Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 July 2007

Jangan pernah mencintai karena uang

Anda tidak tahu kapan hari terakhir anda atau kapan mereka meninggalkan anda.

* CATATAN : Ini adalah kisah nyata.

Hari terakhir sebelum Natal, aku terburu-buru ke supermarket untuk membeli hadiah yang semula tidak direncanakan untuk dibeli. Ketika melihat orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan waktu selamanya, sedang masih banyak tempang yang harus kutuju" "Natal benar2 makin menjengkelkan dari tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan menuju bagian mainan, dan disana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah sesudahnya semua anak akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan yang mahal.

Saat sedang mencari2, aku melihat seorang anak laki2 berusia sekitar 5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut boneka itu dan terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa boneka itu. Anak itu mendekati seorang perempuan tua didekatnya: "Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya cukup uang?"

Perempuan tua itu menjawab: "Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sayang." Kemudian perempuan itu menunggu anak itu menunggu disana sekitar 5 menit sementara ia berkeliling ke tempat lain. Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak laki2 itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.

Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa ia ingin memberikan boneka itu. "Ini adalah boneka yang paling disayangi adik perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal ini. Ia yakin Santa Clause akan membawa boneka ini untuknya", Aku menjawab mungkin Santa Clause akan membawa boneka untuk adiknya, dan supaya ia jangan kawatir. Tapi anak laki2 itu menjawab dengan sedih, "Tidak, Santa Clause tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dimana adikku berada saat ini."

Aku harus memberika boneka ini kepada mama sehingga mama dapat memberikan kepadanya ketika mama sampai disana." Mata anak laki2 itu begitu sedih ketika mengatakan ini, "Adikku sudah pergi kepada Tuhan. Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap Tuhan, maka kukira mama dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku." Jantungku seakan terhenti.

Anak laki2 itu memandangku dan berkata: "Aku minta papa untuk memberitahu mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk menunggu hingga aku pulang dari supermarket." Kemudian ia menunjukkan fotonya yang sedang tertawa. Kemudian ia berkata: "Aku juga ingin membawa foto ini supaya ia tidak lupa kepadaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku tapi papa berkata mama harus pergi bersama adikku."

Kemudian ia memandang dengan sedih ke boneka itu dengan diam.

Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan dan berkata kepada anak itu. "Bagaimana jika kita perika lagi, kalau2 uangmu cukup?". "Ok", katanya. "Kuharap punyaku cukup". Kutambahkan uangku pada uangnya tanpa setahunya dan kami mulai menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu, dan malah sisa. Anak itu berseru: "Terima kasih Tuhan karena memberiku cukup uang", kemudian ia memandangku dan menambahkan: "Kemarin sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa aku memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa memberikannya kepada adikku. DIA mendengarkan aku.

Aku juga ingin uangku cukup untuk membeli mawan putih buat mama, tapi aku tidak berani memohon terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku cukup untuk membeli boneka dan mawar putih, kau tau, mamku suka mawar putih."

Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan keretaku. Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang sepenuhnya berbeda dari saat memulainya. Aku tidak dapat menhapus anak itu dari pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di dalam koran lokal 2 hari yang lalu, yang menyatakan seorang pria mengendarai truk dalam kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang berisi seorang wanita muda dan seorang gadis kecil, gadis kecil itu meninggal seketika dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya harus memutuskan apakah harus mencabut alat penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak akan mampu keluar dari kondisi koma. Apakah mereka keluarga dari anak laki2 ini?

2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran bahwa wanita muda itu meninggal dunia. Aku tidak dapat menhentikan diriku dan pergi membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah duka tempat jenazah dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2 untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu disana, dalam peti matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang cantik dengan foto anak laki2 dan boneka itu ditempatkan diatas dadanya. Kutinggalkan tempat itu dengan menangis, merasa hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang dimiliki anak laki2 itu kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih sulit dibayangkan. Dalam sekejab mata, seorang pria mabuk mengambil semuanya dari anak itu.

* Kirimkanlah cerita ini kepada semua orang yang anda kenal. Jika mengirimkan cerita ini, mungkin anda membatu mencegah seorang yang mabuk untuk mengemudi.

Pelajaran Berharga

Ini kisah kecil saat gw baru aja pulang 
dari Anggrek - Syahdan, kurang lebih jam 9an pagi,
sehari sebelum raker NC.

Saat itu gw lagi jalan santai-santai aja, lalu
beberapa meter setelah Laysin, ada satu kejadian
yang sampe sekarang jadi suatu pelajaran buat gw.

Seekor kucing tua yang kumal, saat itu merunduk
ketakutan di tengah-tengah jalan.

Tubuhnya tidak kurus-kurus amat, tapi bulunya
yang abu-abu itu sangat lusuh dan kumal, kedua
matanya terlihat memicing, terlihat bahwa
pandangannya tidak lagi baik, dan kaki kiri depan
miliknya, buntung, entah karena tertabrak ataupun
cacat semenjak lahir.

Dengan keadaan diri seperti itu, ia tidak dapat
berpindah tempat dengan cepat. Untuk bergerak, ia
harus melompat2 kecil dengan pincang dan lambat,
dan dapat dibayangkan bagaimana sulitnya hal itu.

Saat itu ia ingin menyeberang ke sisi lain jalan
syahdan itu, tapi seperti yang kalian ketahui akan
bagaimana ramai dan padatnya jalan di sekitar
Binus...

Ia berada tepat di tengah-tengah antara kedua sisi
jalan, ia terlihat bingung, bingung dan takut.

Beberapa kali motor dan mobil melewati dirinya
dengan cepat, nyaris menyerempet atau bahkan
menabraknya, dan setiap kali hal itu terjadi, ia
merunduk dan merapatkan tubuhnya ketakutan.

Entah apa yang ada di benak kucing tua itu saat
itu.

Mungkin ia ingin menyeberang dan pulang ke
tempat hidupnya sehari-hari,
beristirahat disitu, atau mungkin sudah tidak ada
makanan di sisi jalan itu,
karena ia kalah dengan kucing-kucing lain yang
masih muda dan berfisik
lengkap.

Mungkinkah ia juga sudah lelah?
Mungkinkah ia juga sudah bosan?
Sudah muak akan kehidupannya yang cacat itu?
Mungkinkah ia juga sebenarnya sudah tidak ingin
meneruskan hidupnya?

Gw gak akan pernah tau jawabannya.

Ia mencoba berdiri dan melanjutkan perjalanannya
yang sudah setengah
sampai itu-saat ia menoleh ke kanan dengan cepat,
berusaha memandang dengan matanya yang
rabun itu, sadar akan onggokan besi besar yang
memacu ke arahnya dengan sangat cepat.

Saat itu gw gemetar, gw begitu takut. segala
sesuatunya seolah tampak seperti dalam gerakan
lambat, gw lepaskan bawaan yang ada di tangan
gw, dan hendak melompat dan berusaha
menghalau kendaraan-kendaraan disana agar
kucing tua itu bisa menyeberang dengan selamat.

Tapi saat itu akal manusia yang biasa disebut
dengan logika, mulai bertindak. Saat itu logika
mengatakan bahwa dengan melakukan hal itu,
gw juga mempertaruhkan keselamatan gw.

Benarkah itu?

Egois.

Manusia sangatlah egois dan mau menang sendiri.

Terlalu beratkah bagi supir-supir Mikrolet itu untuk
mengerem sebentar dan memberi jalan bagi kucing
tua untuk selamat sampai ke seberang?

Terlalu beratkah bagi pengendara-pengendara
motor itu untuk memacu kendaraannya dengan
wajar dan menghormati makhluk-makhluk lain yang
ada di sekitar jalan itu?

Terlalu beratkah bagi gw untuk melangkah
beberapa meter dan menyelamatkan seekor kucing
tua yang dianggap tidak berharaga itu?

Ya...
Itu semua terlalu berat.

Terlalu berat karena kita adalah manusia.
Karena kita mengaku sebagai makhluk yang paling
sempurna.
Karena kita mengaku sebagai makhluk yang paling
pintar.
Karena kita mengaku sebagai makhluk yang
tertinggi di alam semesta ini.

Tapi tidak untuk seorang pedagang itu.

Ia berlari dari gerobak dagangannya, ia berhenti di
depan kucing tua itu, menjulurkan tangan kanannya
ke arah arus kendaraan di hadapannya,
menghalau mereka dari menabrak kucing itu.

Mikrolet yang saat itu sedang menyalip dan
memacu dengan kencang,
yang beberapa detik tadi akan menjadi malaikat
kematian untuk kucing itu, membanting setir dan
menghindari pedagang itu, dan dengan geram
menyumpah kasar, "GOBLOK! DASAR BEGO!"

Seandainya Mikrolet itu tidak sempat membanting
setirnya, pedagang baik hati itu yang akan bertukar
nyawa dengan kucing tua itu...

Melihat ancaman terbesarnya telah lewat, kucing
tua itu melompat2 timpang dengan cepat ke
seberang, menuntaskan perjalanannya yang
tinggal setengah itu.

Ya, kucing tua itu memang tidak bisa
mengucapkan "Terima Kasih" untuk pedagang baik
hati yang telah menyelamatkannya itu, ia mungkin
hanya bisa tertatih-tatih berjalan menjauh dan
memandang sedih dengan kedua matanya yang
sudah rabun, tapi gw yakin, God akan mewakili
kucing tua itu untuk mengucapkan terima kasih
kepada pedagang baik hati itu.

Ada pelajaran berharga yang gw dapatkan hari
itu...

Di tengah-tengah arus jaman yang semakin
menggila ini, dimana seolah dunia semakin kejam
dan berdarah dingin, dimana seolah manusia
dituntut untuk terus berlari mengejar tanpa ada
waktu untuk menghirup nafas,

kita tidak pernah melihat atau mendengar akan
anjing yang sengaja melompat dari atap untuk
mengakhiri hidupnya, walau hari ke hari, semakin
sedikit orang yang memperdulikan hidupnya.

kita tidak pernah melihat atau mendengar akan
burung yang sengaja menelan racun untuk
mengakhiri hidupnya, walau hari ke hari lahan
untuk mencari makanan semakin sedikit, dan sulit
sekali mempertahankan keluarganya agar tetap
kenyang.

kita tidak pernah melihat atau mendengar akan
kuda yang sengaja memukulkan kepalanya ke
dinding untuk mengakhiri hidupnya, walau hari ke
hari, ia hanya dipekerjakan tanpa belas kasihan
oleh tuannya.

kita tidak pernah melihat atau mendengar akan
harimau yang memotong
sendiri lehernya dengan cakarnya untuk
mengakhiri hidupnya, walau hari ke hari tempat
hidupnya semakin dijajah manusia, dan kaumnya
semakin sedikit.

Seharusnya kita berpikir,
siapakah sebenarnya yang pintar?
siapakah sebenarnya yang kuat?

Manusia?

Kucing tua yang cacat itu, tetap berjuang untuk
hidup, walau entah berapa kali sudah kematian
mengetuk pintu jiwanya, tetapi ia tidak menyerah,
karena baginya, hidup adalah sesuatu yang
berharga, dan tidak semua di
dunia ini diberi kesempatan untuk merasakan
nikmatnya kehidupan.

Kucing tua yang cacat itu tahu betul akan hal ini,
sementara gw yang telah lahir dengan fisik
lengkap sebagai manusia, hidup selama 18 tahun
lebih di dunia ini, dan masih seringkali
mempertanyakan akan arti kehidupan dan
eksistensi gw di dunia ini.

saat itu gw melihat seolah manusia-manusia yang
berjalan dan berlalu
lalang di sekitar gw sebagai binatang... binatang
yang menutupi kebusukan dirinya dengan seribu
alasan dan lidah yang manis. binatang yang tinggal
diantara hutan-hutan gedung pencakar langit.

Mungkin kisah kecil ini bisa dijadikan sebagai
referensi, bahwa hewan pun tahu akan indah dan
pentingnya hidup ini, sementara kita manusia,
seringkali hanya membuang-buang kesempatan
yang disebut dengan "hidup" ini, hanya untuk
memperpendek kesempatan ini.

Jangan kalah dengan kucing tua yang cacat itu,
dan jadilah pedagang yang baik hati itu,

karena dalam Alkitab pernah dikatakan, tidak ada
pengorbanan yang lebih indah dibandingkan
seorang sahabat yang mengorbankan jiwanya
untuk sahabatnya.

manusia,
hewan,
tumbuhan,
alam,
semua nya adalah sahabat kita,

Jangan egois dan jangan sombong, kita tidak hidup
sendirian, kita ada disini saat ini karena kita
bersama-sama,

Jangan menyerah apapun yang terjadi, God
mungkin memang lambat, tetapi Ia tidak pernah
terlambat, dan selama kita percaya dan terus
bersemangat, segala sesuatunya itu mungkin.

written by: Robby (Nippon Club)

The Story of the One-Eyed Mother

My mom only had one eye.
I hated her... she was such an embarrassment...
She cooked for students & teachers...to support
the family. There was this one day during
elementary school and my mom came. I was so
embarrassed. How could she do this to me? I
threw her a hateful look and ran out.

The next day at school...
"Your mom only has one eye?!?!"...eeeee said a
friend.
I wished my mom would just disappear from this
world.
So I said to my mom, "Mom... Why don't you have
the other eye?! If you're only gonna make me a
laughing stock, why don't you just die?!!!"

My mom did not respond...
I guess I felt a little bad, but at the same time, it
felt good to think that I had said what I'd wanted to
say all this time... Maybe it was because my mom
hadn't punished me, but I didn't think that I had hurt
her feelings very badly.

That night...
I woke up, and went to the kitchen to get a glass of
water.
My mom was crying there, so quietly, as if she was
afraid that she might wake me. I took a look at her,
and then turned away.
Because of the thing I had said to her earlier, there
was something pinching at me in the corner
of my heart. Even so, I hated my mother who was
crying out of her one eye.
So I told myself that I would grow up and become
successful.

Then I studied real hard.
I left my mother and went to Singapore to study.

Then, I got married.
I bought a house of my own. Then I had kids, too...
Now I'm living happily as a successful man.
I like it here because it's a place that doesn't
remind me of my mom.

This happiness was getting bigger and bigger,
when...

What?! Who's this?!
It was my mother...Still with her one eye.
I felt as if the whole sky was falling apart on me.
Even my children ran away, scared of my mom's
eye. And I asked her, "Who are you?!" "I don't
know you!!!" as if trying to make that real. I
screamed at her, "How dare you come to my
house and scare my children!"

GET OUT OF HERE! NOW!!!"

And to this, my mother quietly answered,
"Oh, I'm so sorry. I may have gotten the wrong
address," and she disappeared out of sight.

Thank good ness... She doesn't recognize me. I
was quite relieved. I told myself that I wasn't going
to care, or think about this for the rest of
my life. Then a wave of relief came upon me...

One day, a letter regarding a school reunion came
to my house in Singapore.
So, lying to my wife that I was going on a business
trip, I went. After the reunion, I went down to the
old shack, that I used to call a house...
Just out of curiosity.

There, I found my mother fallen on the cold ground.
But I did not shed a single tear.
She had a piece of paper in her hand....It was a
letter to me.

"My son...
I think my life has been long enough now...
And... I wont visit Singapore anymore...
But would it be too much to ask if I wanted you
to come visit me once in a while? I miss you so
much..
And I was so glad when I heard you were coming
for the reunion. But I decided not to go to the
school.

For you...
And I'm sorry that I only have one eye, and I was an
embarrassment for you.

You see, when you were very little, you got into an
accident, and lost your eye. As a mom, I couldn't
stand watching you having to grow up with only
one eye... So I gave you mine... I was so proud of
my son that was seeing a whole new world for me,
in my place, with that eye. I was never upset at
you for anything you did.. The couple times that
you were angry with me.. I thought to myself, 'It's
because he loves me..'

My son... Oh, my son... "

This message has a very deep meaning and is
passed to remind people of the goodness they
have enjoy was because of others
directly or indirectly.
Pause a moment and consider your life!

Be thankful of what you have today compared to
many millions who do not live lives as you do!

Do spend some time in prayer for your mum out
there!........