Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

11 September 2009

Kisah Seorang Pendeta Di India

Ada seorang pendeta yang bernama Paul. Ia bertempat tinggal di sebuah kota besar di India. Ia seorang Baptis yang ditugaskan untuk memimpin sebuah jemaat di kota itu. Ia sering mengunjungi desa-desa di sekitar kota itu untuk mengabarkan Injil sehingga banyak jiwa percaya kepada Yesus dan diselamatkan. Orang-orang Hindhu yang fanatik tidak suka bahwa banyak orang India menjadi orang Kristen. Pada suatu hari, beberapa orang Hindhu yang fanatik menyerbu masuk gereja dimana sedang diadakan kebaktian. Mereka menyeret pendeta Paul keluar gereja dan memukulinya secara bertubi-tubi. Mereka mengatakan, agar ia tidak mengabarkan Injil lagi. Jemaatnya membawanya ke rumah sakit dan ketika ia boleh pulang dari rumah sakit itu, ia kembali ke gerejanya untuk berkhotbah lagi di depan jemaatnya.

Sekali lagi orang-orang Hindhu yang fanatik itu mengancam agar ia berhenti mengabarkan Injil, namun pendeta itu tetap mengabarkan Kabar Kesukaan. Akibatnya adalah bahwa mereka menghajarnya kembali sehingga seorang dari jemaatnya membewanya ke rumah sakit. Setelah sembuh dari luka-lukanya, ia kembali memimpin jemaatnya dan meneruskan pekerjaannya sebagai hamba Tuhan yang setia.

Karena ia tetap tidak mau menurut, maka kali ini mereka membawa puteri sang pendeta dihadapannya dan mengatakan akan membakar puterinya jika ia tetap tidak berhenti berkotbah. Ketika pendeta itu tetap tidak mau berhenti mengabarkan Injil, mereka mengguyur puterinya dengan bensin dan membakar tubuh anak perempuan itu. Ketika api sedang membakar tubuhnya, puterinya berseru, “Pap, janganlah berhenti mengabarkan Injil. Kabarkanlah, kabarkanlah Injil!!” Kemudian ia meninggal di depan ayahnya.

Lagi pendeta Paul mengabarkan Injil. Kali ini, orang-orang India yang fanatik itu manghajar hamba Tuhan yang setia secara habis-habisan. Mereka mengambil batu yang besar dan dengan batu itu mereka menghantam perut pendeta Paul dengan sekuat tenaga. Akibatnya, dubur pendeta itu hancur dan ususnya keluar melalui dinding perutnya yang jebol. Para anggota jemaatnya membawanya ke rumah sakit dan mereka mengira ia tidak ada harapan untuk hidup. Namun, ia tidak mati. Hanya sekarang ia harus mengenakan sebuah colostomy di perutnya karena duburnya yang hancur.

Sampai saat ini, pendeta Paul masih tetap mengabarkan Injil walaupun harus membawa colostomynya kemana dia pergi. Kesaksian ini dikisahkan oleh bruder Andy Leper yang bertemu dan berbicara dengan pendeta Paul bulan lalu. Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubungi melalui email addressnya: peacefreek@aol.com

Membalikkan Keadaan

Rabu, 9 September 2009
“Membalikkan Keadaan”

Pdt. Petrus Agung Purnomo

Bahan Renungan : II Raja 4 : 1 – 7

Menurut tradisi orang yahudi, para Rabi mempunyai kesepakatan tentang seorang janda yang ditolong oleh Elisa, janda itu adalah jandanya obaja. Kalau kita melihat dalam I Raja 18 : 1 – 4; Obaja adalah seorang pegawai raja Ahab yang takut akan Allah, obaja memelihara 100 nabi ketika Izebel istri Ahab memberikan perintah untuk membunuh semua Nabi yang ada di Israel. Obaja ini memelihara seratus nabi dengan membagi dua kelompok, masing-masing kelompok berisi 50 orang. Obaja banyak mengeluarkan biaya untuk memelihara kehidupan para nabi itu selama 3 tahun, sehingga obaja mempunyai banyak hutang. Orang yang memelihara nabi akan menerima upah nabi juga. Ketika obaja meninggal anak dan istrinya harus menanggung hutang obaja, namun cerita itu tidak selesai sampai disitu. Tuhan menolong janda dari obaja beserta dengan anak-anaknya. Tuhan menolong mereka dengan luar biasa. Janda Obaja tidak menanggung hutang.

Pesan ke dua yang Tuhan mau katakan adalah : Pinjam bejana-bejana dan jangan terlalu sedikit. Tuhan mengatakan seberapa besar akan terjadi pembalikan keadaan adalah tergantung seberapa besar bejana atau tempayanmu. Pembalikkan keadaan tergantung dari seberapa rakus dan tamaknya engkau akan kelaparan akan kebenaran firman Allah. Kenapa saya memakai kata tamak dan rakus? Karena saya melihat kalau orang hanya merasa laparnya sedikit maka respon kepada Tuhannya juga sedikit atau kecil, jika kita mempunyai rasa tamak dan rakus akan kebenaran Tuhan maka akan terjadi pembalikkan keadaan menurut rasa rakus dan tamak akan kebenaran akan Allah. Pembalikkan keadaan terjadi sesuai dengan respon dan reaksi kita akan rakus dan lapar akan kebenaran Tuhan atau hal-hal dari Tuhan. Jika kita hanya sedikit lapar maka respon kita akan kecil, pelan dan lambat hal ini menunjukkan daya tampung yang sedikit.

Pesan Profetik :
Musim dingin telah berakhir bagi umat Allah di kota cirebon, musim semi telah tiba atas umat Allah di kota Cirebon. Musim semi akan memunculkan bunga-bunga yang indah dan menghasilkan buah-buahan. Cirebon tidak akan sama lagi, akan terjadi pembalikkan keadaan, melalui jemaat ini Tuhan akan munculkan pengajaran-pengajaran yang dari Tuhan dan akan memberkati bangsa ini. Jemaat Cirebon akan menjadi berkat bagi bangsa Indonesia.