Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

04 September 2008

Burung Gagak

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah benda itu?"

"Burung gagak", jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, "Itu burung gagak ayah!"

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, "BURUNG GAGAK!!" Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, "Gagak lah ayah.......".

Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya soal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

"Ayah!!! saya tak tahu ayah paham atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang ayah mau saya katakan???? "Itu burung gagak, burung gagak ayah.....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu ditangannya. Dia menghulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan tertanya-tanya. diperlihatkannya sebuah Diary lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam Diary itu", pinta si ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut..........

"Hari ini aku di halaman melayan karena anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apa itu?". Dan aku menjawab, "burung gagak". Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta dan sayangnya aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga."

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, "Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang sabar serta marah."

"Jagalah Hati Kedua Orang Tuamu, Hormatilah Mereka. Sayangilah Mereka Sebagaimana Mereka Menyayangimu Diwaktu Kecil"

Cinta Tidak Menunggu

Ada seorang pria yang menyimpan perasaan pada teman gadisnya. Hingga kemudian pada saat pernikahannya, ia memutuskan untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya pada gadis itu. Namun gadis itu akhirnya hanya menganggap itu hanyalah sebuah canda. Dan ada seorang pria yang ingin mengatakan pada istrinya betapa ia mencintainya, namun ia tidak pernah mengatakannya, hingga istrinya itu meninggal dunia.

Pria itu hingga sekarang terus meletakkan bunga diatas batu nisannya. Dengan ciuman dan kata-kata "AKU CINTA KAMU".Entah Apakah istrinya mengetahui hal itu? Saat ini ada seorang gadis yang selalu ingin merasakan hangatnya pelukan kasih sayang ayahnya, tapi ia malu untuk mengatakannya. Hingga pada suatu hari ayahnya tak mungkin memeluknya lagi...

Banyak kisah yang terjadi setiap harinya, dan kita mungkin menyadari semua itu. Apa yang telah terjadi kemarin, tak mungkin kembali... tapi apakah kita bisa memastikan apa yang akan terjadi besok? Pikirkanlah tentang sesuatu yang ingin kita katakan dan jangahlah kita selalu menunggu saat yang tepat? Katakanlah cinta dan kasih sayang itu. Jika kau meninggalkan pesta yang ramai dan berjalan bersama, hanya berdua dengan seseorang... itulah cinta. Ketika kau bersama seseorang, dan kau seringkali mendiamkannya. Tapi ketika ia tak bersamamu dan kau mencarinya... saat itulah kau merasakan cinta. Jika ada seseorang yang selalu membuatmu tertawa, menatapmu penuh perhatian dan ingin selalu pergi bersamanya. Kau sedang jatuh cinta.

Ketika kau melihat sebuah foto bersama, dan kau mencari seseorang yang special...(untuk mengetahui siapa yang berada disampingya difoto itu)lalu kau membayangkan dirimu yang ada disana... yakinlah kau sedang jatuh cinta. Ketika kau tidak menerima telepon saat kau sibuk belajar, tapi tak mampu menahan diri saat seseorang menelponmu... saat itulah kau sedang jatuh cinta. Jika kau lebih tertarik menerima sebuah surat pendek dari seseorang daripada surat-surat lain yang panjang... kau sedang jatuh cinta. Ketika kau mendapat tiket gratis untuk berdua, dan kau tak ragu-ragu mengajak seseorang, kau sedang jatuh cinta.
-
Kau terus mengatakan kami hanyalah teman biasa, tapi kau sadar kau tak bisa melepaskan diri darinya... saat itulah kau merasakan cinta. Cinta bukanlah sesuatu yang buruk dan semua bergantung pada kita bagaimana menginginkannya. Berbagilah, dan katakanlah kepada orang-orang yang berarti bagimu....

Mengakui Kesalahan

"Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu." - Matius 7:2

Karena kesalahan, Perdana Meteri Lithuania, Gediminas Kirkilas, harus membayar denda sebesar 290 euro, atau sekitar 4 juta rupiah. Ia tertangkap basah merokok di sebuah bar di Klaipedia. Pemerintah Lithuania memang memberlakukan larangan merokok di tempat-tempat umum sejak tahun 2006. Lucunya, orang yang mengusulkan larang ini justru Kirkilas sendiri. Kirkilas tidak memungkiri kesalahannya, ia langsung membayar denda tersebut.

Ungkapan "hukum itu buta" harus dimaknai secara proporsional. Maksudnya, hukum berlaku bagi setiap individu yang berada di wilayah hukum tersebut, tanpa terkecuali. Dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mengingatkan pentingnya ketaatan terhadap hukum. Baik itu di lingkungan keluarga, agama, sosial, budaya, maupun kerja. Siapapun yang bersalah harus di hakimi untuk ditunjukkan kesalahannya, dan menerima hukumannya dengan adil. Termasuk sang hakim itu sendiri. Hukum yang dijalankan dengan jujur akan menciptakan ketenangan dan keteraturan hidup. Harus diakui, setiap orang dapat berbuat kesalahan. Namun, bila kita melakukannya, akuilah hal itu dan bayarlah konsekuensinya. Tuhan dan orang-orang yang ada di sekitar kita akan menilai, sejauh mana kita konsisten dengan hukum yang ada. Alkitab mengajar kita untuk mengakui kesalahan,  bukan memungkirinya (Imamat 5:5; 1 Yohanes 1:9)

Mari belajar untuk menghormati setiap hukum yang ada di sekitar kita. Jangan membuat batu sandungan bagi orang lain. Karena setiap orang yang taat kepada hukum akan hidup dalam ketenangan. (gth)

HUKUM TIDAK BERMANFAAT TANPA KOMITMEN UNTUK MELAKUKANNYA DENGAN JUJUR

Renungan Pagi

Humor : Jalan ke Surga

Seorang pendeta baru saja tiba di kota kecil. Ia meminta bantuan seorang pelajar sekolah dasar untuk menunjukkan jalan ke gereja tempatnya melakukan pelayanan nanti malam.

Setelah anak kecil itu menunjukkan arah jalan yang diminta, sang pendeta dengan penuh wibawa berkata,

"Adik harus datang ke gereja nanti malam ya. Ajaklah semua teman-temanmu ke sana."

"Lho, buat apa Pak Pendeta?"

"Saya mau menunjukkan jalan ke surga buat kalian semua."

"Ah, pendeta jangan bercanda. Sedangkan jalan ke gereja saja Pak pendeta nggak tahu apalagi ke surga!!"

:)