Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

25 September 2008

Tombol Merah

Cina adalah salah satu negara dimana di sana Tuhan sering memberi hak penganiayaan, namun tentunya juga keajaiban luar biasa sebagai pernyataan dari kuasa-Nya. Walaupun kekristenan di Barat telah menghabiskan banyak waktu untuk membuktikan bahwa Anda bisa mendapatkan salah satu dari hal itu tanpa harus mengalami pengalaman lainnya, namun hal tersebut sebenarnya merupakan kombinasi antara salib dengan kebangkita, penderitaan dengan kemuliaan Tuhan yang akan memiliki dampak paling lama di negara itu.

Paul dan Joy Hattaway dari Asia Harvest menceritakan pengalaman ini :

Ketika gelombang penganiayaan melanda seluruh Cina pada tahun 1950-an, pastor Li juga ditangkap di daerah selatan propinsi Guangdong. Dia dituduh melakukan "kegiatan-kegiatan kontra revolusioner" dan dihukum dengan menjalani kerja paksa di sebuah pertambangan biji besi yang terletak di daerah ujung timur laut Cina. Istri Li dan 5 anaknya, termasuk si bungsu yang masih bayi, tidak punya lagi penopang keluarga. Akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan pastor Li dengan menempuh perjalanan sejauh 2000 mil ke Heilongjiang demi memungkinkan mereka dapat lebih dekat seandainya suatu saat terjadi keajaiban, yaitu pastor Li dibebaskan.

Keluarga itupun menjual semua yang mereka miliki dan membeli tiket untuk perjalanan naik kereta api selama seminggu. Ketika telah sampai, mereka menggunakan papan kayu tua dan selembar kain terpal untuk membuat sebuah gubuk reot di jalan dekat kamp pekerja itu.

Pastor Li menjalani kerja paksa itu selama 14 jam setiap harinya, dengan makanan yang tak layak, dalam temperatur udara yang mendekati titik beku. Beliau pun meninggal 3 bulan kemudian. Ketika keluarganya mendengar berita duka itu, mereka pun merasa sangat terpukul dan putus asa. Istri Li tak mampu lagi melihat adanya masa depan bagi mereka, dan ingin mengakhiri hidupnya. Anak-anaknya menjadi terabaikan.

Akhirnya, ia berkata pada anak-anak itu bahwa ia akan pergi untuk mencari kerja. Si sulung berkata, "Jangan, bu, ibu tidak boleh pergi bekerja. Adik yang masih bayi membutuhkan ibu. Dia selalu menangis mencari ibu sepanjang hari. Saya saja yang bekerja." Gadis berusia 12 tahun itu pun pergi menghadap kepala kamp pekerja itu dan berkata kepadanya, "Ayah saya telah dikirim ke tempat yang tidak mengenal Tuhan ini karena dia mengasihi Yesus Kristus. Itulah satu-satunya pelanggaran yang dia lakukan. Ayah adalah orang baik, yang mengasihi orang lain dan membantu mereka. Sekarang ayah telah tiada, dan kami disini tidak mempunyai makanan, uang dan tempat tinggal. Kami bahkan tak bisa kembali lagi ke selatan. Saya ingin tahu kalau saja ada pekerjaan yang dapat saya lakukan di kamp ini."

Kepala kamp itu masih ingat dengan pastor Li, dan tahu bahwa gadis kecil itu adalah putrinya Li. Di dalam hatinya terbersit rasa kasihan, dan ia pun berkata, "Aku punya pekerjaan untukmu, tapi membosankan, dan bayarannya rendah."

Gadis itu tanpa ragu-ragu segera mengambil pekerjaan itu. KEpala kamp membawanya ke lokasi dimana 3000 pekerja paksa itu menambang biji besi. Ia berkata padanya, "Kamu lihat tombol merah itu? Tugasmu adalah berdiri di dekat tombol itu sepanjang hari, dan jika ada yang menyuruhmu memencetnya, kamu harus segera melakukannya. Itu adalah tombol alarm untuk membunyikan tanda peringatan berbunyi, para pekerja harus segera keluar secepatnya. Kamu tidak boleh memencet tombol itu sembarangan, harus hanya ketika ada yang menyuruhmu."

Dan si sulung kecil dari keluarga Li itu pun berdiri di sebelah pohon tombol itu sepanjang hari demi hari, minggu demi minggu. Ketika menerima upah pertamanya, kegembiraan luar biasa segera meliputi dirinya dan seluruh keluarganya meski besarnya hanya beberapa dolar saja.

Di suatu siang, mendadak dia mendengar suara, "Pencet tombolnya!". Dia melihat dan berputar ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu suara siapakah itu, namun tak seorangpun kelihatan. Tak lama kemudian, terdengar sekali lagi suara, "Cepat! Pencet tombolnya sekarang!". Masih tak ada seorang pun yang kelihatan, dan dia mulai tombol peringatan ketika ada sesuatu yang gawat, dan saat ini, semuanya kelihatan baik-baik saja.

Beberapa detik kemudian, kembali sebuah suara terdengar, kali ini dengan nada yang sangat mendesak, "Li kecil, pencet tombolnya sekarang!" Kali ini dia segera menyadari bahwa itu adalah suara Tuhan-nya yang berkata padanya. Dia tidak mengerti alasan kenapa dia harus memencet tombol itu, tapi dia tahu bahwa dia harus menuruti-Nya.

Alarm pun dibunyikan, dan 3000 orang segera naik ke permukaan secepatnya, dengan bingung dan penasaran apa yang telah terjadi. Kepada kamp juga berlari keluar dari kantornya, ingin tahu kenapa gadis kecil itu memencet tombol merah. Hanya berselang beberapa saat setelah pekerja terakhir meninggalkan lokasi pertambangan, sebuah gempa bumi hebat mengguncang tempat itu. Seluruh area pertambangan itu runtuh dan tak ada seorang pun yang mampu membangunnya kembali sampai saat ini.

Suatu keheningan yang mencekam segera meliputi tempat itu saat guncangan gempa bumi itu berakhir, semua orang memandangi sosok kecil dan ringkih yang telah menekan tombol merah itu. Akhirnya, suara kepala kamp segera memecah keheningan, "Kawan Li, bagaimana Anda tahu kalau harus menekan tombol merah itu?"

Li kecil menjawab sekeras-kerasnya, "Tuhan Yesus Kristus-lah yang menyuruh saya untuk memencet tombol merah itu. Ia menyuruh saya tiga kali sebelum saya melakukannya. Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan bagi kita untuk mengenal Allah yang hidup dan yang sejati. Dia mencintai kalian semua dan Dia baru saja menunjukkan kasih-Nya dengan menyelamatkan kalian semua. Kalian harus berbalik dari dosa-dosa kalian dan memberikan hidup kalian pada-Nya!"

Sekitar 3000 pekerja dan kepala kamp segera berlutut dan berdoa supaya Yesus mengampuni mereka dan mau hidup dalam hati mereka semua.

Kisah Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya  epanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki si Kerbau. Lagi-lagi Si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas. Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang embeku pada bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-nya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang-nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, Si Burung bernyanyi
dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing. Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran :

1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu satunya ukuran.
3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Iman Abraham

"Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya.." - Roma 4:11-12

Mengacu pada pembacaan ayat hari ini, rasul Paulus memasukkan nama Abraham sebagai contoh nyata kepada jemaat di kota Roma. Bukan suatu kebetulan nama ini disampaikan oleh rasul Paulus. Memang Abraham bukanlah seorang yang berasal dari keturunan Roma, namun bukan berarti ia tidak dapat dijadikan contoh dan teladan bagi mereka yang ada di kota Roma. Apa yang menjadi daya tarik dari seorang yang bernama Abraham ini? Bukankah ia manusia biasa yang bisa juga mengalami kegagalan? Bukankah ia juga ada kelemahan?

Abraham, nama ini diberikan sendiri oleh Tuhan kepadanya. Nama ini diberikan Tuhan sebagai sebuah 'penghargaan' terhadap seorang manusia yang mau menderngar suara Tuhan dengan tanpa kompromi sedikit pun (Kejadian 17:5). Melalui nama ini, Tuhan telah menetapkannya menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Penetapan ini diterima Abraham karena dia telah menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap panggilan Tuhan. Bahkan komitmen yang tinggi ini juga dia berikan waktu Tuhan memintanya untuk disunat saat usianya sudah 99 tahun.

Paulus mengisahkan peristiwa itu sebagai langkah yang 'berani' untuk seorang pria seperti Abraham. Itulah sebabnya, rasul Paulus mengambil contoh tentang diri Abraham untuk menunjukkan bahwa Abraham adalah seorang yang perlu dijadikan teladan bagi semua orang percaya baik mereka yang telah menynatkan diri maupun yang belum menyunatkan dirinya.

Buat kita yang sekarang ini sedang mengalami pergumulan apa pun juga, renungan hari ini mengajak kita untuk mengambil tindakan iman seperti yang pernah dikerjakan oleh Abraham. Suatu tindakan iman yang 'berani' atas dasar pengenalan yang benar tentang Tuhan. Oleh sebab itu, mari kenali Tuhan dengan benar dan lebih baik lagi agar kita dapat mengikuti jejak iman Abraham. Tuhan memberkati. (FW)

Sumber : Roti Surgawi edisi September 2009