7:54:00 AM
Peak
Pada abad ke-11, Raja Henry III dari Bavaria, merasa bosan dengan kehidupan istana dan tekanan-tekanan hidup sebagai seorang raja. Ia mengajukan permohonan kepada kepala biara Richard dari sebuah biara lokal untuk dapat diterima sebagai seorang pertapa untuk selanjutnya menghabiskan sisa hidupnya dalam biara itu.
“Baginda”, kata kepala biara itu, “apakah baginda mengerti bahwa ikrar para biarawan di sini adalah mengenai ketaatan? Dan akan menjadi amat berat bagi baginda untuk mematuhinya karena baginda pernah menjadi seorang penguasa tertinggi.”
“Aku sangat paham”, kata Henry. “Selama sisa hidupku aku akan selalu patuh kepadamu, karen Kristus memimpinmu.”
“Kalau begitu, aku akan memberitahukan apa yang baginda harus lakukan”, kata kepala biara itu. “Kembalilah ke singgasanamu dan layanilah dengan setia di tempat Tuhan telah menunjukmu.”
Ketika raja Henry wafat, terdapat suatu pernyataan yang mengatakan, “Raja telah belajar untuk memerintah dengan taat.”
Bila kita merasa capai akan tugas-tugas dan tanggung jawab kita, ingatlah bahwa Tuhan telah menempatkan kita di satu tempat tertentu dan memerintahkan kepada kita untuk menjadi seorang akuntan, seorang guru dan seorang ibu atau ayah yang baik. Kristus mengharapkan diri kita bahwa kita harus setia di tempat Kristus telah menentukan untuk kita dan bila Ia kembali, kita akan memerintah bersama dengan-Nya.
Steve Brown
7:51:00 AM
Peak
Bacaan Setahun : Kejadian 25-26
Nats : Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang (Roma 12:17)
Bacaan : Roma 12:17-21
Toni jengkel. Sejak berdiri, pabriknya sering ditimpuki anak jalanan. Puluhan kali alarm pencuri berbunyi. Suatu hari dipergokinya 3 anak mencuri mangga di halaman. Mereka terpojok ketakutan. Toni naik darah, tetapi tiba-tiba teringat firman Tuhan: "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan." Diberinya tiap anak satu mangga sambil dinasihati: "Lain kali minta saja, jangan mencuri." Dua hari kemudian, 5 anak datang minta mangga! Toni sabar melayani. Rela diganggu. Lama-lama, mereka datang tiap sore. Bukan lagi untuk minta mangga, melainkan untuk berteman. Mereka diajari baca tulis. Pabriknya jadi aman. Lebih lagi, anak-anak jalanan bisa belajar mengenal kasih Tuhan.
Saat orang berbuat jahat, biasanya kita ingin membalas. Mengapa? Sebab kita merasa terganggu. Terluka. Jika membalas, ada rasa puas. Namun, pembalasan membuahkan pembalasan;melahirkan lingkaran dendam tak berkesudahan. Rasul Paulus memberi saran radikal: berbuat baiklah pada musuhmu! (ayat 17, 20). Tindakan kasih tanpa pamrih berkuasa menghancurkan hati lawan, mengubah dendam menjadi pengampunan (ayat 21). Kita bertanya, "Lantas bagaimana dengan kejahatan mereka? Tidakkah mereka harus menerima hukuman setimpal?" Soal pembalasan, kata Paulus, serahkan saja pada Tuhan (ayat 19). Bagian kita adalah menunjukkan kebaikan.
Untuk bisa berbuat baik saat disakiti, kita harus bersabar menghadapi orang-orang yang sulit dan berhati bengkok. Untuk itu dibutuhkan penyangkalan diri. Ingat janji firman Tuhan. Memang tak mudah, namun hasilnya indah. Cobalah! --JTI
HANYA ORANG YANG RELA DIGANGGU
DAPAT TUHAN PAKAI MENYENTUH HIDUP SESAMA
Sabda.org