Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

20 November 2008

36 Stress Reducers

1. Pray
2. Go to bed on time.
3. Get up on time so you can start the day unrushed.
4. Say No to projects that won't fit into your time schedule or that will compromise your mental health.
5. Delegate tasks to capable others.
6. Simplify and unclutter your life.
7. Less is more. (Although one is often not enough, two are often too many.)
8. Allow extra time to do things and to get to places.
9. Pace yourself. Spread out big changes and difficult projects over time; don't lump the hard things all together.
10. Take one day at a time.
11. Separate worries from concerns. If a situation is a concern, find out what God would have you to do and let go of the anxiety. If you can't do anything about a situation, forget it.
12. Live within your budget; don't use credit cards for ordinary purchases.
13. Have backups; an extra car key in your wallet, an extra house key buried in the garden, extra stamps, etc.,
14. K.M.S. (Keep Mouth Shut.) This single piece of advice can prevent an enormous amount of trouble.
15. Do something for the Kid in You everyday.
16. Carry a Bible with you to read while waiting in line.
17. Get enough exercise.
18. Eat right.
19. Get organized so everything has its place.
20. Listen to a tape while driving that can help improve your quality of life.
21. Write thoughts and inspirations down.
22. Everyday, find time to be alone.
23. Having problems? Talk to God on the spot. Try to nip small problems in the bud. Don't wait until its time to go to bed to try and pray.
24. Make friends with Godly people.
25. Keep a folder of favorite scriptures on hand.
26. Remember that the shortest bridge between despair and hope is often a good "Thank you, Jesus!"
27. Laugh.
28. Laugh some more!
29. Take your work seriously, but yourself, not at all.
30. Develop a forgiving attitude (most people are doing the best they can).
31. Be kind to unkind people (they probably need it the most).
32. Sit on your ego.
33. Talk less; listen more.
34. Slow down.
35. Remind yourself that you are not the general manager of the universe.
36. Every night before bed, think of one thing you're grateful for that you've never been grateful for before.

** GOD HAS A WAY OF TURNING THINGS AROUND FOR YOU**

Penyambukan

Di suatu sekolah terdapat sebuah kelas yang tidak pernah dapat dikendalikan oleh guru siapapun. Pada tahun ajaran ini dua sampai tiga guru keluar dari sekolah karena tak sanggup mengendalikan murid-murid yang tak mengenal disiplin itu. Seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan studinya di perguruan tinggi mendengar tentang kelas itu dan kemudian melamar pekerjaan di sekolah yang bersangkutan.

Kepala sekolah bertanya kepada pemuda itu, ”Apakah Anda sadar akan tugas Anda? Tidak ada seorang gurupun yang dapat menangani kelas itu. Anda melamar pekerjaan itu untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak?”

Setelah beberapa saat berdoa di dalam keheningan, pemuda itu menatap wajah kepala sekolah dan berkata, ”Pak, dengan ijin Bapak, aku menerima pekerjaan dan tantangan ini. Berilah aku waktu untuk percobaan.”

Esok harinya, pemuda itu berdiri di depan kelas tersebut. Ia mengatakan kepada murid-muridnya, ”Anak-anak sekalian. Aku datang hari ini untuk memimpin kelas ini. Namun aku sadar, bahwa aku membutuhkan bantuanmu.”

Seorang anak yang bertubuh besar, Tom, si Raksasa, berbisik kepada teman-temannya di belakang kelas, ”Aku tak memerlukan bantuan kalian. Aku dengan mudah dapat mengalahkan burung kecil itu seorang diri.”

Guru muda itu mengatakan kepada anak-anak di kelasnya, bila mereka berada di dalam kelas, merekapun harus mempunyai peraturan untuk dipatuhi. Namun, ia tambahkan, ia memerlukan para murid untuk membuat peraturannya sendiri dan ia nanti akan membuat daftar peraturannya di atas papan tulis.

Ini sesuatu yang berbeda, pikir murid-murid!

Seorang murid menyarankan, ”TIDAK MENCURI”

Lain lagi berseru, ”HENDAKNYA KITA MASUK KELAS TEPAT PADA WAKTUNYA”

Tidak lama kemudian mereka memiliki 10 peraturan di papan tulis. Kemudian guru muda itu menanyakan, “Hukuman apakah harus diterapkan, bila peraturan itu dilanggar? Pasalnya, peraturan itu tak berguna tanpa penegakannya!“ katanya. Seorang murid menyarankan, bila peraturan itu dilanggar, mereka harus menerima 10 cambukan dengan sebatang cambuk di punggungnya dengan baju dilepas.

Gurunya mengira bahwa ini agak terlalu keras. Karenanya ia menanyakan murid-muridnya apakah mereka sanggup untuk menjalani hukuman itu. Mereka semua setuju. Segala sesuatu berjalan baik untuk dua hari lamanya. Kemudian si raksasa Tom datang sekolah dengan marah. Ia menyatakan, seseorang telah mencuri makan siangnya. Setelah berbicara dengan semua muridnya, mereka mendapatkan bahwa si Jimmy kecil telah mencuri makan siang si raksasa, Tom!Pasalnya, seorang murid melihat Jimmy memakan makanan siang milik Tom! Guru memanggil Jimmy di depan kelas. Jimmy kecil mengaku telah mengambil makanan siang si Tom besar.

Lalu guru itu bertanya kepadanya, ”Kamu tahu hukumannya?”

Jimmy kecil mengangguk. ”Kalau begitu, bukalah jaketmu,” kata guru.

Anak kecil itu datang dengan mengenakan jaket yang terlalu besar. Ia mengatakan kepada guru, bahwa ia bersedia untuk dihukum, tetapi tolong jangan suruh membuka jaketnya.

Namun guru mengingatkan Jimmy kecil akan peraturan dan hukumannya dan mengatakan lagi untuk membuka jaketnya serta menerima hukumannya seperti seorang jantan. Anak yang malang itu mulai membuka jaket tuanya. Setelah ia melakukannya, guru melihat bahwa ia tidak memakai baju di balik jaketnya. Bahkan lebih parah lagi, ia mengamati sebuah tubuh yang lemah dan kurus kering tersembunyi di balik jaket tua itu. Pak guru bertanya, mengapa ia ke sekolah tidak mengenakan baju?

Jimmy kecil menjawab, ”Ayahku sudah meninggal dan ibuku amat miskin. Aku hanya memiliki sepotong baju saja dan hari ini ibuku menyucinya. Aku mengenakan jaket saudara tuaku untuk menghangatkan badan.”

Guru muda itu memandang punggung yang kurus kering dengan tulang-tulang punggungnya yang menonjol. Ia bertanya-tanya, bagaimana ia tega untuk mencambuk punggung yang lemah bahkan tanpa baju itu?

Namun, ia tahu bahwa ia harus menjalankan hukuman itu, karena jika tidak, murid-murid tak akan mau mematuhi peraturan kelasnya. Maka, kemudian ia berancang-ancang untuk mencambuk si Jimmy kecil.

Pada saat itulah, Tom, si raksasa berdiri dan maju kedepan. Ia bertanya, ”Apa ada peraturan yang melarang untuk saya menerima hukumannya sebagai ganti si Jimmy kecil?”

Sang guru berdiam sejenak dan kemudian setuju.

Dengan demikian, Tom, si raksasa membuka bajunya dan membungkuk menutupi punggung Jimmy. Dengan bimbang sang guru mulai mencambuk Tom di punggungnya yang lebar.

Entah karena apa, setelah lima cambukan, cambuk patah menjadi dua. Guru muda itu menenggelamkan wajahnya di dalam kedua tangannya dan menangis. Ia mendengar suara ribut dan mendapati seluruh kelas ikut menangis. Jimmy kecil berbalik kepada Tom dan merangkulnya serta memohon maaf untuk perbuatan mencuri makan siangnya. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa ia akan selalu mencintai si Tom, raksasa bahkan ia bersedia untuk dicambuk sebagai gantinya.

Yesus Kristus telah menerima cambukan sebagai ganti kita serta mengucurkan DarahNya yang amat berharga di atas kayu salib, supaya Anda dan saya memperoleh kehidupan yang kekal di dalam kemuliaan-Nya dengan Dia.

Sebenarnya kita sungguh tidak layak untuk sebuah harga yang telah dibayarkan guna menebus kita. Namun semua itu terjadi karena KasihNya yang tak ada taranya terhadap kita.

Ayam & Bebek

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mendengar suara di kejauhan.

"Kuek! Kuek!"

"Dengar", kata si istri, "itu pasti suara ayam."

"Bukan, bukan, itu suara bebek," kata si suami.

"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.

"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!' , bebek itu 'kuek! Kuek!' itu bebek, Sayang,' kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.

"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.

"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

"Dengar ya! Itu a…da…lah…be…bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.

"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.

"Itu jelas-jelas bue…bek, kamu…kamu…"

Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hamper menangis, "Tapi itu ayam…"

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa ia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."

"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kuek! Kuek! Terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek?"

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

"If you start judging people you will be having no time to love them....."