Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

01 December 2008

Semangat Natal

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" - Filipi 2:5

Bacaan : Filipi 2:1-11

Bagaimana Anda mendifinisikan "semangat Natal"? Apakah itu berarti senyuman ramah kepada orang asing, suara pujian yang akrab di telinga Anda, pohon yang berkelap-kelip di tengah lautan hadiah dengan bungkus berkilauan, atau hanya sekadar perasaan senang atas apa yang telah Anda raih tahun ini?

Tak satupun dari banyak hal di atas yang mampu menggambarkan makna sejati dari ungkapan itu. Semuanya hanya menunjukkan perasaan yang mungkin muncul sebagai respons terhadap komersialisme yang menyelewengkan semangat Natal yang sejati.

J.I. Packer membahas inti masalah ini dalam bukunya Knowing God. Ia menulis, "Kita berbicara dengan meyakinkan tentang semangat Natal, tetapi maknanya kerap tak lebih dari sekadar kesenangan sentimental. Seharusnya semangat Natal berarti perwujudan kembali dalam kehidupan manusia (sifat) Pribadi yang rela menjadi miskin untuk kita, semangat orang-orang yang, seperi Sang Guru, menjalani seluruh hidup mereka berdasarkan prinsip menjadi miskin, memanfaatkan hidup mereka dan mengizinkan hidup mereka dimanfaatkan untuk memperkaya sesama, memberikan waktu, pikiran, perhatian, dan kepedulian demi kebaikan orang lain dengan cara apa pun yang diperlukan".

Dalam Filipi 2, Rasul Paulus menggambarkan Allah Sang Penguasa surga dan bumi mengesampingkan kemuliaan Ilahi-Nya dan menjadi pelayan bagi kita dengan wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Saat ini Dia mendorong kita untuk juga melayani orang lain dengan rendah hati. Itulah semangat Natal yang sejati.

SEMANGAT HADIAH NATAL SEHARUSNYA TERLIHAT DALAM KEHIDUPAN KITA SELURUHNYA

Renungan Harian

Season of Love

Bekas suamiku telah memilih jalannya snediri sehingga aku dan anak-anakku memutuskan untuk pindah. Kami pindah 2700 mil dari tempat asal kami, menggunakan mobil kecil yang menarik sebuah karavan melewati penggunungan Rocky.

Kami tiba di kota baru kami itu tiga hari kemudian dan menyewa sebuah apartemen. Aku memulai hari itu dengan mengantar anak-anak ke sekolah baru lalu aku pulang untuk membongkar barang-barang bawaan di dalam karavan. Ketika aku mulai membongkar muatan, seorang wanita yang baru kukenal ketika dalam perjalanan, mampir dan membantuku membawa barang-barang ke lantai tiga. Setelah pindahan masuk, aku diberkati dengan mendapatkan sebuah pekerjaan dua hari kemudian.

Semua berjalan dengan baik. Anak-anak mengikuti the Boys & Girls Club sepulang sekolah dan aku akan menjemput mereka sepulang kerja. Di bulan Desember, dua bulan setelah pindah, manager the Boys & Girls Club memanggilku dan bilang kalau ada sebuah kelompok yang mau mengadopsi sebuah keluarga saat Natal dan apakah aku keberatan jika mereka memilih keluargaku. Mulanya kupikir kami tidak perlu itu, karena kami punya semua kasih yang diperlukan tetapi kemudian ia bilang kalau anak-anakku sudah memberitahunya bagaimana keadaan rumah kami yang tanpa perabotan. Dan kelompok ini memiliki banyak perabotan bekas. Jadi aku pun menyetujuinya supaya membuat anak-anak senang.

Mereka meneleponku dan bertanya apa yang diinginkan anak-anakku untuk Natal nanti. Aku bilang kami menghargai apa saja yang diberikan dan menyebut beberapa kesukaan anak-anakku. Mereka datang pertama kali pada 18 Desember. Mereka mebawa peralatan dapur, perabotan, lemari dan berbagai barang lainnya. Aku sangat bersyukur dan berkali-kali bilang terima kasih. Mereka pergi, lalu kembali lagi dngan pohon Natal dan hiasannya. Kami ngobrol banyak saat menghias rumahku dan pohon Natal itu.

23 Desember mereka menelpon dan bilang akan mampir. Mereka datang dan membawa alat-alat yang masih bisa dipakai dan makanan yang banyak. Mereka bahkan mengajak seseorang yang berpakaian seperti Santa dan memberi anak-anakku hadiah. Aku menangis terharu melihat apa yag mereka lakukan.

Pada 24 Desember, setelah anak-anak tidur, mereka datang lagi dan menaruh kado Natal di pintu kamar. Aku tidak bisa menceritakan betapa membahagiakannya Natal kali itu. Sejak itu, setiap tahun, aku dan anak-anakku selalu mengadopsi seorang anak setiap tahun. Anak-anakku menyadari bahwa dalam kekurangan pun, kami bisa menolong orang lain.

Biarlah kasih ini menjadi salah satu kegiatan untuk kalian di musim yang penuh kasih ini.

Humor : Sopir Taxi

Setelah berjalan sekian lama, penumpang menepuk pundak sopir taksi untuk menanyakan sesuatu.

Reaksinya sungguh tak terduga. Sopir taksi begitu terkejutnya sampai tak sengaja menginjak gas lebih dalam dan hampir saja menabrak mobil lain. Akhirnya ia bisa menguasai kemudi dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

"Tolong, jangan sekali-sekali melakukan itu lagi," kata sopir taksi dengan wajah pucat dan menahan marah.

"Maaf, saya tidak bermaksud mengejutkan. Saya tidak mengira kalau menyentuh pundak saja bisa begitu mengejutkan Bapak."

"Persoalannya begini, ini hari pertama saya jadi sopir taksi. Bapak juga merupakan penumpang pertama."

"Oh begitu. Trus kok bisa kaget begitu?"

"Sebelumnya saya adalah sopir mobil jenazah."