jadi, Dia mengutus para nabi, memilih bangsa Israel, dan akhirnya hadir dalam diri Yesus Kristus. Anak-anak pun perlu contoh konkret sifat Allah, dari manusia yang dapat dilihatnya. Dan, manusia yang paling dekat dengan anak adalah orangtua. Hubungan anak dengan orangtua sangat memengaruhi konsepnya tentang Allah. Ada orang yang terus merasa bersalah karena waktu kecil selalu dihukum. Maka, ia mengenal Allah sebagai Allah yang kudus, tapi diktator. Contohnya, Martin Luther. Ia butuh pergumulan panjang untuk memahami anugerah keselamatan Allah. Perlakuan ayah dan gurunya yang keras membuatnya berpikir dosanya tak dapat diampuni. Hanya oleh anugerah Tuhan dan pencerahan Roh Kudus, ia mulai mengerti anugerah dan kasih Allah melalui pembacaan surat Roma.

Banyak orangtua ingin membuat anak mereka taat dengan berkata : “Nanti Tuhan marah kalau kami begini!” Tanpa disadari, orangtua memakai nama Tuhan untuk kepentingan sendiri dan merusak konsep anak tentang Allah. Bukankah Allah tidak akan marah kalay anak kita tidak mau makan, memukul adik karena iri hati, atau merebut mainan yang ia sukai? Dia sangat mengerti pergumulan anak-anak. Di lain pihak, kita perlu hati-hati mewakili sifat Tuhan ketika mendidik anak.

Ternyata tak ada batas waktu kapan memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kita dapat memperkenalkan Tuhan dengan cara sederhana dan mudah dimengerti anak, bahkan sejak mereka masih sangat muda!

Sumber : Renungan Harian Edisi Oktober 2009

09 December 2009

Ibu… Ibu…

Aku lahir dari perut ibu..

Bila dahaga, yang susukan aku… Ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku… Ibu
Bila sendirian, yang selalu di sampingku… Ibu
Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut… Ibu
Bila bangun tidur, aku cari… Ibu
Bila nangis, orang pertama yang datang… Ibu
Bila ingin bermanja, aku dekati… Ibu
Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah… Ibu
Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya… Ibu
Bila nakal, yang memarahi aku… Ibu
Bila merajuk, yang membujukku cuma… Ibu
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah… Ibu
Bila takut, yang menenangkan aku… Ibu
Bila ingin peluk, yang aku suka peluk… Ibu

Aku selalu teringatkan… Ibu
Bila sedih, aku mesti telepon… Ibu
Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu… Ibu
Bila marah, aku suka meluahkannya pada… Ibu
Bila takut, aku selalu panggil… "Ibuuuuu!"
Bila sakit, orang paling risau adalah… Ibu
Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga… Ibu
Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku… Ibu
Bila aku ada masalah, yang paling risau… Ibu
Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni… Ibu
Yang selalu masak makanan kegemaranku… Ibu
Kalau pulang ke kampung, yang selalu memberi bekal… Ibu
Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku… Ibu
Yang selalu berkirim surat dengan aku… Ibu
Yang selalu memuji aku… Ibu
Yang selalu menasihati aku… Ibu
Bila ingin menikah. Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan… Ibu

Aku ada pasangan hidup sendiri....
Bila senang, aku cari… pasanganku
Bila sedih, aku cari… Ibu
Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada… pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada… Ibu
Bila bahagia, aku peluk erat… pasanganku
Bila berduka, aku peluk erat… Ibuku
Bila ingin berlibur, aku bawa… pasanganku
Bila sibuk, aku antar anak ke rumah… Ibu
Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu"
Selalu.. aku ingat pasanganku
Selalu... ibu ingat aku
Setiap saat... aku akan telepon pasanganku
Entah kapan... aku ingin telepon ibu
Selalu... aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan... aku ingin belikan hadiah untuk ibu

Renungkan:
“Kalau kau sudah selesai berkerja.... masih ingatkah kau pada ibu? Tidak banyak yang ibu inginkan... hanya dengan menyapa ibupun cukuplah”.

Berderai air mata jika kita mendengarnya. Tapi kalau ibu sudah tiada… “IBUUUU… RINDU IBU… RINDU SEKALI…”

Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya....
Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya...... .
Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya.....
dan akhir sekali berapa banyak yang mendoakan Ibu nya......

I love you, Mom!

02 December 2009

Berikan Aku Seorang Ayah

Secarik kertas koran terbang dikipas angin dan tersangkut pada tiang listrik. Dari kejauhan bisa aku baca judul besar yang tertulis dengan warna merah pada halaman kertas itu yang mengingatkan saya akan natal yang kini tiba. Malam nanti adalah "Malam Kudus, Malam Damai". Dan setiap hati pasti mengimpikan agar di malam ini mereka bisa menemukan setitik kesegaran, menemukan secercah kedamaian yang dibawa oleh Allah yang menjelma.

Judul di kertas koran itu tertulis dalam Karakter khusus bahasa Cina; "Selamat Hari Natal: Semoga Harapan Anda Menjadi Kenyataan." Karena tertarik dengan judul tersebut, saya memungut kertas koran yang sudah tercabik dan kotor itu dan membacanya. Ternyata ini merupakan halaman khusus yang sengaja disiapkan bagi siapa saja agar menuliskan impian dan harapannya. Koran ini seakan berperan sebagai agen yang meneruskan harapan mereka agar kalau boleh bisa didengarkan oleh Santa Klaus atau oleh Allah sendiri. Ada kurang lebih tiga puluh harapan yang dimuat di halaman koran hari ini. Namun saya tertarik dengan harapan yang ditulis oleh seorang gadis kelas tiga SMP :

"Tuhan...apakah Engkau sungguh ada? Aku tak pernah tahu tentang Engkau. Aku tak pernah melihat diriMu. Namun banyak orang mengatakan bahwa malam ini Engkau yang jauh di atas sana akan menjelma menjadi seorang manusia sama seperti diriku dan mendengarkan setiap harapan yang ada di dasar setiap hati. Tuhan kalau Engkau sungguh ada dan malam ini mengetuk hatiku, aku akan mengatakan kepadaMu bahwa aku butuh seorang ayah. Berikanlah aku seorang ayah. Aku tahu bahwa harapanku ini bukanlah sesuatu yang baru, karena sejak kecil aku secara terus-menerus merindukan hal ini."

"Kata ibuku di rumahku ada seorang ayah. Aku tahu bahwa di rumahku, di samping ibuku masih ada seorang lelaki yang hidup bersama kami. Dan kata ibu dia inilah yang seharusnya aku panggil ayah. Namun aku tak pernah merasakan cinta seorang ayah. Setiap hari kami tak pernah mengucapkan lebih dari tiga kalimat. Ketika kami saling berpapasan, yang aku rasakan cumalah kebencian yang terpancar dari sudut kedua matanya."

"Benar bahwa ia membayar uang sekolahku. Ia juga membiayai kebutuhan hidupku. Tapi... sebatas itukah yang disebut kasih sayang seorang bapa? Dia tak lebih dari pada seseorang yang harus memenuhi sebuah tuntutan hukum untuk mendampingi diriku, tetapi ia bukanlah ayahku. Setiap ongkos yang keluar untuk membayar uang sekolahku harus aku bayar dengan derai air mata dan isakan tangis, harus aku bayar dengan mata yang membengkak. Inikah kasih sayang seorang bapa?”

"Tuhan...apakah Engkau mendengarkan diriku? Malam ini ketika Engkau menjelma menjadi seseorang seperti diriku dan menjenguk bathinku, hanya satu hal yang aku harapkan. Berikanlah aku seorang bapa. Seorang bapa yang mencintaiku, seorang bapa yang bisa menasihati aku tetapi mencaci diriku."

Setelah membaca tulisan ini aku bisa merasakan kepedihan yang bercokol dalam diri si gadis ini. Aku pernah menjadi seorang anak tiri, anak yang kehilangan seorang bapa ketika masih berumur dua tahun. Dan betapa dalam dan besarnya kerinduanku untuk bisa merasakan kasih sayang seorang bapa. Ketika berumur sembilan tahun aku akhirnya boleh memperoleh seorang ayah lagi.

Namun temanku, aku yakin anda pernah membaca kisah hidup anak tiri. Aku tak hanya membaca, namun dengan hidupku sendiri aku mengalaminya. Ternyata kerinduanku untuk menyapa seseorang sebagai bapa hanya bisa bertahan dalam mimpi. Itulah nasib menjadi seorang anak tiri. Namun waktu terus bergulir. Bapa tiriku kini telah ubanan. Kalau dulu aku bermimpi untuk dicintai oleh seseorang yang boleh aku panggil sebagai bapa, walau mimpiku ini tak pernah menjadi kenyataan, namun kini aku hanya bisa berjuang untuk mencintai seseorang dengan harapan bahwa ia boleh menyapa aku sebagai anaknya. Yang ada di dasar bathinku bukanlah rasa marah dan dendam. Tapi belas kasihan. Dan ini hanya menjadi mungkin karena aku telah mengalami cinta seorang Bapa yang dibawa oleh seorang bayi mungil di kandang hina. Yesus yang lahir dalam dingin telah mengatakan kepadaku bahwa ada seorang Bapa yang selalu dan senantiasa mencintaiku. Aku tak perlu lagi mencari dan bermimpi. Kini adalah giliranku untuk membalas cinta tersebut dengan mencintai orang lain, dan...terutama mencintai ayah tiriku.

23 November 2009

Penantian Sang Ayah

Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seat beltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut.

Benar saja, di sebuah tikungan, sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya. Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya. Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat ‘hangat’ tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat, namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdoa dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi mujizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yg tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh pengelihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yg telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil berkata.

“Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku.”

21 September 2009

Mencintaimu Segenap Jiwa dan Ragaku

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan.

Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.

"Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya.

"Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia".

"Kau tidak perlu meyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman.

"Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yang dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke. Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri.

"Pelatih", panggilnya.

"Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon?"

Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih ekstra keras dalam beberapa hari ini.

"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke.

"Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu."

Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan.

"Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke.

"Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"

Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesenggukan ia berkata, "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik akibat kecelakaan itu. Minggu lalu... Ibuku meninggal."

Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata, "Hari ini... hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka".

Luke kembali menangis terisak-isak. Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak. Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke. Ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orangtuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya. Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya.

Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN : Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibu kita. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk ayah dan ibu, dengan mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi dan hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur untuk membuat mereka bangga dengan kita. Bukannya melakukan perbuatan-perbuatan tak terpuji yang membuat mereka malu.Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda?

Sumber: Gifts From The Heart for Women - Karen Kingsbury

16 September 2009

Titipan Tuhan

07parented Di Indonesia, kita memperingati tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak. Kita tidak hanya dingatkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesehatan, pendidikan, serta perlakuan yang layak (hak asasi anak). Sebagai orang percaya, hendaknya kita menyadari bahwa anak-anak kita hanya titipan Tuhan. Anak bukan milik orangtua, melainkan milik Tuhan. Tugas kita sebagai orangtua adalah merawat dan mendampingi anak tersebut bertumbuh sesuai dengan rencana-Nya, bukan rencana kita sebagai manusia.

Kita tidak bisa memilih talenta dan karunia yang Tuhan taruh dalam diri anak kita. Meski demikian, kita bisa mebantu anak untuk mengembangkan berbagai kemampuan dan keterampilan di dalam hidupnya. Kita juga tidak bisa menentukan panggilan hidup seperti apa yang akan dimiliki oleh anak kita, sebab itu adalah urusan Tuhan secara pribadi dengan anak yang bersangkutan. Namun, sebagai orangtua, kita bisa mengajarkan kepada anak-anak kita untuk hidup taat di dalam jalan Tuhan.

Sayangnya, di tengah pergumulan kehidupan dan kebingungan kita menghadapi masa depan, terutama saat kita berupaya menyediakan yang terbaik bagi masa depan mereka, kita sebagai orangtua justru lupa untuk BERTANYA kepada Sang Pencipta : Apa yang sebenarnya Tuhan ingin lakukan bagi anak0anak yang Dia titipkan kepada kita?

Sejak kecil kita sudah menusunskenario agar si anakbisa menjadi seorang dokter. Padahal, Tuhan menitipkan benih musik di dalam dirinya. Saat si anak bertumbuh dewasa dan berani berpendapat untuk memilih sekolah musik daripada sekolah kedokteran, kita menguliahinya panjang lebar, bahwa seni tidak bisa menghasilkan uang untuk hidup layak.

Sejak kecil anak kita terlihat aktif secara fisik dan menyukai olah raga melebihi segala kegiatan lainnya. Namun, sebagai orangtua, kita lebih tertarik untuk melihat prestasi anak kita dalam bidang matematika dan bahasa inggris.

Akhirnya, anak-anak kita tidak bertumbuh dan berkembang seperti yang Tuhan kehendaki, tetapi seperti yang orangtua kehendaki. Tentu semua orangtua menginginkan YANG TERBAIK bagi anak-anaknya. Tetapi pertanyaan penting yang harus kita jawab terlebih dahulu adalah, “Sudahkah kita BERTANYA kepada Tuhan sebelum kita menasehati anak-anak kita tentang pilihan hidupnya pada masa depan?”. Adakah rancangan kita sebagai orangtua LEBIH BAIK daripada rancangan TUHAN?

Yeremia 29:11 - “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apap yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan-rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Tuhan menitipkan talenta dan karunia di dalam diri anak-anak kita bukan untuk “diseleksi” oleh orangtua. Mana yang kita anggap cocok kita kembangkan, sedangkan kelebihan anak kita yang menurut ukuran kita “bakal tidak menghasilkan apa-apa” dalam hidupnya, sebaiknya diabaikan saja. Pernahkah Tuhan salah mengombinasikan bakat/kemampuan dalam diri anak-anak kita?

Billy Frank, putra seorang petani penjual susu, lebih suka membaca buku Tarzan dan Marcopolo dibanding membantu ayahnya memerah susu dan mengurus pertanian. Ia adalah seorang anak yang aktif dan energik, selalu berlari, menyelidiki, dan sepertinya tidak pernah merasa lelah. Kisah-kisah petualangan dan perjalanan para misionaris sangat memikat hatinya. Bahkan masa-masa kuliahnya ia lewat sembari menawarkan diri menjadi “penolong” (pembantu) bagi para penginjil yang bisa ditemuinya. Dalam suratnya kepada ibunya, “Aku ingin seperti orang ini.”

Tentu saat ini tidak ada orang kristiani yang belum pernah mendengar nama Billy (Frank) GRAHAM, bukan? Ya, kisah diatas adalah cuplikan kisah masa kecil seorang penginjil yang sangat terkenal di seluruh dunia. Lihatlah bahwa Tuhan tidak pernah salah menitiipkan talenta maupun karunia di dalam diri seorang anak. Bahwa setiap keunikannya, setiap pembawaannya, setiap minat dan hobinya, itu semua merupakan potensi yang jika ditumbuhkembangkan, akan membuat anak tersebut betul-betul menjadi seperti yang Tuhan inginkan.

Diperlukan IMAN untuk bisa menerima seorang anak apa adanya. Dan, IMAN untuk yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah mengombinasikan segala potensi yang ada dalam diri anak-anak-Nya. Bahwa itu semua sudah Dia rancang untuk membawa maksud yang baik. Baik untuk anak tersebut, maupun baik untuk menggenapi pekerjaan Tuhan.

Efesus 2:10 : Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

John C. Maxwell mendefinisikan SUKSES sebagai berikut.
1. Mengetahui maksud Anda dalam kehidupan
2. Bertumbuh untuk mencapai potensi maksimal Anda
3. Menaburkan benih yang menguntungkan bagi sesama.

Sudahkan kita bertanya dan berserah kepada Tuhan demi panggilan hidup anak-anak kita? Bertanyalah, karena Tuhan akan menjawab. Serahkanlah, karena hanya di dalam Tuhan ada jaminan masa depan yang pasti bagi anak-anak kita.

Oleh : Meilania
Guru Sekolah Minggu, pembicara seminar dan pelatihan guru Sekolah Minggu, moderator milis diskusi e-BinaGuru

Sumber : Renungan Harian Edisi Juli 2009

29 August 2009

Kasih Yang Berkorban

Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, “Bu, aku mengasihimu!”

Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"

Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.

Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi."

Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."

Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos."

Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan."

Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.

Seringkali kita berkata kepada orang tua kita, "Bapa, mama, aku mengasihimu."

Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orang tua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orang tua dan sesama kita, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus.

Sering kita berkata-kata kepada Tuhan, "Tuhan saya mengasihiMu. ....", namun kita hanya berkata-kata saja tanpa dengan tulus hati mengasihiNya. ..tanpa mewujudkannya melalu perbuatan kita.....

Guys, ayo kita menjadi seperti anak bungsu pada renungan diatas.....

24 August 2009

Kisah Sally Di Meja Operasi

Sally bergegas menemui dokter bedah yang baru saja keluar dari kamar operasi. Dia bertanya "Bagaimana keadaan anak laki-laki saya? Apakah dia baik-baik saja? Kapan saya dapat melihatnya?"

Dokter bedah itu berkata, "Maafkan kami, kami telah melakukan segala yang bisa kami lakukan".

Sally berkata, "Mengapa anak laki-laki saya mendapatkan kanker, apakah Tuhan sudah tidak sayang? Tuhan, dimana Engkau ketika anakku membutuhkanMu?"

Dokter itu berkata, "Salah satu dari perawat akan keluar dari kamar operasi beberapa saat lagi dan anda dapat mendampingi jenazah anak anda sebelum dipindahkan ke universitas". Sally memohon supaya perawat itu menemaninya ketika dia mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya.

Sally menyentuh rambut pirang anaknya. Perawat itu berkata, "Apakah kamu menginginkan segenggam rambutnya?" Sally mengangguk. Perawat itu memotong segenggam rambut anak itu, memasukkannya ke dalam kantong plastik dan memberikannya ke Sally. Sally berkata, "Ini adalah ide Jimmy untuk memberikan tubuhnya ke Universitas untuk penelitian. Dia berkata ini akan dapat membantu orang lain", dan itu yang diinginkannya.

Pada awalnya saya tidak setuju, tapi Jimmy berkata, "Mama, saya tidak akan menggunakannya setelah saya meninggal, mungkin ini dapat membantu anak-anak yang lain untuk dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama mamanya".

Sally berkata, "Jimmyku mempunyai hati emas, selalu memikirkan orang lain dan selalu ingin membantu orang lain sebisanya".

Sally berjalan keluar dari rumah sakit anak-anak itu untuk untuk yang terakhir kalinya setelah dia menghabiskan waktu selama 6 bulan disana. Dia meletakkan tas yang berisi barang-barang milik Jimmy ke sebelah tempat duduknya di dalam mobil. Perjalanan pulang saat itu sangatlah berat dan bahkan lebih berat lagi untuk memasuki rumah yang kosong. Dia membawa tas tersebut ke kamar Jimmy dan mulai meletakkan mobil-mobilan dan barang-barang yang lain kembali ke tempat dimana Jimmy selalu menyimpannya. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang anaknya dan menangis sampai dia tertidur sambil memeluk bantal anaknya.

Sally terbangun sekitar tengah malam dan dia atas ranjang, di tempat dia tertidur, dia menemukan surat yang terlipat. Dia membukanya, dan surat itu berisi:

Untuk Mama,
Saya tahu kalau kamu akan merindukanku, tapi jangan berpikir kalau aku akan pernah melupakanmu atau berhenti menyayangimu karena aku tidak berada disekitarmu untuk mengatakan bahwa aku menyayangimu. Aku akan memikirkanmu setiap hari dan aku akan menyayangimu bahkan lebih tiap harinya.

Suatu hari kita akan bertemu kembali. Jika kamu mau mengadopsi anak, kamu tidak akan kesepian, dia boleh menggunakan kamar saya dan semua permainan yang saya miliki. Kalau mama mau mengadopsi anak perempuan, mungkin dia tidak akan melakukan hal yang sama seperti anak laki-laki, jadi kamu harus membelikannya boneka dan permainan yang lainnya. Jangan sedih ketika kau memikirkan aku, tempat
ini benar-benar menyenangkan.

Nenek dan Kakek menemuiku segera setelah aku sampai disini dan membawaku berkeliling, tapi akan butuh waktu yang lama untuk melihat semuanya yang ada disini. Malaikat-malaikat disini sangat ramah, Saya suka melihat mereka terbang. Yesus tidak seperti gambar yang pernah aku lihat tentang Yesus, tetapi saya tahu bahwa itu Dia setelah saya melihatNya. Yesus membawaku untuk menemui Tuhan. Dan kau tahu Mama? Saya duduk dipangkuan Tuhan dan berbincang dengannya layaknya aku ini seorang yang sangat penting. Saya beritahu Tuhan bahwa saya ingin menulis surat untukmu untuk mengucapkan selamat tinggal dan menceritakan semuanya, tapi saya tahu bahwa itu tidak memungkinkan.

Tuhan memberi aku sebuah kertas dan juga pena pribadiNya yang aku pakai untuk menulis surat ini. Saya pikir nama malaikat yang akan mengirimkan surat ini kepadamu adalah Gabriel.

Tuhan meminta aku untuk memberimu jawaban atas satu pertanyaan yang kau tanyakan padaNya. Dimana Dia ketika aku membutuhkanNya? Tuhan berkata, "Di tempat yang sama ketika Yesus berada di salib". Dia berada disana, seperti Dia selalu bersama semua anak-anakNya.

O ya Mama, tidak ada orang lain yang bisa melihat apa yang tertulis di kertas ini kecuali kamu. Untuk orang lain, ini akan terlihat seperti selembar kertas kosong.

Saya harus mengembalikan pena ini kembali kepada Tuhan sekarang, Dia harus menuliskan beberapa nama lagi dalam Buku Kehidupan.

Malam ini, saya akan duduk bersama Yesus untuk menikmati makan malam. Saya yakin makanannya akan enak. Saya hampir lupa memberitahukanmu. Sekarang, saya tidak sakit lagi, kankernya telah hilang. Saya bahagia karena saya sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit itu dan Tuhan juga tidak tahan lagi melihat saya menderita kesakitan, jadi Dia mengirimkan Malaikat Pengampun untuk menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa aku adalah kiriman yang special.

Dengan kasih sayang,

22 August 2009

Kasih Yang Berkorban

Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, "Bu, aku mengasihimu!"

Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"

Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.

Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi." Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."

Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos." Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan." Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.

Seringkali kita berkata kepada orang tua kita, "Bapa, mama, aku mengasihimu." Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orang tua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orang tua dan sesama kita, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus.
Sering kita berkata-kata kepada Tuhan, "Tuhan saya mengasihiMu.....", namun kita hanya berkata-kata saja tanpa dengan tulus hati mengasihiNya...tanpa mewujudkannya melalu perbuatan kita.....

Guys, ayo kita menjadi seperti anak bungsu pada renungan diatas.....

07 August 2009

Jangan Didik Anakmu

Jangan didik anakmu laki-laki bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya. Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu laki-laki, untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan. Ajari dia untuk mengejar cinta kasih dan kebijaksanaan.

Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng. Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya.

Bahwa air mata adalah anugerah Tuhan yang indah, sehingga ia belajar untuk tidak frustasi oleh emosinya dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya

Jangan didik anakmu perempuan, bagaimana menjadi cantik. Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu perempuan, bagaimana untuk menyenangkan laki-laki. Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan.

Jangan larang anakmu perempuan, jika ia menikmati melompat, berlari, dan memanjat. Jika ia suka menjelajah dan mengutak-atik benda-benda.

Jangan kaupaksa dia untuk duduk manis diam dan tenang, karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri dan juga rasa ingin tahunya yang telah Tuhan anugerahkan

Telah kaubonsai dan kaurusak sejak dini. Isilah rumahmu dengan cinta, hikmat, dan kebijaksanaan, bukan dengan harta, keindahan tubuh, gelar, dan kekuasaan.

Bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan keindahan menikmati mentari pagi, kehangatan rasa ketika menggenggam pasir, kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga. Dan merdunya suara tetes-tetes hujan.

Jika kau ingin anakmu rajin beribadah, gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu. Ia takkan bisa kaupaksa berdoa dan sembahyang. Ketika dia tak dapat menangkap makna ibadah darimu.

Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan pancarkan rasa ingin terus belajar. Nasihatmu tak akan bisa membuatnya mau membaca. Ketika dia tak pernah menyaksikan engkau menikmati buku.

Jika kau ingin anakmu penuh kasih, tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama. Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi jika ia tak pernah merasakan cinta darimu

Untuk anakmu, engkau adalah teladan yang utama, tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat, jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kauinginkan, hiduplah demikian!

16 July 2009

Remaslah Tanganku dan Akan Kukatakan Aku Sayang Kamu

Ingatkah ketika masih kecil kamu jatuh dan terluka? Ingatkah apa yang dilakukan ibumu untuk meringankan rasa sakit?

Ibuku, Grace Rose, selalu menggendongku, membawaku ke tempat tidurnya, mendudukkan diriku, lalu mencium “aduh”-ku. Lalu ia duduk di tempat tidur di sampingku, meraih tanganku dan berkata, “Kalau sakit, remas saja tangan Ibu. Nanti akan kukatakan Aku sayang kamu.

Sering aku meremas tangannya, dan setiap kali, tak pernah luput, aku mendengar kata-kata, “Mary, Ibu sayang kamu.”

Kadang-kadang aku pura-pura sakit hanya supaya aku memperoleh ritual itu darinya. Waktu aku lebih besar, ritual itu berubah, tapi ia selalu menemukan cara untuk meringankan rasa sakit dan meningkatkan rasa senang yang kurasakan dalam berbagai bagian hidupku.

Pada hari-hari sulit di SMU, ia akan menawarkan sebatang cokelat almond Hershey kesukaannya saat aku pulang. Semasa usiaku 20-an, Ibu sering menelepon untuk menawarkan piknik makan siang spontan di Taman Eastbrook untuk sekadar merayakan hari cerah dan hangat di Wisconsin.

Kartu ucapan terima kasih yang ditulisnya sendiri tiba di kotak pos setiap kali ia dan ayahku berkunjung ke rumahku, mengingatkanku betapa istimewanya aku baginya.

Tapi ritual yang paling berkesan adalah genggamannya pada tanganku saat aku masih kecil dan berkata, “Kalau sakit, remaslah tangan Ibu dan akan kukatakan aku sayang kamu.”

Suatu pagi, saat aku berusia akhir 30-an, setelah orangtuaku berkunjung pada malam sebelumnya, ayahku meneleponku di kantor. Ia selalu berwibawa dan jernih saat memberi nasehat, tapi aku mendengar rasa bingung dan panik dalam suaranya.

“Mary, ibumu sakit dan aku tak tahu harus berbuat apa. Cepatlah datang kemari.”

Perjalanan mobil 10 menit ke rumah orangtuaku diiringi oleh rasa takut, bertanya-tanya apa yang terjadi pada ibuku. Saat aku tiba, Ayah sedang mondar-mandir di dapur sementara Ibu berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dan tangannya berada di atas perut. Aku memanggilnya, mencoba menjaga agar suaraku setenang mungkin.

“Bu, aku sudah datang.”

“Mary?”

“Iya, Bu.”

“Mary, kaukah itu?”

“Iya, Bu, ini aku.”

Aku tak siap untuk pertanyaan berikutnya, dan saat aku mendengarnya, aku membeku, tak tahu harus berkata apa.

“Mary, apakah Ibu akan mati?”

Air mata menggenang dalam diriku saat aku memandang ibuku tercinta terbaring di situ tak berdaya. Pikiranku melayang, sampai pertanyaan itu terlintas dalam benakku: ‘Jika keadaannya terbalik, apa yang akan dikatakan Ibu padaku?’

Aku berdiam sejenak yang terasa seperti jutaan tahun, menunggu kata-kata itu tiba di bibirku.

“Bu, aku tak tahu apakah Ibu akan mati, tapi kalau memang perlu, tak apa-apa. Aku menyayangimu.”

Ia berseru, “Mary, rasanya sakit sekali.”

Lagi-lagi, aku bingung hendak berkata apa. Aku duduk di sampingnya di tempat tidur, meraih tangannya dan mendengar diriku berkata, “Bu, kalau Ibu sakit, remaslah tanganku, nanti akan kukatakan, aku sayang padamu.”

Ia meremas tanganku.

“Bu, aku sayang padamu.”

Banyak remasan tangan dan kata “aku sayang padamu” yang terlontar antara aku dan ibuku selama dua tahun berikutnya, sampai ia meninggal akibat kanker indung telur.

Kita tak pernah tahu kapan ajal kita tiba, tapi aku tahu bahwa pada saat itu, bersama siapa pun, aku akan menawarkan ritual kasih ibuku yang manis setiap kali, “Kalau sakit, remaslah tanganku, dan akan kukatakan, aku sayang padamu.”

Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang pada orang yang anda cintai adalah dengan memegang dan meremas tangannya dengan lembut. Tindakan itu kadangkala mengandung makna dan arti yang teramat dalam yang hanya dapat dipahami antara anda dan orang yang anda cintai………….

(Mary Marcdante - Chicken Soup for the Mother’s Soul)