Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

30 June 2009

Golgota : Relaitvitas, Kompromi & Dusta

Tuhan Yesus memang penuh kasih. Kasih-Nya luar biasa, dengan penuh kesabaran Ia membiarkan kisah kehidupan-Nya dijadikan komoditas yang mampu menghasilkan perak lebih dari tiga puluh keping. Sekarang makin banyak Yudas yang “menjual” Yesus. Mulai dari si novelis Dan Brown dengan novelnya Da Vinci Code hingga sang editor modern Rodolph Kasser yang sukses mengeruk perak dari “injil” Yudas, termasuk James M. Robinson yang bukunya The Secrets of Judas ikut laris terjual. Setidaknya Tuhan Yesus “memberkati” mereka melalui pelanggan baca, bukan?!? “Puji” Tuhan! Tapi sayangnya perak mereka tidak pernah disetor ke bait Tuhan. Tapi kalau toch disetor, Gereja pasti bingung menerimanya antara mau dan “bau” yang tak sedap.

Banyak “injil” baru, yang mulai published, ada injil Thomas, injil Maria Magdalena, injil Filipus, injil Orang Mesir bahkan injil kebenaran yang kemudian terkenal sebagai “kitab Jung” karena dipopulerkan oleh Carl Jung, psikolog terkenal itu. Yudas anak Simon asal Iskariot mendadak kembali populer, semenjak “injil Yudas” bisa dibeli. Yesus digugat dan Yudas dibela. Yesus “bersalah dan” Yudas “benar.” Yesus didakwa telah “memanfaatkan” kebaikan Yudas. Yesus didakwa mengorbankan Yudas demi obsesi-Nya. Yudas memang pahlawan dan Yesus?? Hebat, dakwaan yang spektakuler! Menggemparkan dunia. Getsemani dan Golgota rupanya sudah diulang kembali. Dunia memang menolak Kristus (Yoh.1:10).

Relativitas vs Otoritas
Pemutarbalikkan fakta adalah sifat Iblis, sejak kasus Eden, yang meraih puncaknya pada peristiwa dakwaan di Sanhedrin malam Jumat itu. Saksi palsu didatangkan, yang dengan gagah berani menyaksikan kepalsuan untuk orang yang pernah menyembuhkan, membangkitkan, memberikan roti gratis, mengusir setan bagi saudara-saudaranya bahkan mungkin juga dirinya. Aparat keamanan dan pejabat negeri terima suap dengan tanpa rasa malu. Kontrasnya, semua murid ketakutan dan lari menyaksikan Kristus dilucuti, dipecuti, diludahi dan dipisui.

Menyimak kebohongan dan kata kotor tanpa berbuat apa-apa menjadi jalan keluar yang lepas konflik. Bungkam terhadap kesalahan adalah jalan bijak nan aman. Play save-lah, jangan terlalu lurus nanti sepi teman. Kurang wajar akan menjadi status baru kalau terus mengikuti kebenaran. Inilah pelangi relativitas, TST, tahu sama tahu.

Tapi, sadarkah bahwa membiarkan kadangkala bisa disamakan sebagai tindakan pasif. Membiarkan rekan sekantor membuat nota palsu sama dengan ikut menandatangani secara diam-diam. Membiarkan teman segereja tidak bertanggung-jawab sama dengan merusak apa yang sudah ditata. Tapi, ada juga membiarkan yang aktif, namanya memanfaatkan. Membiarkan teman korupsi, supaya suatu kali kelak kalau kepepet … ya ikutlah. Membiarkan saudaranya berselingkuh, karena ada “kenikmatan” tersendiri dari relasi gelapnya entah ikut nggrayangi entah ikut kecipratan uang diam, hitung-hitung nambah rejeki.

Kristus adalah kebenaran. Sehingga di dalam Kristus berarti berada di dalam kebenaran. Ia mutlak tak bersalah, sehingga segala keputusan-Nya mutlak benar. Itulah sifat otoritas tertinggi. Ia, yang “Ada” (I am that I am, Yahweh), membuat ada dengan mutlak benar. Sehingga setiap keberadaan dibuat-Nya untuk benar. Tapi, kebenaran telah digeser oleh relativitas.

Iblis selalu menginspirasikan anti kebenaran mutlak dengan membuat kebenarannya sendiri, yaitu relativitas. Ia suka membolak-balik hukum. Tidak ada kepastian adalah sifatnya. Tidak jelas, warna kesukaannya. Itulah sebabnya, penyaliban Tuhan Yesus tidak jelas apa kesalahan-Nya selain karena alasan kedengkian para imam kepala (Mat.27:18; Mrk.15:10). Orang bisa lebih memilih Barabas, yang sudah terkenal kejahatannya, ketimbang Yesus yang terkenal belas kasihan dan kebaikannya. Cara menggeser kebenaran, dilakukan Iblis dengan cerdik. Pelan tapi pasti, dan malah menumbuhkan rasa simpati. Hidup yang tertib, dalam kebenaran, dianggap kaku dan kurang menyatu dengan lingkungan. Toleransi mengalahkan esensi. Hukum relativitas mengatasi otoritas.

Akibatnya, penghakiman terhadap penciptanya terjadi berulang lagi. Rasa bersalah telah pergi diganti dengan rasa benar yang mengandung relativitas tinggi. Kecerobohan dan keserakahan diabaikan, dilimpahkan sebagai kesalahan sang pencipta. Lumpur yang didesain untuk menopang daratan dikuras gara-gara bor kerakusan “lupa” dibungkus casing yang tepat, sehingga kerupuk udang sulit didapatkan lagi; yang salah ya Tuhan karena kenapa menciptakan lumpur. Unggas yang namanya burung, dibuat untuk menunjukkan pemeliharaan Tuhan baik yang seduit maupun yang kalau dikumpulkan bisa menambah income para peternak satu Triliun Rupiah, telah pergi dalam sekejap oleh karena instruksi pimpinan tanpa kesan ketajaman para ilmuwan; yang salah ya Tuhan kenapa menciptakan burung. Kereta api yang mustinya dimuseumkan di Ambarawa, menemani rekan-rekan seniornya dari Belanda dan Jerman, eh masih saja dipaksa menarik, ya jebol; yang salah ya keretanya eh salah … relnya … eh salah … masinisnya … eh salah … tukang jaga palang … eh salah … ya Tuhan kenapa membuat kereta …?

Kompromi dan Dusta
Membiarkan Iblis merasuk berarti kompromi dengan roh jahat. Pada saat Tuhan Yesus memanggil para rasul untuk diutus, kuasa untuk mengusir roh jahat telah diberikan (Mat 10:1,8). Jadi khan aneh kalau murid sekaliber Yudas bisa kerasukan setan (Yoh 13:27; Luk 22:3) selain membiarkan, entah aktif atau pasif, Iblis membisikkan rencana jahat dalam hatinya (Yoh 13:2).

Sejak awal Tuhan Yesus mengetahui bakal ada satu yang menjadi Iblis (Yoh 6:70-71). Berulang kali Tuhan Yesus mengingatkannya. Paling tidak pada waktu kebiasaanya mencuri uang diperingatkan melalui peristiwa Yesus diurapi dengan narwastu 300 Dinar (Yoh 12:1-8), bukannya menyesal malahan merencana menyerahkan Yesus (Mat 26:14-16) dan ironisnya hanya dengan 30 keping perak atau setara dengan 120 Dinar! Maaf ya, mental murahan dan munafik!

Kemudian pada waktu perjamuan makan malam terakhir. Di depan ke-12 murid-Nya, Yesus mengatakan bahwa ada seorang murid yang akan menyerahkan Dia (Mat 26:21), yang ditandai lebih dulu dengan mencelupkan tangannya bersama Dia (Mat 26:23). Lucunya justru Yudas bertanya, “Bukan aku, ya Rabi?” (Mat 26:25), padahal ia sudah berencana menyerahkan-Nya sebelumnya. Dan Yesus menjawab “engkau telah mengatakannya” sambil memberikan roti yang telah dicelupkan. Seketika setelah itu, Iblis merasuki Yudas. Tuhan Yesus masih sekali lagi memperingatkan, “apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera” (Yoh 13:27). Dan, masih sekali lagi, di taman Getsemani. Tuhan menanyakan soal makna ciumannya.

Seseorang yang kompromi dengan roh jahat sampai akhir akan berakhir dengan tragis. Kompromi, yang mengalahkan kebenaran, membuat peringatan Tuhan tidak berarti. Sejak semula Iblis bertujuan membunuh manusia (Yoh 8:44), dengan cara menjebak ke dalam dusta. Yudas sudah menuainya, dengan mengakhiri hidupnya dalam tipuan besar hingga Tuhan Yesus mengatakan celakalah orang yang menyerahkan-Nya dan lebih baik untuk tidak dilahirkan. Berbagai dusta diproduksi setiap hari. Hitung saja berapa kali jawaban, “saya tidak tahu” diucapkan demi amannya.

Akhirnya, matikanlah dalam dirimu, segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (Kol 3:5-6). SELAMAT PASKAH!

Pdt. Budimoeljono Reksosoesilo

29 June 2009

Mengelola Uang

* Slideshow ini bisa di download di Group RumahRenungan.

28 June 2009

Jendela

Pasangan keluarga muda baru saja pindah ke rumah barunya. Pagi berikutnya, saat mereka sarapan, wanita muda pasangan itu melihat tetangganya sedang menjemur cuciannya di rumah sebelah.

“Cuciannya masih belum bersih,” katanya.

“Ibu itu tidak kelihatannya tidak bisa mencuci dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih baik.”

Mendengar komentar itu suaminya hanya diam saja. Setiap pagi pada saat tetangganya menjemur cuciannya, wanita muda itu selalu memberikan komentar yang sama. Satu bulan kemudian, wanita muda itu terkejut karena melihat semua cucian tetangganya dalam keadaan bersih tergantung di tali jemuran, kemudian berkata pada suaminya, “Lihat! Ibu itu akhirnya belajar bagaimana mencuci dengan baik. Siapa ya yang telah mengajarinya?”

Suaminya berkata, “Hari ini saya bangun pagi-pagi dan membersihkan semua kaca jendela rumah kita.”

* * * * * *

Demikian juga kehidupan ini: Saat kita mengamati orang lain itu tergantung dari kebersihan “kaca jendela” tempat kita melihat. Sebelum kita melontarkan kritik, adalah lebih baik kalau kita merenung dahulu dan bertanya pada diri sendiri apakah kita siap melihat hal yang baik lebih dari sekedar mencari sesuatu di dalam diri orang lain untuk kita hakimi.

Wishing you a Happy Sunday… :)

27 June 2009

Sebelum Anda Bercerita Tentang Temanmu…

Seorang cendekiawan di Baghdad pada jaman kuno dikatakan ia orang yang sangat arif.

Pada suatu hari, seorang kawan bertemu dengan orang yang terpelajar ini dan mengatakan, “Apakah Anda sudah mendengar tentang kawan kita?”

“Tunggu sebentar,” jawab orang bijak itu. “Sebelum Anda melanjutkan, bisakah aku menanyakan beberapa hal? Apakah yang hendak Anda katakan sesuatu yang benar?”

“Aku tak tahu,” jawab teman itu.

“Baiklah,” kata orang bijak itu. “Anda mengatakan bahwa tidak tahu. Ijinkan aku menanyakan lebih lanjut.”

“Apakah yang Anda ingin ceritakan tentang sesuatu itu baik?”

Orang itu menjawab, “Tidak!”

Kalau begitu, pertanyaanku yang ketiga adalah, “Apa yang kamu ingin ceritakan itu ada manfaatnya bagiku?”

“Tidak ada,” kata teman itu.

Kemudian orang bijak itu mengatakan, “Bila Anda tidak tahu apakah itu benar, tidak baik dan tak ada manfaatnya untukku, lalu mengapa Anda ingin menceritakannya kepadaku?”

Pelajaran yang dapat diambil dari cerita diatas adalah sebelum Anda menceritakan sesuatu tentang orang lain, tanyakannya kepada diri Anda, apakah kabar itu dapat melalui ketiga macam ujian itu? Dengan kata lain, “Apakah berita yang ingin kuteruskan itu benar, baik dan manfaatnya untuk orang lain?”

Bila kabar itu dapat melalui tiga macam tes itu maka beritakanlah. Namun, bila tidak, lebih baik menutup mulutmu.

Bila Anda tidak dapat mengatakan sesuatu yang baik tentang seseorang, maka tutuplah mulutmu!

Steve Goodier

Weekly Scripture – 1 Yohanes 2:15-17

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” - 1 Yohanes 2:15-17

26 June 2009

Sadar Hukum

Mazmur 119:7 : Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 27; Filipi 4; 2 Tawarikh 12-13

Sebagai anak-anak Tuhan yang baik, kita semua harus lulus menjadi “sarjana hukum”. Allah telah menjadikan “hukum” sebagai salah satu pelajaran terpenting yang harus dikuasai oleh umat-Nya. Mengapa pelajaran “hukum” sangat penting bagi orang Kristen? Karena Allah bekerja di dunia berdasarkan hukum yang Ia ciptakan.

Alam semesta dan kehidupan bekerja, bergerak dan diatur berdasarkan hukum. Pada waktu manusia mampu bekerja sesuai dan selaras dengan hukum, maka manusia akan mendapatkan hasil yang efektif. Hukum akan membantu kita menghasilkan hasil selama tindakan kita sesuai dan selaras dengan bunyi hukum tersebut. Hukum diberikan untuk kepentingan dan kebaikan manusia.

Hal yang penting untuk kita tahu ialah “Waktu kita melakukan suatu tindakan yang melawan hukum, maka hukum itu akan berbalik melawan kita”. Itu sebabnya Alkitab memberi kita perintah untuk mentaati hukum-hukum-Nya dengan setia. Karena pada saat kita melawan hukum, maka hukum itu akan menghancurkan kita. Tetapi sebaliknya, selama kita tidak melawan hukum, hukum tersebut tidak dapat menghancurkan kita. Melainkan hukum itu akan bekerja untuk kita dan membantu kita menghasilkan hasil-hasil yang luar biasa.

Selama kita tidak melawan hukum gravitasi, kita tidak akan terluka. Selama kita tidak melawan hukum suatu negara, kita tidak akan dipenjara. Selama kita tidak melawan hukum-hukum kehidupan Allah yang terdapat di dalam Alkitab, maka hidup kita akan maksimal, penuh damai sejahtera dan bahagia. Problem terbesar dari sebagian besar masalah manusia ialah “ketaatan”.

Banyak orang yang hidupnya sudah hancur berantakan karena mereka melanggar hukum Allah sejak mereka muda. Beberapa orang terjebak ke dalam lingkaran kehancuran karena tidak tahu apa yang salah dengan hidup mereka. Karena itu, pelajarilah hukum-hukum Allah sejak kita muda. Biarlah hidup kita dituntun oleh-Nya melalui hukum-hukum tersebut sepanjang kita hidup, maka kita akan menikmati hidup yang maksimal hari ini dan hari-hari selanjutnya dalam hidup kita.

Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Sumber : Ps. Ferry Felani, S.Th. Pastor of City Gate Apostolic Community

Peer Pressure

Suatu hari aku dan ketiga temanku sepakat untuk coba-coba mempraktekkan sebuah pemikiran baru dari sebuah buku yang kami baca. Di buku itu di tulis, kalau kita dengan yakin, secara bersama-sama mempengaruhi seseorang tentang suatu hal, sekalipun itu adalah hal negatif, maka orang itu akan mempercayainya dengan sendirinya.

Dan orang pertama yang terbersit dalam pikiran kami adalah Joko. Ia adalah seorang primadona kampus. Ganteng, pintar, kaya dan begitu populer. Kebetulan Joko sedang lewat di depan perpustakaan.

Aku menghampirinya dan pura-pura memperhatikan wajahnya. Tiba-tiba aku bilang, “Kok hari ini kamu kelihatan pucat, seperti mau sakit deh.” Joko agak terkejut. Namun ia dengan yakin mengatakan, “Aku baik-baik saja kok. Kamu ini ada-ada saja.”

Orang kedua pun menghampirinya di dalam kamar mandi. Ia juga mengatakan hal yang sama. Kali ini Joko mulai menanggapinya dengan serius. Ia langsung memperhatikan wajahnya di cermin.

Orang ketiga membicarakan hal yang sama kepada Joko di kantin. Joko mulai terlihat was-was. Ia memesan juice jeruk dan meminum sebutir vitamin C yang diyakininya bisa memulihkan kondisinya. Joko benar-benar mulai menanggapi perkataan kami.

Orang keempat pun melakukan hal yang sama ketika bertemu dengan Joko di tempat parkir. Ia melakukannya dengan sangat baik pada bagian, “Vitamin C itu untuk mencegah, bukan mengobati. Sebaiknya kamu periksa deh.” Joko benar-benar menjadi kuatir.

Apa yang terjadi berikutnya? Keesokan harinya Joko tidak masuk dua hari. Ketika masuk, kami menanyakan kabarnya. Joko menjawab dengan yakin, “Kemarin aku benar-benar sakit. Terima kasih ya atas perhatiannya.” Kami tidak bisa menahan tawa. Lalu aku menjelaskan apa yang yang sebenarnya terjadi. Jawaban Joko benar-benar mengejutkan kami. “Lho, kalian ini bagaimana sih? Aku itu benar-benar sakit. Kemarin aku ke dokter dan di opname satu hari. Lalu hari ini saja aku paksakan masuk, padahal kondisinya masih belum sehat betul.”

Perkataan orang-orang disekitar kita bisa membuat kita gagal. Cara mereka berbicara, intensitas dan topiknya, bisa membuatmu meragukan kebenaran. Kamu harus berhati-hati dalam mendengar setiap masukan mereka.

25 June 2009

Tawar Hati

2 Korintus 4:1-2 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 26; Filipi 3; 2 Tawarikh 10-11

Banyak orang yang menjadi tawar hati (discouraged) dalam menghadapi kesulitan hidup. Kitab Amsal berkata bahwa bila kita tawar hati pada masa kesesakan, maka kecillah kekuatan kita. Tawar hati menghasilkan konsekuensi yang buruk:

Tawar hati memadamkan rasa antusias. Orang yang tawar hati akan kehilangan antusias terhadap hidupnya. Bila seseorang merasa antusias dengan pekerjaannya, maka ia akan menikmati apa yang dikerjakannya walaupun pekerjaannya berat dan melelahkan. Tetapi, bila rasa antusias itu hilang, maka pekerjaan atau hidupnya akan menjadi satu beban yang berat.

Tawar hati menurunkan kepercayaan diri. Tawar hati lambat laun menurunkan kreativitas dan produktivitas hidup kita, sehingga kita merasa bahwa hidup kita tidak seefektif yang kita inginkan. Akibatnya, kita mulai kehilangan rasa percaya diri.

Tawar hati menimbulkan keputusasaan. Tawar hati membunuh pengharapan yang ada dalam diri kita. Tanpa pengharapan, tidak seorang pun dapat hidup dan berfungsi dengan baik. Orang yang tidak dapat memiliki pengharapan dapat bernafas, tetapi emosi dan jiwanya mengalami proses kematian.

Singkirkan tawar hati dari hidup Anda, karena tidak ada seorang pun yang bisa mencapai kesuksesan bila ia memiliki hati yang tawar. Tawar hati hanya akan membawa Anda kepada kehancuran hidup, dan mematikan potensi besar yang tersimpan di dalam diri Anda.

Tawar hati adalah senjata ampuh yang dipakai iblis untuk mematikan potensi yang Tuhan berikan dalam hidup Anda.

Jawaban.com

Saya Belajar

Saya belajar apa yang saya anggap terbaik, bukan tentu yang terbaik dari-Nya. Dan sebaliknya, yang terbaik dariNya belum tentu kita senangi. Teruslah bersyukur kepada-Nya atas semua nikmat dan karunia-Nya. Manusia hanya dapat terus berdoa dan berusaha untuk mendapat yang terbaik dari-Nya.

Saya belajar seberat apa pun cobaan yang diberikan oleh-Nya, pada akhirnya akan membuat kita menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab dan berguna. Syukurilah seluruh anugerah-Nya dengan hati ikhlas dan tulus. Everything happens, happens 4 a reasons.

Saya belajar bahwa kedewasaan itu lebih berkaitan dengan berapa banyak pengalaman yang kita miliki dan apa yang kita pelajari dari pengalaman tersebut, dan kurang berkaitan dengan telah berapa tahun usia kita.

Saya belajar walaupun kita berpikir tidak ada lagi yang dapat kita berikan dan lakukan, ketika seorang teman kesusahan dan membutuhkan kita, kita akan selalu menemukan kekuatan dan jalan untuk terus menolong.

Saya belajar jangan membandingkan diri sendiri dan kesusahan kita dengan orang lain, karena masing-masing kita berbeda.

Saya belajar bahwa latar belakang & lingkungan mempengaruhi pribadi saya, tapi kita tetap bertanggung jawab & menentukan masa depan kita sendiri.

Saya belajar bahwa saya harus bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan, tidak peduli bagaimana perasaan kita.

Saya belajar bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya dapat berlaku sesuka hati saya tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Saya belajar bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya....

Saya belajar jangan menilai orang dari penampilannya saja, itu bisa menipu. Bicara dan kenalilah orang tersebut lebih mendalam. Setiap orang memiliki kelebihan dan kebaikannya masing-masing,meskipun tidak ada orang yang sempurna di dunia.

Saya belajar di saat susah lebih terlihat mana teman sejati dan bukan.

Saya belajar bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda yang sama, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi, tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri....

Saya belajar bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa saat saja untuk menghancurkannya...

Saya belajar bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya...

Saya belajar hanya karena 2 orang berbeda pendapat dan tidak terlihat mesra, bukan berarti mereka tidak saling menyayangi, mencintai & setia. Dan hanya karena mereka selalu sependapat dan terlihat mesra, bukan berarti mereka selalu saling menyayangi, Mencintai & saling setia.

Saya belajar bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh. Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak menyayangi saya....

Saya belajar bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain menyayangi saya. Saya hanya dapat menunjukkan & melakukan sesuatu untuk orang yang saya sayangi... selanjutnya terserah mereka

24 June 2009

Target, Target dan Targett!!!

Wahyu 3:21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 25; Filipi 2; 1 Raja-Raja 13-14

Dalam kehidupan dunia kerja saat ini, tidak ada yang memiliki pekerjaan tanpa target. Semua bonus, penilaian efektivitas kerja, peningkatan jenjang karier, bahkan sampai besarnya gaji pokok yang diterima seorang karyawan seringkali dilihat dari pencapaiannya akan target yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Ketika saya masih bekerja di bank, setiap hari hal yang saya lakukan hanyalah mengejar target, target dan target. Karena dari sanalah insentif saya akan diperhitungkan. Jika sampai tidak mencapai target, tidak hanya saya yang akan mendapatkan penghasilan minimum di bulan itu, tapi saya juga akan dianggap menghampat pencapaian target tim secara keseluruhan karena secara tim perusahaan pun menetapkan targetnya tersendiri. Jadi setiap orang dalam departemen kami saling berhubungan sebagai tim, dan tidak bisa bekerja sendiri.

Saya teringat ketika target terasa sudah sangat menyesakkan karena sulitnya hal yang harus kami lakukan, pemimpin saya pada saat itu mengumpulkan kami sebagai satu tim dan menggambarkan tim kami sebagai sebuah pensil. Beliau hanya mengatakan, "Saya mengerti jika kalian merasa target kita sepertinya sulit untuk dicapai. Tapi tidak ada yang kita tidak bisa bila kita mengerjakannya bersama-sama. Bayangkanlah tim kita sebagai sebuah pensil, dan target itu bagaikan seutas tali yang diikat di pensil ini. Apa yang akan terjadi bila pensil ini diikat oleh tali yang longgar? Pensil itu tentu akan jatuh bukan? Tapi kalau pensil ini diikat tali dengan kuat, semakin kuat ikatannya, semakin stabil dan fleksibel pensil ini. Kita bisa membawa pensil ini pergi ke manapun dengan seutas tali ini, sepanjang ikatannya kuat.

Demikian juga dengan target. Semakin ketat target yang harus kita capai, semakin tinggi dan semakin fleksibel tim kita untuk menghadapi target-target berikutnya. Setiap target akan membuat kita semakin handal dan profesional. Kedisiplinan akan lahir dari pencapaian kita akan target. Jadi, jangan pernah menyerah karena keberhasilan dan kemenangan sudah menanti di depan kita," ujarnya kala itu.

Saat ini, meskipun saya sudah bekerja di perusahaan lain, bila target pekerjaan begitu menekan saya, saya selalu teringat akan perkataan pemimpin saya saat itu. Dan semangat pun kembali bangkit. Demikian juga ketika saya melihat kepada kehidupan manusia. Seringkali kita menjalaninya hanya seperti air yang mengalir, terjadilah apa yang harus terjadi. Padahal Tuhan merindukan agar kita menjadi pemenang, penakluk dan pejuang kebenaran. Kita tidak bisa membiarkan hidup kita berjalan apa adanya, karena target kehidupan yang harus kita jalani dalam setiap detik, setiap menit kehidupan kita adalah memperjuangkan kebenaran firman Tuhan itu nyata melalui hidup kita.

Hidup tanpa target bagaikan prajurit yang menguasai semua tekhnik berperang tapi tidak pernah terjun ke medan perang. Ia tidak akan pernah menyandang gelar pahlawan ataupun pejuang sejati. Potensinya yang sejati sebagai seorang prajurit tidak akan keluar bila ia tidak terlatih di dalam peperangan yang sesungguhnya.

Jadilah penakluk dalam kehidupan, raih kemenangan dan jangan biarkan hidup Anda mengalir apa adanya.

Telur Columbus

Sepulang Columbus dari perjalanannya yang fenomenal “menemukan” benua Amerika, berbagai penghargaan dan penghormatan datang melimpahinya. Namanya tenar dan perjalanannya menjadi pembicaraan di mana-mana. Walaupun banyak orang yang mengakui pekerjaannya sebagai sebuah prestasi, ternyata tidak semua orang dapat mengapresiasi dan menerima penghargaan yang diberikan atas kepeloporan Columbus. Apapun motif yang ada di benaknya, mereka senantiasa mencela Columbus.

“Ah, kalau cuma melakukan perjalanan seperti itu aku juga bisa, cuma aku saja yang nggak mau,” kata mereka.

Mendengar kata-kata miring yang ditujukan kepadanya, Columbus mendatangi mereka sambil membawa sebutir telur. Katanya, “Kalau kamu memang bisa melakukan seperti yang aku lakukan, sekarang tolong kamu buat supaya telur ini dapat berdiri tegak pada ujungnya.”

Mendapat tantangan Columbus, orang-orang itu satu persatu mencoba memberdirikan telur itu. Semua mencoba dan semua gagal karena telur itu selalu terguling setiap dicoba untuk diletakkan pada posisi berdiri. Setelah berulang-ulang mencoba dan gagal, akhirnya mereka menyerah.

“Kalau kalian menyerah, maka aku akan tunjukkan kepada kalian bagaimana membuat telur itu dapat berdiri di meja,” kata Columbus. Maka diambilnya telur itu, lalu diletakkannya dengan keras di meja sehingga bagian bawahnya retak. Dan telur itupun dapat berdiri di atas meja.

Melihat telur dapat berdiri di meja tapi dilakukan dengan cara seperti itu, orang-orang kemudian protes. “Kalau caranya seperti itu, kami semua juga dapat membuat telur itu berdiri di atas meja.”

“Kalau kamu dapat melakukan seperti yang aku lakukan, mengapa kamu tidak melakukannya sejak tadi..?”

***

Kalau tidak berhati-hati menjalani keseharian, kita bisa jatuh pada sikap seperti orang-orang yang mencela Columbus; meremehkan sebuah prestasi hanya karena menganggap diri kita bisa melakukan hal yang sama. Yang kadang kita lupa dan sering abaikan, “merasa bisa” dan “terbukti bisa” adalah dua hal yang berbeda.

Padahal, memuji dan menghargai dengan tulus kepeloporan orang lain justru menunjukkan kerendahan hati dan ketinggian kualitas pribadi seseorang.(Sumardiono)

23 June 2009

Tulang Rusuk

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih?

Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. Ya, tentang cinta.

Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku!

Ada tertulis, “Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan.

Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!”

Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”

Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar. Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah..

“Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing.”

Lima tahun berlalu… Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.

Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara..

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, ditempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas..

Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.

Dara tersenyum manis, lalu berlalu.

“Good bye....”

Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”

22 June 2009

Kepercayaan

“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya” – Ibrani 10:35

Kepercayaan berarti kepastian pikiran, keyakinan yang teguh, bisa diandalkan, bisa dipercayai. Kali ini kita akan mempelajari bersama sejumlah alasan mengapa kepercayaan bisa melemah dan bagaimana mencegah terjadinya kejatuhan.

1. Mengijinkan orang lain untuk memanipulasi Anda.
Kalau ini terjadi larilah menghindar seperti yang dilakukan Yusuf. “… Yusuf… lari keluar.” - Kej 39:13. Ambil langkah, menghindar dan pusatkan diri Anda dalam Kristus saja – motivasi datang dari dalam – dorongan semangat, kekuatan, atau keberanian datang dari luar – manipulasi datang dari musuh.

2. Menjadi terlalu lelah (kelelahan)
Kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan Anda merasa tertekan, kosong, kesepian, kehilangan kekuatan dan tidak berdaya jadi istirahatlah, tidurlah seperti yang dilakukan Elia, “… sesudah itu ia berbaring dan tidur…” – 1 Raj 19:5. Kadang-kadang berbaring dan tidur merupakan hal paling rohani yang dapat Anda lakukan.

3. Membanding-bandingkan
Membanding-bandingkan akan membawa Anda pada dosa untuk mengingini, seperti yang dilakukan oleh Daud, “…tampak kepadanya…seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.” – 2 Samuel 11:2 atau kritikan seperti yang dilakukan oleh Harun dan Miriam, “…sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Bilangan 12:2).

4. Meragukan
Tomas tidak dapat melihat jadi dia meragukan - Yohanes 20:25

5. Membuat perencanaan sendiri untuk melakukan sesuatu
Jangan merespon seperti yang dilakukan Sara terhadap apa yang Allah firmankan ketika ia berkata, “…hampiri hambaku itu (Hagar); mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” (Kejadian 16:2) kalau itu yang Anda lakukan Anda akan menutup atau sama saja menyingkirkan, membuang pemberian terbaik yang Allah sedang persiapkan untuk diberikan kepada Anda. Terimalah rencana Allah untuk kehidupan Anda dan nantikanlah Dia untuk mewujudkannya. Meskipun visi itu lama penggenapannya… belajarlah untuk menanti dengan sabar.

6. Mengikuti dari kejauhan
Seperti Petrus (Markus 14:66-72). Dekatkanlah diri Anda senantiasa pada Allah dan terimalah keyakinan, keteguhan, kepercayaan yang datang karena pengenalan yang semakin mendalam akan kasih-Nya.

7. Mengikuti atau menyesuaikan diri dengan orang banyak
Seperti yang dilakukan oleh Yudas. Jadilah orang yang berbeda, Anda adalah unik berdasarkan rancangan Allah. Meskipun menghadapi 450 orang yang tidak benar, Elia (satu orang saja) bersama Allah, menjadi mayoritas demikian juga dengan Anda.

8. Fokus yang bercabang atau terbagi-bagi
Keyakinan, keteguhan, kepercayaan, ketahanan akan lenyap kalau fokus Anda bercabang atau terbagi-bagi. Satu komitmen yang terarah akan menjadikan keyakinan, keteguhan, kepercayaan atau ketahanan Anda tidak tergoyahkan. Karena itu jaga dan peliharalah persekutuan Anda dengan Bapa dan dengan keyakinan yang kuat tidak tergoyahkan itu menangkan pertandingan.

Keyakinan tidak akan direnggut dengan satu hempasan begitu saja, musuh akan menggerusnya sedikit demi sedikit sampai lenyap. Jalan keluarnya adalah tetap mengandalkan pada karya Salib yang telah diselesaikan oleh Yesus, dengan demikian saja keyakinan serta kepercayaan Anda akan menjadi semakin kuat dan membumbung tinggi.

Yogyakarta, 7 April 2008
Paulus Trimanto Wibowo

21 June 2009

Lucifer

Lucifer adalah nama yang seringkali diberikan kepada Setan dalam keyakinan Kristen karena penafsiran tertentu atas sebuah ayat dalam Kitab Yesaya. Secara lebih khusus, diyakini bahwa inilah nama Setan sebelum ia diusir dari surga.

Dalam bahasa Latin, kata “Lucifer” yang berarti “Pembawa Cahaya” (dari lux, lucis, “cahaya”, dan ferre, “membawa”), adalah sebuah nama untuk “Bintang Fajar” (planet Venus ketika muncul pada dini hari). Versi Vulgata Alkitab dalam bahasa Lain menggunakan kata ini dua kali untuk merujuk kepada Bintang Fajar: sekali dalam 2 Petrus 1:19 untuk menerjemahkan kata bahasa Yunani “Φωσφόρος” (Fosforos), yang mempunyai arti harafiah yang persis sama dengan “Pembawa Cahaya” yang dimiliki “Lucifer” dalam bahasa Lain; dan sekali dalam Yesaya 14:12 untuk menerjemahkan "הילל" (Hêlēl), yang juga berarti “Bintang Fajar”. Dalam ayat yang belakangan nama “Bintang Fajar” diberikan kepada raja Babilonia yang tirani, yang dikatakan oleh nabi akan jatuh. Ayat ini belakangan diberikan kepada raja iblis, dan dengan demikian nama “Lucifer” kemudian digunakan untuk Setan, dan dipopulerkan dalam karya-karya seperti “Inferno” oleh Dante dan Paradise Lost oleh Milton, tetapi bagi para pengguna bahasa Inggris, pengaruhnya yang terbesar disebabkan karena nama ini digunakan dalam Alkitab Versi Raja James, sementara versi-versi bahasa Inggris lainnya menerjemahkannya dengan “Bintang Fajar” atau “Bintang Siang”.

Sebuah nas serupa dalam Kitab Yehezkiel 28:11-19 mengenai raja Tirus juga diberikan kepada Setan, sehingga menambahkan gambaran lain kepada gambaran Setan dan kejatuhannya yang tradisional.

Yes14:12 : KJV: How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!

Terjemahan Resmi: "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!

Bahasa Sehari-hari: Hai raja Babel, dahulu engkau bintang pagi yang cemerlang, tapi sekarang sudah jatuh dari langit! Dahulu engkau mengalahkan bangsa-bangsa, tapi sekarang dicampakkan ke tanah.

Jika diamati dalam versi KJV, kalimat Allah ini sungguh mencerminkan kesayangannya pada Lucifer, sampai Allah memberi gelar "son of morning" hingga akhirnya Lucifer menghianati Dia.

sumber :
(writter daniel Fb Khotbah Jki Injil Kerajaan)
alkitab, NKJ, NIV
Yesaya 14:12
Yehezkiel 28:11-19

20 June 2009

Weekly Scripture – Mazmur 50:15

Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." Sela - Mazmur 50:15

Rileks

Nats : Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum ... (Lukas 6:1)

Bacaan : Lukas 6:1-5

Kehidupan zaman sekarang penuh dengan tekanan; kesibukan dan ketergesaan seolah telah menjadi rutinitas. Bagaimana dengan Anda? Kapan terakhir Anda punya perasaan ingin berteriak sekeras-kerasnya? Kapan Anda merasa begitu ingin menangis? Apakah Anda mengalami kesulitan tidur pada malam hari dan terus diliputi ketegangan? Kapan terakhir Anda tersenyum dengan spontan? Kalau Anda sedang mengalami hal-hal itu, berarti Anda tengah mengalami gejala stres. Anda perlu waktu rileks. Rileks membantu me-recharge baterai kehidupan Anda.

Firman Tuhan hari ini berkisah tentang Tuhan Yesus yang tengah berjalan di ladang gandum (ayat 1). Untuk apa Dia di sana? Alkitab memang tidak menjelaskan. Namun, sangat mungkin Dia tengah bersantai. Keluar sejenak dari kesibukannya, menikmati panorama alam pada Hari Sabat. Bisa dipahami, setiap hari Dia sangat sibuk -- mengajar, melayani orang banyak, menyembuhkan orang sakit. Begitu padat aktivitas-Nya, sampai kadang makan pun Dia tidak sempat (Markus 6:31). Rupanya Tuhan Yesus juga sangat memperhatikan saat-saat untuk rileks.

Rileks, berhenti sejenak dari hiruk pikuk rutinitas dan ketegangan sehari-hari, banyak sekali manfaatnya. Dalam olahraga golf dikenal pukulan yang disebut backswing. Kunci keberhasilan pukulan ini adalah rileks. Ketika si pemain berada dalam keadaan rileks, pukulannya bisa lebih jauh daripada kalau mereka melakukan dengan tegang. Begitu pula dengan hidup kita. Rileks akan membantu kita untuk mengembalikan kebugaran tubuh dan kejernihan dalam berpikir, sehingga hidup kita menjadi lebih produktif. Dan tentu lebih sehat pula –AYA

KITA PERLU MENJAGA KESEIMBANGAN
ANTARA WAKTU BERAKTIVITAS DAN WAKTU UNTUK RILEKS

Ibu

Ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakiti-nya? Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan-nya? Mencaci maki-nya? Melawan-nya? Memukul-nya? Mengacuhkan-nya? Meninggalkan-nya? Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil, Memberikan ASI waktu kita bayi, Mencuci celana kotor kita, Menahan derita, Menggendong kita sendirian.

Disaat ibumu tidur, coba kamu lihat matanya dan bayangkan matanya takkan terbuka untuk selamanya, tangannya tak dapat hapuskan airmata mu dan tiada lagi nasihat yang sering kita abaikan, bayangkan ibumu sudah tiada, apakah kamu cukup membahagiakannya, apakah kamu pernah berfikir, bertapa besar pengorbanannya semenjak kamu berada di dalam perutnya.

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less)

SADARILAH bahwa di Dunia ini ga da 1 orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi...

Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita...

19 June 2009

Enyahkanlah Katak-katak Itu!

Kata Musa kepada Firaun: "Silakanlah tuanku katakan kepadaku, bila aku akan berdoa untukmu, untuk pegawaimu dan rakyatmu, supaya katak-katak itu dilenyapkan dari padamu dan dari rumah-rumahmu, dan hanya tinggal di sungai Nil saja."

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 20; Efesus 3; Pengkhotbah 6-7

Pernahkah Anda bergumul dengan salah satu masalah yang enggan lenyap? Masalah itu agaknya kebal terhadap semua penyelesaian yang bisa Anda pikirkan. Anda mengusir masalah itu dengan berbagai cara, tetapi masalah itu malah meluas sampai tidak dapat dikendalikan.

Alkitab menyatakan bahwa seorang Firaun Mesir juga menghadapi masalah semacam itu ribuan tahun yang lalu. Dia berbantah sengit dengan Tuhan mengenai masa depan umat Israel, dan akibatnya dia bangun pada suatu pagi dengan mendapati negerinya dikerumuni katak-katak yang berlumpur, bau dan berlompatan di mana-mana.

Kejadian itu merupakan masalah yang gawat. Saya tidak berbicara tentang seekor atau dua ekor katak di halaman depan istana. Yang saya maksudkan ialah katak di mana-mana, di seantero negeri - di ranjang, di atas meja makan, katak-katak besar di perapian dalam dapur, katak-katak kecil di adonan roti dan air minum, di rambut, dan di tempat-tempat lain yang bahkan tidak ingin Anda bayangkan!

Lalu Tuhan mulai mengadakan tindakan. Dia mengutus hamba-Nya Musa menghadap Firaun untuk menanyakan waktu melenyapkan katak-katak itu. Tahukah Anda jawaban yang diucapkan Firaun? “Besok.” Dapatkah Anda bayangkan itu? Dia sebenarnya dapat berkata, "Lenyapkan katak-katak itu sekarang juga! Hari ini!" Tetapi dia memutuskan untuk melewatkan waktu satu malam lagi di antara katak-katak menjijikkan itu.

Mungkin Anda berpikir, “Itu adalah keputusan bodoh yang pernah saya dengar. Mengapa sampai dia memintanya besok?” Entahlah. Barangkali untuk alasan serupa yang Anda kemukakan dalam hal menunggu sampai besok untuk diselamatkan atau disembuhkan atau menjadi makmur.

Inilah yang saya ingin Anda perhatikan. Ketika Musa mempersilahkan Firaun menentukan waktunya dan dia menjawab, “Besok,” maka Musa menanggapinya, “Baiklah. Agar tuanku mengetahui bahwa ada Tuhan di surga, JADILAH SEPERTI KATAMU ITU.”

Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada Anda: Berapa lama Anda bersedia membiarkan masalah yang membandel itu mengusik Anda? Kapan Anda ingin mengenyahkan katak-katak dalam hidup Anda? Sadarkah Anda bahwa masalah itu akan tetap bertahan selama Anda membiarkannya? Masalah itu akan tetap bercokol dalam hidup Anda sampai akhirnya Anda mengabil keputusan penting untuk berjalan bersama dengan firman Tuhan dan mengusirnya. Mengapa tidak Anda lakukan hal itu pada hari ini?

Bukan masalah yang meruntuhkan Anda tapi keputusan Anda untuk tidak mempraktekkan Firman yang membuat masalah itu tetap bercokol di sana.

Kebun Carl

Carl orang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Dia selalu menyapa orang dengan senyum lebar dan jabat tangan yang kuat. Meskipun telah tinggal di daerah kami selama lebih dari 50 tahun, tak seorang pun yang kenal baik dengannya.

Sebelum pensiun, dia pergi kerja dengan naik bus tiap pagi. Pandangannya yang kesepian saat menyusuri jalan seringkali membuat kami kuatir. Dia agak pincang karena luka bekas peluru yang dialaminya saat Perang Dunia II. Melihat dirinya, kami kuatir bahwa sekalipun dia selamat dari PD II, mungkin dia tidak bisa selamat dari perubahan di daerah kami yang menunjukkan makin meningkattnya kekerasan, kegiatan geng dan narkoba.

Ketika dia melihat selebaran dari gereja setempat yang mencari sukarelawan untuk memelihara kebun di belakang rumah pendeta, dia merespon dengan cara yang tak terduga. Tanpa banyak bicara, dia langsung mendaftar. Dia masih sehat untuk usianya yang sudah 87 tahun, ketika akhirnya hal yang selalu kami kuatirkan itu terjadi.

Saat itu dia baru selesai menyiram kebun, ketika tiga orang anggota geng menghampirinya. Tanpa mempedulikan usaha mereka untuk mengancamnya, dengan tenang dia bertanya, “Kalian mau minum dari selang ?”

Yang paling tinggi dan bertampang paling garang dari antara ketiganya berkata, ”Ya, tentu saja”, dengan senyum licik. Saat Carl memberikan selangnya kepadanya, dua orang lainnya menangkap lengan Carl dan mendorongnya hingga jatuh. Sementara selang itu terjatuh ke tanah, mencipratkan air ke sana sini, sementara pengganggu-penggangu Carl mengambil jam tangan pensiunan dan dompetnya, kemudian melarikan diri. Carl berusaha untuk bangun, tetapi dia terjatuh pada kakinya yang pincang.

Dia terbaring di sana, berusaha untuk bangkit, ketika sang pendeta datang berlari untuk menolongnya. Sekalipun sang pendeta telah melihat serangan itu dari jendela, dia tidak cukup cepat untuk sampai ke sana dan menghentikannya. “Carl, kamu baik-baik saja? Apakah kamu luka?” sang pendeta bertanya padanya sambil membantu Carl berdiri. Carl hanya mengusap dahinya sambil menghela napas dan menggelengkan kepala.

“Hanya beberapa anak yang terabaikan. Saya harap suatu saat mereka akan menjadi lebih bijak.” Bajunya yang basah menempel pada tubuhnya yang kurus saat dia membungkuk untuk mengambil selang. Dia menyalakan kran lagi dan mulai menyiram.

Dengan bingung dan sedikit perhatian, sang pendeta bertanya, “Carl, apa yang kamu lakukan ?”

“Saya harus menyelesaikan menyiram. Belakangan ini udara sangat kering”, jawabnya tenang. Lega melihat bahwa Carl benar-benar tidak apa-apa, sang pendeta hanya dapat terheran-heran. Carl adalah orang dari waktu dan tempat yang berbeda.

Beberapa minggu kemudian ketiga orang itu kembali. Sama seperti sebelumnya, ancaman mereka tidak mendapat perlawanan. Carl kembali menawarkan mereka minum dari selangnya. Kali ini mereka tidak merampoknya. Mereka merampas selang itu dari tangannya dan membasahi tubuhnya dari kepala sampai kaki dengan air dingin.

Setelah selesai menyiksanya, mereka pergi ke jalanan, sambil mengumpat dan memaki-maki, tertawa satu sama lain tentang betapa lucunya apa yang baru saja mereka lakukan. Carl hanya menatap mereka, kemudian ia berpaling pada matahari yang memberikan kehangatan, memungut selangnya dan melanjutkan menyirami kebun.

Musim panas dengan cepat berganti menjadi musim gugur. Carl sedang melakukan pekerjaannya di kebun ketika dia dikejutkan oleh seseorang yang datang tiba-tiba di belakangnya. Dia jatuh dan menimpa batang-batang evergreen. Saat dia berusaha berdiri kembali, dia menoleh dan dilihatnya pemimpin berbadan tinggi dari berandalan yang menyiksanya musim panas lalu, mengulurkan tangan kepadanya. Dia menutupi dirinya untuk berjaga-jaga terhadap serangan yang mungkin datang. “Jangan kuatir pak tua, saya tidak akan melukai anda kali ini.” Kata pemuda itu dengan lembut, sambil tetap mengulurkan tangannya yang bertato dan penuh goresan kepada Carl.

Saat membantu Carl berdiri, pemuda itu mengeluarkan sebuah tas kumal dari sakunya dan memberikannya kepada Carl. “Apa ini?” tanya Carl.

“Itu barangmu”, jelas pemuda itu. “Semua barangmu kukembalikan, juga uang yang ada di dompetmu.”

“Aku tidak mengerti, ” kata Carl. “Mengapa kamu menolongku sekarang?”

Pemuda itu menggeser kakinya, tampak malu dan sakit. “Aku telah belajar sesuatu dari engkau”, katanya. “Aku bergabung dengan gang itu dan melukai orang-orang seperti engkau. Kami memilihmu karena engkau sudah tua dan kami tahu kami bisa melakukannya. Tetapi setiap kali kami datang dan melakukan sesuatu terhadap engkau, bukannya engkau berteriak atau melawan, tetapi bahkan menawarkan kami minum. Engkau tidak membenci kami meskipun kami membencimu. Engkau tetap menunjukkan kasih terhadap kebencian kami.” Dia berhenti sejenak. “Aku tidak bisa tidur setelah kami mencuri barangmu, jadi ini kukembalikan.” Dia berhenti lagi beberapa saat, tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya. “Kupikir tas itu adalah caraku mengucapkan terima kasih karena telah menguatkan aku.” Dan sambil berkata demikian, pemuda itu melangkah keluar ke jalanan.

Carl melihat kantong di tangannya dan dibukanya dengan perlahan. Diambilnya jam pensiunannya dan dipasangnya di pergelangan tangannya. Saat membuka dompetnya, diperiksanya foto pernikahannya. Dia memandang sejenak kepada mempelai wanita yang masih tersenyum balik kepadanya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Carl meninggal pada suatu hari yang dingin setelah hari Natal di musim dingin itu. Banyak orang menghadiri pemakamannya meskipun cuaca buruk. Secara khusus sang pendeta memperhatikan seorang pemuda bertubuh tinggi yang tidak dikenalnya sedang duduk dengan tenang di pojok gereja. Sang pendeta berbicara tentang kebun Carl sebagai suatu pelajaran dalam hidup. Dengan suara yang tersendat dan air mata yang ditahan, dia berkata, “Lakukan yang terbaik dan buatlah kebun anda seindah mungkin. Kita tak akan pernah melupakan Carl dan kebunnya.”

Musim semi berikutnya selebaran lain muncul lagi. Isinya : “Dicari orang untuk memelihara kebun Carl.” Selebaran itu terabaikan oleh para jemaat yang sibuk sampai suatu hari sebuah ketukan terdengar di kantor sang pendeta. Saat membuka pintu, sang pendeta melihat sepasang tangan yang penuh goresan dan tato memegang selebaran itu. “Saya yakin ini pekerjaan saya, jika anda mau memakai saya,” kata pemuda itu.

Sang pendeta mengenali pemuda itu sebagai orang yang sama yang mengembalikan jam dan dompet Carl yang dicuri. Dia tahu bahwa kebaikan hati Carl telah membalikkan hidup pemuda ini. Sang pendeta menyerahkan kunci-kunci kebun kepadanya, sambil berkata, “Ya, peliharalah kebun Carl dan hargailah dia.”

Pemuda itu pergi bekerja dan selama beberapa tahun kemudian, dia tetap memelihara bunga-bunga dan sayuran sama seperti yang dikerjakan Carl. Dalam masa itu, ia pergi kuliah, menikah dan menjadi anggota masyarakat yang terpandang. Tetapi dia tak pernah melupakan janjinya pada Carl dan menjaga kebun itu seindah mungkin seperti yang akan dilakukan Carl.

Suatu hari dia mendatangi pendeta yang baru dan berkata padanya bahwa ia tidak dapat lagi memelihara kebun itu. Dia menjelaskan dengan senyum tersipu dan bahagia, “Istri saya baru saja melahirkan seorang anak laki-laki tadi malam, dan dia akan membawanya pulang hari Sabtu.”

“Baiklah, selamat !” kata sang pendeta, saat dia menyerahkan kembali kunci-kunci kebun. “Itu hebat sekali! Siapa nama bayinya ?”

“Carl”, jawabnya.

18 June 2009

Sudahkah Anda Mengabarkan Injil Hari Ini?

Apakah judul di atas terdengar “ekstrim”? Masa kita diwajibkan memberitakan Injil setiap hari. Waktu kita kan terbatas. Nggak tahu kalau kita sedang sibuk banyak kerjaan? Banyak pekerjaan rumah dan harus belajar. Dan mungkin kita dapat mempunyai seribu satu alasan untuk hal ini. Tetapi saya akan ceritakan suatu peristiwa.

Parmajit, seorang India yang taat dalam agamanya ‘sikh' dan ketaatannya pada agamanya tersebut dia tampakkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dia memakai sorban, memelihara rambut dan jenggot yang panjang (karena menurut aturan agama mereka, rambut di seluruh tubuh manusia ini nggak boleh dipotong atau dicukur).

Orangnya pendiam, dan dari wajahnya menujukkan kekerasan hatinya. Pekerjaannya sebagai sopir truk tidak membuat orang lain memandang rendahnya padanya, karena dia suka menolong yang lain. Memang Parm (demikian kami memanggil dia) agak kaku dalam bercakap-cakap karena mungkin dia orangnya pendiam. Tetapi bagiku dia seorang teman yang tidak suka mengurusi urusan orang lain dan berbicara apa adanya. Aku sering ngobrol dengan Parm baik tentang keluarganya atau pekerjaannya. Dua atau tiga kali seminggu aku bertemu dengan Parm di tempat kerja.

Lima hari berlalu. Ketika pagi hari aku memulai kerjaku. Manajerku menelponku, mengatakan bahwa seorang sopir truk dari perusahaan kami mengalami kecelakaan dan sopir itu meninggal seketika di tempat kejadian. Sopir itu adalah Parmajit !!! Aku sempat kaget ketika mendengar ucapan manajerku itu. Setelah telpon ku letakkan pada gagangnya. Aku termenung sesaat. Baru lima hari yang lalu aku sempat bercakap-cakap dengan Parmajit. Kini dia telah tiada.

Pikiranku melayang pada seorang pria khas India, tubuhnya yang sedang tidak terlalu tinggi. Dengan kulit sawo gelap dan memakai sorban, wajahnya di penuhi cambang dan jenggot. Suara ramahnya yang masih kuingat dan sering kami bertanya jawab untuk kehidupan sehari-hari. Tiba-tiba pikiranku menyayangkan, "Ah, dia mati tanpa menerima Kristus."

Hati nuraniku pun bertanya pada diriku, "Bukankah kau beberapa kali sempat bercakap-cakap dengan Parmajit? Mengapa kau tidak pernah mencoba mengabarkan Injil padanya?" Aih, seketika itu juga aku hanya dapat berkata pada Tuhan "maafkan aku Tuhan." Dan timbul penyesalan dalam hatiku. Bukankah aku mempunyai kesempatan, mengapa tidak aku gunakan ? Aku hanya dapat menghela nafas. Malu rasanya.

Jadi jika aku menuliskan "Sudahkah anda mengabarkan Injil, pada hari ini?" Apakah menurut anda aku ini ekstrim? Bukankah dari peristiwaku itu, aku telah kehilangan kesempatan. Kita tidak tahu kapan seseorang akan meninggal. Kapan teman sekolahmu yang sering duduk di sampingmu akan meninggal dunia dan dia belum menerima Tuhan. Kita tidak tahu teman sekantor kita yang sering memberi ucapan selamat pagi pada kita akan meninggal tiba-tiba, tanpa Kristus. Aku tidak mengatakan kalau kita mengabarkan Injil, dijamin orang itu percaya dan menerima Kristus saat itu juga. Tetapi paling tidak kita berusaha.

Waktu di Indonesia, aku punya seorang teman pemasaran (salesman) yang memasarkan produk asuransi jiwa. Dia mengajarkan bahwa dia menjadi seorang salesman yang tugasnya adalah menjual (selling). Baik dimana dan kapan saja, dia berusaha menjual produknya. Setiap hari, setiap waktu, setiap kesempatan. Waktu dia membeli bakso, dia tanya apakah si penjual bakso mau membeli produknya dengan keuntungan begini begitu promosinya. Waktu di tempat parkir, dia tanya si jukir (juru parkir?) apakah si jukir ingin mendapatkan keuntungan dari produknya yang paling sedikit akan menjamin keluarganya kelak dan sebagainya.

Nah, yang aku maksudkan kita sebagai orang Kristen harus mempunyai sikap seperti demikian. Kita mengaku orang Kristen, maka tidak lain tugas kita adalah mengabarkan Kabar suka cita yang telah kita terima, Kabar yang telah merubah hidup kita. Maukah kita mengabarkan Injil bagi teman-teman, orang yang kita kenal, bahkan keluarga kita yang belum menerima Yesus sebagai juru selamat ? Mengabarkan Injil bukan untuk memaksa orang lain menjadi Kristen. Dan membuat kita kuatir untuk ditolak, diejek atau dimarahi. Diterima atau tidak itu sudah menjadi konsekwensi kita. Tuhan kita sendiri pernah ditolak oleh orang banyak, apalagi kita?

Berdoalah supaya kita mempunyai keberanian untuk menceritakan pengalaman kehidupan Kristen kita kepada orang lain. Roh Kudus pasti akan membimbing kita. Dan Dia pula yang akan menolong berkata-kata untuk kita.

Markus 13:11 : “Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.”

Markus 8:38 : “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”

Sudahkah kita mengabarkan Injil, pada hari ini?

*) Parm meninggal dunia 25 November 2002 dengan meninggalkan seorang istri dan tiga anaknya yang masih kecil.

17 June 2009

Arloji Yang Hilang

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.

Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang kayu.

"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu.

Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam “kesibukan dan kegaduhan”. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan.

“Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.” - Pengkhotbah 4:6

16 June 2009

Humor : Leroy

Si kecil Leroy masuk ke dapur ketika ibunya sedang mempersiapkan makan malam. Karena ulang tahunnya yang semakin dekat, maka dia berpikir untuk memberitahu ibunya, hadiah apa yang dia inginkan. “Mama, saya ingin sebuah sepeda!”, sahutnya.

Si kecil Leroy adalah seorang anak kecil yang sedikit nakal. Dia sering berbuat kenakalan di di sekolah ataupun di rumah. Lalu ibu Leroy balik bertanya, mengapa Leroy berhak mendapatkan sebuah sepeda di hari Ulang Tahunnya.

Si kecil Leroy tentu saja berpikir bahwa dia berhak mendapatkan hadiah Ulang Tahun sebuah sepeda. Ibu Leroy, sebagai seorang Kristen, ingin agar Leroy merenungkan perbuatan apa saja yang telah Leroy perbuat sepanjang tahun ini. “Pergi ke kamarmu dan renungkan semua perbuatanmu di tahun ini. Lalu tulislah surat kepada Tuhan dan beritahu Dia, mengapa kamu berhak mendapatkan sebuah sepeda untuk Ulang Tahunmu tahun ini.”

Si kecil Leroy segera pergi naik ke kamarnya dan mulai menulis surat kepada Tuhan…

Surat pertama :

Hello Tuhan,
Saya telah menjadi seorang anak yang baik tahun ini dan saya ingin hadiah sepeda di hari Ulang tahunku. Saya ingin sepeda yang berwarna merah.

Temanmu,
Leroy

Leroy tahu bahwa apa yang dia tulis bukanlah yang sebenarnya. Dia belon bersikap sebagai anak yang baik tahun ini. Lalu dia mulai menulis surat yang baru…

Surat kedua :

Hello Tuhan,
Saya telah bersikap sebagai anak yang “OK” tahun ini. Saya masih benar-benar menginginkan sebuah sepeda di hari Ulang tahunku.

Leroy

Leroy tahu bahwa dia juga tidak dapat mengirimkan surat seperti ini kepada Tuhan. Lalu dia menulis surat yang ketiga…

Surat ketiga :

Tuhan,
Saya tahu bahwa saya belum menjadi anak yang baik tahun ini dan saya menyesalinya. Saya akan menjadi anak yang baik bila Engkau memberiku sebuah sepeda di hari Ulang tahunku.

Terimakasih,
Leroy

Leroy tahu, bahwa sekalipun surat itu jujur, tetapi surat itu tidak akan membawakan sebuah sepeda untuknya. Sekarang Leroy merasa sangat sedih. Dia turun ke bawah dan berkata kepada ibunya bahwa dia akan pergi ke gereja. Ibu Leroy berpikir bahwa rencananya berhasil, ketika melihat bahwa Leroy kelihatan sangat bersedih hati. “Pulanglah nanti untuk makan malam,” kata ibu Leroy kepadanya. Leroy berjalan ke sebuah gereja di sudut jalan. Lalu dia memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang berada disana.

Leroy mengambil patung dari Bunda Maria, menyembunyikannya di balik kausnya, segera berlari meninggalkan gereja itu menuju ke rumahnya, dan langsung pergi ke kamarnya. Dia duduk dan bersiap-siap dengan pena dan secarik kertas.

Leroy memulai untuk menulis sebuah surat kepada Tuhan.

Surat keempat :

Tuhan,
IbuMu ada padaku. Jika Engkau ingin melihat ibuMu kembali, beri aku hadiah Ulang tahun sebuah sepeda.

Tertanda,
Engkau tahu siapa

15 June 2009

Andai Yesus Tidak Pernah Lahir

Ada seorang pendeta yang sementara menyiapkan khotbah natal tertidur dan kemudian bermimpilah ia. Ia mimpi tentang dunia dimana kristus tidak pernah dilahirkan. Di dalam mimpinya ia tidak melihat sebatang lilinpun menyala, sudut rumahnya kosong tanpa pohon natal, sunyi dan sepi.

Ia ingin tahu apa yang terjadi di luar maka ia berjalan kaki menuju kota dan pasar. Aneh, tak ada sebuah gereja pun yang nampak, bunyi lonceng pun tidak terdengar, tiada lagu-lagu natal kecuali musik jazz dan rock pengiring mereka yang berdisko di bar.

Ia pulang dan masuk ke ruangan bukunya. Herannya ,semua buku-buku tentang Yesus Juruselamat sudah lenyap. Setelah itu ia mendengar pintunya diketuk orang dan seorang memintahnya untuk segera mengunjungi ibunya yang sakit keras. Ia mencoba menghibur anak yang sedang menangis itu dengan sepotong ayat, ia membuka Alkitab untuk menemukan ayat perjanjian itu, tapi betapa terkejutnya ia, Alkitabnya hanya berakhir di kitab Maleakhi, tidak ada injil, tidak ada ayat-ayat perjanjian, dan tidak ada pengharapan atas keselamatan. Maka ia hanya bisa menundukkan kepala dan menangis bersama anak itu dalam keputusasaan.

Dua hari kemudiaan ia berdiri di samping peti jenazah wanita itu untuk memimpin upacara pemakaman, tetapi ia tidak bisa berkhotbah tentang penghiburan yang meyakinkan kecuali “Apa yang daripada tanah kembali kepada tanah dan apa yang daripada debu kembali kepada debu..”. Mengapa demikian? Ia baru sadar, semuanya ini karena…. “YESUS KRISTUS TIDAK DATANG KE DALAM DUNIA INI”

Tiba-tiba terbangunlah ia oleh kegembiraan dan sukacita Teriakan “Haleluyah” keluar dari mulutnya waktu ia mendengar paduan suara yang berlatih di gereja menyanyikan: “Kesukaan bagi dunia, penebus datanglah Brihatimu kepadanya, s’kalian nyanyilah s’kalian nyanyilah, sekalian orang bernyanyilah”. Alangkah mengerikan keadaan manusia andaikata Yesus Kristus tidak datang ke dalam dunia! tidak ada harapan sama sekali untuk pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

Tapi syukurlah YOHANES 3:16 membawa berita bahagia yang sangat indah bagi seluruh umat manusia di dunia. “KARENA BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA INI, SEHINGGA IA TELAH MENGARUNIAKAN ANAKNYA YANG TUNGGAL, SUPAYA SETIAP ORANG YANG PERCAYA KEPADANYA TIDAK BINASA, MELAINKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL.”

14 June 2009

Sorga Terbuka

Jika ada yang ingin download PDF buku “Sorga Terbuka”, Perjalanan anak usia 11 tahun ke Sorga dan Neraka oleh Joseph. Silahkan download link di bawah ini. Jika link ini error, mohon hubungi saya. Terima kasih… GBU .. :)

Complete Book - Sorga Terbuka

13 June 2009

Weekend Scripture – 1 Tesalonika 5:18

"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." - 1 Tesalonika 5:18

Bagian Terberat Dalam Hidup

Orang di jaman sekarang terlalu banyak berpikir. Kalau saja mereka mengurangi proses berpikir mereka sedikit, maka hidup mereka anda akan menjadi jauh lebih gampang.

Di vihara kami di Thailand, setiap minggu di suatu malam, bhikkhu-bhikkhu begadang melewatkan waktu tidur mereka untuk bermeditasi semalaman di ruang utama. Ini sudah menjadi tradisi bhikkhu hutan. Tidaklah terlalu berat, karena kami selalu bisa tidur di pagi harinya.

Suatu pagi, sesudah semalaman bermeditasi, ketika kami sudah siap kembali ke pondok masing-masing untuk tidur, kepala vihara memanggil seorang bhikkhu junior, orang Australia. Betapa kecewanya dia karena kepala vihara memberikan dia setumpukan besar jubah untuk dicuci, seraya menyuruhnya untuk melakukannya sekarang juga. Sudah menjadi tradisi kami untuk membantu kepala vihara mencuci jubahnya dan juga melayaninya melakukan hal-hal kecil lainnya.

Ini merupakan pekerjaan mencuci yang banyak. Lagipula, seluruh cucian harus dikerjakan dengan cara tradisional ala bhikkhu hutan. Air harus ditimba dari sumur, membuat api besar dan memasaknya sampai mendidih. Potongan kayu dari pohon nangka harus dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil dengan menggunakan kapak. Potongan kecil tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih tadi untuk mengeluarkan sarinya, yang berfungsi sebagai "deterjen". Lalu setiap jubah diletakkan secara terpisah di dalam sebuah bak kayu yang panjang, kemudian air mendidih kecoklatan itu ditumpahkan ke dalamnya. Jubah-jubah itu kemudian dipukul-pukul dengan tangan sampai bersih. Bhikkhu itu kemudian harus mengeringkannya di bawah sinar matahari, membolak-baliknya secara teratur agar pewarna alaminya tidak luntur. Mencuci satu jubah saja sudah lama dan repot. Mencuci sebegitu banyak jubah membutuhkan waktu berjam-jam. Si bhikkhu muda Brisbane ini sudah lelah semalaman tidak tidur. Saya kasihan juga kepadanya.

Saya datang ke pelataran tempat mencuci itu untuk membantunya. Sesampai di sana, dia sedang memaki-maki, lebih condong ke tradisi Brisbane daripada tradisi Buddhis. Dia mengeluhkan betapa tidak adil dan kejamnya. “Tidak bisakah kepala vihara menunggu sampai besok? Tidakkah dia menyadari bahwa saya tidak tidur semalaman? Saya tidak menjadi bhikkhu untuk mencuci!” Kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi itulah yang masih cukup sopan untuk ditulis di sini. Saat itu terjadi, saya telah menjadi bhikkhu selama beberapa tahun. Saya mengerti yang dia alami dan tahu jalan keluar dari permasalahannya. Saya berkata kepadanya, “Berpikir jauh lebih berat daripada mengerjakannya.”

Dia menjadi terdiam dan memandang saya. Setelah beberapa lama berdiam diri, tanpa berkata apa-apa dia kembali bekerja dan saya kembali ke tempat untuk tidur. Belakangan di hari itu, dia datang menemui saya untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan saya mencuci jubah. Memang benar, dia menyadari, berpikir adalah bagian yang terberat. Ketika dia berhenti mengeluh dan hanya mengerjakan cuciannya, sama sekali tidak ada masalah.

Bagian terberat dari segala hal dalam hidup adalah memikirkannya.

12 June 2009

Anugerah

Pada suatu hari aku bangun pagi-pagi untuk melihat matahari terbit. Ah, begitu indahnya ciptaan Tuhan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sambil melihat semua itu, aku memuji Tuhan atas karya-Nya yang indah. Ketika aku sedang berada di situ, tiba-tiba Tuhan menampakkan hadirat-Nya padaku.

Ia bertanya, “Apakah kau mengasihi-Ku?”

Aku menjawab, “Tentu saja Tuhan! Engkau adalah Tuhanku dan Juruselamatku!”

Lalu Ia bertanya, “Seandainya kau menjadi cacat, masihkah kau mengasihiKu ?”

Aku terhenyak. Aku melihat ke bawah, ke arah tangan, kaki dan seluruh anggota tubuhku dan membayangkan betapa banyaknya hal yang tidak dapat kulakukan seandainya itu terjadi. Aku pun menjawab, “Ini akan sulit, Tuhan, tapi aku akan tetap mengasihiMu.”

Lalu Tuhan berkata, “Jika kau menjadi buta, masihkah kau mengagumi ciptaanKu?”

Bagaimana aku bisa mengagumi sesuatu tanpa bisa melihatnya? Lalu aku pun berpikir mengenai orang-orang buta di dunia ini dan banyak di antara mereka yang masih mengasihi Tuhan dan ciptaanNya. Jadi aku pun menjawab, “Sulit membayangkannya, tapi aku tetap akan mengasihiMu.”

Lalu Tuhan bertanya lagi, “Jika kau menjadi tuli, masihkah kau akan mendengarkan perkataanKu?”

Bagaimana aku bisa mendengarkan segalanya jika aku menjadi tuli? Oh, aku mengerti. Mendengarkan suara Tuhan tidak selalu harus menggunakan telinga kita, tapi juga hati kita. Aku pun menjawab, “Ini berat, tapi aku akan tetap mendengarkan perkataanMu Tuhan.”

Tuhan lalu bertanya, “Jika kau menjadi bisu, masihkah kau akan memuji NamaKu?” Bagaimana aku bisa memuji tanpa bisa bersuara? Ah, sekali lagi aku mengerti. Tuhan menginginkan kita untuk memuji dari dasar hati kita. Tak menjadi soal seperti apa suara kita. Lagipula memuji Tuhan tidak selalu dengan lagu. Kita memuji Tuhan dengan rasa syukur dan terima kasih kita.

Jadi aku pun menjawab, “Walaupun secara fisik aku tak dapat menyanyi, aku akan tetap memuji NamaMu Tuhan.”

Lalu Tuhan bertanya, “Apa kau betul-betul mengasihiKu?”

Dengan semangat dan keyakinan yang kuat, aku menjawab dengan mantap, “Ya Tuhan! Aku mengasihiMu karena Kau adalah satu-satunya Allah yang benar!”

Aku pikir aku telah menjawab dengan baik, tapi Tuhan bertanya, “Lalu mengapa kau berdosa?”

Aku menjawab, “Karena aku hanya manusia, aku tak sempurna.”

“Lalu mengapa pada waktu tak ada masalah kau menghindar dan menjauh? Mengapa hanya pada saat ada masalah kau berdoa?”

Tak ada jawaban. Air mata mulai mengalir.

Tuhan melanjutkan, “Mengapa menyanyi hanya pada waktu persekutuan dan retreat? Mengapa mencari Aku hanya pada saat kebaktian? Mengapa meminta sesuatu dengan mementingkan diri sendiri saja? Air mata terus menetes dari pelupuk mataku.

“Mengapa kau menjadi malu karena Aku? Mengapa kau tidak memberitakan kabar baik?”

Mengapa kau mengandalkan manusia dan bukannya Aku? Mengapa menghindar pada waktu ada kesempatan untuk melayani? Aku mencoba untuk menjawab, tetapi tak ada jawaban yang bisa kuberikan.

“Kau diberkati dengan kehidupan. Aku menciptakanmu tidak untuk menyia-nyiakan anugerah ini. Aku memberkatimu dengan talenta untuk melayaniKu, tapi kau tetap berpaling. Aku telah meneruskan firmanKu padamu, tapi kau tidak memiliki hikmat. Aku telah berbicara padamu, tapi telingamu tertutup. Aku telah menunjukkan berkatKu padamu, tapi matamu berpaling. Aku telah mengirimkanmu pelayan, tapi kau duduk diam seolah mereka tidak ada. Aku telah mendengar doa-doamu, dan telah menjawabnya.”

“Apakah kau benar mengasihiKu?”

Aku tak dapat menjawab. Bagaimana bisa? Aku merasa malu sekali. Tak ada pembelaan. Apa yang bisa kukatakan? Pada saat itu, hatiku menangis, dan air mata mengalir, aku berkata, “Ampuni aku Tuhan. Aku tak berharga menjadi anakMu.”

Tuhan berkata, “Itu anugerah, anakKu.”

Aku bertanya, “Lalu mengapa Kau mengampuniku? Mengapa Kau begitu mengasihiku?” Tuhan menjawab, “Karena kau adalah ciptaanKu. Kau adalah anakKu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Ketika kau menangis, Aku ikut menangis bersamamu. Ketika kau bersukacita, Aku ikut tertawa. Ketika kau sedang susah, Aku akan memberimu semangat. Ketika kau jatuh, Aku akan membangunkanmu kembali. Ketika kau letih, Aku akan menggendongmu. Aku besertamu sampai kepada kesudahan zaman, dan mengasihimu selamanya.”

Tak pernah aku menangis seperti ini sebelumnya. Mengapa aku bisa begitu dingin? Mengapa aku bisa melukai hati Tuhan seperti yang telah kulakukan?

Aku bertanya lagi, “Berapa besar kasihMU padaku, Tuhan?”

Dan Tuhan pun merentangkan kedua tanganNya, tangan yang telah dipakukan di atas kayu salib. Aku tersungkur di kaki Kristus, Juruselamatku. Dan untuk pertama kalinya ..aku betul-betul berdoa.

11 June 2009

Bunga Cantik Dalam Pot Retak

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. “Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.

“Aku rasa mungkin karena wajahku. Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..."

Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku, “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.” Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di beranda.

Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau-kalau ia mau ikut makan. “Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring-piring, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.

Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak-anaknya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka di tulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa-rupanya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.

Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak-anak. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi."Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak2 anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu."

Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat. Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai...

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. "Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!" Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya,mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata,"Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki."

Tapi temanku merubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman."

Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. "Hah, yang ini luar biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu." Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini." Semua ini sudah lama terjadi, dulu dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Samuel 16:7b)

Sahabat2 adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian. Tunjukkan kawan2mu betapa kau peduli.. Buatlah seseorang tersenyum hari ini.

"Your failure is not a reason for GOD to stop loving you"

GBU all "

10 June 2009

Biji Apel

Holaram,sang menteri dari Negeri Zimbakyu, sedang menghadiri suatu konfrensi internasional. Secara kebetulan tempat duduk dia bersebelahan dengan tempat duduk seorang menteri dari negara Paman Sam yang kebetulan beragama Yahudi. Kebetulan-kebetulan semacam itu membuat dia bingung, tetapi apa boleh buat? Kalau pindah tempat duduk, takut dianggap penghinaan terhadap wakil resmi negara paman Sam.

Sebagaimana biasanya dalam konfrensi internasional, pidato-pidato yang dibacakan itu semuanya sudah tertulis rapih, dibuat oleh staf-staf ahli para menteri yang menyampaikan dan akan dipelajari oleh staf staf ahli para menteri yang mendengarkannya. Para menteri yang hadir, hadir karena harus hadir.

Hanya basa-basi. Ada yang mengantuk, bahkan ada yang tiduran. Ada yang sampai ngorok. Membosankan! Hola harus menyembunyikan rasa kesal di balik seyum yang palsu. Ia harus menunjukkan sikap ramah terhadap perwakilan paman Sam yang beragama Yahudi itu. Kalau tidak, bantuan tahunan dari beberapa lembaga keuangan yang diberikan kepada negaranya atas jaminan negara paman Sam bisa mengalami kemacetan. Apa boleh buat!

Sejak mulainya rapat itu, Hola melihat sesuatu yang aneh. Sebentar –sebentar Menteri dari Negara Paman Sam memasukkan tangan ke dalam kantong jasnya, mengeluarkan sesuatu dan memakan nya.Aneh! Kerena begitu ingin tahunya, akhirnya Hola bertanya kepada Menteri Zionis itu, "Tuan Menteri, kalau boleh tahu, apa yang sedang anda makan dari tadi?"

“Oh tentu saja, lihat ini, biji apel”, jawabnya, sambil mengeluarkan 2 biji apel dari kantong nya. "Biji apel? Tuan Menteri memakan biji apel? Apa khasiat nya ?", Hola heran sekali.

“Ha,anda belum tahu? Hasil riset kami bertahun tahun membuktikan bahwa biji apel bisa mencerdaskan kita, menambah kemampuan dan kinerja otak,” kata Menteri dari Paman Sam menjelaskan. “Benarkah demikian? Apabila Tuan Menteri tak keberatan, bisakah saya mencoba biji itu?” Hola tergiur untuk mencobanya. Sayang sekali, tinggal dua biji. Begini saja; satu untuk saya dan satu untuk anda. Tetapi anda harus membayar 10 dollar untuk satu biji ini.” Dalam perhitungan Paman Sam selalu akurat, tidak pernah salah. Hola senang sekali, ah rupanya itulah rahasia kecerdasan bangsa Amerika. “Terima kasih, terima kasih. Tuan menteri begitu baik hati, memberikan sesuatu yang sangat berharga, bermanfaat sekali.”

Setelah memakan biji apel itu, Hola mulai berpikir, “Edan-gila-tidak waras, sepuluh dollar untuk satu biji apel!”. Ia menahan-nahan rasa kesalnya, akhir meluap juga, “Tuan Menteri, baru terpikir sekarang oleh saya. Dengan uang 10 dollar mungkin saya bisa beli beberapa kilo apel. Tadi Tuan menjual satu biji seharga 10 dollar. Betapa bodohnya saya!”

“Nah itu, lihat bukti keampuhannya! Begitu makan biji apel itu, anda memperoleh pencerahan. Anda baru sadar bahwa anda bodoh. Itu hasil biji apel tadi. Sekarang anda cerdas. Anda tidak akan dibodohi lagi dan semuanya itu kerena satu biji apel,benarkan? " ujar Menteri Paman Sam.

PENCERAHAN BERASAL DARI DALAM DIRI KITA, BUKAN DARI LUAR! diambil dari buku: “PANAS DINGIN, secangkir kopi kesadaran seusaimeditasi”, oleh Anand Krisna dari milis motivasi

09 June 2009

Hidup Anak Belajar Dari Lingkungan

Jika anak biasa hidup dicacat dan dicela, kelak ia akan terbiasa menyalahkan orang lain.

Jika anak biasa hidup dalam permusuhan, kelak ia akan terbiasa menentang danmelawan.

Jika anak biasa hidup dicekam ketakutan, kelak ia akan terbiasa merasa resah dan cemas.

Jika anak biasa hidup dikasihani, kelak ia akan terbiasa meratapi nasibnya sendiri.

Jika anak biasa hidup diolok-olok, kelak ia akan terbiasa menjadi pemalu.

Jika anak biasa hidup dikelilingi perasaan iri, kelak ia akan terbiasa merasa bersalah.

----------------------------------------------------------------------------------------------

Jika anak biasa hidup serba dimengerti dan dipahami, kelak ia akan terbiasa menjadi penyabar.

Jika anak biasa hidup diberi semangat dan dorongan, kelak ia akan terbiasa percaya diri.

Jika anak biasa hidup banyak dipuji, kelak ia akan terbiasa menghargai.

Jika anak biasa hidup diterima dilingkunganya, kelak ia akan terbiasa mencintai.

Jika anak biasa hidup tanpa banyak dipersalahkan, kelak ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri.

Jika anak biasa hidup jujur, kelak ia akan terbiasa memilih kebenaran.

Jika anak biasa hidup mengenyam rasa aman, kelak ia akan terbiasa percaya diri dan mempercayai orang-orang disekitarnya.

Jika anak biasa hidup diperlakukan adil, kelak ia akan terbiasa dengan keadilan.

Jika anak biasa hidup mendapatkan pengakuan dari sekelilingnya, kelak ia akan terbiasa menetapkan sasaran langkahnya.

Jika anak biasa hidup ditengah keramah-tamahan, kelak ia akan terbiasa berpendirian : “Sungguh indah dunia ini.”

Bagaimana dengan Anda??

** Dorothy low Noffe (Children Learn What They Live With)

08 June 2009

Batu Besar

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, “Okay, sekarang waktunya untuk quiz.” Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja.

Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, “Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?” Semua mahasiswa serentak berkata, “Ya!” Dosen bertanya kembali, “Sungguhkah demikian?” Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil- kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, “Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”

Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, “Mungkin tidak.” “Bagus sekali,” sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, “Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?” “Belum!” sahut seluruh kelas. Sekali lagi ia berkata, “Bagus. Bagus sekali.” Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, “Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?”

Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, “Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya.”

“Oh, bukan,” sahut dosen, “Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa bila anda tidak memasukkan “batu besar terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya.”

Apa yang dimaksud dengan “batu besar” dalam hidup anda? Anak-anak anda; Pasangan anda; Pendidikan anda; Hal-hal yang penting dalam hidup anda; Mengajarkan sesuatu pada orang lain; Melakukan pekerjaan yang kau cintai; Waktu untuk diri sendiri; Kesehatan anda; Teman anda; atau semua yang berharga.

Ingatlah untuk selalu memasukkan “Batu Besar” pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting. Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: “Apakah “Batu Besar” dalam hidup saya?” Lalu kerjakan itu pertama kali.”

07 June 2009

Belajar

Amsal 1:5 Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 142; Yohanes 2; 2 Samuel 11-12

Rutinitas dunia kerja seringkali melelahkan. Apalagi ketika Anda berada di kota besar, seperti Jakarta misalnya, jam-jam kerja Anda rasanya bertambah, sebab masih ada bonus kelelahan dari perjalanan menembus kemacetan. Saya sendiri butuh waktu sekitar dua jam untuk tiba di rumah hingga secara keseluruhan saya hampir bekerja selama setengah hari atau dua belas jam.

Sering kali kelelahan ini membuat kita tidak lagi memiliki keinginan untuk menambah pengetahuan. Selain itu, tidak jarang pula kita merasa ilmu yang kita peroleh sudah cukup. Terutama ketika kita tidak lagi bekerja di bidang yang sesuai ilmu yang kita timba saat masih sekolah atau di universitas.

Namun, Amsal yang kita baca kali ini mengajak kita melakukan hal yang sebaliknya. Kita diajak untuk membuka telinga, mata dan pikiran kita kepada pengetahuan; pengetahuan akan firman Allah dan berbagai ilmu pengetahuan. Jadi, tidak hanya spiritualitas, tapi juga intelektualitas. Sebab dengan demikianlah kita bisa menjalankan misi Allah dalam dunia kerja secara maksimal.

Masalahnya, maukah kita memberi waktu untuk belajar? Mungkin pertama-tama kita perlu belajar memberi waktu untuk belajar, dengan membiasakan diri menyisihkan waktu. Anda berani mencobanya?

Tambahlah kapasitas Anda bila tidak ingin digeser oleh yang lebih berkapasitas.

Jawaban.com

06 June 2009

Telur Kosong

Jeremy terlahir dengan tubuh yang bengkok, dan otak yang lambat kerjanya. Saat umur 12, ia masih dikelas 2, tampaknya tak mampu untuk belajar. Pengajarnya, Doris Miller, sering dibuat mendongkol dan jadi jengkel. Seenaknya ia menggeliat-geliat sesukanya dibangku, ngiler, air liur bertetesan dan berbunyi aneh-aneh - mengorok! Terkadang, mendadak ia berbicara jelas dan berbunyi tersendiri, seakan ada seberkas sinar terang memasuki kegelapan otaknya. Namun, secara umum, Jeremy ini lebih sering jadi iritasi bagi gurunya.

Suatu hari ia memanggil orang tuanya, meminta mereka datang untuk berkonsultasi. Saat pasutri Forester memasuki ruang kelas yang kosong itu, Doris berkata pada mereka, "Jeremy betul-betul butuh tinggal dalam sebuah sekolah yang 'khusus'. Tidak fair dan kurang adil baginya kalau dikumpulkan dengan anak-anak yang lebih muda yang tak bermasalah untuk belajar. Coba, umurnya kan beda 5 tahun lho, dengan murid-murid lainnya."

Bu Forester menangis diam-diam, menutupi dengan tisyu, sementara suaminya berbicara. "Nona Miller," katanya, "Dekat-dekat sini tidak ada SLB seperti itu. Lagian, akan menjadi suatu kejutan dan pukulan berat bagi Jeremy bila kami harus mengeluarkannya dari sekolah ini. Kami tahu ia sangat suka disini." Doris masih tinggal duduk lama sekali setelah mereka itu pergi, menatap kosong lewat jendela memandangi salju diluar.

Dinginnya seakan menyusup kedalam jiwanya. Betapa inginnya ia bersimpati dengan suami istri Forester. Bagaimanapun juga, satu-satunya anak mereka berpenyakit yang tak tertolongkan. Sebaliknya, kurang adil pula menahannya dalam kelasnya. Ia masih punya 18 anak-anak kecil lainnya yang harus diajar, sedang Jeremy ini menjadi pengalih perhatian. Lagipula, ia tidak bakalan bisa belajar membaca maupun menulis. Buat apa memboroskan lebih banyak waktu lagi untuk mencoba? Sementara ia merenungkan situasi ini, rasa bersalah seakan meliputi dirinya.

"Ah, apaan sih, kok aku disini ngomel dan komplain,padahal masalah problem-problemku kan tidak berarti dibandingkan apa yang ditanggung keluarga naas itu," pikirnya. "Ya Tuhan, tolonglah agar aku bisa lebih bersabar dengan Jeremy."

Sejak hari itu, ia benar-benar berusaha keras mengabaikan segala bunyi-bunyian aneh dan pandangan-pandangan mata Jeremy yang kosong hampa. Kemudian suatu hari, bersusah payah ia menghampiri mejanya, menyeret kaki cacatnya di belakang dia. "Bu Miller, saya cinta padamu," serunya, begitu keras sehingga terdengar oleh seluruh kelas. Murid-murid lainnya dengan suara gelak ramai, tertawa terkekeh-kekeh, dan wajah Doris pun berubah jadi merah.

Tergagap ia berkata balik, "I-iya... Ibu tahu, i-itu baik sekali, Jeremy.T-tapi k-kau sekarang kembali duduk lagi ya..." Musim semi akhirnya tiba, dan anak-anak begitu asyik membicarakan datangnya Paskah. Doris menceritakan kisah Yesus, lalu untuk menekankan wacana adanya kehidupan baru yang melompat keluar, ia memberikan setiap murid sebuah telur plastik besar.

"Jadi, sekarang ini," katanya pada mereka, "saya ingin kalian masing-masing bawa pulang ini dan jangan lupa besok dibawa balik kesekolah, dengan mengisi sesuatu didalamnya yang menunjukkan kehidupan baru. Semua mengerti?"

"Iya, mengerti Buuuu," semua anak-anak sekelas menyahut bergairah sekali, kecuali Jeremy. Ia mendengarkan penuh perhatian, matanya tak pernah lepas dari wajahnya. Ia bahkan juga tidak mengeluarkan bunyi-bunyian yang biasanya aneh. Apakah ia mengerti apa yang ia ceritakan soal kematian dan kebangkitan Yesus? Apakah ia benar-benar mengerti tugas yang diberikan? Mungkin ia perlu memanggil orang tuanya dan menerangkan soal proyek itu.

Malam itu, tempat cuci piring didapur Doris mampet. Ia memanggil pemilik rumah dan menunggu sejam sampai ia datang melancarkannya kembali. Setelah itu ia masih harus belanja makanan, menyeterika blusnya, dan menyiapkan ujian perbendaharaan kata untuk esok harinya. Ia samasekali lupa menilpon orang tua Jeremy.

Besoknya, 19 anak-anak datang ke sekolah sambil tertawa dan ngobrol, sementara mereka menaruh telur-telur kedalam sebuah keranjang anyaman dimeja Nona Miller. Selesai dengan pelajaranan matematika, tiba saatnya untuk membuka semua telur. Dalam telur pertama, Doris menemukan sekuntum bunga.

"Ya, tentu saja, sekuntum bunga memang pasti pertanda suatu kehidupan baru," katanya. "Manakala tunas mulai menembus tanah, kita tahu musim semi ada disini."

Seorang gadis kecil, duduknya dibaris pertama, melambaikan tangannya. "Itu telurku, Bu Miller," teriaknya penuh semangat.

Telur selanjutnya berisi kupu-kupu plastik, begitu mirip asli. Doris mengangkatnya tinggi-tinggi. "Kita semua tahu bahwa seekor ulat berubah dan tumbuh menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Benar, ini juga suatu kehidupan yang baru."

Si Judy kecil dengan bangga masang senyumnya dan berkata. "Bu Miller, yang itu punya saya lho...."

Selanjutnya, Doris menemukan sepotong batu yang ditumbuhi mos, sejenis lumut-lumutan. Iapun menerangkan bahwa mos, juga, menunjukkan kehidupan. Billy berbicara dari belakang kelas itu, bergema bunyinya, "Ya, Papa yang membantuku."

Lalu, Doris membuka telur keempat. Ia agak terperanjat, terkesima... Lho, kok kosong tak berisi... Wah, ini pastilah punya si Jeremy, dan sudah tentu, begitu pasti, pikirnya, ia tidak mengerti instruksi yang diberikan. Ah, seandainya ia tidak sampai lupa menilpon orang tuanya.

Tiba-tiba, Jeremy berbicara. "Bu Miller, kok ibu tidak bercerita mengenai telurku?"

Doris, yang jadi agak bingung, menjawab, "Tapi Jeremy, telurmu ini kan kosong?"

Ia memandang kedalam matanya dan perlahan sekali suaranya keluar, "Yah, tapi kubur Yesus kan juga kosong."

Waktu seakan berhenti. Ketika ia bisa ber-kata-kata lagi, Doris menanyainya, "Dan, tahukah kamu mengapa kuburan itu kok kosong?"

"Oh, iya, iya.." ujar Jeremy, "Yesus dibunuh dan ditaruh disitu, lalu Bapaknya membangkitkan Dia."

Bel istirahat berbunyi.

Sementara semua anak-anak berdesakan lari-lari keluar kehalaman, Doris menangis. Rasa dingin dalam hatinya mencair hilang seluruhnya..........

Tiga bulan kemudian, Jeremy meninggal. Mereka yang berbela sungkawa kerumah duka diherankan ketika melihat 19 telur diatas peti matinya, semuanya kosong. "