Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

26 September 2008

Air Mata Ibu

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya.

“Ibu, mengapa Ibu menangis?”

Ibunya menjawab, “Sebab, aku wanita.”

“Aku tak mengerti,” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.

“Nak, kamu memang tak akan mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya.

“Ayah, mengapa Ibu menangis?. Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"

Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.“ Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya, Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa. Wanita, kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya. Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankan tulang rusuk-lah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa, suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi. Dan, akhirnya, kuberikan ia airmata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata ini adalah airmata kehidupan.”

Mengasihi Tuhan Yesus

Kalau mendengar kata pelayanan anak jalanan/kampung kumuh, banyak teman yang langsung berasumsi bahwa dalam pelayanan tersebut kita akan berinteraksi dengan anak-anak yang kasar, yang tidak tahu aturan, yang dekil, kumuh, dan sebagainya dan harga yang harus dibayar "sangatlah besar" sehingga sampai saat ini, sepertinya anak-anak muda dan orang-orang yang terbeban terjun langsung dalam pelayanan ini tidak bisa terbilang banyak apabila dibandingkan pelayanan MC/WL (Worship Leader) di gereja, pelayanan sebagai pemusik, sebagai pengurus, majelis, dan lain-lain. Apakah pendapat tersebut benar? Menurut pengalaman saya pribadi, sejujurnya jawabannya tidak. Bahkan apabila disebut pelayanan, seringkali saya pribadi merasa malu, karena setelah sekian waktu lewat, saya pribadi lebih merasa 'dilayani' daripada saya yang 'melayani' jadi sebenarnya siapa yang melayani siapa?

Karena sebagai contoh, apakah saudara pernah merasakan ketika sedang penat oleh masalah kerjaan, penat oleh berbagai macam hal, dan ketika saudara datang dengan segala beban itu, tahu-tahu dari berbagai arah berlarian banyak anak-anak sambil berteriak-teriak "kakak datang, kakak datang!" Kemudian mereka langsung berlarian mendekati saudara untuk memeluk maupun untuk menggandeng tangan saudara. Dan sungguh saya katakan, segenap beban yang saya alami dalam sekejap langsung hilang dan digantikan dengan sukacita!

Jujur saudara, selama pelayanan ini ada banyak hal yang sangatlah amat berkesan dalam hidup saya, bagaimana Tuhan mengajar saya melalui mereka, dan berikut ini saya mau membagikan salah satunya.

Dwi (anak jalanan di grogol)

Dwi adalah salah satu anak bimbingan belajar saya ketika saya masih pelayanan di kolong grogol setiap hari minggu. Nah, pada satu waktu, ketika setelah waktu belajar selesai, saya melihat dia sedang duduk, di tangannya terdapat sepotong timun sayur (timun yang biasa dijadikan lalap) dan dia sedang asik makan timun tersebut (Saudara pernah makan timun sayur mentah dengan kulit2nya? =p)

Kemudian dengan bercanda saya memanggil dia, "Dwi, sedang makan apa? Wah, sombong ya, makan sendiri nih ceritanya, kakak-kakaknya tidak ditawarin.." Si Dwi cuma cengengesan saja, lalu saya kembali sibuk membantu mengajar anak-anak yang belum menyelesaikan pelajarannya.

Tetapi selang beberapa waktu kemudian, tahu-tahu saya dicolek dari belakang, dan ternyata kali ini di tangannya si Dwi membawa 2 buah timun sayur, kemudian sambil menyerahkan salah satunya dia berkata "Ini buat kakak". Saya sedikit kaget, dan saya tanya, "Dwi, kamu beli timun ini di mana?"

Dengan santainya dia menjawab, "Di tukang sayur belakang terminal grogol kak."

Saat itu saya cukup shock karena ternyata demi membelikan saya sebuah timun sayur, anak kecil tersebut berjalan kurang lebih 2 km bolak balik dr kolong grogol ke tukang sayur di belakang terminal, hanya untuk memberikan saya sebuah timun!

Lalu saya tanya kembali, "Dwi, kamu belum makan siang ya?"

Jawabnya, "Belum kak"

Lalu saya katakan, "Dwi, kita ke Citraland aja yuk, kita makan di sana, Dwi mau kan makan Mc Donald?"

Dia menggelengkan kepalanya, "Gak mau kak"

Saya tetap bersikeras mengajak dia makan, dan sejujurnya saya sudah bertekad apapun yang dia mau makan, mau Mc Donald sampai Sizzler saya rela tukar sama timun sayur tersebut, tetapi dia tetap tidak mau dan dia berkata, "Udah kak, Dwi pokoknya gak mau makan di Citraland, Dwi maunya duduk di sini saja sambil ngobrol sama kakak".

Saat itu saya pribadi merasa sangat tersanjung dan terharu saudara, karena anak ini tidak melihat saya sebagai, "Kakak berduit yang bisa memberikan Mc Donald", tetapi dia tidak perduli dengan Mc Donald maupun segala macam makanan mahal yang bisa saya belikan, tetapi dia tukar semua hal tersebut dengan duduk-duduk di kolong sambil ngobrol bersama saya.

Entah kenapa sepertinya saya merasa Tuhan sedang mengajar saya suatu hal, Tuhan adalah Allah yang penuh kasih, dan dia adalah Tuhan yang sanggup memberikan apa saja kepada kita, dan dalam kejadian tersebut seakan-akan Tuhan menunjukkan, "Carlo, begini lho perasaan kalau seseorang mengasihi engkau BUKAN karena apa yang engkau bisa berikan padanya, BUKAN karena apa yang kau miliki, tetapi sungguh2 mengasihi engkau sebagai satu pribadi"

Karena kejadian tersebut, si Dwi menjadi salah satu anak kesayangan saya di grogol, bahkan sampai sekarang =). Dan dalam kejadian tadi saya menjadi mengerti tentang arti sebuah persembahan, karena walau hanya dengan sebuah timun yang seharga lima ratus rupiah, apabila diberikan dengan hati yang tulus, timun itu lebih berharga daripada Mc Donalds, Sizzler maupun makanan2 yang teramat sangat mahal!

Saudara ingin menjadi anak kesayangannya Tuhan? Persembahkanlah apapun dari yang engkau miliki dengan tulus, bukan karena Kristus adalah Tuhan yang sanggup memberkati engkau berlipat-lipat kali dari persembahanmu, Tuhan yang sanggup mengangkat sakit penyakitmu dan memulihkan keluargamu, tapi cukup berikan persembahanmu dengan tulus kepada Tuhan karena engkau mengasihi Dia, walau persembahanmu itu tidak akan pernah kembali seumur hidupmu, walau sakit penyakitmu tidak kunjung sembuh, walau keluargamu tidak kunjung dipulihkan.

Saat itu tanpa ia sadari, Dwi telah mengajar saya tentang hubungan dengan Tuhan, tentang bagaimana kita harus mengasihi Tuhan bukan karena Ia adalah Tuhan yang kaya, Tuhan yang bisa melakukan hal-hal yang mustahil, dan seterusnya, tetapi kita harus mengasihi Tuhan karena Ia adalah Tuhan! Titik.

Regards, Carlo

Sumber : Cerita Kristen

Ternyata Tuhan Suka Bercanda

Sosok Didik Nini Thowok adalah sosok yang lekat dengan tarian humoris.

Membawakan karakter perempuan dan gerak-gerak tarian yang " diplesetkan"

Didik selalu berhasil membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal.

Setelah puluhan tahun belajar seni tari dari berbagai daerah, antara lain Jawa, Sunda, Bali, dan Jepang, kini Didik berhasil memadukan semua gaya itu menjadi tarian dengan gayanya sendiri yang khas dan humoris. Dengan kemampuannya itu Didik meraih sukses sebagai penari yang melintas batas budaya dan negara.

Penampilannya yang selalu mengundang kegembiraan itu tidak hanya dapat dinikmati di atas panggung tapi juga dalam hidup kesehariannya. Tawa renyah yang selalu dihadirkannya seolah membuat orang tidak percaya bahwa iapun pernah menderita. Padahal sebenarnya kehidupan lelaki kelahiran Temanggung, 13 November 1954 itu tidak tergolong berkelimpahan.

Terlahir sebagai Kwee Tjoen Lian yang kemudian diganti menjadi Kwee Yoe An karena sakit-sakitan, ia sulung dari lima bersaudara pasangan Kwee Yoe Tiang dan Suminah. Keluarga besarnya hidup pas-pasan. Ayahnya pedagang kulit sapi dan kambing yang bangkrut dan kemudian menjadi supir truk. Ibunya membuka warung kelontong kecil-kecilan. Begitu seret rejeki keluarga ini sampai-sampai Didik kecil harus ikut bekerja membantu orang tuanya.

Meski dari segi materi tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan tetapi Didik kecil selalu berkelimpahan dengan kasih sayang. Dalam kesempitan materi, ia menikmati masa kecilnya dengan bekerja, belajar, dan menonton berbagai kesenian, ketoprak, ludruk, dan wayang yang akhirnya mengasah rasa seninya.

Di masa itu, Didik bukan hanya belajar bekerja keras tapi juga belajar bersabar. Sejak kecil ia memang suka membawakan tarian yang lemah gemulai seperti perempuan, karena itu ia diejek oleh orang-orang sekitarnya, " Kamu ini anak laki-laki apaan sih?  Kok menarinya seperti perempuan?". Setiap kali diejek, ia menjadi sangat sedih. Ia hanya bisa diam, tidak membalas dan tidak mengadu pada orang tuanya. Ia hanya berdoa sambil menangis, " Tuhan, aku marah tapi aku tidak akan membalasnya. Aku yakin Kamulah yang akan membalaskannya untukku." Setelah itu, iapun menjadi lega dan malah lebih semangat berlatih menari. Baru bertahun-tahun kemudian doanya itu terjawab.

Dari pengalaman hidup, perlahan-lahan iapun memahami bahwa semua hal yang membuatnya sedih, kemiskinan, dan penghinaan hanyalah cara Tuhan mengajaknya bercanda. Ia menjadi yakin Tuhan tidak akan membuatnya sengsara sehingga ia lebih tenang dan pasrah menghadapi berbagai persoalan. Pemahamannya ini merupakan buah pengasuhan orang tua dan kakek neneknya yang cukup disiplin. Pendidikan dan kasih sayang mereka menjadikannya pribadi yang setia dalam doa, tegar, suka bekerja keras, dan berperasaan halus.

Semasa kuliah di ASTI ( Akademi Seni Tari Indonesia ), ketika Didik mulai mendapat honor dari pertunjukan dan melatih menari, ia ingin sekali membeli sepeda motor supaya tidak kelelahan mengayuh sepedanya kesana kemari . Sejak itu ia betul-betul berhemat. Setelah uangnya terkumpul Rp 200.000, ia sangat gembira, motor yang diidamkan terbayang di depan mata. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Bergegas ia pulang ke Temanggung dan mendapati perut ibunya membesar karena kanker. Dengan uang Rp 200.000 itu, ia segera membawa ibunya keYogyakarta untuk dioperasi. Operasi itu berhasil baik dan ibunyapun sehat kembali. Didik sangat bahagia, tak secuilpun rasa kecewa menghinggapinya karena belum bisa mendapatkan sepeda motor. Bagi dia kesehatan dan kebahagiaan ibunya diatas segala harta yang bisa ia punya. Ia memahami, saat itu Tuhan memang hanya mencandainya karena selang beberapa tahun, Didik bukan hanya bisa membeli sepeda motor tapi bahkan mobil dan rumah.

Sedari kecil dengan berbagai cara Didik belajar bersyukur dan berdoa. Ia suka ikut kakeknya yang beragama Konghucu berdoa di kelenteng dan neneknya yang Kristen ke gereja. Kini ia adalah pengikut Kristen Protestan yang taat. Ia mengakui bahwa ia adalah laki-laki yang cengeng (mudah menangis) setiap kali berdoa. Sebenarnya ia ingin sekali rajin ke gereja tapi kesibukan yang sangat padat membuatnya sering tidak punya kesempatan untuk melaksanakannya setiap minggu. Untuk itu setiap ada kesempatan ia mengundang pendeta untuk mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Dalam persekutuan doa itulah ia selalu terharu dan menangis saat memberi kesaksian akan kebesaran Tuhan yang telah ia alami.

Salah satu kesaksiannya adalah tentang rahasia kesuksesannya. Dengan mantap ia mengatakan " Ora et Labora ", dalam segala kesibukan saya selalu berdoa, dimanapun. Setiap kali akan manggung, saya selalu menyediakan waktu untuk berkonsentrasi, kemudian berdoa Syahadat Para Rasul, Bapa Kami dan Salam Maria dari buku doa pemberian Suster Leonie, kakak angkat saya. Tak lupa saya juga selalu mohon restu pada semua guru-guru tari saya yang telah almarhum.

Selama bertahun-tahun Didik sungguh-sungguh merasakan bahwa doa adalah kekuatan di balik semua kesuksesannya. Keyakinan ini membuatnya tidak berani sombong." Saya mengakui, ketika menari seolah-olah ada kekuatan di luar diri yang ikut menggerakkan dan menghiasi tubuh saya. Saya yakin, kekuatan saya sendiri tidak akan mampu menyelenggarakannya tetapi kekuatan itulah yang menjadikan tarian yang saya bawakan terlihat begitu indah dan memberi kegembiraan bagi banyak orang".

Menurut pengakuannya sudah ada banyak orang yang mengamini hal itu. Mereka bilang, ketika menonton Didik menari, mereka melihat pancaran aura yang sama sekali lain dari kesehariannya. Misalnya, dalam suatu pertunjukan seorang ibu melihat ada burung merpati mengelilingi Didik menari. Setelah pertunjukan rampung, ia langsung menelepon Didik menyatakan kekagumannya, " Proficiat, Mas! Tarianmu benar-benar indah, apalagi ada burung merpatinya ". Kaget juga Didik menerima komentar itu karena sebenarnya ia sama sekali tidak menggunakan burung merpati dalam tariannya itu.

Dalam suatu perjalanan ke luar negeri, tas Didik yang berisi passport, uang, kamera, dan dokumen berharga lainnya ketinggalan di kereta api. Menurut staf KBRI yang dilaporinya tidak ada harapan tas akan kembali. Tentu saja Didik shock, tidak bisa makan dan tidur, tapi selang 2 hari setelah kejadian ia ditelepon oleh staf KBRI bahwa tasnya telah ditemukan. Ajaib juga, setelah diperiksa semua isinya utuh, ini pasti karena buku doa kumal pemberian Suster Leonie ada di dalamnya, Didik hanya bisa tertawa bahagia. Lagi-lagi Tuhan mengajaknya bercanda.

Dalam hidup Didik, ada begitu banyak mukjizat yang telah dibuat Tuhan. Dulu Didik masih berdebar-debar dan menangis sedih setiap kali menghadapi persoalan, tapi kini ia benar-benar tenang dan pasrah. Bagi Didik, Tuhan sering kali memberinya hadiah-hadiah yang tak terduga dan membuatnya bahagia. Pernah pada suatu tur kebudayaan di Eropa, karena perubahan jadwal yang tak terduga, ia tiba-tiba punya kesempatan berziarah ke Vatikan dan berdoa di Gereja St. Petrus dengan khusyuk, ia juga sempat ke Gunung Monserrat untuk mengunjungi Patung Bunda Maria Hitam.

Itulah Didik Nini Thowok yang kesuksesannya tak bisa dilepaskan dari ketekunannya berdoa. Semakin ia berdoa, semakin ia meyakini bahwa Tuhanlah satu-satunya kekuatan dalam hidupnya. Dengan demikian, ia tetap tidak sombong. Didik tetap hidup dengan sederhana di rumahnya yang sederhana di Jl. Jatimulyo, Yogyakarta, di pinggir sungai yang ditinggalinya sejak tahun 1980-an.

Kini, setelah semua cita-cita masa kecilnya terwujud, ia hanya ingin bersyukur dan bersyukur. Untuk itu ia berbagi kebahagiaan dengan mendirikan yayasan yang menyantuni biaya pendidikan 60 anak. Dan di usianya yang ke-50, kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia boleh mengasuh seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Aditya Awaras Hadiprayitno, setelah menantikan selama bertahun-tahun.

Menjadi saksi kebesaran Tuhan atas dirinya, ia hanya bisa berkata, " Saya percaya, kesuksesan dan kebahagiaan saya adalah jawaban Tuhan atas semua doa-doa saya. Bahkan sekarang tidak ada lagi yang bisa menghina saya karena menarikan tarian perempuan. Ya, Tuhan memang selalu menguji saya sampai batas waktu terakhir, sampai-sampai, setiap kali saya berdoa, saya tidak tahu lagi apakah saya harus menangis atau tertawa. Memang, Tuhan itu suka bercanda." 

Siapa Yang Tahu?

".. betapa karyanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya.." - Efesus 1:18-19

Waktu kita berpacaran, kita belum mengenal pasangan kita sepenuhnya. Baik itu karakternya, kesukaannya, kelemahan dan kelebihannya. Bahkan juga isi dompetnya. Kadang kita bisa tertipu oleh penampilan seseorang. Ada yang penampilannya keren, baju dan sepatunya bagus, rumah dan mobilnya juga bagus. Tapi siapa yang tahu sebenarnya kalau orang tersebut lagi 'garing' alias banyak hutangnya. Namun juga jangan salah menilai orang. Ada yang kelihatannya sederhana, penampilan apa adanya, tapi dompetnya 'tebal'. Siapa yang tahu?

Jika kita sudah menikah, baru kita tahu keadaan yang sebenarnya. Rumah tangga yang benar ada keterbukaan tentang keuangan antara suami dan isteri. Sehingga tidak akan ada penyelewengan atau masalah dalam rumah tangga tersebut. Betapa senangnya kalau kita punya pasangan hidup yang kaya-raya dan punya kedudukan semuanya beres.

Dalam Efesus 1:15-23, kita bisa melihat bagaimana rasul Paulus mengenal mempelainya dengan pasti, yaitu Kristus. Mata hatinya sudah dibukakan dengan begitu jelas tentang pengharapan yang benar kepada Kristus. Ia memiliki pengertian hikmat dan wahyu tentang mempelainya. Bahkan dikatakan Paulus, betapa hebat kuasa-Nya, yang jauh lebih tinggi dari segala pemerintah atau penguasa dan kerajaan yang ada di dunia ini. Tidak ada yang kaya dan hebat seperti Dia. Itulah mempelai Paulus dan juga kita Gereja-Nya.

Rasul Paulus berdoa untuk jemaat Efesus supaya bisa mengenal dan tahu dengan pasti siapa Kristus. Demikian juga kita, mari kita terus berdoa dan merenungkan perkataan-Nya supata kita bisa semakin mengenal Dia, mempelai kita. Dengen mengenal Dia pastikan hidup kita tidak akan mengalami kekuatiran, karena kita tahu siapa Dia yang sebenarnya. (AT)

SERAHKANLAH KUATIRMU KEPADA TUHAN, MAKA IA AKAN MEMELIHARA ENGKAU! - MAZMUR 55:23

Sumber : Roti Surgawi edisi September 2008