Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

02 February 2012

Menginginkan-Mu

Bacaan Setahun : Keluaran 10-12
Nats : Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. (Mazmur 73:25)

Bacaan : Mazmur 73

Salah satu lagu favorit saya ialah God is The Strength of My Heart karya Don Moen, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Allah Sumber Kuatku. Lirik lagu ini digubah dari Mazmur 73:25-26. Saya senang menyanyikan refreinnya: "Allah sumber kuatku (3x) dan bagianku s'lama nya", tetapi sering kesulitan menyanyikan dua kalimat pertama: "Hanya Kau milikku di surga/Tiada yang kuingini di bumi, hanya Kau ... " Saya tak bisa bohong di hadapan Tuhan. Kerap kali Tuhan saja tidak cukup. Hati saya punya banyak keinginan yang lain. Seperti Asaf.

Asaf tak bisa bohong di hadapan Tuhan. Ia ingin banyak hal yang dimiliki orang lain (ayat 3-5). Akibatnya, ia mulai merasa hidup yang dipersembahkannya bagi Tuhan itu menyusahkan, bodoh, dan sia-sia (ayat 13-14, 21-22). Ia tahu bahwa tidak patut ia bersikap demikian, tetapi sungguh sulit memahami mengapa Tuhan tidak mengizinkan segala keinginannya terpenuhi, atau setidaknya menutup berkat bagi orang fasik (ayat 15-16).

Menginginkan sesuatu selain Tuhan sungguh mengerikan. Celakanya, jika kita memeriksa diri, justru itulah kecenderungan hati kita. Asaf akhirnya menyadari kebaikan Tuhan yang mencegah nya "berzina meninggalkan Tuhan" (ayat 27), dengan tidak memberikan kepadanya kemujuran orang lain yang sempat ia cemburui. Adakah se su atu atau seseorang yang kita ingini lebih dari Tuhan dalam hi dup kita? Doa saya, Tuhan mencondongkan hati saya sedemikian rupa, sehingga tidak ada hal lain yang lebih menarik dan memuaskan hati saya lebih dari kehadiran-Nya. Biarlah ini menjadi doa Anda juga. --ELS

Tuhan, tolong saya untuk menginginkan-Mu
lebih dari apa pun, lebih dari siapa pun

Sabda.org

25 January 2012

Tumbuh Lewat Persekutuan

Bacaan Setahun : Kejadian 38-40
Nats : "...Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran" (Kolose 3:12)

Bacaan : Kolose 3:5-17

Setelah dibaptis, Pakhomius seriusingin bertumbuh. "Bertapalah. Itucara terampuh, " nasihat seorang biarawan. Di tahun 315 M, tradisi bertapa memang marak. Orang memisahkan diri dari masyarakat yang korup. Menyendiri di gurun. Berdoa dan puasa. Setelah mencoba, Pakhomius merasa itu tidak tepat. "Bagaimana bisa belajar rendah hati, jika hidup sendiri? Bagaimana belajar bersabar, tanpa menjumpai sesama?" Ia pun berhenti bertapa dan mengembangkan spiritualitas persekutuan. Menurutnya, orang bertumbuh dalam pergaulan, bukan kesendirian.

Paulus memotret sifat-sifat manusia baru, antara lain: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (ayat 12). Ini buah kehidupan bersama. Belas kasihan dan kemurahan muncul saat melihat kebutuhan sesama. Kerendahan hati terbentuk saat menjumpai kelebihan orang lain. Kelemahlembutan dan kesabaran teruji saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan. Jemaat Kolose terdiri dari berbagai macam orang yang disatukan dalam kasih Kristus (ayat 11). Orang-orang "sulit" jelas ada (ayat 13). Namun, mereka diminta tetap bersatu (ayat 14). Tidak meninggalkan persekutuan. Di situlah terjadi proses pembentukan. Lewat konflik, orang saling menegur dan bertumbuh (ayat15-16).

Adakah orang yang kerap menjengkelkan Anda? Atau, Anda kecewa dengan perilaku orang-orang sulit di gereja? Ingatlah bahwa melalui mereka, sifat-sifat Anda kian diasah dan dibentuk Tuhan sebagai orang-orang pilihan-Nya. Jadi, bertahanlah! Sambut pembentukan Tuhan melalui persekutuan dengan hati bersyukur! --JTI

TANPA BELAJAR HIDUP SEHATI
TIADA PERTUMBUHAN IMAN SEJATI

Sabda.org

20 January 2012

Panggilan

Pada abad ke-11, Raja Henry III dari Bavaria, merasa bosan dengan kehidupan istana dan tekanan-tekanan hidup sebagai seorang raja. Ia mengajukan permohonan kepada kepala biara Richard dari sebuah biara lokal untuk dapat diterima sebagai seorang pertapa untuk selanjutnya menghabiskan sisa hidupnya dalam biara itu.

“Baginda”, kata kepala biara itu, “apakah baginda mengerti bahwa ikrar para biarawan di sini adalah mengenai ketaatan? Dan akan menjadi amat berat bagi baginda untuk mematuhinya karena baginda pernah menjadi seorang penguasa tertinggi.”

“Aku sangat paham”, kata Henry. “Selama sisa hidupku aku akan selalu patuh kepadamu, karen Kristus memimpinmu.”

“Kalau begitu, aku akan memberitahukan apa yang baginda harus lakukan”, kata kepala biara itu. “Kembalilah ke singgasanamu dan layanilah dengan setia di tempat Tuhan telah menunjukmu.”

Ketika raja Henry wafat, terdapat suatu pernyataan yang mengatakan, “Raja telah belajar untuk memerintah dengan taat.”

Bila kita merasa capai akan tugas-tugas dan tanggung jawab kita, ingatlah bahwa Tuhan telah menempatkan kita di satu tempat tertentu dan memerintahkan kepada kita untuk menjadi seorang akuntan, seorang guru dan seorang ibu atau ayah yang baik. Kristus mengharapkan diri kita bahwa kita harus setia di tempat Kristus telah menentukan untuk kita dan bila Ia kembali, kita akan memerintah bersama dengan-Nya.

Steve Brown

Membalas Kejahatan

Bacaan Setahun : Kejadian 25-26
Nats : Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang (Roma 12:17)

Bacaan : Roma 12:17-21

Toni jengkel. Sejak berdiri, pabriknya sering ditimpuki anak jalanan. Puluhan kali alarm pencuri berbunyi. Suatu hari dipergokinya 3 anak mencuri mangga di halaman. Mereka terpojok ketakutan. Toni naik darah, tetapi tiba-tiba teringat firman Tuhan: "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan." Diberinya tiap anak satu mangga sambil dinasihati: "Lain kali minta saja, jangan mencuri." Dua hari kemudian, 5 anak datang minta mangga! Toni sabar melayani. Rela diganggu. Lama-lama, mereka datang tiap sore. Bukan lagi untuk minta mangga, melainkan untuk berteman. Mereka diajari baca tulis. Pabriknya jadi aman. Lebih lagi, anak-anak jalanan bisa belajar mengenal kasih Tuhan.

Saat orang berbuat jahat, biasanya kita ingin membalas. Mengapa? Sebab kita merasa terganggu. Terluka. Jika membalas, ada rasa puas. Namun, pembalasan membuahkan pembalasan;melahirkan lingkaran dendam tak berkesudahan. Rasul Paulus memberi saran radikal: berbuat baiklah pada musuhmu! (ayat 17, 20). Tindakan kasih tanpa pamrih berkuasa menghancurkan hati lawan, mengubah dendam menjadi pengampunan (ayat 21). Kita bertanya, "Lantas bagaimana dengan kejahatan mereka? Tidakkah mereka harus menerima hukuman setimpal?" Soal pembalasan, kata Paulus, serahkan saja pada Tuhan (ayat 19). Bagian kita adalah menunjukkan kebaikan.

Untuk bisa berbuat baik saat disakiti, kita harus bersabar menghadapi orang-orang yang sulit dan berhati bengkok. Untuk itu dibutuhkan penyangkalan diri. Ingat janji firman Tuhan. Memang tak mudah, namun hasilnya indah. Cobalah! --JTI

HANYA ORANG YANG RELA DIGANGGU
DAPAT TUHAN PAKAI MENYENTUH HIDUP SESAMA

Sabda.org

19 January 2012

Antara Karsa Dan Karya

Bacaan Setahun : Kejadian 22-24
Nats : Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu keh (Galatia 5:17)

Bacaan : Galatia 5:16-26

Menteri Rekonstruksi Jepang, Ryu Matsumoto, mengundurkan diri karena telah bersikap kasar ketika berkunjung ke tempat korban tsunami beberapa waktu yang lalu. Menarik untuk menyimak apa yang ia jelaskan mengenai perilakunya: "Golongan darah saya B. Artinya saya bisa meledak sewaktu-waktu dan maksud saya tidak selalu sama dengan tindakan saya, " ujarnya. Apakah pernyataannya itu mengandung kebenaran atau hanya untuk membela diri?

Sebenarnya, masalah ketidakserasian antara "keinginan melakukan" (karsa) dengan "apa yang dilakukan" (karya) adalah masalah klasik sejak dulu. Paulus menjelaskan penyebabnya: "keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki." Kita bisa mengetahui karsa mana yang lebih kuat dalam diri seseorang dengan melihat karyanya. Perbuatan daging adalah segala tindakan dosa (19-21) sedangkan buah Roh adalah kasih, damai sejahtera dan segala hal baik lainnya (22-23). Sebagai milik Kristus, seharusnya karsa Roh Kudus menguasai hidup kita dan mengendalikan setiap karya kita (24-25).

Tidak mudah memang membuat serasi antara karsa dan karya sebagai seorang anak Tuhan. Itu sebabnya kita tidak dapat melakukannya sendiri. Kita perlu bergantung pada Roh Kudus untuk menolong kita. Mari terus memberi diri dan mohon kepekaan mengikuti pimpinan-Nya. Tindakan kita tidak tergantung pada golongan darah kita, tetapi tergantung siapa yang memimpinnya. Apakah kita dipimpin oleh Roh atau dikendalikan oleh kedagingan kita. Selamat dipimpin Roh! --ENO

BERILAH DIRI DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS
ATAU KEDAGINGAN YANG AKAN MENGENDALIKAN KITA TERUS

Sabda.org

18 January 2012

Hidup Dan “Kata Orang”

Suatu hari, seorang bapak dan seorang anaknya sedang berjalan dari desa mereka mau ke pasar. Mereka berdua berjalan menuntun seekor keledai. Di tengah perjalanan, mereka berjumpa salah seorang teman mereka.

“Mau kemana kalian?” kata si teman.

“Oh, kita mau ke pasar,” jawab si ayah.

“Ooo..mau ke pasar ya… tapi kok keledainya gak ditunggangin saja, kan pasar masih jauh, kok bodoh keledai ada tapi gak ditunggangin,” kata si teman.

si Ayah mendengar ucapan tadi, lantas berpikir.. iya yah, kenapa kita gak tunggangin saja keledainya, apa gunanya keledai kalo cuma dituntun saja.  akhirnya si ayah berkata pada anaknya.

“Anakku, kamu saja yang tunggangin keledainya, biar ayah yang jalan, keledainya sepertinya cuma bisa ditunggangin satu orang,”kata si ayah.

Si anak pun akhirnya menunggangi keledai, sedangkan si ayah menuntun sambil jalan. Mereka berdua berjalan terus, namun tak lama kemudian, mereka berjumpa salah satu tetangga mereka.

“Loh, kok kamu tega-teganya membiarkan bapakmu yang menuntun keledai, kamu malah asyik-asyik nunggang keledai, sementara ayahmu berjalan kaki,”kata tetangga mereka pada si anak.

“Iya yah, “gumam si anak. kok saya teganya membiarkan ayah saya berjalan, sementara saya enak-enak duduk di atas keledai. Akhirnya si anak turun dan meminta ayahnya saja yang naik ke atas punggung keledai. Dan mereka pun jalan lagi. Tak lama mereka berjalan, mereka menjumpai salah seorang teman si ayah mereka.

“Loh loh… gimana kamu ini? kok anakmu dibiarin berjalan kaki, sementara kamu duduk-duduk enak di atas keledai, apa kamu gak sayang sama anakmu? kan keledai itu sepertinya bisa ditunggangin dua orang,” ungkap si teman pada si ayah.

Si ayah yang mendengar ucapan tadi, akhirnya menarik anaknya naik juga di atas keledai. Mereka berdua pun berjalan lega, tanpa cape karena menunggangi keledai, namun memang keledai mereka berjalan lebih lamban dari semula karena sekarang ditunggangi dua orang.

“Waduh, waduh…. kalian ini keterlaluan sekali,” tiba-tiba terdengar ucapan seseorang.

Si ayah dan anak menoleh ke arah sumber suara. Ternyata sumber suara itu berasal dari dua orang yang mereka tidak kenal.

“Kasihan sekali keledai ini, ditunggangin dua orang, padahal dari jalannya saja keledai ini kelihatannya letih sekali. Pasti keledai ini sudah menempuh perjalanan jauh, dan memikul beban yang berat karena ditunggangin dua orang yang tidak kasihan terhadap keledai mereka. Betul-betul tidak berperikemanusiaan (red: berperikehewanan :) ) ,” ucap dua orang ini.

Si ayah dan anak melihat keledai mereka. Dan mereka memang melihat keledai ini bernafas kecapean, nampak lelah sekali. Betul juga yah omongan orang tadi, keledai kita sepertinya kecapean, kok kita tega membiarkan keledai yang sudah lama jadi peliharaan kita ini kecapean seperti ini. Akhirnya si ayah dan anak mengambil keputusan. Mereka tetap jalan ke pasar.

Sesampai mereka berdua di pasar, semua orang memandang kepada pasangan ayah dan anak ini. Semua orang tersenyum, bahkan malah ada yang tertawa.

“Hahaha…ini pasangan ayah dan anak yang lucu sekali… Baru kali ini saya melihat dua orang ayah dan anak menggendong keledai… hahaha… Keledai kok digendong, bukannya ditunggangin…” ucap beberapa orang di pasar.

Nah, dari cerita ini, pertama kali saya dapat dari kenalan saya seorang pengusaha. Beliau bercerita banyak bahwa terkadang orang hidup berdasarkan perkataan orang lain. Dia menjalankan suatu bisnis, namun mendapat cemoohan, ejekan, perkataan yang tidak enak dari teman-teman, saudara, yang perkataan tadi kurang atau tidak mendukung bisnis yang dia lakukan. Sehingga akhirnya orang ini berhenti menjalankan bisnisnya karena banyak mendengarkan perkataan orang-orang laen. Padahal di saat dia susah, orang-orang yang mencemooh tadi belum tentu juga membantu, malah terkadang kadang masih juga mencemooh.

Nah, sama seperti ketika seseorang mengadakan resepsi pernikahan. Kalo mau mengadakan resepsi pernikahan yang kecil-kecilan saja karena masalah biaya, ada orang-orang yang berkomentar,” masak pernikahan dirayakan segini aja, gak ada pesta besarnya, pernikahan itu kan sekali seumur hidup, kok tidak dirayakan.” Namun ketika mengadakan resepsi pernikahan secara besar-besaran pun, ada juga orang yang akan berkomentar,”Wah, zaman lagi susah cari duit, kok boros-borosnya ngadain pesta besar seperti ini. Padahal keuangan lagi susah, apa gak mikir.”

Jadi buat anda yang sedang menjalani suatu kehidupan, suatu bisnis, suatu pekerjaan, dan anda menemui orang-orang yang kurang atau tidak setuju dengan apa yang anda lakukan, padahal anda tau bahwa bisnis atau pekerjaan yang sedang anda jalankan akan membawa suatu perubahan/kemajuan dalam hidup, mudah-mudahan cerita di atas bisa membantu anda untuk mengambil suatu keteguhan hati dalam menjalankan bisnis anda. Saya pernah membaca sebuah buku yang mengatakan seperti ini : Apapun yang kita lakukan, selalu ada 1/3 bagian orang yang menolak apa yang kita lakukan/katakan, 1/3 bagian orang yang mendukung dan 1/3 bagian lagi yang pada posisi netral. Ini sudah hukum alamnya. Begitu kata buku itu. Bagi anda yang sudah mengalami banyak penolakan, banyak ejekan, banyak cemoohan, banyak yang tidak mendukung apa yang anda lakukan, bisnis anda, padahal anda merasakan bisnis itu bagus sekali buat anda, anda tidak perlu merasakan kecewa, karena anda juga mempunyai 1/3 bagian yang akan mendukung usaha anda, dan 1/3 bagian lagi yang pada posisi netral pada awalnya, namun kalau anda terus berjuang, 1/3 bagian netral ini bisa jadi akan mendukung anda. Tinggal masalah waktu dan konsistensi anda untuk menyampaikan informasi yang benar tentang usaha anda, pekerjaan anda pada mereka. Terus bertindak, berusaha, membuktikan bahwa anda bisa!!

Pesan Terakhir

Bacaan Setahun : Kejadian 19-21
Nats : Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh anugerah (Efesus 4:29)

Bacaan : Efesus 4:17-32

"Saya hanya ingin kamu tahu saya benar-benar mencintaimu. Saya ingin kamu berbuat baik, berbahagialah.... " Itulah potongan pesan terakhir yang sempat ditinggalkan Brian Sweeney dimesin penjawab telepon isterinya, sebelum pesawat yang ia tumpangi ditabrakkan pembajak ke gedung WTC, 9 September 2001. Pesan yang singkat, mengharukan, sekaligus menghangatkan hati yang mendengarnya.

Perkataan yang baik, yang menguatkan, yang membangun orang lain, adalah salah satu hal yang didorong Rasul Paulus untuk dilakukan semua orang percaya, bukan saja menjelang akhir hidup, melainkan sejak menerima hidup baru di dalam Kristus (ayat 20-24). Hidup baru perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata setiap hari, termasuk melalui setiap perkataan yang keluar dari mulut kita. Yang dimaksud perkataan baik tidak berarti kata-kata yang romantis belaka, tetapi apa yang meneguhkan, menguatkan, ramah, penuh kasih dan pengampunan (ayat 29,32). Berbanding terbalik dengan kata-kata kotor yang merusak (ayat 31).

Mana yang lebih banyak keluar dari mulut kita setiap hari? Perkataan yang baik atau justru yang merusak? Ucapan yang membawa orang mengagumi Tuhan, atau malah yang membuat mereka kehilangan rasa hormat dan kasih pada-Nya? Sobat, jangan tunggu detik-detik terakhir untuk mengucapkan tutur kata yang baik. Kita tidak tahu kapan saat itu tiba. Hidupilah setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhir kita. Mohon Roh Kudus memberi hikmat agar setiap orang yang mendengar perkataan kita dapat beroleh kasih karunia Tuhan-SST

PAKAILAH SETIAP KESEMPATAN YANG ADA
MEMBAWA ORANG SELANGKAH LEBIH DEKAT KEPADA KRISTUS

Sabda.org

17 January 2012

Aku Memalingkan Diriku dari Allah

Ketika aku berumur empat belas tahun, aku memalingkan diriku dari Tuhan. Aku tidak pernah memikirkan tentang iman, kecuali ketika aku sedang mencemoohkan seseorang yang menganggap dirinya seorang percaya. Aku berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan rasionalisme, kemanusiaan dan filosofi adalah lebih baik. Selama bertahun-tahun aku mempunyai keyakinan yang demikian itu. Kini aku ingin semua itu aku tarik kembali, namun aku tidak dapat.

Setelah menyelesaikan pendidikanku di perguruan tinggi, aku masuk ke dalam angkatan laut dan mulai melihat dunia di luar Amerika Serikat. Terdapat begitu banyak kekerasan, begitu banyak kemiskinan, hal-hal yang membuat orang putus asa dan penderitaan. Aku mulai bertemu dengan orang-orang yang percaya bahwa iman merupakan sesuatu bagian yang amat penting dalam hidup mereka. Aku mulai berfikir dalam diriku sendiri, “Alangkah indahnya, bila seandainya bisa percaya akan sesuatu yang melebihi dari dirinya sendiri, bahkan melebihi dari dunia.

Betapa besar kekuatan mereka yang percaya terhadap “Tuhan”.

Tentu,… aku terlalu intelektual dan terlalu terpelajar serta berpendidikan untuk dapat percaya tentang semua yang serba bodoh itu.

Aku sedang rindu tentang sesuatu yang aku tak dapat menemukan kata-kata untuk memintanya.

Aku adalah seorang peminum berat. Aku rindu akan keluargaku. Aku telah patah hati. Adik tiriku perempuan telah meninggal. Aku telah mengunjungi Yerusalem dan laut Galilea, namun aku tak banyak mengerti apa yang didapatkan oleh para peziarah dan apa yang mereka alami. Aku sebenarnya iri hati, walaupun aku tidak tahu terhadap siapa dan tentang apa. Hal yang paling aku ingat adalah betapa aku merasa seorang diri, berlayar di tengah lautan di atas sebuah kapal perang. Kita pernah berada di Teluk Persia, kemudian di lautan Adriatik selama perang di Yugoslavia. Saya masih ingat pembunuhan-pembunuhan yang mengerikan. Kita mengangkat begitu banyak mayat-mayat dari lautan Adriatik. Lalu kejadian di Rwanda. Rabin telah dibunuh ketika aku berada di Hiafa. Semua biarawan telah di bunuh di Aljazair. Agaknya maut sedang mengelilingi aku. Aku tidak tahu harus berbuat bagaimana. Aku merasa tersesat.

Kemudian, pada suatu senja, aku sedang mengamati tenggelamnya surya di ufuk dari geladak kapal di mana aku bekerja. Aku menemukan diriku sedang merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang besar dalam hidupku. Kemanakah aku sedang berjalan? Mengapa hal-hal itu terjadi dalam dunia ini maupun dalam hidupku? Apa yang aku inginkan dari hidupku? Apa yang aku inginkan dari diriku? Bagaimana aku dapat beriman bila aku tidak percaya segala sesuatu di luar akal sehatku?

Aku merasakan seakan-akan aku melalui dan keluar dari api dan yang tersisa yang hanya segenggam abu.

Aku bertanya kepada Tuhan bahwa aku tidak percaya bahwa Tuhan dapat menolong aku…dan Ia menjawab. Aku tidak mau mengatakan lebih lanjut tentang hal ini, namun dalam kurun waktu sesaat, hidupku telah berubah untuk selamanya.

Kejadian itu sepuluh tahun yang lalu. Perjalanan imanku telah mengalami banyak belokan dan tikungan, namun aku tetap di atas jalan yang benar. Aku telah menemukan begitu banyak hikmah dan perdamaian dalam kisah dan pelajaran dari Yesus, dan aku tahu bahwa Tuhan besertaku, menolongku, memegang tanganku, membimbing aku ketika aku bertumbuh dan berubah.

Tetapi yang paling indah adalah bahwa aku kini mempunyai seorang puteri berumur enam bulan, dan aku tidak dapat menunggu untuk mengajarnya tentang keajaiban dan keindahan Allah. Tuhan telah mengubah hidupku. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang lebih terkejut dari pada aku sendiri yang telah menemukan iman. Ia pun dapat merubah anda!!

Michael J.C., Massachusetts

Hanya Satu Jalan?

Bacaan Setahun : Kejadian 16-18
Nats : Tidak ada keselamatan di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lainyang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah Para Rasul 4:12)

Bacaan : Kisah Para Rasul 4:1-13

Apakah Yesus satu-satunya jalan bagi keselamatan manusia? Menjawab pertanyaan ini, Robertson McQuilkin memberi suatu analogi. Bayangkan Anda adalah satpam rumah sakit yang bertugas di lantai 10. Anda tahu lokasi tangga darurat yang denahnya sudah ditandai dengan jelas. Ketika terjadi kebakaran besar, tepatkah jika Anda mendiskusikan kemungkinan adanya jalan aman selain melalui tangga darurat tersebut atau kemungkinan selamat jika terjun dari lantai 10? Tanggapan paling tepat adalah membawa semua pasien secepat mungkin menuju tangga darurat.

Petrus dan Yohanes ditangkap, ditahan, dan disidang. Mereka diancam dan dilarang keras untuk berbicara tentang Yesus. Namun, mereka tidak dapat dihentikan. Alasannya lugas dan logis: Jika keselamatan bagi manusia di seluruh dunia hanya ada di dalam iman kepada karya Yesus (ayat 12), bagaimana mungkin tidak menyebarluaskan pengalaman dan kabar baik ini kepada semua orang (ayat 20)? Tidak mungkin. Yesus sendiri pernah mengajar mereka, "Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6).

Pertanyaan besarnya bukanlah mengapa jalan keselamatan hanya satu atau bagaimana nasib kekal dari orang-orang yang terhilang. Misteri besarnya ialah mengapa kita sibuk melakukan banyak hal yang baik, tetapi tak sempat mengusahakan agar semua orang mendengar Firman kehidupan dalam Kristus yang memerdekakan.

Daripada mencari alasan pemaaf bagi kita untuk tidak membagikan kabar kelepasan ini, mari kita mencari cara kreatif untuk menyampaikannya kepada sebanyak mungkin orang --JOO

PAKAILAH SETIAP KESEMPATAN YANG ADA
MEMBAWA ORANG SELANGKAH LEBIH DEKAT KEPADA KRISTUS

Sabda.org

16 January 2012

Takhayul Rohani

Bacaan Setahun : Kejadian 12-15
Nats : Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: "Mengapa Tuhan membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini?Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian (1 Samuel 4:3)

Bacaan : 1 Samuel 4:1B-11

Kita mungkin pernah menyaksikandalam film-film horor, bagaimana kitab suci atau simbol-simbol agama. Digunakan untuk membuat setan takut dan tak berdaya. Entah dipengaruhi film semacam itu atau tradisi keluarga, ada orang kristiani yang melakukan hal serupa. Mereka memasang salib di rumahnya dengan harapan rumah tersebut akan terlindung dari gangguan setan. Beberapa orang akan merasa sangat

tenang ketika tidur didampingi Alkitab.

Dalam bacaan hari ini, tua-tua Israel mempertanyakan mengapa Tuhan tidak menyertai mereka dalam peperangan. Sebenarnya mereka telah mengarahkan pikiran kepada Pribadi yang tepat. Sayangnya, mereka lalu mengambil kesimpulan yang salah. Dengan cepat mereka mencari "sesuatu" untuk membuat mereka tenang. Mereka mendatangkan "benda suci", yakni Tabut Perjanjian, diiringi oleh "orang-orang suci" yakni para imam, Hofni dan Pinehas. Pikir mereka, benda-benda itu dapat membuat Tuhan datang dan melepaskan mereka. Mereka termakan dengan takhayul rohani sama seperti musuh mereka yang juga sangat takut dengan tabut tersebut. Hasilnya? Kekalahan mereka justru makin parah. Ternyata, orang-orang suci dan benda suci tidak dapat menolong mereka.

Tak jarang kita pun menghadapi kesulitan hidup bak peperangan setiap hari. Kala mencari perasaan tenang dan kemenangan, kepada apa atau siapa kita menaruh harap? Adakah benda atau pribadi tertentu-yang justru bukan Tuhan-menjadi tempat kita bertumpu? Hati-hati dengan takhayul rohani yang membuat kita meng-ilahkan sesuatu dan menyakiti hati Tuhan --PBS

KALA KITA PERLU RASA AMAN DAN TENANG
KEPADA TUHAN SAJA SEPATUTNYA KITA DATANG

Sabda.org

12 January 2012

Kisah Pengalaman Mati Suri (III)

Terang dari Kasih

Aku diberitahu bahwa aku harus kembali. Aku hanya tahu bahwa aku akan melakukan hal itu. Hal itu memang wajar, dari apa yang telah aku lihat dan alami. Ketika aku mulai dengan perjalananku kembali ke siklus kehidupan, aku tidak pernah sadar atau tak pernah diberi tahu bahwa aku akan kembali ke dalam tubuh yang sama. Dalam hal ini aku tidak peduli. Aku percaya sekali kepada Terang dan proses Kehidupan.

Ketika siklus itu telah menjadi satu dengan Terang yang besar, aku berharap agar aku tak pernah lupa akan pengungkapan-pengungkapan dan perasaan-perasaan dari apa yang aku telah pelajari di seberang sana. Aku membayangkan menjadi sesosok manusia lagi dan hal itu mebuat aku merasa senang.
Dari apa yang telah aku lihat, aku akan mersa senang untuk menjadi atom di dalam Semesta Alam. Menjadi bagian yang manusiawi dari Allah… ini adalah berkat yang sungguh luar biasa. Ini merupakan berkat yang melampaui semua imajinasi yang sangat besar.

Bagi setiap orang, bagian dari pengalaman iman ini adalah sesuatu yang sungguh menakjubkan. Setiap dari kita, terlepas di mana kita berada, kita orang aneh atau tidak, merupakan berkat bagi planet ini. Demikianlah aku kembali ke tubuhku. Aku begitu terperanjat ketika aku membuka mataku dan merasakan bahwa aku telah kembali ke dalam tubuhku, kembali ke kamarku dengan seseorang yang sedang memandangku sambil menangis. Ia ternyata adalah Anne, pengasuhku. Ia telah menemukan bahwa aku mati tiga puluh menit sebelumnya.Aku tidak mengetahui berapa lama aku telah mati, hanya aku telah menemukan aku tiga puluh menit sebelumnya. Ia telah mematuhi perintahku agar tubuhku yang mati tidak diapa-apakan. Dengan demikian, ia dapat membenarkan bahwa aku sesungguhnya dan benar-benar telah mati.

Menurutku, hal ini bukanlah suatu pengalaman mati suri. Aku percaya bahwa aku memang benar mati, setidak-tidaknya selama satu setengah jam. Ketika aku bangun kembali, aku melihat terang dari luar. Disertai kebingungan, aku berusaha untuk berdiri dan menuju ke jendela, namun aku terjatuh kembali di atas tempat tidur. Anne mendengar sebuah suara “gedebuk” kemudian mendapatkan aku di atas lantai. Ketika aku sudah pulih kembali, aku merasa heran dan terpesona akan apa yang telah terjadi… Pada mulanya, aku tidak ingat akan pengalaman itu. Aku terus bertanya, “Apakah aku hidup?”
Dunia agaknya terlihat seperti sebuah impian.

Dalam waktu tiga hari, aku sudah normal kembali, namun berbeda dari pada aku sebelumnya. Ingatanku tentang perjalananku kembali menyusul. Namun sejak aku menemukan bahwa tidak ada sesuatu yang salah dengan manusia yang pernah kujumpai. Sebelum kematianku, aku suka menghakimi orang lain, yakin bahwa manusia itu aneh dan sinting. Detiap orang, terkecuali aku sendiri.

Kira-kira tiga bulan kemudian, seorang kawan mengatakan bahwa sebaiknya aku perlu untuk diperiksa penyakit kankerku.
Demikian aku sekali lagi menjalani berupa pemeriksaan, seperti CTscan dan seterusnya. Aku sendiri merasa sehat. Aku masih ingat akan dokter yang mempelajari pelbagai hasil scan “sebelum” dan “sesudah”. Ia mengatakan, “Aku sekarang tak dapat menemukan tanda-tanda kanker.” “Sebuah mujizat?”, tanyaku. “Tidak”, jawab dia. “Hal-hal seperti itu biasa terjadi…” Ia kelihatannya tidak heran. Namun aku merasa heran. Aku tahu bahwa inilah suatu mujizat.

Pelajaran yang kuperoleh

Aku bertanya kepada Allah, “Agama apakah yang paling bagus dan baik? Manakah yang paling benar?” Allah mengatakan dengan penuh kasih, “Itu tidak penting.” Betapa luar biasanya kasih karunia-Nya. Tidaklah penting kita ikut agama apa. Agama-agama datang dan pergi. Mereka berubah. Agama Budha tidak selalu ada di sini. Demikian pula, agama KAtolik tidak selalu ada. Dan semuanya itu menjadi lebih jelas dan terang. Terang yang lebih besar akan menerangi semua itu. Banyak yang menentang dan melawan, agama yang satu terhadap agama yang lain disertai keyakinan bahwa merekalah yang paling benar.

Ketika Allah berkata, “Itu tidak penting”, aku mengerti bahwa tergantung kepada kita sendiri untuk menjalaninya. Sumber tidak peduli apakah anda seorang Protestan, Budhis atau Yahudi. Setiap dari mereka, merupakan suatu refleksi, sebuah faset dari sesuatu yang lebih besar dan utuh. Pengharapanku adalah, kiranya kita menyadarinya dan berlaku toleran terhadap satu dan yang lain. Itu bukanlah akhir dari agama-agama yang terpisah, melainkan biarlah kita hidup dan membiarkan orang lain juga hidup. Setiap dari kita memiliki pandangan yang berbeda, dan semuanya jika digabung, akan menjadi sebuah gambar yang besar dan utuh.

Aku telah pergi ke seberang sana disertai banyak sekali kekuatiran tentang sampah yang beracun, nuklir, ledakan penduduk dan hutan tropis yang sedang punah.
Kini aku kembali dan menyayangi setiap masalah. Aku sayang kepada sampah nuklir. Aku sayang kepada awan jamur; ini adalah mandala yang paling suci yang kita wujudkan sampai detik ini, sebagai pola dasar. Lebih dari pada agama apapun, atau filosofi yang bagaimanapun, awan jamur yang amat mengerikan itu dengan tiba-tiba telah membawa kita menjadi satu dan mencapai suatu taraf baru akan kesadaran kita.

Dengan pengetahuan bahwa kita dapat menghancurkan planet ini 50 atau 500 kali, pada akhirnya kita menyadari bahwa kita bersama berada di tempat ini. Untuk suatu waktu tertentu, mereka bisa saja meledakkan lebih banyak bom lagi untuk membunuh. Namun kemudian, kita mulai berkata, “Kita tidak memerlukan hal itu lagi.” Sebenarnya kita berada di dunia yang lebih aman dari pada sebelumnya dan kita akan makin lebih aman lagi.

Dengan demikian, aku kembali untuk menyayangi sampah nuklir, karena hal itu membawa kita menjadi satu. Pembalakan hutan tropis akan lebih kurang, dan setelah 50 tahun akan terdapat lebih banyak lagi di planet ini dari pada sebelumnya.
Bila Anda ada di dalam ekologi, berjalanlah terus; anda merupakan bagian dari sistem itu. Lakukanlah tugasmu dengan segala kekuatanmu, namun janganlah menjadi sedih atau putus asa. Bumi sedang di dalam proses untuk menjadi lebih baik dan kita merupakan sel-sel dari bumi itu.

Misteri terbesar dari kehidupan tidak ada hubungannya dengan pikiran. Alam Semesta bukanlah suatu proses intelektual. Memang pikiran bisa membantu, namun hati kita adalah bagian yang lebih bijak dari diri kita. Sejak kembaliku, aku mengalami Terang dengan cara spontan. Aku telah belajar untuk pergi ke sana setiap saat dalam meditasi. Andapun dapat melakukannya. Tubuh adalah Terang yang paling cemerlang. Tubuh adalah alam semesta dari Terang yang luar biasa itu. Kita tidak perlu berhubungan mesra dengan Allah. Allah sebelumnya sudah berhungan mesra dengan kita pada setiap saat.

Selesai