11:49:00 AM
Peak
Bukan dengan kekuatanku
Ku dapat jalani hidup ini
Tanpa Tuhan yang disampingku
Ku tak mampu sendiri
Engkaulah kuatku
Yang menopangku
Reff :
Ku pandang wajah-Mu dan berseru
Pertolonganku datang dari-Mu
Peganglah tanganku jangan lepaskan
Kaulah harapan dalam hidupku
9:52:00 AM
Peak
Hari Thanksgiving sudah dekat. Ibu guru kelas 1 SD memberikan sebuah tugas yang mengasyikkan yaitu untuk menggambar sesuatu yang sangat mereka syukuri. Kebanyakan anak-anak di kelas itu bukanlah dari kalangan berada, tetapi mereka semua merayakan hari libur itu dengan kalkun panggang dan benda-benda tradisi hari Thanksgiving. Benda-benda inilah yang menurut pikiran ibu guru itu, akan menjadi subyek gambar murid-muridnya. Dan ternyata benar, kebanyakan dari mereka menggambar benda-benda itu.
Tetapi Douglas membuat gambar yang berbeda. Douglas adalah anak yang baik. Dia adalah anak kesayangan ibu gutu itu. Saat anak-anak lainnya bermain di jam istirahat, Douglas lebih suka berada di dekat ibu guru. Orang hanya bisa menduga kalau Douglas punya kesedihan yang mendalam.
Ya, gambarnya berbeda. Ketika diminta untuk menggambar sesuatu yang membuatnya bersyukur, Douglas menggamar sebuah yangan. Tidak ada yang lain. Hanya sebuah yang kosong.
Gambarnya yang abstrak itu menjadi perhatian teman-temannya. Tangan siapa itu? Seorang anak menebak, itu adalah tangan seorang petani, karena petani yang berternak kalkun. Yang lain menebaknya tangan seorang polisi, karena polisi melindungi dan peduli kepada masyarakat. Ada juga yang menebaknya tangan Tuhan, karena Tuhan yang menciptakan hari Thanksgiving. Perdebatan itu berlanjut sampai ibu guru hampir melupakan pelukis yang menggambarnya.
Ketika anak-anak lain telah pergi, ibu guru itu berhenti di meja Douglas, membungkuk dan bertanya kepadanya, "Tanga siapa itu?". Anak kecil itu mendongak ke wajah ibu guru dan menjawab, "Itu adalah tanganmu, ibu guru.". Ibu guru teringat saat-saat dimana ia memegang tangan Douglas dan berjalan bersamanya. Seberapa sering ia berkata, "Pegang tanganku Douglas, kita berjalan keluar." Atau, "Perhatikan ibu guru ya." Atau, "Mari kita lakukan bersama." Douglas sangat bersyukur karena tangan ibu guru. Sambil mengusap air matanya, ibu guru memeluk Douglas, "Terima kasih".
Bersyukurlah karena ada orang-orang disekitarmu, yang memegang tanganmu ketika kamu tertinggal. Mereka yang berkata, "Mari kita lakukan bersama-sama". Yang selalu bilang, "Jangan ungkit masa lalu lagi, kamu sudah dimaafkan." Bersyukur karena di antara orang-orang yang meninggalkanmu, masih ada mereka yang selalu mendukungmu.
8:47:00 AM
Peak
Nats : Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan (Roma 5:3)
Bacaan : Roma 5:1-6
Suatu malam, sebuah gereja yang ada di desa mengadakan kebaktian penyegaran iman dan mereka mengundang seorang pendeta untuk berkhotbah. Desa tersebut baru saja mendapat sambungan aliran listrik sehingga ruang kebaktian gereja mendapat penerangan dari lampu pijar. Ketika sang pendeta tengah berkhotbah, tiba-tiba listrik mati. Ruangan ibadah pun menjadi gelap gulita. Sang pendeta bingung; harus terus berkhotbah atau menunggu listrik menyala. Tiba-tiba seorang anggota majelis berbisik, "Teruslah berkhotbah, Pak Pendeta. Kami masih bisa melihat Yesus di dalam gelap."
Hidup bisa tiba-tiba menjadi gelap saat kita menghadapi kesengsaraan; kehilangan orang terkasih, sakit-penyakit, kegagalan bisnis. Semua itu membuat hari-hari tampak suram. Ibarat mati lampu, keadaan di sekeliling menjadi tampak gelap. Namun, orang yang beriman pada Kristus dapat tetap berdiri, bahkan bermegah. Mengapa? Sebab ada pengharapan. Kita yakin, di tengah gelapnya hidup, Yesus beserta. Kita bisa melihat Dia dalam gelap. Oleh sebab itu, kesengsaraan tidak perlu menjatuhkan iman, tetapi menguji iman kita untuk naik setingkat lebih tinggi. Pengalaman membuktikan, hari-hari gelap justru merupakan saat di mana Tuhan mendekat; saat di mana kita merasakan pertolongan dan kuasa-Nya secara istimewa.
Apakah jalan di depan Anda tampak gelap? Jangan takut, apalagi sampai kehilangan kegembiraan hidup. Percayalah, semakin sulit jalan hidup Anda, semakin nyata Tuhan menyertai Anda. Seperti orangtua yang memberi perhatian khusus saat anaknya sakit, Tuhan pun begitu. Di topan gelap, Anda didekap -JTI
GELAPNYA JALAN TAK PERLU MENGHENTIKAN LANGKAH
SELAMA PELITA ANDA TETAP MENYALA
harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan (Matius 23:23)
Yayasan Gloria