8:27:00 AM
Peak
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
8:23:00 AM
Peak
Pada saat kotak persembahan diedarkan, ia dengan segera membuka dompetnya dan memasukkan seribu rupiah ke dalam kotak persembahan itu.
Tiba-tiba, seorang bapak yang duduk dibelakangnya menepuk pundaknya dan memberikan uang 100 ribu kepada remaja itu. Remaja itu tersenyum, memasukkan uang 100 ribu itu ke dalam kotak persembahan, dan menatap sekilas dengan rasa kagum pada bapak yang sangat pemurah itu.
Tak lama kemudian Bapak dibelakangnya kembali menepuk pundaknya dan dia mendengar bisikan dari arah belakang,
"Nak, uang 100 ribu itu tadi jatuh dari dompetmu."
8:11:00 AM
Peak
Dari bukunya Surga itu nyata, Choo Thomas menjelaskan apa yang didengar-nya dari Yesus Kristus selama di Surga
SETELAH BERJALAN MELEWATI jembatan emas bercahaya, Tuhan membimbing-ku pada sebuah tempat dimana ada bayi-bayi kecil dan bayi-bayi mungil—banyak diantaranya terlihat seperti baru dilahirkan—mereka di-pelihara. Ruangan yang sangat besar, seperti sebuah gudang, tak mewah atau indah. Di-penuhi dengan bayi-bayi mungil yang telanjang dan terbaring berdekatan satu dengan yang lainnya. “Mengapa banyak sekali bayi-bayi mungil disini?” saya bertanya,
“Bayi-bayi mungil dari ibu-ibu yang tak menginginkan-nya. Aku akan Jaga bayi-bayi-nya!” Tuhan menjawab-ku.
“Apa yang akan Engkau lakukan terhadap mereka, Tuhan?”
“Jika ibu-ibu mereka diselamatkan, mereka dapat mengambil bayi-bayi mereka kembali.”
“Apa yang terjadi jika ibu-ibu mereka tidak diselamatkan? Apakah yang akan Kau lakukan?”
“Ibu-ibu lain akan memiliki mereka saat semua anak-anak-ku masuk kedalam Kerajaan.”
Lalu saya mengerti bahwa bayi-bayi mungil ini telah di gugurkan dari rahim-rahim ibu-nya, lalu saya menangis. Yesus berteriak, “Aku tidak suka Aborsi!” Suara-Nya dan kelakuaan-Nya bertambah sukar dan marah, saya sadari, setelah itu dan disana, bahwa ini-lah pesan yang segera akan saya bagikan pada siapa saja yang mau mendengarkannya.
Tuhan tidak menyukai Aborsi. Hal itu adalah salah satu dosa terburuk kepada-Nya. Yesus-lah yang mengatakan, “Biarkan-lah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan melarang mereka;sebab mereka-lah yang empunya Kerajaan Allah” (Markus 10:14). Yesus mencintai anak-anak kecil, dan dapat kulihat belas kasihan yang lembut pada Bayi-bayi Aborsi yang mungil ini sebagaimana saya melihat dan mendengarkan-Nya.”
(Akhir kutipan)
Mem-Fiolasikan pengadilan-Nya, Mem-profokasikan Murka-Nya, Tuhan telah memberikan peringatan setelah peringatan! Anda harus berpegang pada apa yang benar, dan menolak apa yang salah!
7:58:00 AM
Peak
Today's Scripture
“Guard and keep [with the greatest care] the precious and excellently adapted [Truth]…”
Today's Word from Joel and Victoria
The Truth of God’s Word is a precious treasure entrusted to us. It empowers us to overcome every obstacle. It’s important to keep this Truth in your heart and establish it in your life. How do you establish the Word in your life? When you make a habit of praying and reading God’s Word it becomes more and more alive to you. When you choose to obey it, you are guarding and keeping the Truth. For example, the Bible says that love covers an offense. When you choose to walk in love even when someone has offended you, you are guarding the Truth. When you choose God’s way, instead of the world’s way, you are guarding the truth. Society has so many different ideas of what is right and acceptable. We have to always choose God’s way. And when you choose God’s way, you get God’s results! God’s results include a blessed and happy life. Start today by asking the Lord to show you His Truth by the power of His Spirit. As you keep the precious Truth of God’s Word, you will be empowered to live the life of victory the Lord has in store for you!
A Prayer for Today
Heavenly Father, thank You for Your Truth which sets me free. I invite you to search my heart and mind today and lead me in Your ways. I bless You today. In Jesus’ Name. Amen.
From : Joel Osteen Ministries