Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 January 2009

Manajemen Stres

Matius 6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 28; Matius 28; Keluaran 5-6

Seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen stres. Dia mengangkat segelas air dan bertanya kepada mahasiswanya, "Seberapa berat Anda kira segelas air ini?" Para mahasiswa pun menjawab beragam, ada yang 20 gram sampai 500 gram. Sang dosen menjawabnya, "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya. Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama satu hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, bebannya akan semakin berat. Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi."

Seringkali tanpa disengaja kita membawa beban hidup kita terus-menerus. Akibatnya, setiap hari kita cenderung merasa susah, kuatir, bahkan stres karena beban-beban itu rasanya menekan kita. Beban itu pun akan semakin berat karena kita cenderung mengkuatirkan hari-hari esok. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak menanggung kesusahan hari esok, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Bahkan Tuhan sendiri meminta kita untuk menyerahkan segala beban yang kita tanggung kepada-Nya.

Cara memecahkan masalah adalah bukan dengan mempersoalkannya, tetapi bagaimana menyelesaikannya.

Jawaban.com

Tindakan Ikut Menentukan Hasil

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa ternyata, pada umumnya manusia melakukan tindakan yang sama seperti yang dilakukannya dihari-hari sebelumnya. Dengan kata lain kita melakukan aktivitas yang itu-itu saja dari hari ke hari. Itulah sebabnya, kita selalu dapat memperkirakan apa yang akan kita hasilkan dihari itu. Karena, kita tahu bahwa sebuah tindakan ikut menentukan hasil yang kita dapatkan.

Setiap hari kita bertanya; mengapa hidupku tidak kunjung mengalami perbaikan? Padahal, kita menjalani hidup dengan cara yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Suatu ketika, saya memasuki sebuah bangunan dimana dinding di keempat sisinya didominasi oleh kaca transaparan. Begitu bersihnya kaca-kaca itu, sehingga kita bisa melihat keluar dengan jelas. Selain saya, didalam ruangan itu terdapat seekor burung liar. Ketika saya masuk, dia terlihat panik dan berusaha menjauh. Namun ketika hendak terbang keluar, dia menabrak kaca hingga nyaris terhempas. Dia mencoba lagi, dan menabrak kaca lagi. Sampai berkali-kali. Meski ingin menolongnya, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa.

"Hey, pintunya ada disamping kiri...." saya berkata, meski tahu bahwa dia tidak akan mengerti. Suatu ketika, burung itu kelelahan. Dia tidak terbang dan menabrak kaca lagi. Kali ini dia diam saja. Kepalanya yang mungil mendengak-dengok ke kiri dan ke kanan. Seolah dia mencari tahu; benda apa yang tadi ditabraknya? Saya tidak tahu, apakah burung kecil itu sudah menyadari keberadaan kaca itu atau tidak. Tetapi, sekarang dia tidak mau terbang lagi. Dia memilih untuk menclak-menclok diantara kusen-kusen kayu dipinggir bangunan. Saya mengira dia kapok terbang. Sehingga bertambahlah rasa kasihan saya. Seandainya saja bisa menangkapnya, saya akan membawanya keluar dari sana.

Tetapi, ternyata semua dugaan saya salah. Setelah beberapa kali menclak menclok, burung itu kemudian masuk kedalam lubang angin yang sempit. Lalu dia menelusuri lorong gelap itu. Dan akhirnya sampai disisi lain dinding bangunan. Sekarang dia sudah sampai kealam luas tanpa batas. Lalu terbang dengan teramat bebas!

Saya tertegun. Lantas berucap terimakasih kepada sang burung. Dia telah mengingatkan saya tentang apa yang selama ini saya lakukan setiap hari. Setelah selama bertahun-tahun saya melakukan tindakan yang sama, mestinya saya tahu bahwa hasilnya pasti akan sama. Tetapi, kadang pikiran ini tertimbun kepicikan sehingga menjadi begitu dangkal. Sehingga, meskipun tahu bahwa tindakan yang saya ulang-ulang itu hanya akan memberikan hasil yang sama, tetapi setiap akhir tahun saya suka bertanya; mengapa tahun ini saya tidak mendapatkan peningkatan yang bermakna? Mengapa pencapaian saya tahun ini hanya begini-begini saja? Mengapa pendapatan saya tahun ini sama saja dengan tahun lalu? Dan sejuta tanya lainnya.

Tiba-tiba saja burung itu menyadarkan saya, bahwa untuk mendapatkan hasil yang berbeda; saya harus melakukan sesuatu yang berbeda. Bahkan burung itu rela menunjukkan bahwa terbang dan menabrak kaca hanya akan menjadikan jiwanya terancam. Dia mengulanginya lagi untuk menegaskan pelajaran itu. Pelajaran bahwa; jika kita melakukannya lagi, maka kita akan mendapatkan hasil seperti sebelumnya lagi.

Sekarang burung kecil itu menunjukkan kepada saya tindakan yang berbeda sama sekali. Meski dia punya sayap, dia tidak tergoda untuk kembali mengepak terbang. Kali ini dia menclak-menclok dengan kaki-kaki mungilnya. Lalu menelusuri lubang angin itu. Dan. Seperti yang saya saksikan; dia mendapatkan hasil yang berbeda. Dia berhasil mendapatkan apa yang diharapkannya.

Sekarang, saya mengerti; mengapa hasil yang kita dapatkan dari tahun ke tahun sama saja. Karena, kita tidak mengubah apapaun dari perilaku kita. Karena, kita tidak mengubah apapaun dari cara pandang kita. Karena kita tidak melakukan sesuatu yang berbeda dalam hidup kita. Sang burung kecil berkata; "Kalau kamu ingin mendapatkan hasil yang berbeda, maka kamu harus melakukannya dengan cara yang berbeda."

Ubahlah sesuatu, maka hasilnya akan berubah pula. Bagaimana seandainya kita bersikukuh untuk tidak melakukan perubahan? Silakan saja. Bukankah hidup ini merupakan sederetan pilihan? Kita semua berhak untuk bersikukuh pada jalan mana yang kita tempuh. Kita semua berhak untuk tetap berdiri pada cara kita sendiri. Pada sudut pandang kita sendiri. Dan kepada kebenaran diri kita sendiri. Namun, jangan lupa akan konsekuensinya. Sehingga, kita tidak akan pernah mengeluhkan hasilnya. Jadi, jika kita tidak mau berubah; maka sebaiknya kita tidak menuntut perbaikan hasil. Kenapa? Karena hasil yang lebih baik hanya akan kita dapatkan jika kita bersedia melakukan perubahan. Jika tidak? Maka kita hanya akan mendapatkan yang itu-itu saja.