Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

19 August 2008

Permintaan Anak Kepada Orang Tua

Seandainya anak-anak kecil bisa berbicara dan memiliki keberanian untuk mengajukan permohonan mereka kepada orang tuanya, apa yang akan mereka katakan? Bukankah seringkali ada orang tua yang merasa berhak melakukan apa saja terhadap anak-anak tanpa memahami perasaan mereka? Didalam hati kecilnya, anak-anak itu mungkin ingin mengatakan :

"Tanganku begitu kecil. Janganlah mengharapkan hasil yang sempurna ketika aku merapihkan tempat tidur, menggambar sesuatu atau melemparkan bola. Kakiku masih pendek, perlambatlah jalanmu agar aku bisa berjalan bersamamu. Mataku belum bisa memandang dunia ini sebagaimana engkau memandangnya, biarkanlah aku mengamati dan mempelajari banyak hal secara perlahan-lahan. Kesibukan di rumah akan selalu ada, beri aku sedikit saja waktu untuk menjelaskan tentang banyak hal yang belum kupahami dan bermainlah bersamaku. Perasaanku lembut, pekalah terhadap apa yang aku butuhkan dan jangan memarahiku sepanjang hari. Perlakukanlah aku sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Aku adalah pemberian khusus dari Yang Maha Penyayang. Sayangilah aku, sebagaimana Yang Maha Penyayang perintahkan untuk engkau lakukan. Beritahu aku aturan-aturan di dalam menjalani kehidupan dan disiplinkan aku dengan kasih Aku butuh dorongan dan bukan sekedar pujian untuk bertumbuh. Ketika engkau mengkritikku, kritiklah perbuatanku dan jangan benci padaku. Dengan begitu, aku bisa mengubah kebiasaan buruk di dalam diriku. Beriku kebebasan untuk membuat keputusan tentang diriku sendiri. Jangan marah ketika aku berbuat salah, sehingga aku dapat belajar dari kesalahanku. Dengan demikian suatu hari nanti aku dapat membuat keputusan yang benar. Tolong jangan buat aku merasa bersalah dan tidak yakin terhadap diriku dengan cara membandingkanku dengan kakak atau adikku. Masing-masing kami memiliki kemampuan dan kapasitas yang berbeda-beda. Jangan terlalu kuatir meninggalkan aku, sekali-sekali ambillah waktu untuk bersantai dan menenangkan diri. Kadang anak-anak perlu waktu tanpa orang tua sebagaimana orang tua juga perlu waktu untuk menenangkan diri berdua tanpa anak-anak. Di samping itu, itu merupakan cara yang bagus untuk memperlihatkan kepada kami anak-anak bahwa pernikahan kalian begitu spesial dan harmonis. Ajak dan doronglah kami untuk beribadah. Berilah teladan yang baik, karena aku ingin belajar banyak tentang Tuhan."

(dari sebuah artikel)

Anak-anak tanpa pahlawan, sedikit sekali yang akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi dewasa yang bangga dan membanggakan. Mereka membutuhkan seorang dewasa yang bisa mereka kagumi. Mereka membutuhkan seorang kuat, yang saat bersamanya, mereka merasa terlindungi. Mereka, anak-anak kita itu lebih membutuhkan seorang pahlawan untuk mereka teladani, dan bukan seorang kritikus yang semena-mena merendahkan diri-diri kecil yang tidak terlindungi itu hanya karena yang lebih tua itu mampu mendatangkan penyiksaan yang tak terlawankan. Jadikanlah diri Anda orangtua yang mencontohkan kegembiraan dalam memenangkan kualitas kehidupan yang baik, agar anak-anak kita juga bersemangat untuk menjadikan diri mereka tumbuh dengan tubuh yang sehat, cara pandang yang jernih, dan pemikiran yang cemerlang.

Humor : Lulusan Sarjana

Saking susahnya nyari kerjaan saat ini, akhirnya seorang lulusan ITB terpaksa menerima tawaran untuk bekerja di Kebon Binatang Ragunan.

"Apa boleh buat, daripada nganggur, kerja beginian juga bolehlah, yang penting kan halal!", begitu tekadnya.

Maka sejak hari itu, sang insinyur muda mulai bekerja sebagai "monyet-monyetan". Sepanjang hari, ia harus betah mengenakan baju monyet, pakai topeng monyet sambil mengunyah pisang atau kacang rebus terus menerus. Serta harus jumpalitan selincah mungkin untuk menarik perhatian pengunjung. Pokoknya tidak beda dengan monyet asli yang sudah mulai punah. Tak ayal lagi, pengunjung Kebon Binatang Ragunan membludak lantaran mau 'ngeliat si monyet super yang konon tidak hanya lincah dan gesit, tapi juga cerdas! (ya iyyalah.....wong lulusan ITB kok!!)

Sayang sekali, yang namanya sial itu sulit untuk di-elak-kan, sedang enak-enaknya jumpalitan, tiba-tiba..

"Gedebuk......Byurrrrrrrrrrrrr.......!!!"

Sang monyet terjatuh ke dalam kolam buaya!!

"Waduh, mati aku!" pikirnya sebelon dicaplok ama si buaya-buaya ganas itu. Yang pada saat itu mulut buaya-2 itu sudah terbuka lebar siap menggigit..., tapi dari dalam kolam terdengar suara berbisik :

"Sssttttt......mas.... jangan takut.... kami dari Trisakti!"