Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

29 July 2008

Tirai Panggung Yang Tidak Akan Tertutup

Sampai sekarang, saya masih ingat bagaimana saya berkenalan dengan Chang Yi Hsiung.

Pada suatu hari, saya menyetir mobil melewati Kwang Fu Road, Sin Chu, tiba2 melihat seorang nenek yang usianya sangat tinggi jatuh dijalanan dan tidak bisa berdiri kembali. Saya hentikan mobil untuk menolongnya, kebetulan juga ada seorang pemuda yang mengendarai sepeda motor ikut berhenti membantu saya. Kami berdua bersama2 mengangkat nenek tersebut. Ke dalam mobil saya, saya minta pemuda itu ikut bantu menjagai nenek tersebut dan tanpa ragu2 ia mengatakan ya. Pemuda tersebut adalah Chang Yi Hsiung.

Kami lalu mengatarkan nenek ini ke rumah sakit yg terdekat. Dalam perjalanan, dari kaca spion, terlihat oleh saya wajah Chang sinar yang sangat lembut, dengan sangat hati2 ia memegang nenek itu agar dapat menyandarkan dirinya dipundaknya, sementara tangan nenek juga dipegangnya seolah2 untuk menenangkannya. Walau tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya Chang, tetapi dari tingkah laku ketahuan bahwa dia sedang menenangkan dan menghibur hati nenek itu.

Sampai di rumah sakit, nenek tersebut diperiksa dokter, untung tidak ada masalah serius, hanya karena usia tinggi saja dia tak berdaya. Maka saya telepon ke pos polisi terdekat untuk memberitahukan kejadian tersebut. Kebetulan sekali, anak dari nenek ini sedang mencari ibunya melalui pos polisi juga. Segera dia datang ke rumah sakit, saya dapat melihat yang namanya anak ini, sudah berusia sekitar tujuh puluhan, jadi nenek itu sudah berumur sekitar sembilan puluhan.

Pada saat saya sedang telepon, sejengkalpun Chang tidak meninggalkan nenek itu, satu tangannya masih memegang tangan nenek erat2, satu tangan lagi dengan ringan menepuk punggung nenek, sedangkan mulut nenek komat kamit entah berbicara apa tidak ada yang tahu, dengan tatapan mata berharap kepada Chang, dan Chang juga balik menatap nenek dengan lembut.

Setelah anak nenek bertemu dengan ibunya, kamipun meninggalkan rumah sakit. Saya antar Chang kembali ke Kwang Fu Road untuk mengambil sepeda motornya, dalam perjalanan, saya tidak dapat tahan ingin tahu apakah Chang adalah seorang imam gereja, karena begitu lembutnya, begitu sabarnya dia, sikap yg begini jarang sekali terlihat pada diri orang muda biasa.

Chang sangat senang mendengar ungkapan saya, dia bilang dia bukanlah seorang imam, tetapi adalah murid dari akademi kesenian bagian drama, dia bilang bahwa dia sebenarnya sedang coba memerankan sesuatu, karena kebetulan dalam waktu dekat dia akan naik panggung memerankan seorang pastor. Oleh karena itu, begitu dia naik mobil, dia sudah mulai berperan, dia tanya kepada saya, bagaimana permainannya, saya jawab bahwa saya sama sekali tidak tahu dia itu sedang bermain sandiwara. Chang lalu berkata, sebenarnya walaupun semulanya dia mempraktekkan peranannya, akan tetapi sesampai dirumah sakit sudah tidak demikian. Artinya, kepercayaan dan kebergantungan si nenek terhadap dia membuat dia tidak bisa lagi bermain sandiwara. Chang berkata bahwa saat2 dirumah sakit tadi itu memberikan dia suatu pengalaman baru, dan juga akan merupakan satu kenangan yang indah bagi dia dikemudian hari.

Chang adalah orang muda yg riang, banyak berbicara, dari situ saya tahu bahwa bapaknya adalah profesor fakultas mass media dari universitas Ching Hwa. Rupanya bapaknya adalah teman saya juga, begitulah kecilnya dunia ini. Setelah peristiwa tersebut., saya sempat menyaksikan beberapa pertunjukan Chang di panggung, sebagai orang yang tidak mendalami dibidang tsb., saya tidak dapat mengeritik apakah Chang itu seorang pemain drama / sandiwara yang baik atau bukan, akan tetapi saya rasa, apapun yang diperankannya, selalu mirip sekali dengan peranan itu. Bapaknya Chang memberitahukan saya bahwa anaknya itu serius sekali dalam mengerjakan tugasnya, sebelum berperan sebagai seorang pastor, dia mencari seorang pastor dan minta untuk tinggal bersamanya selama 2 minggu, juga pada kesempatan itu belajar agama.

Sekali waktu dia memeran kuli bangunan jalan, betul2 dia melakukan kerja kasar selama seminggu. Tentulah dia sangat bagus dalam setiap peranannya. Tapi hal yang kemudian mengejutkan saya adalah, Chang mengatakan dia akan menjadi pastor, begitu riang dan lincahnya orang muda ini, mengambil keputusan untuk menjadi pastor, tentunya sangat mengherankan. Setelah saya tahu dari bapaknya, bahwa karena mau memerankan pastor, dia lalu berkenalan dengan seorang pastor, selanjutnya menjadi seorang umat katolik, dan terakhir ingin menjadi pastor. Kata bapaknya, sebenarnya tidaklah mengherankan, karena dibelakang sikap Chang yang lincah itu, sesungguhnya dia adalah seorang pemuda yang sangat serius dalam kehidupan sehari2nya.

Beberapa tahun kemudian, saya diundang untuk menghadiri pentabisan Chang sebagai seorang gembala gereja, upacara berlangsung sangat takjub, satu saat Chang menerungkupkan dirinya total dilantai, waktu itu saya berpikir dalam hati. Chang, Chang, jangan2 apakah ini sandiwara saja?! Saya tahu Chang memulai tugasnya melayani mahasiswa/i, dia pintar nyanyi, main gitar, dengan gampang bergaul baik dengan para mahasiswa. Setahun kemudian, tiba2 dia bilang mau membawa terang dan hangat dari Yesus ke sudut yang gelap, dengan persetujuan uskup, dia membawa injil kedalam penjara. Dia menulis surat ke saya, bahwa untuk memerankan seorang gembala yang baik disana adalah pekerjaan yg sangat sulit dan pahit.

Saya juga ada kontak dengan bapaknya Chang, dari dia saya tahu bahwa walaupun Chang sangat serius dalam melayani, akan tetapi kebanyakan narapidana bereaksi dingin terhadapnya. Sampai pada minggu lalu, saya membaca di koran, bagaimana pastor Chang disenangi oleh para narapidana di dalam penjara itu, bahwa sekarang mereka senang sekali menghadiri misanya. Saya berusaha untuk mengunjungi masuk kedalam penjara itu, maksud hanya satu, ingin tahu apa yg membuat pastor Chang sangat disenangi disitu.

Tiba saatnya saya sedang keliling melihat suasana dalam penjara itu, terlihat oleh saya seorang kacung sedang mencuci kakus, dia menegur saya, “Bukannya kamu profesor Li?”. Segera juga saya mengenalnya, dan seketika itu mulut saya terganga tidak dapat bersuara, rupanya pastor kita sedang mencuci kakus.

Kepala jawatan penjara membertahukan kepada saya, bahwa pastor Chang benar telah berubah menjadi kacung di dalam penjara. Dia mengerjakan apa saja, cuci kakus, menyapu, membersihkan jendela kaca, sampai tanam bunga dan potong rumput. Dia tinggal didalam penjara, makan bersama2 para pidana, karena dia adalah seorang imam, setiap hari mengadakan misa, lalu meluangkan waktu untuk mengajar, pada malam harinya memberitakan injil. Walaupun dia pastor, dia betul2 adalah kacung.

Pada saat saya pamit, Chang mengantar saya keluar, saya tanya mengapa kali ini kamu bisa sukses? Dia jawab, karena kali ini perannya adalah diri Yesus sendiri, dia berpikir lama, dan akhirnya sadar, bahwa kalau Yesus datang kedunia ini untuk mewartakan injil, Yesus pasti tidak akan berdiri diposisi tinggi mengabarkan warta gembiranya, pasti dia akan dengan sangat rendah hati memberi pelayanannya. Maka, dia memutuskan untuk menjadi seorang kacung yang memberikan pelayanan dari paling bawah, dan tinggal terus didalam penjara, walaupun ada pidana yg sudah meninggalkan tempat itu, dia sendiri masih tetap tinggal disitu. Pada malam tahun baru yang seharusnya pulang kerumah bapaknya, dia juga bersikeras untuk menemani yang masih dipenjara.

Saya lalu tanya, “Apakah kamu kali ini bersandiwara lagi?”

Jawabnya, “Boleh saja anda bilang begitu, akan tetapi peranan ini, tidak ada istilah diatas panggung, dibawah panggung, tidak ada juga istilah didepan panggung atau dibelakang panggung, jika mau mejalankan peranan ini, tirai panggung selamanya tidak akan ditutup.”

Sepanjang jalan kami menuju keluar penjara, dimana harus melewati beberapa pintu besi, sampai disatu pintu besi dimana narapidana tidak dapat melewatinya, Chang berhenti mengantarkan saya. Saya keluar, dia tinggal didalam. Dia melambaikan tangannya kepada saya dari dalam, sayapun mengerti akhirnya, apa artinya yang disebut “Tirai panggung yang selamanya tidak akan ditutup.”

Penulis: Prof Li Chia Thung
Publikasi: World Journal
Diterjemahkan oleh: Jennie Lo

Dan ketahuilah, AKU menyertai kamu senantiasa sampai kepada Akhir Zaman.

Your Tounge Can Be Your Worst Enemy!

Your words, your dreams, and your thoughts have power to create conditions in your life. What you speak about, you can bring about.

If you keep saying you can't stand your job, you might lose your job.
If you keep saying you can't stand your body, your body can become sick.
If you keep saying you can't stand your car, your car could be stolen or just stop operating.
If you keep saying you're broke, guess what? You'll always be broke.
If you keep saying you can't trust a man or trust a woman, you will always find someone in your life to hurt and betray you.
If you keep saying you can't find a job, you will remain unemployed.
If you keep saying you can't find someone to love you or believe in you, your very thought will attract more experiences to confirm your beliefs.
If you keep talking about a divorce or break up in a relationship, then you might end up with it.

Turn your thoughts and conversations around to be more positiveand power packed with faith, hope, love and action.

Don't be afraid to believe that you can have what you want and deserve.

Watch your Thoughts, they become words.
Watch your Words
, they become actions.
Watch your Actions
, they become habits.
Watch your Habits
, they become character.
Watch your Character
, for it becomes your Destiny.

The minute you settle for less than you deserve, you get even less than you settle for.

Thought I would share this with you.
In the search for Me, I discovered Truth.
In the search for Truth
, I discovered Love.
In the search for Love
, I discovered GOD.
And in God,
I have found Everything.

Be Blessed

Watch how your circumstances and situations begin to change when you change the way you speak.

Rasa Cinta

Nats : Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari (Mazmur 119:97)

Bacaan : Mazmur 119:97-105

Rasa cinta itu unik. Cinta membuat hati sepasang kekasih tak terpisahkan seperti magnet. Keduanya merasa ingin selalu dekat. Jika berpisah beberapa saat saja, rasa rindu segera menyerang. Siang dan malam, wajah sang kekasih selalu terbayang. Apa yang sang kekasih ucapkan selalu terngiang. Hati menjadi resah, sebelum tiba waktunya mereka berjumpa lagi.

Dalam Mazmur 119, Daud berbicara tentang cinta. Namun bukan cinta pada seseorang, melainkan cinta pada firman Tuhan. Di matanya, merenungkan dan mempraktikkan hukum Tuhan bukanlah sebuah beban, melainkan justru sebuah kesukaan. Hobi. "Betapa kucintai taurat-Mu!" katanya. Ibarat orang sedang jatuh cinta, Daud merenungkan firman itu siang dan malam. Apa yang membuatnya jatuh cinta pada firman Tuhan? Daud menemukan bahwa firman Tuhan itu begitu ampuh. Firman itu menjadikannya orang bijak yang disegani siapa pun (ayat 99-101). Firman itu memberinya janji yang manis dan menghibur saat susah (ayat 103). Firman itu menolongnya membenci apa yang Tuhan benci (ayat 104) dan mengarahkan masa depannya ke arah yang Tuhan mau (ayat 105). Bagi Daud, orang yang tidak hidup dekat dengan firman, mengalami kerugian besar!

Seberapa besar rasa cinta Anda pada firman Tuhan? Bagi Anda, apakah membaca Alkitab merupakan kesukaan atau beban? Pandanglah firman Tuhan sebagai e-mail harian penting dari Tuhan bagi Anda. Ada banyak janji, nasihat, petunjuk hikmat yang Tuhan ingin sampaikan kepada Anda setiap hari. Baca dan renungkan. Jangan dilewatkan, nanti kita yang rugi -JTI

ISI FIRMAN TUHAN BUKANLAH ATURAN YANG MENEKAN
MELAINKAN KABAR BAIK YANG MEMBEBASKAN

SABDA.org

Bebas Dari Tangan Lucifer

Nama saya Ludi Hasibuan. Melalui tulisan ini saya ingin bersaksi tentang pengalaman "pelepasan" yang dialami oleh saudaraku Ryan (17). Kisah ini diangkat berdasarkan kesaksian yang dialami, dirasakan, dilihat oleh Ryan. Semua ditulis berdasarkan cerita apa adanya. Tidak ada penambahan atau pengurangan.

Sabtu, 9 Januari 2004 saya bersama saudara-saudara berkumpul disebuah rumah dikawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur untuk melakukan kebaktian "pelepasan" (melepaskan seseorang dari belunggu kuasa kegelapan). Kebaktian ini dipimpin oleh Pendeta Joshua Tumakaka dari Gereja Tiberias Indonesia.

Kebaktian dimulai pukul 17.00 WIB dengan mengangkat puji-pujian kepada Tuhan Yesus. Setelah itu dilanjutkan dengan doa dan mendengarkan firman Tuhan. Pendeta Joshua Tumakaka, meminta Ryan untuk membaca firman Tuhan dari Yohanes 10:10. Awalnya Ryan ngedumel dan melontarkan makian kenapa dirinya yang disuruh membaca firman Tuhan. Kenapa tidak orang lain yang disuruh membaca? Setelah dibujuk, ia mau membacanya tapi ia tidak bisa membaca firman tersebut melalui Alkitab yang diberikan ibunya. Setelah memakai Alkitab dari pendeta Johua Tumakaka, ia baru bisa membacanya. Ketika pendeta menjelaskan keselamatan ada pada diri Yesus Kristus, Ryan memperlihatkan tingkah laku yang melecehkan dan menghina pendeta.

Pendeta Joshua Tumakaka meminta Ryan untuk membaca kembali firman Tuhan. Ryan dengan nada marah dan menghina pendeta menolak permintaan tersebut. Tapi setelah dibujuk untuk membaca kembali, ia pun mau tapi ini untuk yang terakhir kalinya.

Pendeta Joshua Tumakaka mengakui kalau Ryan berada dibawah pengaruh kuasa gelap. Ia harus diselamatkan tapi sebelum itu dilakukan ia ingin agar kedua orang tua Ryan terlebih dahulu melakukan pertobatan dan pelepasan. Saat itu juga berlangsung pelepasan dan pertobatan dari kedua orang tua Ryan dan adik-adiknya. Setelah itu baru dilakukan pelepasan terhadap Ryan.

Ketika pendeta mendoakan dan memberikan minyak urapan kepada diri Ryan, Ryan pun menjerit-jerit kesakitan, memberontak dan marah. Padahal saat itu kondisi Ryan dalam keadaan sakit. Kaki kirinya patah dan belum pulih tapi ia mempunyai kekuatan yang luar biasa. Ia bisa memberontak melawan 5 orang dewasa yang berbadan besar. Ryan berubah menjadi liar, sorot matanya merah dan melotot. Ia memandang orang sekitarnya dengan sorot mata mengancam. Ia pun mengeluarkan kata-kata cacian, makian dan mengancam untuk membunuh orang-orang yang ada disekitarnya.

Saat itu diri Ryan berada di dalam dua dimensi atau dua kepribadian. Dimensi pertama adalah Ryan yang berteriak minta tolong diselamatkan oleh Yesus Kristus. Dimensi kedua adalah Ryan yang berada dibawah kendali kuasa gelap (ditangan Lucifer).

Ketika Ryan ada dalam dimensi pertama, ia memberitahu pendeta bahwa disekitar itu ada "Lucifer". Ia mengatakan kalau "Lucifer" lah yang mengikat dirinya. Ia meminta tolong untuk diselamatkan.

Dalam dimensi kedua, Lucifer mengatakan kalau Ryan telah diangkat sebagai salah seorang panglima kuasa kegelapan. Ia telah menjadi salah satu orang kepercayaan "Lucifer". Tugas Ryan adalah menjadi pengatur (operator) program computer yang bisa membuat semua manusia patuh dan menurut. Ryan yang akan bertugas mengatur manusia dengan memakai symbol 666.

Kamipun berdoa dan mengangkat puji-pijian kepada Tuhan Yesus untuk membebaskan Ryan dari tangan Lucifer. Dalam kondisi dimensi kedua, Ryan mulai memaki, mencaci, menghina, meludahi pendeta, memukul dan menendang orang-orang yang mendoakannya. Ryan bahkan dengan angkuhnya duduk seperti seorang raja yang sombong dengan mulut yang menyeringai (mungkin ini yang dimaksud senyuman sombong si iblis) serta tangan seolah-olah memegang tongkat. Ia memerintahkan para legion (setan yang diusir Yesus Kristus masuk ke dalam tubuh babi) untuk membunuh kami. Ia juga memerintahkan "Balthazor" (salah satu setan lainnya) untuk membinasakan kami semua yang ada disana. Disamping itu ia pun menghina dengan kata-kata bahwa keselamatan hanya ada ditangan Lucifer. Yesus tidak menyelamatkan, Roh Kudus bohong belaka. Bahkan Lucifer mengatakan bahwa Yesus tidak berhak lagi atas hidup Ryan karena Ryan telah menjadi milik Lucifer.

Kami tidak memperdulikan ocehan itu. Kami semua berdoa dan memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan Yesus agar segera membebaskan Ryan dari Lucifer. Tiba-tiba Ryan memasuki dimensi pertama. Ia memberitahu pendeta dan semua orang yang ada disana bahwa dibelakang Lucifer terlihat ada cahaya putih terang penuh kemuliaan. Tuhan Yesus telah datang.

Tapi dalam sekejap Ryan masuk dalam dimensi kedua. Ryan yang berada ditangan Lucifer memaki Ryan yang memohon pertolongan Tuhan Yesus. "Untuk apa berteriak-teriak minta tolong dan memanggil Yesus. Ia tidak memiliki keselamatan!"

Kami lebih bersemangat lagi berdoa dan memanjatkan puji-pujian karena bala tentara surga sudah dekat untuk menolong dan menyelamatkan Ryan. Sementara Ryan dalam dimensi kedua bertambah marah, menghina, mencaci maki karena dirinya merasa semakin kepanasan.

Pendeta Joshua Tumakaka, mengajak seluruh orang yang ada diruangan ini untuk memasuki ruangan kudus karena akan diadakan perjamuan kudus. Yaitu untuk menerima tubuh dan darah Yesus Kristus. Kamipun berdoa dan menyanyikan pujian kepada Yesus Kristus. Ryan dalam dimensi pertama menerima perjamuan kudus berupa tubuh Yesus. Ketika ia memakan hosti, ia pun bergetar dan merasakan kesakitan yang luar biasa. Ryan berteriak kesakitan dan meronta-ronta. Saat hosti itu tertelan dalam mulutnya, Lucifer terpental dari dirinya. Ryan telah menjadi Ryan yang memohon perlindungan Tuhan Yesus. Ryan disuruh pendeta untuk mengaku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan meminta agar Tuhan Yesus menolong dirinya. Awalnya Ryan kesulitan tapi akhirnya ia bisa mengucapkan hal tersebut. Akibatnya Lucifer bertambah lemah dan kalah.

Tak lama kemudian Ryan berteriak, "Ada salib turun dari langit". Ia pun mengatakan kepada kami semua kalau "Lucifer, Legion dan Balthazor tengah berlarian karena diserang oleh malaikat dari surga". Ryan mengatakan kepada pendeta Joshua Tumakaka kalau dirinya melihat di sebelah kiri-kanan pendeta telah berdiri Malaikat Gabriel dan Malaikat Michael. Ia pun memberitahukan kalau dalam ruangan dan rumah ini telah dipenuhi oleh para malaikat untuk menjaga dan mengusir para setan.

Ketika akan memasuki tahap penerimaan darah Yesus dalam perjamuan ini, Ryan melihat ada darah tercurah dari langit. Saat itulah dirinya merasa terbebas seratus persen dari ikatan Lucifer. Ryan pun menangis tersedu-sedu bahkan ia meminta maaf kepada pendeta atas hinaan, cacian dan kata-kata kotor lainnya yang dilakukan oleh Lucifer. Ryan memberitahu kalau rumah ini telah dibentengi dengan kokoh. Di benteng itu terdapat pintu gerbang. Sekarang pintu gerbang itu terbuka dan masuklah dua merpati putih ke dalam rumah ini. Ryan juga memberitahukan kepada semua yang ada di dalam ruangan ini. Ia mendengar suara yang keras dan berdentam dengan wibawa. "Akan datang harinya dimana Aku akan menjemput umatKu."

Kami semua menangis penuh sukacita serta menaikkan ucapan syukur karena Ryan telah diselamatkan dan Tuhan Yesus telah memberitahu bahwa kedatanganNya yang ke dua kali sudah semakin dekat.

Ketika Ryan sadar kembali dalam kondisi normal, ia menceritakan awal mulanya ia terjerat oleh Lucifer. Beberapa tahun yang lalu sebelum tinggal di Jakarta ia berdomisili di Manado, Sulut. Suatu hari bersama ketiga temannya ia bermain perang-perangan disebuah bangunan tua. Ia melihat disekitar bangunan tersebut banyak mobil mewah yang sedang parkir. Hal ini membuat ia bersama temannya penasaran. Ada apa digedung tua itu? Merekapun mengintip. Ternyata disana sedang berlangsung sebuah upacara keagamaan, dimana semua orang memakai jubah hitam dengan tudung kepala. Di dalam gudang itu terdapat pentagram (symbol setan) dan ditengah ruangan itu terdapat upacara pemotongan bayi. Ternyata yang dilihat Ryan adalah sebuah upacara gereja setan. Ia melihat secara langsung sementara temannya lari dan yang satunya jatuh pingsan. Setelah kejadian tersebut dirinya mengalami sakit yang sangat parah. Ia nyaris meninggal dunia. Pada saat dalam kondisi kritis tersebut ia merasa didatangi oleh sesosok pria yang luar biasa gantengnya. Ia mengaku bernama Lucifer dan akan memberikan keselamatan pada Ryan jika ia mau menerimanya. Ryan yang saat itu berusia sekitar 12 tahun, mau menerimanya. Sejak saat itulah ia terikat oleh Lucifer.

Lucifer akan mengangkat Ryan sebagai salah satu panglimanya. Ryan diberi pengetahuan dan kepandaian mengenai computer. Ini terbukti dengan kemampuannya meng'hacker' (masuk ke situs pribadi secara ilegal) situs orang atau membobol pertahanan orang. Kemampuan Ryan dibidang komputer melebihi kemampuan yang dimiliki anak seusianya dibidang komputer. Selain itu Ryan akan menjadi pengatur/operator agar manusia menjadi penurut pada Lucifer dengan memakai symbol 666.

Ia diberitahu oleh Lucifer bahwa saatnya semakin dekat dan Ryan akan menjadi salah satu yang berkuasa didunia selama 3.5 tahun. Tetapi Ryan harus membunuh seseorang dengan panggilan Mongol. Mongol adalah salah seorang pengikut Lucifer yang telah berpaling. Ia kini menjadi pengikut setia Yesus Kristus.

Ketika Ryan diminta membaca Alkitab, ia melihat tulisan yang ada di Alkitab tersebut menjadi terbalik susunan katanya sehingga ia kesulitan membacanya. Setelah memegang Alkitab milik pendeta, ia baru bisa membacanya.

Ketika menyadari bahwa dirinya telah terikat oleh Lucifer, Ryan mencoba melakukan perlawanan. Ia melawan setiap kata Lucifer dengan kata-kata Tuhan Yesus Kristus. Tapi Lucifer pandai bersilat lidah. Ia memutar balikkan omongan dan fakta. Hal inilah yang membuat iman Ryan jadi bertambah lemah. Ia berhadapan dengan Lucifer si penghujat Tuhan. Iman Ryan yang masih berusia belasan tahun masih sangat lemah dan mudah terombang-ambing. Hal ini semakin memudahkan dirinya terjerat.

Sebelumnya bila berada dalam dimensi pertama, Ryan sering meminta bantuan kami untuk segera diadakan pelepasan sebab dirinya sudah tidak kuat lagi menanggung beban.

Dari pengalaman ini dapat ditarik kesimpulan : Ibilis/Lucifer tengah mempersiapkan diri menyongsong akhir jaman dimana manusia akan memakai tanda 666 melalui program komputer. Tuhan Yesus Kristus akan segera datang kembali ke dunia untuk yang ke dua kalinya karena akhir jaman sudah semakin dekat. Bertobatlah!

Oleh : Ludi Hasibuan

Rest for Your Soul

Today's Scripture

“Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest.” (Matthew 11:28).

Today's Word from Joel and Victoria

God wants to give you rest. He wants to refresh and restore your soul, which is your mind, will and emotions. It’s so easy to get caught up in the busyness of life, and before long, your mind, will and emotions are so “spun up” that you can barely think straight! But even among the hustle of life, you can find rest, ease and relaxation. God wants you to enjoy your life. That’s why He tells us to come to Him. When you understand that God wants to take care of everything that concerns you, you will be able to find rest. Imagine that someone came up to you today and said, “Give me all your monthly bills, I’m going to pay them.” You’d get pretty excited, wouldn’t you? But it wouldn’t happen until you did your part to give that person your bills. They couldn’t pay them for you if you never release them. In the same way, when we release our cares and concerns to God, He promises to take care of them. Choose today to release your cares to the Lord. As you do, you’ll find that rest that He promises, and you’ll live the abundant life He has for you!

A Prayer for Today

Father in heaven, today I humbly come to you. I choose to cast my cares on You so that I can live in Your rest. Thank You for Your goodness to me. Help me find ways to share Your goodness with those around me today. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries