Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

08 April 2008

Rasa Malu

Bagi orang Jepang, rasa malu atas kesalahan dan kegagalan yang mereka alami bisa tampak sebagai masalah yang begitu besar. Oleh karena itu, demi menghapus rasa malu semacam ini, mereka berani melakukan tindakan harakiri (bunuh diri).

Dalam setiap hidup kita, rasa malu dan sesal pasti akan muncul saat kita menyadari telah salah melangkah atau mengalami kegagalan. Perumpamaan tentang anak hilang yang diberikan oleh Tuhan Yesus memberi kekuatan dan keberanian kepada kita.

Setelah si anak hilang menyadari kesalahannya, ia sungguh merasa malu dan menyesal. Malu pada orang-orang yang mengenalnya, malu pada masyarakatnya, terutama malu pada keluarganya, khususnya pada sang ayah yang pernah ia sakiti. Rasa malu yang begitu menguasai bisa saja membuatnya putus asa dan ingin mengakhiri hidup. Namun, apakah yang dapat kita pelajari dalam perumpamaan ini? Si anak hilang tidak berhenti pada rasa malu dan sesal saja. Ia mempunyai keberanian untuk mengakui segala dosanya. Ia berani melawan rasa malunya dengan pulang dan menghadapi bapanya. Dengan segala risikonya. Ia pulang dengan hati yang siap menerima konsekuensi atas kesalahannya, bahkan jika ia harus kehilangan status sebagai anak.

Terkadang rasa malu atas kesalahan kita tak tertahankan. Namun, kita memiliki Bapa surgawi yang penuh kasih dan mau mengampuni. Mari kita beranikan diri untuk datang kepada-Nya dengan pertobatan, Dia siap menerima kita kembali dan memulihkan kita dari keterpurukan.

He Delivers You From All

Today's Scripture

“Many are the afflictions of the righteous, But the LORD delivers him out of them all” (Psalm 34:19).

Today's Word from Joel and Victoria

Aren’t you glad we serve a Deliverer today? An affliction is defined as the cause of persistent pain or distress. You might feel afflicted today, but God is working to bring you out of that difficult situation. It may not be in the way you thought, but you have to trust that God has your best interest at heart. I know that afflictions can take on many forms—a sickness or hardship, a temptation, a coworker or family member. There are so many things that can come against us, but God promises in His Word that no weapon formed against us shall prosper! Those afflictions are only temporary. Stand in faith believing that God is on your side. Remember, you and God are a majority. It doesn’t matter what your circumstances look like, get up every morning and say, “This is the day that the Lord has made, I will rejoice and be glad in it.” As you stand and trust the Lord, He will deliver you out of all your afflictions, and you’ll see His hand of blessing in every area of your life.

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for making me righteous through the blood of Jesus. I trust that You have a good plan for me, and that You will deliver me out of all affliction. Thank You for Your strength and peace in my life. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Perahu Kesempatan

Berapa banyak dari Anda yang tidak mempunyai cukup uang? Atau tidak mendapat penghasilan yang cukup besar? Atau tidak menyukai karier Anda? Atau tidak mempunyai cukup waktu luang? Atau tidak memiliki perkawinan yang bahagia? Atau tidak memiliki kesehatan yang baik? Berapa banyak dari Anda berharap memiliki hidup lebih baik dari sekarang? Well..... bagaimana dengan Anda? Mungkin Anda hanya tidak memaksimalkan kesempatan Anda, dan Anda tidak melompat ke perahu kesempatan saat itu melintas.

Ada sebuah kisah tentang seorang pendeta yang terdampar di bubungan atap gereja saat banjir besar melanda. Air telah sampai ke pergelangan kakinya saat sebuah perahu lewat. "Pergi, selamatkan yang lain," ujarnya, "Tuhan akan mengurusku." Tak lama kemudian, saat air sampai ke pinggangnya, perahu lain lewat. "Tak masalah," ujarnya,"Tuhan akan mengurusku." Ketika air sampai ke lehernya, perahu ketiga muncul. Sekali lagi, ia mengatakan," Jangan khawatir, Tuhan akan mengurusku." Kemudia air menutupi kepalanya dan ia tenggelam. Saat masuk Surga, ia bertanya mengapa Tuhan tidak menolongnya. "Astaga," kata Tuhan, "Aku pikir kamu ingin kemari, bukankah Aku sudah mengirim tiga perahu?"

Pahami bahwa ada perahu kesempatan yang melewati Anda setiap waktu, setiap hari. Mulailah dengan mengetahui apa yang Anda inginkan: apakah lebih banyak uang, atau penghasilan yang lebih besar, atau pekerjaan yang Anda senangi, atau lebih banyak waktu luang, atau perkawinan yang bahagia, atau kesehatan yang baik? Berapa banyak bagian hidup yang Anda harap lebih baik, lebih besar, atau lebih sukses? Anda akan melihat perahu kesempatan dengan mengetahui akhir yang Anda inginkan dan hasil yang Anda inginkan, kemudian menjadi waspada dan menyadari adanya kesempatan saat kesempatan itu datang. Obsesi luar biasa dan keputusan akan membantu Anda melompat saat perahu lewat, karena kedua hal tsb membuat Anda tetap fokus pada apa yang Anda cari dan membuat Anda lebih mudah mengenali kesempatan saat hal itu muncul.

Keberanian untuk menghadapi situasi dan mambangun kekuatan sehingga saat kesempatan muncul, Anda telah siap memanfaatkan kesempatan itu. Kepercayaan diri utnuk bertindak segera dan dengan antusiasme tak terbatas pada saat kesempatan muncul.

Di mana kesempatan itu berada? Di mana saja! Dunia ini dinamis dan selalu berubah, penuh dengan kesempatan besar yang menunggu ditemukan orang berani dan percaya diri. Ya, kesempatan ada di mana-mana!

"Orang pesimis adalah orang yang membuat kesulitan dari kesempatannya. Orang optimis adalah orang yang membuatkesempatan dari kesulitannya".

Kebalikan dari kesempatan adalah masalah. Saat hidup memberitkan tantangan yang tak diharapkan pada Anda, pikirkan hal itu dengan persepsi yang berbeda. Pikirkan kesulitan hidup seperti sebuah pedang yang dilempatkan ke arah Anda. Semakin besar masalah, maka semakin besar pedangnya, semakin tajam mata pisaunya, dan semakin besar kekuatan yang menghampiri Anda.

Intinya dan di sini lah perubahan persepsi sangat penting. Ada dua cara untuk menangkap pedang: pada gagangnya atau pada mata pisaunya.

"Bila nasib melempat sebuah pedang ke arahmu, ada dua cara untuk menangkapnya: pada mata pisaunya atau pada gagangnya."

Dengan menangkap mata pisaunya, sebuah pedang dapat menyakiti atau melukai ANda. Jika cukup tajam, atau jika dilemparkan dengan kekuatan yang besar, sebuah pedang akan menimbulkan luka yang mematikan. Namun jika ditangkap gagangnya, sebuah pedang tidak akan melukai dan dapat digunakan sesuka Anda sebagai alat utnuk memotong hal yang merintangi Anda.

Biarkan masalah membangkitkan jiwa bertarung Anda. Anda tidak akan bisa pergi terlalu jauh tanpa jiwa bertarung yang baik. Jadi biarkan. Dengan api dalam hati Anda, Anda dapat mengobarkan kekuatan terpendam Anda, mendorong diri untuk mencari solusi. Dengan jiwa bertarung dan dengan melihat masalah dari berbagai sisi, Anda akan mampu melihat keuntungan dan manfaat dari masalah itu sendiri.

Anda dapat kembali ke jalan kemenangan pribadi dan mengatasi tantangan hidup dengan langsung menghadapi masalah Anda ya!