Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 December 2008

Kaleidoskop 2008

"Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segera perintah Allah" - Matius 19:17

Menjelang akhir tahun 2008 ini, hal baik apa saja yang sudah dan juga akan kita lakukan supaya meninggalkan kesan yang penuh makna? Acara-acara televisi selalu penuh dengan tayangan dan liputan tentang apa saja, kejadian dan peristiwa yang terjadi selama setahun. Tentu saja hal yang baik dan buruk. Sekaranglah saatnya kita mulai mendokumentasikan apa saja yang perlu disimpan dalam file bersejarah dan berharga bagi perjalanan hidup kita.

Satu hal yang terkesan klise namun ini penting bagi hidup kita yaitu membuat resolusi. Ketika kita bisa melihat hal-hal yang baik dan buruk di tahun ini, mencatat setiap achievement dan losing, kita juga bisa mulai menyusun goals atau tujuan untuk tahun yang akan datang. Membuat daftar hal-hal apa saja yang harus di tinggalkan, diperbaiki dan diperbarui. Hal-hal baru yang menjadi target dan purchase kita di masa datang, penting untuk menuliskannya dengan jelas.

"Forget the mistake that you have made, but don't forget the lesson you learned" (Lupakan kesalahan yang telah dibuat tetapi jangan lupakan pelajaran yang didapat). Ambillah waktu yang tenang dan rileks sejenak, apapun hasilnya kita patut bersyukur atas semuanya. Nats perenungan hari ini membawa kita pada tujuan hidup yang akan kita jalani selanjutnya. Untuk masuk dalam hidup dan semua kebaikan, berkat, kelimpahan, dan damai sejahtera dengan menuruti perintah Allah. Tuhan rindu memberkati kehidupan kita, hanya saja seringkali Dia terlalu lama menunggu ketaatan dan kesiapan kita.

Rick Warren menulis, "Musuh besar kesuksesan hari esok adalah kesuksesan hari ini". Demikian juga Eleanor Roosevelt mengatakan bahwa masa depan adalah milik mereka yang percaya kepada keindahan mimpi mereka. Mulailah menyusun kaleidoskop Anda dan menjadikannya sebuah "Historical file and precious moment", dan persiapkan resolusi Anda untuk memulai kesuksesan hari depan. Selamat datang tahun 2009!.

Sumber : Renungan Harian Spirit

30 December 2008

Kapur

Ini adalah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun yang lalu di USC ( University of Southern California ). Disana ada seseorang professor filosofi yang mengaku atheis. Tujuan utamanya selama kelas semester adalah berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada

Para mahasiswanya selalu takut untuk berargumentasi dengan dia karena logikanya yang sangat masuk akal. Telah 20 tahun berselang ia mengajar kelasnya dan tidak seorangpun berani menentangnya. Beberapa mahasiswa memang pernah mencoba, tapi tidak seorangpun berhasil karena reputasinya.

Di akhir tiap semester, pada hari terakhir, dia selalu berkata dihadapan 300 orang mahasiswanya, “Bila ada yang masih percaya pada Yesus, silahkan berdiri !!”

Selama 20 tahun, tidak seorang pun yang berani berdiri. Mahasiswanya sudah tahu apa yang akan dilakukan professor tersebut selanjutnya.

Ia akan berkata, “Siapapun yang percaya pada Tuhan adalah seorang yang tolol. Bila Tuhan memang ada, Ia mampu memberhentikan kapur ini jatuh mengenai lantai dan tidak pecah. Contoh sederhana untuk membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, dan memang Ia tidak dapat melakukannya.“

Dan setiap tahun, professor tersebut menjatuhkan kapur ke lantai dan kapur itu pecah menjadi ratusan potongan. Semua mahasiswanya tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dan menyaksikannya. Kebanyakan mahasiswanya terlalu takut untuk berdiri. Beberapa tahun kemudian seorang mahasiswa muda mendaftarkan diri pada kelas professor tersebut.             

Ia adalah seorang Kristen dan sudah mendengar cerita tentang bakal profesornya. Ia wajib mengikuti kelas professor tersebut dan dia merasa gentar menghadapinya. Untuk 3 bulan semesternya, ia berdoa setiap pagi supaya ia dimampukan untuk berdiri, apapun yang akan dikatakan professor dan yang dipikirkan oleh rekan-rekannya. Tidak ada yang dapat melemahkan imannya, ia hanya berharap. Akhirnya hari terakhir itu tiba.

Professor tersebut berkata, “Bila ada diantara Anda yang masih percaya pada Tuhan, silahkan berdiri.”

Professor dan 300 orang mahasiswanya terkejut melihat seorang mahasiswa muda berdiri dibagian belakang kelas. Professor tersebut berteriak, “Anda bodoh!!! Bila Tuhan benar-benar ada Ia akan mampu mencegah kapur ini pecah saat menyentuh lantai ”

Ia bersiap melepaskan kapur yang dipegangnya. Tapi saat ia melepaskannya, kapur tersebut terlepas dari jarinya dan masuk ke lengan bajunya, meluncur terus ke celananya melewati kakinya hingga ke sepatunya. Saat menyentuh lantai kapur tersebut tidak pecah. Kesombongan professor luluh saat ia melihat kapur tersebut. Ia menatap mahasiswa muda tadi dan segera lari dari ruangan kuliah. Mahasiswa yang berdiri tadi, berjalan ke depan kelas dan berbagi iman tentang Yesus selama 30 menit. 300 mahasiswa bertahan dan mendengarkan saat ia menceritakan kasih Tuhan untuk mereka dan Kuasanya melalui Yesus.

29 December 2008

Pengorbanan

Aku bekerja di sebuah gereja di pinggiran kota kami yang kecil. Seorang anak muda bernama Tommy Ghessing selalu termenung dari waktu ke waktu. Aku tidak tahu penyebab cacatnya, mungkin kerusakan otak karena kecelakaan atau karena stroke, tetapi ia mengalami kesulitan untuk berbicara atau berjalan. Walaupun begitu, ia selalu melakukan sesuatu untuk orang lain.

Natal kali ini, aku dan resepsionisku merasa kewalahan dengan pekerjaan kami berdua. Kami baru saja kedatangan seorang gembala baru dan lagi di saat Natal, di gereja pasti banyak pekerjaan tambahan untuk dilakukan oleh para staf di kantor dan di rumah, karena resepsionisku memiliki tiga orang anak remaja. Semakin lama rasanya semakin sulit untuk tetap fokus pada arti Natal yang sesungguhnya.

Tapi, Tommy menolong kami untuk kembali memahami arti Natal. Ada sebuah kelompok sel untuk orang cacat di kota kami dan Tommy tahu kalau tidak ada orang yang melakukan sesuatu yang khusus untuk mereka pada saat Natal. Dia mencoba sendiri untuk membuat Natal yang spesial untuk mereka. Bagaimana caranya?

Tommy sendiri berjalan sendiri dari pintu ke pintu dan mengumpulkan sumbangan untuk mereka. Tommy dengan segala keterbatasannya dan kesulitannya untuk berbicara, menghabiskan seharian untuk mempersiapkan Natal terbaik yang belum pernah terbayangkan oleh orang-orang seharian untuk mempersiapkan Natal terbaik yang belum pernah terbayangkan oleh orang-orang ini. Pengorbanannya adalah seperti kasih Kristus untuk semua orang dan juga menyadarkan kami, apa arti Natal sesungguhnya. Bukan melulu tentang pemberian yang mahal tetapi pemberian dari dirimu sendiri.

Natal tidak selalu tentang pohon Natal, makan malam mewah, kado-kado yang mahal atau bersama-sama orang pergi ke gereja. Natal bisa berarti pemberian sembunyi-sembunyi untuk orang yang tak dikenal, tanpa mengharapkan balasan, itu juga yang dilakukan Yesus dan menjadi penyebab musim ini ada. Ia datang dan memberi tanpa mengharapkan apa-apa. Jadikan saat ini sebagai waktu yang tepat untuk melakukan seperti yang Yesus lakukan. Seperti yang Tommi lakukan, dengan caramu sendiri.

28 December 2008

Humor : Tunjangan

Seorang wanita yang melamar pekerjaan ingin tahu tentang tunjangan dari perusahaan yang dia lamar. Manajer personalia memberitahunya bahwa ia akan mendapat asuransi kesehatan dan jiwa, namun biayanya dipotongkan dari gajinya.

Si wanita bilang, "Perusahaanku yang terakhir memfasilitasiku dengan asuransi kesehatan, lima tahun gaji untuk asuransi jiwa, juga cuti sebulan, dan mereka tidak memotong gajiku untuk hal-hal itu."

"Lalu mengapa Anda keluar dari perusahaan Anda?" tanya si manajer personalia.

Wanita itu mengangkat bahunya dan berkata, "Perusahaan itu bangkrut."

Kartun

ATT38939526 ATT38939519 ATT38939520 ATT38939521 ATT38939522 ATT38939523 ATT38939524 ATT38939525

27 December 2008

Sepatu

Suatu hari seorang Bapak tua hendak menumpang bis di Orchard Road. Pada saat ia menginjakkan kaki kirinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dari kakinya dan jatuh ke jalan. Lalu pintu segera menutup secara otomatis dan bis mulai bergerak, sehingga ia tidak sempat memungut sepatu yang terjatuh tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.

Seorang pemuda yang duduk di dalam bis itu melihat kejadian itu merasa heran. Ia lalu memberanikan diri dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku tadi melihat apa yang anda lakukan, Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelahnya juga?”.

Si Bapak tua menjawab, “Supaya siapapun menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.” Anak muda itu terperanjat.

Si Bapak melanjutkan, “Jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya. Satu sepatu hilang dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagiku. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkannya.”

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kamu bisa melihat bagaimana paradigma Bapak itu merupakan sesuatu yang berbeda dan melawan arus dunia. Jim Elliot, seorang misionaris pernah berkata, “He is no fool who gives what he can’t keep to gain what he can’t lose.” (Bukahlah suatu kebodohan untuk menyerahkan apa yang tidak bisa dipertahankan demi mendapatkan apa yang tidak bisa hilang).

Renungan :
Kita boleh saja mempertahankan sesuatu yang menjadi hak kita, tetapi ada seseorang yang sudah menyerahkan hak-Nya sebagai Anak Allah dan datang ke dunia, mati di atas kayu salib untuk kita. Ia tidak mempertahankan sesuatu yang sebenarnya adalah milik-Nya.

26 December 2008

Fun : Creativeness in photography

image016 image018 image020 image025 image001 image006 image009 image014 image021 image022 image023 image024 image002 image003 image004 image005 image007 image008 image010 image011 image013 image015 image017 image019

Lebih Dari Nafasku

Bapa pegang tanganku
Aku rindu saat teduh bersama-Mu
Dekap aku dalam hangat naungan-Mu
Bawa hidupku pada-Mu
Masuk dalam altar-Mu yang kudus

Bapa pegang tangaku
Aku rindu tinggal di dalam hati-Mu
Engkau terang yang membuatku melihat
Melihat jauh ke dalam keb’naran-Mu Bapa

Lebih dari nafasku Bapa
Kuperlukan kasih-Mu Bapa
Berjalan disamping-Mu Bapa seumur hidupku

Lebih dari nafasku Bapa
Kuperlukan kasih-Mu Bapa
Peganglah tanganku ya Bapa untuk selamanya

Ku Hidup Bagi Mu

Yesus Kau kebenaran yang menyelamatkanku
Kau membrikanku hidup dan pengharapan
Ku turut kehendak-Mu
Ku perlu anugerah-Mu
Kunyatakan janjiku kepada-Mu

Kalau ku hidup, ku hidup bagi-Mu
Hatiku tetap, tetap menyembah-Mu
Dunia tak bisa menjauhkanku dari kasih-Mu

Slama ku hidup, ku hidup bagi-Mu
Mataku tetap, tetap memandang-Mu
Dunia tak bisa menjauhkanku dari kasih-Mu

25 December 2008

Humor : Biar Racun Tidak Menyebar

Dua orang pramuka baru, si Andi dan Doni, mengikuti persami di hutan di temani seorang pembinanya. Saat disuruh mencari kayu bakar, tiba-tiba Andi berlari menghampiri pembinanya yang sedang menyiapkan api unggun.

Andi : "MAS, LAPOR MAS!!!" (sambil setengah berteriak)

Pembina : "Ada apa Andi???"

Andi : "SI DONI DIPATOK ULAR MAS!!!"

Pembina : "APA???!!! Cepat kamu berikan pertolongan pertama, dengan mengikat bagian tubuhnya yang di gigit ular itu dengan tali. Ikatnya yang kencang, biar racunnya tidak menyebar. Saya akan mencari bantuan di warga sekitar.

Kemudian Andi berlari menuju Doni sambil membawa seutas tali pramuka. Tak lama kemudian ia kembali ke pembinanya.

Andi : "MAS, LAPOR MAS!!!"

Pembina : "Tenang saja Andi, seorang dokter sudah menuju kemari."

Andi : "Terlambat mas, si Doni sudah meninggal dunia."

Pembina : "APA??!!! (agak shock mendengarnya) . Apa kamu sudah melakukan pertolongan pertama yang saya suruh???"

Andi : "Sudah mas, bahkan wajahnya sampai biru."

Pembina : "Kok wajahnya sampai membiru."

Andi : "Iya, kan yang digigit tuh lehernya, saya ikat aja pake tali mpe kencang, biar tuh racun nggak menyebar ke kepalanya. Eh si Doni gak lama kemudian malah meninggal."

Pembina : "Busyettt dah...??!!!! "

The perfect RESUME

Address: Ephesians 1:20 / Efesus 1:20

Phone: Romans 10:13 / Roma 10:13

Website: The Bible. Keywords: Christ, Lord, Savior and Jesus

Hello. My name is Jesus -The Christ. Many call me Lord! I've sent you my resume because I'm seeking the top management position in your heart.  Please consider my accomplishments as set forth in my resume.

Qualifications

Occupational Background

Skills Work Experiences

  • Some of my skills and work experiences include: empowering the poor to be poor no more, healing the brokenhearted, setting the captives free, healing the sick, restoring sight to the blind and setting at liberty them that are bruised, (See Luke 4:18 / Lukas 4:18).
  • I am a Wonderful Counselor, (See Isaiah 9:6 / Yesaya 9:6). People who listen to me shall dwell safely and shall not fear evil, (See Proverbs 1:33 / Amsal 1:33).
  • Most importantly, I have the authority, ability and power to cleanse you of your sins, (See I John 1:7-9 / 1 Yohanes 1:7-9)

Educational Background

Major Accomplishments

  • I was an active participant in the greatest Summit Meeting of all times, (See Genesis 1:26 / Kejadian 1:26).
  • I laid down my life so that you may live, (See II Corinthians 5:15 / 2 Korintus 5:15).
  • I defeated the archenemy of God and mankind and made a show of them openly, (See Colossians 2:15 / Kolose 2:15).
  • I've miraculously fed the poor, healed the sick and raised the dead!
  • There are many more major accomplishments, too many to mention here. You can read them on my website, which is located at: www dot - the BIBLE. You don't need an Internet connection or computer to access my website.

References

  • Believers and followers worldwide will testify to my divine healings, salvation, deliverance, miracles, restoration and supernatural guidance

In Summation

Now that you've read my resume, I'm confident that I'm the only candidate uniquely qualified to fill this vital position in your heart. In summation, I will properly direct your paths, (See Proverbs 3:5-6 / Amsal 3:5-6), and lead you into everlasting life, (See John 6:47 / Yohanes 6:47). When can I start? Time is of the essence, (See Hebrews 3:15 / Ibrani 3:15).

Send this resume to everyone you know, you never know who may have an opening! Thanks for your help and may God bless you!

NB : Kalau ada yang salah ngelink ayat2nya, tolong hubungi saya. Terima kasih.. :)

Ulang Tahun Yesus

"Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar" - Yesaya 9:1

Bacaan : Yesaya 9:1-6

Apakah Yesus lahir tanggal 25 Desember? Tidak! Kita membaca bahwa saat Yesus lahir, para gembala "menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam" (Lukas 2:8). Dan, para gembala menggembalakan domba di padang saat malam hari hanya pada musim panas. Padahal, Desember adalah musim dingin. Artinya, kelahiran Yesus pasti terjadi pada bulan-bulan musim panas, meski tak ada yang mengetahui waktunya secara pasti. Tanggal 25 Desember dijadikan hari Natal karena hari itu merupakan perayaan berbaliknya matahari ke belahan bumi utara. Di tengah musim dingin yang gelap, terang muncul; Yesus lahir sebagai Terang Dunia.

Natal bukan perayaan ulang tahun Yesus, melainkan perayaan datangnya Yesus ke dunia sebagai Sang Terang. Kelahiran-Nya membuka babak baru: dunia yang dikuasai kegelapan dosa kini melihat Terang yang besar. Di mana terang hadir, di situ tak ada lagi kegelapan. Apa akibatnya? Pertama, umat manusia dilepaskan dari belenggu dosa yang menekan dan menindas (ayat 3). Kedua, ada damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang dan perseteruan (ayat 4) serta ketidakadilan (ayat 6).

Dua ribu tahun sudah Yesus lahir. Mengapa penindasan, perang, dan ketidakadilan masih ada? Karena masih banyak orang belum membuka hati bagi Sang Terang. Manusia "melihat" Terang itu, tetapi tidak menyambut-Nya, sehingga hatinya masih dikuasai kegelapan. Tugas kita adalah memperkenalkan terang Kristus kepada sesama melalui tindakan kasih. Itulah inti perayaan Natal. Bukan sekadar menyalakan lilin atau pohon terang, melainkan hidup dalam terang dan membawa orang mengenal Sang Terang -JTI

KEGELAPAN HANYA BISA TERUSIR
JIKA TERANG DIPERSILAKAN HADIR

Yayasan Gloria

Selamat Hari Natal!

“Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” - Yohanes 11:25

Saat berjalan memasuki gereja pada pagi Paskah tahun lalu, saya berpapasan dengan seorang teman saya dan menyapanya, “Selamat Natal!”. Namun, setelah menyadari kesalahan saya, saya segera mengoreksi diri sendiri, “Maksud saya, Selamat Paskah!”

“Kita tidak dapat merayakan yang satu tanpa merayakan yang lainnya”, jawabnya dengan tersenyum.

Benar sekali! Tanpa Natal, tidak akan ada Paskah. Dan tanpa kehilangan, hari ini hanyalah hari biasa. Bahkan, bisa jadi kita tidak akan berada di gereja.

Natal dan Paskah merupakan perayaan yang paling menggembirakan bagi umat Kristiani. Pada hari Natal, kita merayakan penjelmaan Allah (Allah mengambil rupa manusia yang datang ke dunia). “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal...” (Yohanes 3:16)

Pada hari Paskah, kita merayakan kebangkitan Yesus. “Ia tidak ada disini, Ia telah bangkit”, kata malaikat (Lukas 24:6). Sejak awal zaman, kedua hari ini berhubungan erat dalam rencana besar Bapa. Yesus lahir untuk mati bagi dosa-dosa kita dan untuk mengalahkan maut agar kita dapat hidup.

Manakah yang lebih penting? Natal, kelahiran bagi Yesus? Atau Paskah, kematian dan kebangkitan Anak Allah? Keduanya sangat penting dan dua-duanya merupakan bukti nyata kasih Bapa bagi kita.

Selamat Natal dan Selamat Paskah!

NATAL DAN PASKAH MERUPAKAN DUA BAB DARI BUKU YANG SAMA

Sumber : Renungan Harian

24 December 2008

Natalie Grant – O Holy Night

Hadiah Natal Terindah

Nasib Egar tidak sebaik hatinya. Dengan pendidikannya yang rendah, pria berumur sekitar 30 tahun itu hanya seorang pekerja bangunan yang miskin.

Dan bagi seseorang yang hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari, Natal tidak banyak berbeda dengan hari-hari lainnya, karenanya apa yang terjadi pada suatu malam natal itu tidak banyak yang diingatnya.

Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yang berlimpah. Tapi di kantong Egar hanya terdapat $10, jumlah yang pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis ke Baldwin, dimana dia mungkin mendapatkan pekerjaan untuk ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.

Maka menjelang malam, ketika lonceng dan lagu-lagu natal terdengar dimana-mana, dan senyum dan salam natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yang akan membawanya ke Baldwin.

Salju turun deras. Suhu jatuh pada tingkat yg menyakitkan dan perut Egar mulai berbunyi karena lapar. Ia melihat jam di stasiun, dan memutuskan untuk membeli hamburger dan kentang goreng ukuran ekstra, karena ia butuh banyak energi untuk memindahkan salju sepanjang malam nanti.

"Lagipula," pikirnya, "sekarang adalah malam natal, setiap orang, bahkan orang seperti saya sekalipun, harus makan sedikit lebih special dari biasanya."

Di tengah jalan ia melewati sebuah bangunan raksasa, dimana sebuah pesta mewah sedang berlangsung. Ia mengintip ke dalam jendela. Ternyata itu adalah pesta kanak-kanak. Ratusan murid taman kanak-kanak dengan baju berwarna-warni bermain-main dengan begitu riang. Orangtua mereka saling mengobrol satu sama lain, tertawa keras dan saling olok. Sebuah pohon terang raksasa terletak di tengah-tengah ruangan, kerlap-kerlip lampunya memancar keluar jendela dan mencapai puluhan mobil-mobil mewah di pekarangan. Di bawah pohon terang terletak ratusan hadiah-hadiah natal dalam bungkus berwarna-warni. Di atas beberapa meja raksasa tersusun puluhan piring-piring yang berisi bermacam-macam makanan dan minuman, menyebabkan perut Egar berbunyi semakin keras.

Dan ia mendengar bunyi perut kosong di sebelahnya. Ia menoleh, dan melihat seorang gadis kecil, berjaket tipis, dan melihat ke dalam ruangan dengan penuh perhatian. Umurnya sekitar 10 tahun. Ia tampak kotor dan tangannya gemetar.

‘Minta ampun nona kecil,’ Egar bertanya dengan pandangan tidak percaya, ’udara begitu dingin. Dimana orangtuamu?’

Gadis itu tidak bicara apa-apa. Ia hanya melirik Egar sesaat, kemudian memperhatikan kembali anak-anak kecil di dalam ruangan, yang kini bertepuk tangan dengan riuh karena Sinterklas masuk ke dalam ruangan.

‘Sayang kau tidak bisa di dalam sana’ Egar menarik napas. Ia merasa begitu kasihan pada gadis itu.

Keduanya kembali memperhatikan pesta dengan diam-diam. Sinterklas sekarang membagi-bagikan hadiah pada anak-anak, dan mereka meloncat ke sana-sini, memamerkan hadiah-hadiah kepada orangtua mereka yang terus tertawa.

Mata gadis itu bersinar. Jelas ia membayangkan memegang salah satu hadiah itu, dan imajinasi itu cukup menimbulkan secercah sinar di matanya. Pada saat yang bersamaan Egar bisa mendengar bunyi perutnya lagi.

Egar tidak bisa lagi menahan hatinya. Ia memegang tangan gadis itu dan berkata ‘Mari, akan saya belikan sebuah hadiah untukmu.’

‘Sungguh?,’ gadis itu bertanya dengan nada tidak percaya.

‘Ya. Tapi kita akan mengisi perut dulu.’

Ia membawa gadis itu diatas bahunya dan berjalan ke sebuah depot kecil. Tanpa berpikir tentang tiket bisnya ia membeli 2 buah roti sandwich, 2 bungkus kentang goreng dan 2 gelas susu coklat. Sambil makan ia mencari tahu tentang gadis itu.

Namanya Ellis dan ia baru kembali dari sebuah toko minuman dimana ibunya bekerja paruh waktu sebagai kasir. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah anak yatim St. Carolus, sebuah sekolah kecil yang dibiayai pemerintah untuk anak-anak miskin. Ibunya baru memberinya sepotong roti tawar untuk makan malamnya. Egar menyuruh gadis itu untuk menyimpan rotinya untuk besok.

Sementara mereka bercakap-cakap, Egar terus berpikir tentang hadiah apa yg bisa didapatnya untuk Ellis. Ia kini hanya punya sekitar $5 dikantongnya. Ia mengenal sopir bis, dan ia yakin sopir itu akan setuju bila ia membayar bisnya kali berikutnya. Tapi tidak banyak toko-toko yang buka disaat ini, dan yang bukapun umumnya menaikkan harga-harga mereka. Ia amat ragu-ragu apakah ia bisa membeli sesuatu seharga $5.

Apapun yang terjadi, katanya pada dirinya sendiri, saya akan memberi gadis ini hadiah, walaupun itu kalung saya sendiri.

Kalung yang melingkari lehernya adalah milik terakhirnya yang paling berharga. Kalung itu adalah 24 karat murni, sepanjang kurang lebih 30 cm, seharga ratusan dollar. Ibunya memberinya kalung itu beberapa saat sebelum kematiannya.

Mereka mengunjungi beberapa toko tapi tak satupun yang punya sesuatu seharga $5. Tepat ketika mereka mulai putus asa, mereka melihat sebuah toko kecil yang agak gelap di ujung jalan, dengan tanda ‘BUKA’ di atas pintu.

Bergegas mereka masuk ke dalam. Pemilik toko tersenyum melihat kedatangan mereka, dan dengan ramah mempersilakan mereka melihat-lihat, tanpa peduli akan baju-baju mereka yang lusuh.

Mereka mulai melihat barang-barang di balik kaca dan mencari-cari sesuatu yang mereka sendiri belum tahu. Mata Ellis bersinar melihat deretan boneka beruang, deretan kotak pensil, dan semua barang-barang kecil yang tidak pernah dimilikinya.

Dan di rak paling ujung, hampir tertutup oleh buku cerita, mereka melihat seuntai kalung. Kening Egar berkerut.

Apakah itu kebetulan, atau natal selalu menghadirkan keajaiban, kalung bersinar itu tampak begitu persis sama dengan kalung Egar.

Dengan suara takut-takut Egar meminta melihat kalung itu. Pemilik toko, seorang pria tua dengan cahaya terang di matanya dan jenggot yang lebih memutih, mengeluarkan kalung itu dengan tersenyum.

Tangan Egar gemetar ketika ia melepaskan kalungnya sendiri untuk dibandingkan pada kalung itu.

‘Yesus Kristus,’ Egar mengguman, ’begitu sama dan serupa.’

Kedua kalung itu sama panjangnya, sama mode rantainya, dan sama bentuk salib yang tertera diatas bandulnya. Bahkan beratnyapun hampir sama. Hanya kalung kedua itu jelas kalung imitasi. Dibalik bandulnya tercetak: ‘Imitasi : Tembaga’.

‘Samakah mereka?’ Ellis bertanya dengan nada kekanak-kanakan. Baginya kalung itu begitu indah sehingga ia tidak berani menyentuhnya. Sesungguhnya itu akan menjadi hadiah natal yang paling sempurna, kalau saja……kalau saja…….

“Berapa harganya, Pak?” tanya Egar dengan suara serak karena lidahnya kering.

“Sepuluh dollar.” kata pemilik toko.

Hilang sudah harapan mereka. Perlahan ia mengembalikan kalung itu. Pemilik toko melihat kedua orang itu berganti-ganti, dan ia melihat Ellis yang tidak pernah melepaskan matanya dari kalung itu. Senyumnya timbul, dan ia bertanya lembut “Berapa yang anda punya, Pak ?”

Egar menggelengkan kepalanya “Bahkan tidak sampai $5.”

Senyum pemilik toko semakin mengembang “Kalung itu milik kalian dengan harga $4.”

Baik Egar maupun Ellis memandang orang tua itu dengan pandangan tidak percaya.

“Bukankah sekarang hari Natal?” Orang tua itu tersenyum lagi, “Bahkan bila kalian berkenan, saya bisa mencetak pesan apapun dibalik bandul itu. Banyak pembeli saya yang ingin begitu. Tentu saja untuk kalian juga gratis.”

“Benar-benar semangat natal.” Pikir Egar dalam hati.

Selama 5 menit orang tua itu mencetak pesan berikut dibalik bandul : “Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas”

Ketika semuanya beres, Egar merasa bahwa ia memegang hadiah natal yang paling sempurna seumur hidupnya.

Dengan tersenyum Egar menyerahkan $4 pada orang tua itu dan mengalungkan kalung itu ke leher Ellis. Ellis hampir menangis karena bahagia.

“Terima kasih. Tuhan memberkati anda, Pak. Selamat Natal.” kata Egar kepada orang tua itu.

“Selamat natal teman-temanku.” Jawab pemilik toko, senantiasa tersenyum.

Mereka berdua keluar dari toko dengan bahagia. Salju turun lebih deras tapi mereka merasakan kehangatan didalam tubuh. Bintang-bintang mulai muncul di langit, dan sinar2 mereka membuat salju di jalan raya kebiru-biruan. Egar memondong gadis itu di atas bahunya dan meloncat dari satu langkah ke langkah yang lain.

Ia belum pernah merasa begitu puas dalam hidupnya. Melihat tawa riang gadis itu, ia merasa telah mendapat hadiah natal yang paling memuaskan untuk dirinya sendiri. Ellis, dengan perut kenyang dan hadiah yang berharga di lehernya, merasakan kegembiraan natal yang pertama dalam hidupnya.

Mereka bermain dan tertawa selama setengah jam, sebelum Egar melihat jam di atas gereja dan memutuskan bahwa ia harus pergi ke stasiun bis. Karena itu ia membawa gadis itu ketempat dimana ia menemukannya.

“Sekarang pulanglah, Ellis. Hati-hati dijalan. Tuhan memberkatimu selalu.”

“Kemana anda pergi, Pak ?” tanya Ellis pada orang asing yg baik hati itu.

“Saya harus pergi bekerja. Ingat sedapat mungkin bersekolahlah yang rajin. Selamat natal, sayang.”

Ia mencium kening gadis itu, dan berdiri. Ellis mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang kecil, tersenyum dan berlari-lari kecil ke asramanya. Kebahagiaan yang amat sangat membuat gadis kecil itu lupa menanyakan nama teman barunya. Egar merasa begitu hangat didalam hatinya. Ia tertawa puas, dan berjalan menuju ke stasiun bis. Pengemudi bis mengenalnya, dan sebelum Egar punya kesempatan untuk bicara apapun, ia menunjuk salah satu bangku yg masih kosong.

“Duduk di kursi kesukaanmu, saudaraku, dan jangan cemaskan apapun. Sekarang malam natal.”

Egar mengucapkan terima kasih, dan setelah saling menukar salam natal ia duduk di kursi kesukaannya. Bis bergerak, dan Egar membelai kalung yang ada di dalam kantongnya. Ia tidak pernah mengenakan kalung itu di lehernya, tapi ia punya kebiasaan untuk mengelus kalung itu setiap saat.

Dan kini ia merasakan perbedaan dalam rabaannya. Keningnya berkerut ketika ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya, dan membaca sebuah kalimat yang baru diukir dibalik bandulnya : “Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas”

Saat itu ia baru sadar bahwa ia telah keliru memberikan hadiah untuk Ellis……

Selama 12 tahun berikutnya hidup memperlakukan Egar dengan amat keras. Dalam usahanya mencari pekerjaan yang lebih baik, ia harus terus menerus berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Akhirnya ia bekerja sebagai pekerja bangunan di Marengo, sekitar 1000 km dari kampung halamannya. Dan ia masih belum bisa menemukan pekerjaan yang cukup baik untuk makan lebih dari sekedar makanan kecil atau kentang goreng.

Karena bekerja terlalu keras di bawah matahari dan hujan salju, kesehatannya menurun drastis. Bahkan sebelum umurnya mencapai 45 tahun, ia sudah tampak begitu tua dan kurus. Suatu hari menjelang natal, Egar digotong ke rumah sakit karena pingsan kecapaian.

Hidup tampaknya akan berakhir untuk Egar. Tanpa uang sepeserpun di kantong dan sanak famili yg menjenguk, ia kini terbaring di kamar paling suram di rumah sakit milik pemerintah. Malam natal itu, ketika setiap orang di dunia menyanyikan lagu2 natal, denyut nadi Egar melemah, dan ia jatuh ke dalam alam tak sadar.

Direktur rumah sakit itu, yg menyempatkan diri menyalami pasien-pasiennya, sedang bersiap-siap untuk kembali ke pesta keluarganya ketika ia melihat pintu gudang terbuka sedikit.

Ia memeriksa buku di tangannya dan mengerutkan keningnya. Ruang itu seharusnya kosong. Dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu dan menyalakan lampu. Hal pertama yg dilihatnya adalah seorang tua kurus yang tergeletak diatas ranjang, disebelah sapu-sapu dan kain lap. Tapi perhatiannya tersedot pada sesuatu yang bersinar suram di dadanya, yang memantulkan sinar lampu yang menerobos masuk lewat pintu yang terbuka.

Dia mendekat dan mulai melihat benda yang bersinar itu, yaitu bandul kalung yang sudah kehitam-hitaman karena kualitas logam yang tidak baik. Tapi sesuatu pada kalung itu membuat hatinya berdebar. Dengan hati-hati ia memeriksa bandul itu dan membaca kalimat yang tercetak dibaliknya.

“Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas”

Air mata turun di pipi Ellis. Inilah orang yang paling diharapkan untuk bertemu seumur hidupnya. Inilah orang yang membuat masa kanak-kanaknya begitu tak terlupakan hanya dengan 1 malam saja, dan inilah orang yang membuatnya percaya bahwa sesungguhnya Sinterklas memang ada di dunia ini.

Dia memeriksa denyut nadi Egar dan mengangguk. Tangannya yang terlatih memberitahu harapan masih ada. Ia memanggil kamar darurat, dan bergerak cepat ke kantornya. Malam natal yang sunyi itu dipecahkan dengan kesibukan mendadak dan bunyi detak langkah-langkah kaki puluhan perawat dan dokter jaga.

“Jangan kuatir, Pak…. Siapapun nama anda. Ellis disini sekarang, dan Ellis akan mengurus Sinterklasnya yang tersayang.”

Dia menyentuh kalung di lehernya. Rantai emas itu bersinar begitu terang sehingga seisi ruangan terasa hangat walaupun salju mulai menderas diluar.

Ia merasa begitu kuat, perasaan yang didapatnya tiap ia menyentuh kalung itu. Malam ini dia tidak harus bertanya-tanya lagi karena ia baru saja menemukan orang yang memberinya hadiah natal yang paling sempurna sepanjang segala jaman……….

Selamat Natal!

Mukjizat Natal

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" - 2Korintus 5:17

Bacaan : Lukas 2:8-20

Natal 2004 adalah natal pertama saya di China (ketika studi di sana). Natal pertama tanpa keluarga; tanpa pohon Natal; tanpa kebaktian Natal; tanpa kartu Natal; tanpa lagu Natal; bahkan tanpa libur natal! Namun, di tengah keadaan demikian, saya justru menemukan makna Natal yang sejati. Pada tanggal 24 Desembersahabat saya dibaptis; dan saya berkesempatan melihat sebuah hidup yang sungguh diubahkan oleh Kristus. Sejak sahabat saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, ia telah banyak berubah-dari orang yang keras menjadi orang yang lembut hati; dari orang yang tak memiliki hubungan dengan Tuhan, menjadi orang yang bergaul erat dengan Dia.

Ketika itu barulah saya sadar bahwa inilah arti Natal. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dan mengubah hidup mereka-menjadikan hidup yang tak berarti menjadi berarti. Demikian pula mukjizat Natal pertama yang dialami para gembala. Mereka hidup biasa-biasa saja, tetapi sebuah berita dari malaikat mengubahkan hidup mereka. "Telah lahir bagimu Juru Selamat" (ayat 11). Bukan bagi orang lain, tetapi bagimu. Mereka pun menemui bayi Yesus lalu pulang sambil memuji-muji Allah (ayat 20).

Natal tak akan berarti sebelum kita bertemu dengan Kristus. Dan, mukjizat natal adalah ketika seseorang tersesat dapat bertemu dengan Sang Juru Selamat-Juru Selamat yang lahir baginya. Sudahkah Anda mengalami Kristus lahir di hati Anda? Sudahkah Anda mengalami perubahan hidup karena-Nya? Jika belum, Dia rindu melakukannya hari ini -GS

NATAL TERINDAH TERJADI
KETIKA YESUS LAHIR DI HATI YANG HANCUR

Yayasan Gloria

23 December 2008

Kekuatan Doa

Aku dan suamiku merasa letih pada hari Natal itu. Sebagai dosen, kami telah menyerahkan nilai-nilai semester sebelumnya pada musim gugur. Kami segera menyiapkan beberapa kopor dan mengajak anak-anak untuk mengadakan perjalanan ke rumah kakek dan nenek mereka di California. Suamiku, David, tergores jarinya ketika menutup kopor. Jarinya tak berdarah dan ia pun tak menghiraukannya. Ketika kami akan berangkat, ayahku menelepon dan mengatakan bahwa ibunya atau nenekku baru saja meninggal dunia. Pemakamannya segera setelah hari Natal.

Pada malam Natal, David mengatakan bahwa dia merasa sakit di bawah lengannya. Tetapi ia berpikir bahwa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Selanjutnya, kami berkumpul dan membuka sumbangan simpati bersama anak-anak kami dan orang-orang yang datang pada acara pemakaman. Tiba-tiba, David gemetar dan harus berbaring ketika hadiah terakhir dibuka. Dua hari berikutnya, David memburuk. Badannya terasa sakit, terutama lengannya. Ia hampir tidak dapat menahan rasa sakitnya dan akhirnya muntah-muntah. Aku menelpon dokter kami di Utah. Menurut dokter, David mungkin terserang influenza. Pada Selasa pagi, aku merasa bahwa David bisa ditinggalkan selama satu jam. Kami pergi ke gereja untuk pemakaman nenek. Lagipula, aku ikut berbicara pada acara pemakaman itu. David bisa mengurus dirinya untuk beberapa saat.

Acara pemakaman itu bisa menjadi reuni yang hangat dengan saudara-saudaraku. Aku adalah cucu perempuan yang paling tua sehingga aku berbicara mewakili semua cucu perempuan. Nenek meninggal dunia pada usia 94 tahun. Menurutku, ia mempunyai hidup yang panjang dan produktif. Para wanita dari keluarga Waite adalah pribadi-pribadi yang kuat. Ketika aku duduk, seorang tetangga memberiku sebuah kertas berisi pesan singkat yang dikirim oleh gereja bahwa suamiku telah dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.

Ketika aku tiba di rumah sakit, aku mendapatkan David di ambang kematian. Ia hampir tidak sadar. Tetapi ia cukup sadar untuk merasakan sakit yang hebat. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia mengatakan kepadaku bahwa badannya mulai membeku beberapa saat setelah kami meninggalkannya. Ia merasakan ada suara yang memperingatkannya, “Anda memerlukan ambulans sekarang.” Setelah mendengarkannya beberapa kali, ia merangkak ke telepon dan memutar 911. Operator berusaha agar David tetap sadar dan berbicara. Tetapi David akhirnya meletakkan telepon. Ia merangkak ke pintu depan dan membuka kuncinya. Kemudian, ia berbaring di sofa. Paramedis menemukannya dalam keadaan hampir tidak sadar dengan denyut nadi yang tak dapat dideteksi. Akhirnya, mereka melarikannya ke rumah sakit.

Beberapa tes dilakukan, termasuk di dalamnya tes dengan sinar X dan USG. Para dokter bingung karena mereka tak dapat mendiagnosis masalahnya. Ketika selesai menjalankan pemeriksaan MRI, ia memperlihatkan suatu tanda berwarna hitam keunguan di salah satu sisi badannya. “Apakah ia mabuk di jalan kecil semalam? Apakah seseorang menendangnya?” mereka bertanya. Aku meyakinkan mereka bahwa itu bukan penyebabnya. Para dokter memanggilku setelah mereka berdiskusi selama beberapa menit lagi.

“Kami rasa, kami tahu penyebabnya. Ini mungkin “necrotizing fasciitis”, atau lebih dikenal sebagai bakteri pemakan daging. Apakah Anda pernah mendengarnya?”

“Tidak”, jawabku.

“Ini adalah bakteri yang mematikan. Kami akan mengoperasinya dan membedahnya dari pergelangan tangan ke paha. Ini untuk mendeteksi jaringan yang terinfeksi. Penyakit ini sangat jarang terjadi. Bakterinya mungkin masuk ke dalam tubuhnya lewat luka. Apakah ia pernah mengalami luka di jari atau lengannya akhir-akhir ini?”

“Jarinya luka terkena resleting ketika ia menutup kopor, hanya itu.”

“Ini bakteri biasa, tetapi badan kita seharusnya bisa melakukan perlawanan. Karena sesuatu hal, bakteri ini telah menyerang suamimu. Ia mempunyai kesempatan hidup 5 - 10% untuk melewatinya. Penyakitnya sangat parah. Ia akan tampak seperti digigit ikan hiu setelah kami selesai membedahnya.”

Aku tahu bahwa persentase kesempatan hidup itu adalah cara lain untuk mengatakan bahwa suamiku mungkin akan meninggal. “Menurutku, kesempatan hidup 10% itu tetap berharga. Marilah kita mempertahankan hidupnya. Marilah kita menyelamatkannya,” jawabku. Semua anak kami masuk ke dalam ruangan untuk mendoakan kesembuhan bagi ayah mereka. Di serambi rumah sakit, para perawat membawakan kursi dan jus buat kami agar kami tidak pingsan. Kami semua kaget karena David kelihatan dalam keadaan sehat. Ternyata, ia di ambang maut karena suatu penyakit yang amat berbahaya. Saat itu, dia dalam keadaan setengah sadar. Sebelum dioperasi, aku membisikkan sesuatu kepadanya, “Pilihlah hidup, David. Pilihlah hidup.”

Aku juga tahu bagaimana cara memperbesar kemungkinan. Aku mengumpulkan keluargaku di ruang tunggu kamar operasi. Kebetulan, ruang tunggu itu kosong. Kami segera berlutut dan berdoa bersama. Aku berkata, “Bapa kami yang di surga, dokter-dokter tidak tahu apa yang diderita David, tetapi Kau tahu. Mereka tak tahu bagaimana menyembuhkannya, tetapi Kau tahu. Berkatilah mereka sehingga mereka tahu bagaimana menyelamatkan tubuh David. Biarlah kehendak-Mu yang terjadi.” Kalimat yang terakhir ini sulit diucapkan. Tetapi itu harus kuucapkan karena aku tidak boleh memerintah Tuhan.

Kemudian, aku masuk ke sebuah ruang kantor yang dikosongkan. Atas izin rumah sakit, aku melakukan telepon jarak jauh ke beberapa orang, yakni orang tua David, pendeta jemaat gereja kami, teman baikku Beth, dan kepala bagian bahasa Inggris universitas. Aku memohon agar mereka menelpon orang-orang yang kami kenal dan meminta orang-orang tersebut agar berdoa bagi David: “Dua jam setelah ini sangat menentukan hidup suamiku. Tolong doakan dia. Aku percaya akan mukjijat dan kuasa doa.” Hari itu, ratusan teman kami sedang berdoa untuk David.

Para dokter ahli bedah muncul beberapa jam berikutnya dengan membawa berita baik. Ternyata, bakteri belum menyebar seperti yang mereka duga sebelumnya. Dan, David tetap hidup. Kami bersorak dan merasa seakan-akan doa-doa kami telah terjawab. Tetapi David masih dalam keadaan sangat sakit dan tetap berada di ambang kematian. Saat itu, ada sebuah tim yang beranggotakan dua belas dokter. Mereka mempunyai spesialisasi yang berlainan. Mereka memberitahu kami bahwa bakteri strep A sedang menggerogoti kulit David serta lapisan-lapisan jaringan dan otot. Infeksinya menjalar dengan kecepatan satu inci per jam. Dokter-dokter melakukan operasi besar setiap hari. Mereka memotong jaringan yang mati atau yang terinfeksi. David diletakkan di dalam ruang “hyperbaric” selama beberapa jam setiap hari. Ruang ini bertekanan dan mempunyai daya gravitasi lebih berat daripada yang ada dalam sistem tubuh. Ruang ini diisi penuh dengan 100% zat asam. Tekanannya dinaikkan agar zat asam dapat langsung masuk ke dalam sel-selnya. David bertahan hidup dua hari lagi.

Ternyata keadaannya tidak mengalami kemajuan. Ahli bedah utama berbicara kepadaku secara jujur. “Aku mempunyai perasaan tak enak mengenai hal ini,” katanya memperingatkan. “Menurutku, bakteri-bakteri itu telah menjalar ke leher dan jantungnya.” Aku pulang dengan keyakinan bahwa kematian David akan segera tiba. Aku harus berpikir untuk merelakan kepergiannya. Sepanjang malam itu, aku mencoba berdoa untuk kehidupan David. Aku juga mencoba untuk keluar dari kegelapan yang menyelumutiku. Setelah itu, aku kembali ke rumah sakit. Aku siap untuk mengucapkan selamat jalan kepada David bila itu yang dikehendaki Tuhan. Tapi aku kaget ketika mendengar berita dari ahli bedah bahwa keadaan David berubah menjadi lebih baik. Badannya mulai bisa memerangi bakteri.

Siang itu, ahli bedah memberitahuku bahwa ia mendatangkan seseorang untuk mengamputasi lengan David. David telah kehilangan sebagian besar kulit dan ototnya. “Tetapi, David seorang pemain piano,” Aku memprotes. “Bila Anda ada di ruang bedah, mohon diingat bahwa David adalah seorang pemain piano.” Di rumah, kami memutuskan untuk berdoa, terutama untuk lengannya. Terus terang, aku belum pernah berdoa untuk suatu bagian tubuh tertentu. Setiap hari selama seminggu, para ahli bedah datang dan mereka bersiap utnuk mengamputasi lengannya. Namun, mereka memutuskan untuk membiarkannya karena lengan itu masih mempunyai beberapa jaringan yang sehat. Meskipun demikian, penyakit ini telah menggores urat saraf utama. Kalaupun tidak diamputasi, para dokter memprediksi bahwa lengan David akan lemah.

Beberapa hari kemudian, David dapat menggerakkan jari dan tangannya. “Nah, kelihatannya Anda dapat menggerakannya, tetapi bermain piano masih diragukan. Anda pun harus melupakan untuk bermain tenis“, ahli bedah mengatakan kepadanya. “ “Lagipula, andaikata Anda tiba di lapangan tenis, Anda akan bermain seperti orang yang sudah tua.” David penuh semangat karena telah mendapatkan hidupnya kembali. Ia segera menantang ahli bedah untuk bermain tenis bila ia sudah sembuh.

David hidup. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, ia kehilangan hampir 50% dari kulit di bagian atas tubuhnya. Para dokter mengganti kulit itu dengan cangkokan kulit yang diambil dari pahanya sampai tertutup oleh kulit yang baru. Akhirnya, ia meninggalkan rumah sakit dan pulang dengan perayaan besar. Ketika kami tinggal berdua, aku dan David saling memandang dan memutuskan untuk mencoba bermain piano di rumah. Menurutku, bila iadapat bermain beberapa nada, aku akan menganggap itu sebagai suatu keberhasilan. Dengan kekhawatiran, David meletakkan kedua tangannya di deretan tuts piano. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah jari-jarinya dapat bekerja? Apakah ketrampilannya hilang untuk selamanya? Aku menahan nafas. David mulai bermain. Secara luar biasa ia masih dapat memainkan piano dengan sangat indah. Ia menggubah sebuah karya musik saat itu.

Tetapi itu bukan akhir dari kemajuan David. Dari Natal itu sampai ke Natal berikutnya, David menjalani terapi fisik untuk mengembalikan kelenturan di dada, punggung, dan lengannya. Ketika Natal berikutnya hampir tiba, kami memutuskan untuk mengunjungi orang tuaku di masa liburan. Ini untuk membuktikan kepada mereka bahwa kami dapat berlibur tanpa tanpa seorang pun yang sakit atau masuk rumah sakit. Dengan semangat tinggi, David menelpon ahli bedahnya dan mengingatkannya tentang tantangan untuk bermain tenis. Si ahli bedah senang mendengarkan tantangannya. Pada malam Natal, David dan dokternya bertemu di sebuah lapangan tenis. Mereka bermain ganda melawan sepasang dokter lainnya. Ahli bedahnya bersorak setiap kali David memukul bola. Ia memanggil dokter-dokter lain ke jaring net untuk memperlihatkan bekas-bekas dan cangkokan kulit di sekujur tubuhnya. Pada akhir permainan, David dan ahli bedahnya menang 40-0.

Meskipun tahun itu merupakan tahun yang sangat sulit bagi kami, masa itu merupakan masa yang kudus. Keluarga kami mengalami tiga mukjijat melalui cinta dan doa-doa ratusan orang di sekeliling kami. David hidup, ia tetap mempunyai kedua lengannya, serat ia dapat bermain tenis dan memainkan sonata-sonata Beethoven.

Aku mendapati bahwa sebagian besar doa permohonanku telah berubah menjadi doa ucapan syukur.

Kiriman: Lanita Winata
Diambil dari “KISAH” Edisi 49, 10 Desember 2007

Sumber : Reflecta

Humor : Penjaga Palang

Suatu malam, kereta api yang sedang melewati persimpangan menabrak sebuah mobil. Sang penjaga palang pintu kereta dihadapkan ke pengadilan.

Di pengadilan, sang penjaga palang ngotot mengatakan bahwa dia sudah memperingatkan mobil itu dengan mengayun-ayunkan lampu senter ke arah mobil itu berkali-kali selama hampir satu menit. Bahkan di depan sidang, dia berdiri memeragakan bagaimana lampu senter itu diayun-ayunkannya.

Akhirnya dia dibebaskan dari hukuman. Pengacaranya segera memujinya karena peragaannya di depan sidang itu meyakinkan hakim bahwa dia sudah bertindak benar.

"Uiiihhh ..., padahal saya sudah deg-degan setengah mati waktu disidang tadi," kata sang penjaga palang.

"Mengapa?" tanya si pengacara

"Untung saja waktu itu Hakim ngga bertanya apa lampu senternya aku dihidupin atau ngga ...!" jawab si penjaga palang agak sedikit gemetar.

Fokus Natal

"Mereka masuk ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas" - Matius 2:11

Bacaan : Matius 2:1-12

Seorang ibu tengah menyusun daftar hadiah Natal buat para kerabat dan sahabat keluarga. Anaknya yang berumur tujuh tahun duduk di sampingnya dan asyik memerhatikan. "Nak, Ibu sudah menyusun daftar nama penerima hadiah Natal kita. Coba kamu lihat, apakah ada nama yang lupa Ibu tulis?" tanyanya. Si anak menyimak daftar nama yang ditulis ibunya dengan teliti. "Ibu lupa mencatumkan nama Yesus," sahutnya kemudian.

Sebetulnya sangat ironis ketika Natal tidak lagi berfokus pada Kristus. Bukankah Natal adalah peringatan akan hari kedatangan-Nya? Sayangnya, yang kerap terjadi sekarang adalah orang-orang malah sibuk dengan kepentingan dan kesenangannya sendiri, sehingga pertanyaan yang muncul bukan, "Apa yang bisa aku berikan buat Sang Bayi Kudus?", melainkan, "Hadiah apa yang akan aku dapat? Mau shopping ke mana? Bisnis apa lagi yang bisa aku garap?". Fokusnya adalah "aku", bukan Kristus.

Di gereja pun demikian. Orang begitu sibuk dengan berbagai persiapan acara, hingga tidak jarang orang saling berkelahi. Kita lupa untuk duduk tenang dan bertanya, "Apakah memang ini yang Kristus inginkan sebagai peringatan atas kelahiran-Nya?" Tidak heran kalau kemudian Natal berlalu tanpa makna. Hanya sebuah rutinitas. Tidak mengubah atau memperbarui apa-apa.

Hari ini kita kembali membaca kisah para Majus. Mereka datang ke Betlehem dari negeri yang jauh; melewati berbagai rintangan dan bahaya; membawa hadiah-hadiah bermakna untuk Kristus. Fokus mereka adalah: menyembah Kristus, bukan menuruti keinginan atau kepentingan sendiri -AYA

NATAL HARUS BERFOKUS PADA KRISTUS
SEBAB NATAL ADALAH PESTA-NYA, BUKAN PESTA KITA

Yayasan Gloria

22 December 2008

Humor : Persembahan

Pada hari Minggu seorang Bapak memberi anak laki-lakinya uang seribuan dan limaratusan.

"Masukkan uang seribuan ini dalam kantong persembahan, " kata ayahnya.

"Lalu kamu gunakan uang limaratusan ini buat jajan."

Ketika anak itu pulang, ditangannya masih tergenggam uang seribuan.

"Mengapa kamu tidak memasukkan uang seribuan itu dalam kantong persembahan? " tanya ayahnya.

Anak itu menjawab, "Guruku mengatakan bahwa Allah mengasihi orang yang memberi dengan suka cita.

Aku lebih bersuka cita untuk memasukkan uang limaratusan dalam kantong persembahan daripada uang seribuan."

Alasan Untuk Memberi

Saya sudah terlalu tua untuk mengingat masa Depresi Besar yang terjadi pada tahun 30-an. Selama beberapa tahun keluarga kami tidak memiliki mobil, saluran ledeng, ataupun listrik. Namun kami memiliki sebuah rumah, sebuah mata air di dekat situ, kamar mandi di luar rumah, kayu bakar, pakaian, dan makanan yang cukup. Miskinkah kami? Tidak, menurut standar waktu itu.

Namun untuk standar waktu sekarang kami pasti dianggap miskin dengan keadaan seperti itu. Berapa banyak uang yang harus dimiliki seseorang agar dianggap kaya? Dan berapa banyak uang yang harus diberikan seseorang agar dianggap dermawan?

Sangat sulit menjawabnya, bukan? Sebenarnya, tidak ada jawaban yang tepat untuk kedua pertanyaan itu. Rasul Paulus tidak membuat peraturan tentang seberapa besar seseorang harus memberi, dan juga tidak mengatakan bahwa hanya orang kaya yang harus memberi. Sebaliknya, ia menantang jemaat di Korintus dengan menceritakan kepada mereka tentang orang-orang percaya di Makedonia yang “sangat miskin” namun memberi “melampaui kemampuan mereka,” yakni “memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah” (2 Korintus 8:2-5).

Ia mengingatkan para pembaca suratnya akan Juruselamat mereka, Tuhan Yesus, yang mampu mengubah kemiskinan duniawi menjadi kekayaan surgawi supaya mereka menjadi kaya dalam kehidupan yang kekal. Lepas dari apakah kita merasa diri miskin atau kaya, kasih kita kepada Tuhan seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk bersikap murah hati dalam hal memberi.

Bangku Natal

"Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" - Markus 10:45

Bacaan : Roma 15:1-6

Ketika saya tengah menempuh studi di China, seorang sahabat menceritakan sebuah pengalaman malam Natal di suatu gereja rumah. Sebelum Natal, pendeta di gereja itu mengingatkan jemaat untuk mengundang sebanyak mungkin keluarga dan teman yang belum percaya, agar hadir dalam kebaktian malam Natal. Saat Natal tiba, rumah tempat mereka mengadakan ibadah dibanjiri banyak orang. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali beribadah di gereja. Karena banyak sekali yang datang, bangku yang tersedia tidak mencukupi. Tanpa perlu dikomando, beberapa jemaat yang melihat hal itu segera memberikan bangku mereka. Lalu mereka masuk ke kamar dan berdoa supaya orang yang duduk di bangku mereka mendengar Injil dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Mendengar kisah itu, saya ingat kata Paulus dalam surat Filipi. Bahwa Kristus, sekalipun setara dengan Allah, rela mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:7) ketika datang ke dunia ini. Dia merelakan hak yang sesungguhnya patut Dia nikmati. Dia tidak hendak dilayani, tetapi hendak melayani dan memberikan nyawa-Nya.

Bagaimana dengan kita? Kerap kali Natal kita buat semegah dan semeriah mungkin demi kepuasan diri. Mungkin kita menyisihkan uang untuk kegiatan sosial, tetapi terkadang itu hanya embel-embel dan bukan inti acara Natal. Ini saatnya kita kembali ke berita Natal, yaitu meneladani Allah yang memberi. Merelakan hak-hak kita, agar orang lain dimudahkan untuk mengenal Tuhan. Kita dapat segera memulainya, bahkan dari hal kecil seperti berbagi bangku -GS

ANTARKAN SESAMA UNTUK MENGENAL ALLAH
LEWAT SEGALA CARA YANG DAPAT KITA UPAYAKAN

Yayasan Gloria

21 December 2008

Tuhan Yang Sederhana

"Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar" - Lukas 1:53

Bacaan : Lukas 1:46-55

Ketika Ratu Elizabeth II mengunjungi Amerika Serikat, ia membawa lebih dari seribu delapan ratus kilogram barang. Itu sudah termasuk dua pakaian untuk setiap acara, pakaian berkabung andaikata ada yang meninggal, dua puluh dua liter plasma, dan tempat duduk toilet putih terbuat dari kulit anak kambing. Ia juga membawa penata rambut pribadi, dua pelayan pria, dan sejumlah pegawai lain. Kunjungan singkat seorang ratu ke negara asing itu menghabiskan dana dua puluh juta dolar.

Memang pantas bila pembesar bepergian, banyak persiapan dilakukan. Namun, perhatikanlah bagaimana Yesus "berkunjung" ke bumi. Dia tidak lahir di istana. Sebaliknya, Dia terdampar di sebuah kandang. Dia hadir sebagai bayi yang bergantung sepenuhnya pada perawatan suami-istri muda yang masih canggung; dan golongan yang pertama menyambut-Nya hanyalah para gembala.

Tentang kesederhanaan Kristus ini, Philip Yancey dalam bukunya Bukan Yesus yang Saya Kenal menulis, "Saat saya membaca kisah kelahiran Yesus, saya tidak bisa tidak menyimpulkan bahwa walaupun dunia mungkin lebih mementingkan mereka yang kaya dan berkuasa, Allah lebih mementingkan mereka yang hidup sangat sederhana". Kelahiran dan kehidupan-Nya menggambarkan perhatian Allah pada mereka yang tertindas.

Di tengah perayaan Natal yang cenderung meriah dan mewah, kita ditantang untuk menangkap semangat kesederhanaan Kristus. Terlebih saat-saat ini, ketika kondisi perekonomian nasional sedang sulit dan banyak orang kurang beruntung. Natal membuka kesempatan bagi kita untuk berbagi dan mengulurkan tangan -ARS

DENGAN KESEDERHANAAN-NYA, YESUS KRISTUS MENAWARKAN PEMBEBASAN BAGI MEREKA YANG TIDAK BERDAYA

Yayasan Gloria

Humor : Gantian

Dua orang pria tua sedang duduk di sebuah restoran dan memesan makanan.

Pelayan : "Anda berdua ingin memesan apa?"

Pria tua pertama : "Saya ingin makan Chicken Steak."

Pria tua kedua : "Dan saya ingin segelas orange juice."

Setelah pesanan tersaji di meja mereka, pria tua pertama langsung menyantap makanannya dan pria tua kedua langsung meminum juice pesanannya. Setelah selesai makan dan minum, pria tua pertama memanggil pelayan.

Pelayan : "Anda ingin memesan apa lagi, Pak?"

Pria tua pertama : "Saya ingin segelas orange juice dan teman saya ini ingin makan Chicken Steak."

Pelayan : "Lho, kenapa tadi tidak sekalian pesan dua Chicken Steak dan dua gelas orange juice?"

Pria tua pertama : "Itu karena kami berdua hanya punya satu set gigi palsu ... jadi, ya ... harus gantian memakainya."

20 December 2008

Domba Yang Berdoa

Nats : Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya (Yohanes 14:14)

Bacaan : Yakobus 1:1-8

Dua anak yang memakai kostum domba dalam drama Natal di Gereja Kaw Prairie Community di De Soto, Missouri, memiliki peran yang istimewa. Ketika Murphy, tokoh utama dalam drama tersebut, menemui masalah, domba-dombanya (Maria dan Luke) naik ke panggung untuk mengingatkan apa yang harus dilakukan. Yang satu membawa papan bertuliskan: "Berdoa." Yang lain membawa papan bertuliskan: "Saja."

Kita semua pernah menghadapi berbagai situasi ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, atau tidak ada yang bisa kita lakukan. Saat kita sedang menghadapi kesukaran, mungkin kita tidak ingin mendengar seseorang yang tidak serius berkata, "Berdoa saja!" Jawaban itu sepertinya terlalu sederhana dan bahkan bisa menyinggung perasaan jika diucapkan secara sembrono.

Akan tetapi, jawaban sederhana "Berdoa saja" adalah suatu hal yang benar-benar perlu kita lakukan. Pada zaman gereja mula-mula, Yakobus menulis kepada orang-orang percaya yang sedang menghadapi pencobaan, yaitu berbagai masalah yang tidak pernah dialami kebanyakan dari kita: dirajam, dipenjara, dan dianiaya karena iman mereka. Ia menyuruh mereka memohon hikmat dan penghiburan dari Allah agar bisa bertahan menghadapi berbagai pencobaan itu: "Hendaklah ia memintanya kepada Allah -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit -- maka hal itu akan diberikan kepadanya" (Yakobus 1:5).

Ketika Anda menghadapi masalah, ingatlah petunjuk sederhana dari domba tadi untuk "Berdoa saja" dan bicarakan masalah itu dengan Allah. Dia akan memenuhi kebutuhan Anda --AMC

TAK ADA PERMOHONAN YANG TERLALU BESAR
ATAU TERLALU KECIL UNTUK DIBAWA KEPADA ALLAH

Yayasan Gloria

Arsip Weekend Scripture – Amsal 10:4

"Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya." - Amsal 10:4

Malaikat

Suatu hari seorang bayi akan lahir, kemudian dia bertanya kepada Tuhan :

"Mereka mengatakan bahwa Engkau akan mengirimkan aku ke bumi besok tapi bagaimana aku dapat hidup disana jika aku begitu kecil dan tidak berdaya?"

"Aku memilih satu malaikat untukmu. Dia akan menunggumu dan akan menjagamu."

"Tapi di Surga, aku tidak melakukan apapun selain menyanyi dan tersenyum, itu sudah cukup untukku menjadi bahagia."

"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kasih dari malaikatmu dan bahagia."

"Dan bagaimana aku mengerti bahasa mereka ketika orang-orang berbicara kepadaku, jika aku tidak tahu bahasa mereka?"

"Malaikatmu akan mengatakan kepadamu kata-kata yang paling indah yang pernah terdengar, dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, malaikatmu akan mengajarkan kepadamu bagaimana kamu berbicara dengan bahasa mereka."

"Dan apa yang harus aku lakukan bila aku ingin berbicara kepada-Mu?"

"Malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana untuk berdoa."

"Aku pernah mendengar bahwa dibumi banyak manusia jahat. Siapa yang akan melindungiku?"

"Malaikatmu akan melingdungimu meskipun itu dengan nyawanya."

"Tapi aku akan selalu bersedih karena aku tidak akan pernah melihat-Mu lagi."

"Malaikatmu akan selalu berbicara kepadamu mengenai Aku dan akan mengajarkan kepadamu bagaimana kamu akan kembali ke aku, sekalipun Aku selalu disampingmu."

Sementara itu di surga begitu damai, tapi suara-suara dari bumi sudah terdengar, dan bayi itu buru-buru bertanya lagi, "Tuhan, jika aku harus pergi sekarang, tolong katakan kepadaku nama malaikatku."

"Nama malaikatmu tidak begitu penting, kamu akan memanggilnya : Ibu."

(author unknown)

Diterjemahkan oleh : Samuel MS

Terjemahan dari : A Child’s Angel

Humor : Jatuh Dari Kuda

Dua sahabat sedang menonton film koboi yang dibintangi Clint Eastwood. Ketika Clint sedang memacu kudanya ke kota tempat bandit-bandit sudah menunggunya, sahabat pertama berkata, "Taruhan, yuk. Dia pasti terjatuh dari kudanya."

"Jangan bodoh. Clint tidak pernah jatuh dari kudanya. Ayo taruhan!"

Ternyata Clint terjatuh. "Apa kataku ...," kata sahabat yang pertama, "soalnya aku sudah pernah menonton film ini."

"Aku juga pernah. Tapi kupikir ..., enggak mungkin dia melakukan kesalahan yang sama kedua kalinya!"

19 December 2008

A Child’s Angel

Once upon a time there was a child ready to be born. So one day he asked God, “They tell me you are sending me to earth tomorrow but how am I going to live there being so small and helpless?”

“Among the many angels, I chose one for you. She will be waiting for you and will take care of you.”

“But tell me, here in Heaven, I don’t do anything else but sing and smile, that’s enough for me to be happy.”

“Your angel will sing for you and will also smile for you everyday. And you will feel your angel’s love and be happy.”

“And how am I going to be able to understand when people talk to me, if I don’t know the language that men talk?”

“Your angel will tell you the most beautiful and sweet words you will ever hear, and with much patience and care, your angel will teach you how to speak.”

“And what am I going to do when I want to talk to you?”

“Your angel will place your hands together and will teach you how to pray.”

“I’ve heard that on earth there are bad men. Who will protect me?”

“Your angel will defend you even if it means risking its life.”

“But I will always be sad because I will not see you anymore.”

“Your angel will always talk to you about me and will teach you the way for you to come back to me, even though I will always be next to you.”

At that moment there was much peace in Heaven, but voices from earth could already be heard, and the child in a hurry asked softly, “Oh God, if I am about to leave now, please tell me my angel’s name.”

“Your angel’s name is of no importance, you will call your angel: Mommy”

(author unknown)

Humor : Kelas Sastra

Di kelas sastra pertamanya pada sebuah universitas, seorang mahasiswa duduk di deretan depan. Si profesor bilang kalau mereka semua harus membaca lima buku, dan ia akan memberikan daftar penulis buku yang bisa mereka pilih untuk dibaca bukunya. Lalu si profesor berjalan ke mimbar, mengambil catatannya dan berkata, "Baker, Black, Brooks, Carter, Cook ...."

Mahasiswa baru itu dengan susah payah berusaha menulis nama-nama yang dikatakan sang profesor sampai seseorang menepuk pundaknya. Mahasiswa yang duduk di belakangnya berbisik, "Dia sedang mengabsen."

18 December 2008

Kasti

Bob dan Tuhan berdiri bersama, mengamati pertandingan kasti. Tim Surga sedang bertanding melawan Tim Neraka. Tim Surga sedang melakukan pukulan, skornya adalah nol nol. Itu adalah saat akhir dari putaran ke sembilan dan sudah dua kali bola keluar. Mereka berdua mengamati ketika Kasih sebagai pemukul berikutnya, menuju ke lapangan. Kasih langsung berhasil memukul bola di lemparan pertama, karena Kasih tidak pernah gagal.

Pemukul berikutnya adalah Iman, yang juga berhasil memukul bola di lemparan pertama, karena Iman bekerja dengan Kasih. Pemukul berikutnya adalah Hikmat. Tim Neraka berusaha curang dalam melempar bola. Ketika Hikmat melihatnya, ia membiarkannya lewat, karena Hikmat tidak menanggapi kecurangan. Tiga kali bola curang dibiarkan dan Hikmat bebas berjalan, karena ia tidak menanggapinya. Sekarang semua kandang sudah terisi.

Tuhan menoleh kepada Bob dan berkata akan memasukkan pemain bintanya-Nya. Maka Kasih Karunia masuk ke lapangan. Bob memandanginya. Kasih Karunia tidak terlihat hebat. Tim Neraka juga memberi tanggapan yang serupa. Mereka semua tenang dan menertawakan Kasih Karunia. Berpikir telah menang, tim neraka melempar bola sekenanya. Di luar dugaan, Kasih Karunia memukul bola lebih keras dari siapapun. Tetapi Tim Neraka tidak kuatir, pemain tengahnya, Penguasa di udara, mengulurkan tangannya. Tetapi bola terus meluncur mengenai kepalanya dan membuatnya terjatuh, lalu Home Run, mereka berhasil memenangkan pertandingan itu. Tim Surga menang.

Tuhan lalu bertanya kepada Bob mengapa Kasih, Iman dan Hikmat bisa mencapai kandang tetapi tidak bisa memenangkan pertandingan itu sendiri. Bob mengaku tidak tahu. Tuhan lalu menjelaskan, “Jika kasihmu, imanmu atau hikmatmu bisa memenangkan pertandingan, maka kamu akan berpikir kalau kamu bisa memenangkannya dengan kekuatanmu sendiri. Tetapi Kasih Karunia menolongmu untuk menyelesaikan semuanya. Kasih Karunia-Ku adalah sesuatu yang tidak bisa dihentikan oleh setan.

Humor : Alamat Email

Tahun ajaran baru selalu memunculkan pertanyaan-pertanya an menarik bagi konsultan komputer di sekolah.

Pertanyaan yang banyak muncul adalah mengenai bagaimana memakai e-mail dan menggunakan internet.

Salah satu anak yang benar-benar lugu, kemarin datang ke kantor konsultasi dan mengeluh karena e-mailnya tidak berfungsi.

Usahanya untuk mendapat tiket secara online dalam sebuah konser di sekolah selalu berujung pada dikembalikannya e-mailnya.

Ia menunjukkan alamat e-mail yang ia tuju. Lalu oleh petugas kantor, ia ditanya dari mana ia mendapat alamat e-mail yang tidak biasa itu.

Ia menjawab, "Dikatakan dalam iklan konser itu: `Dimulai(at) 07.30`."

17 December 2008

Rudolph

Suatu malam di bulan Desember di Chicago, seorang gadis kecil berusia 4 tahun naik ke tempat tidur ayahnya dan berkata, "Papa, kenapa mama tidak seperti mama yang lainnya?"

Bob melihat sekilas ke arah sofa dimana terbaring lemah Evelyn, istrinya yang masih muda, akibat kanker selama 2 tahun. Hampir semua penghasilan dan tabungan ia gunakan untuk pengobatan Evelyn.

Ketika jarinya membelai rambut Barbara, ia berdoa supaya bisa menjawab pertanyaan putrinya. Di apartemennya yang lusuh, ia merangkul putrinya dan membacakan sebuah cerita, "Alkisah ada seekor rusa bernama Rudolph, satu-satunya rusa di dunia yang memiliki hidung besar berwarna merah. Rudolph sangat malu dengan hidungnya yang unik. Rusa yang lain sering menertawakannya, keluarganya pun malu. Di malam natal, Santa Claus bersama tim rusanya bersiap untuk perjalanan setahun sekali keliling dunia. Seluruh komunitas rusa berkumpul untuk menyemangati pahlawan besar mereka sebelum berangkat.

Tapi malam itu kabut tebal menyelimuti bumi dan Santa tahu bahwa ia tidak mungkin bisa melihat cerobong asap karena kabut yang tebal itu. Tiba-tiba Rudolph muncul, hidungnya yang merah bersinar lebih terang dari sebelumnya. Santa pikir Rudolph bisa menolongnya. Ia mengikatkan tali pelana pada Rudolph di barisan rusa paling depan. Mereka berangkat! Rudolph memimpin Santa ke setiap cerobong dengan selamat malam itu. Hujan, salju, kabut tidak ada yang menghalanginya karena hidungnya yang bersinar itu. Dan akhirnya Rudolph menjadi rusa yang paling terkenal dan yang paling disayangi. Hidungnya yang pada awalnya membuat dirinya malu sekarang menjadi hal yang paling diingini di antara semua rusa. Santa Claus memberitahu semua orang bahwa Rudolphnya yang menjadi penolong pada malam itu, dan sejak Natal itu, Rudolph hidup dengan tenang dan gembira."

Setelah hari itu, Bob membuat cerita itu menjadi sebuah puisi "Malam sebelum Natal" dan membuatnya dalam bentuk buku dengan gambar sebagai ilustrasi sebagai hadiah khusus untuk Barbara. Bob berusaha keras membuat buku itu sebaik mungkin. Ia ingin putrinya mendapatkan hadiah yang layak, karena ia sudah tidak mampu lagi membeli kado yang lain.

Sebuah tragedi terjadi ketika Evelyn May meninggal dunia. Harapan Bob hancur, satu-satunya kekuatannya hanya Barbara. Dalam dukanya ia tetap meneruskan cerita "Rudolph" dengan tangisan air matanya.

Singkat cerita, tak lama setelah Barbara menangis kegirangan karena hadiah yang dapat dibuat oleh Bob dengan tangannya sendiri pada Natal pagi, Bob diminta untuk datang ke pesta liburan karyawan di Monfgomery Wards. Sebenarnya Bob tidak mau datang, tetapi akhirnya ia datang juga sambil membawa puisinya dan membacanya di tengah-tengah keramaian. Awalnya yang terdengar hanyalah suara canda tawa tetapi kemudian suasana menjadi hening, pada akhirnya ruangan dipenuhi dengan tepuk tangan. Itu terjadi pada tahun 1938.

Natal 1947, sebanyak 6 juta kopi buku itu telah terjual, membuat Rudolph menjadi salah satu buku terlaris di dunia. Permintaan akan produk sponsor meningkat drastis dan banyak para pengajar dan sejarahwan memperkirakan Rudolph akan mendapatkan tempat permanen di tradisi Natal.

Merry Christmas in Other Language

Afrikaner [Afrikaans] : "Geseënde Kersfees"

Albanian : "Urime Krishtlindjet"

Amharic : "Enkwan laberhana ledat abaqqawot" OR "Melkam amat ba`al yehunellachihu"

Arabic : "Milad Majid" OR "Milad Saeed"

Argentine : "Feliz Navidad"

Armenian : "Shenoraavor Nor Dari yev Pari Gaghand"

Bohemian : "Vesele Vanoce"

Brazilian Portuguese : "Feliz Natal"

Briton : "Nedeleg laouen na bloavezh mat"

Bulgarian : "Tchestita Koleda" OR "Tchestito Rojdestvo Hristovo"

Cambodian : "Soursdey Noel"

Chinese [Mandarin] : "Sheng Dankuai Le"

Chinese [Cantonese] : "Sing Daan Faai Lok"

Cornish : "Nadelik Lowen"

Croatian : "Sretan Bozic"

Czech : "Velike Vanoce"

Danish : "Glædelig Jul"

Dutch : "Vrolijk Kerstfeest"

English [American] : "Merry Christmas"

English [Australian] : "'Ave a bonza Chrissy, Mate"

English [UK] : "Happy Christmas"

Esperanto : "Gojan Kristnaskon"

Estonian : "Roomsaid Joulu Puhi"

Farsi : "Christmas-e-shoma mobarak bashad"

Faroese : "Gleðilig Jól"

Filipino : "Maligayang Pasko"

Finnish : "Hauskaa Joulua"

French : "Joyeux Noël"

Frisian : "Noflike Krystdagen en in protte Lok en Seine yn it Nije Jier"

Gaelic : "Nollaig Shona Dhuit"

German : "Froehliche Weihnachten"

Greek : "Kala Christouyenna"

Hawaiian : "Mele Kalikimaka"

Hebrew : "Mo'adim Lesimkha. Chena tova"

Hindi : "Shub Badadin"

Hungarian : "Boldog Karácsonyt"

Icelandic : "Gledileg Jol"

India : "Tamil Nadu - Christmas Vaazthukkal "

Indonesian : "Selamat Hari Natal"

Iraqi : "Idah Saidan Wa Sanah Jadidah"

Irish : "Nollaig Shona Duit"

Italian : "Buon Natale"

Japanese : "Meri Kurisumasu"

Klingon : "QISmaS Quch Daghajjaj"

Korean : "Sung Tan Jul Chuk Ha"

Latvian : "Prieci'gus Ziemsve'tkus un Laimi'gu Jauno Gadu"

Lithuanian : "Linksmu Kaledu"

Malay : "Selamat Hari Natal dan Tahun Baru"

Maltese : "Il-Milied it-tajjeb"

Maori : "Meri Kirihimete"

Navajo : "Ya'at'eeh Keshmish"

New Guinea Pidgin : "Meri Christmas"

New Zealand : "Happy Christmas"

Norwegian : "Gledelig Jul"

Pennsylvania German : "En frehlicher Grischtdaag"

Peru : "Felices Fiestas" OR "Feliz Navidad"

Polish : "Wesolych Swiat Bozego Narodzenia"

Portuguese : "Feliz Natal"

Punjabi : "Hacahi Ke Eide"

Rumanian : "Sarbatori Fericite"

Russian : "S Rozhdestvom Kristovym"

Serbian : "Hristos se rodi"

Slovakian : "Sretan Bozic" OR "Vesele vianoce"

Samoan : "Manuea le Karisimasi"

Scots Gaelic : "Nollaig chridheil huibh"

Slovak : "Vesele Vianoce. A stastlivy Novy Rok"

Slovene : "Srecen Bozic"

Spanish : "Feliz Navidad"

Swahili : "Heri ya Krismasi"

Swedish : "God Jul"

Tagalog [Philippines] : "Maligayang Pasko"

Tahitian : "Ia ora'na no te noere"

Telugu : "Santhasa Krismas"

Thai : "Suksan Christmas"

Turkish : "Noeliniz Ve Yeni Yiliniz Kutlu Olsun"

Ukrainian : "Z Rizdvom Krystovym" OR "Veselogo Rizdva""

Urdu [Pakistan] : "Shadae Christmas"

Uzbek : "Yangi Yiligiz Mubarak Bolsun"

Vietnamese : "Chuc Mung Giang Sinh"

Welsh : "Nadolig Llawen"

Jika ada yang mau nambahin atau kesalahan dalam penulisan translatenya .. tolong kasih tau saya ya di samuel@rumahrenungan.com :) Thx ya .. GBU...

16 December 2008

Aku Tahu Kamu Akan Datang

Dalam perang dunia yang kedua, terdapat dua orang pemuda yang merupakan sahabat karib satu dengan yang lain. Setelah mengalami pertempuran yang amat dahsyat hari itu, salah seorang pemuda itu baru mengetahui bahwa kawan akrabnya belum kembali dari medan pertempuran hari itu. Ia tahu bahwa kawannya itu pasti masih tertinggal terluka di daerah tak bertuan. Ia kemudian minta ijin kepada komandannya agar ia boleh mencari kawannya di daerah itu.

Komandannya menjawab tidak ada gunanya untuk mencari kawannya, karena boleh dipastikan bahwa ia sudah mati setelah terluka dan harus berada di tengah-tengah pertempuran yang sengit selama satu hari lamanya. Tetapi pemuda itu terus mendesak dan akhirnya komandannya memberikan ijin kepadanya.

Setelah beberapa waktu kemudian, pemuda itu kembali dengan menggendong sesosok tubuh yang sudah tak bernyawa di atas pundaknya. Komandan mengatakan, “Aku kan sudah mengatakan bahwa tidak ada gunanya untuk mencari kawanmu itu?”

Pemuda itu menjawab dengan mata yang bersinar-sinar “Ada gunanya, pak. Aku tiba di sisinya untuk mendengar ia berbisik, “Aku tahu kamu akan datang.”

Refleksi :
Mengasihi bukan cuma menjadi dekat, tetapi menjadi sahabat yang mau mendengar keluhan sesamanya.