"Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya." - Wahyu 3:21
"Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya." - Wahyu 3:21
Ayub 3:11 : "Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?"
Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 60; Markus 10; 2 Tawarikh 31-32
Allah tidak keberatan dengan pertanyaan-pertanyaan, keraguanlah yang dibenci-Nya. Selama berjam-jam, tiga sahabat Ayub: Elifas, Bildad, dan Zofar menuduhkan kepada Ayub semua jenis kejahatan.
Mereka mengatakan kata-kata bodoh yang sering dinyatakan kepada orang-orang yang menderita. Tetapi Ayub ingin membawa masalahnya kepada Tuhan sendiri! Hanya pada akhir kitab itu Allah berbicara dan walaupun Ia tidak menjawab satu pun pertanyaan Ayub, Ia tidak menghukum Ayub karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Allah menegur Ayub hanya karena satu hal: meragukan karakterNya yang benar.
Anda seharusnya tidak pernah takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah, tetapi Anda juga tidak boleh menuntut jawabannya. Tidak peduli betapapun keadaan Anda, Anda harus menolak godaan untuk meragukan sifat kudus Allah. Jika Anda, seperti Ayub, melalui bibir yang gemetar mengakui kedahsyatan kemuliaan Allah maka nantikan berkat-berkatNya yang luar biasa itu tercurah dalam kehidupan Anda.
Seberapa berani seseorang untuk bertanya kepada orang lain menunjukkan seberapa dalam hubungan antarkeduanya. Bagaimana hubungan Anda dengan Tuhan saat ini?
Jawaban.com
Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, “Bu, aku mengasihimu!”
Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"
Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.
Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi."
Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."
Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos."
Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan."
Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.
Seringkali kita berkata kepada orang tua kita, "Bapa, mama, aku mengasihimu."
Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orang tua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orang tua dan sesama kita, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus.
Sering kita berkata-kata kepada Tuhan, "Tuhan saya mengasihiMu. ....", namun kita hanya berkata-kata saja tanpa dengan tulus hati mengasihiNya. ..tanpa mewujudkannya melalu perbuatan kita.....
Guys, ayo kita menjadi seperti anak bungsu pada renungan diatas.....