Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 October 2008

Bersama Tuhan Lebih Enak

Pada usia empat tahun anak laki-laki sulung saya, Nathan, tidak dapat berbicara. Ada sekitar enam dokter spesialis THT yang menyatakan bahwa dia mengalami telat berbicara. Lalu saya bawa dia berobat ke Jakarta. Setelah dua minggu menjalani pemeriksaan, anak saya dinyatakan cacat permanen dan tidak ada obat atau terapi untuk membuatnya dapat berbicara. Karena tidak puas dengan semuanya, maka saya bawa dia berobat ke Australia, dan di sana juga dokter menyatakan bahwa anak saya cacat permanen karena terkena virus anjing.

Tetapi saya ingat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Saya cuma kembalikan sepenuhnya anak saya kepada Tuhan dan berharap untuk mendapatkan suatu mukjizat. Sejak saat itu saya selalu berusaha ikut berbagai KKR agar anak saya bisa mengalami kesembuhan ilahi. Dimana ada KKR, di sana pasti ada anak saya, Nathan. Tetapi mukjizat belum juga terjadi. Rupanya Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi anak saya.

Pada suatu hari Tuhan menjawab pergumulan saya. Dia berkata, ”Kalau rohanimu bertumbuh 5% saja, maka anakmu juga akan sembuh 5%, demikianlah seterusnya.” Ketika Tuhan berbicara tentang pertumbuhan rohani, saya bingung karena pada waktu itu saya sudah melayani Tuhan. Tetapi ternyata di hadapan Tuhan saya ini nol karena hati dan perbuatan saya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Setelah saya mengerti, saya mulai melangkah dan memperbaiki hidup saya. Yang dulunya saya suka menonton blue film, menipu, berbuat jahat kepada orang lain dan banyak lagi segi kehidupan saya yang kotor, semuanya itu saya buang.

Mukjizat terjadi pada saat anak saya berusia tujuh tahun. Dia mulai bisa berbicara. Saat dia memanggil saya, ”Papa!”, itu bukan kebahagiaan yang biasa saja, tetapi amat sangat luar biasa karena saya melihat dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah mukjizat dari Tuhan. Menurut perhitungan dan pengetahuan dokter anak saya tidak akan dapat dan tidak akan pernah dapat berbicara. Tetapi bukan demikian kata Tuhan. Karena Tuhan semakin menunjukkan kuasa-Nya saya semakin memperbaiki hidup saya dengan sungguh-sungguh. Dan puji Tuhan, karena karakter saya menjadi semakin baik dan semakin baik, maka anak saya menjadi semakin sembuh.

Pada saat dia lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB), saya kemudian menyekolahkan Nathan di sekolah normal. Dia mengalami kesulitan karena pelajaran di sekolah normal jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di SLB. Setiap kali menghadapi ulangan harian, dia kedodoran. Bisa mendapatkan nilai 3 saja kami sudah sangat bangga. Tetapi pada suatu ketika saat dia mau menghadapi ulangan umum dia menanyakan apa yang harus dia lakukan dan saya bilang, ”Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Sekarang tugasmu adalah belajar sebisamu.” Pada pagi harinya saat saya antar ke sekolah dia meminta saya menumpangkan tangan, berdoa baginya dan saya juga meminta dia untuk berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal-soal.

Pada saat dia menghadapi ulangan umum, saya berpuasa untuknya. Ketika pulang sekolah dia menceritakan bahwa sesungguhnya dia tidak mampu mengerjakan soal-soal ulangan, tetapi malaikat Tuhan menolong dia. Tangannya terus menulis jawaban dan dia tidak bisa menghentikannya. Dia rasakan bahwa Tuhan telah menjamah tangannya. Ternyata benar apa yang dia katakan. Dia mendapatkan ranking 2 di kelasnya. Sontak sekolahnya sempat gempar. Bahkan Kepala Sekolah mencurigai bahwa Wali Kelasnya menjual jawaban soal kepada anak saya, karena mereka semua tahu bahwa anak saya tidak cerdas.

Karena kuasa Tuhanlah, anak saya dari yang tidak mampu dijadikannya menjadi mampu. Anak saya semakin tumbuh dalam hal rohani karena dia juga melihat mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidupnya. Bahkan Tuhan angkat dia masuk ke Universitas melalui jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa. Pada suatu hari setelah dia menyelesaikan ujian SMA-nya, isteri saya yang menjemput dia pulang sekolah. Dalam perjalanan, dia berkata, ”I love you, mom!” Saya mengasihi mama dan saya sangat mencintai mama.

Sesampai di rumah dia merapikan dirinya, kemudian makan dan sempat bergurau dengan mamanya. Sekitar jam 13.30 dia pamit untuk tidur. Dan pada jam 14.00 siang itu anak saya dipanggil Tuhan pulang ke rumah Bapa di Sorga. Hal itu baru diketahui isteri saya sekitar jam 16.30 sore. Isteri saya menemukan Nathan sudah meninggal ketika dia bermaksud membangunkannya. Dia meninggal dengan keadaan yang sangat tenang. Dapat dilihat dari tempat tidur yang masih tertata sangat rapi.

Aku sangat terguncang, bahkan tidak tahu kemana harus kubawa hidupku ini. Isteriku dan anakku yang bungsu histeris. Mereka membentur-benturkan kepala mereka ke tembok, sehingga kurangkul paksa mereka supaya mereka tenang dan kami mulai berdoa. Aku berkata, "Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik, karena di saat badai seperti ini Engkau memiliki maksud dan rencana yang indah bagi kami dan kami percaya Engkau tidak akan meninggalkan anak-anak-Mu pada waktu menderita."

Saat itu aku merasa ada yang aneh. Secara jujur aku tidak kuat menghadapi semua itu, tetapi di hatiku tidak ada sedikitpun perasaan yang menyalahkan Tuhan. Yang ada hanya rasa syukur. Kami bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa itu melingkupi kami. Saat Nathan dimasukkan ke dalam es untuk diawetkan, pada pagi hari jam 8 ada SMS masuk dari Amerika yang menyampaikan bahwa, "AKU sangat mengasihi anakmu." Bukan itu saja, Dia kirimkan dua orang hamba Tuhan yang tidak kukenal dan juga mereka menyampaikan pesan yang sama, "Aku telah mengirimkan para malaikat-Ku untuk menjemput anakmu. Sekarang anakmu menjadi bagian dari para penyembah-Ku dan bersukacita bersama-Ku."

Aku pegang semua itu, meskipun aku tidak tahu apa maksudnya. Aku mulai berpuasa selama 40 hari dan Tuhan menjawab melalui firman-Nya yang terdapat di dalam Wahyu 14:2-5 yang berbunyi: 'Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela.' Ayat-ayat itu membuatku menangis pada malam itu. Dan ayat-ayat itu terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku selama seminggu.
Lalu pada tanggal 21 Juni 2006 pukul 4 pagi ada dorongan roh yang kuat agar aku berdoa. Dan aku taat. Dalam keadaan sadar 100% kurasakan rohku keluar dari tubuhku dan Tuhan menaruh aku di suatu tempat dimana kulihat Tuhan Yesus duduk memangku seseorang dalam kemuliaan-Nya.

Meskipun aku tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi kurasakan damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan sinar kemuliaan Tuhan yang putih bening seperti kristal itu memancar penuh kemilau. Oh, betapa indahnya dan tak dapat kugambarkan dengan kata-kata! Dalam sinar kemuliaan itu Dia berkata, 'Waktu-Ku tidak lama.' Setelah itu kulihat Nathan turun dari pangkuan-Nya dan berjalan tiga langkah ke arahku. Nathan memelukku dan aku memeluknya dengan erat dan menciuminya.

Aku mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apakah kamu mau hidup lagi di dunia, Nathan? Ia menggelengkan kepalanya. Kedua, apakah kamu sudah menjadi bagian dari tim pujian dan penyembahannya Tuhan seperti tertulis dalam Wahyu 14:2-5? Dia menganggukkan kepalanya. Ketiga, apakah kamu sudah bersukacita di sini? Dia kembali menganggukkan kepalanya. Setelah itu aku berkata, 'Selamat jalan, Nathan! Kita akan bertemu lagi kelak!' Kulihat Nathan berjalan mundur dengan melambaikan tangannya kepadaku dan menghilang. Ketika rohku kembali, tubuhku terasa bergoncang. Bahkan sempat aku serasa mau rebah. Dunia ini sangat mengerikan. Bumi gelap gulita, bahkan untuk melihat tanganku pun tidak bisa.

Setelah itu aku baru bisa menangis. Padahal waktu bertemu dengan anakku, tidak ada rasa haru, tidak ada dukacita, tetapi yang ada hanyalah damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan jika waktu itu Tuhan menawariku untuk tinggal dan tidak kembali lagi ke dunia, aku pasti mau, karena bersama dengan Tuhan itu jauh lebih enak. Setelah kejadian demi kejadian kualami, sekarang hubunganku dengan Tuhan bertambah intim dan mesra. Suatu hubungan yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata.

Sumber kesaksian: Handoko W & Christiani Hartono SH seperti yang dimuat dalam Tabloid Keluarga Edisi 20

Penyertaan-Nya

"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" - Matius 28:20

Bacaan : Mazmur 23:1-6

Buku Tortured For Christ menceritakan dengan detail pengalaman misionaris Richard Wurmbrand di kamp penjara Soviet yang notabene negara komunis pada saat itu. Karena menolak untuk melepaskan keyakinannya di dalam Kristus, Wurmbrand mengalami aniaya yang luar biasa. Dia dipukuli hampir tiap hari, ia hampir mati beku selama musim dingin, ia menghabiskan hari-harinya di tempat pengasingan yang sunyi dan gelap, dan diperlakukan dengan semena-mena. Berapa lama Wurmbrand mengalami aniaya yang tidak terkatakan itu? Sepuluh tahun lamanya!

Bagaimana mungkin seorang manusia bisa bertahan dalam aniaya selama itu? Tentu saja kekuatan dalam menanggung aniaya tersebut bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan kekuatan dari Tuhan. Namun satu hal yang pasti, Wurmbrand selalu merasakan keharidan dan penyertaan Tuhan di dalam hidupnya saat-saat ia mengalami penganiayaan.

Tuhan telah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, bahkan Dia akan selalu menyertai kita sampai kesudahan jaman. Jika hari-hari ini kita sedang berada di dalam lembah kelam, mengalami kehidupan yang berat dan mengalami masa-masa paling sulit dalam hidup kita, yakinlah bahwa Dia selalu menyertai kita. Ingatlah bahwa kalanya Dia tidak membuat kita terhindar dari masa-masa sulit tersebut, namun yang pasti Dia akan selalu memberikan kekuatan kepada kita sehingga kita dimampukan untuk bertahan dan mengatasi masa-masa sulit tersebut hingga menjadi orang yang berkemenangan.

Jika hari-hari ini terasa begitu berat bagi Anda untuk dijalani, ingatlah akan penyertaan-Nya dalam hidup Anda. Saya pernah mengalami masa-masa paling sulit dalam hidup saya, namun di saat itu juga saya justru merasakan kasih karunia, kekuatan yang baru dan keintiman yang luar biasa dengan Tuhan. Kita tidak pernah menjalani hari-hari berat ini sendirian, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Kwik

Sumber : Renungan Harian Spirit

Terima Kasih TUHAN

Aku mengawali hari itu dengan keluhan-keluhan kecil....

Tugas-tugas yang menumpuk membuat aku sulit untuk memilih dari mana aku harus memulainya sedangkan waktu penyelesaiannya hampir bersamaan. Ditambah lagi kondisi fisik tubuhku rasanya tak mampu. Keadaan-keadaan inilah yang membebaniku pagi itu, yang membuatku mengabaikan saat teduh pribadiku bersama DIA. Hanya sebuah kalimat sederhana yang sempat terucap ”Thanks GOD for today..., sebelum aku menyiapkan diri dan bergegas ke tempat kerjaku.

Mobil yang kutumpangi melaju dengan cepat, membawa diriku dengan berbagai kekesalan di hati. Kupandangi tumpukan kertas yang berisi tugas-tugas yang harus kuselesaikan. ”Mengapa semalam aku harus sakit sehingga aku tak bisa mengerjakan tugas-tugas itu? Sedangkan di kantor seseorang telah siap menanti hasil penyelesaiannya."

Tiba-tiba mobil berhenti, aku kaget, apa sebenarnya yang terjadi? Ternyata ada seorang yang terganggu jiwanya berdiri tepat di depan mobil. Sosok dengan penampilan yang acak-acakan serta senyum kecut di bibirnya, berlalu begitu saja tanpa menghiraukan gertakan dari sang sopir. Spontan air mataku menetes, ”TUHAN mengapa mereka harus seperti ini? Bukankah mereka juga adalah ciptaanMU yang termulia? Aku tahu ENGKAU juga mengasihi mereka”.

Selang beberapa menit, seorang penumpang harus turun jadi mobil pun berhenti. Mataku tertuju pada seorang nenek tua yang duduk di kursi roda, ”TUHAN, mengapa ENGKAU memberikan umur yang panjang kalau akhirnya harus menderita seperti itu?? Hati kecilku pun bertanya sekaligus berusaha menjawab ”pasti ada maksud TUHAN di balik semua itu”.

Belum lepas pandanganku dari sosok nenek tua dengan kursi rodanya sebuah mobil jenazah lewat aku bergumam, ”Ya, inilah hidup, TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN”. Kini mobil yang kutumpangi menyusuri jalan di antara hamparan kebun sayur yang tertata indah laksana ukiran-ukiran yang membentuk perbukitan yang hijau. Untuk kesekian kalinya aku terkagum ”sungguh, tiada yang seperti ENGKAU TUHAN, betapa indahnya alam ini”.

Tanpa terasa perjalanan selama hampir satu jam telah membawaku ke tempat kerjaku. Belum juga kulangkahkan kakiku menyeberangi jalan di depan kantorku, mataku terpaku pada seorang pedagang kaki lima dengan jualannya yang tampak tak ringan juga seorang kakek tua dengan bendi tuanya sibuk mencari penumpang. Hatiku tersentak, ”Ya, inilah hidup yang harus diperjuangkan”.

Pikiran dan perasaanku berkecamuk, berusaha untuk mengerti maksud TUHAN di balik semua peristiwa yang kusaksikan. Aku tak kuasa membendung air mataku yang sejak tadi terus menggenangi mataku. ”TUHAN yang akan memberikan pengertian kepadaku”. Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu kantor. Apa yang terjadi?? Ooh, aku baru ingat seorang temanku berhari ulang tahun. Suasana ceria meliputi ruangan kantorku. Kami berjabatan tangan, bercanda tawa sambil menikmati makanan ringan yang telah disiapkan, aku pun bergumam, ”Hidup itu anugerah dan kita harus mensyukurinya”.

Setelah semuanya selesai, seperti tanpa beban aku mulai mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari itu.. Lembar demi lembar kertas berpindah tempat setelah aku meyelesaikan perhitungan-perhitungan di dalamnya. Kuraih sebuah lembaran kertas, aku kaget, ”benarkah ini lembaran terakhir? Seakan tak percaya aku kembali memeriksa kembali tumpukan kertas yang telah berpindah tempat, "Oh, Thanks GOD ini benar-benar lembar yang terakhir" Tanpa menunggu lama aku pun langsung menyelesaikan semuanya. ”Sudah selesai?” seseorang mengagetkanku. ”Iya Pak, ini hasilnya” jawabku sambil menyerahkan tumpukan kertas yang telah kususun rapi. ”Terima kasih”, ujarnya kembali.

Peritiwa sepanjang hari itu kembali terbayang di benakku. Kekesalanku di pagi hari, kejadian-kejadian yang kusaksikan saat berada dalam perjalanan sampai suasana sukacita di kantorku yang membuatku lupa akan bebanku di pagi hari. Aku tersenyum. ’Thanks GOD, ENGKAU mengajarkan banyak hal untukku hari ini, terima kasih karena ENGKAU mengganti kekesalanku dengan sukacita yang kuperoleh dari apa yang kusaksikan, tak seharusnya aku terpaku pada besarnya masalah yang sepertinya harus kuselesaikan, tak seharusnya aku mengabaikan saat teduhku karena sepertinya dikejar aktivitas, ampuni aku TUHAN, tak seharusnya aku tidak bersyukur, aku harus belajar untuk menghargai hidup sebelum terlambat, aku harus belajar menjalani hidup dengan sukacita, aku harus berjuang tanpa keluhan-keluhan yang justru menghalangi perjuanganku, aku harus terus belajar melihat karya ALLAH dalam semua hal yang kualami dan kusaksikan.

”Terima kasih TUHAN”. Inilah kalimat-kalimat yang terus menghiasi hatiku hingga akhirnya jam kantor selesai. Aku pulang dengan sukacita, ”terima kasih TUHAN, betapa luar biasanya ENGKAU, sungguh semuanya baik ketika itu kujalani bersamaMU dan tanpaMU aku tak kan bisa berbuat apa-apa karena aku bukan siapa-siapa. Biarlah apa yang kudapatkan hari itu bisa dirasakan oleh saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan sesamaku.. ”Terima kasih Tuhan...”

Kiriman : Slow Art

Humor : Mobil

Mobil Ratri sudah sering mengalami kerusakan dan setiap mengalami masalah dia selalu menelepon Dono untuk menolongnya. Suatu hari Dono menerima telepon dari Ratri.

"Sekarang ada apa lagi dengan mobilmu itu?" tanya Dono.

"Remnya blong," kata Ratri. "Bisa nggak kamu datang kemari?"

"Sekarang kamu ada di mana?" tanya Dono.

"Aku ada di dalam apotik," kata Ratri.

"Lalu mobilnya dimana?" tanya Dono.

"Ada di dalam apotik juga!"