Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 October 2008

Sherly

Jam sudah hampir menunjukkan pukul 00.00 di Hawai yang berarti sudah pukul 06.00 di tempat asalku, Portland. Aku tidak bisa tidur, jadi kuputuskan untuk mencari secangkir kopi dan croissant di kafe terdekat.

Tiba disana, hanya terdapat seorang penjaga dan bangku-bangku kosong. Setelah memesan, aku mengambil posisi di ujung ruangan. Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul empat orang wanita dengan pakaian minim. Mereka tertawa terbahak-bahak setengah mabuk. Tanpa memperhatikan apapun, mereka berteriak memesan empat botol bir.

Setelah beberapa saat mengobrol kesana kemari, tiba-tiba seorang dari mereka berdiri dan berkata, "Besok adalah hari ulang tahunku". Semua terdiam, lalu menertawakannya. "Sherly, tidak ada yang mengingat hari ulang tahun seorang pelacur. Selamanya kamu akan jadi pelacur. Selamanya kamu akan jadi pelacur. Sampai mati juga tidak akan ada yang mengingat hari ulang tahunmu", Sherly menangis.

Aku pun bertanya kepada pemilik kafe, apakah mereka selalu datang setiap hari. Ia menganggukkan kepala, "Mereka selalu datang pukul 00.00". Aku lalu mengucapkan ideku untuk membuat sebuah pesta ulang tahun untuk Sherly. Pemilik cafe pun menyetujuinya dengan berat hati, namun ia bersedia menyiapkan kuenya.

Keesokkan harinya kami menunggu kedatangan Sherly dan teman-temannya. Balon-balon dan pita sudah terpasang. Lilin sudah dinyalakan. Dan tepat pukul 00.00 pintu terbuka.

"Selamat ulang tahun!", Aku dan pemilik cafe itu bersorak dan meniup terompet. Sherly tercengang. Air mata mengalir di pipinya. "Aku tidak menyangka ada orang yang peduli dengan seorang pelacur yang kotor sepertiku. Belum pernah ada orang yang melakukan ini kepadaku. Cuma ada dua tatapan yang pernah kulihat. Tatapan penuh napsu dan tatapan penuh kejijikan. Tapi hari ini aku merasa di sayangi dengan tulus". Ketiga teman Sherly ikut menangis terharu.

Beberapa tahun kemudian, aku kembali ke cafe itu. Pemiliknya bilang kalau sejak malam itu ia tidak pernah lagi melihat mereka berempat datang ke kafenya. Tapi ia pernah menerima sepucuk surat dari Sherly. Ia sudah kembali ke kota asalnya dan menjadi guru TK disana. Ia juga bilang kalau ia sudah dibaptis dan melayani di sebuah gereja.

Macam-Macam Doa

Doa pada dasarnya bisa dibagi menjadi tiga jenis yaitu, penyembahan, permohonan, dan doa untuk orang lain.

1. Penyembahan
Doa penyembahan adalah reaksi spontan kita akan Tuhan. Saat kita menyadari kebesaran Tuhan, kehadiran-Nya dalam setiap aspek perjalanan hidup kita, atau kebaikan-Nya lewat ciptaan-Nya yang kita lihat dan rasakan di bumi ini, kita berdoa melalui penyembahan.

2.Permohonan
Doa permohonan adalah saat kita membawa kebutuhan atau permasalahan pribadi kita di hadapan Tuhan. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa berdoa dengan membawa kebutuhan pribadi adalah hal egois. Namun, dalam doa yang diajarkan Yesus yakni yang kita sebut Doa Bapa Kami, disebutkan pula doa permohonan untuk kebutuhan pribadi ini dalam kalimat "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.. dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat." - Matius 6:11,13

3. Doa untuk orang lain - doa perantara
Dalam jenis doa ini, yang kita lakukan bisa dibilang adalah seperti bekerja. Di sini, kita memanjatkan doa secara tak jemu-jemu untuk kepentingan orang lain, sesama manusia yang membutuhkan kasih dan pertolongan Kristus, bahkan untuk orang-orang yang membenci kita. Dalam jenis doa inilah kita dapat melihat bahwa pada hakikatnya, doa adalah juga sebuah peperangan rohani.

Aku Telah Belajar

Aku telah belajar bahwa pelajaran yang paling baik adalah di kaki seseorang yang lebih senior.

Aku telah belajar bahwa menggendong seorang anak dalam pelukanmu adalah salah satu perasaan yang paling damai di dunia.

Aku telah belajar bahwa keramahan itu lebih penting daripada kebenaran.

Aku telah belajar bahwa Anda janganlah pernah menolak pemberian seorang anak kecil.

Aku telah belajar bahwa sering kali apa yang diperlukan seseorang adalah uluran tangan untuk dipegang dan hati untuk dapat mengerti.

Aku telah belajar bahwa hidup ini seperti sebuah gulungan kertas WC. Lebih dekat ia kepada akhirnya, lebih cepat ia berputar.

Aku telah belajar bahwa kita harus bersyukur bahwa Tuhan tidak selalu memberi apa yang kita inginkan.

Aku telah belajar bahwa uang tidak dapat membeli kehormatan.

Aku telah belajar bahwa justru kejadian-kejadian kecil yang terjadi sehari-hari membuat hidup ini begitu menakjubkan.

Aku telah belajar bahwa di balik lapisan keras seseorang terdapat sesosok yang ingin dihargai dan dikasihi.

Aku telah belajar bahwa Tuhan tidak melakukan segala sesuatu di dalam satu hari. Siapakah yang mengatakan bahwa kita dapat melakukannya?

Aku telah belajar bahwa dengan mengabaikan faktanya, tidak mengubah kenyataannya.

Aku telah belajar bahwa membalas dendam terhadap seseorang, Anda membiarkan orang itu terus menyakitimu.

Aku telah belajar bahwa kasih sayang, dan bukan waktu, menyembuhkan luka-luka.

Aku telah belajar bahwa cara yang paling mudah bagiku untuk bertumbuh adalah membiarkan aku dikelilingi dengan orang-orang yang lebih pandai dari pada diriku sendiri.

Aku telah belajar tidak ada sesuatu yang lebih bahagia dari pada tidur dengan bayimu dan merasakan hembusan napasnya di pipimu.

Aku telah belajar bahwa tidak ada seseorang yang sempurna, sampai ia jatuh cinta dengannya.

Aku telah belajar bahwa jika Anda menjimpan kepahitan, maka kebahagiaan akan pindah dari dirimu.

Aku telah belajar bahwa sebuah senyuman merupakan cara yang murah untuk memperbaiki penampilanmu.

Aku telah belajar bahwa setiap orang menginginkan hidup di atas puncak gunung, namun kebahagiaan dan pertumbuhan akan terjadi ketika Anda mendakinya.

Tangga Doa

"Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit,.." - Kejadian 28:12

Bacaan : Kejadian 28:10:22

J. Arthur Rank, adalah seorang tokoh bisnis terkenal. Di gedungnya, ia memiliki elevator yang langsung menuju kantornya, tapi ia tidak menggunakannya. Dia lebih suka menggunakan tangga dan menyebutnya sebegai "tangga doanya". Pada pagi hari ketika dia naik tangga itu, dia berdoa, memohon bimbingan Tuhan, pada setiap langkah yang diambilnya pada hari itu. Ketika dia meneliti anak tangga itu satu demi satu dia mengucapkan doanya. Akhirnya, dia sampai di puncak dengan kebijaksanaan, hikmat, kedamaian dan kekuatan penuh untuk hari itu.

Kita semua diberikan jatah yang sama oleh Tuhan dalam sehari 24 jam, 1440 menit dan 86.400 detik yang kita lalui. Lalu, berapa waktu yang kita sisihkan untuk berdoa? Orang-orang Yahudi dan Kristen Ortodok berdoa tujuh kali dalam sehari. Orang muslim berdoa lima kali dalam sehari. Daniel melakukannya tiga kali dalam sehari. Masih banyak lagi mereka yang melakukannya dengan keteraturan waktu yang telah ditetapkan.

Dr. Don Carson menulis, "Yang terpenting adalah kita, orang-orang percaya, hidup dan bernafas dalam atmosfer yang berpusat kepada Allah, berpusat kepada Injil. Ini akan mendorong kita untuk berlutut dalam doa, dan mendorong kita untuk terus memperbaiki hidup kita, gereja kita, dan dunia kita, sesuai dengan firman Allah". Adalah kesempatan hari ini saat masih bernapas, kita menghirup dan menghembuskannya dalam doa.

Mungkin Anda tidak menemukan anak tangga seperti Arthur Rank, namun Anda punya "anak tangga" yang lain. Saat mengantri belanja, menunggu lampu merah menjadi hijau, berjalan kaki menuju tempat bis Anda menunggu, sewaktu makan siang, bahkan di toiletpun Anda punya kesempatan menaiki tangga doa. Temukanlah tangga doa Anda dan langkahkan setapak demi setapak hingga terus naik bersama Allah. Jadikan doa sebagai gaya hidup Anda setiap hari. Disitulah kita akan mendapatkan kesegaran dan kekuatan yang selalu baru.

TEMUKANLAH TANGGA DOA ANDA DAN NAIKLAH BERSAMA ALLAH

Renungan Harian Spirit Edisi September 2008