Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

Showing posts with label Bersyukur. Show all posts
Showing posts with label Bersyukur. Show all posts

14 March 2012

Cermin

Seringkali orang merasa bahwa kesuksesan seseorang diukur dari kemantapan segi luarnya. Orang-orang yang tidak diperhitungkan oleh dunia malah memberikan kontribusi yang luar biasa. Demikianlah, orang menjadi terkejut karenanya. Dalam keluarga, jika ada salah satu anggota keluarga mengalami cacat mental atau cacat badan, malah dicintai secara ekstra oleh kedua orang tuanya. Dalam permenungan selanjutnya, ada seorang ibu yang berdoa demikian, “Tuhan, terima kasih atas kemurahan tangan-Mu, Engkau memberikan seorang anak yang cacat mental, sehingga kami menjadi lebih sabar dan peka terhadap kebutuhan anak kami.”  Seorang anak – bagaimanapun juga – adalah titipan Tuhan untuk keluarga tersebut. Memperhatikan seorang anak yang mempunyai kekurangan, berarti pula secara tidak langsung sebagai ibadah.

Dalam sejarah Inggris pernah tercuat kisah Pangeran Johnnie. Tahun 1910, salah satu dinasti yang paling berkuasa di seluruh dunia, berpusat di Kerajaan Inggris lahirlah pangeran Johnnie. Anak yang penuh kasih, pengertian dan humoris. Johnnie telah menjadi saksi mata dalam beberapa kejadian yang sangat berharga dalam sejarah. Sewaktu bayi, dia kelilingi oleh pemimpin hebat Raja Edward ke VII dan Ratu Alexandra pada puncak kekuasaan imperialis Inggris. Tetapi saat perang besar datang, ayahnya  yang baru bertahta, George V dan ibunya Ratu Mary terlibat dalam dunia perselingkuhan dan tidak sempat melihat anaknya bertumbuh kembang. Ahli medis menyatakan bahwa dia mengidap sakit ayan dan keterbelakangan mental dan hal ini merupakan aib bagi keluarga.  Saat daratan Eropa berubah untuk selamanya, Johnnie dipelihara oleh Lala, seorang juru rawat yang setia dalam rumah pertanian yang terletak jauh di pedalaman di kawasan Sandringhan. Ia mendedikasikan hidupnya kepada anak ini dan dia mencoba untuk mengingatkan kerajaan Inggris bahwa Johnnie dari hati yang terdalam adalah pangeran yang sejati.

Kisah tersebut di atas hendak memberikan pelajaran kepada kita bahwa apa pun yang terjadi dalam kehidupan manusia itu mempunyai arti. Tidak ada sesuatu ciptaan di dunia ini yang tidak memiliki tujuan. Bahkan planton di samodra yang keberadaannya tidak diketahui oleh manusia dan hidupnya amat pendek juga memiliki tujuan hidup. Manusia, meskipun memiliki ketidaksempurnaan, bisa menjadi penyempurna bagi yang lain. Demikianlah orang tidak boleh merasa diri sebagai superman, karena setiap manusia pasti memiliki sisi gelapnya.  Dalam dunia pewayangan sangat nyata. Para ksatria adalah orang-orang yang tampan, pandai berperang bahkan boleh dikatakan mewakili kesempurnaan. Tetapi di dalam pengembaraannya di dunia, ada pendamping yang disebut sebagai ponokawan yang artinya kawan-kawan yang bisa  memahami. Mereka adalah orang-orang yang jelek, kampungan, bicara apa adanya dan mewakili kaum rendahan.  Tetapi di situlah sebenarnya, para ponokawan yakni Semar, Gareng, Petruk dan Bagong adalah lentera dan penerang ketika para ksatria masuk di dalam alas gung liwang-liwung, hutan yang penuh dengan jebakan dan kompleks. Problem solver atau pemecah masalah ada dalam diri para ponokawan, yang tidak dilirik oleh dunia sekitar.  Pendamping setia yang tidak kelihatan itu ada dalam diri kita sendiri yang nyata dalam bentuk hati nurani. Kisah Pinoccio melukiskan bahwa hati nurani itu berwujud dalam bentuk jangkrik. Jangkrik kecil yang tidak mempunyai arti apa-apa, ternyata menjadi kemudi dalam mengendalikan Pinoccio untuk mencapai kesempurnaan. Tanpa jangkrik  -  si pembisik itu - maka tidak akan ada perubahan dalam hidup. Pedamping untuk menuju kesempurnaan tidak harus nampak hebat dan luar biasa, tetapi sederhana dan barangkali malah tidak kelihatan (belakang layar).

Orang-orang yang terbuang, tidak seyogianya kita singkirkan, melainkan bisa kita jadikan cermin. Orang yang terbuang  biasanya akan mendapat simpati bagi banyak orang. Lihat saja bagaimana Lady Diana mendapat simpati dari pelbagai pihak lalu  mendapat gelar Ratu di hati masyarakat. Sang Putri dibuang oleh Ibu Suri dan diceraikan oleh Pangeran Charles, sehingga dunia menerimanya sebagai pribadi yang memesona. Kematiannya yang tragis menumbuhkan ratap tangis dunia dan ucapan bela sungkawa tidak terhitung banyaknya mengalir ke Istana. Batu sendi yang dibuang oleh tukang bangunan kini menjadi batu penjuru. Dengan melihat mereka berarti pula kita bisa berefleksi diri. Thomas Levinas, melukiskan bahwa wajah-wajah orang lain yang kita jumpai itu sebenarnya adalah mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Lewat bahasa tubuh  dan keluhan-keluhan  tentang ketidakadilan, dapat dipastikan bahwa mereka menjadi cermin bagi kehidupan kaum the haves (orang kaya raya)  atau stakeholder (pemegang kebijakan).  Kaum marginal, bagaimana pun juga sebagai pribadi yang yang harus diakui eksistensinya. Suara serta jeritan mereka yang kadang tidak terdengar  adalah suara kejujuran yang bisa menjadi cerminan bagi golongan kaum berada. Manusia diciptakan untuk hidup dalam keseimbangan. Kalau manusia memutuskan salah satu tali keseimbangan tersebut, maka akan terjadi bencana. Cermin dipakai untuk berefleksi, apakah selama ini kehidupan telah berjalan seimbang dan  tanpa merugikan orang lain.

30 December 2011

Bersyukur

Tina, seorang gadis yang baik hati satu kali ingin memberi kejutan pada Nenek Omi yang hidup sendiri. Ia datang membuat sebuah kue yang enak lalu membawanya ke rumah si nenek.

"Oh, buat Nenek? Puji Tuhan! Terima kasih, Tina. Nenek sangat suka,"kata nenek
waktu menerima kue itu. Melihat nenek Omi suka, seminggu kemudian Tina kembali membawa kue yang sama.

"Terima kasih,"jawab nenek singkat.

Lebih dari seminggu, komentar Nenek Omi kembali berbeda. "Tumben, kamu telat
sehari,"sahutnya.

Minggu selanjutnya, "kuemu agak kemanisan. Nenek lebih suka rasa buah daripada
coklat."

Karena sibuk, minggu selanjutnya Tina tidak sempat membuat kue, dan ketika ia berangkat kerja dan melewati rumah si nenek, nenek Omi keluar dan berteriak, "Hei Tina, mana kue nenek?"

Satu kutipan berkata, "Saat kita melihat berkat yang sama setiap hari, kita akan tidak memperhatikannya lagi. Ketika tidak lagi memperhatikan, kita berhenti menghargai. Ketika tidak menghargai, kita berhenti bersyukur. Ketika kita tidak bersyukur, kita mulai mengeluh."

Jika hari ini kamu menangis, bersyukurlah karena kamu tidak membuat orang lain
menangis...
Jika hari ini kamu disakiti, bersyukurlah karena kamu tahu rasa sakit dan tidak
menyakiti orang lain...
Jika hari ini kamu dikecewakan , bersyukurlah karena kamu tidak membuat orang
lain kecewa...
Apapun yang kamu alami hari ini, tetaplah bersyukur karena kita belajar untuk
menjadi lebih baik…

25 November 2011

Bagaimana Kita Menemukan Kebahagiaan

Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil ketiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan di tempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan itu disia-siakan. Tetapi jangan pula terlalu sukar sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih.”

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi di mana meletakkannya? Malaikat pertama mengusulkan, “Letakkan di puncak gunung yang tinggi” Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, “Letakkan di dasar samudera.” Usul itu pun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.

Kita ingin merasa bahagia. Tetapi di mana mencarinya? Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari ke pantai, ada yang mencari di temat yang sunyi, ada yang mencari di tempat yang ramai. Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, di tempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor dan lainnya.
Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebalikkanya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dan lain-lain.
Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan.

Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan.
Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.

Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalau aku punya ini atau itu, pikir kita.

Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan. Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi.
Dimana mereka meletakkannya?
Bukan di puncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan di dasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.

Dimanakah tempatnya???

Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.

Begitu juga hidup ini. Kita harus rendah hati. Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita. Seringkali kita berkata, “akh... gue mah belum jadi orang. Tinggal aja masih ama ortu, ngontrak, TMI deelel.”
Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan. Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita.

Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.

Menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapai semuanya itu?
Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke 7 faktor tersebut menjadi seimbang?

Yang penting di sini adalah hikmat.
Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini.

Oh ya..., dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?

DI HATI YANG BERSIH......?

10 October 2011

Terima Kasih Tuhan Yesus

Tuhan Yesus,
Terima kasih jika sampai hari ini

ENGKAU masih memberikan kami pekerjaan.
ENGKAU mengerti akan kebutuhan hidup kami,
dan mencukupkannya melalui berkat - berkat

yang KAU curahkan kepada kami melalui berbagai caraMU,
baik dari gaji yang kami terima

atas pekerjaan yang kami lakukan,

ataupun melalui persembahan kasih dari sesama.
Ajarlah kami Tuhan 'tuk bersyukur

atas semua yang telah KAU berikan ini.
Ingatkan kami juga Tuhan,
untuk dapat menempatkan prioritas hidup kami secara benar,

dan membagi waktu secara seimbang
antara keluarga, pekerjaan, pelayanan,
rekreasi, sosialisasi dengan sesama,

dan berbagai aktifitas lainnya.
Jangan sampai kami menempatkan pekerjaan kami
di atas segalanya, mengejar kekayaan secara berlebihan
dengan mengorbankan hubungan pribadi kami dengan ENGKAU,
dengan keluarga dan sesama.

Kami tidak ingin seperti perumpamaan

yang KAU ajarkan kepada murid - muridMU,

menjadi orang kaya yang mati  sia - sia menumpuk harta.
Bimbinglah kami 'tuk belajar menerapkan
doa Bapa Kami yang KAU ajarkan yaitu
"berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya",

sehingga kami puas dan bersyukur
atas rejeki yang telah KAU berikan,

tanpa menjadi iri terhadap orang lain

yang secara materi lebih baik dari kami,

ataupun tidak menjadi kuatir akan hari esok,

karena ENGKAU akan senantiasa memelihara hidup kami

sebagaimana burung - burung di udara

dan bunga di padang KAU pelihara.
Arahkanlah hidup kami

'tuk terfokus kepada mencari kekayaan rohani,

semakin dekat kepadaMU,
lebih mengasihiMU dan sesama kami.
Terima kasih Tuhan Yesus,
kepadaMUlah kami naikkan doa kami ini.

Amin

30 September 2011

Lilin Vs Bintang

Suatu hari terjadi percakapan antara sebuah bintang dan sebatang lilin. Lilin itu berkata, " Bintang, mengapa aku hanya ada untuk diletakkan di suatu ruangan sempit sampai batangku habis terbakar dan mati? Jika beruntung saya akan berada di ruangan pesta atau restoran mewah, tapi jika tidak beruntung aku hanya diletakkan di kamar kecil. Sedangkan engkau, cahayamu bisa menyinari langit malam yang luas." Sambil tersenyum sang bintang pun menjawab, "Aku memang bersinar di langit yang luas, namun  sinarku hanya akan tampak di malam hari, sedangkan engkau dapat bersinar kapan pun diperlukan,"

Seperti lilin, Kita seringkali mengeluhkan kondisi yang kita alami. Sebagai karyawan, kadang kita merasa tidak seberuntung rekan kerja yang lain. Kita merasa bahwa beban perkejaan lebih menumpuk, atau mendapat ruangan yang tidak senyaman mereka, kemudian kita membandingkan diri dan berkata, " Andai saja aku bisa memilih... "

Jangan pernah mengeluh,  Tuhan mau kita saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Dan semua yang kita terima saat ini, walaupun tidak sesuai dengan harapan kita, itu semua ada dalam Rencana-Nya. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, dan Tuhan pasti mengingat apa yang sudah kita perbuat.

"Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang." - Ibrani 6 : 10

Tuhan Yesus Memberkati..

20 September 2011

Empat Skenario

Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki. Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh. Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.

"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih”, kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua. Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita. Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang. Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita sambil berkata,

"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut. Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita). Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga. Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta. Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita. Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya
kepada kita) menjawab telepon kita.

"Halo, selamat siang, Pak.

Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone
itu kembali kepada kita. Orang yang menemukan handphone kita berkata,

05 July 2011

Bersyukurlah

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Tuhan, Bapa kita" (Kolose 3 : 17)

Saya pikir, hidup ini kayanya cuma nambahin kesulitan-kesulitan saya aja! Kerja menyebalkan, hidup tak berguna, dan nggak ada sesuatu yang beres! Tapi semua itu telah berubah. Pandangan saya tentang hidup ini benar-benar telah berubah. Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap dengan teman saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2 pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita. Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersukacita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi tagihan-tagihan rumah tangga yang numpuk.

Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat. Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India. Ia mengatakan bahwa di India, ia melihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu memotong tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok. Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun, terus menghantuinya sampai sekarang. Kamu mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu 'so naughty' atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong? Ternyata tidak. Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat mengemis. Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan. Saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah kenyataan. Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri.

Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu, mereka berebutan untuk memakannya. (suatu reaksi yang alami dari kelaparan). Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu. Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya. Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi tidak sampai $0,25/potong) dan ia juga menghabiskan kurang lebih $100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari-hari.

Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan sehari-hari kepada anak-anak (yang kebanyakan cacat) dan beberapa orang-orang dewasa disitu. Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $0,25.

Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi, punya begitu banyak hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini amat kekurangan.

Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga. Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya? Tidak, sebenarnya tidak buruk sama sekali.

Nah, bagaimana dengan anda? Mungkin di waktu lain saat kamu mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang harus kehilangan sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan. Saudara, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita bersyukur? Apakah kita mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki??

"Life is Beautiful, for He as made it beautiful for us"

Mari bersyukur atas indahnya hidup. Karena kita tidak pernah tahu apa yang DIA rencanakan untuk kita hari ini dan esok hari.

Have a wonderful day... Tuhan memberkati..

01 July 2010

Mangkok Sang Pengemis

Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis ini, "Apa yang engkau inginkan dariku?”

Si pengemis itu tersenyum dan berkata, "Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku
dapat memenuhi permintaan hamba."

Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, "Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!"

Maka menjawablah sang pengemis, "Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa."

Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis. "Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya."

Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah, "Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan."

Bukan main! Raja menjadi geram mendengar 'tantangan' pengemis di hadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas!. Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah. Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.

Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, "Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?"

Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, "Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya".

"Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan.. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan : power tends to corrupt; Kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak".

Raja itu bertanya lagi, "Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?"

"Tentu ada, yaitu rasa syukur terhadap segala sesuatu yang telah kau miliki. Jika engkau pandai bersyukur, Itu akan menambah nikmat padamu," ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang.

28 June 2010

Jesus Love You

Pernahkah saat kau duduk santai dan  menik  mati hari, dalam seketika kau ingin berbuat sesuatu untuk seseorang? Itu adalah TUHAN yang sedang berbicara denganmu melalui roh kudus-Nya.

Pernahkah saat kau sedang sedih, kecewa tetapi tidak ada org yang disekitarmu yang dapat kau curhati? Itulah saat dimana TUHAN menginginkanmu untuk berbicara pada-Nya.

Pernahkah  saat kau memikirkan seseorang yang sudah lama tak kau temui, dan seketika itu juga kau bertemu dengannya atau menerima telp darinya? Itu adalah kuasa TUhan. Tidak  ada sesuatu yang kebetulan.

Pernahkah kau menerima sesuatu yang tak  terduga, yang tak sanggup kau dapatkan? Itu adalah Tuhan yang  mengetahui keinginan/suara hatimu.

Pernahkah kau berada dalam situasi yang buntu, tidak tahu cara memperbaikinya, terluka dan tidak tahu  bagaimana luka itu dapat disembuhkan. .. Itulah saat dimana kita  belajar mempercayakannya kepada BAPA di Surga, dan tidak  mengandalkan kekuatan kita yang terbatas  ini.

Apakah kau pikir e-mail ini tak sengaja terkirim padamu? TIDAK!...ini terjadi karena KASIHNYA kepadamu, sehingga seseorang digerakkan hatinya untuk mengirimkannya kepadamu.

Marilah berdoa...

Dear  God...
Aku tahu bahwa kau  memperhatikan ku. Dan aku sangat bersyukur atas berkat-Mu. Apapun yang  telah aku doakan, Kau-lah yang mengetahui yang terbaik untukku. I  love u Jesus.
Ketika aku melihat  nama2 penerima email ini, dan melihat email ini terkirim juga kepada ku; aku tahu bahwa ada "doa & harapan yang baik" telah dipanjatkan untuk setiap kita sehingga kita hidup dalam kemenangan bersama Tuhan  hari ini....

Bersukacitalah  sahabat.. He Knows the best for you..

Jesus Bless You…

09 May 2010

Bersyukurlah

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." - Yeremia 29:11

Jika engkau tak pernah sakit,  bagaimana kau tahu YESUS itu PENYEMBUH?
Jika engkau tak pernah sedih,  bagaimana kau tahu YESUS itu PENGHIBUR?
Jika engkau tak pernah berbuat salah, bagaimana kau tahu YESUS itu MAHA PENGAMPUN?
Jika engkau tak pernah gagal bagaimana kau belajar bersandar pada YESUS?

Bersyukurlah bila kau mengalami semua itu, karena engkau akan tahu bahwa TUHAN YESUS punya rencana yang terbaik dalam hidup kita, Dia selalu menyertai kita. Amin.

03 May 2010

Dimana Letak Kebahagiaan Itu?

Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan.

Lewatlah sebuah motor di depan mereka. Berkatalah petani ini pada istrinya: "Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai di rumah. Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai ke rumah."

Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick up lewat di depan mereka.

Pengendara motor itu berkata kepada istrinya: "Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu. Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita."

Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan, ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat di hadapan mereka: "Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok."

Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya: "Betapa bahagianya suami istri itu. Mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini. Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing."

Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki jika kau hanya melihat kebahagiaan milik orang lain, dan selalu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tahu di mana kebahagiaan itu berada.

TUHAN memberkati

23 December 2009

Malaikat Yang Baik

Alkisah, di surga seorang malaikat senior sedang membimbing seorang malaikat junior yang akan melakukan PKN (Praktik Kerja Nyata) di bumi.

Malaikat Senior : “Dik, sudah saatnya kamu melihat bagaimana kehidupan di bumi. Nanti kalau kita sudah tiba di bumi, pelajari segala sesuatu dengan baik ya, tapi ingat, kamu tidak usah bicara macam-macam kepada orang-orang di bumi, biar aku saja yang berbicara. Mengerti?”

Malaikat Junior: “Baik, Bang!”

Maka turunlah kedua malaikat tersebut ke bumi. Di bumi mereka mengambil rupa sebagai orang miskin. Setelah sehari penuh melakukan perjalanan, tibalah mereka di rumah seorang yang sangat kaya tetapi sangat kikir dan mengetuk pintu rumah tersebut sebab mereka mencari tumpangan untuk menginap.

Malakat Senior : “Pak, bolehkah kami menumpang di rumah Bapak untuk semalam saja? Kami sudah sangat kelelahan dan tidak ada tempat untuk kami berteduh.”

Orang Kaya : “Hmmm... Bagaimana ya...” (Orang Kaya tersebut ragu-ragu untuk memberi tumpangan, padahal rumahnya sangat besar dan ada banyak kamar di dalamnya)

Malaikat Senior : “Hanya semalam saja Pak, dan percayalah, kami tidak mempunyai maksud jahat kepada Bapak.”

Orang Kaya : “Baiklah, kalian boleh menginap di rumahku ini, tapi hanya untuk semalam saja, ya! Aku mempunyai gudang di belakang rumah, kalian boleh tidur di sana, tapi ingat, jangan berbuat macam-macam, atau kupanggil satpam untuk mengusir kalian!”

Malaikat senior : “Baik Pak, kami mengerti. Terima kasih.”

Maka masuklah kedua malaikat itu ke rumah tersebut menuju gudang di belakang rumah. Gudang tersebut sudah sangat jelek dan kotor karena hampir tidak pernah dibersihkan, bahkan beberapa bagian temboknya sudah hancur dan berlubang. Malaikat Junior karena sudah sangat lelah kemudian langsung tertidur, sedangkan Malaikat Senior malah berinisiatif untuk memperbaiki tembok yang berlubang. Dengan kemampuan supranaturalnya, tertambal lah tembok yang berlubang tersebut.

Keesokan paginya, kedua malaikat tersebut berpamitan kepada pemilik rumah (si orang kaya). Si Orang Kaya karena kekhawatirannya memeriksa gudang rumahnya dan didapatinya bahwa tembok gudang tersebut telah diperbaiki. Ia sangat senang karena tanpa harus memanggil tukang bangunan dan mengeluarkan uang, kondisi tembok yang tadinya berlubang sudah kembali baik.

Kedua malaikat melanjutkan perjalanan mereka dan tibalah mereka di rumah sepasang suami istri yang sudah tua dan miskin namun sangat ramah dan baik hati. Kondisi rumah tersebut sudah sangat buruk, karena suami istri tersebut tidak mampu untuk memperbaiki rumah mereka. Mereka sudah tidak mempunyai apa-apa lagi, satu-satunya harta yang paling berharga yang mereka miliki adalah seekor sapi yang ada di belakang rumah mereka. Kedua malaikat mengetuk pintu rumah tersebut dan sang Suami membuka pintu rumah dan menyambut dengan ramah kedua malaikat itu.

Malakat Senior : “Pak, bolehkah kami menumpang di rumah Bapak untuk semalam?”

Suami Miskin : “Oh, silakan, Nak... kami justru sangat senang dengan kehadiran kalian, karena sudah lama kami tidak kedatangan tamu. Mari, silakan masuk.”

Malaikat Senior : “Terima kasih, Pak.”

Maka masuklah kedua malaikat ke dalam rumah, dan di dalam rumah sang Istri pun menyambut dengan sangat ramah dan menjamu mereka. Mereka pun berbincang-bincang sampai tiba saatnya untuk beristirahat.

Suami Miskin : “Karena di rumah ini hanya ada satu kamar, yaitu kamar kami saja, kalian boleh menggunakan kamar tersebut, biar aku dan istriku tidur di dipan di belakang saja.”

Malaikat Senior : “Tapi Pak, kami kan menumpang di rumah ini...”

Suami Miskin : “Ah, tidak apa-apa kok.”

Malaikat Senior : “Terima kasih atas kebaikan Bapak.”

Akhirnya, suami istri dan kedua malaikat pun beristirahat. Malaikat Junior, seperti biasa, lebih dahulu terlelap daripada Malaikat Senior. Keesokan harinya, saat kedua malaikat terbangun, mereka mendapati sang Suami dan Istri menangis di belakang rumah.

Malaikat Senior : “Ada apa, Pak? Mengapa Bapak menangis?”

Suami Miskin : “Nak, bagaimana kami tidak bersedih, harta kami satu-satunya yang paling berharga, sapi milik kami, kini telah mati...”

Malaikat Senior : “Sudahlah, Pak, jangan bersedih lagi. Nanti Tuhan pasti akan memberikan gantinya untuk Bapak. Bersabar saja ya, Pak...”

Kemudian setalah menghibur suami istri itu dan berbincang sejenak dengan mereka, kedua malaikat berpamitan kepada keluarga tersebut. Kedua malaikat kemudian memutuskan kembali ke surga. Di dalam perjalanan menuju surga, akhirnya Malaikat Junior dengan penasaran dan penuh rasa heran bertanya kepada Malaikat Senior.

Malaikat Junior : “Bagaimana sih, Abang ini? Waktu kita menginap di rumah orang kaya yang kikir, Abang kok malah menolong orang itu dengan memperbaiki tembok gudangnya. Eh, sedangkan waktu kita menginap di rumah keluarga miskin, Abang malah tidak menolong mereka dengan memohon kepada Tuhan agar menghidupkan sapi milik mereka, padahal mereka sudah sangat baik kepada kita. Kasihan kan mereka... Padahal sapi itu adalah satu-satunya harta mereka yang paling berharga yang tersisa!”

Malaikat Senior: ”Kamu sih selalu tidur lebih awal, jadi kamu tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Biar kujelaskan ya, sebenarnya di dalam tembok gudang orang kaya itu terdapat banyak emas & benda-benda berharga lainnya. Aku berpikir, rasanya orang yang kikir seperti dia sudah tidak pantas dan layak lagi mendapat harta lebih banyak. Jadi aku menambal tembok tersebut justru supaya dia tidak bisa menemukannya. Sedangkan sewaktu kita menginap di rumah keluarga miskin, pada saat tengah malam waktu semua sudah terlelap, kecuali aku, datanglah rekan kerja kita, si malaikat maut, untuk mengambil nyawa sang Istri. Jadi waktu kulihat kejadian itu, aku berpikir, kasihan si Suami kalau istrinya diambil, pasti ia akan kesepian dan sangat bersedih, karena hanya istrinya lah keluarga bahkan sahabat satu-satunya di dunia ini. Lalu aku pun menyampaikan kepada malaikat maut supaya ia jangan mengambil nyawa sang Istri. Tapi malaikat maut bilang harus ada sesuatu yang bernyawa yang harus diambil sebagai ganti agar nyawa si Istri tidak diambil. Lalu aku berpikir, kan ada seekor sapi di belakang rumah, maka aku pun menawarkan supaya nyawa sapi itu saja yang diambil. Itulah sebabnya mengapa saat kita bangun, sapi tersebut sudah mati. Begitu lho ceritanya...”

Malaikat Junior : “Ooo...”

Ada banyak hal-hal di dalam hidup ini yang secara kasat mata kita anggap sebagi sesuatu yang buruk. Apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kita sudah berdoa kepada Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita, namun tetap saja rasanya kebaikan tidak berpihak kepada kita. Tetap saja keadaan hidup kita tidak berubah bahkan menjadi lebih buruk. Sedangkan orang lain yang mungkin tidak pernah dekat dengan Tuhan, tidak mengindahkan firmanNya, bahkan jahat perbuatannya, malah sepertinya selalu beruntung! Kita merasa Tuhan tidak adil! Kita merasa Tuhan memang menginginkan kita menderita! Namun semua hal-hal yang kita pikirkan tersebut sama sekali tidak benar. Karena keterbatasan jangkauan pikiran kita lah yang membuat kita tidak mampu untuk melihat kebaikan di balik apa yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita. Mungkin Tuhan tidak mengabulkan apa yang kita mohonkan, namun itu bukan karena Ia tidak mengasihi kita. Justru karena kasihNya lah, maka Ia tidak mengabulkannya. Mungkin apabila Tuhan berikan, justru akan membawa kita jauh dari Tuhan bahkan mencelakakan kita! Demikian juga dengan segala berkat dan kelimpahan yang kita terima dari Tuhan, kalau kita tidak mampu mengelolanya dengan baik dan dipersembahkan untuk kemulian Tuhan, tetapi hanya untuk kesenangan kita sendiri, bukan tidak mungkin justru akan membawa hidup kita kepada kehancuran! (ingat kisah Salomo pada masa tuanya)

Ingatlah, Tuhan selalu merancangkan hal yang indah bagi hidup kita (Yer 29:11). Segala sesuatu yang mungkin saat ini kita alami, apakah itu hal yang baik maupun yang kurang baik, bahkan hal yang buruk sekalipun, jika kita dapat menerimanya dengan penuh ucapan syukur (1 Tes 5:18), maka kita akan tetap merasakan damai sejahtera Allah melimpah dalam hidup kita (Ef 4:6-7). Sebagaimana Allah mengizinkan hal-hal yang buruk menimpa Yusuf, bukan untuk menghancurkannya, tetapi justru untuk membawa Yusuf agar menjadi penolong dan berkat bagi banyak orang. Bersabarlah, nantikankanlah jawaban dan berkat-berkatNya, karena Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh 3:11).

Have a great monday...Tuhan memberkati..

05 October 2009

Apa Yang Terjadi, Bila...

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak ada waktu untuk memberkati kita hari ini,
karena kita tidak mempunyai waktu untuk bersyukur kepada-Nya kemarin hari

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi membimbing kita esok hari,
karena kita tidak mengikuti-Nya hari ini

Apa yang terjadi, bila kita tidak akan pernah melihat setangkai bunga mekar,
karena kita mengomel bila TUHAN mengirim hujan

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi berjalan bersama kita hari ini,
karena kita tidak ingat hari ini adalah hari-Nya

Apa yang terjadi, bila TUHAN mengambil Alkitab kita,
karena kita tidak mau membacanya hari ini

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi meninggalkan pesan-Nya,
karena kita tidak mau mendengar kepada utusan-Nya

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak mengutus Anak-Nya yang tunggal
untuk menebus dan membayar harga bagi dosa-dosa kita

Apa yang terjadi, bila pintu-pintu gereja ditutup,
karena kita tidak membuka pintu hati kita

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi mengasihi kita dan memelihara kita,
karena kita tidak mau mengasihi dan mempedulikan orang lain

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak mendengar kita hari ini,
karena kita tidak mau mendengar-Nya kemarin

Apa yang terjadi, bila TUHAN menjawab doa-doa kita
dengan cara yang sama kita menjawab panggilan-Nya dalam pelayanan

Apa yang terjadi, bila TUHAN memenuhi kebutuhan kita
dengan cara yang sama kita memberikan hidup kita kepada-Nya?

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak peduli lagi?

29 September 2009

Memberi

Alkisah ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark, yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya. Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu. Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi. Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar. Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak-anak mereka bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Sementara anak-anaknya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus.

Tiba-tiba Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata, “Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”, sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah matanya. Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terima kasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya. Tiket seharga 60 dollar pun terbayar dan dengan riang gembira keluarga besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.

Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang. Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi. Malam itu, Clark merasa sangat bahagia. Ia tidak dapat menyaksikan sirkus, tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.

Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi. The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi “Giving and Receiving”. Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi. Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh si pemberi. Bapak 8 anak yang “diselamatkan” oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan merasa sangat bahagia. Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.

Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan apabila Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima. Coba kita perhatikan.. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman menggunakan karbon-dioksida dalam proses foto sintesa dan membebaskan oksigen. Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir. Orang-orang jaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa latin currere yang artinya mengalir. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah : Apakah yang harus saya berikan? Jawabannya sama dengan pertanyaan : Apa yang Anda ingin dapatkan? Jika Anda ingin mendapatkan kasih-sayang, berikan kasih sayang. Jika Anda ingin pengetahuan, sebarkanlah pengetahuan. Jika Anda ingin uang, maka berikanlah uang. Ya, ini sesuai dengan prinsip memberi dan menerima di atas, apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir kembali kepada Anda. Alam semesta mengikuti hukum ini. Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari yang mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda! Jadi jika Anda ingin banyak uang, berikan uang. Ada yang bertanya, lalu bagaimana jika uang Anda belum banyak? Wah, kalau begitu Anda perlu memberi lebih banyak lagi :)

Seandainya giving belum menjadi habit, sebetulnya ada beberapa tips yg bisa Anda terapkan. Jika dilaksanakan secara rutin, akan memperkuat syaraf giving Anda:

1. Hadiah.
Kemanapun Anda pergi untuk bertemu dengan seseorang, usahakan membawakan suatu hadiah, apapun bentuk hadiah tadi. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan oleh orang tua kita jaman dahulu, namun sering kita lupakan. Perhatikan saja, orang tua kita dahulu setiap berkunjung ke rumah teman atau saudara selalu membawa oleh-oleh. Anda juga bisa memulai kebiasaan ini. Mungkin sekedar membawa sebungkus coklat, bunga atau doa. Ya, kalaupun terpaksa tangan Anda kosong, berikan doa ketika Anda bertemu dengan seseorang.
 
2. Bersyukur.
Syukuri setiap pemberian yang Anda terima hari ini. Lho, bagaimana jika hari ini saya tidak menerima pemberian apa-apa? Salah, Anda pasti menerima sesuatu dari alam semesta. Mulai dari udara pagi yang cerah, sinar matahari yang hangat, sapaan tetangga yang ramah, bahkan teguran dari orang tidak dikenal, bertemu teman lama yang Anda rindukan, dan masih banyak lagi. Ya tentu lebih konkret lagi apabila tiba-tiba hari ini ada yang memberikan handphone atau iPod baru kepada Anda. Jelas Anda harus syukuri apa yang Anda terima.

3. Cinta.
Berkomitmenlah untuk selalu berbagi apa yang Anda sebetulnya bisa berikan setiap saat : Cinta. Mungkin Anda langsung tertawa. Ah, kalau cuma cinta saya sudah berikan setiap saat untuk keluarga saya. Mungkin Anda benar. Yang harus Anda ingat adalah seperti kata Stephen Covey, Cinta adalah kata kerja, bukan kata benda. Artinya, harus di praktek-kan. Ya, kalau Anda sudah memiliki cinta untuk orang-orang terdekat Anda, praktek-kan. Berapa kali Anda dalam sehari memeluk dan mengusap kepala anak Anda? Berapa kali Anda dalam sehari mengucapkan bahwa Anda sayang suami/istri Anda?
 
4. Tawa.
Ini bukan hal sepele. Tertawa adalah ekspresi kebahagiaan. Bantulah orang-orang di sekitar Anda mengekspresikan rasa bahagia melalui tertawa. Berapa kali dalam sehari Anda tertawa? Tahukan Anda bahwa seorang anak tertawa rata2 150 kali dalam sehari, dan orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari. Bergembiralah, bagikan tawa di rumah Anda, jika tidak nanti anak Anda lebih menyukai Mas Tukul daripada Anda.
 
5. Pengetahuan.
Anda pasti tahu sesuatu lebih baik dari seseorang. Mungkin Anda jago mengurus ikan Arwana, bagikan. Anda pintar dalam mengurus tanaman Aglonema? Bagikan. Anda pintar memasak, tulis resep dan bagikan. Bagikan pengetahuan Anda, karena pengetahuan adalah gift dari Yang Maha Kuasa.

21 July 2009

Hidup Untuk Memberi

Cerita yang bagus buat di bagi dan dilaksanakan… :) JBU

Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta. Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang Koran, Penyapu jalan, Tuna Wisma, sampai Pak Polisi.

Pemandangan itu membuatku tertarik, pikiranku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan? Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??

Untuk membunuh rasa penasaranku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai di seberang jalan, setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang.

“De, boleh kakak bertanya?”

“Silakan Kak.”

“Kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ke tukang Koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan Pak Polisi, itu apa?”

“Oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk Kak, memang kenapa Kak?”

Dengan sedikit heran, sambil ia balik bertanya, “Oh…tidak.”

“Kakak cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah lama kenal dengan mereka?”

Lalu, adik kecil itu mulai bercerita, “Dulu, aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma, setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti Kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih, namun setelah ibuku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik. Maka dari itu, Ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu, jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup, kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka?”

Yang ibuku slalu katakan, “Hidup harus berarti buat banyak orang”, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu kasih kepada sesama serta amal dan perbu atan baik kita, kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang, kenapa kita harus tunda.

Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat, hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta, “Apa yang kita bawa?”

Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati, saat itu juga aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu. “Ya Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepadaMu. Hanya kasih yang sempurna serta iman dan pengaharapan kepada-Mulah yang dapat mengiringku masuk ke surga. Terimah kasih adik kecil, kamu adalah malaikatku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyakku…”

Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. kasih tidak berkesudahan. - 1 Kor.13 : 4-8a

Lakukanlah perkara-perkara kecil, dengan membagikan cerita ini kepada semua orang,
Semoga hasil yang didapat dari hal yang kecil ini berdampak besar buat banyak orang.

Author: Unknown

“When life gives you 100 reasons to cry show life that you have 1000 reasons to smile… Face your past without regret… Handle your present with confidence… Prepare for future without fear”

01 July 2009

Jon

Selasa siang itu Jon mengajakku untuk ‘ngopi' di kedai kopi yang biasa kami datangi. Jon baru bangun tidurnya kayaknya, karena pekerjaan Jon sebagai pembersih kantor (janitor) yang dilakukan pada malam hari. Maka pagi harinya dia harus tidur. Baru siang ini dia sempat bertemu denganku. Aku mengenal Jon sekitar setahun yang lalu. Jon berasal dari Filipina, maka dia dapat bergaul denganku. Mungkin kebiasaan atau kebudayaan kami masih mirip dari Asia Tenggara.

Kamipun ngobrol ‘ngalor ngidul' sambil tidak lupa menyeruput kopi kami. Aku mengenal Jon di gereja. Meski Jon tidak melayani tetapi dia sering datang ke gereja hampir setiap Minggu. Dia datang bersama dengan istri dan anaknya. Jon rupanya seseorang yang bukan pandai bergaul. Tetapi sebagai entah bagaimana kami berdua bisa ‘cocok'. Kami tidak merasa kaku untuk bercakap-cakap. Dan kebetulan kami juga suka minum kopi. Kadang jika pada bulan tua, Jon tidak mempunyai uang untuk jajan, aku membelikan dia segelas kopi. Dan kamipun ngobrol sambil ‘ngopi'.

Sejak Selasa siang pertemuanku di kedai kopi itu, sampai dua minggu ini aku belum bertemu lagi dengan Jon. Pada hari Minggu dia juga tak tampak di gereja. Aku bertanya kepada diaken gereja. Mereka tidak tahu akan kabar tentang Jon, tetapi mereka akan mengunjungi Jon dalam minggu ini.

Keesokkan hari, sebelum berangkat pergi bekerja aku membeli surat kabar pagi. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah foto kecil di halaman depan sebelah kiri surat kabar. Itu adalah foto Jon. Bibirku terasa panas tersengat oleh kopi yang kuminum. Jon masuk surat kabar. Jon mendapatkan hadiah undian 5 juta dollar. Aku tidak memperhatikan berita utama, tetapi aku cepat membaca kisah Jon yang memenangkan undian. Wah, 5 juta dollar bukan jumlah yang sedikit, pikirku. Aku pun turut senang kalau Jon mendapat uang 5 juta dollar. Tapi mengapa harus lewat undian, tanya dalam hatiku.

Apakah Jon yang kukenal di gereja itu seorang Kristen? Karena kukira orang Kristen tidak boleh membeli undian atau lotre. Pikiranku melayang, wah, bagaimana ya rasanya kalau aku memenangkan hadiah 5 juta dollar. Apa yang akan aku perbuat ? Kadang aku berpikir betapa enaknya mengantongi uang sebanyak itu dan setelah itu aku tidak perlu bekerja keras lagi. Aku mendepositokan uang itu dan makan bunganya. Aku hanya bekerja melayani Tuhan. Aahh ... pikiranku mulai berkhayal tidak keruan.

Seminggu kemudian aku bertemu dengan Jon kembali dengan tidak sengaja. Karena kami sekeluarga diundang menghadiri ulang tahun dari teman sekolah putriku. Pertemuanku yang tak sengaja itu membuatku gembira melihat Jon. Dan penampilan Jon tampak beda sekali. Dia memakai jas hitam yang keren serasi dengan sepatu pestanya, rambutnya yang mengkilat disisir dengan rapi, tampak kalung emas mengalungi lehernya, cincin emas terpasang di jari tangan kanannya.

Aku takkan mengenali Jon kalau kami bertemu di jalan. Dia sungguh beda. Aku merasa senang melihat penampilannya. Berbeda sekali ketika kami berdua sering minum kopi. Jon hanya mengenakan kaos oblong yang sederhana, sepatu olahraga dan topi hitamnya.

Jon melihat ke arahku. Aku pun menyapanya. Ke mana saja selama ini, aku bertanya. Dia tertawa lebar. Dan menjabat tanganku dengan percaya diri. Ternyata dia ke Disneyland bersama keluarganya selama 12 hari. Lihat nggak fotonya di surat kabar kemarin, tanyanya. Oh ya tentu dong. Aku pun mengucapkan selamat padanya. Dia hanya beruntung (lucky) katanya. Setelah itu dia berbicara dengan seorang pengusaha kayu di ujung ruangan. Aku hanya melihat, Jon memang tidak luput dari gejala kejiwaan OKM (Orang Kaya Mendadak). Dia menjadi bintang besar hari itu.

Beberapa bulan telah berlalu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Jon di gereja. Hari-hariku yang biasa ‘ngopi dan ngobrol' bersama Jon. Sekarang kuisi dengan ‘ngopi dan membaca buku' di kedai kopi yang sama pula. Jon tidak pernah datang lagi untuk ‘ngopi'. Dia mungkin sedang terbang berkeliling dunia. Sibuk membuat daftar beli. Aku dengar dia berencana membeli rumah mewah dengan enam kamar. Membeli mobil baru untuk dirinya sendiri dan istrinya. Membeli vila mewah untuk berlibur. Jon ingin membeli ini ... membeli itu .... Entah dimana sekarang Jon berada.

Hmmm ... terasa nikmat kopi yang baru kuhirup. Selintas aku memikirkan peristiwa Jon temanku itu. Bukankah aku kadang berdoa kepada Tuhan, betapa indahnya hidupku jika aku menyimpan sejumlah uang yang cukup banyak di bank. Aku tidak perlu kuatir lagi kalau suatu hari aku nanti dipecat dari pekerjaanku. Aku dapat memberi uang belanja yang lebih pada istriku dan mengajaknya berbelanja di pusat perbelanjaan yang mewah. Aku dapat membelikan mainan kepada anakku setiap waktu. Aku tidak perlu harus bangun tidur jam enam pagi setiap hari untuk berangkat kerja.

Apakah hidupku yang demikian akan membahagiakan diriku? Aku akan merasa senang? Istriku akan bahagia? Keluargaku akan harmonis? Apakah hal itu saja yang kucari dalam hidup ini? Uang atau harta yang akan memuaskan hatiku? Sering kudengar, seberapa banyak uangmu atau hartamu yang kau peroleh, hal itu tidak akan pernah memuaskan hatimu.

Aku teringat dengan ayat Alkitab yang mengatakan, celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh pernghiburan. Lukas 6:24. Apakah salah kalau aku kaya? Bukankah kalau aku kaya aku dapat melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang ?

Tapi aku juga teringat dengan cerita Alkitab anak muda yang kaya, yang pada akhirnya Tuhan Yesus berkata, "sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalama Kerajaan Surga." Ah... aku teringat peristiwa Jon. Memang benar, jika aku berada di posisi Jon, apakah aku masih dapat mengasihi Tuhan lebih dari mengasihi uangku ? Bukankah Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya mengenai ornag muda yang kaya itu karena, orang muda itu tidak dapat meninggalkan uangnya. Hatinya telah direbut oleh uangnya, oleh keindahan material dunia yang dibeli dengan uangnya. Sehingga dia lebih mengasihi uangnya daripada Tuhan.

Kadang aku juga curiga, apakah aku berpikir demikian karena mungkin aku mempunyai perasaan iri hati kepada Jon ? Ah, tidak. Aku hanya membayangkan kalau diriku sekaya Jon sekarang ini. Apakah aku masih mengasihi Tuhan? Apakah aku dapat menggunakan uang itu untuk pekerjaan Tuhan, atau itu hanya lamunanku. Karena seringkali manusia berjanji, ‘aku ingin melayani Tuhan, aku ingin membiayai pekerjaan Tuhan dengan uangku', tetapi pada waktunya ketika uang ada ditangan, manusia mempunyai seribu satu alasan untuk tidak menepati janjinya.

Bisa jadi bukan? Jika Tuhan tidak memberikan berkatNya (uang) padaku, karena Dia tahu aku bakal lemah, melupakan Tuhan, meninggalkan Tuhan, ketika aku menerima berkat itu. Bukankah lebih baik aku dalam keadaan seperti ini yang tidak kekurangan maupun tidak berkelebihan tetapi aku masih mengasihi Tuhan dengan tulus. Keadaanku yang senantiasa membuatku tersadar akan berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidupku setiap hari.

Aku hanya kehilangan Jon. Kehilangan waktu kami mengobrol. Kehilangan rasa persahabatan kami. Entah kapan aku dapat bertemu dengan Jon kembali. Semoga Jon masih tetap mengutamakan Tuhan dalam hidupnya yang telah berubah itu.

12 June 2009

Anugerah

Pada suatu hari aku bangun pagi-pagi untuk melihat matahari terbit. Ah, begitu indahnya ciptaan Tuhan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sambil melihat semua itu, aku memuji Tuhan atas karya-Nya yang indah. Ketika aku sedang berada di situ, tiba-tiba Tuhan menampakkan hadirat-Nya padaku.

Ia bertanya, “Apakah kau mengasihi-Ku?”

Aku menjawab, “Tentu saja Tuhan! Engkau adalah Tuhanku dan Juruselamatku!”

Lalu Ia bertanya, “Seandainya kau menjadi cacat, masihkah kau mengasihiKu ?”

Aku terhenyak. Aku melihat ke bawah, ke arah tangan, kaki dan seluruh anggota tubuhku dan membayangkan betapa banyaknya hal yang tidak dapat kulakukan seandainya itu terjadi. Aku pun menjawab, “Ini akan sulit, Tuhan, tapi aku akan tetap mengasihiMu.”

Lalu Tuhan berkata, “Jika kau menjadi buta, masihkah kau mengagumi ciptaanKu?”

Bagaimana aku bisa mengagumi sesuatu tanpa bisa melihatnya? Lalu aku pun berpikir mengenai orang-orang buta di dunia ini dan banyak di antara mereka yang masih mengasihi Tuhan dan ciptaanNya. Jadi aku pun menjawab, “Sulit membayangkannya, tapi aku tetap akan mengasihiMu.”

Lalu Tuhan bertanya lagi, “Jika kau menjadi tuli, masihkah kau akan mendengarkan perkataanKu?”

Bagaimana aku bisa mendengarkan segalanya jika aku menjadi tuli? Oh, aku mengerti. Mendengarkan suara Tuhan tidak selalu harus menggunakan telinga kita, tapi juga hati kita. Aku pun menjawab, “Ini berat, tapi aku akan tetap mendengarkan perkataanMu Tuhan.”

Tuhan lalu bertanya, “Jika kau menjadi bisu, masihkah kau akan memuji NamaKu?” Bagaimana aku bisa memuji tanpa bisa bersuara? Ah, sekali lagi aku mengerti. Tuhan menginginkan kita untuk memuji dari dasar hati kita. Tak menjadi soal seperti apa suara kita. Lagipula memuji Tuhan tidak selalu dengan lagu. Kita memuji Tuhan dengan rasa syukur dan terima kasih kita.

Jadi aku pun menjawab, “Walaupun secara fisik aku tak dapat menyanyi, aku akan tetap memuji NamaMu Tuhan.”

Lalu Tuhan bertanya, “Apa kau betul-betul mengasihiKu?”

Dengan semangat dan keyakinan yang kuat, aku menjawab dengan mantap, “Ya Tuhan! Aku mengasihiMu karena Kau adalah satu-satunya Allah yang benar!”

Aku pikir aku telah menjawab dengan baik, tapi Tuhan bertanya, “Lalu mengapa kau berdosa?”

Aku menjawab, “Karena aku hanya manusia, aku tak sempurna.”

“Lalu mengapa pada waktu tak ada masalah kau menghindar dan menjauh? Mengapa hanya pada saat ada masalah kau berdoa?”

Tak ada jawaban. Air mata mulai mengalir.

Tuhan melanjutkan, “Mengapa menyanyi hanya pada waktu persekutuan dan retreat? Mengapa mencari Aku hanya pada saat kebaktian? Mengapa meminta sesuatu dengan mementingkan diri sendiri saja? Air mata terus menetes dari pelupuk mataku.

“Mengapa kau menjadi malu karena Aku? Mengapa kau tidak memberitakan kabar baik?”

Mengapa kau mengandalkan manusia dan bukannya Aku? Mengapa menghindar pada waktu ada kesempatan untuk melayani? Aku mencoba untuk menjawab, tetapi tak ada jawaban yang bisa kuberikan.

“Kau diberkati dengan kehidupan. Aku menciptakanmu tidak untuk menyia-nyiakan anugerah ini. Aku memberkatimu dengan talenta untuk melayaniKu, tapi kau tetap berpaling. Aku telah meneruskan firmanKu padamu, tapi kau tidak memiliki hikmat. Aku telah berbicara padamu, tapi telingamu tertutup. Aku telah menunjukkan berkatKu padamu, tapi matamu berpaling. Aku telah mengirimkanmu pelayan, tapi kau duduk diam seolah mereka tidak ada. Aku telah mendengar doa-doamu, dan telah menjawabnya.”

“Apakah kau benar mengasihiKu?”

Aku tak dapat menjawab. Bagaimana bisa? Aku merasa malu sekali. Tak ada pembelaan. Apa yang bisa kukatakan? Pada saat itu, hatiku menangis, dan air mata mengalir, aku berkata, “Ampuni aku Tuhan. Aku tak berharga menjadi anakMu.”

Tuhan berkata, “Itu anugerah, anakKu.”

Aku bertanya, “Lalu mengapa Kau mengampuniku? Mengapa Kau begitu mengasihiku?” Tuhan menjawab, “Karena kau adalah ciptaanKu. Kau adalah anakKu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Ketika kau menangis, Aku ikut menangis bersamamu. Ketika kau bersukacita, Aku ikut tertawa. Ketika kau sedang susah, Aku akan memberimu semangat. Ketika kau jatuh, Aku akan membangunkanmu kembali. Ketika kau letih, Aku akan menggendongmu. Aku besertamu sampai kepada kesudahan zaman, dan mengasihimu selamanya.”

Tak pernah aku menangis seperti ini sebelumnya. Mengapa aku bisa begitu dingin? Mengapa aku bisa melukai hati Tuhan seperti yang telah kulakukan?

Aku bertanya lagi, “Berapa besar kasihMU padaku, Tuhan?”

Dan Tuhan pun merentangkan kedua tanganNya, tangan yang telah dipakukan di atas kayu salib. Aku tersungkur di kaki Kristus, Juruselamatku. Dan untuk pertama kalinya ..aku betul-betul berdoa.

24 May 2009

Note Dari Tuhan

  • Hari ini Aku akan menangani semua masalahmu

  • Tolong, ingatlah bahwa Aku tidak memerlukan bantuanmu

  • Bila kamu ditempatkan di dalam situasi yang kamu tidak mampu untuk menangani, janganlah berusaha untuk memutuskannya sendiri

  • Lebih baik kamu masukkan ke dalam kotak “untuk ditangani oleh Tuhan sendiri”

  • Masalah itu akan ditanggapi pada waktuKu, dan bukan waktumu

  • Sekali masalah itu diletakkan di dalam kotak, janganlah kamu memikirkan atau mengeluarkannya lagi dari kotak itu.

  • Memikirkan atau mengeluarkan kembali akan menunda pemecahan dari masalahmu

  • Bila kamu mengira dapat menanganinya sendiri, tolong bawalah ke dalam doa-doamu, agar kamu yakin bahwa itulah pemecahan yang terbaik.

  • Karena Aku sendiri tidak pernah tidur atau mengantuk, tidak ada gunanya bagimu untuk tidak tidur

  • Istirahatlah, anakKu. Bila kamu ingin menghubungi Aku, Aku hanya sejauh sebuah doa

  • Bila kamu sukar untuk tidur malam ini, ingatlah akan banyak keluarga yang bahkan tidak mempunyai tempat tidur untuk merebahkan dirinya

  • Bila kamu kebetulan terjebak dalam kemacetan lalu lintas, janganlah cemas. Ada banyak orang dalam dunia ini yang tidak pernah menyetir mobil

  • Bila kamu kebetulan mengalami hari yang sial, ingatlah akan orang yang sudah begitu lama tidak mempunyai pekerjaan

  • Bila kamu cemas akan suatu hubungan kawan yang menjadi jelek, ingatlah akan orang yang tak pernah mengalami apa arti mengasihi dan sebaliknya dikasihi

  • Bila kamu tidak suka bila akhir minggu telah lewat, ingatlah kepada wanita yang harus bekerja 12 jam sehari, selama satu minggu penuh untuk dapat memberikan makan kepada anak-anaknya

  • Bila mobilmu rusak di tengah perjalanan, jauh dari keramaian kota untuk dapat bantuan, ingatlah akan mereka yang lumpuh yang akan gembira sekali untuk dapat berjalan

  • Bila kamu mengamati dengan sedih sehelai rambut yang mulai memutih, ingatlah akan pasien kanker yang menjalani terapi kemo yang rindu dapat mengamati rambutnya

  • Bila kamu tidak tahu dan bertanya-tanya, apakah sebenarnya tujuan hidupmu, berterima kasihlah. Terdapat banyak orang yang tidak memiliki umur panjang untuk mengetahuinya

  • Bila kamu memutuskan untuk meneruskan ini kepada seorang kawan, kamu mungkin akan menjadi berkat bagi orang itu

  • 19 May 2009

    Aku Bersyukur

    Mendengar anggota keluargaku ngomel-ngomel dirumah, berarti aku masih punya keluarga yang utuh.

    Merasa lelah dan pegal linu setiap sore, sebab itu berarti aku mampu bekerja keras.

    Membersihkan piring dan gelas kotor setelah menerima tamu dirumah, karena itu berarti aku dikelilingi teman-teman.

    Pakaianku terasa agak sempit, karena itu berarti bahwa makanku cukup kenyang.

    Mencuci dan menyetrika tumpukan baju, sebab itu berarti aku memiliki pakaian.

    Membersihkan halaman rumah, membersihkan jendela, memperbaiki talang dan got, karena itu berarti aku memiliki tempat tinggal.

    Duduk kembali di kantor, berarti masih ada perusahaan yang mau memperkerjakan aku bahkan perusahaan masih mampu membayar gaji setiap bulannya.

    Mendengar nyanyian suara yang fals, karena itu berarti aku bisa mendengar.

    Mendengar bunyi jam alarm dipagi hari, sebab itu berarti aku hidup.

    Akhirnya…
    aku perlu bersyukur mendapatkan dan mengirimkan e-mail ini, karena tidak sadar aku masih memiliki teman yang peduli padaku. Ohh… indahnya…

    Kirimlah e-mail ini kepada temanmu. Aku baru saja melakukannya. Seseorang yang peduli tentang aku telah mengirimkannya kepadaku.

    15 May 2009

    Bersyukur

    Sebagian orang terbiasa bersyukur. Sebagian orang hanya bersyukur untuk hal-hal besar. Sebagian lagi merasa tidak biasa untuk bersyukur. Termasuk dalam kategori manakah diri kita?

    Ketika segala sesuatunya berjalan baik, tidak sulit untuk bersyukur. Ketika badai menghadang dan angin menerjang dalam kehidupan, mulai terasa sulit untuk tetap bisa bersyukur. Jadi, kapan kita bisa bersyukur? Tak ada hal yang tak mungkin, jika kita mau belajar dan berusaha. Mulailah membangun kebiasaan untuk mengucap syukur untuk setiap detil yang terjadi dalam hidup kita. Mulailah dengan hal-hal paling kecil dan sederhana. Satu hari pasti, kita akan menyadari kalau kita telah terbiasa untuk bersyukur.

    God bless.

    in Christ,
    Jessica

    ------------------------------------------------------------------------------------

    GUNAKAN RASA SYUKUR UNTUK MENERIMA LEBIH BANYAK BERKAT

    Oma comel Gladys adalah wanita tua paling pemarah di kota. Suatu hari, ia mengumumkan pada seluruh keluarganya, “Saya ingin seekor piaraan.  Piaraan itu harus sempurna!”

    Ampun, keluarganya pasti mengalami kesulitan mencarikan seekor piaraan baginya. Seorang keponakan laki-laki memberinya seekor kucing.

    “Terlalu manja,” keluhnya dan mengembalikannya. Seorang keponakan perempuan memberinya seekor kura-kura.

    “Terlalu lamban,” keluhnya dan mengembalikannya. Seorang cucu perempuan memberinya seekor kakaktua. Setelah beberapa hari, ia mengembalikannya dan berkata, “Ia selalu mengeluh!”

    Akhirnya, mereka kegirangan ketika mereka menemukan seekor anjing istimewa yang sangat pintar.  Pemilik toko bahkan mengatakan pada mereka, “Saya bahkan tidak tahu seberapa pintarnya anjing ini!  Ia selalu memberi kejutan pada saya setiap hari.”  Seluruh keluarga begitu gembira, mereka memberkan anjing itu pada Oma Gladys, berharap anjing itu dapat memberi kesenangan dalam kehidupan wanita tua itu. Hari berikutnya, keluarganya melihat Oma Gladys bermain catur bersama anjingnya!

    Mereka begitu terkejut, dan berkata, “Bibi Gladys!  Itu pastilah anjing terpintar di seluruh dunia!”

    Dia menyeringai, “Nah..., saya akan mengembalikannya juga pada kalian.  Ia sudah kalah tiga kali dalam lima permainan terakhir.”

    Apapun yang kamu lakukan, Oma ini tidak pernah merasa senang. Pilihan ada di tangan kita: Bersyukur atau terus mengeluh. Saya percaya pilihan ini bahkan mempengaruhi kekayaan Anda…

    PERTANYAAN: APAKAH ANDA KAYA?

    Kisah di atas hanyalah fiksi belaka. Saya akan ceritakan sebuah kisah nyata sekarang. Wanita ini adalah seorang multi-jutawan. Namun sangat dan sama sekali miskin. Jika Anda bingung, teruslah membaca. Wanita kaya ini mempunyai 5 pembantu, 1 tukang kebun, dan 2 supir.

    “Pembantu #1 adalah asisten pribadi saya,” jelasnya pada saya suatu hari.

    “Saya tidak dapat hidup tanpanya.  Ia memegang handphone saya. Ia menyusun anggaran untuk rumah.  Yang lebih penting, ia memijit kaki saya setiap malam. Pembantu #2 membersihkan rumah.  Pembantu #3 bertugas cuci gosok. Pembantu #4 memasak.  Dan pembantu #5 adalah asisten pembantu #1.”

    Kebetulan, saya bertemu dengannya suatu pagi dan ia menyerocos, “Saudara Bo, saya merasa sangat stres!  Hidup ini begitu sulit! Mengapa Tuhan melakukan ini pada saya?”

    “Mengapa? Apa yang terjadi?”, saya bertanya. Saya membayangkan yang  terburuk.

    “Salah satu pembantu saya sedang libur,” jeritnya, “dan ia sudah pergi selama seminggu hingga hari ini.  Jadi dari lima pembantu, sekarang saya hanya punya empat.  Ya Tuhan, saya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan!  Hidup saya jadi berantakan.”

    Wow.  Wanita malang.  Maksud saya, mempunyai empat pembantu adalah sebuah tragedi, bukan? Semestinya tak seorang pun melewati pencobaan seperti ini.  Membuat Anda ingin menghiburnya. Dengan beberapa tamparan di kepala. Saya berharap saya dapat mengatakan bahwa saya melebih-lebihkan kisah ini untuk membuat Anda tertawa.

    Maaf.  Ini sebuah kisah nyata.

    DENGAN APA KEKAYAAN DIUKUR?

    Sekarang saya sangat yakin. Kekayaan bukanlah uang. Kekayaan bukanlah mobil-mobil yang Anda kendarai atau rumah-rumah yang Anda miliki. Kekayaan bukanlah perhiasan Anda, saham, atau simpanan Anda di bank. Sekarang saya percaya kalau kekayaan adalah suatu emosi. Kekayaan adalah suatu perasaan di dalam hati. Lebih tepatnya, kekayaan adalah suatu pandangan, suatu sikap, suatu kepercayaan.

    Dan ukuran kekayaan yang paling nyata adalah rasa syukur. Teman saya di atas, meskipun seorang multi-jutawan, tapi sangat miskin karena ia memiliki rasa syukur yang sangat sedikit. Tiadanya rasa syukur berfokus pada apa yang ia tidak miliki; Rasa syukur berfokus pada apa yang Anda miliki. Saya sudah mengerti hal ini sejak dulu…

    POINT-POINT MILIK ALING DORING

    Ada satu masa dalam hidup saya dimana saya hanya memiliki sedikit uang. Pada hari-hari dalam masa itu, saya tidak mampu untuk makan di Jollibee. Karena itu setiap hari, saya pergi ke toko kecil di sudut ini yang disebut Point-Point.

    Dalam kamus kita, seperti rumah makan cepat saji dimana kita tinggal menunjuk menu yang kita inginkan yang sudah terpajang di lemari kaca. Sebagai ganti kursi, di sini tersedia bangku kayu panjang yang kasar. Sebagai ganti meja, di sini tersedia tripleks yang dilapisi plastik. Sebagai ganti AC, di sini ada wanita berbadan besar bernama Aling Doring yang, dengan sebuah kipas tradisional di tangannya, mengipasi saya dan menepuk pasukan lalat di sekeliling saya. Ia juga
    menyediakan hiburan luar biasa bagi kami – menceritakan pada kami tentang gosip selebritis dari tabloid tertentu. (Oke, sekarang Anda tahu di belahan dunia mana letak tempat ini.)

    Point-Point memberi saya semangkuk penuh sup, semangkuk nasi, beberapa potong sayur pare, dan 3 potong daging babi – semua hanya seharga 10 Peso (= Rp 2500,-).  Itu sudah lama sekali. Ketika saya masih muda dan tampan. (Sekarang, saya hanya tampan). Namun setiap kali saya makan di sana, saya merasa gembira. Saya merasa seperti seorang raja. Saya merasa sangat kaya! Bayangkan, saya bisa makan!  Begitu banyak orang – 30% dari penduduk dunia – sedang kelaparan.

    Karena itu saya menikmati makanan lezat tersebut.  Saya menikmati gurauan Aling Doring.  Saya menikmati para pengemudi jeepney (transportasi umum seperti mikrolet di Jakarta) yang makan bersama saya – bau mereka, sendawa mereka, dan tawa mereka.  Sangat indah. Dan saya selalu bersyukur pada Tuhan untuk semuanya. Sekarang, saya punya sedikit lebih banyak uang.  Kebanyakan makan siang bisnis saya sekarang dilakukan di hotel dan restoran bintang lima. Saya telah mengalami peningkatan.

    Namun jauh dalam lubuk hati, tak ada yang berubah. Saya tetap merasa seperti seorang raja. Saya tetap merasa kaya. Oh ya, dibandingkan dengan para pembimbing finansial saya yang jutawan, saya hanya memiliki remah-remah. Tapi dalam hati saya, saya telah menjadi seorang jutawan. (Saya harap Anda juga)

    Ingatlah kebenaran yang menguatkan ini: Kekayaan Anda sama dengan Rasa Syukur Anda. Dan Rasa Syukur Anda sama dengan Kekayaan Anda. Tapi rasa syukur macam apa yang Anda miliki? Mari kita cari tahu…

    3 MACAM RASA SYUKUR

    Ada tiga tingkatan rasa syukur:
    -  Rasa syukur yang dangkal
    -  Rasa syukur yang sederhana
    -  Rasa syukur yang kudus

    1.  Rasa Syukur Yang Dangkal

    Ini terjadi ketika Anda bersyukur untuk hal-hal yang besar saja. Anda menang lotere. Anda mendapat sebuah mobil baru. Anda berhasil lulus ujian setelah 9 kali mengulang. Puteri Anda akhirnya menikah pada usia 45. Visa Anda disetujui setelah menunggu selama 16 tahun. Suami Anda yang tidak setia, pengangguran, peminum akhirnya berubah. Atau suami Anda yang tidak setia, pengangguran, peminum akhirnya meninggal. Apapun yang terjadi lebih dulu. Maksud saya, bagaimana mungkin Anda tidak mengucap syukur? Setiap orang mulai dengan Rasa Syukur yang Dangkal. Saya menyebutnya dangkal karena perasaan syukur ini akan lebih cepat berlalu. Rasa Syukur yang Dangkal baik. Namun jika Anda ingin sungguh-sungguh bahagia, Anda perlu naik tingkat ke bentuk rasa syukur yang lebih dalam…

    2.  Rasa Syukur Yang Sederhana

    Dalam Rasa Syukur yang Sederahana, Anda bersyukur bahkan untuk hal-hal kecil dalam hidup. Untuk atap yang melindungi kepala Anda, untuk makanan yang bersisa di meja Anda, untuk keluarga yang agak memusingkan di sekeliling Anda.  Hal-hal biasa yang Anda terima. Ingat kalimat terkenal ini? “Saya pernah merasa sedih karena tidak punya sepatu, hingga saya bertemu dengan seorang pria yang tidak mempunyai kaki.”  -  NN.

    Suatu hari, seorang teman mengeluh tentang kerontokan rambut yang dialaminya. Saya mengatakan padanya untuk berpikir positif: rambutnya bukan rontok, tapi dahinya yang bertambah lebar.  Ia tidak percaya pada saya dan menjadi semakin depresi. Karena itu saya mengirimkan sms padanya kalimat di atas dengan versi yang sedikit berbeda : Saya pernah merasa sedih karena tidak punya rambut hingga saya bertemu seorang pria yang tidak mempunyai kepala. Saya rasa itu menyadarkannya. Jika Anda harus memilih antara kebotakan dan dipenggal, mana yang akan Anda pilih? Sekarang, ia membuat kepalanya mengkilap dan memanggil dirinya sendiri Bruce Willis. Saya membaca doa ibu ini di suatu tempat dan memutuskan untuk menuliskannya di sini bagi semua ibu luar biasa yang membaca blog saya. Terima kasih Tuhan untuk tempat cuci piring yang kotor ini; yang menandakan kami punya banyak makanan untuk dimakan. Terima kasih untuk cucian yang kotor dan bau ini; kami punya banyak pakaian bagus untuk dipakai. Terima kasih untuk kulkas yang mengotori tangan ini yang sangat perlu dicairkan; ia telah melayani kami dengan setia selama bertahun-tahun. Ia dipenuhi dengan minuman dingin dan makanan sisa yang cukup untuk dua atau tiga kali makan. Terima kasih, Tuhan, untuk oven ini yang betul-betul harus dibersihkan hari ini. Ia telah memanggang begitu banyak makanan selama bertahun-tahun. Terima kasih, Tuhan, bahkan untuk pintu yang harus dibanting itu. Anak-anak saya sehat dan bisa berlarian dan bermain. Tuhan, kehadiran semua tugas ini menanti saya mengatakan Engkau telah memberkati keluarga saya dengan berlimpah. Saya harus melakukan semua tugas ini dengan riang dan saya harus melakukannya dengan penuh syukur. Tapi tahukah Anda bahwa ada sesuatu yang lebih luar biasa daripada Rasa Syukur yang Sederhana?

    3.  Rasa Syukur Yang Kudus

    Dalam Rasa Syukur yang Kudus, Anda bersyukur untuk hidup itu sendiri. Anda bersyukur bahwa Anda hidup. Anda bersyukur bahwa Anda ada. Anda bersyukur bahwa Anda bernafas! Anda bersyukur untuk setiap petualangan dalam hidup sehari-hari, dengan semua naik-turunnya, tinggi-rendahnya, dan lika-likunya. Rasa syukur macam ini tidak lagi tergantung pada situasi. Dan ada sebuah perbedaan besar antara tahu Anda perlu bersyukur, dan kenyataan memiliki setiap sel dalam tubuh Anda yang berseru, “Terima kasih!”

    Ini Rasa Syukur yang Kudus. Hal ini merupakan salah satu hal termanis di dunia. Tak satupun dapat menyentuh Anda. Anda merasa damai. Ketika Anda memiliki Rasa Syukur yang Sederhana – dan khususnya Rasa Syukur yang Kudus – Anda menerima begitu banyak berkat. Mengapa? Karena ketika Anda menjadi seorang yang bersyukur, Anda juga menjadi seorang……INVERSE PARANOID! Saya membaca ini dari Jack Canfiled dalam bukunya, Success Principles, dan dikutip oleh banyak penulis lain – dan saya pikir ini luar biasa. Apa arti seorang Inverse Paranoid? Anda tahu arti Paranoid adalah: seorang yang takut atau cemas. Ia pikir kalau dunia ada di luar sana untuk menangkapnya. Untuk mencuri darinya. Untuk menyakitinya. Untuk menjatuhkannya. Dan, seorang Inverse Paranoid adalah seorang yang bahagia yang percaya bahwa dunia berkonspirasi untuk memberkatinya. Untuk melayaninya. Untuk mencintainya!

    Seorang Inverse Paranoid mengharapkan yang terbaik dari hidup. Seorang Inverse Paranoid mengharapkan hal-hal besar akan terjadi. Seorang Inverse Paranoid mengharapkan bahwa ia akan berjalan di ladang berkat setiap hari. Seorang Inverse Paranoid percaya bahwa dunia sedang berencana untuk memenuhi impian-impiannya!

    Seorang Inverse Paranoid memandang hal-hal buruk hanya sebagai berkat yang tersamar. Seorang Inverse Paranoid terbangun setiap pagi dan berkata, “Saya berharap diberkati hari ini!  Yipiiieee…!”

    APAKAH ANDA SEORANG AHLI BERKAT ATAU SEORANG AHLI MASALAH?

    Mengapa orang-orang yang bersyukur menjadi Inverse Paranoid? Alasan pertama : Rasa syukur adalah salah satu bentuk cinta yang paling kuat. Dan Anda tahu bahwa cinta mengalahkan semua ketakutan. Paranoia adalah ketakutan. Karena itu rasa syukur mengusir ketakutan dalam hidup Anda. Ini adalah alasan kedua: Karena orang-orang yang bersyukur berfokus pada berkat-berkat dalam hidup mereka, mereka menjadi Ahli-ahli Berkat.  Apa maksudnya?  Mereka tahu bagaimana bentuk, suara, bau, dan rasa sebuah berkat.  Karena itu, ketika mereka membuka mata mereka dan melihat sekeliling hidup mereka, mereka akan mencium sebuah berkat yang satu mil jauhnya!  Mereka akan menghampiri dan meraihnya. Orang-orang yang tidak bersyukur adalah Ahli-ahli Masalah. Ketika mereka melihat sekeliling hidup mereka, mereka tidak dapat melihat berkat di depan mata mereka karena mereka tidak tahu bagaimana rupanya. Saya harap Anda menjadi seorang Inverse Paranoid, seorang Ahli Berkat sesegera mungkin. Percayalah, ini sangat mengasikkan! Semoga impian Anda menjadi kenyataan,

    Bo Sanchez