Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 October 2008

The Onion

I was an onion before Christ set me free.
Layers upon layers of iniquity.
An ugly old onion whose fragrance was strong;
That my Jesus bought and loved all along.

Unknown to me what He was going to do.
Of what He was planning, I had not a clue.
Pulling each layer off one by one.
In order to make me more like Jesus the Son.

The first layer wasn't so bad.
I saw all the sins that I knew I had.
They were easy to fix, just change the way I talk.
And learn more of how He wanted me to walk.

Reading His Word, and learning again;
How to put aside my life of sin.
But the next layer was pulled which hurt more.
He was getting closer to the core.

Unknown what He would find there.
I simply gave it to Him in prayer.
As another layer was removed, He started to cry;
Pulling this layer brought pain to my Father on High.

And I was crying over the sadness I felt;
The brokenness and all of the guilt.
Past memories that I thought were gone;
They were buried under layers disguised in a fragrance so strong.

As onions peel more and more;
And they put tears in our eyes as we get close to the core;
So my Father wept over my pain;
Giving me a balm of comfort and strength to sustain.

"No More Layers." I would scream.
As He continued to peel them off of me.
"I'll have nothing left my Lord, what will I do?
I'll be nothing but a worthless core to you. "

But He just said "Trust me," and continued to peel
I was sure He was blinded to my pain that was so real.
Year after year I shrunk more and more;
Until all that was left of this onion was a core.

It was then that I began to understand;
As the Lord embraced me in His loving hand.
He said, now and only now can you be;
The creation that will minister before me.

Clothed with the righteousness only from above;
Gone are your layers of self so you can be filled with my love.
He took my layers of sin, hurt and pain;
And clothed me with love, truth and mercy in His name.

Yes, we are all onions, learning with each day;
How to overcome as each layer is taken away.
Some layers tear and pull at our heart;
While others grieve us to our innermost part.

But we are nothing but an ugly onion without Christ.
Layers upon layers of pride, sin and strife.
Only God can take those layers away.
And clothe us with His righteousness in that final day.

by Unknown

Sikap Dalam Berdoa

Sikap kita dalam berdoa adalah penting. Yang harus diingat, Tuhan lebih melihat sikap hati ketimbang apa yang tampak dari luar. Apalagi saat berdoa, yaitu saat kita berkomunikasi dan mengimani bahwa kita menghadap kehadirat Allah.

1. Penerimaan
Kita harus berdoa dengan menerima fakta bahwa Tuhan lebih tahu apa yang kita perlukan ketimbang diri kita. Bahwa Ia sudah mengetahui apa kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. (Matius 6:8)

2. Iman
Berkat dari berdoa adalah nyata, seperti firman-Nya dalam Alkitab (Yakobus 1:5-7). Maka dari itu, dalam berdoa kitapun harus percaya, mengamininya, dan berdoa tanpa keraguan akan janji-Nya itu.

3. Tidak henti-henti
Yesus sendiri memberikan tips ini dalam perumpamaan-Nya di Lukas 18:1-8. Jika saat ini doa Anda belum juga mendapat jawab, tetaplah berdoa, berseru dan mengetuk pintu berkat kerajaan Sorga.

4. Motivasi yang benar
Dalam Yakobus 4:1-3 kita dapat melihat ada juga orang yang berdoa tanpa jemu, bahkan mungkin juga dengan percaya, tapi doanya tidak pernah dikabulkan karena permohonan doanya dilandasi oleh motivasi yang salah. Meminta kepada Tuhan tidak salah, tapi motivasi kita juga harus benar dan sesuai dengan kehendak-Nya. Contoh motivasi yang salah seperti permintaan Yohanes dan Yakobus (Markus 10:35-37), sedangkan motivasi yang benar misalnya permintaan Raja Salomo muda (1 Raja-raja 3:3-15).

5. Seturut kehendak Allah
Yohanes menegaskan janji ini, "Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya." (1 Yohanes 5:14). Doa kita pasti akan dikabulkan jika seturut dengan kehendak Tuhan yang jelas dinyatakan dalam Alkitab. Contoh : Tuhan pasti mengabulkan doa kita yang ingin bertobat dan kembali kepada-Nya (1 Yohanes 1:9). Namun, jika apa yang kita minta tidak langsung diungkapkan dalam Alkitab, kita harus berserah supaya hanya kehendak-Nya saja, dan bukan kehendak kita yang jadi.

6. Dengan kepatuhan
Yakobus menyatakan "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya" (Yakobus 5:16). Tuhan akan mengabulkan permohonan doa dari orang benar, yaitu yang terbukti patuh dan mau menuruti setiap kehendak-Nya. Surat Yohanes menegaskan janji ini "dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya" (1 Yohanes 3:22).

7. Mengucap syukur
"Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Filipi 4:6). Setiap dan permohonan kita kepada Tuhan hendaknya kita sampaikan dengan ucapan syukur. Ketimbang mengeluh dan marah kepada Tuhan, kita harus lebih dulu ingat segala kebaikan Tuhan atas berkat, kehidupan, janji dan pelajaran yang sangat baik yang telah kita terima sepanjang hidup ini. Tuhan menyukai dan akan mengabulkan doa dari hati yang penuh syukur dan memuliakan nama-Nya ketimbang yang bersungut-sungut.

Meminta Pendapat

Nats : Semoga TUHAN, Allahmu, memberitahukan kepada kami jalan yang harus kami tempuh dan apa yang harus kami lakukan (Yeremia 42:3)

Bacaan : Yeremia 42:1-22, 43:1-7

Banyak dari kita yang sering meminta pendapat dari orang lain ketika sedang bingung. Namun, harus diakui, terkadang sebelum mendengar pendapat mereka pun, kita sudah punya rencana sendiri. Dengan demikian, yang terjadi adalah kita sekadar mencari persetujuan atas rencana kita.

Dalam beberapa kasus, sikap ini mungkin dapat dipahami mengingat semua pendapat tersebut adalah pendapat manusia yang bisa salah. Namun, kalau sikap ini kita bawa juga ketika meminta pendapat dari Tuhan, seperti yang kita temukan dalam bacaan Alkitab hari ini, tentu menjadi salah.

Saat itu Yohanan, Azarya, dan sisa rakyat Kerajaan Yehuda berencana pergi ke Mesir untuk lari dari tentara Babel (41:17). Akan tetapi, sebelum berangkat, mereka meminta petunjuk Tuhan tentang rencana ini. Ternyata Tuhan berpendapat lain dan menyuruh mereka untuk tidak pergi. Sulit bagi mereka untuk menerima petunjuk Tuhan, yakni agar mereka tetap di Yehuda, sehingga mereka tidak mau mendengarkan suara Tuhan dan tetap pergi ke Mesir.

Kita boleh datang kepada Tuhan dengan rencana kita dan meminta pendapat-Nya. Namun, kita harus siap kalau Tuhan menyatakan bahwa rencana tersebut harus diubah sesuai kehendak-Nya. Hal ini kerap kali memang tidak mudah, sebab rencana-Nya kadang tampak berat. Kadang kita bisa lihat bahwa akan ada pengorbanan yang akan kita tanggung. Mungkin itu berbentuk tak tergapainya ambisi pribadi, cibiran dari orang lain, dan sebagainya. Akan tetapi, kalau kita mau yang terbaik, tidak bisa tidak, rencana-Nya itulah yang harus kita ikuti -ALS

BILA KITA MEMINTA PETUNJUK DARI TUHAN
BERSIAPLAH UNTUK MENAATINYA

Yayasan Gloria