Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 March 2008

Kupu-kupu Dan Bunga

Seorang lelaki berdoa kepada Tuhan Yesus agar diberikan bunga dan kupu-kupu. Namun Tuhan Yesus memberikannya kaktus dan ulat. Lelaki ini sedih dan tidak paham mengapa pemberian-Nya berbeda dari permintaannya. Kemudian dia berpikir, Tuhan Yesus mempunyai banyak umat untuk di urus. Dan dia memutuskan untuk tidak mempersoalkannya.

Selepas beberapa waktu, lelaki ini memikirkan semula permohonan doanya yang telah lama dilupakannya. Lelaki ini sangat terkejut ketika melihat dari pohon kaktus yang buruk dan berduri itu tumbuh bunga yang cantik. Dan dari ulat yang terselubung telah berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.

Tuhan selalu melakukan semua perkara dengan benar! Cara Tuhan selalu yang terbaik, walaupun kelihatannya semuanya salah. Jika kamu berdoa dan menerima yang lain dari Tuhan, PERCAYALAH pasti Tuhan Yesus memberikan apa yang diminta pada saatnya nanti.

Apa yang diterima tidak selalu apa yang dibutuhkan! Tuhan tidak akan gagal mengabulkan permintaan, teruslah berdoa tanpa ragu dan mengeluh.

TUHAN SELALU MEMBERIKAN YANG TERBAIK KEPADA MEREKA YANG MENYERAHKAN SEMUA HAL KEPADA-NYA

Humor : Muntah

Suatu hari Heri naik bis, saat itu Heri melihat seorang nenek tampak kepingin muntah. Lalu Heri bertanya pada nenek tersebut.

Heri: "Kenapa nek, nenek mual ya?"

Nenek: "Iya nak..."

Heri lalu membiarkan nenek tersebut. Lalu nenek itu bertanya:

Nenek: "Nak boleh lihat mukanya sebentar?"

Heri: "Boleh nek, tapi kenapa?"

Nenek: "Biar muntahnya gampang..."

Heri: "$#^&%%&&^$%^?..."

Fisiologi Darah

Membicarakan darah, merupakan hal yang sangat pokok dalam Alkitab. Karena demikian pentingnya pokok ini, sehingga Alkitab mencatatnya sebanyak 312, belum segala sesuatu yang berhubungan dengan darah.

Mengapa darah menjadi begitu penting dalam Alkitab? Tentu kita semua tahu, bahwa tanpa darah, tidak ada kehidupan dari segala yang hidup, baik manusia maupun binatang. Perjanjian Lama sudah jauh-jauh menyinggung tentang darah, baik yang tersurat maupun yang tersirat (Kej. 3:21). Penumpahan darah pertama dilakukan oleh Kain terhadap Habel. Darah Habel terus berteriak di hadapan Allah, sehingga Allah harus menuntut hukuman terhadap Kain. Allah menuntut setiap pertumpahan darah, terutama darah orang tidak bersalah.

Sebuah buku yang sangat bagus karangan M.R. DeHaan M.D. telah banyak mengungkap rahasia tentang “Kimiawi Darah” terutama dalam diri Yesus. Mengapa Yesus harus mencurahkan darahNya di Kalvari? Mengapa harus darah yang harus dikucurkan untuk keselamatan manusia? Bagaimana hubungan nyawa dengan darah? Mengapa hanya darah Yesus yang dapat menghapus dosa? Hal yang lebih menarik lagi dalam hubungannya dengan “kelahiran suci” Yesus.


Fisiologi Tentang Darah

Bukanlah kebetulan atau asal-asalan Tuhan memprogram tubuh manusia dengan struktur yang rumit dan mengagumkan. Secara sempurna, Ia menciptakan manusia dengan berbagai macam jaringan dalam tubuh. Ada otot, syaraf, lemak, kelenjar, tulang, jaringan penghubung, dsb. Masing-masing bagian tersebut terdiri atas sel-sel, berukuran sangat kecil dan memiliki fungsi yang khusus dan terbatas.

Namun Tuhan menciptakan darah, yang merupakan bagian yang sangat unik dan sangat lain bila dibanding dengan jaringan-jaringan di atas. Darah itu berupa cairan yang bergerak, sehingga tidak terbatas pada satu bagian tubuh saja, tetapi bebas bergerak ke seluruh bagian tubuh dan ia menyediakan sel-sel yang terdiri dari zat makanan dan sekaligus membawa sisa-sisa sampah yang dihasilkan oleh aktivitas sel. Inilah yang disebut dengan proses metabolisme.

Dalam tubuh manusia normal, cairan darah kurang lebih lima liter, dan darah tersebut dipompa oleh jantung dan beredar melalui sistem kurang lebih setiap 23 detik. Jadi setiap sel yang ada dalam tubuh disuplai terus-menerus dan dibersihkan, dan pada saat yang sama pula terjadi hubungan konstan dengan setiap sel lainnya yang ada di dalam tubuh.

Uraian di atas memiliki kandungan kebenaran spiritual yang lebih besar dan dalam, yakni rahasia tubuh Kristus. Jemaat Kristus disebut sebagai tubuh Kristus. Kita adalah bagian tubuhNya dan masing-masing anggota memiliki hubungan satu dengan lainnya. Di dalam tubuh ini, Yesus Kristus sebagai Kepala dan semua orang percaya sebagai anggotanya. Anggota-anggota ini dihubungkan dengan darahNya. Nyawa masing-masing anggota bergantung oleh darahNya. Demikian juga untuk tetap hidup, suplai makanan, kekudusan dan pertumbunhan, sangat bergantung semata-mata pada darah Anak Domba Allah, karena nyawa ada di dalam darah.

Darah Adam

Satu perkara yang menghubungkan semua manusia dengan setiap manusia lainnya adalah darah yang mengalir dalam tubuhnya. Semua manusia berasal dari satu darah dan darah itu adalah darah Adam, manusia pertama dan nenek moyang semua suku bangsa manusia. Adam, darahnya telah tercemar oleh dosa, mati karena pelanggaran- pelanggaran. Alkitab mengatakan: “Dari satu orang saja Ia (Allah) telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi”. (Kis. 17:26). Semua manusia memiliki kesamaan dengan diri Adam dan memiliki hubungan darah dengan Adam, baik orang Yahudi, Yunani, Negro, Jawa, Sunda, dsb.

Darah mereka membawa hukuman kematian karena dosa Adam, dan karena alasan inilah semua manusia mengalami kematian, tanpa terkecuali. Ingatlah, nyawa itu ada di dalam darah, dan jika manusia mati berarti darahnya sudah mati.

Meskipun kita tidak tahu sifat atau keberadaan buah tentang pengetahuan yang baik dan yang jahat, kita tahu bahwa dengan memakannya kita mengalami “pencemaran darah” dan hal ini membawa kepada kematian. Buah yang baik dan yang jahat telah menjadi racun mematikan. Karena demikian hebatnya racun tersebut, walau sudah 6000 tahun, keturunan Adam masih membawa racun dosa melalui darahnya.

Adam tidak lain hanyalah seonggok debu tanah. Lalu ditiupkan “kehidupan” oleh Allah, dan kehidupan itu adalah darah. Hal ini tidak dapat disangkal lagi, karena memang jelas bahwa nyawa segala makhluk ada di dalam darah. Dan jika segumpal tanah tersebut diberikan darah oleh Allah, maka manusia itu akan menjadi mahluk hidup. Darahnya merupakan pemberian yang terpisah yang berasal dari Allah, karena Allah adalah Hidup.

Karena dosa maka Adam mengalami kematian rohani, dan akhirnya mati secara jasmani. Karena nyawa ada di dalam darah, dan ketika manusia itu mati, sesuatu terjadi pada darahnya. Dosa mencemari darah manusia, bukan tubuhnya, kecuali secara tidak langsung, karena tubuh disuplai oleh darah. Karena alasan inilah tubuh disebut tubuh yang berdosa karena ia terus-menerus diberi makan oleh darah yang telah dicemari dosa. Dan karena Allah telah menjadikan semua bangsa dari orang saja, maka dosa itu turun kepada semua keturunan Adam. Sebab itu karena satu orang berdosa, semua orang menjadi berdosa.


Kelahiran Suci

Dosa benar-benar telah mencemari darah manusia dan sudah seharusnya juga mencemari Kristus yang dilahirkan dari seorang anak dara, karena itu Kristus juga disebut keturunan Adam, namun Dia seorang yang tidak berdosa. Karena hal inilah Kristus mengambil bagian tubuh Adam, yang sifatnya tidak berdosa, tetapi Ia tidak mengambil bagian dari darah Adam, yang sesungguhnya telah tercemari dosa. Allah telah mempersiapkan suatu jalan, sehingga Yesus yang dilahirkan dari seorang perempuan (bukan pria) dapat menjadi manusia yang sempurna, namun Ia tidak mengandung darah Adam di dalam urat nadiNya. Dia tidak mengandung dosa Adam. Adapun kelahiran Yesus yang suci itu ditulis sbb:

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibuNya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”. (Mat. 1:18-20).

Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh Nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" yang berarti: Allah menyertai kita”. (Mat. 1:22-23).

Inilah kisah satu-satunya di dunia, di mana seorang lahir tanpa dibuahi oleh laki-laki. Kebenaran ini harus dipegang dan tidak bisa disangkal atau membuangnya dan menganggap hanya sebuah dongeng. Dengan jelas bahwa Yesus dikandung dalam rahim seorang anak dara Yahudi dari Roh Kudus. Ia benar-benar terpisah dari keturunan nenek moyang manusia.

Hal ini berkaitan dengan pernyataan Alkitab bahwa Ia memang tidak berdosa. Sebab ia tidak mewarisi sifat keberdosaan Adam yang mendatangkan kutuk dan kematian. Namun berbeda dengan Yesus, Ia tidak berdosa dan Ia tidak dapat mati, sampai Ia sendiri yang memikul dosa dan mati bagi manusia. Dialah manusia yang sempurna, sebab darahNya tidak tercemar oleh dosa.

Menurut teori kedokteran diketahui bahwa darah yang mengalir di dalam arteri seorang bayi yang masih ada di dalam kandungan tidak berasal dari si ibu, tetapi dihasilkan dari tubuh fetus. Namun hal ini terjadi setelah sel sperma membuahi sel telur dan fetus mulai terbentuk, lalu munculah darah.

Para ahli berpendapat, tidak ada gunanya setetes darah diberikan untuk mengembangkan embrio di dalam rahim seorang ibu. Ibu menyediakan bagi fetus (janin bayi yang belum lahir), zat-zat makanan untuk pertumbuhan tubuh fetus itu ada di dalam rahimnya, tetapi darah yang di dalam tubuh fetus itu dihasilkan oleh embrio itu sendiri. Dari masa pembuahan sampai lahirnya bayi, tidak setetes darahpun dialirkan dari si ibu kepada bayinya.

Plasenta, suatu jaringan yang lebih dikenal dengan nama ‘Uri/Lembuni’ yang membentuk selang antara si ibu dengan bayinya. Plasenta terbentuk dengan begitu sempurna sehingga walaupun semua zat makanan yang dapat larut seperti protein, lemak, karbohidrat, garam, mineral, dan juga antibodi mengalir dengan bebas dari si ibu kepada bayinya dan sampah-sampah yang dihasilkan dari metabolisme si bayi dikeluarkan kembali ke sirkulasi si ibu, tidak terjadi pertukaran darah walau setetes, dan ini terjadi secara normal. Darah si bayi itu dihasilkan dari tubuh di bayi itu sendiri. Si ibu sama sekali tidak menyumbangkan darahnya.

Howell, dalam bukunya Text Book of Physiology, menulis: “Untuk dapat mengerti fungsinya secara umum adalah dengan mengingat bahwa plasenta mengandung vascular chorionic papillae yang esensial dari fetus (janin bayi) yang terbungkus di dalam cairan darah membran desidual sang ibu. Fetal dan darah sang ibu tidak pernah berhubungan. Mereka dipisahkan satu sama lainnya oleh dinding pembuluh darah fetal dan selaput epithelial chorionic villae”.

William, dalam Practice of Obstetrics, edisi tiga menulis:

“Darah janin di dalam pembuluh chorionic villae tidak bercampur dengan darah ibunya, terpisah satu dengan lainnya oleh dua lapisan chorionic epithelium.”

Dilanjutkan:

“Secara normal tidak ada hubungan antara darah janin dengan darah ibunya.”

Dalam buku Nurse’s Handbook of Obstetrics karangan Louise Zabriskie, R.N, edisi lima dikatakan:

“Ketika sirkulasi darah mulai terjadi di dalam embrio, ia akan tetap terpisah dan berbeda dari darah ibunya. Semua makanan dan sampah larutan yang bergerak bolak-balik antara embrio dan si ibu haruslah melalui dinding pembuluh darah dari satu sirkulasi ke sirkulasi lainnya.”

Dilanjutkan:

“Janin menerima zat-zat makanan dan oksigen dari darah ibunya melalui medium plasenta. Jantung janin memompa darah melalui arteri tali pusat ke pembuluh plasenta, yang keluar dan masuk dari jaringan kandungan dan berhenti dekat sekali dengan pembuluh kandungan, mengakibatkan difusi, melalui dinding-dindingnya, dari sampah-sampah hasil prosuksi dalam tubuh janin ke ibunya dan zat-zat makanan dan oksigen dari ibunya ke janin tersebut. Seperti yang telah dikatakan, pertukaran ini diakibatkan oleh proses osmosis, dan tidak ada pencampuran secara langsung dari kedua aliran darah ini. Dengan kata lain, tidak ada darah dari si ibu yang mengalir ke dalam tubuh si janin dan begitu pula sebaliknya.”

Dengan melihat kerumitan ajaib tersebut, menegaskan akan kebenaran jari Allah menenun manusia Yesus dari seorang perawan, darah Yesus tidak memperoleh suplai dari darah Maria. Ketika ia menciptakan perempuan, Ia menciptakannya sedemikian rupa, sehingga tidak ada darah yang dapat mengalir dari tubuh perempuan itu kepada keturunannya. Untuk menciptakan manusia yang tidak berdosa dan juga keturunan dari Adam, Allah menyediakan suatu cara sehingga manusia itu memiliki tubuh yang berasal dari Adam, tetapi memiliki darah dari sumber yang terpisah. Luar biasa dan ajaibnya kejadian di dalam tubuh Yesus, yang darahNya bukan darah dari Adam, tetapi dari Tuhan.

Ibrani 2:14, mengatakan: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka...”

Kata “anak-anak” (children) yakni anak-anak manusia – anak-anak dari darah dan daging, sedang Yesus dikatakan “menjadi sama” (took part of the same) dengan mereka (anak-anak manusia). Kata “took part” yang menunjuk pada Kristus, berbeda dengan “partakers” yang menunjuk kepada anak-anak manusia. “Menjadi sama” bisa diartikan sebagai “mengambil bagian dalam sesuatu di luar dirinya sendiri.” (Yun: mateco = mengambil bagian namun tidak seutuhnya). Sedangkan mengambil bagian seutuhnya (Yun: koynoneho), sehingga seluruh anak-anak Adam mengambil seutuhnya dari tubuh Adam dan darah Adam. Jelas di sini bahwa Kristus hanya mengambil bagian dalam tubuh, sedangkan darahNya dari pembuahan yang supranatural.

Yesus adalah manusia seutuhnya: menurut daging, Ia adalah keturunan Daud, tetapi darahNya berbeda dengan darah manusia. Adam yang pertama darahnya fana dan tercemar oleh dosa. Namun Adam yang terakhir, mengalir darah yang baru dan kudus dan yang tidak berdosa, yang secara daging keturunan Adam dan di dalam tubuhnya mengalir darah yang kudus. Pembuahan oleh Roh Kudus merupakan satu-satunya cara Allah membuat kelahiran suci dan sempurna. Maria memberi makan janin Yesus sehingga Yesus disebut keturunan Daud. Roh Kuduslah yang menyumbangkan darah Yesus, darah yang tidak berdosa. Inilah darah satu-satunya di dunia ini yang paling berbeda dari semua manusia.

Yudas dalam penyesalannya mengatakan dalam Mat: 27:4 : "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Memang Yesus sama sekali tidak bersalah atau berdosa dalam hal apapun. Karena darahNya adalah darah yang tidak berdosa maka darah Yesus adalah kekal dan tidak dapat binasa. Dengan sukarela telah menyerahkan darahnya untuk ditumpahkan bagi penebusan manusia dari dosa, sehingga, walaupun Ia sudah mati tiga hari tiga malam, tubuhNya tidak binasa. Maut tidak berkuasa atasNya, Ia telah menang atas maut.

Darah Yesus Berkuasa

Darah yang ada dalam keturunan Adam telah terkontaminasi oleh dosa, bukan hanya sekedar terkontaminasi sebagian, tetapi seluruhnya. Darah yang terkontaminasi tersebut berupa leukimia rohani yang membawa kematian, bukan hanya tubuh, tetapi juga roh. Oleh sebab itu, manusia keturunan Adam harus ditransfusi darah yang suci, yakni darah Yesus, darah yang penuh kuasa, baik atas maut dan dosa, bahkan atas iblis.

Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapiNya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka.” (Wah. 12:10-11)

Banyak nyawa manusia yang tertolong melalui tranfusi darah Anak Domba Allah dan memiliki hidup yang kekal. Tranfusi darah terbesar adalah ketika seseorang yang berdosa, yang telah mati dalam pelanggaran dan dosa-dosanya, diselamatkan oleh darah Yesus pada saat ia menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Dalam hal ini yang dibutuhkan hanyalah iman.

Allah memiliki bank darah, yakni persediaan darah untuk siap ditransfusikan kapan saja dan tak terbatas persediaannya. Persediaan darah yang Tuhan punya cukup bagi semua manusia. Darah tersebut benar-benar darah yang steril dan suci hama, bebas dari segala kontaminasi dosa. Darah Yesus cocok untuk semua golongan, dan tidak dipungut biaya, alias gratis. Sekarang manusia yang darahnya sudah terkontaminasi dosa Adam, hanya tinggal datang kepada Yesus, maka Ia akan mencurahkan darahNya atas manusia yang berdosa, dan memiliki hidup yang kekal. Darah Yesus adalah darah yang sangat mahal. Karena mahalnya, sehingga tidak ada satu manusiapun yang bisa membeli dengan harta, atau bahkan nyawa sekalipun.

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Pet. 1:18-19).

Natal merupakan sebuah momentum, sekaligus menegaskan akan kelahiran Manusia Ajaib. Kehadiran bayi Yesus di dunia ini, untuk memberhentikan petualangan dosa yang berabad-abad lamanya bercokol dalam kehidupan manusia. Dosa berhasil mengelabui semua manusia termasuk para nabi, namun dosa tidak berhasil mengalahkan Yesus. Ia satu-satunya manusia yang tidak berdosa. Dengan demikian darahNya yang kudus sanggup membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan maut.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasihnya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. (Roma 5:8-9).

(disadur dari Majalah Sola Gracia)

To Do, To Have or To Be?

Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain." (Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (
to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.

Fase pertama,
fase to do.
Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan dan marketing pernah berujar, "Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis." Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?

Fase kedua, fase to have.
Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan.

Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan
dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal.
Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. "Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya...," katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

Fase ketiga,
fase to be.
Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.

Memaknai hidup!
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?"

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India .

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi!

Sumber: Pribadi To Do, To Have, atau To Be? oleh Anthony Dio Martin

Learn To Speak Their Language

A woman was explaining her theory of putting her children to bed: "I never tell bedtime stories that begin with 'Once upon a time,'" she said. "If I really want to put them to sleep, I start off with, 'Now, when I was your age' It's nice to understand people so well that we know just what to say! Here is a mother who could speak her children's language.

The story is told of the most famous elephant in the world -- a huge, beautiful and gentle beast named Bozo. Children extended open palms filled with peanuts for the Indian elephant, who gently plucked them from little hands and seemed to smile as he ate his treats.

But one day, for some inexplicable reason, Bozo changed. He almost stampeded the man who cleaned his cage. He charged children at the circus and became incorrigible. His owner knew he would have to destroy the once-gentle giant.

In order to raise money for a new elephant, the circus owner held a cruel exhibition. He sold tickets to witness Bozo's execution and, on the appointed day, his arena was packed. Three men with high-powered rifles rose to take aim at the great beast's head.

Just before the signal was given to shoot, a little, stubby man in a brown hat stepped out of the crowd and said to the elephant's owner, "Sir, this is not necessary. Bozo is not a bad elephant."

"But he is," the man argued. "We must kill him before he kills someone."

"Sir, give me two minutes alone in his cage," the visitor pleaded, "and I'll prove to you that you are wrong. He is not a bad elephant."

After a few more moments of discussion (and a written statement absolving the circus of liability if the man should be injured), the keeper finally agreed to allow the man inside Bozo's cage. The man removed his brown derby and entered the cage of the bellowing and trumpeting beast.

Before the elephant could charge, the man began to speak to him. Bozo seemed to immediately quiet down upon hearing the man's words. Nearby spectators could also hear the man, but they could not understand him, for he spoke a foreign language. Soon the great animal began to tremble, whine and throw his head about. Then the stranger walked up to Bozo and stroked his trunk. The great elephant tenderly wrapped his trunk around the man, lifted him up and carried him around his cage before carefully depositing him back at the door. Everyone applauded.

As the cage door closed behind him, the man said to Bozo's keeper, "You see, he is a good elephant. His problem is that he is an Indian elephant and understands one language." He explained that Bozo was frustrated and confused. He needed someone who could speak his language. "I suggest, sir, that you find someone in London to come in occasionally and talk to the elephant. If you do, you'll have no problems."

The man picked up his brown derby and walked away. It was at that time that the circus owner looked carefully at the signature on the paper he held in his hand -- the note absolving the circus of responsibility in the case he was injured inside the elephant's cage. The statement was signed by Rudyard Kipling.

People also become frustrated and angry when they are not understood. But great relationships are formed by parents who learn to speak their children's language; lovers who speak each other's language; professionals who speak the language of their staff and clients. When people understand that YOU understand, that you empathize with their heartaches and understand their problems, then you are speaking their language! It is the beginning of true communication.

-- Steve Goodier

Asal Mula Masa Prapaskah

Bagaimanakah asal-mula Masa Prapaskah? Apakah Gereja selalu merayakannya sebelum Paskah?
~ seorang pembaca di Falls Church

Masa Prapasakah merupakan masa istimewa untuk berdoa, bertobat, bermatiraga dan melakukan karya belas kasihan sebagai persiapan menyambut perayaan Paskah. Dalam kerinduannya untuk memperbaharui praktek-praktek liturgi Gereja, Konstitusi tentang Liturgi Kudus Konsili Vatikan II menyatakan, “Dua ciri khas Masa Prapaskah - mengenang atau mempersiapkan pembaptisan, dan membina tobat - haruslah diberi penekanan yang lebih besar dalam liturgi dan dalam katekese liturgi. Masa Prapaskah merupakan sarana Gereja dalam mempersiapkan umat beriman untuk merayakan Paskah, sementara mereka mendengarkan Sabda Tuhan dengan lebih sering dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa.” (no. 109).

Sejak masa awal Gereja, terdapat bukti akan adanya semacam masa persiapan menyambut Paskah. Sebagai contoh, St. Ireneus (wafat 203) menulis kepada Paus St. Victor I, perihal perayaan Paskah dan perbedaan-perbedaan dalam perayaannya antara Timur dan Barat, “Perbedaan tidak hanya sebatas hari, tetapi juga ciri puasa yang sesungguhnya. Sebagian berpendapat bahwa mereka wajib berpuasa selama satu hari, sebagian berpuasa selama dua hari, lainnya lebih lama lagi; sebagian menetapkan 'masa' mereka selama 40 jam. Berbagai perbedaan dalam perayaan tersebut bukan berasal dari masa kita, melainkan jauh sebelumnya, yaitu sejak masa para leluhur kita.” (Eusebius, Sejarah Gereja, V, 24). Ketika Rufinus menerjemahkan bagian berikut ini dari bahasa Yunani ke bahasa Latin, tanda baca yang dibubuhkan antara “40” dan “jam” menjadikan maknanya tampak seperti “40 hari, dua puluh empat jam sehari.” Namun demikian, maksud pernyataan di atas adalah bahwa sejak masa “para leluhur kita” - sebutan bagi para rasul - suatu masa persiapan selama 40 hari telah ada. Tetapi, praktek nyata dan lamanya Masa Prapaskah masih belum seragam di seluruh Gereja.

Masa Prapaskah diatur secara lebih mantap setelah legalisasi agama Kristen pada tahun 313. Konsili Nicea (tahun 325), dalam hukum kanonnya, mencatat bahwa dua sinode provincial haruslah diselenggarakan setiap tahun, “satu sebelum Masa Prapaskah selama 40 hari.” St. Atanasius (wafat 373) dalam “Surat-surat Festal” meminta umatnya melakukan puasa selama 40 hari sebelum puasa yang lebih khusuk selama Pekan Suci. St. Sirilus dari Yerusalem (wafat 386) dalam Pelajaran Katekese, mengajukan 18 instruksi sebelum pembaptisan yang diberikan kepada para katekumen selama Masa Prapaskah. St. Sirilus dari Alexandria (wafat 444) dalam serial “Surat-surat Festal” juga mencatat praktek dan lamanya Masa Prapaskah dengan menekankan masa puasa selama 40 hari. Dan akhirnya, Paus St. Leo (wafat 461) menyampaikan khotbahnya bahwa umat beriman wajib “melaksanakan puasa mereka sesuai tradisi Apostolik selama 40 hari”. Orang dapat menyimpulkan bahwa pada akhir abad keempat, masa persiapan selama 40 hari menyambut Paskah yang disebut sebagai Masa Prapaskah telah ada, dan bahwa doa dan puasa merupakan latihan-latihan rohaninya yang utama.

Tentu saja, angka “40” selalu mempunyai makna spiritual khusus sehubungan dengan persiapan. Di gunung Sinai, sebagai persiapan untuk menerima Sepuluh Perintah Allah, “Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air” (Kel 34:28). Elia berjalan selama “40 hari dan 40 malam” ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (nama lain Sinai) (1 Raj 19:8). Dan yang terutama, Yesus berpuasa dan berdoa selama “40 hari dan 40 malam” di padang gurun sebelum Ia memulai pewartaan-Nya di hadapan orang banyak (Mat 4:2).

Begitu Masa Prapaskah selama 40 hari ditetapkan, perkembangan berikutnya adalah menyangkut berapa banyak puasa yang harus dilakukan. Di Yerusalem, misalnya, orang berpuasa selama 40 hari, mulai hari Senin hingga hari Jumat, tetapi tidak pada hari Sabtu dan hari Minggu, dengan demikian Masa Prapaskah berlangsung selama delapan minggu. Di Roma dan di Barat, orang berpuasa selama enam minggu, mulai hari Senin hingga hari Sabtu, dengan demikian Masa Prapaskah berlangsung selama enam minggu. Akhirnya, diberlakukan praktek puasa selama enam hari dalam satu minggu, selama masa enam minggu, dan Rabu Abu ditetapkan untuk menggenapkan hari-hari puasa sebelum Paskah menjadi 40 hari. Peraturan-peraturan puasa bervariasi pula.

Pertama, sebagian wilayah Gereja berpantang dari segala bentuk daging dan produk hewani, sementara yang lain berpantang makanan tertentu seperti ikan. Sebagai contoh, Paus St. Gregorius (wafat 604), menulis kepada St. Agustinus dari Canterbury, perihal peraturan berikut: “Kami berpantang lemak, daging, dan segala makanan yang berasal dari hewan seperti susu, keju dan telur.”

Kedua, peraturan umum adalah orang makan satu kali dalam satu hari, yaitu pada sore hari atau pada pukul 3 petang.

Peraturan-peraturan puasa Masa Prapaskah juga mengalami perkembangan. Pada akhirnya, makan sedikit pada waktu siang diperbolehkan guna menjaga daya tahan tubuh selama melakukan pekerjaan sehari-hari. Makan ikan diperbolehkan, dan akhirnya makan daging juga diperbolehkan sepanjang minggu kecuali pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat. Dispensasi diberikan untuk mengkonsumsi produk-produk hewani jika orang melakukan kerja berat, dan akhirnya peraturan ini pun sepenuhnya dihapuskan.

Selama bertahun-tahun perubahan-perubahan terus dilakukan dalam merayakan Masa Prapaskah, menjadikan praktek kita sekarang tidak saja sederhana, tetapi juga ringan. Rabu Abu masih menandai dimulainya Masa Papaskah, yang berlangsung selama 40 hari, tidak termasuk hari Minggu. Peraturan-peraturan pantang dan puasa yang berlaku sekarang amatlah sederhana: Pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, umat beriman berpuasa (makan kenyang hanya satu kali dalam sehari, ditambah makan sedikit untuk menjaga daya tahan tubuh) dan berpantang setiap hari Jumat selama Masa Prapaskah. Umat masih dianjurkan untuk “merelakan sesuatu” sesuatu selama Masa Prapaskah sebagai mati raga. (Catatan menarik adalah bahwa pada hari Minggu dan hari-hari raya, seperti Hari Raya St. Yusuf (19 Maret) dan Hari Raya Kabar Sukacita (25 Maret), orang bebas dan diperbolehkan makan / melakukan apa yang telah dikorbankan sebagai mati raga selama Masa Prapaskah).

Namun demikian, senantiasa diajarkan kepada saya, “Jika kamu berpantang sesuatu demi Tuhan, teguhkan hatimu. Janganlah berlaku seperti orang Farisi yang suka mencari-cari kesempatan.” Lagipula, penekanan haruslah dititikberatkan pada melakukan kegiatan-kegiatan rohani, seperti ikut serta dalam Jalan Salib, ambil bagian dalam Misa, adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus, meluangkan waktu untuk berdoa secara prbadi, membaca bacaan-bacaan rohani, dan yang terutama menerima Sakramen Tobat dengan baik dan memperoleh absolusi. Meskipun praktek perayaan dapat berubah dan berkembang dari jaman ke jaman, namun fokus Masa Prapaskah tetap sama: yaitu menyesali dosa, memperbaharui iman, serta mempersiapkan diri menyambut perayaan sukacita misteri keselamatan kita.


Oleh: Romo William P. Saunders


* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: History of Lent” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2002 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip/menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Humor : Seruan Akan Pertolongan

Kantor Polisi kota Baltimore terkenal dengan unit spesialnya yang diberi nama K-9. Namun baru saja mereka dibuat agak terkejut dengan suatu kejadian.

Ketika pulang dari pekerjaannya, seorang wanita amat terperanjat menemukan rumahnya morat-marit dan dirampok habis-habisan.
Dengan segera ia menelepon polisi dan melaporkan kejadiannya. Polisi dengan sangat tanggap menyiarkan permohonan pertolongan itu ke semua salurannya dan sebuah unit K-9 yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat kejadian itu, adalah yang pertama menanggapinya.

Tatkala seorang anggota K-9 mendekat rumah itu dengan seekor anjing pelacak ditali pengikatnya, wanita itu keluar dari berandanya, kemudian terkejut akan pandangan seorang anggota polisi dengan anjingnya, lalu dengan lemas menjatuhkan diri di anak tangga sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya disertai keluhan, “Aku datang di rumah untuk menemukan semua milikku dirampok habis-habisan. Aku berseru kepada polisi untuk pertolongan, dan apa yang mereka lakukan?”

“Mereka mengirim seorang anggota polisi yang BUTA dengan seekor anjing!” Sungguh keterlaluan.

Lahir Tanpa Bola Mata

Jhon Natanael lahir tanpa bola mata. Saat ia di dalam kandungan, ibunya putus asa dengan keberadaan ayahnya, lalu mencoba melakukan tindakan bunuh diri. Ini berimbas di masa kecilnya. Ia melewati semuanya dengan luka yang teramat dalam. Kesepian menjadi nyanyian pilu yang disimpannya sendiri. Bertahun-tahun, ia mengalami frustrasi dan terus bertanya. Mengapa ia dilahirkan buta? Namun, semua kesesakan itu dihempasnya di kaki salib Yesus. Kini, Jhon bisa berkata, "Hidup saya amat berarti."

Lahir Tanpa Bola Mata

Saat mengandung Jhon empat bulan, ibunya terguncang karena ayah Jhon punya kebiasaan judi yang tak kunjung berhenti. Puncak stres itu ketika ayah Jhon berurusan dengan polisi dan masuk penjara. Dalam keputusasaan, dia mencoba bunuh diri dengan menenggak minuman yang mematikan, semacam garam pekat. Namun, Tuhan berkehendak lain, keduanya selamat. "Mama saya terselamatkan. Saya yang di dalam kandungan pun tetap hidup meskipun lahir dengan keadaan mata seperti ini, tanpa bola mata," kisah anak bungsu dari empat bersaudara itu.

Jhon yang terlahir dengan nama Laij Tji The seolah menampung duka lara dan kemarahan ibunya. "Umur delapan bulan, saya dibawa Mama ke Jakarta untuk periksa mata. Tapi dokter mengatakan saya tak mungkin bisa melihat, sekali pun dicangkokkan melalui donor. Tidak ada harapan karena saraf mata sudah mati. Lebih menyakitkan, dokter bilang pada mama bahwa hidup saya sudah tidak berguna dan belum terlambat untuk membunuhnya," cerita Jhon yang mengetahui semua kisah itu dari ibunya.

Jhon "hidup" dalam gelap. Ia tak bisa melihat apa-apa. Jhon kecil sendirian. Ia menyendiri di kamar, duduk terpekur. Belajar berjalan dan berulang kali jatuh, tak jarang kepalanya terbentur. Tangannya adalah juga mata yang melihat dengan meraba. "Saya tahu, saya cacat karena Mama. Sering kali kalau saya dianggap nakal, Mama kerap mengeluarkan kata-kata penyesalan telah melahirkan saya. Bahkan, beberapa kali Mama mengancam dengan kata-kata, 'Saya akan bunuh kamu!'"

Bila ada tamu, Jhon kecil diboyong ke kamar. "Mereka malu karena memiliki anggota keluarga yang cacat. Saya dijauhkan dari hubungan luar. Menjadi kebiasaan ketika saya mulai tumbuh besar, langsung cepat-cepat masuk kamar bila ada ketukan pintu atau terdengar suara orang datang. Saya hanya mengenal rumah dan orang-orang seisi rumah," ungkapnya lirih.

Sewaktu umur sepuluh tahun, Jhon pernah mencoba bunuh diri. Setengah tak sadar, Jhon mengikat leher dengan karet sampai sulit bernapas. Sikap berontak pada orang tua dan situasi yang membosankan itu membuat Jhon gampang tersinggung. Namun, sakit hati itu cuma bisa dirasakannya dalam hati.

Jhon tak bisa lagi menghindar ketika guru-guru les ketiga kakaknya selalu datang ke rumah memberi pelajaran. "Mereka sering datang, jadi mau nggak mau saya kenal mereka. Di antara mereka, ada yang sangat memerhatikan saya, mengajak saya ngobrol, suka ngasih permen dan ngajak saya nyanyi. Dari sinilah, saya mulai berani bicara dengan orang di luar keluarga."

Ketika Jhon pindah rumah, ia mulai berani ngajak ngobrol orang yang ditemui. Suatu kali, ada yang membawanya ke persekutuan. Namun, entahlah, Jhon cepat bosan. Paling bertahan dua minggu, setelah itu, selalu bikin alasan sakit atau jawaban sekenanya.

Ishak Sang Motivator

Di rumah yang baru, ada beberapa orang datang ke rumahnya. Salah satunya adalah Ishak, pemuda Kristen yang kerap mabuk. "Kamu harus bisa main gitar, ntar saya pinjemin dari gereja. Saya ajarin kamu sebentar, trus kamu latihan sendiri. Dua minggu kamu harus bisa mainkan satu lagu. Kamu harus rajin. Jangan cepat putus asa kayak saya. Kamu harus punya masa depan," kata Jhon tertawa menirukan nasihat Ishak. Menurut Jhon, kata-kata Ishak itu kena di hatinya. Ia lantas belajar gitar dengan sungguh-sungguh.

Suatu kali, Jhon berkenalan dengan Amir, teman kakaknya, seorang arsitek yang mengerjakan taman di halaman rumahnya. Jhonlah yang paling banyak menemani Amir lantaran paling sering di rumah. Betapa kagetnya Amir ketika tiba-tiba Jhon nyanyi lagu Gombloh sambil memetik gitar. "Pak Amir langsung nanya, mau bantu saya main musik di gereja? Karena saya merasa sangat dekat dengan dia saya nggak enak nolak. Pak Amir sungguh-sungguh melayani dan mendorong saya. Biarpun hujan, Pak Amir tetap menjemput saya dengan sepeda motornya. Padahal jarak rumah kami cukup jauh. Dalam hati saya, nekat juga orang ini."

Perubahan Sikap

Suatu malam, di rumah teman, Jhon merenungi hidup. Rasa gagal, tertolak, tidak berguna yang selama ini menekannya, satu per satu terbayang di benaknya. Masa kecil yang kelam penuh kepahitan, perkataan ibunya, saudara serta kata-kata dokter yang pernah ia dengar dari mulut mamanya betul-betul menyesakkan. Malam itu menjadi malam yang amat berarti bagi Jhon. Ia tumpahkan segala kekesalan dan gelisahnya pada Tuhan. Jhon berserah penuh pada Tuhan. Ia bertekad mengubah cara pandangnya dalam melihat kehidupan.

Pelan-pelan, Jhon bisa menerima kekurangannya. Dia juga berdamai dengan diri sendiri dan mengampuni orang-orang yang pernah melukainya. Malam itu, Jhon "berhadapan dengan Tuhan".

"Saya seperti menemukan sosok Bapak," kata Jhon yang sejak lahir sampai ia dengar ayahnya meninggal, belum pernah sekalipun bertemu.

Sukacita dan harapan pelan-pelan memenuhi hati Jhon. Bagi Jhon malam itu adalah malam pengampunan. Sebab pada malam itu, ia bisa mengampuni setiap orang yang pernah melukainya. Itulah yang memotivasi Jhon untuk bangkit dan tidak larut dalam masalah. Benarlah, hati yang gembira adalah obat. Jhon makin giat melayani Tuhan. Lewat nyanyian dan petikan gitarnya, ia semakin maju dan menang mengalahkan segala rasa yang tak perlu disimpannya.

Usia 20 tahun, Jhon memberanikan diri minta izin pada ibunya untuk dibaptis. Ibunya tak keberatan asal Jhon menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. "Meski Mama bukan seorang Kristen, tapi ia sungguh-sungguh mendorong saya untuk melayani Tuhan. Pernah suatu kali, saya jenuh dan berniat bolos tidak ke gereja, Mama saya ribut. 'Lho, katanya kamu mau jadi Kristen kok malas-malasan.' Ketika saya pulang pelayanan, Mama menunggu saya dan selalu bertanya, sudah makan belum?"

Tuhan juga memberi kesempatan Jhon melayani ibunya saat wanita yang melahirkannya itu jatuh sakit dan harus opname. Selama satu minggu, Jhon menemani ibunya, "Sewaktu Mama anfal, ia berteriak, 'Yesus tolong saya!' Tak lama kemudian, Mama dipanggil Tuhan. Rasanya waktu bersama Mama belum cukup. Mama meninggal saat kami sangat dekat. Tapi hati saya sangat bahagia, Mama sudah mengakui Yesus."

Bertemu Tulang Rusuk

Jhon semakin terpacu bercerita tentang Yesus. Jadwal pelayanan padat. Awal Juni tahun 2000, Jhon bersama beberapa teman pelayanan ke Kalimantan Barat. Di sana, Jhon didampingi Pdt. Kenny Wolter. Mariana-lah yang mengurus dan banyak mendampingi Jhon. Teman-teman Jhon maupun Mariana kerap menggoda, "Wah, kayaknya kalian cocok banget," kata Jhon tersenyum menirukan godaan mereka.

Sehari menjelang kembali ke Jakarta, Jhon "didesak" teman-temannya untuk "mengungkapkan cinta". Semula Jhon ragu, sadar atas keterbatasan yang dimilikinya. Namun akhirnya, muncul keberanian itu. Jhon mengajak bicara Mariana. Memang tak ada yang dapat membandingi kuasa Tuhan. Mariana, meski kaget bukan kepalang, akhirnya menerima cinta Jhon.

Malam itu pula mereka sepakat untuk segera menikah. Hal ini disampaikan kepada Pdt. Kenny, yang kaget mendengarnya. "Pendeta bilang, uji dulu. Kami pun dipisahkan di tempat yang berbeda. Setelah selesai, kami dipanggil Pdt. Kenny. Apakah jawaban kami sama? Ternyata saya dan Mariana punya jawaban sama, mantap untuk menikah."

Pernikahan yang mengharukan itu pun dilaksanakan. "Saya pulang ke Jakarta bawa istri, mukjizat ya?" kata Jhon tertawa, Mariana yang mendampingi pun tersenyum.

Mariana mengaku kagum atas karya Tuhan dalam hidup suaminya. "Meskipun Kak Jhon begitu, dia loh yang atur keuangan keluarga. Dia pinter banget ngurus duit. Saya juga heran, dia bisa main gitar, keyboard, drum, suaranya juga bagus," ungkap Mariana, gantian Jhon tersenyum mendengar pujian istrinya.

Tak lama menunggu, Mariana hamil. Pada 13 April 2002, lahirlah Ester Agung Natanael; buah cinta kisah keajaiban.

Jhon tak lagi merasa sepi dan sendiri. Mariana dan Ester memenuhinya dengan cinta. Luka itu telah digantikan-Nya dengan sukacita.


Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Karena Dia
Judul artikel: Saya Terselamatkan Walaupun Lahir Tanpa Bola Mata
Penyusun : Niken Maria Simarmata
Penerbit : ANDI, Yogyakarta 2006
Halaman : 71 -- 80

Rencana Tuhan Yesus

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.

Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.

Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun." Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana." Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?"

"Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut."

Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan.


Renungan :
Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan
adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.

Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.

Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita. (Roma 8:28)

Tetap Semangat
Gbu

Lipstik

Suatu saat, Bu Trimbil ketinggalan lipstiknya di rumah padahal sudah sampai Gereja Paroki "Duren Montong" Misa Minggu pagi, pk. 06.00 masih setengah jam lagi. Dia bilang ama suaminya, "Pa, lipstikku ketinggalan di rumah, gimana nih, nggak pede gitu lho, ambil bentar dulu deh Pa!! Suaminya mas Trimbil bilang, "Halah Mam Mam, cuma lipstik aja kok jadi nggak pede, ngaca dong Mam, mami itu dah pesek hidungnya, jadi mau lipstik tebal kayak apa nggak akan buat hidung jadi mancung gitu, nggak akan nambah kecantikan, aku lebih seneng mami tampil apa adanya gitu lho, jadi kalau pesek malah nggak ketahuan, tapi kalau pakai lipstik kan kelihatan perbedaannya, Mam!".

Akhirnya Bu Trimbil tidak jadi minta diantar pulang dengan langkah masih lesu toh taat ama suaminya. Setelah misa usai, Pak Trimbil tanya, "Mam gimana rasanya nggak pakai lipstik? Apa mami jadi nggak pede?".

Bu Trimbil menyahut, "Pa, aku sih sebetulnya pedhe, tapi lebih afdol gitu lho kalau aku pakai lipstik rasanya kok ada yang hilang gitu."

Suaminya langsung menyahut, "Lha, jadi sekarang nggak afdol dong kalau punya suami, lebih afdol punya lipstik ya."

Bu Trimbil hanya menunduk, sambil duduk di sebelah kiri, sementara mobil berjalan keluar lapangan parkir gereja. "Pa, kok kayak gitu sih? Aku nggak punya maksud apa-apa kan? Karena wanita ingin dimengerti". Pak Trimbil lalu menyahut kembali, "Halah bu, kayak lagunya "Sinetron Jomblo So What Gitu Lhoh" Mereka pulang dengan membawa makna baru "lipstik"

Kayaknya ribet banget kalau orang ketinggalan lipstik, tapi kenapa orang tidak merasa gejolak apapun kalau kitab suci, atau puji syukur, atau rosario tertinggal di rumah, apakah yang ada di hatimu, Bu Trimbil sampai ketinggalan lipstik aja repotnya bukan main?

Begitu gelisahnya ketika HP tertinggal di rumah, padahal mau balik lagi ke rumah, waktunya tidak cukup, pasti terlambat misa. Nggak masalah terlambat sebentar, yang penting bisa bawa HP. Begitulah hati itu begitu gelisah kalau HP tertinggal di rumah tapi kenapa ya tidak ada kegelisahan sedikitpun kalau datang dalam Ekaristi dengan menyimpan rasa dendam di hati.

Begitu gencar orang berdiskusi tentang merk Notebook yang terkenal, bisa menjelaskan detil hardware dan fasilitasnya, tapi mengapa orang tidak begitu antusias untuk mendiskusikan sabda Tuhan setelah misa selesai. Selesai Misa, pertanyaannya, "Habis misa, mau ke mall mana nih?". Jarang banget ada yang mau tanya, "Tadi aku kok nggak ngerti lho kotbah pastor, kamu ngerti nggak?" Syukurlah kalau ada orang yang masih mau bertanya.

Rekan-rekanku,
hidup beriman itu butuh prioritas, dan orang yang jelas prioritas hidupnya untuk kepentingan Kasih, tentulah hidupnya juga akan diwarnai kemurhant hati, juga emosinya tidak terlalu terikat dengan fasilitas hidup. Prioritas itulah yang mesti konsisten diwujudkan dalam keseharian kita, kalau prioritas itu jelas, lalu jelas juga identitas kita. Identitas itu tidak tergantung dari wajah, gaya berjalan, cara berpakaian, tapi identitas pribadi itu ditentukan oleh prioristas sikap hidup yang terus menerus dihidupi.


salam hangat,
bslametlasmunadi