Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

21 July 2008

Kisah Sang Maestro Matsushita

Di tahun 1929, pernah terjadi 'depresi ekonomi global'. Wall Street menukik tajam tak terkendali. Surat saham tak lebih nilainya seperti kertas biasa. Saat itu, General Motor terpaksa mem-PHK separo dari 92.829 karyawannya. Perusahaan besar maupun kecil bangkrut. Jutaan orang menjadi pengangguran. Jutaan orang kelaparan. Daya beli turun bersama harga dan lowongan pekerjaan.

Malam menjadi gelap gulita. Kepanikan terjadi di mana-mana. Toko yang masih bertahan, menghentikan pembelian dari pabrik karena gudang sudah penuh dengan barang yang tidak terjual. Saat itu, Konosuke Matsushita yang memproduksi peralatan listrik bermerek National dan Panasonic baru saja merampungkan pabrik dan kantor dengan pinjaman dari Bank Sumitomo.

Kondisi badannya sering sakit-sakitan akibat gizi yang kurang di masa kanak-kanak, ditambah lagi dengan kerja 18 jam sehari, 7 hari seminggu selama 12 tahun merintis usahanya. Hanya semangat hiduplah yang membuatnya masih bernapas.

Dengan punggung bersandar ke tembok rumah, Matsushita mendengarkan laporan tentang kondisi perekonomian yang terus memburuk ketika manajemennya datang menjenguk. Lalu bagaimana tanggapannya?

"Kurangi produksi separonya, tetapi JANGAN mem-PHK karyawan. Kita akan mengurangi produksi bukan dengan merumahkan pekerja, tetapi dengan meminta mereka untuk bekerja di pabrik hanya setengah hari. Kita akan terus membayar upah seperti yang mereka terima sekarang, tetapi kita akan menghapus semua hari libur. Kita akan meminta semua pekerja untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha menjual semua barang yang ada di gudang."

Perintah ini bagi anak buahnya sama anehnya dengan depresi ekonomi itu sendiri. Koq bisa terjadi, yah? Dalam situasi begitu, sangatlah masuk akal jika perusahaan mem-PHK karyawan demi efisiensi. Namun Matsushita karena keyakinannya pada sang kebajikan sudah mantap, demi kelangsungan hidup anak-istri karyawannya, akhirnya mampu menghasilkan terobosan yang manusiawi pada masa depresi ekonomi tersebut.

Kebajikan Matsushita terhadap karyawannya mendapatkan hasil yang manis 16 tahun kemudian dari karyawan yang pernah ditolongnya. Ia menuai buah kebajikannya sendiri.

Ketika Perang Dunia II berakhir, Jenderal Douglas McArthur yang mengendalikan Jepang, menangkapi semua pengusaha Jepang untuk diadili karena keterlibatan mereka selama perang. Pada kurun 1930-an, para pengusaha Jepang, termasuk Matsushita, mendapat tekanan rezim militer Jepang saat itu untuk memproduksi senjata dan logistik militer lainnya. Maka Matsushita pun ikut ditangkap. Sekitar 15.000 pekerja bersama keluarganya membubuhkan tanda tangan petisi pembelaan untuk Matsushita!!! Jenderal McArthur pun tercengang oleh petisi tersebut dan akhirnya membebaskan Matsushita. Tidak ada pemilik usaha dan pimpinan industri sebelum perang dunia kedua yang diizinkan McArthur kembali ke pekerjaannya kecuali Matsushita.

Demikianlah Matsushita dapat terus memimpin perusahaannya sampai menjadi raksasa elektronik dunia, dan baru pensiun pada tahun 1989 pada usia 94 tahun. Ketika Matsushita meninggal tahun 1990, bukan cuma para pebisnis yang berduka cita. Presiden Amerika saat itu, George Bush (Senior), pun turut berduka. Matsushita berhasil membangun dirinya melewati ambang batas pengusaha yang umumnya selalu lapar duit dan haus fulus serta menjadi pribadi yang humanis dan filsuf yang sangat peduli terhadap kemanusiaan. Bagi Matsushita, uang bukanlah tujuan. Meskipun butuh uang tetapi uang bukanlah segala-galanya. Baginya, uang adalah sarana untuk melakukan kebajikan. Itu sebabnya, beliau tidak pernah menggigit orang, main curang, atau merebut jatah orang lain. Matsushita yakin bahwa kalau kita tidak jahat dan terus berbuat baik maka kejahatan akan menjauhi kita dan kebaikan akan melindungi kita.

Bagaimana dengan kita ? Sudah cukup baikkah kita hari ini ?

Humor : Pengacara & Pendeta

Seorang pendeta duduk di sebelah seorang pengacara dalam penerbangan dari LA ke New-York. Pengacara bertanya apakah si pendeta suka bermain game yang menyenangkan. Pendeta yang merasa lelah dan ingin istirahat sejenak dengan halus menolak dan mulai berusaha untuk tidur. Pengacara itu bersikeras bahwa gamenya itu mudah sekali namun sungguh menyenangkan. Ia menjelaskan lebih lanjut, “Aku menanyakan Anda suatu pertanyaan dan apabila Anda tidak tahu, maka Anda membayar kepadaku 5 dollar US dan vise-versa”. Sekali lagi pak pendeta menolak dengan halus dan berusaha untuk tidur lagi.

Si pengacara tidak putus-asa dan berkata, “OK, bila Anda tidak tahu jawabannya, Anda membayarku 5 dollar, sedangkan bila aku tidak tahu jawabannya, aku membayar Anda 500 dollar.” Si pendeta segera menjadi penuh perhatian. Ia sadar bahwa ia tidak akan dapat beristirahat kecuali bila ia ikut bermain game ini.

Pengacara mulai mengajukan pertanyaan yang pertama, “Berapa jauh jarak antara bumi dan bulan?”

Pak pendeta tak menjawab, ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil 5 dollar US untuk kemudian memberikannya kepada pengacara.

“OK”, kata si pengacara. Sekarang giliran anda.

Pak pendeta bertanya kepada pengacaranya, “Apa yang mendaki bukit dengan kaki empat dan turun bukit dengan kaki tiga?”

Pengacaranya bingung, kemudian mengeluarkan laptopnya dan mulai mencari di internet dan seluruh referensinya, namun tak mendapatkan jawabannya.. Kemudian ia menghubungi semua kawan dan relasinya bahkan sampai perpustakaan Kongres, namun tidak juga mendapat jawaban. Setelah satu jam, ia membangunkan pendeta itu dan memberikan kepadanya 500 dollar US. Pendetanya mengatakan, “Terima kasih banyak.” Dan kembali tidur lagi.

Pengacara menjadi jengkel dan membangunkan pendeta lagi untuk kemudian bertanya, “Dan apakah jawabannya?”

Tanpa mengatakan suatu apa, ia mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkan 5 dollar US kepada si pengacara dan kemudian mendengkur kembali

Tulisan Tangan Di Dinding

Seorang ibu rumah tangga dengan rasa capai pulang dari berbelanja serta membawa hasil belanjanya masuk ke dalam dapur. Puteranya yang baru berumur delapan tahun menunggunya dan menceritakan apa yang telah dilakukan oleh adiknya.

“Ketika aku sedang bermain di halaman dan ayah sedang menerima telepon, adik mengambil crayonnya dan menulis di dinding yang baru saja diberi lapisan kertas dinding yang baru. Aku berkata kepadanya bahwa Ibu akan menjadi amat marah, bila tahu akan hal ini.

Ibunya mengeluh dengan penuh kesal dan bertanya dengan muka yang marah, “Mana anak itu sekarang?” Ia telah meletakkan semua barang belanjaannya dan dengan segera menuju ke almari di mana anaknya itu sedang bersembunyi.

Ia menyebut namanya seraya memasuki kamarnya. Anak itu gemetar dalam ketakutannya karena ia tahu apa yang akan terjadi baginya. Selama beberapa waktu ibunya melampiaskan kemarahannya dengan kata-kata yang kasar dan menjelaskan betapa mahal kertas dinding itu yang kini harus diperbarui lagi.

Sambil mengeluh akan pekerjaan yang mahal dan lama untuk memperbaiki dinding teras itu, ia tak habis-habisnya menyalahkan perbuatan anaknya yang ceroboh dan tidak ada rasa sayangnya itu. Lebih hebat ia memaki-maki, lebih hebat pula maranya, sehingga akhirnya ia keluar dari kamar anaknya, hatinya dipenuhi dengan rasa kecewa akan perbuatan anaknya.

Kemudian ia menuju ke teras untuk memastikan kekhawatirannya. Ketika ia melihat dindingnya, matanya dibanjiri oleh air mata. Pesan yang ia baca menusuk hatinya seperti sebuah anak panah. Pesan itu berbunyi, “Aku sayang Mama”, dan dilingkari dengan sebuah hati.

Akhirnya kertas dinding itu berada di sana seperti yang ia temukan. Ia memasang sebuah kerangka lukisan kosong untuk melingkari pesan yang penuh kasih sayang itu.

Sebuah peringatan untuk ibu itu, bahkan untuk kita semua, ambilah waktu secukupnya untuk membaca dengan seksama tulisan tangan di dinding.

God’s Little Acre

Thriving Every Day

Today's Scripture

"...I came that they may have and enjoy life, and have it in abundance, to the full, till it overflows" (John 10:10 AMP).

Today's Word from Joel and Victoria

God doesn't want you to live with a "barely-get-by" attitude. He has new seasons of increase in front of you. He wants you to thrive, to live an abundant, overflowing life. Sometimes when things seem difficult, it's easy to slip into a "survival mode." When times get tough, it's tempting to just hunker down and settle where you are. If you're not careful, you'll develop a survival mentality that will keep you from growing and releasing your faith. You'll be happy just to "break even." But as God's children, we're not supposed to just break even; we're supposed to break through to a new level! We're supposed to believe for more of God's favor, increase, and promotion no matter what is happening in the world around us. Make up your mind today that no matter how difficult things seem, you are going to thrive every day! Take hold of God's promises and declare that you are rising higher. As you continue to expect His favor and increase, you'll see His hand of blessing in your life, and you will thrive and live in victory all the days of your life.

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for giving me life. I choose today to agree with Your Word which says I can thrive and enjoy my life to the full. Help me see Your hand at work more and more each day. I bless You and give You praise. In Jesus' Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

Pola Asuh

Nats : Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7)

Bacaan : Amsal 29:15-17

Tak ada peristiwa yang "kebetulan". Setiap kejadian pasti ada alasannya. Dalam Alkitab, Yakub dikenal sebagai penipu. Bayangkan, Esau-kakaknya yang sedang lapar-ditodong hak kesulungannya, diganti hanya dengan semangkuk kacang merah! Ia juga menipu ayahnya yang sudah renta dan rabun dengan berpura-pura menjadi Esau, demi mendapat berkat kesulungan (Kejadian 25, 27). Setelah menikah pun Yakub mengelabui Laban, mertuanya, hingga mendapat banyak kambing domba (Kejadian 30).

Mengapa Yakub penuh tipu daya? Sebab ia dibesarkan dalam keluarga di mana sang ayah lebih sayang kepada Esau, sedang si ibu lebih menyayanginya. Ibunya pula yang mengajari Yakub membohongi ayahnya. Selanjutnya, Yakub mengadopsi pola asuh yang dialaminya sebagai model untuk mengasuh anak-anaknya. Ia lebih menyayangi Yusuf dan Benyamin, anak-anak yang lahir dari Rahel, ketimbang sepuluh anak dari ketiga istrinya yang lain. Akibatnya, saudara-saudara Yusuf menaruh dendam terhadap Yusuf dan membohongi Yakub dengan berkata bahwa Yusuf diterkam binatang buas, padahal mereka menjualnya sebagai budak.

Bagi Anda yang sudah menjadi orangtua, camkan firman Tuhan hari ini: "Jangan sesat! ... apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (Galatia 6:7). Hukum ini tak terelakkan, kecuali kita bertobat dan percaya kepada Kristus, sebab di dalam Dia kita menjadi ciptaan baru. Bangun dan didiklah anak-anak Anda dalam suasana pertobatan setiap hari; agar kejujuran, ketulusan, dan penerimaan seorang akan yang lain menjadi pola asuh dalam kehidupan keluarga Anda -SST

KEBOHONGAN MELAHIRKAN KEBOHONGAN
PERTOBATAN MELAHIRKAN KEJUJURAN


SABDA.org