Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

01 August 2008

FUN : MATHEMATICS

Jangan beritahu saya usia kamu; kamu mungkin bohong tapi pelayan restoranmu mungkin tahu! Perhitungan Umur Matematis Berdasarkan FREKUENSI ke Rumah Makan. Caranya cukup unik.

JANGAN CURANG!!

Hanya butuh waktu kurang dari semenit, sambil Anda baca ini. Pastikan jangan baca bagian bawah sampai Anda selesai mengerjakan ini. Pasti seru deh..

1. Pilih berapa kali seminggu Anda akan makan di luar rumah (lebih dari satu kali tapi kurang dari 10).
2. Kalikan 2 (supaya genap).
3. Tambah 5.
4. Kalikan dengan 50.
5. Kalau Anda sudah merayakan HUT Anda tahun ini, tambah 1758. Kalau belum, tambah 1757.
6. Sekarang dikurangi dengan 4 digit tahun kelahiran Anda.
7. Hasilnya harus angka 3 digit.

Digit pertama adalah angka awal yang Anda pilih (berapa kali Anda akan makan di luar rumah dalam seminggu)

2 angka berikutnya yaitu.... UMUR ANDA ............. (Oh YA, pasti)

Tahun ini adalah tahun di mana perhitungan ini berlaku (2008). Jadi sebarkan ke teman-teman Anda selagi masih berlaku.

Lectio Divina : Seni Mendengarkan Suara Tuhan

Apakah Anda pernah merasa sedang menjalani hari yang begitu buruk, tidak bersemangat dalam belajar maupun bekerja, dan penuh emosi? Lalu Anda menyadari bahwa semua itu terjadi karena Anda "bolos" berjumpa dengan Tuhan; belum doa pagi sebelum memulai seluruh aktivitas. Hal-hal tersebut akhirnya memunculkan rasa bersalah dalam diri kita.

Rasa bersalah akibat tidak setia datang dan berdoa kepada Tuhan memang perlu, tetapi rasa bersalah saja hanya akan membuat kita terjebak dalam hidup yang legalistik. Tuhan kita adalah Pribadi yang penuh belas kasihan dan anugerah. Karena itu, dengan kesadaran dan kerinduan kita perlu menyandarkan hidup kita pada tangan pemeliharaan-Nya, melakukan waktu teduh sebagai prioritas utama hari demi hari.

Orang kristiani perlu membangun keintiman dengan Tuhan supaya mampu memberi inspirasi, baik bagi diri sendiri maupun lingkungannya, bukan menjadi semikin tidak peka dan tumpul rohani. Orang kristiani perlu mengembangkan seni mendengarkan suara Tuhan dalam doa dan berdiam diri sehingga keintiman dengan Tuhan bisa terjaga. Salah satu metode mendengar suara Tuhan dalam doa dan berdiam diri adalah Lectio Divina.

Lection Divina merupakan disiplin rohani untuk mengasah dan menajamkan kepekaan dalam mendengar suara Tuhan. Disiplin ini bukan bertujuan membuat kita menjadi seperti biarawan atau biarawati; hidup terpisah dari dunia; mengasingkan diri dari budaya dan perkembangannya. Disiplin ini juga bertujuan agar kita mengerti bagaimana bersikap dan berinteraksi dengan dunia ini. Lectio Divina mengasah telinga kita untuk mendengar suara-Nya demi menjalani kehendak-Nya.

Lectio Divina berasal dari kata Yunani Lectio berarti "proses membaca" dan Divina berarti "spiritual". Jadi Lectio Divina adalah sebuah seni mendengarkan suara Tuhan melalui meditasi Firman. Disiplin rohani ini merujuk pada peristiwa Nabi Elia yang tidak merasakan kehadiran Tuhan lewat hal-hal spektakuler; Tuhan justru berbicara dengan begitu lembut lewat angin sepoi-sepoi kepada Elia (1 Raja-raja 19:12). Demikian pula melalui Lectio Divina, kita akan mendengar suara Tuhan dengan lembut dan jelas lewat meditasi Firman.

Lectio Divina adalah praktik spiritualitas kristiani yang diperkenalkan sejak tahun 220 Masehi oleh seorang bapa gereja bernama Origen. Ia adalah tabib Yahudi dan teolog dari Alexandria. Origen mengajarkan cara membaca Alkitab yang dapat memberikan manfaat maksimal bagi pengikut Kristus, yaitu membaca dengan penuh perhatian, konsistensi, dan doa. Sayangnya, setelah reformasi, gereja banyak membuang kekayaan spiritual ini. Kalangan Gereja Roma Katolik masih menjalankan tradisi ini sampai sekarang. Bahkan Paus Benedictus XVI berkata, "Saya ingin mengingat dan merekomendasikan tradisi spiritualitas kuno yang dikenal sebagai Lectio Divina : pembacaan Kitab Suci dengan rajin disertai doa yang intim untuk berdialog dengan Tuhan. Mendengar Tuhan berbicara lewat berdiam diri dan Firman-Nya. Merespons Tuhan dengan hati yang terbuka. Saya yakin bila disiplin rohani ini kembali dilaksanakan, musim semi hidup rohani akan terus terjadi". Kini, disiplin rohani ini perlahan-lahan kembali diperkenalkan di gereja-gereja Protestan.

Langkah Praktis dalam Lectio Divina :

  1. Silencio : proses menyiapkan diri untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan.
    • Carilah tempat yang tepat. Sesuaikan dengan kondisi rumah Anda. Intinya Anda bisa menenangkan diri.
    • Hindarilah kebisingan
    • Ambilan posisi duduk yang nyaman.
    • Berdiam dirilah dan miliki keyakinan akan kehadiran Tuhan.
  2. Lectio : proses membaca firman Tuhan
    • Tentukan ayat-ayat yang hendak Anda baca.
    • Jangan terlalu khawatir tentang berapa ayat atau pasal yang harus dibaca. Jangan pula merasa bersalah bila tidak dapat menyelesaikan bacaan.
    • Mulailah membaca bagian Alkitab dengan tempo yang lambat; lebih lambat dari biasanya
    • Baca beberapa kali bagian Alkitab tersebut.
  3. Meditatio : proses "mengunyah" isi firman Tuhan.
    • Cobalah untuk memahami bacaan Anda.
    • Fokuslah pada satu kata/frasa/kalimat dari sebuah ayat. Ayat mas yang terdapat di Renungan Harian dapa pula Anda pilih.
    • Hafalkan dan izinkan kata/frasa/kalimat tersebut berinteraksi dengan batin Anda.
    • Hubungkan ayat hafalan tersebut dengan konteks kehidupan Anda.
  4. Oratio : proses menanggapi firman Tuhan melalui dialog pribadi dengan Tuhan
    • Gunakan apa yang sudah Anda hafalkan dan berdialoglah dengan Tuhan.
    • Nyatakan perasaan dan isi hati Anda di hadapan-Nya : kesedihan, sukacita, kekaguman, kemarahan, sakit hati, kekecewaan, dan sebagainya.
    • Ingat, dialog adalah komunikasi dua arah. Jadi, Anda perlu berdiam diri dan sabar menanti Tuhan berbicara melalui perenungan firman.
  5. Contemplatio : proses meresapi kasih dan kebaikan Tuhan yang memberi rasa aman dan damai yang melampaui akal budi kita.
    • Berdiam dirilah
    • Nantikan Tuhan berbicara dan memberikan tekad dalam hati Anda. Jangan keraskan hati Anda ketika suara Tuhan terdengar dan memberikan sebuah tugas/panggilan pelayanan.
    • Apabila ada yang ingin Anda sampaikan kepada Tuhan, nyatakanlah. Gunakan kata-kata seperlunya. Bila tidak, kembali berdiam diri.
  6. Incarnatio : proses mengambil penerapan praktis.
    • Tuliskan tekad atau komitmen Anda di secarik kertas
    • Selanjutnya lakukan dengan setia

Disiplin ini memerlukan waktu yang panjang dan tak mudah bila Anda terlalu sibuk bekerja atau belajar. Namun jangan patah semangat, karena bila Anda sudah mengecap keuntungan dari Lectio Divina, kehidupan Anda akan mengalami transformasi yang luar biasa ajaib. Anda akan lebih peka pada suara Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Biarlah melalui pengenalan yang benar akan Dia, hidup kita mengalami transformasi, sehingga dimampukan untuk membawa terobosan rohani dimana pun kita ditempatkan.

Oleh : Budianto Lim

Sumber : Renungan Harian Edisi Agustus 2008

The Right Choice

Buku ini berisi kisah-kisah inspiratif yang mendorong Anda untuk mengambil keputusan positif dalam menghadapi segala kesulitan hidup.

Pernahkan Anda menghadapi situasi yang membuat Anda tertekan atau menghadapi dilema yang tidak kunjung selesai? Tentu saja pernah! Setiap hari kita dihadapkan pada kesulitan hidup.

Dalam buku ini, Kendra Smiley memaparkan pengalaman hidup para wanita yang senasib dengan kita. Kisah-kisah itu diramu dengan indah dan memberikan secercah harapan serta dorongan semangat. Anda akan tertawa dan menangis saat membaca kisah para wanita yang menolak membiarkan situasi menghancurkan sikap positif mereka. Berikut ini adalah salah satu kisahnya.

Sebelum menikah, saya sudah menjadi guru selama beberapa tahun. Pada satu tahun ajaran, saya menghadapi sekelompok siswa kelas 4 yang tidak begitu akur satu sama lain. Mereka menghormati saya dan menjadi pendengar yang baik, tetapi mereka selalu bertengkar.

Pada suatu hari, perselisihan mereka akhirnya membuat kesabaran saya habis. Saya sudah muak dengan sikap buruk mereka. Kurang lebih tiga menit sebelum istirahat, saya meminta para siswa untuk mengeluarkan sehelai kertas dan pensil.

"Tuliskan nama kalian di ujung atas kertas," saya memulai. "Pada baris berikutnya, ibu ingin kalian menuliskan nama orang yang paling tidak kalian inginkan menjadi teman sebangku kalian. Lalu lipas kertas kalian."

"Apakah kami hanya menuliskan satu nama?", banyak yang bertanya demikian.

"Bolehkan saya membuat sebuah daftar?", tanya seorang pemuda yang kelihatan tidak setuju.

"Satu nama saja," jawab saya dan berhenti sejenak hingga tugas itu diselesaikan oleh semua siswa. "Sekarang, beri nomor 1,2,3 pada kertas kalian dan tuliskan tiga kebaikan orang yang namanya kalian tuliskan di atas kertas. Tuliskan tiga hal yang patut dipuji dari orang tersebut."

Saya berkata, "Begitu selesai, kalian boleh keluar kelas untuk istirahat."

Mereka semua neyelesaikan tugas itu. Memang latihan kecil itu tidak langsung menimbulkan perubahan besar bagi kelas kami. Namun, mereka memperlakukan satu sama lain dengan lebih ramah untuk beberapa waktu. Hal itu menimbulkan perbedaan yang positif dalam sikap dan interaksi mereka. Memilih untuk memuji seseorang adalah pilihan yang baik, pilihan yang memberi kekuatan.

Memuji seseorang dengan jujur dan tulus menimbulkan konsekuensi yang menakjubkan. Memfokuskan perhatian pada seseorang, memuji orang lain, dapat menumbuhkan sikap yang positif. Dan itu merupakan suatu pilihan. Kita dapat memilih untuk memuji orang-orang dalam hidup kita atau tidak.

Sumber : The Right Choice, Kendra Smiley, Gloria Gaffa, 2008)

Suatu Pemberian Kepada Allah

“Karena apa yang dilakukan Kristus, kita menjadi suatu pemberian yang kepada Allah yang menyukakan hati-Nya”. - Efesus 1:11

Si Upik yang lincah yang baru berusia tiga tahun, selalu muncul di depan pintu setiap pagi bagaikan cahaya sinar matahari. Penuh dengan senyum, keceriaan wajah, dan nyanyian dia benar-benar cahaya yang menyinari kehidupan kami. Tatapan matanya yang sejuk dan derai tawanya yang merdu, memancarkan sukacita. Rambut ikalnya yang sedang bertumbuh dan sepasang matanya yang bercahaya dipagari bulu-bulu mata, sungguh merupakan pemandangan yang sempurna. Meskipun dia merasa bisa melakukan sesuatu sendiri, tanpa bantuan dan pertolongan kami, dia benar-benar menyukakan kami. Dia sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga kami dan melengkapi hari-hari kepedulian kami dengan kegembiraan.

Demikian juga Allah, Dia mengasihi dan hati-Nya suka terhadap kita anak-anak-Nya. Masing-masing kita dirancang oleh Allah, sebagai karya seni Allah, dan merupakan salah satu dari karya-karya asli-Nya. Dia memilih kita sebelum dunia dijadikan untuk dijadikan harta milik kepunyaan-Nya, yang selalu dekat di hati-Nya dan yang menyukakan hati-Nya.

Tanggapan awal saya akan kenyataan itu adalah, bagaimana aku dapat menyukakan hati Allah? Aku tahu, aku ini siapa dan seperti apa, dan saya tidak selalu menyungging senyum tulus di hadapan-Nya. Memang menyedihkan kami, ketika kami harus mendisiplinkan si Upik karena dia nakal dan agak bandel, tetapi dia bersedia dan mau untuk diajar dan belajar untuk taat. Kita dapat mencuri kesukaan Allah untuk sesaat jika kita memberontak, namun pada saat kita menanggapi dengan baik disiplin, hajaran dan didikan-Nya, hal itu sangat menyukakan hati-Nya.

Meskipun sangat jauh dari pemahaman kita untuk mengerti, kenyataan tetap kenyataan. Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kita ini adalah suatu pemberian kepada Allah yang menyukakan hati-Nya di dalam dan melalui penebusan Yesus Kristus.

Doa: “Tuhan, aku tidak mengerti bagaimana Engkau suka kepadaku, tetapi aku rindu untuk mendatangkan kesukaan bagi-Mu dengan menanggapi kasih-Mu itu sebaik-baiknya.”