Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 October 2009

Weekly Scripture – 2 Timotius 1:7

"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." - 2 Timotius 1:7

Humor : Lupa

Ibu Yonas sedang membaca sepucuk surat dari ibunya. Tiba-tiba ia memandang suaminya dengan curiga.

“Henri”, katanya,” Aku baru saja menerima surat dari Ibu. Ibu mengatakan bahwa beliau tidak dapat menerima tawaran kita untuk datang dan tinggal bersama kita, karena kita dikira tidak senang menerimanya. Apa maksud beliau? Bukankah aku menyuruhmu untuk menulisnya dan mengatakan bahwa ia dapat datang terserah waktunya yang enak?”

“Oh, ya..”, jawab suaminya. “Namun aku lupa bagian terakhir dari perintahmu, sehingga aku hanya menulis,’kalau Ibu mau datang, itu menjadi tanggungan Ibu sendiri.’”

30 October 2009

Ketakutan Yang Positif

Amsal 15:33 "Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 121; 2 Yohanes 1; Yehezkiel 42, 25

Pada saat terjadi badai guntur yang hebat, seorang ibu sedang menidurkan anaknya dan kemudia mematikan lampu kamarnya. Namun karena takut pada badai tersebut, sang anak kemudian bertanya, "Mama, maukah Mama menemani aku tidur malam ini?" Sambil memeluknya, sang ibu menjawab, "Tidak bisa, Sayang. Mama harus tidur dengan Papa." Ketika keluar dari kamar anaknya, sang ibu mendengar, "Dasar Papa pengecut!"

Kisah diatas tentunya hanya sebuah lelucon saja, namun ketakutan adalah hal yang nyata. Bagi sebagian orang, ketakutan pasti selalu berkonotasi negatif. Tetapi benarkah begitu? Di Alkitab yang Anda dan saya baca, terdapat ayat-ayat Firman Tuhan yang menyatakan bahwa ketakutan bisa mengarah kepada hal yang positif. Salah satu ayat yang saya maksudkan adalah ada di dalam II Tawarikh 17:10, yang berbunyi,"ketakutan yang dari TUHAN menimpa semua kerajaan di negeri-negeri sekeliling Yehuda, sehingga mereka tidak berani berperang melawan Yosafat".

Bila Anda membaca II Tawarikh 17 mulai dari ayat 3 sampai dengan ayat 10, Anda akan menemukan bahwa Raja Yosafat sangat ingin rakyatnya memiliki rasa hormat dan Takut akan Tuhan. Maka janganlah bingung bila pada akhirnya ia membuat ketentuan utama bahwa semua rakyat yang dipimpinnya harus belajar Taurat Allah. Ia tahu bahwa jika rakyatnya hormat kepada Allah, mereka akan merendahkan hati dan menaati Allah. Melakukan apa yang benar akan membawa kemakmuran bagi Yehuda dan penghormatan dari kerajaan-kerajaan lain.

Kitab Amsal 15:33 menyatakan, "Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat." Orang yang memiliki rasa takut akan Dia akan bertindak dengan penuh hikmat; mereka berjalan dengan setia di hadapan Dia sambil menaati perintah-perintahNya.

Rasa takut yang benar akan menjaga kita untuk tidak melakukan kesalahan.

Sumber: Kingdom Magazine September 2009

Jawaban.com

Penyelamatan Diri Saat Gempa

29 October 2009

Kenangan

Mereka mengatakan bahwa kenangan adalah emas
Mungkin itu tidak keliru
Namun kami tidak pernah menginginkan kenangan.
Kami hanya menginginkanmu.

Sejuta kali kami memerlukanmu
Sejuta kali kami telah meneteskan air mata
Bila seandainya Kasih dapat menyelamatkanmu
Engkau tidak pernah mati untuk dunia.

Dalam hidup kami mengasihimu,
Bahkan dalam kematian pun kami masih menyayangimu
Dalam hati kami, engkau mendapatkan tempat yang istimewa
Yang tak dapat diisi oleh siapapun.

Bila air mata dapat membangun sebuah tangga
Dan kepedihan hati dapat membangun jalan,
Kami dapat berjalan ke sorga
Dan membawamu kembali.

Kini rantai keluarga kami telah putus
Dan segala sesuatu sudah berbeda.
Namun bila kelak Tuhan memanggil kami satu demi satu
Rantai itu akan tersambung kembali.

28 October 2009

Anggaplah Sebagai Kebahagiaan

Yakobus 1:12 "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 119:89-150; 1 Yohanes 4; Yehezkiel 46-47

Seorang pendeta memasang tanda di pintunya: Jika Anda bermasalah, masuklah dan ceritakanlah kepada saya masalah itu. Jika Anda tidak bermasalah, masuk dan ceritakanlah kepada saya bagaimana Anda menghindarinya.

Apa yang kita lakukan saat masalah besar datang tanpa pemberitahuan? Yokobus mengatakan agar kita menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan, karena ujian tidak terjadi tanpa sebab. Ia berkata, "sebab kamu tahu, ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun" (Yakobus 1:3,4). Dengan adanya pemahaman ini, doa-doa kita kepada Allah akan berubah dari bertanya mengapa menjadi bersyukur atas semua yang telah Dia lakukan dalam hidup kita.

Suatu hari seorang penulis renungan harian Joanne Yoder yang sedang bergumul dengan penyakit kanker dalam tubuhnnya menuliskan pemikirannya dalam surat: Saya telah menyerahkan masa depan saya pada kehendak Allah. Puji Tuhan, tidak ada satu pun, bahkan kanker, dapat menghalangi kehendak-Nya. Saya mungkin memiliki kanker, namun kanker tidak memiliki saya. Hanya Allah yang memiliki saya. Karena itu, saya menghargai doa-doa Anda agar Kristus dimuliakan dalam tubuh saya, entah hidup atau mati.

Seringkali ujian datang dalam hidup ini tanpa diduga. Kita juga tidak bisa menghindari agar tidak mengalaminya. Namun, dengan menyadari bahwa Allah menyertai kita dan ujian-ujian itu hanyalah sebuah media untuk mendewasakan kita, maka kita dapat menganggapnya kebahagiaan.

Anda tidak dapat bertahan bahkan melewati ujian hidup bila Tuhan Yesus tidak tinggal dalam diri Anda.

Sumber: Kingdom Magazine Edisi Oktober 2009

Jawaban.com

Hidup Oleh Anugerah

Nama saya Herman Tjahja, berusia 56 tahun. Kalau hingga hari ini saya masih hidup, saya tahu bahwa ini adalah anugerah Tuhan semata-mata, karena menurut dokter sebenarnya saya sudah meninggal pada bulan Agustus 2000, saat koma ketika dioperasi. Pada kesempatan ini saya ingin meyakinkan mujizat Allah yang saya alami, yang saya harap dapat menguatkan iman saudara sekalian.

Pada tahun 1991, diketahui bahwa saya mengidap penyakit jantung (coroner). Saya tidak terlalu merasakan penyakit tersebut dan aktivitas saya berjalan seperti biasa. Pada bulan Juli 2000, dilakukan kateterisasi di RS. Husada. Dari hasil pemeriksaan itu disimpulkan bahwa saya harus dioperasi, sebab bila tidak, kemungkinan hidup saya tinggal 6 bulan saja. Tetapi bila dioperasi, mengingat kondisi jantung saya yang sudah bengkak, kemungkinan berhasil hanya 50%. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya saya memutuskan untuk dioperasi di Auckland.

Hal ini saya ceritakan kepada salah seorang sahabat saya (yang sekarang saya tahu berjamaat di GBI Rehobot). Ketika ia tahu bahwa saya akan berangkat ke Auckland untuk dioperasi by-pass jantung ia datang berkunjung ke rumah saya pada hari Kamis tanggal 20 Juli 2000. Kami berbincang mengenai firman Tuhan selama + 2 jam, kemudian berdoa bersama.

Melalui pertemuan itu, saya dingatkan beberapa hal antar lain :
1. Bagaimanapun, pada akhirnya, ujung dari kehidupan ini adalah kematian. Masalahnya adalah apakah kita sudah mempersiapkan diri menghadapi kematian itu atau belum.
2. Tuhan Yesus berkata : "I am the way ....."

Berdasarkan ucapan ini, saya percaya Ia adalah jalan bagi saya untuk menuju kematian tubuh, memasuki kehidupan kekal dan sekaligus Ia pun adalah jalan bagi saya untuk menyelesaikan persoalan yang saya hadapi.

Iman saya dikuatkan, hati saya dipenuhi damai sejahtera dan dengan penyerahan penuh kepada Tuhan, keesokan harinya (21 Juli) saya berangkat ke Auckland. Tiba saatnya pada hari yang telah ditentukan Jum'at tanggal 25 Agustus 2000, saya dioperasi di RS. Greenlane - Auckland. Operasi tersebut diperkirakan akan tuntas dalam waktu 6 jam. Tetapi apa yang terjadi kemudian, tidaklah seperti perkiraan sebelumnya.

Berikut ini saya ceritakan apa yang saya alami dan informasi yang saya peroleh kemudian :
- Jum'at, 25 Agustus 2000
Saya mulai dioperasi pada sore hari, dan selanjutnya saya tidak sadarkan diri (koma).
- Selasa, 29 Agustus 2000
Saya merasa bahwa saya sudah mati. Saya melihat istri bagaikan siluet yang tidak dapat dipegang. Saya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Lalu saya berpikir : "Oh........ memang orang mati tidak bisa berhubungan dengan orang yang masih hidup".

Pada saat saya dalam keadaan koma, ternyata grafik monitor otak saya sudah hampir rata. Melalui Manager Rest Home tempat dimana istri saya bekerja, tim dokter melaporkan bahwa saya tidak mempunyai harapan untuk hidup dan sekiranya hidup, daya pemikiran saya sudah rusak dan tidak akan ingat apa-apa lagi. Selanjutnya Manager tersebut menanyakan dimana saya akan dimakamkan dan kapan anak-anak saya yang di Indonesia akan tiba di Auckland. Beberapa staff dari Rest Home tersebut mendatangi istri saya dan menyampaikan ucapan bela sungkawa atas kematian saya.

Dengan kenyataan bahwa saya tidak ada harapan hidup, tim dokter menyatakan akan mencabut alat stimulasi jantung. Istri saya kemudian meminta dengan sangat untuk diperpanjang 1 hari. Setelah mempertimbangkan hal tersebut, akhirnya tim dokter mengabulkan permintaan istri saya. Sementara saya terbaring koma tanpa harapan hidup, istri saya bersama saudara-saudara seiman lain dan para sahabat berdoa buat saya.

- Rabu, 30 Agustus 2000
Menjelang dicabutnya alat stimulasi jantung yang terpasang pada tubuh saya, terjadi sesuatu kejutan karena pada monitor terlihat adanya aktivitas pada otak lagi. Saat itu memang saya sempat sadar sesaat, tetapi kemudian tak sadarkan diri lagi. Melihat adanya perubahan grafik pada monitor tersebut, kemudian tim dokter menangguhkan pencopotan alat stimulasi jantung tersebut.

Pada Grafik pada monitor otak saya menunjukkan kondisi yang semakin baik dan secara perlahan akhirnya saya sadarkan diri. Pada sore harinya saya sadar penuh dengan pemikiran yang baik, daya ingatan yang jernih seperti sebelum dioperasi . Praise the Lord!!

Melalui pengalaman saya yang luar biasa ini, tim dokter, Manager Rest Home dan beberapa staff yang sebelumnya menganggap bahwa agama dan doa itu hanya "rubbish" menyatakan dan percaya bahwa apa yang terjadi pada diri saya adalah "MIRACLE" yang bisa terjadi oleh kuasa DOA.

Demikian kesaksian saya, kiranya bisa menguatkan dan menambah iman saudara sekalian. Terima kasih dan syukur kepada Tuhan yang telah mengerjakan mujizat ini dalam hidup saya dan terima kasih kepada saudara serta sahabat yang telah mendoakan saya. Semua biarlah terjadi hanya untuk kemuliaan Tuhan saja.

Syalom,
Herman Tjahja

27 October 2009

Apa Yang Tuhan Kehendaki

Apakah anda ingin mendapatkan apa yang anda kehendaki, bila anda merindukannya?
Apakah anda berdoa dan menanti dengan segera suatu jawaban?
Dan bila tidak memperoleh suatu jawaban secara langsung,
Apakah anda merasa dilupakan oleh Tuhan?

+++

Nah, doa yang dilakukan dengan cara ini
Sebenarnya sama sekali bukan doa,
Karena anda tak dapat datang kepada Tuhan dengan tergesa-gesa
Dan kemudian berharap mendapat jawaban akan doa anda dengan segera

+++

Doa bukanlah dimaksudkan untuk memperoleh
Keinginan kita yang bersifat egois,
Karena Tuhan dalam kearifan-Nya menolak
Hal-hal yang kita inginkan secara salah

+++

Dan janganlah berdoa untuk bebas dari masalah
Atau berdoa agar kiranya pencobaan dalam hidup kita dapat kita lewati,
Sebaliknya berdoalah untuk mendapatkan kekuatan dan keberanian
Dalam menghadapi saat-saat yang tergelap dan tidak menangis…
Bila Tuhan tidak ada di sana, ketika anda memanggilNya,
Dan seakan-akan menutup telinga menghadapi doa anda
Dan justru saat anda benar-benar memerlukan-Nya
Ia seakan-akan meninggalkan anda dalam keputus asaan

+++

Sadarlah! Anda sama sekali tak mengerti akan
Alasan dan tujuan dari doa.
Yang benar adalah agar kita tetap bahagia bahwa
Tuhan senantiasa mendekap kita dengan aman

+++

Dan Tuhan hanya menjawab permohonan kita
Bila Ia tahu, bahwa apa yang kita inginkan adalah untuk memenuhi suatu kebutuhan,
Dan bila selalu kehendakku menjadi kehendakNya
Maka tidak ada doa yang Tuhan tidak pedulikan.

26 October 2009

Kehidupan Adalah Kisah Cinta

Matius 6:33 - "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 118; 1 Yohanes 2; Yehezkiel 42-43

Tahukah Anda bahwa diri Anda begitu penting bagi Allah? Dia membutuhkan Anda untuk menjadi alat kemuliaan-Nya di dunia ini yang semakin hari semakin hancur dengan keinginannya. Dunia yang sedang sekarat ini menantikan orang-orang yang bisa memberikan jawaban atas permasalahan mereka dan semuanya itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mengenal Allah.

Seringkali kita terlalu memusingkan bagaimana menjadi seorang Kristen yang baik dihadapan orang lain. Padahal sebagai anak-anakNya, kehidupan bersama dengan Allah yang seharusnya menjadi prioritas setiap kita. Itu adalah kerinduan-Nya.

Dia ingin Anda tahu bahwa setiap hari ketika Anda berdoa kepada-Nya atau berjalan dalam iman saat sedang dalam kesulitan, itu semua bagi-Nya adalah suatu kehidupan penuh kisah cinta; kehidupan yang tidak akan dapat dirasakan ketika kita jauh dari-Nya.

Pada saat Anda bersekutu dengan Allah maka segala sesuatu yang Anda minta di dunia ini akan Anda dapatkan. Kesembuhan, kekuatan, sukacita, bahkan kekayaan akan Anda peroleh saat hati Allah terpaut kepada Anda dan begitu juga hati Anda kepada Alllah.

Jadikan Allah sebagai prioritas utama di dalam hidup Anda maka lihatlah hidup Anda tidak akan pernah sama lagi.

Sumber: God Calling; Penerbit Pionir Jaya

Jawaban.com

A Dream Cannot Be Sold

Jehdi and Hassan were two merchants who were very close friends. Jehdi was a cheerful person, almost frivolous, whereas Hassan was very serious, perhaps too cautious and careful. But an unbreakable bond of friendship tied them together and this made their journey for business happy, for they never had any dispute.

One time they started together toward the city of Touria. They arrived at the outskirts of a forest where the big trees, moist rocks and cool shade invited them to take a well-deserved rest. Within a minute Jehdi fell asleep. Hassan looked at his friend with a sigh and told himself, "He sleeps peacefully in nature, as if he were in his own house. I am afraid of someone robbing me. Even though the thief might get very little, I am too apprehensive and I prefer to be cautious. After all, one never knows what might happen".

Hassan was ruminating over his anxiety when suddenly he saw a wasp coming out of Jehdi's left nostril. Its enigmatic dance surprised him. It flew toward a single pine tree standing on a rock, circled the tree 3 times, and then returned to the sleeping Jehdi and disappeared into his right nostril.

Just at that moment Jehdi woke up, sat up laughing and said, "Hassan, you will never believe me. I just had a marvelous dream. Just imagine that there is big pine tree standing on a high rock, exactly like the one you see there. A wasp droned around the trunk and its wings buzzed as if to say, "You must dig in this place, you must dig in this place!" I started digging and I found a big pot full of gold coins. I have never in my life seen so much money...!"

"Yes, truly it is a strange dream," replied Hassan. "If I were in your place, I would have dug around the pine tree there."

"My poor friend, how na?ve you are. I would never take a dream seriously. It is so hot here, to dig would be torture! Please, let us continue our journey.."

But Hassan insisted, "Jehdi, a dream like this surely has a meaning. If you do not want to dig, I will try instead. Do you know what I propose to you? Sell your dream to me."

Jehdi began laughing loudly. "This is a good piece of business for me! How much will you pay?"

"You have said that there is a big pile of gold coins. I am your friend and I do not want to wrong you. You tell me how much you estimate to be the price of your dream."

After a brief discussion, they agreed to the sum of 300 coins.

"Never have I made such a business deal. So much money for a simple dream of no value. How gullible you are, Hassan!"

The 2 friends then went under the pine tree which the wasp had shown in the dream. Jehdi was amused to see Hassan perspiring profusely and breaking his back with the shovel. He continued on until the shovel made a dull sound as if it had struck something hard.

What a surprise for the 2 merchants when they uncovered an earthen pot full of gold coins! Before breaking it, Hassan noted an inscription near the handle: "the first of seven."

"The first of 7. That means there should be 6 more pots buried," Jehdi understood, starting to regret the deal he had concluded too quickly.

This time both of them dug with energy and, sure enough, they found the 6 pots, one after another, each one filled to the brim with gold coins. Hassan built a huge inn in the city and named it The Bulging Pot. He lived as a rich and satisfied man until his death. Jehdi often came to visit him and greeted his friend with the words, "Well, Hassan, how are you? I have come to see what has happened to my dream." And the 2 comrades patted each other on the back laughing. But every time Jehdi returned home sadder, for he knew that he could never buy back his dream.

25 October 2009

Train Switcher Interview

Joe arrived early to the train switching yard where trains are routed and set on different tracks.

Tom, the Train Switching Manager starts the interview and asks, “What would you do if two trains are on the same track coming towards each other?”

Joe answers, “I’ll go over and pull the switching lever and get one train on another track so they can pass safely.”

“Ok,” Tom says, “What would you do if the switch handle is broken off?”

Joe, “Well I would get the piece of steel over there by the shed and jamb it in the switch and use that as the lever.”

“Ok good!”

Tom asked again, “What would you do if the switch lever is broken?”

“Well, I would pick up the phone and call the main office and get them to switch it from there!”

“Ok, very good!”

Tom asked again, “What would you do if no one answers the phone? Well, then I would call my cousin Vinny at the fire department and tell him to get down here right away.”

Tom asking, “What good would that be?”

“Well, he’s never seen two trains collide.”

24 October 2009

Humor : Katakan Saja

Ada suatu malam seorang Gembala Sidang diundang oleh salah anggota jemaat untuk makan malam bersama dengan keluarganya.

Setelah selesai makan malam dan ketika makanan pencuci mulut (buah- buahan) sedang dihidangkan, tiba-tiba anak laki-laki dari keluarga tersebut yang baru berumur tujuh tahun terlihat hendak membisikkan sesuatu kepada ibunya.

"Nak, tidaklah sopan berbisik-bisik di depan tamu yang sedang menikmati makan malam, katakan saja, tidak perlu berbisik-bisik," kata ibunya.

Setelah mendapat ijin dari ibunya, anak laki-laki itu langsung berkata, "Mama..., Pak Pendeta makannya banyak ya..."

Sahabat Sejati

Ibrani 13:1 - “Peliharalah kasih persaudaraan!”

Hari – hari ini Tuhan mengingatkan kepada saya mengenai persahabatan. Tuhan memberikan kata sahabat sejati. Kenapa sahabat sejati? Karena hari-hari ini persahabatan semakin memudar dan ada beberapa orang yang memanfaatkan persahabatan itu. Kita bisa mempelajari persahabatan sejati antara Daud dan Yonatan. Bila kita membaca 1 Samuel 18:1-5, kita akan melihat bahwa hubungan persahabatan antara Daud dan Yonatan itu begitu lekat sekali sehingga di Alkitab berkata berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud.

Kita tahu sekarang bahwa persahabatan saat ini mulai memudar, kasih manusia di hari-hari terakhir ini semakin dingin. Firman Tuhan sudah memberikan tanda bahwa di akhir jaman ini kasih manusia akan semakin dingin. Matius 24:12 berkata, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang semakin dingin.”

Bagaimana caranya untuk menjaga agar kasih kita terhadap saudara-saudara seiman kita tidak semakin pudar atau dingin. Marilah kita mempelajari ada 4 Nilai yang harus kita miliki dalam persahabatan ini :

1. Sehati (Matius 18 : 19 – 20)
Didalam Matius 18 : 19 – 20 ini mengatakan : “Dan lagi Aku berkata kepadamu : Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di surga. Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka.

Jumlah dalam persahabatan tidak hanya dua orang saja melainkan bisa lebih dari dua orang. Jika kita ingin persahabatan kita langgeng maka kita harus memenuhi syarat persahabatan. Syarat itu adalah kesehatian dan kesepakatan. Kesepakatan diambil dari kata sepakat, bahasa asli kata sepakat adalah sumphoneo. Sumphoneo mempunyai arti harmonis, bersamaan, kompak, setuju. Dari kata ini kita mendapatkan kata Simfoni, simfoni bisa kita dapatkan dalam paduan suara. Paduan suara yang simfoni akan menghasilkan suara yang indah. Simfoni yang indah dilantunkan oleh sebuah orkestra, tidak berasal dari alat musik dan suara yang seragam. Bila kita mendengarkan suara terompet yang melengking tinggi, sementara suara cello bergumam rendah sedangkan suara piano timbul tenggelam disela-sela iringan biola, namun mereka semua kompak melantunkan lagu dikunci yang sama.

Kesatuan atau Unity bukan berarti kita seragam atau uniform. Coba kita bayangkan bila semua pemain orkestra adalah pemain biola yang memainkan nada yang sama dan pada ketukan yang sama maka akan membosankan padahal bukan memainkan nada yang sama. Betapa membosankan bukan!

Saat ini saya ingin membagikan kesaksian hidup saya mengenai persahabatan; ketika saya kuliah di Salatiga, saya mempunyai teman sekaligus sahabat. Dia bernama Arman Harijanto, dia kuliah di Fakultas Ekonomi UKSW sedangkan saya kuliah di Fakultas Pertanian UKSW. Saya dan Arman bertemu di GBI Pondok Daud Salatiga, kami melayani disana bersama-sama. Arman melayani di Departemen Misi sedangkan saya melayani di Departemen Profetik. Arman adalah seorang yang mempunyai tipe karakter Sanguin Kolerik, sedangkan saya adalah seorang Melankolis Plegmatis. Saya adalah seorang yang tidak suka mencari masalah, pembawaan saya adalah tenang sedangkan Arman adalah seorang yang cepat, pemikir, pemimpin dan keras kepala. Dari perbedaan karakter ini kita bisa bersama-sama dan melayani Tuhan bersama. Kita bisa sehati dan mempunyai persahabatan yang melekat.

Saudara-saudara Tuhan sangat menyukai dengan kesehatian, bila Tuhan mendengarkan lagu-lagu merdu dari orkestra kesehatian maka Tuhan akan menyuruh para malaikat memenuhi tempat dimana ada kesehatian itu dengan berkat. Tempat bisa berarti rumah tangga kita, keluarga kita, komunitas kita dan kota kita (Mazmur 133:1-3).

Saat ini kita akan membahas bagaimana caranya untuk menjaga kesehatian kita dengan sahabat kita. Ada 3 cara untuk membuat kita sehati atau sepakat, yaitu :

• Secara Roh
Didalam persahabatan kita, yang membuat kita melekat dengan sahabat kita adalah dengan saling mendoakan. Tanpa saling mendoakan kita tidak akan pernah bisa sehati. Jika kita bertemu dengan saudara seiman atau sahabat kita kita harus saling mendoakan, mendoakan bukan hanya di rumah masing-masing.

Kesaksian saya mengenai persahabatan saya bisa sehati dengan Edy, kita saling medoakan baik itu di dalam doa pribadi kita dan kita juga menyediakan waktu untuk bertemu dan berdoa bersama. Ketika Edy mengalami masalah yang cukup berat, didalam hati saya ada sesuatu yang mengganjal dan berat rasanya, Tuhan memberikan arahan untuk saya berdoa bersama dengan Edy. Kemudian setelah berdoa Edy mulai cerita masalahnya dan masalah itu bisa selesai.

• Secara Jiwa
Untuk menyatukan jiwa kita adalah dengan kesaksian kita (sharring), usahakan ada kontak dengan saudara seiman baik itu melalui telepon, sms atau bertemu langsung.

Kesaksian : waktu saya kuliah saya mempunyai sahabat-sahabat yang melekat sekali dan kami sehati. Sahabat-sahabat saya adalah Arman, Budiono, Edy walaupun periode tahun yang berbeda, namun satu kesamaannya yaitu kita bisa melakukan pertemuan yang rutin untuk sharring. Kami tidak pernah bisa melupakan persahabatan kita. Melalui pertemuan sharring ini persahabatan kita semakin sehati dan melekat. Sharring membuat jiwa kita semakin berpadu.

• Secara Jasmani
Dalam persahabatan pastilah kita akan bertemu secara periodik dan didalam pertemuan itu kita bisa melakukan aktifitas seperti makan bersama, jalan–jalan, bermain bersama. Didalam pertemuan itu kita bisa ekspresikan kasih kita, ekspresi kasih bisa melalui kata-kata, sentuhan, perhatian. Jika sahabat kita merayakan sesuatu yang spesial, kita bisa memberikan kejutan kecil sebagai bentuk perhatian kita.

Kesaksian saya : ketika arman, budiono atau edy ulang tahun pastilah saya akan memberikan kejutan kecil sebagai bentuk perhatian saya demikian juga sebaliknya. Melalui pertemuan dan ekspresi kasih maka persahabatan kita semakin sehati.

2. Kasih (Amsal 17 : 17)
Persahabatan sejati tidak bisa terwujud jikalau dasarnya tidak ada kasih. Persahabatan yang ideal adalah dibangun diatas kasih yang memberi dan rela berkorban dan tidak mengharapkan balasan.

Yohanes 15:13 berkata : Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatNya. 1 Yohanes 3 : 16, Demikianlah kita mengetahui kasih Kristus yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita ; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Tuhan sudah mengajarkan kita bahwa dalam setiap hubungan persahabatan kita harus didasari oleh KASIH. Tuhan Yesus sudah memberikan teladan didalam kehidupannya.

Kasih bisa diwujudkan dalam persahabatan kita dengan cara saling memperhatikan, kita belajar untuk memperhatikan kebutuhan dari sahabat-sahabat kita. Memang benar kasih akan lebih terasa bila diungkapkan melalui tindakan tetapi pada saat tertentu perlu juga dikatakan, masalah kapan harus melakukannya diperlukan hikmat. Oleh sebab itu mintalah kepada Tuhan agar kasih yang kita sampaikan dapat dirasakan sebagai berkat dan sahabat kita tidak salah terima.

3. Saling Membagi
Dalam kehidupan manusia, kita tidak bisa hidup sendirian, kita membutuhkan sahabat – sahabat kita untuk melengkapi kehidupan kita. Langkah pertama dalam saling melengkapi adalah saling membagi hidup kita.

Saling membagi bukan hanya melingkupi hal materi saja melainkan kita bisa saling membagi suka maupun duka dengan sahabat-sahabat kita termasuk dengan membagi perasaan kita. Saling membagi bisa diartikan saling mengemukakan masalah yang dihadapi oleh kita kepada sahabat-sahabat kita sehingga kita bisa saling mendoakan dan mencari jalan keluar dari masalah-masalah kita.

4. Setia (Amsal 18 : 24)
Kesetiaan adalah hal yang sangat penting dalam persahabatan. Kesetiaan perlu dijaga sehingga persahabatan kita tetap langgeng. Kalau kita melihat saat ini banyak orang sudah kehilangan akan kesetiaannya. Orang – orang banyak meninggalkan pasangannya, keluarganya, sahabatnya.

Persahabatan kita seringkali retak karena adanya masalah dan hilangnya kesetiaan dari sahabat – sahabat kita. Untuk menjaga kesetiaan kita harus mengambil contoh dari kehidupan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus selalu setia kepada kita walaupun kita tidak setia terhadap Dia. (II Timotius 2 : 11 – 13) Kesetiaan berarti memberikan dukungan, semangat, kasih dengan tiada putus-putusnya. Kesetiaan kepada persahabatan adalah salah satu yang harus dipegang dalam hidup persahabatan kita. Kesetiaan kita bisa ambil dari salah satu buah roh.

Kesaksian persahabatan saya dengan Ko Jahja Soemitro, kita mulai dekat ketika kita bersama-sama dalam pelayanan ke Madura, saat itu kita satu kamar, sehingga kita bisa saling share dalam perjalanan pelayanan tersebut. Setelah pulang dari Madura, persahabatan kita tetap berlanjut. Ko Jahja saya anggap sebagai kakak saya, kami saling memperhatikan dari hal-hal yang terkecil, walaupun kita hanya bertemu di gereja, kita tetap menjaga hubungan melalui telepon. Koh Jahja bilang : “Van, walaupun kamu anak tunggal, kamu tidak egois, malahan kamu bisa membagikan kasihmu kepada saya dan orang-orang lain. Saya melihat kamu setia memperhatikan dan karakter kesetiaan ada padamu.”

Kesaksian yang kedua, saya mempunyai sahabat-sahabat seperti Arman dan Budiono. Kami bertiga merupakan orang yang dari latar belakang keluarga yang berbeda, karakter kami berbeda dan kami bisa saling memperhatikan. Sampai pada saat akhir kuliah dan mereka hendak pergi meninggalkan kota Salatiga, mereka memberikan peneguhan mengenai kesetiaan yang dilihat dan didapat dari kehidupan saya.

Secara manusia memang susah untuk hidup dalam kesetiaan, namun saya mau belajar untuk setia. Walaupun dalam persahabatan ada orang-orang yang mau memecah belah persahabatan kita. Yang harus kita pegang adalah kita harus tetap setia dan jangan pernah sakit hati.

Persahabatan yang dibangun hendaknya berpengaruh positif terhadap pertumbuhan rohani kita. Kita harus bisa jadi teladan bagi sahabat-sahabat kita dan saling menjaga.

Cirebon, 20 Oktober 2009

Oleh : Joshua Ivan Sudrajat S

Weekly Scripture – 1 Korintus 12:6

“Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” – 1 Korintus 12:6

23 October 2009

Mikroskop Atau Teleskop

I Korintus 13:7 - "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 115; 2 Petrus 2; Yehezkiel 36-37

Apakah Anda mengingat masa di waktu sekolah ketika pertama melihat menggunakan sebuah mikroskop? Benda-benda yang sangat kecil seperti mikroorganisme atau biji tanaman pasti akan Anda lihat besar ketika menggunakan benda tersebut.

Nah, mari bandingkan mikroskop dengan alat yang biasa manusia gunakan untuk melihat bintang atau benda-benda di angkasa, yakni teleskop. Sistem kerja benda ini sangat berbeda dengan mikroskop. Bila dengan mikroskop seseorang dapat melihat sesuatu yang sangat kecil terlihat besar, teleskop membuat sesuatu yang tampaknya jauh menjadi lebih dekat.

Apakah Anda menyadari bahwa setiap hari dalam kehidupan ini orang-orang sedang menggunakan kedua benda ini, yakni sebuah mikroskop dan sebuah teleskop, tergantung keadaan. Dan mungkin salah satu diantaranya adalah kita sendiri.

Kita dapat begitu cepat memakai sebuah mikroskop untuk melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, sedangkan di sisi lain ketika kita melakukan kesalahan, kita menggunakan sebuah teleskop yang menyebabkan kesalahan kita sepertinya begitu kecil.

Dalam Lukas 6:41-42, Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya dengan kata-kata seperti ini, "Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?" dengan bahasa yang lebih sederhana, "Bagaimana seseorang bisa menasihati orang lain akan kesalahannya bila orang tersebut tidak bisa melihat kesalahan yang dalam dirinya sendiri?" jawabannya pastilah tidak bisa.

Oleh karena itu, Allah meminta kita menjadi orang seperti di Mikha 6:8, yakni "untuk bertindak adil dan mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah." Jika kita melihat ini secara serius, kita akan berhenti menggunakan mikroskop untuk memeriksa kehidupan orang lain dan malah memperluas rahmat serta kasih kepada mereka dengan melihat mereka melalui teleskop. Dengan teleskop, kita akan memandang orang lain dengan adil, penuh belas kasihan dan rendah hati seperti yang Yesus lakukan.

Jadi, apakah yang Anda pilih saat ini untuk melihat lingkungan sekitar, sebuah mikroskop ataukah sebuah teleskop?

Hati yang penuh dengan kasih adalah bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sejati.

Sumber: Saduran Artikel Devotional ‘Microscope or Telescope’ oleh Leah Adams

Jawaban.com

A Piece of My Heart

One day a young man was standing in the middle of the town proclaiming that he had the mostbeautiful heart in the whole valley. A large crowd gathered and they all admired his heart for it wasperfect. There was not a mark or a flaw in it. Yes, they all agreed it truly was the most beautiful heart they had ever seen. The young man was very proud and boasted more loudly about hisbeautiful heart.

Suddenly, an old man appeared at the front of the crowd and said "Why, your heart is not nearly as beautiful as mine." The crowd and the young man looked at the old man's heart. It was beating strongly, but it was full of scars. It had places where pieces had been removed and other pieces put in, but they didn't fit quite right and there were several jagged edges. In fact, in some places there were deep gouges where whole pieces were missing. The people stared -- how can he say his heart is more beautiful, they thought? The young manlooked at the old man's heart and saw its state and laughed.

"You must be joking," he said.

"Compare your heart with mine. Mine is perfect and yours is a mess of scars and tears."

"Yes," said the old man, "yours is perfect looking but I would never trade with you. You see, every scar represents a person to whom I have given my love - I tear out a piece of my heart and give it to them, and often they give me a piece of their heart which fits into the empty place in my heart, but because the pieces aren't exact, I have some rough edges, which I cherish, because they remind me of the love we shared."

"Sometimes I have given pieces of my heart away, and the other person hasn't returned a piece of his heart to me. These are the empty gouges -- giving love, is taking a chance. Although these gouges are painful, they stay open, reminding me of the love I have for these people too, and I hope someday they may return and fill the space I have waiting. So now do you see what true beauty is?"

The young man stood silently with tears running down his cheeks. He walked up to the old man, reached into his perfect young and beautiful heart and ripped a piece out. He offered it to the old man with trembling hands. The old man took his offering, placed it in his heart and then took a piece from his old scarred heart and placed it in the wound in the young man's heart. It fit, but not perfectly, as there were some jagged edges. The young man looked at his heart, not perfectanymore but more beautiful than ever, since love from the old man's heart flowed into his.

22 October 2009

Artikel Untuk Natal

Shalom,

Bulan Desember tak terasa sudah hampir tiba, dan perayaan Natal pun semakin dekat. Banyak acara-acara di televisi yang menayangkan acara-acara seputar Natal dan event-event off air lainnya.

Untuk menyambut datangnya Natal di bulan Desember nanti yang sudah semakin dekat. Rumahrenungan.com ingin menampilkan selama bulan Desember artikel-artikel yang berbau Natal, jadi siapa saja yang mempunyai cerita, artikel, tips, kesaksian, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Natal dan ingin menampilkan di Rumahrenungan.com, kami membuka kesempatan itu mulai dari hari ini, dan kirim ke samuel@rumahrenungan.com, karena kami butuh banyak artikel Natal untuk di tampilkan selama bulan Desember nanti. Setiap cerita yang masuk akan kami proses terlebih dahulu dan kemudian akan kami tampilkan. Jika artikel tersebut mempunyai sumber, cantumkan juga sumbernya.

Kami tunggu kiriman artikel dari Anda semua. Terima kasih

Tuhan Yesus Memberkati…

Samuel MS
+ Moderator +

The Secret Of Happiness

The old man shuffled slowly into the restaurant. With head tilted, and shoulders bent forward, he leaned on his trusty cane with each unhurried step.

His tattered cloth jacket, patched trousers, worn out shoes, and warm personality made him stand out from the usual Saturday morning breakfast crowd. Unforgettable were his pale blue eyes that sparkled like diamonds, large rosy cheeks, and thin lips held in a tight, steady smile.

He stopped, turned with his whole body, and winked at a little girl seated by the door. She flashed a big grin right back at him. A young waitress named Mary watched him shuffle toward a table by the window.

Mary ran over to him, and said, "Here, Sir. Let me give you a hand with that chair."

Without saying a word, he smiled and nodded a thank you. She pulled the chair away from the table. Steadying him with one arm, she helped him move in front of the chair, and get comfortably seated. Then she scooted the table up close to him, and leaned his cane against the table where he could reach it.

In a soft, clear voice he said, "Thank you, Miss. And bless you for your kind gestures."

"You're welcome, Sir." She replied.

"And my name is Mary. I'll be back in a moment, and if you need anything at all in the mean time, just wave at me!"

After he had finished a hearty meal of pancakes, bacon, and hot lemon tea, Mary brought him the change from his ticket. He left it lay. She helped him up from his chair, and out from behind the table. She handed him his cane, and walked with him to the front door.

Holding the door open for him, she said, "Come back and see us, Sir!"

He turned with his whole body, winked a smile, and nodded a thank you. "You are very kind." he said softly.

When Mary went to clean his table, she almost fainted. Under his plate she found a business card and a note scribbled on a napkin. Under the napkin was a one hundred dollar bill.

The note on the napkin read...

"Dear Mary, I respect you very much, and you respect yourself too. It shows by the way you treat others. You have found the secret of happiness. Your kind gestures will shine through those who meet you."

The man she had waited on was the owner of the restaurat where she worked. This was the first time that she, or any of his employees had ever seen him in person. (Steve Brunkhorst)

Mencoba, Apa Salahnya?

Markus 5:34 - "Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 114; 2 Petrus 1; Yehezkiel 33-35

Suatu ketika seorang guru berkata kepada muridnya seperti ini, "Ayo kerjakan. Jangan takut gagal bila belum mencobanya." Tidak tahu apakah perkataan itu benar-benar dari hatinya, tetapi kata-kata tersebut berhasil membuat muridnya untuk mengerjakan soal mata pelajaran yang ia berikan walaupun hasilnya masih salah.

Sang guru tidak mempersoalkan hasil yang didapat oleh anak didiknya benar atau salah. Baginya keinginan untuk berusaha memecahkan soal yang ia berikan adalah sebuah langkah yang tepat daripada mendengar muridnya tersebut berkata, "saya tidak bisa pak". Demikian juga sebenarnya yang Allah inginkan dalam kehidupan kita.

Seringkali kita pasrah dengan keadaan yang menyesakkan kehidupan kita. Tanpa melakukan apapun, kita sudah berkata kepada Tuhan "saya sudah tidak sanggup" atau "masalah ini begitu berat, pasti saya tidak bisa keluar dari hal ini". Semua pikiran dan kata-kata negatif keluar hingga diri kita dikuasai dan akhirnya kita pun kalah.

Rancangan-Nya bagi setiap kita adalah menjadi pemenang dan itu tidaklah berubah sampai sekarang ini dan karya penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah buktinya. Namun, semuanya ini tidak akan terjadi dalam kehidupan kita bila kita tidak mengambil langkah untuk mempercayai firman Tuhan.

Gunakan iman Anda dan mulai berjalanlah selangkah demi selangkah dalam janji perkataan-Nya. Ketika Anda melakukan hal itu, kemenangan yang sudah Tuhan janjikan tersebut akan Anda raih.

Ketakutan adalah cara termudah yang iblis pakai untuk membuat Anda tidak berjalan dalam rancangan indah Tuhan.

Jawaban.com

21 October 2009

Second Album “Harmony” from The Priests

Second album “Harmony” from The Priests. Enjoy the sneak peak : Amazing Grace or please visit The Priests for further informations.

Inspiring For A Better Tomorrow

Biarkan Mimpi Anda Tetap Hidup

Efesus 3:20-21 - "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 113; 1 Petrus 5; Yehezkiel 31-32

Ada seorang yang pernah berkata kepada saya, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini awalnya dari mimpi. Entah dia mengambil perkataan dari orang lain atau tidak, tetapi kata-kata ini sungguh-sungguh membuat saya berpikir, "apakah mimpi memang mempunyai kekuatan sehebat itu?"

Awalnya, saya kurang percaya dengan mimpi karena bagi saya yang memiliki prinsip ‘hidup itu seperti air mengalir', mimpi adalah sebuah lelucon yang Tuhan berikan agar menyenangkan manusia. Saya yakin bahwa tanpa mimpi manusia dapat sukses dan bahagia. Tetapi, itu dulu sebelum saya mengenal Tuhan.

Pertobatan saya membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan yang saya jalani. Saya mulai memiliki mimpi seperti apa ke depan saya nanti. Saya mendoakan mimpi-mimpi saya itu dan satu persatu mimpi tersebut mulai digenapi. Dan sejujurnya saya pun kaget melihat itu terjadi.

Saya percaya itulah luar biasanya Allah. Dia memberikan harapan kepada manusia dari sebuah mimpi. Walaupun tidak semua mimpi itu terwujud, tetapi Dia memberikan sebuah gambaran bahwa hari esok itu luar biasa bagi kehidupan kita.

Mungkin diantara Anda ada yang saat ini memiliki kenangan buruk dengan yang namanya ‘mimpi' karena melihat bahwa tidak ada satu pun dari mimpi-mimpi Anda itu yang digenapi, namun janganlah menguburnya. Biarkan mimpi-mimpi itu terus ada dan hidup dalam kehidupan Anda dan taruhkan itu ke dalam tangan Tuhan. Percayalah, akan segera tiba waktunya penggenapan hal-hal itu dalam kehidupan Anda jika Anda tetap setia berjalan dalam rancangan-Nya.

Memiliki impian bukanlah kesalahan, tetapi sebuah anugerah dari Tuhan kepada setiap manusia.

Jawaban.com

20 October 2009

Malaikat

John Paton adalah seorang misionaris di kepulauan New Hybrids. Pada suatu malam, orang-orang pribumi yang fanatik mengepung pusat Misi dan berencana untuk membakar habis semua bangunan serta membunuh keluarga Paton. Keluarga Paton berdoa sepanjang malam yang amat menakutkan itu serta kiranya Tuhan berkenan untuk membebaskan mereka. Ketika pagi hari tiba, mereka merasa heran bahwa para pribumi telah meninggalkan pusat misi itu.

Setahun kemudian, kepala suku itu yang sudah menjadi orang percaya, mengingat akan kejadian yang telah lampau. Paton bertanya kepada kepala suku itu, mengapa mereka tidak jadi menyerbu dan membakar habis serta membunuh mereka pada malam yang menakutkan itu. Kepala suku dengan heran menjawab,” Siapakah orang-orang yang bersama dengan kalian itu?” Paton mengatakan bahwa sama sekali tidak ada orang-orang pada saat itu. Namun kepala suku itu bersikeras, ia takut untuk menyerang karena ia melihat beratus-ratus orang yang tinggi dan besar dalam pakaian perang dan dengan pedang terhunus mengitari pusat misi itu sepanjang malam.

Today in the Word, MBI, October 1991

Ketika Tuhan Berkata

Tuhan Yesus Berkata…

Jika kau tak pernah merasa sakit, Bagaimana kau tahu bahwa Aku Penyembuh?
Jika kau tak pernah pergi tanpa kesulitan, Bagaimana kau tahu bahwa Aku Pelepas?
Jika kau tidak pernah menghadapi pencobaan, Bagaimana kau dapat memanggil dirimu pemenang?
Jika kau tidak pernah merasa sedih, Bagaimana kau tahu bahwa Aku Penghibur?
Jika kau tidak pernah berbuat kesalahan, Bagaimana kau tahu Aku Pengampun?
Jika kau tahu segala hal, Bagaimana kau tahu bahwa Aku dapat menjawab pertanyaan-pertanya anmu.
Jika kau tidak pernah berada dalam kesulitan, Bagaimana kau tahu bahwa Aku akan datang untuk menyelamatkamu?
Jika kau tidak pernah hancur, Lalu bagaimana kau tahu bahwa Aku dapat memulihkanmu?
Jika kau tidak pernah menghadapi masalah, Bagaimana kau tahu bahwa Aku dapat menyelesaikannya?
Jika kau tidak mengalami beberapa penderitaan, Lalu bagaimana kau tahu bahwa kau dapat melaluinya?
Jika kau tidak pernah melaui api, Lalu bagaimana kau menjadi murni?
Jika Aku memberikan semua barang kepadamu, Bagaimana kau akan menghargainya?
Jika Aku tidak pernah mengoreksimu, Bagaimana kau tahu bahwa Aku mengasihimu?
Jika kau punya semua kemampuan, Bagaimana kau belajar bergantung kepada-Ku?
Jika hidupmu sempurna, Lalu untuk apa engkau memerlukan Aku?

Tuhan Yesus Kristus Memberkati!

The Next Star

Matius 5:16 "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 112; 1 Petrus 4; Yehezkiel 28, 30:20-26

Orang tua mana yang tidak bangga ketika anaknya menjadi juara kelas di sekolahnya? Atau guru yang melihat anaknya menjadi presiden atau orang penting di negeri ini? Tidak ada yang tidak bangga pastinya. Bagitu pun dengan Tuhan kepada kita, anak-anakNya di bumi ini.

Dari sejak awalnya, Dia telah menetapkan kita menjadi terang di dunia ini, tetapi tidak semua dari kita yang menyadari hal itu. Salah satu penyebabnya adalah dosa. Keengganan kita melepaskan diri dari dosa membuat apa yang ingin Tuhan kerjakan dalam hidup kita menjadi terhambat. Oleh karenanya, panggilan untuk bertobat tidak pernah berhenti Dia kumandangkan bagi setiap kita.

Ketika kita meresponi panggilan pertobatan ini dengan sungguh-sungguh maka tangan-Nya mulai menuntun kehidupan kita kembali kepada trek yang sudah Tuhan buat untuk kita lewati. Kehadiran-Nya dalam kehidupan kita membawa kita menjadi bukan lagi orang-orang yang biasa, tetapi luar biasa. Lihatlah tokoh-tokoh seperti Smith Wigglesworth, John Sung, D.L. Moody, Florence Young, John Wycliffe, atau Martin Luther King, Jr; mereka semua adalah orang-orang biasa seperti kita, tetapi Tuhan pakai dengan luar biasa pada zamannya masing-masing.

Saat ini dimanapun Anda berada dan berprofesi sebagai apa; mahasiswa, guru, karyawan, manajer, direktur, pemimpin perusahaan, Allah ingin Anda menggenapi panggilan-Nya, yakni menjadi bintang yang yang memancarkan terang kemuliaan-Nya kepada dunia ini. Namun, pertanyaannya hari ini "Sudahkah Anda menjadi bintang di dalam lingkungan sehari-hari seperti yang Allah rindukan?"

Menjadi anak-anak Allah berarti menjadi orang-orang yang siap mendapat sorotan di dunia ini.

Jawaban.com

19 October 2009

Beking

Yohanes 14:16 - "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 111; 1 Petrus 3; Yehezkiel 26-27

Pernahkah Anda mendengar kata "beking"? Saya yakin Anda banyak dari antara Anda yang mengetahuinya. Seperti yang kita ketahui, beking artinya adalah orang yang melindungi atau menyokong kita. Biasanya orang ini memiliki kemampuan atau kekuatan, sehingga mampu menjadi pelindung bagi pihak lain.

Dalam usaha, mencari pekerjaan, memasukkan anak ke sekolah favorit seringkali orang-orang pada umumnya, bahkan banyak juga orang Kristen menggunakan beking sebagai jaminan keberhasilan. Mereka lupa bahwa mereka memiliki kemampuan dan Tuhan yang lebih besar daripada orang yang menjadi beking mereka. Sedih, tapi itulah kenyataanya.

Sebelum Tuhan Yesus naik ke Surga, Dia berkata kepada murid-muridNya agar mereka tidak kuatir dan takut karena akan ada Penolong yang dikirimkan Allah Bapa untuk menyertai mereka selama-lamanya, yakni Roh Kudus. Dan tahukah Anda Roh Kudus masih ada bersama kita sampai sekarang ini.

Sebagai murid-murid Tuhan Yesus di akhir zaman ini sudah sepatutnya mempercayai perkataan-Nya dibanding manusia. Dia adalah pencipta alam semesta dan segala yang ada di dunia ini tidak akan terjadi tanpa seizin-Nya. Tuhan lah yang harus menjadi beking Anda, bukan si A, B, atau C; mereka semua itu tidak akan dapat menandingi kekuatan dan kuasa dari Raja segala raja. Namun, ada satu yang tidak dapat kerjakan, yakni memberi Anda perlindungan untuk hal yang jahat atau tidak berkenan kepada-Nya. Ingatlah, dosa adalah dosa dan Tuhan tidak dapat menyentuhnya.

Jadikan Yesus sebagai andalan hidup Anda karena tidak ada satu pun di alam semesta ini yang dapat menandinginya.

Jawaban.com

Hari Ini

Sepanjang hidupku, aku mencari-cari,
seorang yang mau mencintaiku,
seorang yang mau menerimaku apa adanya,
seorang yang akan mengisi hari-hariku,
seorang yang akan membuat aku berbahagia

Ketika seseorang datang,
kupikir inilah saatnya tapi akhirnya dia pun pergi,
dan ketika cinta itu hilang,
ketika segalanya berakhir,
aku kembali merasakan kekosongan yang sama lubang kekurangan kasih membuka lebih lebar luka-luka yang ada kembali timbul bahkan jauh lebih menyakitkan

Pada waktu itu, aku berkata
Tuhan, aku tahu suatu hari nanti aku akan bahagia,
Ketika kau menyediakan seseorang yang lebih baik,
seseorang yang mengasihiku,
seseorang yang menerimaku,
seseorang yang mengerti aku,
seseorang yang bisa dipercaya,
seseorang yang mau membantuku mengobati luka-luka yang ada suatu hari nanti,
aku akan berbahagia aku akan berbahagia nanti, kapan?! nanti !

Aku terus menunggu,
kapan itu datang,
aku terus berjalan sambil berharap,
semoga itu terjadi tidak lama lagi,
terus menerus berjalan menunggu,
kapan nanti itu datang,
kapan aku bisa berbahagia

Sampai akhirnya,
aku mendengar Ia tertawa,
"Anak-Ku, mengapa kau menunggu sesuatu yang sudah kau miliki?"
Apa maksud-Mu, Tuhan!
Aku mengharapkan seseorang yang akan mengasihiku,
yang akan menerimaku,
yang mau peduli denganku yang akan menyembuhkan luka-luka di hatiku seseorang yang bisa membuatku bahagia "Dia sudah datang?"
Belum Tuhan.
Aku melihat Dia tersenyum lebih lebar
"Belum!!"
Rasanya sih belum.
"Bagaimana dengan-Ku? tidakkah AKU memenuhi kriteriamu?"

Aku terdiam dan berpikir,
Aku menatap kearah-Nya,
melihat mata-Nya yang selalu memandangku dengan penuh sayang,
aku menggenggam tangan-Nya yang selalu menopangku ketika aku terjatuh,
yang menghapus air mataku,
aku meraba pergelangan tangan-Nya,
tempat DIA dulu dipaku ,
aku merasakan pelukan-Nya dan tiba-tiba aku menyadari kebodohanku

Kenapa aku harus menunggu nanti?
aku bisa berbahagia hari ini!
kenapa aku harus menunggu sampai pasanganku tiba, baru aku bisa bahagia!
kenapa aku harus menunggu seorang manusia yang diperanakkan dari dosa, untuk membuatku bahagia?
kenapa harus menunggu,
jika aku bisa berbahagia hari ini?

Hari ini,
aku bahagia karena aku punya DIA,
yang mengasihiku apa adanya,
Hari ini,
aku bahagia karena aku punya DIA,
yang menerimaku apa adanya,
Hari ini,
aku bahagia karena ada DIA,
yang mengobati semua luka-luka di hatiku Hari ini dan bukan nanti

Tidak ada kebahagian yang lebih besar,
daripada hari ini,
kebahagian kemarin adalah kenangan,
kebahagian hari depan adalah impian,
sedangkan kebahagian hari ni,
adalah untuk dinikmati,
dan hari ini aku bisa berbahagia,
karena aku punya DIA !!

From The Book Of : The Puzzle Of Teenage Life

18 October 2009

Di Toko Bunga

Seorang pemuda masuk ke sebuah toko bunga. Dalam toko bunga tersebut terpampang tulisan yang sangat besar "KATAKAN DENGAN BUNGA".

"Tolong bungkuskan satu tangkai bunga mawar," kata pemuda itu kepada si penjaga toko.

"Hanya satu tangkai?" tanya si penjaga toko.

"Yap, hanya satu," kata si pemuda itu. "Karena aku adalah laki-laki yang tidak banyak bicara!"

17 October 2009

Humor : Gara-gara Lilin

Ny. O’Reilly yang sedang berjalan, berpapasan dengan Pastur O’Flannagan.

Pastur berkata, “Hai Ny. O’Reilly…bagaimana kabar suamimu? Bukankah saya yang menikahkan Anda berdua kira-kira lima tahun yang lalu?”

“Ya, memang Andalah yang menikahkan kami, Pastur,” jawab Ny. O’Reilly. Lalu Pastur bertanya lagi, “Berapa anak Anda sekarang?” “Oh, tidak ada, Pastur, kami belum mempunyai anak satupun.” “Baiklah, minggu depan aku pergi ke Roma, di sana aku akan berdoa dan menyalakan sebuah lilin bagimu,” kata Pastur.

Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu lagi di jalan dan Pastur bertanya, “Ny. O’Reilly apakah Anda sudah mempunyai anak?”

“Oh, sudah Pastur, saya mempunyai tiga pasang anak kembar, dan dua pasang anak yang tidak kembar, jadi semuanya ada sepuluh orang,” jawab O’Reilly.

Lalu Pastur berkata, “Wow, bukankah itu sangat luar biasa!! Bagaimana keadaan suamimu?”

“Dia sedang pergi ke Roma,” jawab Ny. O’Reilly

“Ke Roma??? Ada urusan apa dia berangkat ke Roma?” tanya Pastur.

“Mematikan lilin yang Pastur nyalakan,” jawab Ny. O’Reilly.

Bukan Masalah Besar

Mazmur 23:4 - "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 109; 1 Petrus 1; Yehezkiel 23-24

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang sepertinya hidupnya yang ia jalani itu lurus-lurus saja? Mau hidupnya sedang diterjang masalah atau sedang berkecukupan, orang itu tetap menunjukkan sikap yang sama yakni bersukacita. Kita mungkin berkata, "Ia sedang berlaku munafik karena sebenarnya dia sedang sedih, tetapi dia tidak tunjukkan", tetapi benarkah seperti itu?

Sewaktu sekolah dulu, saya mempunyai seorang teman seperti ini. Saya pun berpikir yang sama seperti Anda-anda yang berpikir, "nih orang pasti munafik, kok dia selalu tidak pernah terlihat sedih sih. apakah hidupnya selalu baik-baik saja?" jujur pikiran itu cukup lama ada di pikiran saya. Namun, lewat sebuah peristiwa dimana ketika hanya dia dan saya, pikiran negatif saya itu hilang dengan sendirinya.

Waktu itu teman saya memiliki masalah dengan keluarganya yang cukup besar dan saya mengetahui hal itu. Ketika itu, sehabis pulang sekolah seperti biasa saya mendekati teman saya ini untuk mengajak pulang bersama karena arah rumah kami itu sama. Saat berjalan kaki menuju halte bus, saya pun menanyakan mengenai keadaan keluarganya. Dan tahukah Anda, ketika saya menanyakan hal ini dia tetap menunjukkan wajah yang sama; wajah penuh sukacita.

Sebelum saya melanjutkan pertanyaan saya, dia berkata seperti ini, "Mungkin orang berpikir saya ini orang munafik karena tidak pernah menunjukkan kesedihan. Tetapi, sebenarnya saya adalah sama seperti kamu. Hanya saja, ada satu yang mungkin membuat perbedaan antara kita, yakni setiap saya sedang dalam masalah seperti sekarang ini saya menaruhkannya ke tangan Tuhan. Entah mengapa ketika saya datang kepada-Nya dan membaca firman-Nya ada damai sejahtera dan sukacita yang mengalir dalam hidup saya. Itulah mengapa saya selalu seperti ini"

Jujur ketika mendengarnya, hati saya tersentak dan mulai merasa begitu kagum dengan Tuhan. Tiada kata-kata yang dapat menggambarkan kemahadasyatan diri-Nya.

Apakah hari ini Anda mau memiliki sukacita dan damai sejahtera seperti itu? Sukacita dan damai sejahtera yang tidak terpengaruh oleh keadaan dan waktu; Sukacita dan damai sejahtera yang membuat Anda tetap optimis menjalani hari-hari Anda. Itu hanya Anda dapatkan bila Anda di dalam Tuhan.

Ketika Anda memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan maka segala permasalahan dan kondisi yang tidak menyenangkan tidak akan membuat Anda bersedih, tetapi tetap bersuka karena Anda tahu ada jalan keluar dan kekuatan yang Tuhan berikan ketika menjalaninya. Jadi, bila ada situasi buruk datang ke dalam hidup Anda, katakan bahwa itu bukanlah masalah besar karena ada Tuhan yang luar biasa bersama dengan Anda. Tetaplah bersukacita!!

Seberapa besar masalah yang Anda hadapi, Kuasa Allah tetaplah lebih besar.

Jawaban.com

Weekly Scripture – Matius 17:20

"... Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." - Matius 17:20

16 October 2009

Salib Kemerdekaan

Yohanes 19:30 - "Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 108; Yakobus 5; Yehezkiel 21-22

Pasti hampir semua kita mengenal apa itu Patung Liberty; patung yang berdiri menjulang tinggi yang ada di Amerika Serikat. Patung ini bukanlah sembarang patung yang hanya dijadikan sebuah pajangan saja. Patung Liberty memiliki arti tersendiri bagi warga Amerika Serikat. Bagi mereka, patung ini merupakan simbol kemerdekaan; tanda bahwa mereka telah bebas dari segala penjajahan.

Pada alas patung Liberty itu ada sebuah kalimat yang dicetuskan oleh Emma Lazarus yang sangat menyentuh, bunyinya seperti ini: "Datanglah kepadaku hai orang-orang yang letih dan miskin, rakyat yang merindukan udara kebebasan dan orang-orang yang terbuang dari masyarakat. Kirimkanlah kepadaku para tunawisma dan orang-orang yang terlantar: Aku telah meninggalkan oborku di sisi gerbang emas!"

image Kata-kata yang tertertulis di benda yang tidak bernyawa tersebut begitu bersejarah sehingga generasi demi generasi di bangsa itu tidak pernah melupakannya. Namun, ada satu monumen lain yang begitu menjulang tinggi dan menawarkan kemerdekaan rohani bagi orang-orang yang diperbudak dan dibelenggu oleh dosa. Apakah itu? monumen itu bernama salib Yesus.

Salib tersebut awalnya hanyalah sebuah benda yang tidak dianggap oleh siapa pun karena merupakan simbol dari kehinaan. Namun, ketika Yesus, Anak Allah berada di salib untuk menebus dosa manusia; benda yang melambangkan kehinaan itu berubah makna menjadi lambang kemenangan atas maut. Dari salib itu terdengar seruan. "Ya Bapa, ampunilah mereka" dan "Sudah Selesai" (Yohanes19:30). Keselamatan dan kemerdekaan atas dosa menjadi milik kita ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat.

Kematian Yesus telah mengubah masa depan hidup manusia yang tadinya akan berakhir dalam kebinasaan menjadi kehidupan kekal bersama dengan Allah. Hari ini undangan salib Kristus yang luar biasa itu datang kepada Anda. Maukah Anda menerimanya? Atau Tuhan harus kembali kecewa karena penolakan yang Anda lakukan? Jangan sia-siakan kesempatan hari ini; bertobatlah dan terimalah kebebasan atas dosa dan segala kutuk yang mengikat Anda.

Hidup dalam kemerdekaan sejati hanya ada jika kita tinggal di dalam Yesus Kristus.

Jawaban.com

Apartemen Lantai 60

Ada satu keluarga yang mengontrak rumah dan akhirnya membeli sebuah apartemen di lantai 60. Apartemen itu memakan waktu sangat lama dalam pembuatannya. Kemudian, tibalah hari yang dinanti. Apartemen dambaan telah jadi dan selesai dengan baik. Dengan semangat dan antusias mereka membawa banyak barang-barang untuk mengisi apartemen mereka. Mereka membawa surat kabar, pakaian, mainan, makanan, kompor, lemari pakaian, tempat tidur, peralatan makan, televisi, alat musik, sabun, teropong, dan banyak sekali barang lain.

"Nanti di atas, kita bisa nonton tv, main video game, masak terus makan masakan buatan sendiri, bisa bersantai sambil mendengarkan musik, bisa meneropong jauh, bersantai, mandi dulu, pokoknya enak deh..." demikian pikir mereka.

Sesampainya mereka di sana, mereka menemui developer. Ternyata, apartemen itu baru setengah jadi dan lift belum terpasang. Mereka sangat kecewa dibuatnya. Mereka ingin pulang ke rumah lama mereka, tapi kontrak mereka sudah habis. Dengan sangat terpaksa, mereka harus tetap naik ke atas sana dan tinggal di dalamnya menggunakan tangga darurat. Mereka naik membawa semua barang mereka menggunakan tangga darurat. tangga demi tangga dilalui, mereka terus maju dengan semangat membara.

Sesampainya mereka di lantai 25 mereka kelelahan, mereka makan dan minum dengan lahapnya. Lalu mereka melihat barang-barang mereka, semuanya utuh. Timbul sebuah pikiran untuk mengurangi barang bawaan mereka. Lalu mereka memutuskan untuk meninggalkan meja telepon dengan teleponnya. "Toh diatas kita tidak perlu telepon atau pesan apa-apa," demikian menurut mereka.

Di lantai 30 mereka tinggalkan baju, mainan dan lemari pakaian mereka. "Toh kita masih memakai baju."

Lalu mereka terus melaju ke lantai 35, mereka masih mengeluh dan memutuskan untuk meninggalkan barang mereka lagi yaitu televisi dan radio serta compo. "Soalnya kita tidak perlu nonton tv, toh acara dan lagu-lagu yang kita punya itu-itu saja."

Teruslah mereka melaju sampai lantai 45, rasanya masih berat dan tidak menyenangkan. Maka mereka tinggalkan kompor dan bahan makanan yang mereka bawa. "Toh tadi masih kenyang makan banyak."

Lalu, di lantai 55 teropong dengan tripod yang sangat besar mereka tinggalkan begitu saja. "Toh di atas mau lihat apa, belum jadi semua tower yang lain."

Sesampainya di lantai 60, mereka masuk dan menyadari yang mereka miliki hanya sebuah kasur. Tidak ada jalan lain, mereka hanya ingin tidur karena tidak ada pilihan lain.

And so.... what's the point? Mungkin Anda bingung kenapa perumpamaan ini sangat panjang. Perjalanan itu melambangkan kehidupan. Tiap lantai yang ada, melambangkan umur. Dan Anda adalah keluarga tersebut. Barang-barang tersebut adalah mimpi Anda, barang-barang tersebut adalah perlambang tindakan Anda.

Di umur 25 Anda mulai bekerja dan memutuskan untuk fokus pada pekerjaan Anda, tanpa sadar Anda telah mengeliminasi banyak sahabat potensial. Di umur 30 Anda sudah tidak memperhatikan penampilan dan melupakan hobi Anda akibat sulitnya bersaing. Di umur 35 Anda mulai melupakan kesenangan yang Anda dambakan di hari tua akibat kenyataan bahwa tabungan Anda tidak mencukupi. Di umur 45 Anda berhenti makan makanan yang Anda sukai akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan di usia 25 yang mulai berdampak buruk di usia ini. Di umur 55 Anda benar-benar melupakan keinginan menikmati hari tua dengan memandang indahnya hidup dengan menikmati apa yang Anda lewati, Anda mulai kuatir dengan masa depan anak Anda. Di umur 60, Anda menyesal tidak banyak yang Anda dapat akibat tidak ada mimpi yang direalisasikan. Anda hanya ingin cepat tidur selamanya, karena Anda sudah tidak bisa lagi makan makanan enak, Anda tidak memiliki "achievement" yang bisa dibanggakan, Anda tidak punya siapapun yang menjadi sahabat Anda, Anda tidak bisa menikmati hobi Anda di masa muda, kesehatan badan mengkuatirkan.

Hidup cuma datang sekali. Jadi pastikan, Anda akan berjuang untuk mencaoai mimpi-mimpi Anda! Jangan lepaskan, tapi usahakan. Jangan sampai kita kehabisan pilihan dalam menjalani hidup. *Dreaming is a freedom, so free your dreams*.

15 October 2009

Kualitas Hidup

Kolose 3:23 - "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 107; Yakobus 4; Yehezkiel 19-20

Martin Luther King Jr, pernah berkata, "jika seseorang ditakdirkan untuk menjadi penyapu jalan, ia harus menyapu jalan seperti Michaelangelo melukis atau Beethoven bermain musik, atau Shakespear menulis. Ia harus menyapu jalan dengan baik, sehingga semua pemilik rumah di surga dan bumi akan berhenti untuk berkata: disini hidup tukang sapu jalan besar yang mengerjakan pekerjaannya dengan baik."

Pernyataan diatas mengajarkan kepada kita suatu kebenara, bahwa apapun yang kita kerjakan atau dimana pun kita ditempatkan haruslah kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Hal ini berarti bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita. Namun, hal ini terkadang sulit untuk dilakukan khususnya bagi mereka yang sudah terbiasa memegang pekerjaan yang besar. Tetapi, mengenai hal ini Paulus memberikan nasihatnya.

image Dalam suratnya kepada Jemaat di Kolose, Paulus mengingatkan agar mereka melakukan apa yang menjadi kewajiban mereka seperti yang untuk Tuhan. Apa artinya ini? Artinya setiap pekerjaan atau pelayanan yang diberikan kepada kita akan Tuhan minta pertanggungjawabannya. Bila kita memegang prinsip ini maka apa yang kita lakukan hasilnya pun tidak mengecewakan.

Orang-orang sekitar kita akan menilai setiap pekerjaan yang kita lakukan, bahkan bukan kita yang dinilainya, tetapi Dia yang hidup dalam kita. Baik buruknya hasil pekerjaan yang telah kita perbuat akan menyeret nama Tuhan ke dalamnya.

Oleh karena itu, marilah kita mulai menganggap setiap tugas, pekerjaan atau pelayanan yang diberikan kepada kita adalah anugerah dari Tuhan, sehingga ketika akan mengerjakannya, kita melakukan semuanya itu dengan sungguh-sungguh dan hati yang rela.

Keseriusan Anda melakukan pekerjaan menandakan seberapa besar arti Tuhan dalam hidup Anda.

Jawaban.com

Chicken a la Carte

14 October 2009

I Love Indonesia

Paris? No.. Ini Lapangan Banteng


Midnight at Hongkong? No it is Thamrin


Pedestrian in US? No.. Ini di Makassar


Shanghai? No.. Ini Mangdu (Mangga Dua)


Bandara di Eropa? Hmm...


New Zealand? Bukann ... pulau Komodo


Monaco? No... It's Bunaken


Serasa di Afrika... tapi Gunung Kidul


Seperti Universitas di Eropa


Mirip kota Gaza... padahal ... Medan


Hmm... Kayak Manhattan


Kayak di Singapura? Padahal Gramedia Surabaya loh..


Serasa di perkampungan Swiss


Serasa mau melintas ke negara bagian US? Padahal mau nyeberang Suramadu

Hal Sederhana

Matius 25:21 - "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 106; Yakobus 3; Yehezkiel 17-18

Suatu kali seorang anak kecil datang menghampiri ibunya, katanya seperti ini, "Ma, aku mau ngebantu papa membetulkan mobil itu, tapi aku gak tahu caranya. Aku kan tidak mengerti tentang mesin. Nanti bukannya membantu malah ngerusakin lagi." Sang ibu yang melihat keinginan besar dari anaknya menjawab, "Nih, kamu bawa gelas air kasih ke papa sana," Tanpa disuruh dua kali, ia pun berjalan perlahan-lahan sambil membawa segelas air.

Tidak berapa lama kemudian sampailah di samping ayahnya yang sedang bekerja. Namun, saking seriusnya ayahnya tidak menyadari kehadiran si anak. Tidak kehabisan akal, si anak pun menepukkan tangannya ke paha sang ayah dan benar ayahnya pun menoleh kepadanya. Dengan tersenyum, anak kecil ini menyodorkan gelas berisi air kepada sang ayah. Terkejut dengan apa yang dilakukan anaknya, sang ayah menerima gelas tersebut dan meminumnya.

Setelah meminum air tersebut, sang ayah pun mengucapkan kata-kata terima kasih kepada si anak, "terima kasih ya nak udah bawain papa air minum. Apa yang kamu lakukan telah membantu papa sehingga papa tidak kehausan lagi dan bisa menyelesaikan memperbaiki mobil yang sedang rusak ini".

Seringkali kita pun berpikir sama dengan yang anak kecil itu pikirkan. Kita berusaha keras mencari bagaimana menyenangkan hati Tuhan dengan giat dalam pelayanan mimbar atau persekutuan yang menghadirkan ribuan jiwa. Kita merasa dengan melakukannya semuanya itu kita telah membuatnya tersenyum. Namun, ternyata Dia tidak terlalu memperhatikan itu.

Yang membuat Allah tersenyum adalah ketika Anda dengan setia mencari wajah-Nya setiap hari; tidak bersungut-sungut ketika mendapat pekerjaan yang sepertinya remeh yang diberikan oleh orang di keluarga, kantor, maupun gereja Anda. Semua itu mungkin terlihat sederhana bagi orang-orang dunia, tetapi Dia memperhitungkannya.

Ukuran Tuhan menilai Anda adalah kesetiaan, hanya itu.

jawaban.com

13 October 2009

Yesus Palsu Di Siberia

Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan - Markus 13:22

Ternyata fenomena orang yang mengaku sebagai nabi atau sejenisnya tidak hanya muncul di Indonesia saja, setelah sebelumnya ada seseorang yang mengaku sebagai Nabi Isa dari Cirebon beberapa saat lalu, baru-baru ini di Siberia juga muncul pengakuan serupa, seorang mantan polisi lalu lintas mengklaim sebagai Yesus Putra Allah yang merenkarnasi pada dirinya.



Mantan polisi lalu lintas ini mengklaim sebagai reinkarnasi dari Yesus. Dengan modal wajah yang dimiripkan dengan sosok Yesus yang banyak digambarkan di lukisan-lukisan, baik dari pakaian dan juga penampilan wajahnya, semakin membuat pria ini percaya diri dengan klaimnya tersebut. Adalah Sergei Torop mantan polisi lalu lintas di Siberia 2000 km dari Moscow saat ini sudah memiliki 5000 lebih pengikut. Pria 48 tahun ini sering mengadakan kebaktian bersama di desanya Petropavlovka, Siberia.






Ingin Sosok Torop sebetulnya muncul dan terlahir pada saat krisis kepercayaan ketikaruntuhnya rezim komunis di bekas negara pecahan Uni Sovyet tersebut, dan itulah momentum untuknya menjadi klaim orang yang dikultuskan banyak pengikutnya. Seorang nenek tua ini pun melalukan doa di hadapan foto Torop Torop memiliki 6 orang anak yang tinggal bersamanya dan seorang istri, kesehariannya selain memimpin kebaktian dan doa Torop juga menghabiskan waktunya untuk melukis. Dirinya mengkalim inilah kehadiran kedua Yesus setelah 2000 tahun penyaliban dimasa silam.

Masih bermunculan di dunia saat ini orang yang mengklaim dirinya nabi dan sejenisnya. Sebelum menjadi polisi lalu lintas Torop pernah menjadi tentara di Angkatan Darat Sovyet pada saat itu, dan setelah tidak menjadi polisi lalu lintas Torop menjadi pengangguran sampai akhirnya dia mengklaim dirinya sebagai Anak Tuhan. Sudah lebih dari 5000 orang menjadi pengikutnya bermula disaat krisis runtuhnya rejim komunis di Rusia. Para kritikus Russia menilai kehadiran Torop yang mengklaim dirinya sebagai Yesus tersebut sarat dengan kepentingan pribadi dan hal yang bersifat materialis. Beberapa waktu belakangan ini Torop melakukan kunjungan ke beberapa negara seperti Perancis dan Belanda serta Italia untuk memperluas pengikutnya dan dia di sponsori oleh gereja di daerahnya. (Sumber: Mail Online)

Download artikel ini di :
http://www.ziddu.com/download/6805267/InilahSosokYesusYangMunculDariSeberia.pdf.html

12 October 2009

Hak Yahudi Atas Tanah Israel

Banyak orang salah kaprah dgn mengatakan bahwa orang-orang Yahudi dipaksa keluar dari tanah mereka oleh tentara Romawi setelah Kuil Kedua mereka di Yerusalem dihancurkan tahun 70 M. Lalu menurut pengertian sejarah salah kaprah ini; 1.800 tahun kemudian, tiba-tiba orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan menuntut kembali tanah airnya. Faktanya adalah: orang-orang Yahudi tetap mempertahankan tanah air mereka selama 3.700 tahun. Bahasa nasional dan kebudayaan khas Yahudi tetap bertahan di wilayah itu.

Yahudi menganggap Israel sebagai tanah airnya berdasarkan empat hal:
1. Tuhan sendiri yang menjanjikan tanah warisan ini kepada Abraham
2. Orang-orang Yahudi tetap hidup disitu dan merawat daerah itu
3. Pemberian kedaulatan penuh oleh PBB kepada Yahudi di Palestina
4. Penguasaan daerah berdasarkan perang bela diri.

Istilah “Palestina” dipercaya diambil dari kata Filistine, yakni merujuk pada orang-orang Aegea yang pada abad 12 SM tinggal di tepi Mediterania yang sekarang dikenal sebagai Israel dan Jalur Gaza. Abad 2M, setelah menghancurkan pemberontakan Yahudi, Pemerintah Romawi untuk pertama kalinya memberi nama Palestina pada tanah Yudea (bagian selatan Israel yang sekarang dikenal sebagai Tepi Barat) dalam usaha untuk menciutkan identitas Yahudi dengan tanah Israel. Kata Arab “Filastin” diambil dari nama Latin ini.

Sejak th 1000 SM, ke-12 suku Israel sudah membentuk kerajaan pertama di Palestina. Raja kedua, yakni David, menentukan Yerusalem sebagai ibu kota. Meskipun akhirnya Palestina pecah jadi dua kerajaan, kemerdekaan orang Yahudi tetap berlangsung sampai 212 tahun. Jangka waktu ini hampir sama dengan lamanya kemerdekaan Amerika Serikat sekarang.

Bahkan setelah dihancurkannya Kuil Kedua di Yerusalem dan saat awal pengasingan, orang-orang Yahudi tetap hidup di Palestina dan beranak-pinak. Abad ke 9M, terdapat masyarakat Yahudi dalam jumlah besar di Yerusalem dan Tiberias. Abad ke 11M, masyarakat Yahudi berkembang di Rafah, Gaza, Ashkelon, Jaffa dan Caesarea.

Abad ke 12, banyak orang Yahudi dibantai oleh para tentara Perang Salib, tapi mereka dapat berkembang lagi dalam dua abad selanjutnya dengan datangnya para rabi dan peziarah Yahudi dalam jumlah besar ke Yerusalem dan Galilea. Para rabi terkemuka membentuk masyarakat Yahudi di Safed, Yerusalem dan di daerah lain selama 300 tahun berikutnya. Awal abad ke 19 sebelum kelahiran gerakan Zionist modern, lebih dari 10.000 orang Yahudi telah hidup di daerah yang sekarang dikenal sebagai Israel.

Ketika orang-orang Yahudi mulai berdatangan ke Palestina dalam jumlah besar di tahun 1882, kurang dari 250.000 Arab hidup di sana, dan kebanyakan dari mereka datang dalam dekade akhir. Palestina tidak pernah jadi suatu negara Arab yang berdaulat, meskipun perlahan-lahan bahasa Arab jadi bahasa yang paling banyak digunakan setelah penyerangan Muslim di abad ke tujuh. Tidak pernah ada negara Arab atau Palestina yang berdaulat di Palestina.

Ahli sejarah Arab terkemuka AS, Prof. Phillip Hitti dari Universitas Princeton, membuat pengakuan di depan Anglo-American Committee di tahun 1946, dengan mengatakan: “Tidak pernah ada “Palestina” dalam sejarah, sama sekali tidak.” Memang, Palestina juga tidak pernah ditulis dengan tegas dalam Qur’an, yang disebut adalah “tanah suci” (al-Arad al-Muqaddash).

Sebelum adanya pembagian daerah, orang-orang Arab Palestina tidak melihat diri mereka punya identitas yang terpisah. Tapi ketika First Congress of Muslim-Christian Associations bertemu di Yerusalem di bulan Februari 1919 untuk memilih wakil-orang Palestina untuk Konferensi Perdamaian Paris, pernyataan berikut diumumkan: Kami merasa Palestina adalah bagian dari Syria Arab, karena bagian ini tidak pernah terpisah dari Syria dalam waktu kapanpun. Kami berhubungan dengan Syria secara kenegaraan, agama, bahasa, ekonomi dan ikatan daerah.

Tahun 1937, pemimpin Arab setempat, Auni Bey Abdul-Hadi, menyatakan Peel Commission yang pada prinsipnya menuntut bagian Palestina: “Tidak ada negara (Palestina)! Kata ‘Palestina’ itu diciptakan oleh Zionist! Tidak ada kata Palestina dalam Alkitab. Tanah air kami sejak berabad-abad merupakan bagian dari Syria.”

Wakil Arab Higher Committee untuk PBB mengajukan pernyataan di General Assembly di bulan May 1947 yang menyatakan bahwa “Palestina merupakan bagian dari Propinsi Syria” dan karenanya,” secara politis, orang-orang Arab Palestina tidak terpisah dari Syria dan tidak bisa membentuk kesatuan politis yang terpisah dari Syria.”

Beberapa tahun kemudian, Ahmed Shuqeiri, yang lalu jadi ketua PLO, mengatakan pada Security Council: “Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Palestina adalah bagian selatan Syria.”

Nasionalisme Arab Palestina kebanyakan muncul setelah Perang Dunia I. Tapi ini tidak jadi gerakan politik yang bermakna sampai terjadi Perang Enam Hari di tahun 1967 dan Israel menguasai Tepi Barat.

“Surat Tanda Lahir” Israel secara internasional disahkan oleh janji Tuhan dalam Alkitab; masyarakat Yahudi yang tinggal terus menerus di Israel sejak jaman Yoshua sampai saat ini; Deklarasi Balfour di tahun 1817; Mandat Liga Bangsa-Bangsa, yang berhubungan dengan Deklarasi Balfour; partition resolution PBB tahun1947; diterimanya Israel di PBB tahun 1949; pengakuan atas negara Israel oleh sebagian besar dunia; dan yang terpenting dari semuanya, masyarakat yang diciptakan oleh orang-orang Israel selama berpuluh-puluh tahun berkembang menjadi suatu negara yang dinamis.

---------------------

The Jewish Claim To The Land Of Israel

A common misperception is that the Jews were forced into the diaspora by the Romans after the destruction of the Second Temple in Jerusalem in the year 70 A.D. and then, 1,800 years later, suddenly returned to Palestine demanding their country back. In reality, the Jewish people have maintained ties to their historic homeland for more than 3,700 years. A national language and a distinct civilization have been maintained.

The Jewish people base their claim to the land of Israel on at least four premises: 1) God promised the land to the patriarch Abraham; 2) the Jewish people settled and developed the land; 3) the international community granted political sovereignty in Palestine to the Jewish people and 4) the territory was captured in defensive wars.

The term "Palestine" is believed to be derived from the Philistines, an Aegean people who, in the 12th Century B.C., settled along the Mediterranean coastal plain of what is now Israel and the Gaza Strip. In the second century A.D., after crushing the last Jewish revolt, the Romans first applied the name Palaestina to Judea (the southern portion of what is now called the West Bank) in an attempt to minimize Jewish identification with the land of Israel. The Arabic word "Filastin" is derived from this Latin name.

The Twelve Tribes of Israel formed the first constitutional monarchy in Palestine about 1000 B.C. The second king, David, first made Jerusalem the nation's capital. Although eventually Palestine was split into two separate kingdoms, Jewish independence there lasted for 212 years. This is almost as long as Americans have enjoyed independence in what has become known as the United States.

Even after the destruction of the Second Temple in Jerusalem and the beginning of the exile, Jewish life in Palestine continued and often flourished. Large communities were reestablished in Jerusalem and Tiberias by the ninth century. In the 11th century, Jewish communities grew in Rafah, Gaza, Ashkelon, Jaffa and Caesarea.

Many Jews were massacred by the Crusaders during the 12th century, but the community rebounded in the next two centuries as large numbers of rabbis and Jewish pilgrims immigrated to Jerusalem and the Galilee. Prominent rabbis established communities in Safed, Jerusalem and elsewhere during the next 300 years. By the early 19th century-years before the birth of the modern Zionist movement-more than 10,000 Jews lived throughout what is today Israel.

When Jews began to immigrate to Palestine in large numbers in 1882, fewer than 250,000 Arabs lived there, and the majority of them had arrived in recent decades. Palestine was never an exclusively Arab country, although Arabic gradually became the language of most the population after the Muslim invasions of the seventh century. No independent Arab or Palestinian state ever existed in Palestine. When the distinguished Arab-American historian, Princeton University Prof. Philip Hitti, testified against partition before the Anglo-American Committee in 1946, he said: "There is no such thing as 'Palestine' in history, absolutely not." In fact, Palestine is never explicitly mentioned in the Koran, rather it is called "the holy land" (al-Arad al-Muqaddash).

Prior to partition, Palestinian Arabs did not view themselves as having a separate identity. When the First Congress of Muslim-Christian Associations met in Jerusalem in February 1919 to choose Palestinian representatives for the Paris Peace Conference, the following resolution was adopted:

We consider Palestine as part of Arab Syria, as it has never been separated from it at any time. We are connected with it by national, religious, linguistic, natural, economic and geographical bonds.

In 1937, a local Arab leader, Auni Bey Abdul-Hadi, told the Peel Commission, which ultimately suggested the partition of Palestine: "There is no such country [as Palestine]! 'Palestine' is a term the Zionists invented! There is no Palestine in the Bible. Our country was for centuries part of Syria."

The representative of the Arab Higher Committee to the United Nations submitted a statement to the General Assembly in May 1947 that said "Palestine was part of the Province of Syria" and that, "politically, the Arabs of Palestine were not independent in the sense of forming a separate political entity." A few years later, Ahmed Shuqeiri, later the chairman of the PLO, told the Security Council: "It is common knowledge that Palestine is nothing but southern Syria."

Palestinian Arab nationalism is largely a post-World War I phenomenon that did not become a significant political movement until after the 1967 Six-Day War and Israel's capture of the West Bank.

Israel's international "birth certificate" was validated by the promise of the Bible; uninterrupted Jewish settlement from the time of Joshua onward; the Balfour Declaration of 1917; the League of Nations Mandate, which incorporated the Balfour Declaration; the United Nations partition resolution of 1947; Israel's admission to the UN in 1949; the recognition of Israel by most other states; and, most of all, the society created by Israel's people in decades of thriving, dynamic national existence.

Sumber : jewishvirtuallibrary.org