Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

16 September 2008

Kristen Bola

Nats : Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa - 2Korintus 4:8,9

Bacaan : 2Korintus 4:1-15

Sepulang sekolah, Kathleen, putri saya, suka bermain bola di rumah. Anak usia empat tahun itu sangat suka memantul-mantulkan bola kesayangannya ke lantai. Suatu saat ia berkata, "Pa, Kathleen suka dengan bola ini. Tiap kali Kathleen membanting bola ini, ia malah melambung tinggi. Lucunya, semakin keras dibanting, ia malah melambung makin tinggi ya, Pa."

Paulus adalah seorang rasul yang berterus terang tentang realitas kehidupan dan pelayanan yang tengah dilakukannya. Sejak menyerahkan diri untuk melayani Tuhan, masalah justru seakan-akan enggan meninggalkannya. Ketika melayani jemaat di Korintus, ia pun tidak bebas dari masalah. Jemaat Korintus terkenal dengan reputasinya yang buruk. Banyak hal yang terjadi dalam jemaat ini, telah menyakitkan hati Allah dan Paulus. Misalnya perpecahan, juga tindakan tidak bermoral. Secara logika, sangat masuk akal bila Paulus mempertanyakan penyertaan Tuhan atas hidupnya, memprotes, atau bahkan mengambek. Namun, Paulus tidak melakukannya. Ia tetap setia memegang komitmen pelayanannya.

Inilah inti "karakter pelayanan kristiani" sejati yang harus dimiliki oleh setiap pelayan Tuhan; di mana pun dan dalam peran apa pun. "Ditindas namun tidak terjepit ... habis akal namun tidak putus asa ... dianiaya namun tidak ditinggalkan sendiri ... dihempaskan namun tidak binasa" (ayat 8,9). Saya menyebutnya "Kristen bola", yang tak menjadi "kempes" walaupun "dibanting" dengan berbagai tantangan dan kesulitan. Apa rahasianya? "Kami senantiasa membawa kematian Yesus dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus nyata dalam tubuh kami" (ayat 10) -MZ

MASALAH SEBESAR APA PUN
DAPAT DILEWATI BERSAMA TUHAN

Yayasan Gloria

Doa 1 Menit

Tuhan Yesus,di dalam kehidupan ini kami memiliki banyak keinginan,di dalam semua keinginan ini, ada keinginan yang baik dan tidak baik, ada yang sejalan dengan kehendakMu, ada yang tidak sejalan dengan kehendakMu.

Tolong kami Tuhan, untuk bukan saja dapat membedakan mana keinginan yang baik, yang berkenan kepada-Mu, dan mana keinginan yang tidak baik yang tidak sejalan dengan kehendakMu, melainkan beri kami juga kekuatan untuk mampu menolak keinginan yang tidak baik, untuk tidak dipengaruhi oleh keinginan buruk tersebut, dan tetap setia kepada kehendak dan rencanaMu Tuhan. Sekalipun keinginan itu bukan hal yang buruk, namun keinginan itu tidak terpenuhi, apa yang kami ingin capai tidak tercapai, tolong kami untuk dapat menerimanya dengan tidak bersungut-sungut, tapi dengan hati yang lapang dan mengimani bahwa Engkau Tuhan pasti punya rencana dan kehendak-Mu yang Engkau ingin genapi dalam kehidupan kami.

Meskipun saat ini kami tak bisa memahaminya dengan pemikiran kami yang terbatas ini, namun biarlah kami mengimani bahwa Engkau Allah yang lebih mengerti kami, Engkau juga pasti akan memberi yang terlebih baik dan indah pada waktuMu Tuhan.

Kami sadar bahwa semuanya ini bukanlah hal yang mudah, yang dapat dalam waktu satu dua hari kami terapkan, mungkin butuh waktu yang lama untuk dapat memiliki iman yang dewasa, iman yang sungguh teruji dalam menghadapi semua kejadian dan badai dalam hidup ini.

Oleh karenanya, kami memerlukan bimbingan dan pertolonganMu selalu ya Tuhan. Terima kasih Tuhan Yesus, karena Engkau selalu bersama kami, menemani kami dalam menjalani kehidupan ini.

Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa.

Amin

Suatu Saat Dalam Taxi

"Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah semuanya seperti kita melakukan untuk Tuhan".

Hari-hari terakhir pekerjaan kantor sangat melelahkan. Tidak ada waktu untuk 'memanjakan' diri sendiri. Bahkan saat akan beristirahat pun, segala masalah dan tugas dalam pekerjaan selalu menghantui pikiran. Terus terang saya sudah malas dengan segala keinginan boss-ku. Nyaris setiap hari aku pulang larut malam. Pergi pagi pulang malam, dari senin sampai sabtu. Dan segala pekerjaanku tidak pernah di hargai olehnya. Jadi aku pikir, "Masa bodoh dengan segala pekerjaan kantor. Aku sudah cape. Terserah deh, nanti jadinya apa. Gua kaga peduli".

Jadi Sabtu kemarin aku habis kan waktu dengan tidur seharian. Membaca buku, menonton televisi, dengar kaset. Laptop yang tegeletak di atas meja tidak aku sentuh sedikit pun. "Masa bodoh" pikirku.

Sendok suapan terakhir telah masuk ke dalam perut. Wah, kenyang juga. Kubenahi segala dokumen yang di butuhkan dan segera keluar kantor mencari taxi. Sudah 5 menit aku menunggu, akhirnya taxi yang kutunggu datang juga.

"Daerah kota pak", seruku pada supir taxi.

"Kotanya dimana pak?", dia menimpali.

"Wah, namanya apa yah?" aku sendiri tidak begitu ingat.

"Nanti saya tunjukkan jalannya kalau sudah sampai di sana"

"Baik Pak".

Suasana hening. Tidak beberapa lama pak supir berkata, "Tadi orang yang pakai taxi ini sebelum Bapak, naik dari Taman Anggrek".

Dekat amat pikirku. Kantorku ada di daerah Citraland.

"Kok mau sih pak?" ucapku.

"Wah tidak baik menolak rejeki. Kalau Tuhan sudah kasih berkat, masa kita tolak", ujarnya dengan logat batak yang masih terasa.

"Kalo supir lain sih pasti nolak. Kalau saya, ngak masalah, dekat atau jauh toh berkat dari Tuhan."

"Wah, berfilsafat dia.", pikirku.

"Tapi sebenarnya untung juga sih kalau nariknya deket. Tadi saja saya di kasih uang 10.000. padahal argonya ngak sampe 5 rebu. Saya senang juga. Tapi sebenernya saya ngak tega kalo mesti nolak. Dia kan pasti mau buru-buru. Bagaimana rasanya, sesudah duduk, eh malah saya tolak. Sakit hati, kan?"

"Iya juga yah", pikirku. Suasana hening kembali. Kuperhatikan wajahnya dari kaca mobil. Keliahatannya ceria, tidak seperti sopir-sopir taxi yang lain. Yang rata-rata wajahnya cemberut.

"Bapak sudah lama jadi sopir taxi", tanyaku memecah keheningan.

"Baru empat tahun Pak."

"Sebelumnya kerja di mana?"

"Dulu saya kerja di perhotelan."

"Kerja di bagian apa Pak?"

"Manager operasional"

Hah? Tidak salah dengar? Manager? ngak mungkin ah..

"Anak buahnya banyak pak?", tanyaku sedikit menyelidik.

"Ada sekitar 100 orang"

"Terus, koq sekarang malah jadi sopir taxi"

"Wah, panjang ceritanya Pak."

"Oh.", gumanku dan tidak bertanya lebih lanjut, kelihatannya ada kenangan pahit yang dia alami.

"Biasalah pak korban kena sikut", ujarnya meneruskan, "Padahal dia teman baik saya. Tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu. Tapi buat saya itu ngak masalah. Saya percaya Tuhan pasti akan tetap pelihara saya. Buktinya saya langsung bisa dapat pekerjaan lagi. Walaupun tidak sehebat seperti dahulu. Yah, sudah cukup lah, untuk kebutuhan sehari-hari"

"Kenapa Bapak tidak mencoba melamar di hotel lain?"

"Nama saya sudah rusak Pak"

"Pasti karena di fitnah oleh teman baiknya itu", pikirku. Kuperhatikan lagi wajahnya. Tetap ceria seperti tadi. Tidak nampak terbeban.

"Lebih enak jadi sopir atau kerja seperti dulu Pak?", tanyaku.

"Wah, enak atau enggak tergantung hati kita Pak. Pokoknya kita mesti sadar, bahwa apa yang kita punya saat ini, Tuhan yang memberi. Mengucap syukur senantiasa. Sukacita bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri kita. Jadi kalau di tanya lebih enak mana, dulu atau sekarang, jawabannya yah dua-duanya. Mau jadi apa aja ngak masalah, yang penting ada rasa syukur, pasti sukacita itu datang dengan sendirinya."

Wah, jadi malu aku. Aku yang sejak kecil di didik dalam keluarga percaya, masih mengeluh kan pekerjaan yang saya terima. Padahal kalau dibandingkan dengan sopir taxi, pekerjaan saya jauh lebih enak. Dengan penghasilan yang lebih tinggi tentunya. Tapi, dasar! Nggak ada ucapan syukurnya. Aku jadi teringat akan nasehat yang mengatakan, "Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah segala sesuatu seperti kita melakukan untuk Tuhan".

Hmmm, hari ini aku di sadarkan kan oleh seorang supir taxi. Hari ini aku di kuatkan kembali untuk selalu bersyukur dalam segala hal.

"Anak-Ku, Aku tahu bahwa kadang kala begitu menggoda untuk menyerah dalam kehidupan. Kadang kala sulit menemukan alasan untuk terus berusaha. Apa yang membuatmu merasa seperti menerima lekalahan? Sekolah? Nilai? Kawan-kawan? Orang-tua? Uang? Perang? Dengarlah, Aku ingin kamu mempercayai-Ku dalam hal ini. Meskipun keadaan hidup tampak kacau dari luar, tetapi jika kamu percaya kepada-Ku, ada hal-hal yang tak terlihat terjadi di dalam dirimu. Setiap hari, Aku membuka sesuatu yang baru dan menggairahkan. Masa depanmu akan lebih mengherankan dari apa pun yang dapat kamu bayangkan. Percayalah kepada-Ku, tidak akan sia-sia kamu bertahan karena ada hari depan yang indah menunggumu."

Oleh karena itu, bertahanlah dengan gigih. Janganlah menyerah!

Aku mempunyai sejumlah kejutan nyata bagimu. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat 16:26)

Bapa Engkau Sungguh baik, Kasih Mu melimpah dihidup ku

Bapa ku berterimakasih, berkatMu hari ini yang

Kau sediakan bagi ku

Ku naikkan syukur ku.  Buat hari yang Kau beri

Tak habis - habisnya, kasih dan rahmatMu

Selalu baru dan tak pernah terlambat pertolonganMu

Besar setiaMu disepanjang hidup ku.

TUHAN MEMBERKATI !!