Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 July 2010

Marah Itu Mudah

Banyak situasi dan kondisi saat ini yang bisa membuat orang untuk mudah marah. Mudah marah dengan kondisi jalanan yang macet, mudah marah dengan orang yang tidak kita senangi, mudah marah dengan situasi kerja yang tidak kondusif dan hal-hal lain yang mungkin bisa membuat emosi marah dalam diri kita mencuat keluar.

Satu baris kalimat yang ditulis oleh suami saya di dinding kamarnya, pada saat pertama kali saya menginjakkan kaki di rumahnya:

MARAH ITU MUDAH,
TAPI…..
MARAH PADA ORANG YANG TEPAT
PADA WAKTU YANG TEPAT
PADA TEMPAT YANG BENAR
DENGAN KADAR YANG SESUAI
TIDAK LAH MUDAH!

Untaian kalimat itulah yang senantiasa mengingatkan saya, bahwa banyak orang yang mengaku bijak dan merasa telah adil, merasa telah melakukan hal yang benar tidak mampu untuk berlaku bijak, adil dan sesuai dengan yang sebenarnya dalam bertutur kata dan bertingkah laku.

Emosi marah, sedih, senang yang dianugrahkan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita, adalah sesuatu yang berharga untuk kita. Namun bagaimana kita me-MANAGE emosi dalam diri kita menjadi sesuatu yang indah, yang proporsional dalam diri kita, melihat segala sesuatu secara OBJECTIF dan TIDAK SUBJECTIF.

Hidup ini belajar, dan karenanya saya harus banyak belajar dan belajar banyak dari hal-hal yang saya temui selama perjalanan hidup ini agar yang bisa bersikap objektif dengan segala sesuatu dan bisa me-manage emosi marah saya pada: orang, waktu, tempat yang tepat, dan kadar yang sesuai.

27 July 2010

Pecahnya Cangkang Telur

“Teng…teng…” bel tanda masuk berbunyi, Bu Heni dan bu Han memanggil anak-anak masuk ke dalam ruangan. Anak-anak pun segera berkumpul dan satu persatu duduk di karpet. Namun di ujung saung terlihat masih ada empat anak yang masih asyik bermain. Aisha dengan Nadwa yang sibuk dengan lomba larinya, Rian yang masih asyik bermain dengan boneka naruto yang baru dibelinya, dan Raihan yang sedang asyik memberi makan kelinci di halaman.

Bu Han pun segera memanggil Aisha, Nadwa, Rian dan Raihan untuk segera masuk karena waktu istirahat telah selesai. Tiba-tiba Rian memukul Raihan, sehingga Raihan menangis tersedu-sedu. Bu Han pun segera berlari menuju tempat kejadian, begitu pun Aisha dan Nadwa. Bu Han bertanya, "Mengapa Rian memukul Raihan". Rian berkata, “Raihan mengambil narutonya”, seketika Raihan menjawab “Aku kan hanya pinjam” tanpa menghentikan tangisannya. Bu han pun segera melerainya, dan meminta Aisha dan Nadwa untuk berkumpul dengan teman-teman yang lain. Sedangkan Bu Han meminta Rian dan Raihan untuk duduk dan menyelesaikan masalahnya. Aisha dan Nadwa yang sedang asyik melihat kejadian tersebut pun pergi ke kelas sambil mengucap “Dasar Cengeng”. Bu han yang mendengar kalimat tersebut meminta Aisha dan Nadwa untuk segera masuk kelas.

Setelah Bu Han, Rian dan Raihan menyelesaikan masalahnya, mereka pun segera bergabung dengan Bu Heni dan teman-teman yang lain. Ternyata hari ini Bu Heni membawa tiga butir telur yang siap untuk dimasak. Bu Heni meminta Aisha untuk memecahkan telur ke dalam mangkok yang sudah disiapkan di depannya. Sedangkan untuk dua telur yang lain di pecahkan oleh Rana dan Fathia.

Bu Heni bertanya “Apa yang terjadi dengan telurnya?”

Serentak anak-anak pun berkata, “Telurnya pecah bu..”

“Bu, telurnya terbelah menjadi dua, dan aku bisa melihat kuning dan telurnya masuk ke mangkok.” Ujar Rana.

“Bagus sekali, Nah sekarang kalian siap? Siapa diantara kalian yang bisa mengatakan kepada ibu bagaimana caranya agar ibu bisa mengembalikan isi telur kedalam cangkangnya?”

Suasana kelas menjadi hening, sang guru tersenyum dan menggoda anak-anak itu.

“Ayo, Ibu menunggu jawaban kalian….”

“Bu heni, kita tidak bisa mengembalikan isi telur itu, kan?” Tanya Rian yang penasaran.

“Menurutmu bagaimana?” Bu heni balik bertanya.

“Tidak bisa bu, kurasa tidak akan bisa” jawabnya dengan hati-hati.

“Bagus, Excellent Rian. Kita tidak bisa membuat telur itu utuh lagi. Dan kalian tahu sebabnya? Sekali sebutir telur pecah, dia akan tetap pecah.” Tutur bu hen sambil menoleh kepada Rian dan Raihan. Begitu juga dengan kata-kata. Setiap kali sepatah kata keluar dari mulut kita, kata itu tidak akan pernah bisa kembali. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dengan apa yang kita katakan kepada orang lain. Kata-kata bisa menyakitkan, persis seperti ketika kita memecahkan telur.”

Tiba-tiba Rian beranjak dari tempat duduknya dan mendekati tempat duduk Raihan seraya berkata, “Maafin aku yach karena telah menonjokmu..”

Raihan pun menyambut tangan Rian dan berkata, “aku juga minta maaf karena mengambil mainanmu.”

Aisha pun tak ketinggalan meminta maaf pada Raihan karena telah mengatai nya cengeng. Dan suasana kembali gaduh karena semua bersiap-siap untuk menggoreng roti yang dilapisi dengan telur.

Sakitnya pukulan mungkin bisa hilang dalam beberapa waktu, namun bagaimana dengan hati? Jika kata-kata yang keluar dari mulut kita ternyata menyakiti saudara kita? Lalu dengan cara apa kita mengembalikannya? Dengan apa kita menghapusnya? Sudah berapa telurkah yang sudah kita pecahkan? Bagaimana mengembalikannya?

26 July 2010

Kata-kata Mutiara

Smile is the shortest distance between two people.
Senyum adalah jarak yang terdekat antara dua manusia.

Real power does not hit hard , but straight to the point.
Kekuatan yang sesungguhnya tidak memukul dengan keras, tetapi tepat sasaran.

You have to endure caterpillars if you want to see butterflies. (Antoine De Saint)
Anda harus tahan terhadap ulat jika ingin dapat melihat kupu-kupu. (Antoine De Saint)

Only the man who is in the truth is a free man.
Hanya orang yang berada dalam kebenaranlah orang yang bebas.

Every dark light is followed by a light morning.
Malam yang gelap selalu diikuti pagi yang tenang.

Laughing is healthy, especially if you laugh about yourself.
Tertawa itu sehat, lebih-lebih jika mentertawakan diri sendiri.

The danger of small mistakes is that those mistakes are not always small.
Bahayanya kesalahan-kesalahan kecil adalah bahwa kesalahan-kesalahan itu tidak selalu kecil. Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar. Bersamaan dengan kesalahan itu, persoalannya bisa menjadi besar pula. Maka kesalahan kecil pun harus segera dibetulkan.

To be silent is the biggest art in a conversation.
Sikap diam adalah seni yang terhebat dalam suatu pembicaraan.

The worst in the business world is the situation of no decision. (Napoleon).
Yang terparah dalam dunia usaha adalah keadaan tidak ada keputusan. (Napoleon).

Dig a well before you become thirsty.
Galilah sumur sebelum Anda merasa haus.

Good manners consist of small sacrifices.
Sopan – santun yang baik yang terdiri dari pengorbanan –pengorbanan kecil.

IDEAS ARE ONLY SEEDS, TO PICK THE CROPS NEEDS PERSPIRATION.
GAGASAN-GAGASAN HANYALAH BIBIT, MENUAI HASILNYA MEMBUTUHKAN KERINGAT.

LAZINESS MAKES A MAN SO SLOW THAT POV ERTY SOON OVERTAKE HIM.
KEMALASAN MEMBUAT SESEORANG BEGITU LAMBAN SEHINGGA KEMISKINAN SEGERA MENYUSUL.

THOSE WHO ARE ABLE TO CONTROL THEIR RAGE CAN CONQUER THEIR MOST SERIOUS ENEMY.
SIAPA YANG DAPAT MENAHAN MARAHNYA MAMPU MENGALAHKAN MUSUHNYA YANG PALING BERBAHAYA.

KNOWLEDGE AND SKILLS ARE TOOLS, THE WORKMAN IS CHARACTER.
PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN ADALAH ALAT, YANG MENENTUKAN SUKSES ADALAH TABIAT.
A HEALTHY MAN HAS A HUNDRED WISHES, A SICK MAN HAS ONLY ONE.
ORANG YANG SEHAT MEMPUNYAI SERATUS KEINGINAN, ORANG YANG SAKIT HANYA PUNYA SATU KEINGINAN

A MEDICAL DOCTOR MAKES ONE HEALTHY, THE NATURE CREATES THE HEALTH. (Aristoteles)
SEORANG DOKTER MENYEMBUHKAN, DAN ALAM YANG MENCIPTAKAN KESEHATAN. (Aristoteles)

THE MAN WHO SAYS HE NEVER HAS TIME IS THE LAZIEST MAN.(Lichtenberg)
ORANG YANG MENGATAKAN TIDAK PUNYA WAKTU ADALAH ORANG YANG PEMALAS.(Lichterberg)

POLITENESS IS THE OIL WHICH REDUCES THE FRICTION AGAINST EACH OTHER. (Demokritus).
SOPAN-SANTU ADALAH IBARAT MINYAK YANG MENGURANGI GESEKAN SATU DENGAN YANG LAIN. (Demokritus).

A DROP OF INK CAN MOVE A MILLION PEOPLE TO THINK.
SETETES TINTA BISA MENGGERAKAN SEJUTA MANUSIA UNTUK BERFIKIR.

WE CAN TAKE FROM OUR LIFE UP TO WHAT WE PUT TO IT.
APA YANG BISA KITA DAPAT DARI KEHIDUPAN KITA TERGANTUNG DARI APA YANG KITA MASUKKAN KE SITU.

REAL POWER DOES NOT HIT HARD, BUT STRAIGHT TO THE POINT.
KEKUATAN YANG SESUNGGUHNYA TIDAK MEMUKUL DENGAN KERAS, TETAPI TEPAT SASARAN

IF YOU LEAVE EVERYTHING TO YOUR GOOD LUCK, THEN YOU MAKE YOUR LIFE A LOTTERY.
JIKA ANDA MENGANTUNGKAN DIRI PADA KEBERUNTUNGAN SAJA, ANDA MEMBUAT HIDUP ANDA SEPERTI LOTERE.

REAL POWER DOES NOT HIT HARD, BUT STRAIGHT TO THE POINT.
KEKUATAN YANG SESUNGGUHNYA TIDAK MEMUKUL DENGAN KERAS, TETAPI TEPAT SASARAN.

BEING CAREFUL IN JUDGING AN OPINION IS A SIGN OF WISDOM.
KEHATI-HATIAN DALAM MENILAI PENDAPAT ORANG ADALAH CIRI KEMATANGAN JIWA.

YOU RECOGNIZE BIRDS FROM THEIR SINGGING, YOU DO PEOPLE FROM THEIR TALKS.
BURUNG DIKENAL DARI NYANYIANNYA, MANUSIA DARI KATA-KATANYA.

ONE OUNCE OF PREVENT IS EQUAL TO ONE POUND OF MEDICINE.
SATU ONS PENCEGAHAN SAMA NILAINYA DENGAN SATU PON OBAT.

13 July 2010

Generasi Penuntas – Panggilan Raja

Pdt. Petrus Agung Purnama

Bahan Renungan : Yehezkiel 37 : 21 - 24

Nabi Yehezkiel berbicara mengenai Daud 400 thn setelah Daud meninggal. Tuhan sangat berkenan atas kehidupan Raja Daud, hari ini kita belajar mengenai Reputasi Daud. Daud statusnya adalah Raja namun hidupnya menyentuh seluruh aspek panggilan.

Reputasi Daud (1 Samuel 16 : 13 - 23)

1. Daud Diurapi oleh Tuhan (1 Sam 16 : 13)

2. Roh Tuhan Menguasai Daud (1 Sam 16 : 13) --> Daud Tetap Menggembalakan Kambing dan domba.

3. Penyembahan Daud Melalui Permainan Kecapinya bisa mengusir roh jahat yg menguasai Saul.

4. Daud Mempunyai Cool Spirit

5. Daud memiliki elok perawakannya.

Musik dan Penyembahan Bisa menarik hadirat Tuhan, Tarian bisa mengusir setan dan mendatangkan keintiman dengan Tuhan.

Ketika Daud mengalahkan Goliat, ia menyiapkan 5 buah batu. Ecclesia artinya dipanggil untuk dijadikan satu untuk berperang.

II Samuel 5 : 17 - 25 --> Raksasanya Filistin tidak hanya satu melainkan 5 raksasa.

By His Grace

Joshua

12 July 2010

Generasi Penuntas (Session 6)

Raja
Pdt. Petrus Agung Purnama

Bahan Renungan : Yehezkiel 37 : 21 – 24

Setiap dari kita dipanggil Tuhan untuk menjadi generasi penuntas, panggilan Tuhan untuk kita berbeda – beda dan tugas kita berbeda – beda. Yehezkiel 37 : 21 “Tahun 1948 Israel menjadi suatu negara”.

Yehezkiel 37 : 22 – 24 “Tuhan menyebutkan hambaKu Daud akan menjadi rajanya,…. Hal ini terjadi sekitar 400 tahun setelah kematian Raja Daud. Saat ini Generasi Penuntas yang dipanggil untuk menjadi Raja. Panggilan Raja adalah punya hati seorang Raja yang berkenan di hati Tuhan. Panggilan Raja akan terjadi tergantung dari sikap hati kita.

Mazmur 19 : 13 – 15 “Daud mengungkapkan bahwa Sikap Hati kita ini penting”. Dalam terjemahan The Message mengatakan siapakah yang dapat mengetahui error (ketidakberesan).

Bagi orang yang mempunyai panggilan Raja harus memiliki hati yang melekat dan seirama dengan Raja. Minta sama Tuhan untuk membebaskan kita dari apa yang kita tidak sadari. Saat ini Tuhan sangat sulit mencari orang – orang yang mempunyai hati Raja.

Mazmur 19 : 14 “Dosa yang sangat arogan : kesombongan, kecongkakan, kurang ajar, nekat, terlalu berani.” Minta kepada Tuhan untuk melindungi kita dari dosa yang sangat arogan.

Kalau kita berpikir bisa mengambil alih pekerjaan Tuhan adalah Lancang dan Stupid. Amin.

By His Grace

Joshua

11 July 2010

Generasi Penuntas (Session 5)

Pilar “Soko Guru”
Ev. Drg. Yusak Tjipto

Ketika Tuhan menyuruh kami membuat KKR Bahtera pada tahun 2005, Tuhan mengajarkan kepada saya untuk nyerah sama Tuhan, santai dan glinding wae. Sebagai Generasi Penuntas Tuhan memberikan pesan untuk orang – orang yang dipanggil menjadi Soko Guru atau Pilar adalah tidak boleh Komplain, tidak boleh ngomel, tidak boleh milih-milih.

Generasi Penuntas yang dipanggil untuk menjadi pilar harus siap di injak – injak. Tuhan Yesus hari ini bagikan Jubah – Jubah yang baru untuk Pilar – PilarNya. Yohanes 3 : 16 “Tuhan Yesus sangat mengasihi kita, sehingga Ia memberikan anugerahNya untuk pilar – pilar. Tugas pilar sangat berat oleh sebab itu kita harus berjalan dalam anugerahNya. Pilar – Pilar setiap hari harus baca Firman Tuhan.

Generasi Penuntas Pilar harus menjadi penurut – penurut Firman Tuhan, Kuasa Tuhan akan dinyatakan dalam hidupmu. Menyenangkan Hati Tuhan !! Amin.

By His Grace

Joshua

10 July 2010

Generasi Penuntas (Session 4)

Mempelai
Ev. Nany Susanty, SH

Generasi Penuntas yang dipanggil menjadi Mempelai adalah generasi yang menyalakan api di bangsa ini. Sebelum Acara Generasi Penuntas ini, kami 6 Hamba Tuhan mempunyai tugas untuk pergi ke Korea dan mengambil Api Kebangunan Rohani di Korea. Tuhan Yesus memberikan tugas yang berbeda – beda kepada 6 Hamba Tuhan.

Saya dan Daniel, Tuhan menyuruh kami untuk mengambil bara api dan api di Korea Selatan. Tuhan mau Api Lawatan Tuhan yang di bawa dari Korea Selatan diimpartasikan ke 33 propinsi yang ada di Indonesia.

I Raja 18 : 20 – 23 “Tuhan menginginkan kita sebagai Elia – Elia di akhir jaman, membakar bangsa ini dengan Api Lawatan Tuhan”. Tuhan Yesus memberikan tugas kepada kita para mempelai agar Api terus menyala yaitu :
1. 1 Raja 18 : 30 “Datang Mendekat Kepada Tuhan”
2. Memperbaiki Mezbah Kita (Praise & Worship, Saat Teduh, Doa)
3. 1 Raja 18 : 31, 36 “Harus ada Kesatuan didalam Tubuh Kristus” Ada 33 Batu yang Tuhan susun di atas Indonesia untuk menjadi Mezbahnya Tuhan. Amin.

By His Grace

Joshua

09 July 2010

Generasi Penuntas (Session 3)

Imam
Ev. Daniel Krestianto

Tuhan berkata : “banyak orang yang hadir di Holy Stadium hanya sekedar mau jadi generasi penuntas”. Sebagai generasi Penuntas kita harus berani ambil resiko. Roma 5 : 18 – 21 “Generasi Penuntas adalah orang – orang yang berkata : makananku ialah melakukan kehendak Bapa diSurga (Yohanes 4 : 34).

Generasi Penuntas adalah generasi yang tidak pernah berpikir, generasi yang bergerak dengan cepat dan dengan ketepatan. Generasi Penuntas ini tahu untuk masuk dengan waktu yang tepat.

Generasi Penuntas yang masuk dalam panggilan Imam harus mati daging. Generasi Penuntas yang masuk dalam panggilan imam ini harus rela berkorban dan rela menyerahkan nyawanya bagi saudara – saudaranya.

Generasi Penuntas tidak memakai usahanya sendiri. Generasi ini melakukan yang menjadi bagian kita dengan benar. Generasi ini harus menang dari 4 kelemahan manusia, yaitu : Seks, Kesombongan, Keuangan, Keluarga.

Generasi ini harus menanggalkan semua beban dan dosa yang merintangi hidup kita. Amin.

By His Grace

Joshua

08 July 2010

Generasi Penuntas (Session 2)

Tentara
Ev. Rachel Iin Tjipto Wenas

II Samuel 23 : 8 – 17

Generasi Penuntas adalah Generasi Triwira yang mempunyai cara pandang yang berbeda, generasi yang memiliki karakter seperti Karakter Yesus Kristus, generasi yang memiliki gelora cinta, keintiman dan ketaatan. Selamat Menjadi Generasi Penuntas Yang Menggenapkan kehendak Bapa.

Generasi Triwira ini berhadapan dengan 800 orang, perbandingannya 1 orang Triwira akan berhadapan dengan 800 orang. Ini menandakan bahwa generasi penuntas ini akan menghadapi hal - hal yang tidak mungkin, hal yang tidak mungkin akan diubahkan oleh generasi penuntas menjadi sesuatu hal yang mungkin.

Generasi Penuntas akan mempunyai satu tekad yaitu selalu bersama Tuhan tidak ada yang mustahil. Generasi ini akan terus maju pada saat orang lain mengundurkan diri. Generasi ini akan mengerjakan tugas yang bukan bagiannya disaat orang lain berkata ini bukan bagian saya.

Generasi Penuntas akan timbul dan tidak peduli dengan orang - orang yang mundur. Generasi ini akan berkata : "apapun yang Tuhan suruh itu bagianku."

Generasi Penuntas akan berperang sendiri disaat orang - orang tidak peduli dengan hal - hal mengenai peperangan rohani.

Ada banyak orang yang mau menjarah berkat saja tetapi tidak mau berperang dan bekerja. Generasi Penuntas akan maju berperang dan giat bekerja. Generasi ini disetiap sel dalam hidupnya akan berkata ya buat setiap panggilanNya.

Generasi ini mau membayar berapapun harganya. Generasi ini akan melakukan tepat seperti apa yang Tuhan mau, semuanya itu karena Anugerah.

Generasi ini akan menangkap persis apa yang Tuhan mau. Generasi Penuntas mempunyai sifat yang berbeda. Generasi ini akan mengerti arti pandangan mata Tuhan. Generasi ini mengerti sebuah kerinduan Tuhan. Generasi ini mengerti apa yang Tuannya mau untuk dia lakukan.

Doa : Tentara Tuhan dalam Generasi Penuntas harus mempunyai keintiman, pengertian, gelora cinta, mempunyai kekuatan untuk mencapai garis akhir. AMIN

By His Grace

Joshua

07 July 2010

Sombong VS Percaya Diri

Orang yang percaya diri biasanya mudah bergaul dengan orang lain. Sedangkan orang sombong biasanya malas didekati oleh siapapun. Pasalnyabanyak orang yang bingung sebenarnya posisinya ada dimana. Berikutperbedaan antara orang sombong dan orang percaya diri:

1. Orang sombong menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain. Sedangkan orang percaya diri percaya bahwa dirinya memiliki keunikan dan talenta sebagaimana yang dianugerahkan berbeda kepada setiap orang.
2. Orang sombong seolah selalu tahu apa yang paling baik untuk orang lain. Sedangkan orang yang percaya diri selalu terbuka tentang pendapatnya terhadap orang lain.
3. Orang sombong biasanya tajam terhadap orangyang ia lihat sebagai saingan. Orang percaya diri sudah lahir dengan kemampuan untuk bersaing.
4. Orang sombong sulit dan bahkan tidak pernah mengakui kesalahan mereka. Orang percaya diri tidak takut untuk mengaku bahwa ia melakukan kesalahan.
5. Orang sombong biasanya sukajika orang lain melakukan kesalahan sedang mereka yang percaya dirisuka membantu orang menghadapi kesalahan yang mereka buat.
6. Orang sombong biasanya sangat peduli dengan pendapat orang lain terhadap dirinya. Sedangkan orang percaya diri tidak terlalu peduli dengan pendapat orang lain terhadap dirinya.
7. Orang sombong biasanya suka membanggakan dirinya, sedangkan mereka yang percaya diri cenderung diam.

Sombongkah atau percaya dirikah Anda?

Generasi Penuntas (Session 1)

Pekerja
Pdt. Petrus Hadi Santoso

Bahan Renungan :
Ibrani 11 : 38 - 40

Ibrani 11 : 38 "Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua - gua, dan celah - celah gunung."

Iman mereka diperhadapkan dengan ujian, tantangan. Sebagai Generasi Penuntas kita mengalami ujian dan tantangan.

Ibrani 11 : 39 "Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik."

Orang - orang kudus seperti Abraham, Yosua, Daniel, Gideon, Barak dan lain - lain tidak memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan, tetapi mereka tetap setia. Iman mereka telah memberikan kesaksian yang baik kepada kita generasi penuntas.

Ibrani 11 : 40 "Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita ; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan."

Generasi Penuntas, Tuhan sudah menyediakan untuk kita sesuatu yang lebih baik, oleh sebab itu kita harus berlari untuk mencapai kesempurnaan yang telah disediakan Tuhan.

Disetiap jaman akan ada orang yang muncul untuk memegang tongkat estafet, saat ini kita adalah generasi penuntas yang memegang tongkat estafet. Kita harus dengan tepat mengambil tongkat estafet itu. Generasi penuntas harus berlari cepat dan mencapai target sebagai generasi terakhir.

Generasi penuntas adalah generasi korporat, generasi terakhir yang menangkap hati Tuhan, ambil tongkat dan lari secepatnya. Amin

By His Grace

Joshua

06 July 2010

Wortel, Telur dan Kopi

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat,nak?”

"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa artisemua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

“Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”

“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”

“Ataukahkamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”

“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

"Mana yang kau pilih??"

05 July 2010

Semuanya Terjadi Karena Suatu Alasan

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington.

Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat. Saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku.

Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan
ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam? Aku berpaling pada ayahku. Katanya,"Semua terjadi karena suatu alasan."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang, lalu aku teringat kata-kata ayahku, "Semua terjadi karena suatu alasan."

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara :
1. Apabila Tuhan mengatakan YA. Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta
2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK. Maka kita akan mendapatkan yang lebih baik
3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU. Maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak NYA

03 July 2010

Jangkar Yang Kokoh

Roma 5:1-5

1.  Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

2.  Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

3. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

4. dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita

Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Ibrani 6:19). Pengharapan itu bagai jangkar. Begitu ditancapkan ke dasar laut, kapal menjadi mantap. Punya pegangan. Tidak diombang-ambingkan ombak.

Pengharapan membuat orang beriman bisa berjalan mantap, walau janji Tuhan belum genap. Rasul Paulus berkata, kita sudah "beroleh jalan masuk" menuju keselamatan, walau belum sepenuhnya "menerima kemuliaan Allah" (ayat 2).

Apa yang meyakinkan kita bahwa kelak kemuliaan ALLAH itu akan kita terima? Pengharapan!

Dengan pengharapan, biar jalan di depan sulit, hati tidak menjadi pahit. Malahan makin tekun dan tahan uji, karena yakin yang terbaik pasti akan datang (ayat 4,5).

Harapan kita sering keliru. Kadang kita mengharapkan jalan yang mudah. Atau, berharap hidup berjalan sesuai skenario kita. Harapan seperti itu bisa mengecewakan.

Namun, pengharapan bahwa kita akan menerima kemuliaan ALLAH adalah jangkar yang kokoh.

Marabahaya bisa datang. Usaha bisa kandas. Cita-cita bisa tidak kesampaian. Namun, pengharapan membuat kita yakin: ini bukan akhir segalanya. Yang terbaik masih akan datang!

KETIKA KITA DIOMBANG-AMBINGKAN ANEKA PERSOALAN JANGAN LUPA TANCAPKAN JANGKAR PENGHARAPAN KEPADA TUHAN

Tuhan Yesus memberkati…

02 July 2010

Senangkan Ortu Semasa Hidup

Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

"Nggak usah. lain kali saja!", jawab ayah.

Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya.

"Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka.

"Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja”, katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali pulang naik bus sendirian.

"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!" balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. "Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah," katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun. Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.

Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun. Saya lalu segera pulang.

Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. "Ayah sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa, bang?"

Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata, "Ayah sudah tiada!!"

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi. Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka. Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.

01 July 2010

Mangkok Sang Pengemis

Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis ini, "Apa yang engkau inginkan dariku?”

Si pengemis itu tersenyum dan berkata, "Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku
dapat memenuhi permintaan hamba."

Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, "Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!"

Maka menjawablah sang pengemis, "Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa."

Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis. "Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya."

Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah, "Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan."

Bukan main! Raja menjadi geram mendengar 'tantangan' pengemis di hadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas!. Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah. Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.

Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, "Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?"

Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, "Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya".

"Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan.. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan : power tends to corrupt; Kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak".

Raja itu bertanya lagi, "Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?"

"Tentu ada, yaitu rasa syukur terhadap segala sesuatu yang telah kau miliki. Jika engkau pandai bersyukur, Itu akan menambah nikmat padamu," ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang.