Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 August 2009

Melayani Dengan Keterbatasan

II Korintus 12:9

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 62; Markus 12; Hosea 4-5

Ketika belum genap berusia empat tahun, Itzhak Perlman terserang polio, sehingga ia tidak bisa menggunakan kakinya. Tetapi, ia lalu mengimbangi kehilangan ini dengan belajar biola. Bertahun-tahun kemudian, ia menghibur banyak orang dengan musik yang ia mainkan. Ia memang kehilangan fungsi kakinya, tetapi permainan musiknya telah memberi sayap. Itu adalah sebuah contoh devosi yang sungguh menggugah.

Beberapa pelayan Allah pun telah menunjukkan devosi yang serupa kepada Tuhan. Mereka telah kehilangan kemampuan tertentu, tetapi kemudian tergugah untuk mengembangkan kemampuan pelayanan yang lain. Misalnya, ketika William Booth, pendiri bala keselamatan, menyadari bahwa ia akan buta, ia tidak putus asa.

Dengan berpandangan positif, William berkata kepada teman-temannya bahwa ia telah melayani Kristus ketika ia masih bisa dapat mempergunakan daya penglihatannya, dan ia akan tetap melayani Dia sekuat tenaga meskipun mengalami kebutaan.

Hal apa yang memotivasi orang Kristiani untuk tetap melayani dan mengikuti Yesus sebaik dan sebisa mungkin meskipun mereka mengalami kehilangan atau menghadapi kesulitan? Seperti Abraham, jawabannya adalah iman.

Anda harus percaya bahwa segala keadaan yang tidak mengenakkan yang Anda terima di bumi karena Kristus itu tidak sebanding lah dengan apa yang Dia telah persiapkan untuk Anda yang setia kepada-Nya sampai akhir, yakni "kota..yang direncanakan dan dibangun oleh Allah" (Ibrani 11:10). Itu adalah "tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air surgawi" (ayat 16a).

Kiranya Roh Kudus senantiasa memberikan kepada Anda kekuatan untuk memuliakan Kristus, entah apa pun keterbatasan yang Anda miliki saat ini.

Keadaan apa pun yang memenjarakan Anda tidak dapat membatasi karya Allah melalui diri Anda

Jawaban.com

Greatest Love

Suatu pagi yang sunyi di Korea, di suatu desa kecil, ada sebuah bangunan kayu mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-seng. Itu adalah rumah yatim piatu di mana banyak anak tinggal akibat orang tua mereka meninggal dalam perang.

Tiba-tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh di atas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka. Ada seorang gadis kecil yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring di atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera dilakukan dan seseorang dikirim dengan segera ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.

Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada orang yang memiliki golongan darah yang sama.

Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu. Kemudian beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada grup itu dan perawat menerjemahkan, Apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk gadis kecil ini?"

Anak-anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, "Tolong, apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk teman kalian, karena jika tidak ia akan meninggal!"

Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah. Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah.

"Tenang saja," kata perawat itu, "Tidak akan sakit kok."

Lalu dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis.

"Apakah sakit?" tanya dokter itu..

Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. "Aku telah menyakiti bocah ini!" kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya. Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu.

"Apakah sakit?"

Bocah itu menjawab, "Tidak, tidak sakit."

"Lalu kenapa kamu menangis?",tanya dokter itu.

"Karena aku sangat takut untuk meninggal" jawab bocah itu.

Dokter itu tercengang!

"Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?"

Dengan air mata di pipinya, bocah itu menjawab, "Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus menyerahkan seluruh darahku!"

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya, "Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu? "

Sambil menangis ia berkata, "Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya"

Written by Elia Stories

Greater Love Has No One Than This, Than To Lay Down One's Life For His Friend

GBU aLL ^^

30 August 2009

Jangan Berpikir Seperti Dunia Ini

II Korintus 10:4-5

"Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 61; Markus 11; Hosea 1-3

Jika Anda berpikir seperti dunia berpikir, maka akhirnya Anda akan bertindak seperti dunia bertindak. Pikiran yang tidak terkekang menghasilkan tindakan yang tidak terkekang. Jadi, kendalikanlah pikiran Anda dengan patuh terhadap Alkitab.

Aturlah pikiran Anda sesuai dengan firman Tuhan. Firman itu Roh dan kehidupan. Bila pikiran Anda dipenuhi dengan firman Tuhan, maka kemauan Anda menjadi kuat untuk menggunakan wibawa dalam menaklukkan setiap pikiran fasik dan kebiasaan buruk.

Jangan biarkan iblis menipu Anda untuk mengorbankan kemuliaan Tuhan dalam hidup Anda demi kepuasan diri dan dosa sesaat saja. Kekanglah pemikiran Anda. Renungkanlah Firman dan bukannya pikiran-pikiran yang serakah dan duniawi. Arahkan pandangan Anda kepada Yesus, pencetus, dan Penyempurna iman Anda.

Arah pikiran Anda adalah penentu arah tindakan Anda

Jawaban.com

Humor : Jalan Ke Sekolah

Sebuah keluarga baru bangun kesiangan, dan anak mereka yang berumur enam tahun ketinggalan bis sekolah.

Sang ayah, meski terlambat kerja, harus mengantarnya ke sekolah.

Karena ia tidak tahu jalannya, ia menyuruh anaknya untuk mengarahkannya.

Mereka naik mobil melewati beberapa blok sampai sang anak menyuruhnya belok untuk pertama kalinya,

kemudian beberapa blok lagi sebelum belokan kedua. Perjalanan sampai 20 menit -- namun ketika tiba di sekolah,

ternyata sekolahnya dekat dengan rumahnya.

Sang ayah, dengan agak jengkel, bertanya kepadanya mengapa ia malah mengajak berputar-putar.

Sang anak menjelaskan, "Itu tadi jalan yang biasa dilewati bis sekolah, Ayah. Itu satu-satunya jalan yang aku tahu."

29 August 2009

Weekly Scripture – Wahyu 3:21

"Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya." - Wahyu 3:21

Tidak Ragu Untuk Bertanya

Ayub 3:11 : "Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 60; Markus 10; 2 Tawarikh 31-32

Allah tidak keberatan dengan pertanyaan-pertanyaan, keraguanlah yang dibenci-Nya. Selama berjam-jam, tiga sahabat Ayub: Elifas, Bildad, dan Zofar menuduhkan kepada Ayub semua jenis kejahatan.

Mereka mengatakan kata-kata bodoh yang sering dinyatakan kepada orang-orang yang menderita. Tetapi Ayub ingin membawa masalahnya kepada Tuhan sendiri! Hanya pada akhir kitab itu Allah berbicara dan walaupun Ia tidak menjawab satu pun pertanyaan Ayub, Ia tidak menghukum Ayub karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Allah menegur Ayub hanya karena satu hal: meragukan karakterNya yang benar.

Anda seharusnya tidak pernah takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah, tetapi Anda juga tidak boleh menuntut jawabannya. Tidak peduli betapapun keadaan Anda, Anda harus menolak godaan untuk meragukan sifat kudus Allah. Jika Anda, seperti Ayub, melalui bibir yang gemetar mengakui kedahsyatan kemuliaan Allah maka nantikan berkat-berkatNya yang luar biasa itu tercurah dalam kehidupan Anda.

Seberapa berani seseorang untuk bertanya kepada orang lain menunjukkan seberapa dalam hubungan antarkeduanya. Bagaimana hubungan Anda dengan Tuhan saat ini?

Jawaban.com

Kasih Yang Berkorban

Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, “Bu, aku mengasihimu!”

Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"

Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.

Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi."

Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."

Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos."

Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan."

Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.

Seringkali kita berkata kepada orang tua kita, "Bapa, mama, aku mengasihimu."

Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orang tua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orang tua dan sesama kita, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus.

Sering kita berkata-kata kepada Tuhan, "Tuhan saya mengasihiMu. ....", namun kita hanya berkata-kata saja tanpa dengan tulus hati mengasihiNya. ..tanpa mewujudkannya melalu perbuatan kita.....

Guys, ayo kita menjadi seperti anak bungsu pada renungan diatas.....

28 August 2009

Kelihatan Mustahil

Mazmur 5:4 "Tuhan pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 59; Markus 9; 2 Tawarikh 29-30

Kurang lebih dari 40 tahun yang lalu Penginjil terkenal A.W Tozer pernah berkata, "Peradaban modern sekarang begitu kompleks sehingga hampir tidak memungkinkan bagi kehidupan rohani untuk mendapatkan tempat." Ia sudah menuliskan kalimat itu jauh sebelum email, internet televisi, dan teknologi "hemat waktu" lainnya, merampas sebagian besar waktu kita. Apalagi sekarang, saat dunia sudah jauh lebih maju lagi dengan teknologi yang tumbuh dan berkembang dengan pesatnya.

Namun sebenarnya, kita jangan terjebak dengan hal-hal teknologi semacam itu saja, karena sesungguhnya teknologi pun dapat digunakan untuk kegiatan rohani. Jadi sesungguhnya bukan hanya teknologi masa kini dan kompleksnya budaya modern saja yang mengganggu kehidupan rohani. Tetapi, sering kali hambatan-hambatan yang sangat mengganggu kita dalam menyediakan waktu untuk Allah bukan berasal dari luar diri kita, tetapi justru dari dalam diri kita sendiri. Kitalah yang terkadang enggan meluangkan waktu untuk beribadah kepada Tuhan, atau berdoa secara pribadi dan membaca Alkitab, oleh karena kesibukan masing-masing.

Lalu bagaimana caranya agar kita dapat melakukan hal yang tampaknya mustahil itu? Pertama, kita harus mengakui kegagalan kita dalam meluangkan waktu untuk Allah. Kedua, kita harus menyadari bahwa meluangkan waktu bersama Allah adalah hal yang esensial untuk kehidupan rohani kita. Hal itu seharusnya sama penting seperti keharusan kita untuk mendapatkan makanan yang cukup setiap hari. Ketiga, kita harus menyusun rencana. Sebagai contoh, di dalam Mazmur 5:4, kita dapat melihat bahwa Daud mempunyai jadwal khusus bersama Allah tiap hari.

Dengan ketiga konsep tersebut tertanam dalam benak, teduhkan hati dan pikiran Anda dan mulailah untuk menikmati sukacita yang datang karena Anda telah menyediakan diri untuk Tuhan. Percayalah, Anda pasti sanggup untuk melakukan apa yang kelihatannya mustahil itu.

Waktu yang diluangkan bersama Tuhan adalah waktu terbaik yang perlu Anda miliki

Jawaban.com

Indah Pada Waktunya

“Bila kita melakukan sesuatu sesuai kehendak Allah, maka segala sesuatu akan indah pada waktunya.” Kalimat tersebut mungkin sering kita dengarkan. Mungkin ada beberapa orang yang tidak mempercayai ucapan tersebut. Berbahagialah orang yang mempercayai ucapan tersebut karena itulah yang benar-benar terjadi. Saya akan menceritakan kepada Anda tentang kesaksian sepenggal bagian dari hidup saya menyangkut hal itu.

Saya ingin memulai cerita saya dengan kelulusan SMA. Saya sangat bersyukur sekali karena bisa lulus dari Ujian Nasional. Mungkin sebagian dari Anda hanya berpikir bahwa ini cerita biasa tentang murid yang akhirnya lulus. Sekali-kali tidak. Ini adalah cerita melebihi itu.

Minggu-minggu menjelang UAN, merupakan minggu yang menegangkan. Ketegangan itu bertambah dengan kebijakan pemerintah untuk mengujikan pelajaran IPA/IPS juga di dalam UAN. Betapa mengejutkan pada saat itu. Betapa tidak! Angkatan kamilah yang pertama setelah sekian lama ujian nasional hanya mengujikan 3 mata pelajaran dasar.

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi guru-guru dan kepala sekolah menjadi sangat khawatir. Mereka memberi kami latihan soal yang banyak. Bahkan kerap kali memarahi kami yang kerap kali malas. Mereka memotivasi kami pula untuk mengerjakan sebaik-baiknya dan juga berdoa. Banyak sekali kata-kata yang mendorong kami untuk semangat untuk percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kami. Bahkan sering diadakan acara berdoa bersama meminta kepada Tuhan agar kami semua bisa lulus ujian nasional.

Ada hal yang lucu dan sangat kontradiktif menurut saya. Saya ingat mereka juga berkata bahwa sebaiknya murid-murid yang pintar memberi jawaban kepada murid yang lain. Bahkan kepala sekolah pernah mengumpulkan kami dan memberi tahu perkiraan tentang bagaimana posisi nomor urut murid dengan letak kursi dan meja kami saat ujian berlangsung. Tak luput juga, beliau menyatakan agar kami menyusun strategi untuk saling bekerja sama dengan melihat posisi tempat duduk kami. Aku bahkan tercengang dalam hati bisa-bisanya seorang pemimpin sekolah kami memperbolehkan perbuatan tercela itu.

Beginikah moral dari sekolahku? Pikirku saat itu. Di satu sisi terlihat benar-benar percaya sepenuhnya bahwa Tuhan akan menyertai saat UAN berlangsung. Di sisi lain, tampak keraguan penyertaan Tuhan saat UAN berlangsung dengan menyarankan kami untuk bekerja sama.

Minggu silih berganti, tibalah ujian nasional itu. Hari-hari itu tak terlupakan. Ketegangan dan kekhawatiran muncul dalam benak. Namun, aku tetap memegang prinsip untuk mengerjakan soal-soal itu dengan usahaku sendiri. Begitu banyak godaan saat itu. Banyak temanku yang mendapat bocoran jawaban dari sekolah lain, ada pula yang saling mencontek, ada yang membeli jawaban ujian entah dari mana, dan sebagainya. Tapi aku tidak terpengaruh.

Setelah sekian bulan, akhirnya berita kelulusan tiba. Itu adalah hari penuh sukacita bagiku. Aku pun datang ke sekolah untuk mengambil ijazah. Aku melihat nilai teman-temanku yang berbuat curang saat ujian. Aku termasuk murid yang nilainya tidak setinggi mereka. Namun, aku tidak berkecil hati karena aku bangga bisa lulus dengan usahaku sendiri dalam hati.

Setelah lulus SMA, aku pun ikut suatu ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Aku mendaftar suatu PTN nomor satu di Indonesia dengan jurusan yang juga tidak mudah dimasukkan. Beratus-ratus orang berlomba-lomba mendapatkan kursi pendidikan dan hal itu pun menciptakan suatu tekanan untukku. Tapi, aku pun memegang prinsip untuk jujur saat ujian itu.

Kira-kira satu bulan kemudian, pengumuman tiba dan aku BERHASIL mendapatkan perguruan tinggi dengan jurusan yang kuinginkan. Aku sangat bersuka cita sekali bisa lolos ujian. Begitu luar biasanya juga sukacita yang dirasakan keluargaku.

Saat SMA, aku menyadari bahwa aku bukanlah murid yang pintar. Nilai-nilaiku kerap kali mengecewakan. Bahkan kerap kali dianggap remeh oleh teman-temanku. Aku ingat temanku pernah secara terang-terangan meragukan kemampuanku untuk bisa lolos dari ujian perguruan tinggi negeri. Maka aku menyadari bahwa kisahku ini merupakan karya nyata Allah dalam hidupku. Allah telah memampukan dan memberi kekuatan padaku untuk dapat melampaui suatu hal yang mustahil.

Aku ingat sekali ada temanku yang nilai Ujian Nasional-nya jauh melebihi nilaiku. Namun dia melakukan kecurangan saat ujian berlangsung. Dia juga mencoba ujian masuk perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang sama persis kupilih. Namun dia gagal dalam ujian tersebut. Untukku, ini merupakan keadilan yang Allah berikan kepadaku. Di satu sisi, aku dengan kemampuan akademis yang tidak begitu setinggi dirinya pada akhirnya bisa lolos ujian yang penuh persaingan. Sedangkan dia yang merupakan murid yang lebih pintar dariku malahan tidak dapat lolos ujian itu.

Aku menganggap kisah hidupku yang satu ini adalah bukti nyata dari “Bila kita melakukan sesuatu sesuai kehendak Allah, maka segala sesuatu akan indah pada waktunya.” Tuhan pasti akan menyertai orang yang menurut pada apa yang Allah kehendaki. Allah pasti memampukan dan menjadikannya indah tepat pada akhirnya. Allah menyertai aku karena aku tetap memegang prinsip untuk jujur. Lalu, Allah pun menjawab permintaan doaku untuk bisa lulus SMA dan lulus ujian seleksi perguruan tinggi negeri.

Aku berharap cerita ini dapat memotivasi Anda untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang baik walaupun dunia tidak berprinsip. Mungkin pada awalnya merupakan saat-saat yang sulit. Namun percaya, Allah tidak akan diam. Sang Maha Kuasa akan melihat Anda dan merancangkan suatu akhir yang penuh sukacita dan damai sejahtera. Percayalah!

Oleh : Kathy S

26 August 2009

Anda Berharga Di Mata Tuhan

Ada seorang laki-laki, dimana setiap orang yang melihat fisiknya pasti setuju bahwa ia bukan laki-laki yang menarik. Badannya gemuk dan tingginya di bawah rata-rata, wajahnya tidak tampan. Ia bukan orang yang kaya raya juga bukan orang yang punya kepandaian khusus. Jalannya agak pincang, dan suaranya pun sumbang untuk menyanyi.

Sebut saja ia bernama Milo. Sehari-hari ia bekerja sebagai pegawai sebuah toko buku dengan gaji yang tidak seberapa. Milo sudah hampir berumur 40 tahun, ia kadang merasa fustasi karena ia belum punya pacar hingga saat ini, Ia kadang merasa Tuhan tidak adil baginya menciptakan dirinya seperti itu, tidak ada wanita-wanita yang mengelilinginya karena mengaguminya, tidak ada kelimpahan harta padanya, atau orang-orang yang memujinya karena kehebatannya. Suatu ketika, pulang dari tempat bekerja melewati lorong yang gelap, seorang pria tinggi besar menghadangnya. Wajahnya tidak nampak jelas karena gelapnya malam. Pria itu menodongkan sebuah pisau pada dadanya.

"Serahkan uangmu kalau mau selamat," ujarnya dengan nada suara berat.

"Anda menginginkan uang saya? ambillah semuanya," katanya dengan tenang. Pria itu membiarkan Milo mengambil uangnya, diserahkan semua uangnya ke tangannya. Sikap Milo nampak tenang sekali.

"Anda tidak takut kalau aku membunuhmu disini?" tanya pria itu.

"Oh, tentu tidak. TIdak ada yang berharga pada diriku, sekalipun aku harus memberikan nyawaku aku tidak takut" ujarnya dengan tenang.

Menghadapi sikapnya yang tenang, pria itu makin penasaran dan pelan-pelan menurunkan pisaunya.

"Anda tidak takut mati?" tanya pria itu lagi.

"Saya tidak takut mati, saya tidak memiliki apapun di dunia ini. Saya milik Tuhan, jika anda membunuh saya maka anda mengembalikan saya kepada Tuhan.”

"Anda orang Kristen?" tanya pria itu.

"Tepat, bagaimana anda bisa tahu?" tanya Milo.

Pria itu akhirnya memperkenalkan diri. Milo lalu mengajaknya duduk di sebuah anak tangga dari toko yang telah tutup.

"Aku seorang preman, aku pernah membunuh belasan nyawa. Dulu aku orang Kristen, Ayahku dulu sering sekali memukul ibuku dan juga anak-anaknya hingga kami hidup dalam kekerasan. Ia sering mabuk dan aku pernah hampir dibunuhnya, selain ia tidak punya pekerjaan tekanan hidup menjadikan aku seperti ini."

Kemudian lanjutnya lagi, "Baru kali ini aku menemui orang yang tidak takut padaku" ujarnya.

TIba-tiba air mata meleleh dari kedua pipinya, "Seumur hidupku baru pertama kali aku menangis. Aku tidak tahu kenapa, aku seperti orang bodoh menangis di hadapanmu."

Kasih Tuhan terus menyinari malam hari itu. "Kamu pasti lapar, aku punya makanan untukmu," ujar Milo sambil mengeluarkan roti dari tasnya dan memberikan padanya.

"Aku melihat ada suatu kekuatan yang begitu kuat keluar dari dirimu, menarik aku kembali pada suatu tempat dimana aku dulu pernah berada"

Pria itu adalah orang yang paling ditakuti di tempat tersebut, reputasinya sebagai sebagai pembunuh belum ada tandingannya. Bagaimana mungkin orang seperti Milo bisa membuat hatinya luluh? Malam itu ia bertobat dan apa yang terjadi? Banyak dari anak buahnya yang akhirnya bertobat dan kembali pada jalan kebenaran.

Pernahkan anda merasa tidak berharga? Tidak punya kelebihan apa-apa. Anda merasa fisik anda tidak menarik, anda juga merasa tidak punya harta apa-apa yang bisa diberikan. Tuhan tidak pernah menciptakan kita tanpa maksud. Anda mungkin berkata, "Tuhan. Apa saya seperti ini bisa dapat jodoh? Apa saya layak melayaniMu? Apa saya bisa berhasil?"

Semua adalah mungkin bagi Tuhan. Pernahkah anda membanding-bandingkan diri anda dengan kelebihan orang lain, lalu anda merasa minder? Saudara terkasih, apapun keadaan anda TUhan begitu mempedulikan anda. Sekalipun pelayanan anda mungkin hanya seorang penyapu halaman gereja, Anda tetap seorang yang hebat di mata Tuhan. Jangan pernah bersedih hati, kalau mungkin anda mempunyai cacat fisik. Jangan putus asa kalau orang tidak mengganggap keberadaan anda. Anda sama berharganya dengan ciptaanNya yang lain. Ketahuilah, Anda begitu berharga dimataNya, sehingga Ia begitu tidak ingin kehilangan anda.

Yesaya 43:4a : "Oleh karena engkau berharga di mataKu, dan mulia, dan Aku mengasihi engkau"

Tuhan Yesus memberkati !!!

25 August 2009

Kejamnya Aborsi

Mama Tersayang,

Saat ini aku ada di surga, duduk di pangkuan Tuhan. Tuhan sangatlah mengasihiku dan Ia turut menangis bersamaku. Ia menangisi hatiku yang telah dihancurkan. Sebelumnya aku amat diinginkan untuk menjadi seorang gadis kecil. Aku tak begitu mengerti tentang apa yang telah terjadi. Aku dulu begitu senang saat aku mulai menyadari keberadaanku. Aku ada di dalam tempat yang gelap namun nyaman. Kupandangi jari tangan dan kakiku. Alangkah cantik diriku dalam masa perkembanganku, walaupun belum dekat masanya sampai tibanya saat aku telah siap meninggalkan lingkunganku itu.

Aku habiskan sebagian besar waktuku dengan tidur ataupun berfikir. Bahkan pada hari-hari terawal hidupku, aku merasakan hubungan istimewa antara aku dan Mama. Kadang aku mendengar Mama menangis. Kadang-kadang Mama berteriak atau menjerit, lalu menangis. Kudengar Papa balik berteriak, aku merasa sedih dan berharap bahwa Mama akan segera pulih. Aku berfikir, kenapa kiranya Mama sering menangis. Pernah hampir seharian Mama menangis. Aku turut sedih. Tak dapat kubayangkan kenapa Mama sesedih itu.

Pada hari yang sama, sesuatu yang mengerikan terjadi. Monster yang amat mengerikan memasuki tempat yang hangat dan menyenangkan tempat aku berada. Aku amat takut dan mulai berteriak, namun tak sekalipun engkau mencoba menolongku. Mungkin engkau tak pernah mendengarku. Monster itu dekat dan lebih dekat lagi, sedang aku berteriak dan berteriak lagi, "Mama, Mama ... tolonglah aku; Mama, tolong aku". Lengkaplah teror yang kualami. Aku berteriak dan berteriak hingga kupikir aku tak mampu lagi melakukannya. Lalu monster itu mengoyakkan lenganku. Amat sakit rasanya, nyerinya tak dapat kuterangkan. Teror itu tak berhenti. Oh, betapa aku memohon kepadanya untuk berhenti. Aku berteriak ngeri saat monster itu mengoyak lepas tungkaiku. Walaupun aku telah mengalami teror seperti itu, aku masih sekarat. Kutahu aku takkan pernah memandang wajah Mama, atau mendengar Mama berkata kepadaku betapa Mama menyayangiku. Aku ingin melenyapkan semua air mata Mama. Kubuat banyak rencana untuk membuat Mama bahagia. Aku tak bisa; seluruh mimpiku telah buyar.

Walau aku berada dalam nyeri dan kengerian yang hebat, di atas semuanya aku merasakan nyerinya hatiku yang hancur. Aku tak mengharapkan sesuatu selain menjadi anak Mama. Tak ada gunanya lagi kini, aku telah mengalami kematian yang menyakitkan. Aku hanya dapat membayangkan hal-hal buruk yang telah mereka buat terhadap diri Mama. Aku ingin memberitahu Mama sebelum aku pergi bahwa aku mencintai Mama, namun aku tak tahu kata-kata apa yang Mama dapat mengerti. Dan segera sesudahnya, aku tak lagi memiliki nafas untuk mengucapkannya; aku mati.

Aku merasakan kebangkitan diriku. Aku dihantar oleh malaikat memasuki tempat besar yang indah. Aku masih menangis, namun sakit fisik kini telah lenyap. Malaikat itu membawaku kepada Tuhan, lalu meletakkanku di pangkuanNya. Ia berkata bahwa Ia mencintaiku, dan bahwa Ia adalah Bapaku. Maka aku gembira. Aku menanyakan apakah kiranya yang telah membunuhku. Ia menjawab, "Aborsi. Aku menyesal, anakKu; sebab Aku tahu bagaimana rasanya." Aku tak tahu apa itu aborsi; kupikir itu adalah nama dari monster tadi.

Aku menulis untuk mengatakan aku mencintai Mama dan untuk memberitahu Mama betapa inginnya aku menjadi gadis kecil Mama. Aku telah berjuang keras untuk hidup. Aku ingin hidup. Aku punya kemauan itu, tapi aku tak sanggup; monster itu terlampau kuat. Monster itu telah menyedot lepas lengan dan tungkaiku, kemudian seluruh diriku. Tak mungkin untuk hidup. Aku ingin Mama tahu bahwa aku telah berjuang untuk tetap tinggal bersama Mama. Aku tak ingin mati. Mama, tolong awasi pula si monster aborsi. Mama, aku sayang Mama. Dan aku juga tak suka Mama mengalami nyeri seperti yang telah kualami. Tolong hati-hati.

Dengan Cinta,
Bayi Perempuanmu

24 August 2009

Kisah Sally Di Meja Operasi

Sally bergegas menemui dokter bedah yang baru saja keluar dari kamar operasi. Dia bertanya "Bagaimana keadaan anak laki-laki saya? Apakah dia baik-baik saja? Kapan saya dapat melihatnya?"

Dokter bedah itu berkata, "Maafkan kami, kami telah melakukan segala yang bisa kami lakukan".

Sally berkata, "Mengapa anak laki-laki saya mendapatkan kanker, apakah Tuhan sudah tidak sayang? Tuhan, dimana Engkau ketika anakku membutuhkanMu?"

Dokter itu berkata, "Salah satu dari perawat akan keluar dari kamar operasi beberapa saat lagi dan anda dapat mendampingi jenazah anak anda sebelum dipindahkan ke universitas". Sally memohon supaya perawat itu menemaninya ketika dia mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya.

Sally menyentuh rambut pirang anaknya. Perawat itu berkata, "Apakah kamu menginginkan segenggam rambutnya?" Sally mengangguk. Perawat itu memotong segenggam rambut anak itu, memasukkannya ke dalam kantong plastik dan memberikannya ke Sally. Sally berkata, "Ini adalah ide Jimmy untuk memberikan tubuhnya ke Universitas untuk penelitian. Dia berkata ini akan dapat membantu orang lain", dan itu yang diinginkannya.

Pada awalnya saya tidak setuju, tapi Jimmy berkata, "Mama, saya tidak akan menggunakannya setelah saya meninggal, mungkin ini dapat membantu anak-anak yang lain untuk dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama mamanya".

Sally berkata, "Jimmyku mempunyai hati emas, selalu memikirkan orang lain dan selalu ingin membantu orang lain sebisanya".

Sally berjalan keluar dari rumah sakit anak-anak itu untuk untuk yang terakhir kalinya setelah dia menghabiskan waktu selama 6 bulan disana. Dia meletakkan tas yang berisi barang-barang milik Jimmy ke sebelah tempat duduknya di dalam mobil. Perjalanan pulang saat itu sangatlah berat dan bahkan lebih berat lagi untuk memasuki rumah yang kosong. Dia membawa tas tersebut ke kamar Jimmy dan mulai meletakkan mobil-mobilan dan barang-barang yang lain kembali ke tempat dimana Jimmy selalu menyimpannya. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang anaknya dan menangis sampai dia tertidur sambil memeluk bantal anaknya.

Sally terbangun sekitar tengah malam dan dia atas ranjang, di tempat dia tertidur, dia menemukan surat yang terlipat. Dia membukanya, dan surat itu berisi:

Untuk Mama,
Saya tahu kalau kamu akan merindukanku, tapi jangan berpikir kalau aku akan pernah melupakanmu atau berhenti menyayangimu karena aku tidak berada disekitarmu untuk mengatakan bahwa aku menyayangimu. Aku akan memikirkanmu setiap hari dan aku akan menyayangimu bahkan lebih tiap harinya.

Suatu hari kita akan bertemu kembali. Jika kamu mau mengadopsi anak, kamu tidak akan kesepian, dia boleh menggunakan kamar saya dan semua permainan yang saya miliki. Kalau mama mau mengadopsi anak perempuan, mungkin dia tidak akan melakukan hal yang sama seperti anak laki-laki, jadi kamu harus membelikannya boneka dan permainan yang lainnya. Jangan sedih ketika kau memikirkan aku, tempat
ini benar-benar menyenangkan.

Nenek dan Kakek menemuiku segera setelah aku sampai disini dan membawaku berkeliling, tapi akan butuh waktu yang lama untuk melihat semuanya yang ada disini. Malaikat-malaikat disini sangat ramah, Saya suka melihat mereka terbang. Yesus tidak seperti gambar yang pernah aku lihat tentang Yesus, tetapi saya tahu bahwa itu Dia setelah saya melihatNya. Yesus membawaku untuk menemui Tuhan. Dan kau tahu Mama? Saya duduk dipangkuan Tuhan dan berbincang dengannya layaknya aku ini seorang yang sangat penting. Saya beritahu Tuhan bahwa saya ingin menulis surat untukmu untuk mengucapkan selamat tinggal dan menceritakan semuanya, tapi saya tahu bahwa itu tidak memungkinkan.

Tuhan memberi aku sebuah kertas dan juga pena pribadiNya yang aku pakai untuk menulis surat ini. Saya pikir nama malaikat yang akan mengirimkan surat ini kepadamu adalah Gabriel.

Tuhan meminta aku untuk memberimu jawaban atas satu pertanyaan yang kau tanyakan padaNya. Dimana Dia ketika aku membutuhkanNya? Tuhan berkata, "Di tempat yang sama ketika Yesus berada di salib". Dia berada disana, seperti Dia selalu bersama semua anak-anakNya.

O ya Mama, tidak ada orang lain yang bisa melihat apa yang tertulis di kertas ini kecuali kamu. Untuk orang lain, ini akan terlihat seperti selembar kertas kosong.

Saya harus mengembalikan pena ini kembali kepada Tuhan sekarang, Dia harus menuliskan beberapa nama lagi dalam Buku Kehidupan.

Malam ini, saya akan duduk bersama Yesus untuk menikmati makan malam. Saya yakin makanannya akan enak. Saya hampir lupa memberitahukanmu. Sekarang, saya tidak sakit lagi, kankernya telah hilang. Saya bahagia karena saya sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit itu dan Tuhan juga tidak tahan lagi melihat saya menderita kesakitan, jadi Dia mengirimkan Malaikat Pengampun untuk menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa aku adalah kiriman yang special.

Dengan kasih sayang,

22 August 2009

Kasih Yang Berkorban

Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, "Bu, aku mengasihimu!"

Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"

Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.

Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi." Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."

Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos." Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan." Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.

Seringkali kita berkata kepada orang tua kita, "Bapa, mama, aku mengasihimu." Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orang tua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orang tua dan sesama kita, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus.
Sering kita berkata-kata kepada Tuhan, "Tuhan saya mengasihiMu.....", namun kita hanya berkata-kata saja tanpa dengan tulus hati mengasihiNya...tanpa mewujudkannya melalu perbuatan kita.....

Guys, ayo kita menjadi seperti anak bungsu pada renungan diatas.....

21 August 2009

Siapa Yang Hebat?

Mazmur 115:1 "Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 52; Markus 2; Yesaya 57-58

Selama masa Perang Dunia II, Harry Truman yang berasal dari Partai Demokrat diangkat menjadi Presiden Amerika Serikat ke-33 menggantikan pendahulunya Franklin Delano Roosevelt yang meninggal dunia. Harry Truman mengatakan bahwa ia merasa ada beban yang sangat berat dijatuhkan di atas pundaknya. Karena itu ia meminta agar orang-orang berdoa untuknya.

Diceritakan pula bahwa seorang rekan lamanya yang bernama Sam Rayburn, berusaha membantunya menjadi yang rendah hati dengan berkata, "Orang-orang akan melihat dirinya dan mereka akan berkata betapa hebatnya kau, Harry, tetapi kita berdua tahu bahwa sebenarnya kau tidaklah hebat."

Dalam II Tawarikh 26, kita membaca tentang Uzia, seorang raja yang sangat hebat. Ia dinobatkan menjadi raja saat berumur 16 tahun dan memerintah bangsa Yehuda selama 52 tahun lamanya (ayat 1-3). Ia juga adalah seorang raja yang takut akan Allah, dan memimpin bangsanya dalam kemakmuran untuk jangka waktu yang cukup lama.

Kemasyuran Uzia tersebar luas sampai ke wilayah di luar Yehuda, namun ia terlena karena mendengar pujian orang banyak tentang betapa hebat dirinya. Dengan sombong ia kemudian mengambil peran imam, padahal tugas itu disediakan Allah hanya bagi mereka yang adalah keturunan Harun. Oleh karena ketidaktaatannya itu, Allah kemudian menimpakan penyakit kusta kepadanya (ayat 19).

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti menemui ada banyak orang hebat, mungkin mereka adalah musisi yang hebat atau olahragawan yang hebat, tetapi sesungguhnya tidak ada satu pun diantara mereka benar-benar hebat. Mereka semua pastilah memiliki kelemahan masing-masing yang mungkin tidak ada satu pun yang mengetahuinya.

Allah yang adalah pencipta alam semesta ini, Dia-lah yang sebenarnya terhebat. Bahkan orang-orang hebat yang Anda kagumi saat ini, mereka pun diberikan Tuhan kemampuan agar bisa melakukan hal-hal yang menginsipirasi hidup Anda. Oleh karena itu datanglah kepada Tuhan karena hanya Dia saja yang benar-benar hebat dan layak di puji.

Pikiran yang terlalu banyak tentang diri sendiri membuat pikiran Anda tentang Allah menjadi terlalu sedikit

Jawaban.com

Weekly Scripture - Amsal 16:32

"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." - Amsal 16:32

Janji Pertemuan

Jam enam kurang enam menit, kata jam bundar besar diatas meja informasi di Grand Central Station. Letnan Angkatan Darat bertubuh jangkung dan muda usia yang baru datang dari arah rel kereta mengangkat wajahnya yang tebakar matahari, dan matanya memicing untuk melihat waktu yang tepat. Jantungnya berdebar keras sehingga mengejutkannya karena ia tak dapat mengendalikannya. Enam menit lagi, ia akan bertemu dengan wanita yang telah mengisi tempat istimewa dalam hidupnya selama 13 bulan ini, wanita yang belum pernah ia lihat, tapi yang kata-kata tertulisnya telah menemaninya dan senantiasa menabahkan hatinya. Ia berdiri sedekat mungkin ke meja informasi, sedikit di luar lingkaran orang yang mengerumuni petugas.

Letnan Blandford teringat suatu malam tertentu, saat pesawatnya terperangkap di tengah sekelompok kaum Zero. Ia melihat wajah salah seorang pilot musuh yang menyeringai. Dalam salah satu suratnya, ia mengakui pada sahabat penanya bahwa ia seing merasa takut, dan hanya beberapa hari sebelum pertempuran ini, ia menerima jawaban surat darinya: "Tentu saja kamu takut.. semua pria pemberani pun begitu. Bukankah Raja Daud juga mengenal takut? Karena itulah dia menulis Mazmur 23. Lain kali, saat kamu meragukan dirimu, aku ingin kamu mendengar suaraku membacakan ini untukmu "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku". Dan ia ingat; ia mendengar khayalan suaranya, dan suara itu memperbaharui kekuatan dan keterampilannya.

Sekarang ia akan mendengar suara aslinya. Pukul enam kurang empat. Wajahnya semakin tegang. Di bawah atap luas berbintang, orang berjalan bergegas, seperti benang-benang berwarna dianyam ke dalam jaring-jaring kelabu. Seorang gadis mendekatinya, dan Letnan Blandford tersentak. Gadis ini memakai sebuah bunga merah pada kelepak jasnya, tapi bunganya adalah bunga buncis merah, bukan mawar merah kecil yang sudah mereka sepakati. Lagipula, gadis itu terlalu muda, sekitar 18, sedangkan Hollis Meynell sudah sejujurnya mengatakan bahwa ia berumur 30.

"Memangnya kenapa?" ia menjawab waktu itu.

"Aku 32."

Padahal, usianya baru 29. Pikirannya kembali pada buku-buku itu yang pasti ditaruh sendiri oleh Tuhan ke dalam tangannya dari antara ratusan buku perpustakaan Angkatan Darat yang dikirim ke kamp latihan Florida. Of Human Bondage, judulnya; dan di seluruh buku itu ada catatan yang ditulis dengan tulisan wanita. Ia selalu membenci kebiasaan mencoret-coret buku, tapi kata-kata ini berbeda. Ia tak pernah menyangka bahwa seorang wanita dapat memandang ke dalam hati seorang pria dengan begitu lembut, begitu pengertian. Namanya ada pada sampul: Hollis Meynell.

Ia mencari buku telepon New York City dan menemukan alamatnya. Ia menyuratinya, dan wanita itu membalas. Hari berikutmya ia dikirim pergi, tapi mereka melanjutkan surat-menyurat. Selama 13 bulan, wanita itu dengan setia membalas, dan lebih dari sekedar membalas. Saat surat si letnan tidak tiba, wanita itu tetap menulis dan sekarang si letnan yakin bahwa ia mencintai wanita itu dan wanita itu mencintainya. Tapi, wanita itu menolak semua permintaannya untuk mengirimkan fotonya. Tentu saja hal tersebut kurang baik.

Tapi ia menjelaskan, "Kalau perasaanmu terhadapku sungguh-sungguh, berdasarkan ketulusan hati, wajahku tidak akan menjadi masalah. Misalnya aku memang cantik. Aku akan selalu dihantui perasaan bahwa kamu mengambil keputusan berdasarkan hal itu, dan cinta semacam itu membuatku jijik. Misalkan aku biasa-biasa saja (dan kamu harus mengakui bahwa ini lebih mungkin). Lalu aku akan selalu cemas bahwa kamu terus menyuratiku karena kamu kesepian dan tak punya orang lain. Jangan, jangan minta fotoku. Kalau kamu datang ke New York, kamu bisa menemuiku, lalu kamu dapat mengambil keputusan. Ingat, kita berdua bebas untuk menghentikan atau melanjutkan persahabatan kita-apa pun yang kita pilih."

Pukul enam kurang satu - hati Letnan blandford meloncat lebih tinggi dari yang pernah dilakukan pesawatnya. Seorang wanita muda melangkah ke arahnya. Tubuhnya tinggi dan ramping; rambut pirangnya mengikal dari telinganya yang indah. Matanya biru bagai bunga, bibir dan dagunya memiliki ketegasan yang lembut. Dalam pakaian hijau pucat, ia seperti penjelmaan masa musim semi. Ia melangkah ke arah wanita itu, benar-benar lupa melihat bahwa si wanita tidak memakai bunga mawar, dan saat ia bergerak, sebuah senyuman kecil menantang melengkungkan bibirnya.

"Awas tertabrak, bung?" gumannya. Dengan tak terkendalikan, ia melangkah selangkah mendekatinya. Lalu ia melihat Hollis Meynell. Wanita itu berdiri hampir tepat di belakang gadis tadi, seorang wanita berusia jauh di atas 40, rambutnya yang beruban dimasukkan di bawah topi tua. Tubuhnya lebih dari gemuk; pergelangan kakinya dijejalkan ke dalam sepatu hak rendah. Tapi, ia mengenakan mawar merah pada kelepak kusut jaket coklatnya. Gadis berpakaian hijau tadi telah bergegas pergi. Blandford merasa seakan terbelah dia, begitu kuat hasratnya untuk mengikuti si gadis, tapi begitu dalam kerinduaannya pada wanita yang jiwanya telah menemani dan menjunjung jiwanya; dan wanita itu berdiri di depannya. Wajahnya yang montok pucat terlihat lembut dan bijak; ia dapat melihatnya sekarang. Mata kelabunya berkelip hangat dan ramah.

Letnan Bladford tidak ragu-ragu. Jarinya mencengkeram buku kecil Of Human Bondage yang berkulit biru dan sudah usang, yang menjadi ciri-cirinya untuk si wanita. Ini tak akan menjadi cinta, tapi akan menjadi sesuatu yang berharga, sesuatu yang lebih langka daripada cinta-persahabatan yang telah dan selalu akan disyukuri olehnya. Ia menegakkan bahunya yang lebar, memberi hormat, dan menyodorkan buku itu pada si wanita, meskipun selagi ia bicara, ia merasa kaget oleh kepahitan rasa kecewanya.

"Saya Letnan John Blandford dan ibu... ibu adalah Bu Meynell. Saya senang kita bisa bertemu. Bolehkah... bolehkah saya mengajak Ibu makan malam?"

Wajah wanita itu melebarkan senyuman sabar. "Ibu tak tahu ini masalah apa, nak," jawabnya. "wanita berbaju hijau - yang baru saja lewat - memohon Ibu mengenakan mawar ini pada baju ibu. Dan katanya, kalau kamu mengajak Ibu makan, Ibu harus memberi tahu, dia menunggumu di rumah makan besar di seberang jalan. Katanya ini semacam ujian. Ibu sendiri punya dua putra yang jadi tentara, jadi Ibu tak berkeberatan menolongmu.

20 August 2009

Haruskah Aku Mencintaimu

Saudaraku,
Saat-saat ini aku masih berpikir dan menimbang-nimbang, apakah aku harus mencintaimu setulus hatiku? Apa pentingnya mencintaimu? Toh sudah banyak yang memperhatikan dan melayanimu!! Siapakah aku ini sehingga aku tergerak untuk memperhatikanmu juga? Namun, apa yang bisa kuandalkan dalam diriku untuk mencintaimu? Aku tidak memiliki apapun untuk diberikan padamu! Bagaimana aku bisa mencintaimu tapi aku tidak memberi apapun padamu?

Sahabatku,
Sebelum kujawab pertanyaanmu, aku ingin memanggilmu bukan Saudaraku tapi Sahabatku. Aku ingin mengatakan padamu, "Mengapa engkau masih berpikiran, bahwa cinta itu harus memberi apa yang dimilikinya? " Cinta itu bukanlah memberi apa yang engkau miliki secara fisik saja! Cobalah perhatikan, janin dalam kandungan ibunya, anak-anak kecil, sampai remaja, yang masih tergantung kebutuhan hidup pada orang tuanya, bahkan anak anak cacat pun mampu mencintai orang tua dan saudara-saudaranya. Seorang anak dalam rahim ibu mencintai dengan kondisinya yang terbatas, ia mempercayakan pertumbuhan dan berkembangnya tubuh pada keputusan dan tindakan ibu dan ayahnya. Anak itu tidak memiliki "daya untuk membela diri": dia pasrah untuk dirawat dan dibesarkan orang tuanya. Anak yang cacat dan memiliki kebutuhan "khusus" selalu menawarkan kesempatan untuk diperhatikan, disayang, dilayani dan diistimewakan. Hidupnya yang terbatas menciptakan "kesempatan terindah dalam sejarahnya", yakni kesempatan bagi orang lain untuk terlibat dalam kesulitan hidupnya. Tanpa disadari, mereka pun mendewasakan orang yang normal fisik dan jiwanya...untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mampu mencintai.

Saudaraku,
Setelah mendengarkan penjelasanmu, rasanya "dalam kesempatan" itu tersembunyi "kehendak bebas". Anak-anak yang kecil, remaja, bahkan mereka yang cacat selalu menawarkan kesempatan untuk diperhatikan dan dilayani. "Kesempatan" itu sebuah "ruang" yang membuat orang mampu untuk ambil keputusan. Masalahnya bagaimanakah kita menemukan "kesempatan- kesempatan" itu kalau kita masih takut mengalami kesepian, takut ditinggalkan, masih kuatir dengan masa depan, takut tidak ada sahabat yang menyapa lagi, takut masalah tidak selesai, kuatir tidak lagi punya rejeki dst. Dalam kekuatiran dan bahkan ketakutan, menghambat kita untuk melihat "dunia di luar sekitar kita". Ada banyak orang: anak anak, remaja, orang kecil, orang lemah, orang putus asa, orang lapar, orang tahanan, ...mereka jelaslah menawarkan "kesempatan untuk dilayani". Kesempatan itu akan kita kenal, kalau kita mulai belajar percaya, bahwa hidup ini milik Tuhan. Hidup anak-anak dalam kandungan ibunya, anak balita, remaja, dan anak anak cacat, adalah milik Tuhan. Merekapun secara pribadi , sungguh istimewa dalam hidup Tuhan. Mereka juga adalah citra Allah, tanda kehadiran Tuhan.

Sahabatku,
Kata-katamu meneguhkan aku! Justru karena manusia itu citra Allah, milik Tuhan, dan hidup kita semua milik-Nya, itulah yang menantang dan menggerakkan kehendak bebas kita untuk saling mengasihi, bukan untuk saling menindas.

Saudaraku,
Tanpa disadari, pertanyaanku akhirnya terjawab ya! Tidak ada keharusan untuk mencintai, tetapi yang ada adalah pilihan untuk "ambil keputusan mencintai dengan kehendak yang sungguh sungguh bebas, bukan terpaksa mencintai".

Warm regards!

Bicaralah Seperti Tuhan Yesus

Markus 11:23 : "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 51; Markus 1; Yesaya 55-56

Hidup dalam iman tidaklah semudah dikatakan, tetapi bukan berarti juga tidak menerapkannya. Ayat diatas menjelaskan mengenai bagaimana agar iman seseorang dapat menjadi kenyataan di dalam dunia ini.

Yesus tidak pernah pernah berkata kepada murid-muridnya, "Barangsiapa berkata kepada Tuhan tentang gunung ini." Dia berkata bahwa mereka harus memperkatakan langsung kepada gunung itu hasil yang diinginkan.

Mungkin hal ini bila dilihat dari sudut pandang duniawi terdengar bodoh. Namun, Tuhan bekerja melalui hal-hal tersebut. Dia bahkan memakai orang-orang bodoh di dunia ini untuk mempermalukan yang berhikmat. Bodoh disini bukan berarti kita tidak perlu belajar, tetapi lebih kepada penundukkan akal pikiran kita kepada kemahakuasaan dan kebesaran Tuhan.

Saat kita mulai menundukkan ke-ego-an diri maka sebenarnya Tuhan sedang bekerja. Bahkan iman Anda pun akan bekerja seketika itu juga ketika Anda menggunakannya. Mengapa hal itu bisa terjadi? karena iman selalu selaras dengan firman Tuhan.

Apabila iman yang sesuai dengan firman Tuhan itu Anda perkatakan maka sesuatu luar biasa pasti terjadi. Kuasa perkataan Anda akan sama seperti Yesus ketika berada di dunia ini. Yesus tidak pernah sekalipun ragu akan setiap ucapan yang dikeluarkan-Nya. Ketika Yesus berkata pada pohon Ara dalam Markus 11:14, Dia tidak kembali untuk memeriksa apakah sesuatu telah terjadi kepadanya. Tidak, sekali Dia telah mengatakannya, Dia menganggap hal itu telah terjadi.

Ikutilah teladan-Nya. Biarlah iman Anda berbicara. Bersepakatlah dengan firman Tuhan.

Yesus adalah guru terbaik di dalam hidup ini

Jawaban.com

19 August 2009

Kotak Korek Api

Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak korek api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja! Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang. Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri. Ia mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini." Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman. Dia tidak membentur. Saat itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah benar kan ? Kemampuan saya memang cuma segini. Inilah saya!"

Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api. Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya. Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api. Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung. Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda.

Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api. Coba ingat, ketika dia bicara begini, "Ngapain sih kamu kerja keras seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok." Ingat! Mereka adalah kotak korek api. Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.

Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya. Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari. Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take action untuk menembus kotak korek api itu. Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang dibawah rata-rata ia mampu menjadi presenter di televisi. Andapun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata yang buta, tuli dan "gagu" dia mampu lulus dari Harvard University. Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi "raja" komputer. Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar namun mampu menjadi motivator nomor satu di Indonesia. Contoh lain Meneg BUMN, Bapak Sugiharto, yang pernah menjadi seorang pengasong, tukang parkir dan kuli di Pelabuhan. Kemiskinan tidak menghambatnya untuk terus maju. Bahkan sebelum menjadi menteri beliau pernah menjadi eksekutif di salah satu perusahaan ternama.

Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan setelah usianya lewat 65 tahun. Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast food ketika usianya sudah lebih dari 62 tahun. Nah, bila anda masih terkungkung dengan kotak korek api, pada hakekatnya anda masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba, Helen Keller, Andre Wongso, Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela adalah orang yang mampu menembus kungkungan kotak korek api. Merekalah contoh sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus berbagai keterbatasan.

BREAK YOUR BORDER . . . . TOUCH THE SKY . . . . !
Semoga dapat memacu kita untuk berkarya dimanapun .....

Bagian Dari Anugerah

Filipi 2:8 : "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 50; Filipi 1; Yesaya 53-54

Ada seorang gadis muda di Afrika mengunjungi rumah ibu gurunya dan memberikan sebuah hadiah natal kepada ibu gurunya itu. Hadiah itu berupa sebuah kulit kerang yang sangat indah. Ibu guru itupun menerimanya dengan senang hati, lalu kemudian bertanya kepada gadis itu, "Hadiah itu sungguh sangat indah! Dari mana kamu memperoleh kulit kerang ini?" Gadis muda itu pun memberitahu gurunya bahwa kulit kerang seperti itu hanya dapat ditemukan di tepi pantai.

Ibu guru itu merasa sangat terharu karena ia tau persis bahwa gadis itu harus berjalan menuju pantai berkilo-kilo meter jauhnya demi mendapatkan kerang tersebut. Ibu guru itu pun kemudian berkata kepada gadis itu, "Seharusnya kamu tidak perlu berjalan sejauh itu hanya untuk mencari hadiah bagi ibu." Tetapi sambil tersenyum gadis itu menjawab, "Perjalanan jauh itu adalah bagian dari hadiah."

Gadis muda ini, yang lebih bijaksana dari usianya, barangkali tidak mengetahui bahwa ia sedang menyampaikan kebenaran tentang Yesus Kristus. Yesus memberikan hadiah atau anugerah yang indah berupa kehidupan yang kekal kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Anugerah ini mencakup pengampunan atas semua dosa kita, dan kasih Allah yang tidak pernah mengabaikan kita.

Anugerah Yesus Kristus juga dimulai dengan sebuah perjalanan. Dia meninggalkan semarak kemuliaan surga untuk datang ke dunia yang penuh dengan dosa. Dia menjadikan diriNya menjadi manusia dan menyusuri jalan panjang menuju pengorbanan di atas kayu salib. Disanalah Dia menanggung dosa kita dan semua hukumannya.

Mungkin saat ini Anda akan berkata kepada Yesus seperti halnya Ibu guru terhadap gadis muda itu, "AnugerahMu terlalu besar Yesus. Engkau tidak seharusnya melakukan perjalanan sejauh itu dan menanggung semua itu." Dan dengan penuh kasih dan lembut Yesus akan berkata kepada Anda, "Perjalanan itu adalah bagian dari anugerah."

Anugerah terbesar dalam hidup ini adalah ketika Tuhan mengangkat Anda menjadi anak-Nya

Jawaban.com

Berkat Tuhan Yesus

"Saya yakin Tuhan Yesus Kristus selalu memberkatiku dan mengobatiku dalam suka maupun duka."


18 August 2009

CIBFest 2009

Shalom,

Terima kasih buat dukungan temen2 buat blog ini di ajang CIBFest 2009, sementara rumahrenungan ini masuk 10 besar...

http://www.jawaban.com/news/cibfest/detail.php?id_news=090818184854

Semoga blog ini tetep menjadi berkat buat semuanya...

Mohon dukung terus blog ini di : http://jawaban.com/news/cibfest/form_vote.php?blog_id=88

Terima kasih... Jesus Bless You All....

17 August 2009

Kebebasan Yang Berbahaya

Galatia 5:13 "Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 48; Titus 2; Yesaya 49-50

Kebebasan. Siapa yang tidak ingin mengalami kebebasan, siapa pun dia baik itu orang kaya atau pun orang miskin, orang pintar atau orang bodoh, tidak ada yang mau hidup dalam kekangan atau keterikatan, semuanya ingin bebas merdeka. Namun, demikian kebebasan akan menjadi berbahaya apabila berada di tangan orang-orang yang tidak tahu bagaimana menggunakannya. Itulah sebabnya kawat duri, jeruji baja, dan tembok beton digunakan untuk mengurung para pelaku kriminal. Atau coba kamu bayangkan bila api unggun dibiarkan menyala di hutan kering, maka segera saja hutan itu akan menjadi lautan api. Kebebasan yang tidak diawasi dapat menimbulkan kekacauan.

Tidak ada orang yang lebih nyata dalam kehidupan Kristen. Orang-orang percaya dilepaskan dari kutukan yang mendatangkan maut, mereka semua juga bebas dari hukuman dan tekanan rasa bersalah. Ketakutan, kecemasan dan rasa bersalah yang selama ini mereka alami telah digantikan oleh kedamaian, pengampunan, dan kemerdekaan. Siapakah yang lebih bebas daripada orang yang jiwanya telah dibebaskan? Namun harus kita akui dengan jujur, bahwa justru disinilah kita seringkali gagal. Kita menikmati kebebasan untuk hidup seenaknya atau menganggap apa yang Allah percayakan sebagai milik pribadi. Kita terjebak dalam hidup yang hanya menyenangkan diri sendiri, khususnya dalam masyarakat yang makmur.

Cara yang tepat untuk menggunakan kebebasan adalah melayani sesama dengan "iman yang bekerja oleh kasih" (Galatia 5:6, 13). Ketika kita bersandar pada Roh Kudus dan mencurahkan tenaga dalam mengasihi Allah dan menolong orang lain, perbuatan daging yang menghancurkan akan dikendalikan Allah (ayat 16-21). Karena itu, marilah selalu menggunakan kebebasan untuk membangun, bukan untuk menjatuhkan.

Seperti halnya api yang menyala-nyala yang dapat membakar apa saja yang didekatnya, maka kebebasan tanpa batas sangatlah berbahaya. Tetapi jika Anda mampu mengontrol kebebasan tersebut, maka akan jadi berkat bagi banyak orang.

Kebebasan tidak memberi hak untuk melakukan apa yang menyenangkan Anda, melainkan melakukan yang menyenangkan Allah

Jawaban.com

Hidup

Kita hidup bukan untuk mencari kebahagiaan, tapi untuk membuat orang bahagia. Membuat orang lain bahagia itu diminta kesediaan untuk mendengarkan, memahami, merasakan, dan mengakui dirinya sebagai pribadi yang bernilai dan berarti bagi hidupmu!

Hidup tidak untuk mencari kenyamanan, melainkan jadikanlah kehadiranmu itu membuat orang lain nyaman! Orang merasa nyaman bukan karena diberi uang saja tetapi karena ia merasa tidak dihakimi dan dinilai menurut kacamata kita. Ia nyaman karena ia diberi kesempatan untuk meminjam telingamu agar curahan hatinya terungkapkan pada dirimu!

Hidup tidak untuk mencari kepastian, melainkan berikanlah selalu kepastian saat orang membutuhkan pelayananmu. Orang yang membutuhkan pelayanan itu biasanya bingung dan gelisah, karena ia berada dalam situasi krisis. Karena itu janganlah ragu-ragu untuk bertanya, “Apakah yang bisa kubantu agar engkau bisa lega lagi?”

Hidup tidak untuk mencari sekedar kehangatan yang menghibur pada saat kesepian. Namun jadikanlah dirimu orang yang hangat dengan lebih suka menyapa orang lain  daripada disapa, juga kalau orang yang engkau sapa adalah orang orang yang paling tidak menyenangkan sekalipun!

Hidup itu tidak usah kembali ke masa lalu, dan ingin mengulang kisah kasih yang pernah terajut di masa lalu, namun hidup itu kenangan akan cinta Tuhan, agar kita tidak ragu-ragu menatap dan melangkah di masa depan meski ada banyak ketidakpastian.

Hidup itu tidak usah mencari kekayaan sebanyak mungkin, melainkan jadikanlah orang lain menjadi sejahtera, dan engkau sungguh menjadi orang yang hidupnya “kaya”!

Hidup itu tidak usah mencari pujian, penghormatan, penghargaan, atau ucapan terima kasih sekalipun. Akan tetapi janganlah engkau lupa menghargai jerih payah orang yang bekerja demi kepentinganmu, juga kalau pekerjaan mereka sangat sepele sekalipun. Hidup itu tidak usah menyelesaikan masalah sampai tuntas, karena masalah itu ibarat kita masuk sebuah pintu rumah, tetapi kita akan mendapatkan 3 pintu yang mesti kita buka lagi. Karena itu masalah adalah tanda tanda yang jelas yang menunjukkan titik tolak kita untuk menemukan peluang berkembang.

Hidup itu tidak usah kuatir akan ketidakpastian masa depanmu, tetapi lihat dan rasakanlah dalam ketidakpastian engkau diberi kesempatan untuk “bersyukur” kepada Tuhan, yakni mengakui keterbatasanmu sebagai manusia yang tidak mampu menguasai hidupmu sendiri, di sisi lain ditantang untuk mengakui betapa Tuhan itu mau hadir dan terlibat dalam diri kita. Soalnya apakah kita mau mengundang Tuhan terlibat?

Hidup orang percaya itu tidak bertujuan mencari kepuasan dan kenikmatan rohani, seperti orang mendaki puncak gunung, janganlah memetik bunga sekuntumpun sebelum engkau sampai di puncak. Demikianlah juga, janganlah mencari kepuasan rohani, yang sebenarnya bukan iman itu sendiri, melainkan carilah Tuhan, dengan mencintai-Nya dan mencintai sesama, sehingga sampailah kita suatu saat nanti “bersatu” dengan Tuhan.

16 August 2009

Mencari Yang Aman

II Timotius 1:7 : "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 47; Titus 1; Yesaya 47-48

Pendiri dan pimpinan sebuah perusahaan penerbangan yang sukses di Amerika Serikat suatu hari mengungkapkan filsafat bisnisnya kepada wartawan yang mewawancarainya, "Saya suka melakukan hal-hal yang menakutkan. Tanpa ketakutan, tidak ada keberanian." Itulah yang menyebabkan ia selalu mencari kemungkinan-kemungkinan untuk dapat memperluas jangkauan penerbangan, bukannya berpuas diri dengan kekayaan yang telah dicapai oleh perusahaan penerbangannya. Ia menempuh banyak resiko setiap kali ia memulai pelayanan ke kota-kota yang baru. Namun, ia tidak pernah patah semangat.

Keberanian bukan berarti tidak ada ketakutan, melainkan adanya kemauan untuk bertindak bahkan ketika kita merasa takut akan apa yang mungkin terjadi bila kita melakukannya. Ketika Paulus menulis surat kepada rekannya, Timotius, ia mendorong Timotius untuk berani bertindak demi Kristus, walaupun keberanian Paulus sendiri telah membawanya ke penjara (Baca II Timotius 1:7-8).

Ada banyak orang yang telah mencapai kesuksesan saat ini lebih "mencari yang aman" saja. Mereka tidak mau mengambil resiko lagi untuk memulai sesuatu yang baru karena mereka takut mengalami kegagalan, dan hal yang tidak sedikit pula dilakukan oleh orang-orang percaya. Orang-orang Kristiani banyak yang sudah merasa aman dengan Yesus, dan tidak berani memperkenalkan Yesus kepada orang-orang lain yang belum mengenal-Nya, karena mereka takut ditolak, takut dibenci. Tetapi, sesungguhnya "mencari yang aman" tidak sepantasnya menjadi pilihan para pengikut Kristus. Orang-orang percaya senantiasa dipanggil untuk mengidentifikasi diri secara terang-terangan dengan Yesus dan dengan mereka yang menderita karena kesetiaan kepada Kristus. Kekuatan untuk melakukan hal itu datangnya dari Roh Kudus yang diam kita.

Marilah menjadi orang-orang yang berani dan menghadapi segala sesuatu yang menakutkan pada hari ini, termasuk memperkenalkan Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal-Nya.

Menjadi pengikut Kristus berarti siap untuk mau keluar dari zona aman hidup Anda

Jawaban.com

Humor : Tidak Boleh Membuka Windows

Sinta adalah seorang karyawan baru di sebuah perusahaan swasta ternama. Sebagai seorang karyawan baru, pastinya ia akan berusaha mematuhi segala macam peraturan yang ada.

Suatu ketika Sinta bingung ketika disuruh oleh bossnya untuk membuka Microsoft Excel.

Sudah satu jam berlangsung sejak ia diperintahkan oleh sang bos untuk membuka aplikasi di dalam Microsoft Windows tersebut.

Karena ia semakin bingung, akhirnya dia pun mengambil jalan tengah dengan membuka DOS. Melihat hal ini, sang bos lantas memarahi Sinta, “Hey! Saya minta kamu buka Excel kenapa malah buka DOS...??”, teriak sang boss.

Sinta pun menjawab, “Begini bos, saya nggak mau ngelanggar peraturan..” jawabnya.

Si Boss kebingungan, dan bertanya, “Peraturan apa?”

Sambil menunjuk tulisan di dinding, Sinta membacanya, “This room is equipped with air conditioner, please do not open windows... Nah, Windows aja nggak boleh apalagi Excel!”

15 August 2009

Berhenti Bersikap Agamawi!

II Korintus 5:21 : "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 46; 2 Timotius 4; Yesaya 45-46

Ketika Anda dilahirkan baru, Anda tidak setengah dilahirkan baru atau seperempat benar. Anda dijadikan kebenaran Tuhan dalam Kristus! Anda dijadikan "sewaris dengan Kristus." Menurut Konkordansi karangan Strong kata "sewaris" (joint-beir) mengacu pada persamaan pribadi yang dilandasi persamaan pemilikan.

Yesus pergi ke Salib untuk memberi Anda hal yang telah dimiliki-Nya. Dia bangkit kembali agar Anda diciptakan kembali menurut citra-Nya. Anda adalah kemenangan dari Tuhan Yang Mahakuasa! Anda lebih dari pemenang dalam Kristus Yesus. Di dalam Bapa, Anda adalah sama seperti Yesus. Yohanes 17:23 sebenarnya menyatakan bahwa Tuhan mengasihi Anda, seperti Dia mengasihi Yesus.

Begitu Anda berani menerima kenyataan itu, hidup Anda akan berubah selama-lamanya. Anda takkan puas lagi untuk hanya duduk-duduk saja merengek dan berharap agar segala sesuatunya berbeda. Anda akan melangkah untuk menempati kedudukan kewibawaan yang telah diberi Yesus kepada Anda, untuk mengambil tempat yang menjadi hak-hak Anda di sisi-Nya dan belajar berkiprah seperti Yesus. Sebagai umat-Nya, di hadapan Tuhan, kita sama seperti Yesus.

Jika Anda mau menerima pesan itu, dan jika Anda berani menerapkannya, itu akan mengubahkan hidup Anda secara mendasar. Itu akan mengantar Anda dari alam keagamaan menuju kenyataan !

Tuhan tidak menginginkan Anda berubah karena agama, tetapi karena Anda mengalami Dia dalam hidup secara pribadi

Jawaban.com

14 August 2009

Tetaplah Berlatih, Tetaplah Berlari

Ibrani 12:1-2 : "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 45; 2 Timotius 3; Yesaya 43-44

Kita tidak dapat memimpin siapa pun lebih jauh dibanding yang telah kita lalui sendiri. Terlalu sering kita khawatir tentang hasilnya sehingga kita mencoba jalan pintas atas protes tersebut. Tidak ada jalan pintas jika integritas terlibat. Akhirnya kebenaran akan selalu tersingkap.

Suatu waktu, ada seorang konsultan yang sedang mengikuti wawancara tentang quality control. Konsultan ini begitu percaya diri dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara. Pada satu pertanyaan terakhir yang diberikan pewawancara kepadanya ia ditanyakan mengenai pengalamannya di dalam bidang quality control. Berikut jawaban yang diberikan oleh konsultan, "Dalam quality control, kita tidak peduli tentang produknya. Kita peduli tentang prosesnya. Jika prosesnya benar, produknya dijamin." Hal yang sama berlaku di dalam integritas; integritas menjamin kepercayaan.

Pada bidang olahraga dikenal prinsip "Bermainlah seperti kamu berlatih". Prinsip ini sangat penting untuk diketahui dan juga dijalankan oleh para pemimpin. Mengapa? Karena ini berbicara tentang dirinya (si pemimpin) dan kepercayaan yang akan ia terima dari orang lain.

Saat Anda ingin mempertahankan kepercayaan dari orang lain dengan disertai integritas maka kepercayaan itu akan tetap Anda terima. Tetapi, bila Anda mempertahankan hal itu tanpa integritas maka dengan cepat kepercayaan itu akan hilang.

Hasil luar biasa selalu datang dari persiapan yang luar biasa juga!!

Jawaban.com

Semut & Belalang

Seorang ibu dari seorang anak berumur 9 tahun, Mark, menerima telepon siang hari itu. Telepon dari guru sekolah anak laki-lakinya. "Ny. Smith, sesuatu yang tidak biasa terjadi hari ini di kelas anakmu. Anak laki-lakimu mengerjakan sesuatu yang sangat mengejutkan, jadi saya berpikir, anda seharusnya segera tahu tentang hal ini."

Sang ibu gelisah dan gugup ketika menerima telepon. "Apa yang terjadi?", sang Ibu bertanya-tanya.

Guru itu meneruskan, "Saya telah mengajar selama bertahun-tahun dan belum pernah terjadi sesuatu seperti ini hingga sekarang. Pagi ini saya mengajar pelajaran 'Menulis Kreatif'. Seperti biasanya, saya bercerita tentang Semut dan Belalang. Semut bekerja keras selama musim panas dan mengumpulkan banyak persediaan makanan. Tetapi belalang bermain selama musim panas dan tidak bekerja. Kemudian musim dingin datang. Belalang mulai kelaparan karena tidak memiliki makanan. Jadi dia melompat ke rumah semut dan mulai mengemis. 'Semut, tolonglah saya, kamu memiliki banyak makanan, berilah saya makanan.' Nah anak-anak, tugas kalian adalah menulis akhir cerita tersebut."

Anak laki-lakimu, Mark, mengangkat tangan. "Guru, bolehkan saya menggambar?"

"Tentu saja, Mark, kalau kamu suka, kamu boleh menggambar. Tetapi pertama-tama kamu harus menulis akhir cerita itu dulu."

Kertas-kertas dikumpulkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan murid menulis bahwa Semut membagi makanannya selama musim dingin dan baik semut maupun Belalang bertahan hidup. Seperti biasanya, beberapa anak menulis, Semut itu berkata, "Tidak, Belalang. Kamu seharusnya bekerja selama musim panas dan tidak bermain-main. Sekarang, saya hanya memiliki cukup makanan untuk diri saya sendiri." Jadi Semut itu hidup dan belalang meninggal.

Tetapi anak laki-lakimu mengakhiri cerita dengan cara yang sangat berbeda. Dia menulis, "Jadi Semut itu memberikan semua dari makanannya kepada Belalang; Belalang melalui musim dingin itu dan hidup. Tetapi sang Semut meninggal."

Di dasar halaman, Mark menggambar tiga salib. "DIA memberikan segalanya untuk kita supaya kita beroleh hidup"

13 August 2009

Cara Mengatasi Kritik

Amsal 15:5 : "Orang Bodoh menolak didikan Ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 44; 2 Timotius 2; Yesaya 41-42

Dalam wawancara di satu stasiun televisi di Amerika Serikat, Dr. Robert A. Cook yang adalah rektor King's College di New York, menceritakan pengalamannya pada tahun awal-awal pelayanannya. Saat itu ia banyak sekali menerima kritik baik itu dari para sesama rekan sejawatnya, juga dari beberapa hamba Tuan bahkan dari orang-orang awam sekalipun. Dan oleh karena itu ia kemudian meminta nasihat dari seorang pendeta yang juga temannya, yaitu Harry A. Ironside.

Dr.Cook menumpahkan seluruh isi hatinya kepada Pendeta Ironside, dan bertanya apa yang harus ia perbuat menghadapi berbagai kritik tajam yang menyerang dirinya. Pendeta Ironside memberi tanggapan yang sederhana namun berbobot, "Bob, kalau sekiranya kritik yang disampaikan kepadamu itu benar, terimalah dengan lapang dada!Tetapi kalu itu tidak benar, lupakanlah!"

Anda mungkin tidak dapat menghindar dari ejekan-ejekan menyakitkan yang meluncur dengan cepat dari orang-orang yang tidak senang kepada Anda. Namun, ketika serangan melalui kata-kata tesebut dilontarkan kepada Anda, adalah sesuatu yang baik untuk menganalisanya. Jika itu benar, ambillah langkah-langkah untuk memperbaiki situasi. Namun, jika hal itu tidak lah benar, yang perlu Anda lakukan adalah melupakannya.

Raja Daud semasa hidupnya juga mengalami kritikan dari orang lain dan ia adalah salah satu contoh baik dalam mengatasi kritik terhadapnya. Ketika ia berperang dengan Goliat, banyak kritikan tajam yang intinya meragukan kemampuan yang ia miliki. Tetapi, satu hal baik yang ia lakukan ketika itu, yakni ia melupakan kritikan yang tidak benar tersebut dan dalam akhir kisah ia menjadi pemenangnya.

Apakah saat ini Anda sedang menghadapi kritik? Atau tuduhan? Jikalau yang dikatakan orang tersebut benar, lakukan perbaikan dengan segera. Akan tetapi, bila itu hanyalah sebuah tuduhan-tuduhan tidak berdasar, janganlah mengingat-ingatnya. Itulah cara mengatasi kritik yang paling sederhana sekaligus juga yang paling ampuh.

Jangan takut akan kritik jika Anda benar, jangan sepelekan kritik jika Anda salah

Jawaban.com

Apakah Tuhan Masih Berbicara Kepada Kita?

Seorang anak muda pergi ke sebuah tempat Pemahaman Alkitab (PA) yang diadakan pada setiap hari Rabu.  Di sana sang Pendeta membawakan tema mengenai mendengarkan Tuhan dan mentaati perintah-Nya.  Si anak muda, sambil menyimak kemudian bertanya-tanya di dalam hatinya “Apakah Tuhan masih berbicara kepada kita?”.

Setelah kelas PA selesai, dia pergi bersama dengan beberapa temannya ke sebuah kedai kopi untuk mendiskusikan kata-kata Pendeta tadi sambil makan kue dan secangkir kopi sebelum pulang ke rumah masing-masing.  Hal yang hampir sering mereka lakukan setelah PA selesai.  Mereka saling memberikan kesaksian bahwa Tuhan telah memimpin hidup mereka dengan cara yang berbeda-beda.

Setelah hampir jam 10 malam, mereka keluar dari kedai tersebut untuk pulang ke rumah masing-masing. Sang anak muda pun mengendarai mobilnya pulang.  Di dalam mobil dia berdoa, “Tuhan, kalau Engkau masih suka berbicara kepada kami, berbicaralah kepadaku, aku akan mendengar, aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk mentaatinya”.

Selama perjalanan pulang, dia mendadak mempunyai ide yang aneh untuk membeli satu galon susu.  Dia menggelengkan kepalanya dan berkata "Tuhan, Engkaukah itu?". 

Tetapi dia tidak mendengar jawaban apapun dan dia tetap berjalan pulang.  Akan tetapi keinginan untuk membeli satu galon susu tersebut terus ada di kepalanya.  Kemudian si anak muda ini berpikir mengenai Samuel yang tidak mengenali suara Tuhan and bagaimana Samuel berlari ketakutan menghampiri Eli. 

"Baik Tuhan, kalau ini Engkau, aku akan membeli susu tersebut", pikirnya ini bukan merupakan hal yang sulit untuk suatu tes ketaatan and susu ini masih bisa dipakai untuk hal lain.  Dia kemudian berhenti, membeli satu galon susu dan kembali menyetir menuju rumah.

Pada saat melewati sebuah perempatan yang menuju ke Seventh Street, dia merasa bahwa dia harus berbelok ke jalan tersebut.  "Tidak mungkin" pikirnya dan dia terus menyetir melewati perempatan tersebut.  Akan tetapi, kembali pikiran itu ada di kepalanya dan dia merasa bahwa dia harus berputar arah untuk kembali ke Seventh Street.  Akhirnya pada perempatan berikutnya, dia memutar mobilnya dan menuju Seventh Street. 

Setengah bercanda dia berteriak "Baik Tuhan, aku taat".  Dia berjalan beberapa saat sebelum dia merasa bahwa dia harus berhenti.  Dia berhenti dan memperhatikan sekelilingnya.  Dia berada di suatu daerah pertokoan yang agak lumayan, tidak kumuh tapi juga bukan daerah yang mahal.  Sudah tidak ada kegiatan sama sekali dan semua rumah di sana sudah gelap yang sepertinya semua orang sudah berada di tempat tidur.            

Kembali dia merasakan sesuatu di dalam hatinya "Pergi dan berikan susu ini ke rumah yang ada di seberang jalan". 

Si anak muda melihat ke rumah tersebut.  Rumah tersebut sudah gelap dan tampaknya si pemilik rumah sedang pergi atau sudah tidur.  Dia kembali duduk di mobilnya dan berkata "Tuhan, ini kelewatan, orang di dalam rumah tersebut sedang tidur dan kalau aku membangunkan mereka, mereka pasti marah dan aku akan terlihat seperti orang bodoh".                                        

Akan tetapi kembali dia merasa bahwa dia harus memberikan susu ini.  Akhirnya dia membuka pintu mobilnya "Baik Tuhan, apabila ini Engkau, aku akan pergi ke rumah itu dan memberikan susu ini kepada mereka.  Apabila Engkau memang ingin melihat aku seperti orang bodoh, tidak apa-apa, aku ingin menjadi orang yang taat.  Pasti hal ini akan ada manfaatnya, akan tetapi jika aku mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, aku akan pergi dari sini".

Dia membuka pintu mobilnya dan menekan bel di depan pintu.  Dia mendengar ada ribut-ribut di dalam rumah dan ada teriakan laki-laki "Siapa di situ? Apa maumu?". 

Kemudian pintu terbuka sebelum si anak muda tersebut dapat pergi menghindar.  Lelaki tersebut berdiri dengan celana jeans dan kaos oblong, sepertinya dia baru bangun dari tempat tidur.  Dia tampak tidak senang melihat orang asing di depan pintu rumahnya.  Si anak muda memberikan susu tersebut "Ini saya membawa susu". 

Laki-laki tersebut segera mengambil susu tersebut dan sambil membawa susu tersebut ke dalam rumah dia berteriak dalam bahasa Spanyol.  Kemudian seorang wanita menghampiri dan membawa susu tersebut ke dapur.  Laki-laki tersebut mengikutinya sambil menggendong seorang bayi.  Bayi tersebut sedang menangis.  Air mata mengalir di muka lelaki tersebut.  Lelaki tersebut berkata sambil setengah menangis "Kami baru saja berdoa. Kami banyak tagihan dan kami sudah tidak punya uang lagi bahkan tidak ada uang untuk membeli susu untuk bayi kami.  Kami meminta Tuhan untuk menunjukkan bagaimana caranya kami dapat mendapatkan susu untuk bayi kami". 

Istrinya kemudian berteriak "Kami meminta Tuhan untuk mengirimkan malaikat dengan membawa ........, hei apakah kamu seorang malaikat?"

Anak muda tersebut kemudian mengambil dompetnya dan memberikan semua uangnya ke tangan lelaki tersebut.  Dia berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya dan air matanya mengalir membasahi pipinya.  Dia yakin sekarang kalau Tuhan masih menjawab doa.

12 August 2009

Jangan Mengabaikan Berkat

II Korintus 4:17 : "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 43; 2 Timotius 1; Yesaya 39-40

Suatu hari saya pernah mengalami suatu masalah yang menurut saya berat. Ketika berada dalam situasi tersebut, iman saya goyah dan mulai mempertanyakan Tuhan di dalam hidup saya. Seingat saya, tidak pernah ada kata-kata berkat yang keluar dari mulut saya ketika itu.

Fokus saya terhadap masalah yang sedang dihadapi membiaskan kasih karunia yang sebenarnya telah Dia berikan dalam kehidupan saya. Begitu halnya yang mungkin saat ini sedang terjadi dalam hidup Anda. Anda tidak dapat melihat segala hal yang baik dari peristiwa yang menurut Anda ‘buruk" tersebut.

Tuhan yang Anda dan saya sembah adalah Allah yang hidup. Dia tahu kondisi dan kekuatan kita terhadap masalah/penderitaan tersebut. Dia adalah Tuhan setia dan tidak perlu diragukan lagi janji-janjiNya.

Ketika Roh Kudus memberikan pengertian di dalam diri Paulus mengenai penderitaan yang harus dialami orang-orang percaya, ia tahu bahwa yang akan dialami itu adalah perkara ringan. Tidak satu pun kegentaran menghinggap dalam diri Paulus. Mengapa ia bisa seperti itu? Jawabannya ialah karena Paulus tidak berfokus kepada masalah/ penderitaan yang dialaminya, tetapi kepada firman Tuhan yakni berkat yang melimpah ketika kita setia mengikuti-Nya.

Jika Anda telah menderita dalam masa yang sulit belakangan ini, sadarlah akan berkat-berkat di sekeliling Anda. Anda akan jauh lebih berhasil mengatasi masalah-masalah jika Anda memuliakan Tuhan untuk pemecahan yang telah disediakan-Nya. Oleh karena itu, palingkan mata Anda dari kesukaran dan arahkan pandangan ke sekitar Anda maka Anda pun dengan segera meneriakkan kemenangan.

Masalah dan berkat adalah satu paket yang Tuhan berikan dalam kehidupan orang-orang percaya. Keduanya tidak dapat terpisahkan!!

Jawaban.com

Kata Bermakna

* Slideshow ini dapat di download, klik “Menu” kemudian klik nama filenya dan “Save as..”.

11 August 2009

Namanya Juga Anak Muda

Tubuhnya yang kecil serta wajahnya yang naif, tak dapat menyembunyikan usianya yang memang baru belasan. Tepatnya, 16 tahun. Bagi saya, "anak" ini mewakili generasi sebayanya. Mungkin tak semuanya, namun paling sedikitnya sebagian dari mereka.

Pagi itu ia -- sebut saja namanya “Irene” -- datang, meminta agar pernikahannya dapat diberkati digereja. Tentu saja saya terkejut. Saya mengenal benar “anak” ini. Ia pernah jadi “anak didik” saya.

“Mengapa begitu cepat? Dan mengapa begitu tiba-tiba?”, tanya saya.

“Saya sudah hamil empat bulan,pak”, jawabnya.

“Hamil? Empat bulan?”

“Ya, pak”.

“Apa yang terjadi? Dengan siapa?”

Lalu ia pun bercerita. Bla bla bla. Tanpa beban. Setelah itu, giliran saya ‘berkhotbah’. Bla bla bla. Sangat penasaran. Akhirnya saya bertanya, “Apa kamu tidak menyesal?”.

“Menyesal sih menyesal,pak”.

“Menyesal karena apa yang telah kalian lakukan, atau sekadar karena kamu hamil?”

“Ya terutama karena saya hamil, pak. Sebab sebenarnya saya 'kan masih pengen sekolah, pak”.

“Itu artinya kamu tidak menyesal karena dosa yang telah kamu lakukan. Begitu, bukan?”, tanya saya - wah, gemasnya!

“Yah, namanya juga anak muda, pak,” jawabnya. Enteng sekali.

SAYA setuju dengan Barclay yan gmengatakan, bahwa etika Kristen harus berbicara mengenai masalah “seks pra-nikah” ini dengan serius. Bukan saja karena jumlahnya semakin banyak, tetapi terutama karena kegiatan seksual ini-- dengan lambat, tapi pasti -- kian menahbiskan diri sebagai kegiatan seksual yang “normal”. Sekiranya tidak terjadi wabah HIV/AIDS, kecenderungan ini pasti kian tak terbendung.

Namun begitu, banyak orang toh memilih diam atau sekadar mencaci-maki tak keruan. Orang-orang yang menolak seks pra-nikah dengan sepenuh keyakinan kian terpinggirkan. Karenanya, enggan menampilkan posisinya dengan lantang dan terus terang.

Di Barat, sejak puluhan tahun silam, malah muncul teolog-teolog kristen yang justru membela praktik ini. Salah satunya yang paling terkenal adalah Joseph Fletcher. Profesor etika Kristen ini antara lain menulis, “Kultus keperawanan agaknya akan menjadi benteng perlawanan terakhir terhadap kebebasan seks, dan pasti akan ambruk. Sebab kini, berkat perkembangan di bidang kedokteran, orang bisa bebas melakukan kegiatan seksualnya tanpa dibayangi ketakutan seperti sebelumnya”.

Memang tidak semua yang dikatakan Fletcher itu salah. Namun, saya mohon, jangan pula pandangan-pandangannya itu kita telan bulat-bulat. Sebab tidak semua yang walaupun dikatakan oleh seorang profesor, bermanfaat bagi kekristenan. Ini telah diingatkan oleh seorang teolog lain, Malcolm Muggeridge, yang mengatakan, “Kita telah membiarkan seniman-seniman kita dengan bebas menghancurkan kesenian; penulis-penulis kita menghancurkan kesusastraan; sarjana-sarjana kita menghancurkan keilmuwanan; dan agamawan-agamawan kita menghancurkan agama. Kita mengembang-biakkan barbarian di rumah kita sendiri”.

Kebungkaman banyak orang terhadap masalah seks pra-nikah, adalah “kediaman” yang berbahaya. Seperti diilustrasikan oleh eksperimen terkenal dari seorang psikolog, Profesor John Court. Seekor katak ia taruh di sebuah wadah yang berisi air dingin. Pelahan-pelahan sekali, suhu air itu dinaikkan. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ke titik didih. Namun yang mengherankan adalah, katak itu kalem-kalem saja. Tak sedikit pun ia berusaha menyelamatkan diri. Rupanya proses perubahan itu berlangsung begitu lambatnya, sehingga katak itu nyaris tak merasakan apa-apa. Karena kediamannya itulah, ia mati.

APA yang disebut sebagai “revolusi seks”, juga demikian. Ia terjadi dengan bergugurannya “tabu-tabu” - tidak sekaligus, melainkan satu demi satu. Tidak kentara. Eksperimen di atas mengingatkan, justru karena itulah “revolusi” ini layak kita cermati dengan serius. Sebelum kita terkejut, lalu cuma bisa tergagap-gagap. Dalam salah satu refleksi kita yang terdahulu saya telah menyinggung, bagaimana orang modern cenderung memisahkan “seks” dari “pernikahan”. “Seks pra-nikah” adalah salah satu wujudnya.

Menurut Barclay, ada tiga alasan yang paling kerap dikemukakan orang, guna membenarkan kegiatan seksual yang dilakukan sebelum -- atau di luar --perkawinan.

Pertama, adalah ANTISIPASI. Ini adalah kegiatan seksual yang dilakukan oleh sepasang anak manusia yang saling mencinta. Begitu rupa, sehingga mereka merasa yakin dan pasti, bahwa pada suatu saat mereka akan menikah. “Mengantisipasi” pernikahan mereka yang pasti itulah, mereka tanpa ragu melakukan hubungan seks. “Apasalahnya? Kami toh pasti akan menikah”.

Tindakan yang mereka lakukan itu, mungkin secara esensial memang belum dapat dikategorikan sebagai “zinah”. Motivasi mereka pun boleh jadi memang tulus. Namun, toh ada dua hal yang perlu dikemukakan.

(a) mereka mengatakan, bahwa untuk mengekspresikan cinta kasih mereka yang murni itulah, mereka melakukan hubungan seks. Pertanyaan saya adalah, mengapa tidak sebaliknya? Mengapa mereka tidak mengekspresikannya, justru dengan tidak melakukan hubungan seks sebelum mereka benar-benar suami-istri? Bukankah salah satu ekspresi cinta yang sejati. adalah kesanggupan mengendalikan diri?

(b), apa sih yang betul-betul pasti di dunia ini? Dari mana mereka bisa begitu yakin, bahwa mereka pasti akan menikah - pada satu hari? Dalam hidup ini, anak-anakku, tak ada yang 100% pasti. Buktinya amat banyak. Tidak bijaklah mengantisipasi sesuatu, yang di luar daya kita untuk mengantisipasinya!

ARGUMENTASI kedua, saya sebut saja, SIMULASI. Atau “coba dulu baru beli”. Kata mereka, “Membeli baju atau sepatu saja 'kan perlu mencoba dahulu. Apa lagi mau menikah. Sebab itu “mencoba” itu perlu, agar orang mengetahui dengan pasti, bahwa memang dialah orangnya, dengan siapa ia akan menghabiskan seluruh sisa umurnya. Caranya? Dengan “hidup bersama” dulu. Hidup bersama dijadikan simulasi atau tiruan hidup perkawinan yang sesungguhnya.

Argumentasi ini sepintas lalu terkesan masuk akal. Tapi sebenarnya ia mengandung salah-perkiraan yang fundamental! Salah besarlah, orang yang menyangka bahwa hidup perkawinan itu dapat disimulasikan. “Hidup bersama” tidak pernah mungkin menggambarkan hidup perkawinan yang sesungguhnya. Dalam kaitan ini, Barclay mengemukakan sebuah analogi yang menarik. Tentang seorang yang memutuskan, untuk beberapa bulan hidup di daerah kumuh bersama-sama dengan orang-orang miskin. Dengan jalan itu, ia berharap bisa mengalami secara langsung dan pribadi, bagaimana rasanya jadi orang melarat itu.

Maksud yang mulia! Tapi salah perhitungan. Tinggal di daerah kumuh memang dapat memberikan banyak pengalaman berharga. Tapi tetap tidak mungkin membuat orang benar-benar mengetahui bagaimana sih rasanya jadi orang melarat itu. Mengapa? Sebab ada perbedaan yang sangat mendasar. Si relawan bisa setiap saat meninggalkan situasi kemiskinan itu. Pengalamannya dapat menjadi bagaikan petualangan dan ekskursi yang romantis, seperti ketika orang berlibur dengan berkemah di hutan. Tidak enak, tapi nikmat. Sedang orang-orang miskin itu? Mereka tidak punya pilihan lain. Seumur hidup mereka, mereka sudah terperangkap oleh ke melaratan mereka. Dan ini melahirkan dua sikap, bahkan mentalitas, yang berbeda!

Intinya adalah, “perkawinan” tidak pernah dapat dieksperimenkan. Sebab perkawinan adalah sebuah “komitmen”. Orang tidak dapat mengeskperimenkan komitmen. Yang mungkin hanyalah, “menerima” atau “menolak”. Tidak ada peluang untuk “coba-coba”.

KETIGA, adalah alasan yang mengatakan bahwa ESENSI adalah segala-galanya. Perkawinan itu lebih daripada sekadar secarik kertas atau sebuah seremoni. Esensi sebuah perkawinan adalah komitmen untuk membangun relasi. Inilah yang terpenting, dengan atau tanpa perkawinan. Dengan atau tanpa formalitas. Argumentasi yang jitu, bukan? Esensi dan kualitas tentu saja memang lebih utama ketimbang bungkus luarnya. Tapi apakah itu berarti, formalitas tidak ada nilainya? Kenyataan menunjukkan, walaupun formalitas bukan segala-galanya, tapi orang memerlukannya. Sebuah “kontrak kerja”, misalnya, memang tidak menjamin adanya komitmen yang tulus dari kedua belah pihak. Tapi paling sedikit ia memberi “pegangan”. Orang bisa melakukan tindakan hukum bila itu dilanggar.

Yang saya khawatirkan adalah, orang yang mengatakan bahwa “komitmen, bukan formalitas yang penting”, sebenarnya adalah orang yang menolak komitmen. Orang yang mengatakan bahwa formalitas pernikahan tidak penting -- sebab hanya cinta kasih, relasi dan komitmen-lah yang penting -- sering adalah orang yang menolak untuk memberi komitmen resmi.

Mereka masuk dari pintu depan, tapi diam-diam menyiapkan “pintu darurat” di belakang. Agar sewaktu-waktu mereka bisa melarikan diri dari komitmen dan relasi, yang selalu mereka katakan paling penting itu. Dan melarikan diri dengan mudah, tanpa direpotkan oleh tetek-bengek formalitas, seperti mengurus surat cerai dan sebagainya. Nah, ketahuan belangnya, bukan?

Oleh Pdt. Eka Darmaputera

Gunakan Hak-Hak Anda!

Yesaya 53:5 : "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 42; 1 Timotius 6; Yesaya 37-38

Yesus datang ke dunia dan menyerahkan diri-Nya sebagai korban untuk dosa demi menebus kembali segala sesuatu yang dihilangkan oleh Adam. Dia datang untuk membinasakan semua perbuatan iblis, termasuk sakit penyakit.

Begitu Anda menerima Dia sebagai Tuhan atas hidup Anda, semua hak biasa dan istimewa yang pada mulanya direncanakan Tuhan untuk Anda miliki (hak-hak terhadap seperti persekutuan dengan Tuhan, kesehatan, dan kemakmuran) dipulihkan. Tetapi, Andalah yang harus menggunakan hak-hak itu.

Iblis adalah pelanggar hukum dan walaupun Yesus telah menghilangkan wewenang iblis di bumi, walaupun dia tidak mempunyai hak hukum untuk membunuh atau mencuri dari anak-anak Tuhan, dia tetap akan melakukannya selama Anda membiarkannya berhasil meloloskan diri.

Anda harus memaksakan kekalahannya dengan mengucapkan firman Tuhan dalam iman. Bertindaklah sesuai dengan firman-Nya sekarang. Tuntutlah agar segala penyakit meninggalkan Anda dalam nama Yesus. Kemudian tolaklah untuk mundur dari tuntuan yang Anda ucapkan. Lawanlah iblis dengan segala sesuatu yang Anda miliki. Dia mungkin akan memerangi Anda beberapa waktu lamanya, tetapi lambat laun dia pasti akan lari meninggalkan Anda.

Untuk membuktikan bahwa Anda memiliki otoritasnya Tuhan, tidak ada cara lain yakni Anda harus mempraktikkan otoritas tersebut dalam kehidupan Anda

Jawaban.com